Selasa, 26 Februari 2013

Lentera Hati *Part 2*

Sepertinya ini memang takdir Tuhan, cara Tuhan menggariskan warna dalam kehidupan kita. Ternyata bukan hanya kita, tapi juga mereka. Dua sosok yang berarti dalam hidup kita, mereka juga mengalami awal yang sama seperti kita sehari yang lalu. Dan mau bagaimana pun juga, kita tak bisa mengelak … tak akan pernah bisa.

***



"Alvin!", panggil seorang gadis yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Alvin

"maaf ya, gue gak bisa nemenin lo kemo kemarin. Padahal kan itu pertama kalinya elo dikemo, Vin", lanjutnya

"iya gapapa, ada juga gue yang bilang makasih sama orang tua lo. Mereka udah nyediain rumah sakit kece itu buat gue, khusus pula"

"iya, itu kan emang tugas mereka sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sakit"

"eum gue gak bisa nemenin lo karena kemarin Ozy baru pulang, ya elo tau sendiri kan? Gimana lebaynya Ozy sama gue? Ngomongin si Ozy, oh iya ... ini ada oleh-oleh dari dia buat elo", lanjut Agni seraya memberikan sebuah baju bola merah berlogo M.U dengan tanda tangan seseorang di punggungnya pada Alvin

"kenapa? Elo gak suka ya? Sorry gue tau elo emang gak suka sepak bola, tapi ini kan ..."

"tanda tangan sir Alex Ferguson, wah ada nama gue juga di punggungnya. Thanks ya, bilangin Ozy kalo gue itu suka banget oleh-olehnya", potongnya memasukkanbaju itu ke dalam tasnya

Agni -nama gadis itu- yang melihat Alvin nampak begitu bahagia akan oleh-oleh dari adiknya semata wayangnya, hanya dapat tersenyum puas. Jadi semenjak lulus SMP setahun yang lalu, Ozy pergi ke Manchester untuk sekolah bola disana. Dan akhirnya ia berhasil masuk dalam tim inti U-20 M.U, jadi dengan mudahnya Ozy dapat memberikan itu pada Alvin. Walau sebenarnya, Alvin hanya menyukai basket.Tapi mau bagaimana lagi, Agni merupakan sahabatnya.Makanya Alvin segera menerima pemberian itu.Sesampai di kelas, Alvin dan Agni langsung disambut oleh Cakka dan Rio.Mereka berempat merupakan sahabat sejak duduk di bangku SMP.

***

"hai Jakarta!", desah seseorang sambil membuka kaca mata hitamnya

Sadar tak ada yang menjemputnya di Bandara, ia segera mencari beberapa nomor telepon yang akan dihubunginya. Nomor papa ... "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan...". Oke, masih ada nomor ibu ... "nomor yang andatuju sedang sibuk, silahkan...". Tenanglah, masih ada nomor kak Tasya ... "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan..."

"aduh, kenapa gak bisa dihubungin semua? Masa iya, gue harus ngehubungin Alvin? Aduh! Gue pulang sama siapa ini?", ujarnya penuh keputusasaan

"elo mahasiswa dari Singapore yang tadi satu pesawat sama gue kan? Kenapa?Elo gak ada yang jemput? Bareng gue aja yuk?", ujar seseorang

“elo mahasiswa yang dari Singapore yang tadi satu pesawat sama gue kan? Kenapa? Elo gak ada yang jemput? Bareng gue aja yuk”, ajak seseorang

“tapi kita kan …”

“nama gue Gabriel, mahasiswa di Universitas Seni Rupa. Elo?”

“gue Tania, mahasiswa di Universitas Kedokteran”

“kalo gitu, ayo! Gue itu gak tega kalo ninggalin cewek tanpa nasib yang jelas kayak lo sendirian ditempat kayak gini”, Iyel menarik tangan Tania

“tunggu!”, Tania menahan tangan Iyel

“cewek tanpa nasib yang jelas? Parah banget nih cowok berani ngomong kayak gitu! Tapi, dia gak keliatan kayak orang jahat sih. Aduh … kenapa papa, ibu, sama kak Tasya gak bisa dihubungin sih?”, desah Tania dalam hatinya

“udah belum mikirnya?”

“gue gak maksa lho”, lanjut Iyel

Tania menarik napasnya dalam, lalu mengangguk mengiyakan. Iyel menyahutiya dengan senyuman, lalu kembali menarik perempuan yang memiliki tinggi sedagunya itu. Mereka berdua berjalan menyusuri parkiran bandara, menghampiri sopir Iyel yang telah setia menunggunya. Aneh memang. Mereka –Iyel dan Tania– yang sebelumnya tak pernah kenal dapat duduk berdua di jok(?) belakang mobil.

“kedokteran? Elo ngambil bagian apa?”, Iyel memulai pembicaraan

“spesialis kanker otak”

“hah? Wah, elo itu pinter banget dong, sampe bisa diterima di bagian itu?”, karena jarang sekali orang Indonesia yang mampu lulus tes untuk bagian spesialis seperti itu.

“enggak juga kok, biasa aja. Elo sendiri di seni rupa bagian apa?”

“melukis, itu juga hobby gue”

“wah, sama kayak adek gue. Dia itu jago banget melukis lho. Malahan dia punya galeri lukisannya sendiri di rumah. Keren kan?”

“haha. Kayaknya elo sayang banget ya sama adek lo. Eh, elo mau turun dimana? Rumah lo?”

“oh iya, sampe lupa ngasih alamat. Rumah gue itu di Jakarta Utara”

“oh berarti kita satu kota, perumahan apa?”

“mawar indah, elo?”

“gue Anggrek Ungu, deketlah dari sana”

Percakapan itu terus berlanjut, mewarnai perjalanan panjang mereka. Iyel terlihat begitu bijaksana dan mungkin dewasa serta pengertian, membuat Tania yang notabennya agak kekanak-kanakan itu merasa nyaman saat bersamanya, sementara sopirnya Iyel yang sedari tadi menjadi pendengar, hanya dapat tersenyum akan perbincangan dua insan tersebut.

***

Suasana riuh padat merayap telah menjadi keseharian di kantin pada waktu istirahat seperti ini. Ada beberapa diantara mereka yang makan, minum, atau malah ada yang memanfaatkan waktu ini untuk sekedar bercengkrama dengan teman maupun pacar, berkeliling untuk memalak, bahkan ada yang sampai berkelahi.

“pak, saya pesen bakso satu yang pedes”, ucap Cakka si penggemar makanan pedas yang langsung mendudukan diri dikursi yang selalu menjadi tempat mereka berempat

“eh sob, kalian mau mesen apa?”, tanya Cakka

“gue nasi goreng, Cak”, Rio menyahut

“kalo gue sih siomay aja”, Agni ikut menyahut

Suasana hening, mereka bertiga kompak menunggu jawaban Alvin yang sedari tadi sibuk dengan bb-nya. Entah kenapa, hari ini ia benar-benar merasa berbeda, kepalanya masih terasa pusing, bahkan pandangannya pun sedikit buram. Dan inilah alasan ia acuh, supaya tiga sahabatnya itu tak curiga akan dia.

“woy Vin! Elo mau pesen apa?”, Rio yang gak tahan sama tingkah Alvin angkat bicara

“hah? Eum, gue gak laper kok”, sahut Alvin enteng

“Vin”, Agni yang berada di sekolah Alvin langsung menyenggol kaki Alvin

“Eumm gue disamain sama Agni aja deh”

Pertemuan mereka memang selalu seperti ini, Cakka yang ramenya melebihi mercon, Agni yang lembut, Rio yang susah banget rukun sama Alvin, dan Alvin sendiri yang terkesan acuh tak acuh pada persahabatan manis itu. Sementara bangku yang diduduki mereka saat ini merupakan tempat yang seakan dibuat untuk mereka, karena selama ini tak ada yang mau bergabung atau mendahului mereka untuk duduk disana. Dan itu semua –mungkin– karena mereka yang adalah para siswa berprestasi di sekolah ini.

Rio. Dialah si kapten sekaligus ketua tim basket yang mengharumkan nama sekolah dengan menjadi juara dalam setiap pertandingannya. Cakka. Dibalik sikapnya yang ceplas ceplos, Cakka adalah siswa paling jenius yang ada disekolah ini. Sejak kelas X Cakka berhasil menyabet gelar Master of Sains tingkat SMA, dia berhasil mengalahkan lebih dari seribu pelajar dari seluruh penjuru Indonesia. Selain itu, Cakka juga merupakan pribadi yang memiliki perhitungan pada kehidupannya. ‘hidup itu seumpama matematika, yang selalu memiliki rumus untuk memecahkannya’, itulah motto Cakka. Dan kini, Agni. Cewek satu-satunya diantara mereka, yang menandakan kalau dialah yang paling lembut dan pengertian diantara semuanya. Sama seperti Rio, Agni juga sang kapten basket. Bedanya ia untuk tim perempuan, dan Rio untuk tim laki-laki. Selain itu, Agni adalah sekretaris OSIS yang selalu menemani sang ketos. Alvin, dialah yang paling utama disini. Siapa yang tidak mengenal Alvin di sekolah ini? TIDAK ADA. Dia cowok sekaligus murid paling popular seantero sekolah, dialah yang menjadi target sasaran penglihatan orang akan persahabat empat sekawan itu. Ketua OSIS, hanya sebagian kecil dari prestasinya. Masih ada, basket, seni rupa, dan berbagai pengharagaan lain yang ia raih.

“eh Vin, elo kemarin kemana?”, ujar Rio sambil menyuap satu sendok terakhir nasi gorengnya

“iya sob, kok elo gak masuk sih”, timpal Cakka

“kasian tuh si Duto! Walau kita rival, tapi kasian kan”, Agni tak mau kalah

“jadi?”, ujar Rio yang sadar kalau dari tadi Alvin belum menjawab

“hah? Eum gue lagi gak pengen masuk aja”, sahut Alvin yang mulai mengalihkan perhatiannya ke siomay yang masih utuh. Kepala dan pandangannya sudah membaik sekarang

“gila lo sob, berani banget! Hahaha, tapi lumayanlah. Ada tontonan gratis liat Duto kelagepan pidato di depan orang sebanyak itu”, ujar Cakka dengan tawanya yang khas

“itu emang tugas dia kan? Jadi waketos”, Alvin mulai mengunyah siomaynya

“haha, iya bener banget tuh! Eh ba and bro, gue mau cerita nih”, ujar Rio

“apa Yo?”, Agni menyahut

Dengan penuh konsentrasi Rio menengadah kepalanya dan mulai mengingat-ingat kejadian didepan ruang musik kemarin. Ia menarik napasnya sejenak lalu menceritakan semuanya secara lengkap, tanpa satu celah pun yang terlupa.

“aduh Yo! Parah lo parah”, komen Alvin

“ya ampun sob … kacau”, teriak Cakka yang langsung dibuahi jitakkan Rio dan Alvin bersamaan

“udahlah Cak, elo gak usah ikut campur. Pikirin diri lo tuh, kapan lo deketin si Shilla? Atau ada cewek lain yang lo suka? hayooo”, ejek Alvin yang sering dijadikan lahan curhat oleh Cakka

“setuju deh sama Alvin”, ujar Rio ala iklan di tv

“eh Ni, kok lo diem aja? Gimana? Elo kenal sama Allysa gak?”, Rio mengalihkan pembicaraan

“hah? Gue eumm gue gak kenal, Yo”

“masa sih? Temen musik cewek lo kan banyak disekolah ini”

“mungkin Allysa bukan nama panggilannya, sob. Lagian kan si Agni gak mungkin hapal semua nama lengkap temen-temennya. Nama kita aja, dia belum tentu hapal”, bela Cakka yang malah membuat Agni tersipu

“kenyang gue, cabut yuk”, ujar Alvin yang baru selesai makan dan berlalu pergi dengan diikuti oleh teman-temannya

***

Sebuah mobil hitam mengkilau telah berdiri manis di depan gerbang rumah mewah yang banyak ditumbuhi oleh tanaman. Tak lama kemudian, keluarlah Tania yang diikuti Iyel dari belakangnya.

“thanks ya”, ujar Tania saat Iyel hendak ke dalam mobilnya usai membantu Tania mengeluarkan koper dan barang-barangnya dari dalam bagasi mobil

“sama-sama”

Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan Tania yang terus melambaikan tangannya. “dia gak nyuruh gue masuk? Cuma bilang makasih? Bener-bener gadis yang polos”, batin Iyel. Sementara itu, Tania membuka pintu gerbang rumahnya. Sudah setahun, namun tak ada yang berubah. Pintunya tak dikunci, dasar ceroboh. Sejak dulu sampai sekarang, yang tinggal dirumah ini hanya mereka dengan ditambah oleh pak Karjo dan beberapa pembantu yang pasti sedang ke pasar pada jam-jam seperti ini. Jadi, siapa lagi yang ceroboh? Kalo bukan Tasya? Kakaknya sendiri. Dan kini matanya berbinar saat melewati pintu, memandang foto keluarga mereka yang berbahagai terpajang nyaman tepat di dinding ruang tamu. Ibu, papa, Alvin, dirinya, bahkan Tasya tersenyum bersama.

“kak Tasya!”, teriak Tania pada kakak kandungnya itu

“aduh, kamu tuh … Tania?”, Tasya berlari cepat menuruni tangga demi menyambut sang adik dengan dekapan hangatnya

“miss you, kakak kangen banget sama Tania”, bisik Tasya halus

Tania mengangguk setuju.

“tanpa kamu, kakak kesepian tau”, adu Tasya sambil menatap dalam ke arah Tania

“udah, ayo kita duduk”, lanjut Tasya menarik tangan Tania

Usai menghapus air mata yang menderas tadi, dua bersaudara itu kini duduk dibangku demi menyampaikan kehidupan mereka selama satu tahun belakangan ini.

“kakak kemana sih? Aku telponin gak aktif?”

“sorry, hape kakak lowbat. Tadi baru aja kakak charge. Bb biasalah”

“ahh, kakak mah kebiasaan. Terus papa sama ibu juga gak bisa dihubungin, mereka kemana?”

“papi lagi di rumah sakit, ibu lagi ngurus butik bentar. Lagian kamu juga sih, bilangnya dadakan”

“oh. Eh kak, Alvin apa kabar? Denger dari ibu, kemarin dia dikemo ya kak? Terus kondisinya gimana? Apa dia udah masuk sekolah? Oh iya kak, di …”

“cukup, Ni!”, potong Tasya

“aku nanyanya kebanyakan ya, kak? Hehe, maaf ya kak”, sesal Tania

“kakak males ngomongin dia. Kita ke kamar kamu aja yuk! Liat oleh-oleh buat kakak”, Tasya berdiri lalu menggapai lengan Tania

“enggak kak! Mau bagaimana pun, Alvin adalah adik kita”, Tania menapik tangan kakaknya

“adik? Tania, dia gak pernah manggil papa kita dengan sebutan papa. Sementara kita? Kita sudah menganggap ibunya sebagai ibu kita sejak mereka menikah. Dia gak pernah bicara berdua atau sekedar mengobrol dengan papa. Sementara kita? Kita selalu menceritakan hari-hari kita pada ibunya. Dan kamu? Kamu masih terus menganggapnya adik. Kakak sama sekali enggak ngerti sama kamu, apalagi perhatian kamu buat dia”, ia bangkit berdiri berniat untuk berlalu

“dia sakit, kak. Kanker otak sejak usianya tiga tahun, itu butuh perhatian yang besar, kak”

“hentikan Tania! Bagi kakak, dia gak akan lebih dari adik tiri”, ujar Tasya lalu kembali mendudukan dirinya kembali. Perkataan gadis polos ini tadi telah menyentuh hati kerasnya –sedikit–

“jadi?”, tanya Tania memastikan

“Dia emang dikemo kemarin pagi. Pas pulang, mukanya pucat banget. Dia naik kursi roda, karena badannya yang masih terlalu lemes untuk langsung pulang malam itu juga. Dan beberapa jam setelah dia sampai, gue denger suara-suara berisik dari kamarnya, dan gak lama kemudian ibu masuk kesana. Usai itu, gue gak tau lagi apa yang terjadi. Tapi, tadi pagi dia udah mutusin buat sekolah dengan naik mobilnya sendiri tanpa sopir”

“laporan selesai, puas?”, lanjut Tasya

“tuh, kakak juga perhatian kan sama dia?”, ledek Tania

“ya ini kan gara-gara kamu juga, kalo kamu gak mesen buat merhatiin dia juga, kakak gak bakal buat laporan tentang dia sepanjang tadi”

“oh hehehe, udah yuk ke kamar! Kita bagi oleh-oleh”, kini malah Tania yang berbalik menarik tangan Tasya

Di kamarnya, Tania mulai merapihkan barang-barangnya. Ia mengeluarkan dua kotak yang berukuran sama ke atas tempat tidurnya. Lepas itu, Tania menyerahkan salah satunya pada Tasya.

“yang satu lagi itu buat siapa? Papa?”, tanya Tasya penasaran

“kepo! Ini buat Alvin”, sahut Tania yang malah membuat Tasya memelototkan mata sipitnya

“aduh Tania kamu tuh …”

“sssttt!”, potong Tania sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan mulut Tasya

“coba buka kotaknya”, lanjutnya

“huaa Tania! Ini dress warna hitam? Aaaa, makasih banyak ya Tania sayang”, ujar Tasya

“sip, Tania gitu lohh”

“huh, dasar sombong”, Tasya mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu

“eh tapi, kado Alvin itu isinya apa Ni?”, lanjutnya yang masih penasaran

“apa ya? Mau tau aja apa mau tau banget?”

“ih kamu mah …”

“kak Tasya kepo!”, Tania menjulurkan lidahnya

Tak terima dengan tingkah adiknya yang mengajak perang, Tasya segera berlari dan mengejar Tania yang juga berlari mengitari kamarnya untuk menghindar serangan sang kakak. Walau terpaut usia empat tahun dengan usia yang sudah tak kanak lagi. Yakni Tasya yang telah berusia 22 tahun dan Tania yang berusia 19 tahun. Mereka nampak jauh lebih kanak-kanak bila dibandingkan dengan siswa PAUD sekalipun, kalau soal kejar-kejaran seperti ini

TO BE CONTINUED

naaahhhh.. ini part 2 nya.. gak ngaret kan?? iya kan?? iya dong?? #maksa hehehe :D
gimana ceritanya?? makin aneh yah?? makin bingung yah?? typonya makin parah yah?? hemm -_-
komen yah, yang puaaaaaaaaaaanjaaaaaaaang banget! oke?? *pengenbanget* *iyaabanget*
huhu mau kayak kereta api juga noprob.. malah baguss wkwkwk :D
yang di tag next part .. yang komen hehehehe .. maksa banget yaaahh?? huhuhu :D
udaah ah dari pada makin gaje,, sape disini dulu yoooo
see you *nunjuk kamu* on next part :))
follw twitter ku juga yaa = @brendafiona_
mention for follback =)

Tidak ada komentar: