Selasa, 26 Februari 2013

Lentera Hati *Part 1*

Seandainya aku tahu ini adalah awal dari semuanya, aku pasti tidak akan muncul lagi dihadapanmu. Seandainya aku tahu itu. Tapia pa boleh buat, Tuhan berkata lain. Aku dan kamu, inilah pertemuan kita. Awal dari kisah kita semua…

***



Lelaki berbaju rumah sakit itu tak bisa diam. Bila dihitung, mungkin sudah lebih dari lima kali ia mondar mandir toilet-ruang tunggu. Sampai akhirnya …… gubrak ..! dia menabrak sesuatu hingga tersungkur di lantai.

“kalo jalan liat-liat dong! Jangan semau jidat lo gini dong!”, maki seorang gadis berambut sebahu itu tanpa berpaling sedikit pun

“sor .. ry ..”, ujar si lelaki sambil berusaha berdiri dengan memegang kursi roda yang ia tabrak tadi

Si gadis yang berada di kursi roda tak menjawab dan malah berniat untuk pergi sesaat usai si lelaki dapat berdiri tegap

“Alvin, ayo nak! Semuanya sudah siap”, panggil seorang wanita muda dari balik pintu ruangan di rumah sakit itu

Mendengar itu, Alvin –si lelaki– berlari kecil menuju asal suara. Sementara si gadis yang mulai menjauh, kini malah berhenti sejenak seraya memandang ruangan tersebut. ‘kemoterapi’ begitulah tulisan yang ada pada papan pintunya.

“namanya Alvin, dia sakit … oh tidak! Dia dikemo karna sakit ……”, si gadis Nampak berpikir keras

“kanker!”, tebaknya setengah teriak

Tak disangka, tebakan itu membuat seorang wanita parubaya yang akan menghampirinya tersentak kaget akan ucapan yang malah terdengar seperti teriakkan si gadis tadi.

“apanya yang kanker, Sivia?”, ujar wanita itu pada si gadis yang ternyata bernama Sivia itu

“hah? Enggak kok ma, Sivia Cuma liat orang yang kayaknya sakit kanker itu masuk ke dalam ruangan kemoterapi itu”, jelas Sivia pada wanita yang disebutnya mama

“oh, yasudah ayo kita pergi! Hasil terapi kamu akan keluar esok lusa”, sahut mama yang mendorong kursi roda Sivia

***

SMA Jakarta saat ini telah sepi, beberapa bahkan hampir semua siswa telah meninggalkan tempat ini. Begitu juga dengan anak-anak basket yang sedang latihan beberapa saat yang lalu. Rio –ketua ekskul basket– yang bertugas untuk mengembalikan bola-bola itu ke tempatnya.

“dia lagi”, desah Rio yang menghentikan langkahnya sambil memandang objek yang ada didepannya

Dari kejauhan Nampak seorang gadis sedang memainkan tuts hitam-putih itu.

“selalu di tempat ini, selalu di ruang musik ini. Sebenarnya nama lu itu siapa? Kenapa gue gak pernah liat elo di tempat lain?”, tanya sang kapten pada dirinya sendiri

Sudah hampir dua tahun atau bisa dibilang selama ia bersekolah disana, Rio tak memliki sedikit pun nyali untuk menghampiri gadis itu. Gadis yang dapat membuatnya terperangah akan permainan pianonya, serta mampu membuatnya rajin menaruh bola-bola diruangan yang berada tepat di sebelah ruang musik.

“hah…”, ujarnya dengan mata yang terpejam, berusaha membayangkan betapa manisnya gadis itu

Satu menit, dua menit, hingga akhirnya …

“hai!”, sapa seseorang yang malah membuat mata Rio membulat

Dia … gadis itu kini berada dihadapannya sambil memamerkan senyum indahnya. Wajahnya yang tirus terlihat nyaris sempurna dengan rambut panjang yang ia ikat, serta poni yang menutupi keningnya. Penampilannya yang masih menggunakan seragam sekolah terlihat sungguh rapih, jauh berbeda dengan kaos oblong bercampur peluh yang dikenakan Rio.

“Allysa?”, batin Rio saat melihat nama yang tertera di bagian kiri seragam sekolahnya

Merasa kalau saat ini bukanlah saat yang tepat baginya, Rio lebih memilih untuk berdiri meninggalkan si gadis entah kemana sambil membawa bola-bola tadi.

“aneh. Ruang olahraganya kan disini, kenapa larinya kesana ya?”, bingung Allysa

***

Ruangan yang berselimut warna pink teduh ini seakan tak berdampak apa-apa bagi Sivia. Wajahnya tertekuk dengan alis yang beradu, matanya yang tajam tak bisa tumpul walau bunga-bunga di hadapannya merupakan objek penglihatannya. Kring … kring … kring … entah sudah berapa kali ponsel itu bordering, namum sang pemilik enggan untuk sekedar melihatnya apalagi mengangkatnya.

From : BoyFriend
Maafin aku dong sayang L aku beneran enggak bermaksud kayak gitu

Karena penasaran, Sivia membuka kotak masuknya.

From: BoyFriend
Ini ciyus lho sayang

Kring … kring … kring ponsel itu kembali berderiang. Perlahan tapi pasti Sivia menarik napasnya, berniat untuk mengangkat telepon itu. Tapi …

“Via!”, teriakkan itu memaksanya untuk segera mematikan telepon bahkan ponselnya

“yah, bahaya nih kalo sampe dia tau. Mulutnya pasti gak akan berhenti ngoceh buat ngeledek gue”, Sivia menyembunyikan ponselnya di laci meja belajar

Tak lama kemudian, muncullah gaids cantik berambut panjang menawan dari balik pintu kamar Sivia. Senyum manisnya yang menampilkan deretan gigi berbalut behel, pastilah membuat mereka yang melihatnya terpesona. Seperti dirumah sendiri, ia langsung duduk di ranjang sahabatnya itu.

“terapinya gimana? Rumah sakitnya jauh lebih bagus kan? Terus ada perkembangannya gak? Terus terus disana ada cowok ganteng gak? Yang bisa buat gue move on dari Justin Bieber gitu? Hah? Ada gak?”, tanya gadis itu sambil menaik-turunkan alisnya

“aduh Shilla! Elo tuh ya, kalo ketemu gue pasti keponya kambuh deh”, Sivia melemparkan bantal ke arah gadis yang bernama Shilla itu

“ya maaplah Vi, lagian juga kekepoan gue cuma buat elo doang. Kepo is care, sista”, Shilla memajukan bibirnya

‘kepo is care’ pepatah macam apa itu? Sivia benci itu, alasan yang selalu dilontarkan Shilla saat berada di saat-saat seperti ini. Bagi Sivia, kepo itu menyusahkan! Kepo itu menyebalkan! Dan kepo itu musuh baginya!

“Vi, jawab gue dong! Lama banget mikirnya”, lagi-lagi Shilla memajukan bibirnya

“sorry Shill. Tadi terapinya biasa aja kok, gak ada sesuatu yang cetar membahana. Terus soal rumah sakit itu ya lumayanlah, lebih besar dan lebih lengkap peralatannya dibanding rumah sakit tempat gue terapi dulu. Ngomongin cowok, tadi gue ketemu sama cowok lho”

“cowok? Ciyis lo? Miapa? Ganteng gak?”, Shilla Nampak bersemangat

“ganteng sih relative, tapi dia kasian deh Shill. Gue liat dia masuk ruangan kemoterapi, itu lho terapi buat orang yang sakit kanker”

“kasian banget, elo kenal sama cowok itu?”

“kenal sih enggak, tapi gue tau namanya. Nama dia itu Al … eum Al apa yah? Oh iya, Alvin namanya”

“Alvin?”

“iya, elo kenal?”

“enggak kayaknya, paling cuma namanya dia sama temen gue aja kali ya yang samaan. Ah lupakan! Eh Vi, kak Iyel kapan kesini?”, Shilla mengalihkan pembicaraan

“gak tau, besok kali”

“ah elo Vi, kak Iyel kan kakak lo Vi, kakak kandung lo lagi”

“aduh Shill! Terus kalo kak Iyel kakak gue, gue harus tau semua tentang dia gitu?”

“kok lo jadi sensi sih, Vi? Ada masalah ya? Sama siapa?”

“kepo deh”, Sivia menjulurkan lidahnya lalu melemparkan bantal ke arah Shilla untuk kedua kalinya

Dan tak dapat dihindarkan lagi, perang bantal pun terjadi disana. Sivia dan Shilla adalah sahabat sejak mereka kecil, itu semua karena orang tua mereka yang merupakan rekan bisnis. Sebenarnya Shilla adalah anak yang cenderung pendiam, dan sedikit bijaksana, sama seperti Sivia. Tapi kalau mereka berdua disatukan, seperti tadilah jati diri mereka.

“Shilla … Sivia … ayo turun! Makan malamnya sudah siap, sayang”, panggil mama Sivia jauh dari balik pintu
Tanpa komando, perang tadi pun terhenti tanpa menemukan pemenang. Shilla segera berlari dari ranjang, lalu mendekati Sivia yang kemudian didorongnya kursi roda itu.

“makan…!!!”, teriak dua sahabat itu bersamaan

***

Sebanyak ia menahan rasa sakit ini, semakin banyak pula tetesan air yang berebut keluar dari mata sipitnya. Ini adalah hal baru baginya, setelah 14 tahun menderita penyakit ini.

“ sa …… kit”, desahnya pelan

Kepalanya terasa dicambuk oleh rotan, sekujur tubuhnya pun serasa dipukul babak belur. Ini adalah resiko untuknya, yakni efek dari pengobatan yang ia tempuh pagi tadi.

“argh!”, kali ini terdengar seperti erangan

“argh! Sakit!”, teriaknya sekuat mungkin

Jantungnya berdebar kencang, membuat rasa takut selalu menghantuinya di saat-saat seperti ini. Lantunan doa terucapkan dalam hatinya, berharap Tuhan akan menghapus rasa sakit itu –sedikit saja–.

“Alvin!”, teriak seorang wanita yang lari masuk ke kamar anaknya itu

“genggam tangan ibu, nak. Bagi rasa sakit itu dengan ibu”, lanjut wanita yang menyebut dirinya ibu sambil
menggenggam erat tangan kurus itu

“sa … kit … bu”,  tetesan air mata kian menderas

“iya sayang, ibu disini bersamamu”, ucapnya sambil menghapus peluh di kening permatanya lalu menciumnya tulus

“ibu sayang Alvin”, bisiknya yang malah terdengar layaknya isakan haru

Kejadian ini berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya mata Alvin terpejam dan rasa sakit itu memudar sejenak. Dengan air mata tak terbendung, ia mulai mengusap pelat rambut hitam Alvin. Jujur, rasa takut itu juga menghantuinya. Rasa takut akan kehilangan untuk kali yang kedua jelas mewarnai hari-harinya.

“empat belas tahun gak mudah, sayang. Ibu sayang Alvin”, ucapnya lalu beranjak pergi

***

Usai memastikan semuanya beres, mulai dari rambut, seragam sekolahnya, serta pernak pernik layaknya dasi dan ikat pinggang yang membuatnya tampil elegan. Alvin meraih sebotol kapsul obatnya dan jacket tebal lalu memasukkannya dalam tas sekolahnya. Tanpa membereskan buku, ia sudah siap untuk berangkat sekolah. Kenapa? Karena sang ibu lah yang hampir setiap hari menata rapih buku-buku Alvin. Tak lupa ia menghadapkan dirinya didepan cermin.

“hari ini harus lebih baik dari kemarin. Aku bisa, karena Tuhan besertaku!”, ucapnya pada bayangan cerminnya

Dengan langkah yang pasti Alvin keluar dari kamarnya. Setelah sebelumnya ia meminum segelas susu coklat
kesukaannya.

“Alvin! Kamu mau kemana?”, tanya ibu yang Nampak sarapan bersama dua orang lainnya

“ya … Alvin mau sekolah lah bu”, sahut Alvin sambil cengengesan

“tapi kan kamu …”

“udah, ibu gak usah khawatir. Tadi Alvin udah minum susu kok. Udah ya, Alvin berangkat sekolah dulu
semuanya”, potong Alvin yang langsung beranjak pergi ke garasi rumah mereka

“tuh papa liat sendiri kan? Dia itu baru aja di kemo kemarin, tapi malah pergi sekolah hari ini!”, adu ibu pada pria parubaya yang ada di sisi kanannya

“udahlah bu, dia udah besar. Lagipula dia yang tau bagaimana kondisinya, papa yakin dia akan baik-baik saja”, jawab pria yang disebut papa itu

Ibu mendecak lidah, tak ada gunanya ia memohon, toh Alvin tak akan acuh padanya di situasi seperti ini.
Diantara mereka ada seorang gadis yang terlihat lebih tua dari Alvin, namun lebih muda dari ibu. Ia Nampak tak peduli dengan percakapan yang tengah terjadi, apalagi percakapan ini mengenai sosok yang menurutnya ‘sangat menyebalkan’. Sehingga tak membuat matanya berpaling dari objek makanan yang ada di hadapannya.

“gak mau dianter, den?”, tanya pak Karjo pada Alvin yang mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung di dinding garasi

“iya pak, Alvin lagi pengen nyetir sendiri”, sahutnya sambil menaiki mobil berlogo kuda jingkrak yang sudah lama tak bersentuhan dengannya

“hati-hati ya, den”, seru pak Karjo saat mobil itu lepas landas

Mobil hitam itu adalah hadiah ulang tahun ke 17 tahun dari papa, ibu, kak Tania, dan mungkin juga kak Tasya pada beberapa bulan yang lalu. Dan ini adalah kali kedua Alvin mengemudikan mobilnya.

#FlashBackOn#

“happy birthday!”, seru Tania penuh semangat sambil membuka penutup mata Alvin

Alvin menatap semuanya itu dengan rasa tak percaya, semuanya ini sama sekali tak pernah terselip dalam benaknya. Setelah puas memandang benda beroda empat itu, ia mengalihkan pandangannya pada empat sosok yang istimewa dalam hidupnya.

“ayo dong dicoba!”, ujar Tania sambil memberikan SIM baru Alvin

Tangan itu nampak ditarik paksa, lalu tiba-tiba mendarat mulus di sebuah kemudi. Tania yang sedari tadi antusias ikut masuk dan duduk di sebelah Alvin, berharap adiknya tak akan mengecewakannya. Dan tak lama kemudian, Alvin yang masih mengenakan seragam sekolah itu menyalakan mobilnya perlahan lalu mengendarainya. Pelan sekali. Ini adalah yang pertama kalinya, setelah dua bulan ia belajar menyetir. Itu semua terasa menyenangkan, sampai akhirnya

“argh”, Alvin menghentikan laju mobilnya sesaat

Sadar akan kondisi adiknya, Tania segera ambil kemudi untuk menepi.

“argh .. “, erangan itu keluar bersamaan dengan darah dari hidungnya

Hanya hitungan beberapa detik, tubuh itu kian melemas sampai semuanya terlihat begitu gelap. Alvin pingsan.

#FlashBackOff#

Mungkin sejak saat itulah mereka –keluarga Alvin– melarangnya untuk mengemudi mobil sendirian. Tapi kali ini berbeda. Alvin mau mengemudi sendiri, walau ia tau tubuhnya masih terlalu letih karena kemoterapi. Baginya, hari ini adalah hari yang baru. Hari dimana dia bukan lagi pecundang yang takut akan kemoterapi, dimana dia akan siap untuk menerima efek samping dari pengobatannya itu. Ya …… dia siap!

***

Ipod nano berwarna putih beserta earphonenya telah bertengger di telinganya, senyum manis yang sudah dipersiapkan terlontar bagi mereka yang memandangnya. Dan kini tatapan-tatapan kagum dari para siswa, terutama murid kelas X yang baru selesai di MOS tertuju pada pesonanya yang melalang *mogatulisannyabener* buana.

“dan inilah sang ketua OSIS yang meninggalkan tugas pentingnya”, ujar seseorang saat Alvin melewatinya

“apa tadi lo bilang?”, Alvin menghentikan langkahnya dan membuka earphonenya sambil menatap lelaki yang
ada di hadapannya itu penuh perhatian

“gue bilang, elo adalah ketua OSIS yang gak punya tanggung jawab!”, kini telunjuk lelaki itu mendorong dada kiri
Alvin

Alvin menatap jijik telunjuk itu, lalu mengalihkannya ke arah lelaki itu.

“gue? Gak tanggung jawab?”, Alvin menghempaskan dada kirinya hingga telunjuk itu terkulai

“harusnya gue yang nanya dimana tanggung jawab elo sebagai waketos? Kan seharusnya elo yang gantiin gue disaat gue gak ada?!”, kini malah telunjuk Alvin yang bersarang di dada kiri lelaki itu

"elo tuh ya! Kemaren gue itu puyeng buat nyusun pidato penutupan MOS, yang seharus dilakuin sama lo. Dan apa lo tau? Gue ngelakuin semua itu tanpa persiapan sedikit pun. Terus sekarang elo malah ngajakin gue ribut, dan gak bilang makasih sama gue?"

"o ow, jadi gue harus bilang makasih? Bukan wow gitu?", Alvin menarik telunjuknya lalu membentuk huruf w dengan kedua tangannya

"ish... elo tuh ya!", si lelaki nampak mengangkat kepalan tangannya yang siap mendarat di wajah putih itu

Tapi ......

"cukup!", teriak seorang gadis yang berjalan menghampiri

"Shilla?", ujar mereka bebarengan

"Duto, turunin tangan lo!", perintahnya seumpama bos yang berkuasa

Duto menurunkan tangannya, Alvin malah tertawa sendirian.

"Alvin, minta maaf sama Duto"

"tapi Shill..."

"udah sana! kan elo juga yang gak tau terimakasih", potong Shilla yang langsung dituruti oleh Alvin

"maaf", ucap Alvin singkat, jelas, dan padat yang juga tanpa diiringi oleh ritual jabat tangan

Shilla yang melihat tingkah dua cowok yang sejak dulu seperti tom and jerry ini hanya dapat tersenyum dan menahan tawanya.

"nah, gitu dong! Sebagai ketos dan waketos tuh, kalian harus akur", ujar Shilla layaknya menasihati dua bocah
yang bertengkar karena berebut permen

"gue duluan yah, bye!", Alvin kembali memasang earphonenya lalu berjalan santai meninggalkan mereka

Alvin adalah ketua OSIS di SMA ini. Aneh memang, seorang Alvin yang sering absen bisa menjadi ketos. Tapi begitulah adanya. Sementara Duto, dia adalah wakil ketua OSIS yang juga merupakan rival Alvin. Entah siapa yang memulai, tapi semenjak mereka dipertemukan selalu saja ada perdebatan. Entah kenapa. Dan Shilla, dialah yang mungkin paling bijak diantara dua orang tadi. Di OSIS, Shilla menjabat ketua MPK. Itulah yang menyebabkan Shilla mudah untuk menaklukan kegeraman dua makhluk itu, yakni karena dialah yang berkewenangan untuk mengatur OSIS, terutama ketos dan wakilnya. Dan sepertinya, cara itu ampuh untuk mereka.

TO BE CONTINUED

huaaaaaaaaaa....... aku enggak ngaretttttt..!!!!
gimana?? jelek yaa?? kecewa yaa?? banyak typo nya yaa??
heemm -_-
makasih yah udah mau baca.. maaf kalo cerbung ini gak jelas.!! :D
peraturan tag nya masih sama kayak kemaren.. maaf, yang kemaren minta tag di prolog *tag penuh* huehehehe :D
SEE YOU ON NEXT PART B-)

Tidak ada komentar: