Sabtu, 09 Maret 2013

Lentera Hati *Part 4*

Karena pertengkaran kemarin, Rio lebih memilih berdiam diri di perpustakaan daripada bermain basket dengan Alvin dan Cakka di lapangan saat jam istirahat seperti ini. "Agni kan lagi ngumpul sama anak-anak musik, kalo cuma Alvin Cakka pasti gue dicuekkin! Secara gue abis debat sama Alvin kemarin. Bodo ah, gue ke perpus aja! Siapa tau gue bisa mengalahkan Cakka yang pinternya kuadrat", batin Rio sepanjang perjalanannya menuju perpus.

Semua telah ia lewati. Mulai dari deretan buku sejarah, ensiklopedia, fisika, kimia, bahkan novel dan komik. Sampai akhirnya Rio berhenti dan mulai mengamati jejeran buku dongeng, mengambil salah satunya lalu melihat-lihat isinya. Dengan bersenandung ringan, Rio menenteng buku tersebut menuju tempat duduk untuk membacanya. Perpustakaan adalah satu-satunya tempat yang jarang sekali dikunjungi lelaki pecinta basket itu. Karena memang, ia bukanlah si kutu buku seperti Cakka atau siswa pintar lainnya. Tapi kali ini, ia ada disini. Menatap jejeran buku dari berbagai zaman yang telah menjadi panorama yang khas disana.

Dibalik itu ada Alvin dan Cakka yang sibuk memperebutkan satu bola basket. Ini hobi mereka, sebenarnya ini hobi mereka dan juga Rio serta Agni. Berkali-kali Alvin dan Cakka secara bergilir memasukkan bola ke dalam ring yang diikuti sorakan kagum dari para fans mereka. Alvin tahu ini sungguhlah tidak baik untuknya, tapi ini hobi dan cita-citanya. Ia pasti akan melakukannya sampai akhirnya ia benar-benar tidak dapat melakukannya lagi.



"Vin, kemaren gue berhasil", ujar Cakka perlahan pada Alvin yang sedang mendrible bola

"berhasil?", sahut Alvin sambil menghentikan driblenya lalu mulai memperhatikan Cakka. Membuat beberapa wanita yang tadi berdiri di tepi lapangan bubar, tanpa komando

"iya. Jadi kemarin itu gue sama Shilla pulang bareng, dan gue berhasil Vin. Gue berhasil", seru Cakka sambil menggoyang-goyangkan tubuh Alvin

Entah kenapa Alvin sama sekali tidak senang apalagi bahagia mendengar perkataan sahabatnya itu, hal ini malah membuatnya merasa kalau cinta membingungkan! Ia senang dengan Cakka yang bahagia soal Shilla, tapi ia tak mungkin senang melihat temannya yang lain sedih karena hal ini. Dan ini juga karena Alvin, karena idenya. Bodoh! Kenapa ia tak ingat sms si dia setelah lulus SMP dulu.?? sms yang menyatakan kalau dia sudah putus dengan pacarnya, karna ingin menunggu Cakka yang entah sampai kapan bisa menyatakan perasaan pada dirinya. Argh! Kini Alvin harus berada dalam posisi serba salah.

"Vin, kok lo diem aja sih? Elo gak bahagia apa liat sobat lo ini berhasil PDKT sama cewek yang dia suka?", Cakka menyadarkan lamunan Alvin

"hah? Eum gue ... ya gue seneng lah bro! Elo bahagia ya gue juga bahagia, kita kan sohib"

"tapi Cak ... Satu hal yang perlu lo tau, cinta bukanlah fisika atau kimia apalagi matematika. Cinta itu gak punya rumus yang bisa lo pecahin, Cak", lanjut Alvin

"maksud lo, bro?"

"lupain ... ", Alvin langsung men-shoot bola yang sedari tadi berada dalam genggamannya dan

"yap, masuk!", serunya saat bola tersebut berhasil memasuki ring basket

"ayo bro, traktir gue somay dua piring", lanjutnya sambil menarik lengan Cakka menuju kantin

"cinta itu gak punya rumus yang bisa lo pecahin", entah kenapa kata-kata itu malah terngiang-ngiang di benak Cakka. Apa mencintai Shilla merupakan hal yang salah baginya?

***

THE END. Rio mengerjapkan matanya sejenak, menghilangkan beberapa titik kejenuhan disana. Tak lama kemudian, Rio bangkit berdiri dan berniat untuk mengembalikan buku tersebut. Namun BRAKK ... setumpukan buku terjatuh berantakkan saat tubuh Rio menabrak seseorang yang berada di hadapannya saat ia berbalik.

"maaf", lirih orang itu sembari merapikan buku-buku yang covernya dipenuhi beberapa gambar ornamen dan alat musik tersebut.

Rio yang tadi mematung segera beranjak untuk membantu seseorang yang ternyata perempuan itu. Ia mulai menatanya kembali menjadi suatu tumpukan, lalu menyerahkannya dan bangkit berdiri bersamanya.

"hei, elo itu kan ... ", serunya saat wajahnya yang tertunduk tadi menatap Rio

NANO NANO! Rio bingung harus menyahut apa. Perempuan yang ditabraknya ialah Allysa, si gadis piano yang ia sukai. Ia terdiam tak berkedip, fokus untuk mengatur degupan jantung yang tak beraturan.

"elo yang di ruang musik kan? Kenalin gue Ify, kelas XII. Elo?", Ify menyodorkan tangannya

"Ify?", oh tidak! Mengapa Rio malah balik bertanya?

"haha, pasti lo bingung yah. Nama gue emang Allysa, lebih lengkapnya Allysa Saufika. Tapi nama panggilan gue itu Ify. Elo? Eum Mario?", jelas Ify sambil memandangi nama Rio yang tertera di bagian kiri seragam sekolahnya

"ahh iya! Nama gue Mario, dan elo bisa panggil gue Rio", sahutnya sambil menyalami tangan Ify. Lembut

"oh, Rio thanks ya bantuannya", Ify melangkahkan kakinya pergi

"tunggu!", tahan Rio

Aduh Rio! Apa yang elo lakuin? Kenapa tiba-tiba lo nahan Ify? Gimana kalo Ify jadi ilfeel sama lo? Enggak ... enggak .. Rio enggak boleh berhenti. Ini adalah kesempatan yang paling pas. Ya ... kesempatan ini -mungkin- gak akan datang dua kali!

"kayaknya buku-buku itu berat deh Fy, gimana kalo gue aja yang bawain?", lanjut Rio

Ify tersenyum, manis sekali. Kini buku-buku itu beralih ke atas tangan Rio. Mereka berdua sama-sama berjalan keluar perpustakaan, lalu menuju ke ruang musik. Tempat Ify dan teman-temannya akan berlatih musik dengan panduan buku-buku tadi.

***

Bukannya menghabiskan somaynya yang sisa satu piring, Alvin malah sibuk mendengarkan percakapan Duto dengan telepon yang menempel di telinganya.

"jadi lo semua udah siap?"

"oh, oke. Iya di depan sekolah gue, di sekolah seberang tepatnya"

"sip man, jangan telat ya. Jam tiga sore pulang sekolah, elo udah harus stand by disana"

Begitulah ucapan Duto dengan sambungan telepon yang terdengar sedikit samar oleh telinganya.

"woy bro! Elo kenapa? Kok somaynya gak diabisin?", tanya Cakka

"hah? Eum enggak kok, gue kenyang bro! Ke kelas yuk", sahut Alvin yang bergegas pergi

"tapi bro, sayang kan somaynya"

"abisin sendirilah, thanks ya", seru Alvin dari kejauhan

Alvin berjalan menyusuri koridor sekolah, entah kenapa percakapan Duto tadi terus terngiang-ngiang di pikirannya. 'apa ini ada hubungannya sama sekolah? Oh ya, jangan-jangan mereka mau tawuran sama anak seberang. Ah gak, enggak boleh pokoknya. Hal itu gak boleh terjadi', gumam Alvin. Ia terus berjalan. Melewati beberapa ruangan, termasuk ruang musik. Tanpa menyadarinya ada suatu topik penting yang terjadi disana.

"itu lagu barunya, Ni?", tanya Shilla pada Agni yang sedari tadi memetik gitarnya

"iya. Gue yang bikin aransemennya, kalo lirik mah jurusannya si Ify", sahut Agni yang menghentikan kesibukannya

"buy the way, sorry yah Shill. Kemaren gue gak pulang bareng sama lo, ya elo tau sendiri gimana si Ozy", lanjut Agni

"no problem kok Ni, lagian juga kemarin gue dianter Cakka kok"

"Cakka? Dia nganterin lo?", wajah Agni memancarkan rona yang berbeda

"iya. Tapi untung banget Cakka nganter gue, karna gue bisa lebih cepet ketemu sama kak Iyel"

"kak Iyel?"

"itu lho, tetangga gue yang sering gue ceritain. Kak Iyel yang kuliah di Singapore, inget kan?", Agni mengangguk

"gue tuh suka sama dia, suka banget malah. Eh iya, elo kan temennya Cakka tuh. Tolong bilangin dia ya, kalo gue mau bilang thanks sama dia"

Agni memandang Shilla dengan tatapan tajam, entah apa yang ia rasakan sekarang.

"Ni, elo kenapa kok ngeliat gue nya gitu banget?"

"hah? Eum, gue gue ... ", Agni memutuskan ucapannya saat pintu ruang musik terbuka

"hai Shill, hai Ni!", sapa Ify yang datang bersama setumpuk buku yang nyaris menutupi wajahnya

"lagi pada ngomong apaan sih? Serius banget kayaknya", curiga Ify

"enggak kok Fy, bukan apa-apa. Eum Fy, elo udah bikin lirik buat lagu kita kan?", sahut Agni

"oh iya, tunggu bentar ya. Biar gue ambil", Ify melangkah dan menjauhi mereka

"yang tadi gak usah dipikirin ya Shill, sorry kalo udah buat lo gak nyaman", sela Agni pada Shilla yang dari tadi tak bersua

Shilla tersenyum dan mengangguk meng-iyakan

***

Alvin berdiri tegap sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Pukul 15.00. Tapi tak ada sedikit tanda keributan disana Sekolah Luar Biasa. Begitulah tulisan pada gapura sekolah bercat terang itu. Sedikit aneh memang, kalau berpikir Duto dkk akan mengadakan tawuran dengan Sekolah Luar Biasa. Bosan menunggu, Alvin mengembalikan badannya lalu melangkah pergi.

"tolong..!", teriak seseorang dari kejauhan

Alvin berhenti sejenak, namun tidak ada sesuatu pun disana. Mobil yang lalu lalang pun, jarang terlihat. Akhirnya, langkah kaki lah yang dipilihnya.

"tolong! Tolongin gue"

"diem!", gertak seorang laki-laki

Dengan sigap, Alvin berbalik lalu berlari secepat mungkin. Sampai akhirnya ia terhenti saat menatap seorang gadis kursi roda yang sedang dikerumuni dua orang laki-laki yang seusia dengannya.

"berhenti lo semua!", seru Alvin mendekat

"jauhin tuh cewek, atau ... ", Alvin mengepal erat tangannya

Bukannya menyahut, dua lelaki yang masih memakai seragam sekolah itu malah saling tatap dengan raut kebingungan di wajah mereka.

"elo? Mau lawan kita?", sahut salah satu dari mereka - akhirnya-

"iya, kenapa emang? Takut kan lo berdua?"

BUGG!! Alvin terhempas dengan mudahnya. Dua orang tadi telah memukul perutnya bersamaan. Tak menyerah, ia bangkit lalu meninju pipi mereka. Dan akhirnya, satu dari mereka dapat ditumbangkan. Kesal akan kekalahan, si lelaki yang lain malah menarik kerah seragam Alvin.

"gue gak tau elo siapa, tapi inget satu hal ... gue gak akan kalah!", ia memukul keras kepala Alvin

"tapi satu hal harus elo inget ... jangan pernah ganggu pacar gue!", teriak Alvin tepat di telinga lelaki tadi

Sivia -gadis tadi- yang hanya menjadi penonton, kini membelalakan matanya. Pacar? Bagaimana mungkin dia menyebut Sivia pacar, padahal mereka belum pernah saling mengenal! Berbeda dengan Sivia, Sion -lelaki tadi- malah mengendurkan bahkan melepaskan tarikannya. Pacar? Tapi kenapa dia? Bukan Duto? Orang yang menyuruhnya untuk melakukan hal tadi.

Keadaan hening sesaat. Sivia dan Sion yang sibuk mencerna kata-kata Alvin. Sedangkan Alvin sendiri, ia masih terus memegang kepalanya. Sakit. Itulah yang ia rasa, atau mungkin lebih dari itu.

"argh ... ", Alvin terjatuh ke aspal jalan yang sepi itu

"Alvin", teriak Sivia yang berusaha untuk berdiri

"Alvin!", teriakkan itu terdengar semakin lirih

"Alvin", Sivia berlari

Perlahan, ia mengangkat kepala Alvin. Darah. Zat cair itulah yang mengalir deras dari hidung Alvin.

"lepasin gue", desah Alvin setengah sadar

"please lepasin gue", pinta Alvin lagi

Usai terlepas, ia berusaha untuk berdiri lalu berlari meninggalkan mereka. Tak tega, Sivia turut berlari mengejar Alvin. Namun, ...

"Vi, tunggu", seseorang menggapai lengan Sivia

"Vi, aku tau aku salah. Aku tau itu. Tapi aku lakuin ini semua tuh buat kamu, Vi. Cuma buat kamu", lanjutnya

"apa mau lo?", tanya Sivia tanpa berbalik

"aku mau kita baikkan, Vi. Aku mau kita bareng-bareng lagi, kayak dulu. Layaknya sepasang kekasih"

PRAKK!! Sivia menamparnya keras. Rasa yang semula kesal berubah menjadi kekecewaan yang luar biasa.

"lo jahat! Bodoh, pengecut.. kita ... putus!", Sivia melepas tangannya kasar lalu berlari begitu saja

Duto terdiam. Bodoh. Sivia benar, dia pantas mendapat gelar bodoh itu. Ia bodoh, karena telah melakukan cara ini untuk kali yang kedua.

#FlashBackOn#

"gue mau, dia jadi pacar gue", ujar Duto yang masih mengenakan seragam putih-biru itu pada dua teman sebayanya

"ya, kalo elo mau kita bisa bantu bro", sahut Dayat

"bantu?"

"iya, bantu lo buat wujudin harapan lo itu", jawab Sion

"caranya?"

"pulang sekolah nanti, gue sama Dayat gangguin tuh cewek. Nah, abis itu elo dateng dan selametin dia"

"terus elo deketin dia, sampe akhirnya elo nembak dia", timpal Dayat

"lo berdua yakin?"

"ya ... ", sahut Sion dan Dayat bersamaan

Hal itu dilakukan dengan baik, tak ada cela sedikit pun disana. Latar belakang Sion dan Dayat yang merupakan jago berantem itulah yang menjadi penambah keberhasilan mereka saat itu.

#FlashBackOff#

"salah timing, bro", ujar Dayat yang kondisinya membaik

"gue balik ya, thanks buat kerja keras lo berdua. Ini salah gue, kalian gak usah ngerasa bersalah apalagi minta maaf. Seharusnya gue cari cara lain, bukannya milih cara basi ini", jelas Duto

"tapi ... ", Sion menahan ucapannya

"thanks Day, thanks Yon. Kalian sobat gue", Duto menepuk kedua punggung sahabatnya lalu meninggalkan mereka

Persahabatan itu mereka jalani bersama, persahabatan itu juga yang menyadari mereka kalau mereka berarti. Duto, Sion, dan Dayat. Hal manis yang bernama persahabatan telah merengkuh mereka sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang kemudian terus berlanjut hingga masa putih-biru. Namun sayang, hal itu merenggang saat putih-abu abu menjadi benteng tinggi diantara mereka. Duto dipaksa untuk sekolah di SMA yang sama dengan saudaranya. Berbeda dengan dua sobatnya yang memilih sekolah tehnik.

***

Sudah hampir satu jam gadis berambut sebahu itu menunggu di depan kamar mandi SMA Jakarta. Alasannya hanya satu. Yakni berterima kasih pada sosok pahlawan yang sedari tadi mengurung diri dalam kamar kecil itu, entah untuk apa. Alvin? Nama itu terasa telah tertanam jelas dalam memori Sivia, semenjak kejadian di rumah sakit lalu. 'Darah tadi pasti karena penyakitnya kambuh. Dia ke kamar mandi, pasti karena malu sama gue. Tapi dia kanker apa? stadium berapa?', pikirnya.

CKLEEKK ... pintu kamar mandi terbuka. Alvin keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Darah yang semula memenuhi wajah, hilang begitu saja dalam balutan wajah putihnya. Walau memang, baju yang ia kenakan jauh lebih lusuh dibanding sebelumnya.

"elo? Elo ngapain disini?", bingung Alvin

"gue kesini, karna mau bilang makasih sama lo. Makasih karena tadi lo udah mau nolongin gue", Sivia mengulurkan tangannya

"cuma itu?", Alvin menghiraukan uluran itu

"kenapa? Eum, sorry banget yah. Gue sekarang lagi gak bawa uang. Oh ya, kalo lo mau gue bisa ... "

"bukan! Maksud gue bukan pamrih", potong Alvin

"tapi kaki lo tuh!", lanjut Alvin pada Sivia yang tengah berdiri di hadapannya

"ma ma maksud lo? Gue? Aaaaaaaaarghhhh!!!", tak sadar Sivia memeluk Alvin erat

"makasih, makasih banget! Aargh, gue gak nyangka. Akhirnya, setelah nunggu seumur hidup ... gue bisa jalan! Thanks", ujar Sivia dalam pelukannya

"oke .. oke .. eum, gue rasa terimakasihnya udah cukup deh", Alvin berusaha melepas dekapan gadis itu.

"hah?", Sivia mengernyitkan keningnya

"oups sorry", lanjut Sivia sambil melepas pelukannya

"eum, tadi lo manggil nama gue kan? Elo tau darimana nama gue Alvin?"

"Oh itu. Kan kita pernah ketemu, di rumah sakit waktu itu"

"nama lo siapa?"

"gue Sivia"

"yaudah. Sivia, gue balik duluan yah", ujar Alvin meninggalkan Sivia

Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik ...

"tunggu!", ujar Sivia sambil berlari kecil mengejar Alvin

"apa?"

"eum, gue boleh ikut pulang bareng lo gak?"

"boleh aja"

"oh yaudah kalo gitu, mobil lo diparkir dimana?"

"mobil? Gue gak bawa mobil kali"

"motor? elo pasti naik motor ke sekolah dong?"

"aduh, elo ada-ada aja deh"

"kiri bang!", lanjut Alvin sambil melambaikan tangannya di hadapan taksi yang sedang melaju

"tak ... taksi? Elo ... ", ucap Sivia tak percaya

"iyalah. Ayo, katanya mau bareng", ajak Alvin yang kemudian masuk ke dalam taksi yang disusul oleh Sivia

Wajahnya masih memasang tampang bingung tak karuan. Mana mungkin cowok keren, kece, dan keliatannya tajir itu gak naik mobil atau motornya? Naik taksi? Kenapa gak angkot kayak cowok lainnya? Tapi lepas dari itu, ada beberapa hal tentang Alvin yang masih membuatnya penasaran. Termasuk dengan Alvin yang masuk kamar mandi dalam kondisi pucat dan berlumuran darah, namun keluar dengan tingkah yang menunjukkan kalau ia sangat sehat.

"waktu itu, pas kita ketemu untuk pertama kalinya. Gue liat elo masuk ruang kemo, elo sakit kanker kan? Stadium berapa?", tanya Sivia yang membuat Alvin menatapnya tajam

"maksud lo?"

"sorry sebelumnya, tapi gue tuh udah kepo banget sama kehidupan lo"

"gue sakit atau sehat, bukan masalah elo kan? Jadi, berhenti buat kepoin gue!"

"stop pak! Vi, ini ongkosnya. Kalo kurang elo bayar sendiri", lanjut Alvin yang keluar dari taksi

‘aaarrgghh … kenapa gue bisa bisa bilang kayak gitu? Ish, sejak kapan gue jadi kepo-pers nya dia sih? Huaaa … ‘, rutuk Sivia

TO BE CONTINUED


gimana gimana?? jelek yaakk?? kalian bingung yah sama cerita ini?? ceritanya ngecewain yaaaa?? huaaaa :D
naahhh ALVIA udah ketemu nooohh.. *bangga* gimana pendapat kalian??? aneh yaaaa??

FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D


See You On Next Part

go go follow: @brendafiona_

mention for follback

Thanks For Read :)

Tidak ada komentar: