Seandainya
aku tahu ini adalah awal dari semuanya, aku pasti tidak akan muncul
lagi dihadapanmu. Seandainya aku tahu itu. Tapia pa boleh buat, Tuhan
berkata lain. Aku dan kamu, inilah pertemuan kita. Awal dari kisah kita
semua…
***
Lelaki berbaju rumah sakit itu
tak bisa diam. Bila dihitung, mungkin sudah lebih dari lima kali ia
mondar mandir toilet-ruang tunggu. Sampai akhirnya …… gubrak ..! dia
menabrak sesuatu hingga tersungkur di lantai.
“kalo jalan
liat-liat dong! Jangan semau jidat lo gini dong!”, maki seorang gadis
berambut sebahu itu tanpa berpaling sedikit pun
“sor .. ry ..”, ujar si lelaki sambil berusaha berdiri dengan memegang kursi roda yang ia tabrak tadi
Si gadis yang berada di kursi roda tak menjawab dan malah berniat untuk pergi sesaat usai si lelaki dapat berdiri tegap
“Alvin, ayo nak! Semuanya sudah siap”, panggil seorang wanita muda dari balik pintu ruangan di rumah sakit itu
Mendengar
itu, Alvin –si lelaki– berlari kecil menuju asal suara. Sementara si
gadis yang mulai menjauh, kini malah berhenti sejenak seraya memandang
ruangan tersebut. ‘kemoterapi’ begitulah tulisan yang ada pada papan
pintunya.
“namanya Alvin, dia sakit … oh tidak! Dia dikemo karna sakit ……”, si gadis Nampak berpikir keras
“kanker!”, tebaknya setengah teriak
Tak
disangka, tebakan itu membuat seorang wanita parubaya yang akan
menghampirinya tersentak kaget akan ucapan yang malah terdengar seperti
teriakkan si gadis tadi.
“apanya yang kanker, Sivia?”, ujar wanita itu pada si gadis yang ternyata bernama Sivia itu
“hah?
Enggak kok ma, Sivia Cuma liat orang yang kayaknya sakit kanker itu
masuk ke dalam ruangan kemoterapi itu”, jelas Sivia pada wanita yang
disebutnya mama
“oh, yasudah ayo kita pergi! Hasil terapi kamu akan keluar esok lusa”, sahut mama yang mendorong kursi roda Sivia
***
SMA
Jakarta saat ini telah sepi, beberapa bahkan hampir semua siswa telah
meninggalkan tempat ini. Begitu juga dengan anak-anak basket yang sedang
latihan beberapa saat yang lalu. Rio –ketua ekskul basket– yang
bertugas untuk mengembalikan bola-bola itu ke tempatnya.
“dia lagi”, desah Rio yang menghentikan langkahnya sambil memandang objek yang ada didepannya
Dari kejauhan Nampak seorang gadis sedang memainkan tuts hitam-putih itu.
“selalu
di tempat ini, selalu di ruang musik ini. Sebenarnya nama lu itu siapa?
Kenapa gue gak pernah liat elo di tempat lain?”, tanya sang kapten pada
dirinya sendiri
Sudah hampir dua tahun atau bisa dibilang
selama ia bersekolah disana, Rio tak memliki sedikit pun nyali untuk
menghampiri gadis itu. Gadis yang dapat membuatnya terperangah akan
permainan pianonya, serta mampu membuatnya rajin menaruh bola-bola
diruangan yang berada tepat di sebelah ruang musik.
“hah…”, ujarnya dengan mata yang terpejam, berusaha membayangkan betapa manisnya gadis itu
Satu menit, dua menit, hingga akhirnya …
“hai!”, sapa seseorang yang malah membuat mata Rio membulat
Dia
… gadis itu kini berada dihadapannya sambil memamerkan senyum indahnya.
Wajahnya yang tirus terlihat nyaris sempurna dengan rambut panjang yang
ia ikat, serta poni yang menutupi keningnya. Penampilannya yang masih
menggunakan seragam sekolah terlihat sungguh rapih, jauh berbeda dengan
kaos oblong bercampur peluh yang dikenakan Rio.
“Allysa?”, batin Rio saat melihat nama yang tertera di bagian kiri seragam sekolahnya
Merasa
kalau saat ini bukanlah saat yang tepat baginya, Rio lebih memilih
untuk berdiri meninggalkan si gadis entah kemana sambil membawa
bola-bola tadi.
“aneh. Ruang olahraganya kan disini, kenapa larinya kesana ya?”, bingung Allysa
***
Ruangan
yang berselimut warna pink teduh ini seakan tak berdampak apa-apa bagi
Sivia. Wajahnya tertekuk dengan alis yang beradu, matanya yang tajam tak
bisa tumpul walau bunga-bunga di hadapannya merupakan objek
penglihatannya. Kring … kring … kring … entah sudah berapa kali ponsel
itu bordering, namum sang pemilik enggan untuk sekedar melihatnya
apalagi mengangkatnya.
From : BoyFriend
Maafin aku dong sayang L aku beneran enggak bermaksud kayak gitu
Karena penasaran, Sivia membuka kotak masuknya.
From: BoyFriend
Ini ciyus lho sayang
Kring
… kring … kring ponsel itu kembali berderiang. Perlahan tapi pasti
Sivia menarik napasnya, berniat untuk mengangkat telepon itu. Tapi …
“Via!”, teriakkan itu memaksanya untuk segera mematikan telepon bahkan ponselnya
“yah,
bahaya nih kalo sampe dia tau. Mulutnya pasti gak akan berhenti ngoceh
buat ngeledek gue”, Sivia menyembunyikan ponselnya di laci meja belajar
Tak
lama kemudian, muncullah gaids cantik berambut panjang menawan dari
balik pintu kamar Sivia. Senyum manisnya yang menampilkan deretan gigi
berbalut behel, pastilah membuat mereka yang melihatnya terpesona.
Seperti dirumah sendiri, ia langsung duduk di ranjang sahabatnya itu.
“terapinya
gimana? Rumah sakitnya jauh lebih bagus kan? Terus ada perkembangannya
gak? Terus terus disana ada cowok ganteng gak? Yang bisa buat gue move
on dari Justin Bieber gitu? Hah? Ada gak?”, tanya gadis itu sambil
menaik-turunkan alisnya
“aduh Shilla! Elo tuh ya, kalo
ketemu gue pasti keponya kambuh deh”, Sivia melemparkan bantal ke arah
gadis yang bernama Shilla itu
“ya maaplah Vi, lagian juga kekepoan gue cuma buat elo doang. Kepo is care, sista”, Shilla memajukan bibirnya
‘kepo
is care’ pepatah macam apa itu? Sivia benci itu, alasan yang selalu
dilontarkan Shilla saat berada di saat-saat seperti ini. Bagi Sivia,
kepo itu menyusahkan! Kepo itu menyebalkan! Dan kepo itu musuh baginya!
“Vi, jawab gue dong! Lama banget mikirnya”, lagi-lagi Shilla memajukan bibirnya
“sorry
Shill. Tadi terapinya biasa aja kok, gak ada sesuatu yang cetar
membahana. Terus soal rumah sakit itu ya lumayanlah, lebih besar dan
lebih lengkap peralatannya dibanding rumah sakit tempat gue terapi dulu.
Ngomongin cowok, tadi gue ketemu sama cowok lho”
“cowok? Ciyis lo? Miapa? Ganteng gak?”, Shilla Nampak bersemangat
“ganteng
sih relative, tapi dia kasian deh Shill. Gue liat dia masuk ruangan
kemoterapi, itu lho terapi buat orang yang sakit kanker”
“kasian banget, elo kenal sama cowok itu?”
“kenal sih enggak, tapi gue tau namanya. Nama dia itu Al … eum Al apa yah? Oh iya, Alvin namanya”
“Alvin?”
“iya, elo kenal?”
“enggak
kayaknya, paling cuma namanya dia sama temen gue aja kali ya yang
samaan. Ah lupakan! Eh Vi, kak Iyel kapan kesini?”, Shilla mengalihkan
pembicaraan
“gak tau, besok kali”
“ah elo Vi, kak Iyel kan kakak lo Vi, kakak kandung lo lagi”
“aduh Shill! Terus kalo kak Iyel kakak gue, gue harus tau semua tentang dia gitu?”
“kok lo jadi sensi sih, Vi? Ada masalah ya? Sama siapa?”
“kepo deh”, Sivia menjulurkan lidahnya lalu melemparkan bantal ke arah Shilla untuk kedua kalinya
Dan
tak dapat dihindarkan lagi, perang bantal pun terjadi disana. Sivia dan
Shilla adalah sahabat sejak mereka kecil, itu semua karena orang tua
mereka yang merupakan rekan bisnis. Sebenarnya Shilla adalah anak yang
cenderung pendiam, dan sedikit bijaksana, sama seperti Sivia. Tapi kalau
mereka berdua disatukan, seperti tadilah jati diri mereka.
“Shilla … Sivia … ayo turun! Makan malamnya sudah siap, sayang”, panggil mama Sivia jauh dari balik pintu
Tanpa
komando, perang tadi pun terhenti tanpa menemukan pemenang. Shilla
segera berlari dari ranjang, lalu mendekati Sivia yang kemudian
didorongnya kursi roda itu.
“makan…!!!”, teriak dua sahabat itu bersamaan
***
Sebanyak
ia menahan rasa sakit ini, semakin banyak pula tetesan air yang berebut
keluar dari mata sipitnya. Ini adalah hal baru baginya, setelah 14
tahun menderita penyakit ini.
“ sa …… kit”, desahnya pelan
Kepalanya
terasa dicambuk oleh rotan, sekujur tubuhnya pun serasa dipukul babak
belur. Ini adalah resiko untuknya, yakni efek dari pengobatan yang ia
tempuh pagi tadi.
“argh!”, kali ini terdengar seperti erangan
“argh! Sakit!”, teriaknya sekuat mungkin
Jantungnya
berdebar kencang, membuat rasa takut selalu menghantuinya di saat-saat
seperti ini. Lantunan doa terucapkan dalam hatinya, berharap Tuhan akan
menghapus rasa sakit itu –sedikit saja–.
“Alvin!”, teriak seorang wanita yang lari masuk ke kamar anaknya itu
“genggam tangan ibu, nak. Bagi rasa sakit itu dengan ibu”, lanjut wanita yang menyebut dirinya ibu sambil
menggenggam erat tangan kurus itu
“sa … kit … bu”, tetesan air mata kian menderas
“iya sayang, ibu disini bersamamu”, ucapnya sambil menghapus peluh di kening permatanya lalu menciumnya tulus
“ibu sayang Alvin”, bisiknya yang malah terdengar layaknya isakan haru
Kejadian
ini berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya mata Alvin terpejam
dan rasa sakit itu memudar sejenak. Dengan air mata tak terbendung, ia
mulai mengusap pelat rambut hitam Alvin. Jujur, rasa takut itu juga
menghantuinya. Rasa takut akan kehilangan untuk kali yang kedua jelas
mewarnai hari-harinya.
“empat belas tahun gak mudah, sayang. Ibu sayang Alvin”, ucapnya lalu beranjak pergi
***
Usai
memastikan semuanya beres, mulai dari rambut, seragam sekolahnya, serta
pernak pernik layaknya dasi dan ikat pinggang yang membuatnya tampil
elegan. Alvin meraih sebotol kapsul obatnya dan jacket tebal lalu
memasukkannya dalam tas sekolahnya. Tanpa membereskan buku, ia sudah
siap untuk berangkat sekolah. Kenapa? Karena sang ibu lah yang hampir
setiap hari menata rapih buku-buku Alvin. Tak lupa ia menghadapkan
dirinya didepan cermin.
“hari ini harus lebih baik dari kemarin. Aku bisa, karena Tuhan besertaku!”, ucapnya pada bayangan cerminnya
Dengan langkah yang pasti Alvin keluar dari kamarnya. Setelah sebelumnya ia meminum segelas susu coklat
kesukaannya.
“Alvin! Kamu mau kemana?”, tanya ibu yang Nampak sarapan bersama dua orang lainnya
“ya … Alvin mau sekolah lah bu”, sahut Alvin sambil cengengesan
“tapi kan kamu …”
“udah, ibu gak usah khawatir. Tadi Alvin udah minum susu kok. Udah ya, Alvin berangkat sekolah dulu
semuanya”, potong Alvin yang langsung beranjak pergi ke garasi rumah mereka
“tuh
papa liat sendiri kan? Dia itu baru aja di kemo kemarin, tapi malah
pergi sekolah hari ini!”, adu ibu pada pria parubaya yang ada di sisi
kanannya
“udahlah bu, dia udah besar. Lagipula dia yang
tau bagaimana kondisinya, papa yakin dia akan baik-baik saja”, jawab
pria yang disebut papa itu
Ibu mendecak lidah, tak ada gunanya ia memohon, toh Alvin tak akan acuh padanya di situasi seperti ini.
Diantara
mereka ada seorang gadis yang terlihat lebih tua dari Alvin, namun
lebih muda dari ibu. Ia Nampak tak peduli dengan percakapan yang tengah
terjadi, apalagi percakapan ini mengenai sosok yang menurutnya ‘sangat
menyebalkan’. Sehingga tak membuat matanya berpaling dari objek makanan
yang ada di hadapannya.
“gak mau dianter, den?”, tanya pak Karjo pada Alvin yang mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung di dinding garasi
“iya
pak, Alvin lagi pengen nyetir sendiri”, sahutnya sambil menaiki mobil
berlogo kuda jingkrak yang sudah lama tak bersentuhan dengannya
“hati-hati ya, den”, seru pak Karjo saat mobil itu lepas landas
Mobil
hitam itu adalah hadiah ulang tahun ke 17 tahun dari papa, ibu, kak
Tania, dan mungkin juga kak Tasya pada beberapa bulan yang lalu. Dan ini
adalah kali kedua Alvin mengemudikan mobilnya.
#FlashBackOn#
“happy birthday!”, seru Tania penuh semangat sambil membuka penutup mata Alvin
Alvin
menatap semuanya itu dengan rasa tak percaya, semuanya ini sama sekali
tak pernah terselip dalam benaknya. Setelah puas memandang benda beroda
empat itu, ia mengalihkan pandangannya pada empat sosok yang istimewa
dalam hidupnya.
“ayo dong dicoba!”, ujar Tania sambil memberikan SIM baru Alvin
Tangan
itu nampak ditarik paksa, lalu tiba-tiba mendarat mulus di sebuah
kemudi. Tania yang sedari tadi antusias ikut masuk dan duduk di sebelah
Alvin, berharap adiknya tak akan mengecewakannya. Dan tak lama kemudian,
Alvin yang masih mengenakan seragam sekolah itu menyalakan mobilnya
perlahan lalu mengendarainya. Pelan sekali. Ini adalah yang pertama
kalinya, setelah dua bulan ia belajar menyetir. Itu semua terasa
menyenangkan, sampai akhirnya
“argh”, Alvin menghentikan laju mobilnya sesaat
Sadar akan kondisi adiknya, Tania segera ambil kemudi untuk menepi.
“argh .. “, erangan itu keluar bersamaan dengan darah dari hidungnya
Hanya hitungan beberapa detik, tubuh itu kian melemas sampai semuanya terlihat begitu gelap. Alvin pingsan.
#FlashBackOff#
Mungkin
sejak saat itulah mereka –keluarga Alvin– melarangnya untuk mengemudi
mobil sendirian. Tapi kali ini berbeda. Alvin mau mengemudi sendiri,
walau ia tau tubuhnya masih terlalu letih karena kemoterapi. Baginya,
hari ini adalah hari yang baru. Hari dimana dia bukan lagi pecundang
yang takut akan kemoterapi, dimana dia akan siap untuk menerima efek
samping dari pengobatannya itu. Ya …… dia siap!
***
Ipod
nano berwarna putih beserta earphonenya telah bertengger di telinganya,
senyum manis yang sudah dipersiapkan terlontar bagi mereka yang
memandangnya. Dan kini tatapan-tatapan kagum dari para siswa, terutama
murid kelas X yang baru selesai di MOS tertuju pada pesonanya yang
melalang *mogatulisannyabener* buana.
“dan inilah sang ketua OSIS yang meninggalkan tugas pentingnya”, ujar seseorang saat Alvin melewatinya
“apa tadi lo bilang?”, Alvin menghentikan langkahnya dan membuka earphonenya sambil menatap lelaki yang
ada di hadapannya itu penuh perhatian
“gue bilang, elo adalah ketua OSIS yang gak punya tanggung jawab!”, kini telunjuk lelaki itu mendorong dada kiri
Alvin
Alvin menatap jijik telunjuk itu, lalu mengalihkannya ke arah lelaki itu.
“gue? Gak tanggung jawab?”, Alvin menghempaskan dada kirinya hingga telunjuk itu terkulai
“harusnya
gue yang nanya dimana tanggung jawab elo sebagai waketos? Kan
seharusnya elo yang gantiin gue disaat gue gak ada?!”, kini malah
telunjuk Alvin yang bersarang di dada kiri lelaki itu
"elo
tuh ya! Kemaren gue itu puyeng buat nyusun pidato penutupan MOS, yang
seharus dilakuin sama lo. Dan apa lo tau? Gue ngelakuin semua itu tanpa
persiapan sedikit pun. Terus sekarang elo malah ngajakin gue ribut, dan
gak bilang makasih sama gue?"
"o ow, jadi gue harus bilang makasih? Bukan wow gitu?", Alvin menarik telunjuknya lalu membentuk huruf w dengan kedua tangannya
"ish... elo tuh ya!", si lelaki nampak mengangkat kepalan tangannya yang siap mendarat di wajah putih itu
Tapi ......
"cukup!", teriak seorang gadis yang berjalan menghampiri
"Shilla?", ujar mereka bebarengan
"Duto, turunin tangan lo!", perintahnya seumpama bos yang berkuasa
Duto menurunkan tangannya, Alvin malah tertawa sendirian.
"Alvin, minta maaf sama Duto"
"tapi Shill..."
"udah sana! kan elo juga yang gak tau terimakasih", potong Shilla yang langsung dituruti oleh Alvin
"maaf", ucap Alvin singkat, jelas, dan padat yang juga tanpa diiringi oleh ritual jabat tangan
Shilla yang melihat tingkah dua cowok yang sejak dulu seperti tom and jerry ini hanya dapat tersenyum dan menahan tawanya.
"nah, gitu dong! Sebagai ketos dan waketos tuh, kalian harus akur", ujar Shilla layaknya menasihati dua bocah
yang bertengkar karena berebut permen
"gue duluan yah, bye!", Alvin kembali memasang earphonenya lalu berjalan santai meninggalkan mereka
Alvin
adalah ketua OSIS di SMA ini. Aneh memang, seorang Alvin yang sering
absen bisa menjadi ketos. Tapi begitulah adanya. Sementara Duto, dia
adalah wakil ketua OSIS yang juga merupakan rival Alvin. Entah siapa
yang memulai, tapi semenjak mereka dipertemukan selalu saja ada
perdebatan. Entah kenapa. Dan Shilla, dialah yang mungkin paling bijak
diantara dua orang tadi. Di OSIS, Shilla menjabat ketua MPK. Itulah yang
menyebabkan Shilla mudah untuk menaklukan kegeraman dua makhluk itu,
yakni karena dialah yang berkewenangan untuk mengatur OSIS, terutama
ketos dan wakilnya. Dan sepertinya, cara itu ampuh untuk mereka.
TO BE CONTINUED
huaaaaaaaaaa....... aku enggak ngaretttttt..!!!!
gimana?? jelek yaa?? kecewa yaa?? banyak typo nya yaa??
heemm -_-
makasih yah udah mau baca.. maaf kalo cerbung ini gak jelas.!! :D
peraturan tag nya masih sama kayak kemaren.. maaf, yang kemaren minta tag di prolog *tag penuh* huehehehe :D
SEE YOU ON NEXT PART B-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar