#AlvinPOV
Hari hari yang kita lalui bersama, membuatku enggan meninggalkanmu.
Walau aku tau jiwaku tak akan bertahan dalam ragaku.
Aku sudah berusaha untuk melepasmu, tapi apa daya aku sangatlah tak mampu.
Aku terlalu lemah dan terlalu bodoh untuk bersamamu.
Tapi inilah harapanku, mencintaimu sampai akhir nafasku.
#AuthorPOV
namaku cinta..
disaat kita bersama..
berbagi rasa untuk selamanya..
Hamparan pasir putih nan lembut serta desiran ombak menjadi suasana yang menemani mereka saat ini.
“ayo tebak, siapa aku?”ucap si lelaki sambil menutup mata si gadis dari belakang
“siapa lagi kalau bukan pangeran Alvin si pangeran sipit?”ucap si gadis pada lelaki yang bernama Alvin itu
“huh dasar putrid gembul”seru Alvin sambil mencubit pipi si gadis
“untukmu”lanjut Alvin sambil menyodorkan mawar putih dihadapan si gadis
Si gadis tak bergeming, pandangannya masih terpaku pada mawar putih yang ada di hadapannya.
“untukku?”bingung si gadis
“iya. Untukmu Sivia sang putrid gembul!”seru Alvin pada gadis yang bernama Sivia itu
Sivia
mengambil mawar putihnya. Lalu menujukan matanya pada sosok berparas
oriental itu. ALVIA. Mereka sudah menjalin kasih selama hampir setahun
belakangan ini. banyak peristiwa yang sudah mereka lewati bersama, yang
baik maupun yang buruk. Tapi itu sama sekali tak meredupkan cahaya kasih
ditengah mereka.
“jangan memandangku seperti itu. aku takut kau akan semakin tergila-gila padaku”PD Alvin
“Vin… kau memberiku mawar putih? Memangnya ada apa? Kok tumben sih?”ucap Sivia yang masih bingung
“kau ini bagaimana? Bulan depan kita akan genap satu tahun. Kau lupa?”
“ah iya, hampir saja aku lupa. Pantas saja kau sok romantis seperti ini, hehehe”ucap Sivia yang sudah tak bingung lagi(?)
“Vi…”
“ya?”
“sudah
hampir satu tahun ini kita bersama. Aku gak mau kehilangan kamu, Vi.
Aku gak mau kehilangan kasih yang udah kita tanam ini”
“aku juga Vin. Aku mau kita selalu bersama menghadapi semua ini”
Sivia
menyadarkan kepalanya dipundak Alvin. Langit berwarna oranye membuat
suasana semakin romantis, ditambah dengan tenggelamnya matahari
dihadapan mereka. Alvin mengambil tangan Sivia lalu menggenggamnya erat
dengan kedua tangannya, membuat Sivia terbangun dan menatapnya. Tatapan
mereka saling menyatu, menandakan mereka adalah dua makhluk Tuhan yang
saling mencintai. Alvin mencium hangat kening Sivia, dan Sivia
memejamkan matanya saat hal itu terjadi.
“Via.. aku mencintaimu”ucap Alvin dengan senyum manisnya
“ya.. aku pun juga mencintaimu Alvin”ucap Sivia membuka matanya dengan senyuman yang tak kalah manis dari Alvin
@Sivia’s Home
“ma.. pa.. Via sekolah dulu yaa”seru Siviia sambil membuka pintu rumahnya
Belum
sempat menggerakan kakinya keluar rumah, Sivia dikejutkan oleh
setangkai mawar yang ada dihadapan kakinya. Sivia menunduk lalu
mengambil mawar putih beserta dengan kartu putih berwarna merah muda
yang dililitkan pada tangkai mawar itu.
TO: PUTRI GEMBUL
AKU MENCINTAIMU
FROM: PANGERAN SIPIT
Sivia
tersenyum melihat kartu itu. Alvin benar-benar romantis, dia selalu ada
untuk Sivia. Itulah yang membuat Sivia semakin mencintai Alvin, dan tak
akan mau kehilangannya.
**************
Namaku cinta..
Disaat kita bersama..
Berbagi rasa sepanjang usia..
@MUSIC ROOM
Waktu
baru menunjukkan pukul 6 pagi, namun Alvin sudah berada disana demi
menunggu belahan jiwanya. Sepereti biasa, ia mulai menyentuh tuts putih
hitam itu, sampai akhirnya terdengar alunan nada-nada indah yang
terpadu.
“hei! Maaf aku telah membuatmu menungguku terlalu
lama”seru Sivia yang langsung duduk disebelah Alvin yang masih asyik
dengan permainan pianonya.
Alvin tak menjawab dan Sivia
pun nampak tak peduli dengan itu. Kini mereka melantunkan lagu klasik
karya Beethoven (emang ada yaa *abaikan) melalui piano itu bersama.
Inilah kebiasaan ALVIA setiap pagi, memainkan piano berwarna hitam
mengkilat itu bersama. Awalnya memang tak mudah, sampai akhirnya mereka
benar-benar bisa dan terbiasa.
Lagu telah selesai
dilantunkan, kini ALVIA saling bertatapan dengan senyum yang mengembang
diwajah mereka. Belum sempat terucap suatu kata. Bel masuk sekolah
langsung berbunyi, menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera
dimulai.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
@Kelas Sivia
“hai Shill”sapa Sivia pada teman sebangkunya
“cie… kenapa tuh? Senyum-senyum aja?”
“hehe… biasalah main piano bareng Alvin”
“ckckck,
gw kadang iri deh kalo liat elo berdua. Kalian tuh romantis banget,
udah gitu kalian mau anniv ke satu tahun di bulan depan lagi”
“bisa aja elo, Shill”
“ih,
emang kenyataannya gitu lagi Vi. Coba elo merenung dan rasain gimana
hubungan elo sama Alvin? Sempurna bukan? Bahkan takdir pun gak rela buat
pisahin elo berdua”
Percakapan mereka saat itu terhenti seketika saat seorang guru memasuki kelas mereka.
@Tempat Parkir
“hari ini kita mau kemana Vin?”sapa Sivia sambil duduk di boncengan(?) motor Alvin
“mmm… gimana kalau nonton fil dirumah Iyel?”
“film? Sip deh! Ayo”sahut Sivia
Setelah
memakai helm, Alvin melajukan motornya ke rumah Iyel. Alvin dan Iyel
serumah semenjak ibu Alvin menikah dengan pria lain. Jadi dua tahun yang
lalu, ayah Alvin meninggal dunia. Sampai satu tahun yang lalu ibu Alvin
menikah dengan pria lain yang juga memiliki seorang anak. Hal itu tak
disukai Alvin, makanya Alvin memutuskan untuk meninggalkan rumahnya lalu
tinggal dirumah Iyel –sepupunya-.
@Iyel’s Home
“cie! Ada orang pacaran nih!”seru Iyel yang baru pulang
“eh, elo Yel. Sini ikut gabung”sahut Sivia
“ogah! Nanti dia malah ngamuk sama gw lagi!”lirik Iyel kea rah Alvin yang sibuk memilih kaset film
SIVIEL
udah saling kenal. Malah mereka sudah lama bersahabat. SIVIEL satu
kelas sejak mereka duduk dikelas X sampai kelas XII –saat ini-. tapi itu
bukan masalah untuk Alvin. Toh Alvin tau siapa yang Iyel sukai, yakni
Shilla teman dekat Sivia.
“kita nonton ini aja yuk,
Vi”ucap Alvin sambil menunjukkan kaset film karun dihadapan Sivia sesaat
setelah Iyel pergi dari ruang tamu –tempat mereka berdua nonton-
“bosanlah kalau kita nonton film-film romantis! Sekali-kali kartun, gak papa kan?”Tanya Alvin
Dengan
yakin Sivia mengangguk. Film itu berjudul ‘UP’ (udah pada tau kan
filmnya kayak gimana). Alvin mendudukan dirinya tepat disebelah Sivia
sambil bersandar pada sofa yang ada dibelakang mereka. Filmpun segera
dimulai.
Persepsi mereka tentang film kartun yang tidak
romantis itu segera mereka tepis saat mereka menyaksikan suatu adegan.
Yakni saat seorang gadis yang hidup bersama dengan seorang lelaki saat
mereka masih kecil sampai mereka beranjak tua. Bahkan sampai maut
memisahkan mereka.
Tak sadar, Alvin merebahkan kepalanya
tepat dibahu Sivia. Sivia tertegun melirik kea rah Alvin yang ternyata
sedang pulas dengan tidurnya.
“payah, kau yang mengajakku, tapi malah kau yang tak menontonnya?”desah Sivia pelan
Perlahan
Sivia memegang kepala Alvin yang masih ada dibahunya, lalu menaruh itu
diatas pangkuannya. Wajah putih yang berhias kesempurnaan melekat
didalam sana, membuatnya tak ingin kehilangan wajah itu dari hatinya.
Kini konsentrasi Sivia terbagi. Antara menonton film itu hingga selesai
atau menatap wajah yang ada dalam pangkuannya.
SELESAI
Tulisan itu muncul dilayar bening yang ia tatap sedari tadi. Lembut ia rasakan Alvin mulai beranjak dari pangkuannya.
“maaf aku ketiduran”ucap Alvin sambil mengucek-ngucek(?) matanya
Sivia hanya dapat menyahut dengan senyumannya
“eeemm, bagaimana akhirnya?”ucap Alvin lagi
“akhirnya,
sang kakek dapat mewujudkan keinginan sang nenek yang ingin membawa
rumah itu sesuai dengan lukisan yang pernah ia lukis semasa
mudanya”jelas Sivia
Alvin mengangguk pelan
“emm, udah sore. Meu aku antar pulang?”
“oke”
@Sivia’s Home
“makasih ya, Vin”ucap Sivia saat motor Alvin tiba didepan rumahnya
“Vi…..”seru Alvin saat Sivia melangkah masuk dan meninggalkannya
“iya?”sahut Sivia sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alvin yang jaraknya cukup jauh darinya.
“aku mencintaimu”teriak Alvin
“ya, aku juga mencintaimu”sahut Sivia yang juga berteriak sambil mengacungkan kedua jempolnya
^^^^^^^^^^^^^^^^^^
hingga tiba saatnya..
@kamar Alvin
“Vin! Elo gak boleh kayak gini!”bentak Iyel saat Alvin melempar map coklat diatas ranjangnya
“gw bingung Yel, ini satu-satunya cara. Gak ada cara yang lebih baik dari ini”sahut Alvin lirih
“tapi itu gak mungkin, Vin”
“itu mungkin Yel! Elo Cuma hasru deketin Via dan buat dia lupa sama gw”
“gak
semudah itu Vin, ini sulit. Gw tau elo saudara sekaligus sahabat gw.
Tapi, gw gak bisa Vin”jelas Iyel langsung keluar dari kamar Alvin
Tubuh
Alvin lemas, dia duduk sambil tertunduk dipinggir ranjangnya. Sesekali
ia memandang map coklat yang ia dapat pagi ini,setelah melakukan
pemeriksaan di rumah sakit. Sudah satu tahun belakangan ini Alvin
menderita leukemia, penyakit turunan dari ayahnya. Dan penyakit itu juga
yang menyebabkan ayahnya meninggal.
“dokter bullshit!”umpat Alvin sambil melempar map coklat yang sudah ia remukkan
Alvin
sering melakukan pemeriksaan rutin selama sabulan sekali, tapi baru
kali ini ia merasa kalau dirinya sakit parah. Dokter memvonis kalau
Alvin tak akan bertahan lama, leukimianya sudah menginjak tahap yang
terakhir. Hal ini lantas membuat Alvin bingung tentang apa yang harus ia
lakukan, terutama yang akan ia lakukan pada Sivia yang akan merayakan
annive satu tahun dengannya. Makanya ia menyuruh Iyel untuk mendekati
Sivia dan membuat Sivia lupa akan dirinya. Namun Iyel menolak karena dia
menyukai Shilla, karena dia tak mungkin mengambil pacar saudara
sekaligus sahabatnya sendiri, karena.. karena.. karena (lho kok
karenanya jadi banyak gini? *abaikan)
Tak ingin
berlama-lama dengan kegelisahannya, Alvin berdiri dan memutuskan untuk
mengundurkan diri dari sekolahnya. Padahal dia sudah kelas XII yang akan
lulus tahun ini. Namun karena tak mau membuat gadisnya kecewa atas
kepergiannya kelak, Alvin rela melakukan hal bodoh itu.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
aku pun melihat..
cintaku yang khianat..
cintaku berkhianat..
@ALNH Cafe
#Praakkk
“jahat elo Vin! Tega elo lakuin hal ini dibelakang gw?”bentak Sivia sambil menampar pipi Alvin
Disana, Alvin sedang bersama Ify –saudara tirinya-. Namun tiba-tiba Sivia datang dengan kesalahpahamannya.
“tapi, ini…”ucap Ify terbata-bata
“ini bukan urusan elo, Fy. Ini urusan gw sama Via”potong Alvin
Sivia terdiam sambil menatap kecewa Alvin. Dia paling tak suka dikhianati seperti ini.
“gw
suka sama Ify, dan kita udah resmi pacaran seminggu yang lalu. Jadi gw
mohon elo jauhin gw, karna gw mau buka lembaran baru bersama Ify”bohong
Alvin
#Praaakkk
Lagi-lagi tangan Sivia mendarat di pipi Alvin. Kesalnya sudah membludak, Sivia berlari keluar Café dengan arah yang tak tentu.
Sementara itu, Ify masih bingung dengan sikap Alvin.
“elo baik-baik aja kan Vin?”
Alvin diam, dia masih tak percaya atas apa yang ia lakukan pada Sivia tadi.
“dia itu cewek elo?”Tanya Ify lagi
Alvin mengangguk pelan.
“kalo dia cewek elo. Kenapa elo ngelakuin semua tadi, Vin?”kesal Ify
Alvin
menghela nafas dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya. Alvin memang
tak menyukai ibunya bersama pria itu. Tapi hal itu tak berpengaruh pada
persahabatan Alvin dan Ify yang sudah terjalin sejak kecil, walau Ify
adalah anak dari pria itu.
Sivia terus berlari dan berlari tak tentu arah. Samapi akhirnya ia menabrak seseorang.
“lho Via? Elo kenapa?”Tanya orang itu
Dengan cepat Sivia mendekap tubuh orang itu. dan menyandarka kepalanya tepat didada orang itu, sambil menangis hebat.
“gw
benci Alvin, Yel! Gw benci dia! Dia udah berkhianat sama cewek lain! Gw
benci, gw benci dia!”lirih Sivia pada orang yang bernama Iyel itu
Iyel mereratkan pelukannya, membuat Sivia enggan melepasnya.
“lupakan dia Vi! Mungkin dia udah berubah. Mungkin di bukan Alvin yang dulu lagi!”ucap Iyel
Sivia
menceritakan semuanya pada Iyel dan Iyelpun kembali teringat akan
perkataan Alvin tentang membuat Sivia lupa akan dirinya. Dan setelah
beragumen dengan dirinya sendiri, Iyel memutuskan untuk bersedia
melakukan kemauan Alvin itu.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
menepi.. menepilah...
Beberapa
hari sudah terlewati, kondisi Alvin semakin menurun.Leukimia
benar-benar membuatnya hancur. Apa lagi ditambah dengan kedekatan
SIVIEL. Rencananya itu membuat Alvin semakin hancur dan tak rela melihat
gadisnya bersama lelaki lain, walaupun itu Iyel.
Sivia
menduduki dirinya di taman sendirian. Tidak ada Alvin, Iyel, atau Shilla
yang menemaninya saat ini. Dia termenung akan kisahnya dengan Alvin
yang semakin hancur. Renungan Sivia berakhir saat 7 anak kecil
mengelilingi bangku taman yang ia duduki sambil masing-masing memegang 1
tangkai mawar putih.
Secara bergantian, ke 7 anak kecil
itu memberi mawar putihnya pada Sivia. Lalu kembali meninggalkan Sivia
dalam kehampaannya. Dimasing-masing tangkai terdapat kartu yang
sama-sama berwarna merah muda dengan tulisan yang sama.
“AKU MENCINTAIMU”
Sivia menatap kecewa semua itu.
“Alvin!
Keluar elo! Jangan jadi pengecut, Alvin! Gw benci sama elo, gw benci
Alvin!”teriak Sivia karena tak berhasil menemukan orang yang memberi dia
mawar putih.
Alvin yang melakukan hal itu hanya dapat memandangn Sivia dari jauh
“maafin aku Vi, aku tak pantas lagi untuk menerima balasan cintamu. Aku mencintaimu Sivia”desah Alvin dalam hatinya
^^^^^^^^^^^^^^^^^
menjauh..
semua yang terjadi..
antara kita..
“Shilla..
tunggu Shill! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu! Kasih aku kesempatan
Shill!”ucap Iyel sambil terus mengejar-ngejar Shilla di koridor sekolah
“kita
gak ada hubungan apa-apa Yel! Gak ada yang perlu dipermasalahin!
Terserah kalau kamu mau deket sama Via atau cewek lain! Itu bukan urusan
aku!”kesal Shilla sambil menghentikan langkahnya
Karena merasa sangat kecewa, Shilla kembali melanjutkan langkahnya sampai…
“karena
aku mencintaimu, Shilla. Karena aku tak ingin kamu pergi dan karena aku
ingin memilikimu”sahut Iyel menahan lengan Shilla
Mereka memang belum resmi berpacaran. Tapi kalau dilihat dari tatapan mereka, mereka terlihat saling mengagumi dan mencintai.
“tapi, kenapa kamu melakukan semua ini ke aku?”ucap Shilla lembut
Akhirnya,
Iyel menceritakan semua rencana Alvin tentang Sivia. Termasuk Alvin
yang berpura-pura berselingkuh dengan Ify –saudara tirinya-. Syukurlah
Shilla dapat mempercayai Iyel sepenuhnya.
“jadi, kau mau membantu?”Tanya Iyel
“emm, baiklah. Demi ALVIA!”seru Shilla
@Sivia’s Home
“udahlah Vi, lupakan Alvin. Dia udah khianatin elo Vi”seru Shilla pada Sivia yang menatap kosong kotak merah muda miliknya
“gw gak bisa Shill, Alvin terlanjur melekat dihati gw”seru Sivia yang kali ini menutup rapat kotak itu
“tapi, Vi…”
Shilla menghentikan saat ia melihat aliran air mulai menetes dari mata Sivia.
“sebanyak apapun alasan gw untuk membenci Alvin, gw gak bakal mampu untuk lupa atau benci sama dia”
“gw tau Vi, gw tau itu”sahut Shilla sambil memeluk erat sahabatnya
Kini
mereka menangis bersama. Sivia karena Alvin, dan Shilla karena hubungan
ALVIA. Tak lama kemudian Sivia terlelap dalam pelukan Shilla, dia pasti
sangat lelah dengan semua kenyataan ini. Perlahan Shilla mengangkat
tubuh sahabatnya dengan dibantu Iyel. Iyel juga ada disana, untuk
menemani Shilla kesana. Dan Sivia terlelap di ranjangnya.
“itu semua kenangan mereka”ucap Shilla menatap kotak merah muda itu
“mereka pasangan yang hebat”sahut Iyel mendekati Shilla dan memegang tangan Shilla
Shilla menoleh dan menatap Iyel lembut
“aku
takut Yel, aku takut takdir akan memisahkan mereka. Aku takut Alvin
akan benar-benar meninggalkan Via”lirih Shilla dalam dekapan Iyel
Iyel tersenyum dan mengelus lembut rambut Shilla
“semua akan baik-baik saja. Jangan takut, mereka dan kita pasti bisa melewati semua ini”sahut lembut Iyel
Keesokkan
harinya Sivia kembali ke sekolah, setelah kemarin ia tak masuk karena
sakit. Pukul baru menunjukkan pukul 6 pagi, tapi Sivia sudah memasuki
ruangan musik yang sepi. Dilihatnya setangkai mawar putih diatas piano
hitam mengkilat yang biasa ia mainkan bersama Alvin. Lagi-lagi ia
menatap lirih mawar itu, membuatnya semakin mencintai Alvin. Mawar itu
masih dililitkan dengan kartu merah muda, jadi warna muda adalah warna
yang melambangkan hubungan mereka. Yakni hubungan kasih sayang diantara
mereka.
Sepulang sekolah, Sivia melangkahkan kaki menuju
pantai sendirian. Mendudukan dirinya dihadapan matahari yang akan
tenggelam. Diluruskannya pandangannya kedepan, tidak ada Alvin atau
mawarnya disana. Sampai akhirnya, ia menoleh ke sebelah kanannya dan…
ada mawar putih bersama kartu merah mudanya disana. Isi kartu itu sama
dengan kartu yang ia dapat diruang musik tadi.. yakni
‘AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU’
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
aku terjatuh..
dan tak bisa bangkit lagi..
aku tenggelam..
dalam lautan luka dalam..
aku tersesat..
dan tak tau arah jalan pulang..
“huh, udah ya Vi larinya. Bisa tepar nih gw!”ucap Iyel
“yah, payah elo Yel. Masa baru segitu aja udah capek?”sahut Sivia
Di
pagi hari libur ini, SIVIEL lari pagi. Iyel tiba-tiba berhenti dan
duduk di DPR –di bawah pohon rindang-. Sivia hanya dapat pasrah dengan
tingkah sahabatnya itu.
“aduh Vi, perut gw keram nih”erang Iyel pada Sivia
“hah? Keram? Kok bisa?”Tanya Sivia bertubi-tubi
“aduh
nanyanya jangan banyak-banyak dong. Sakit nih, eemm mending elo kerumah
sakit itu deh! Buat beli obat sakit perut”suruh Iyel sambil menunjukan
rumah sakit yang tak jauh dari mereka.
Terpaksa Sivia
menuruti Iyel, yang sepertinya sudah direncanakan terlebih dahulu.
Dibelinya obat sakit perut itu di apotek rumah sakit itu.
“lho… dia?”desah Sivia saat Ify melintas dihadapannya
Perlahan
Sivia mengikuti Ify dari belakang. Sampai akhirnya, Ify masuk ke dalam
kamar rawat dan menutup pintu kamar itu. Sivia memandang hampa pintu
yang tertutup rapat itu. Ia ingin pergi dan menuruti pikirannya yang
mengatakan:”pergilaj, Vi! Apa urusanmu dengan perempuan itu?”. Namun ada
sesuatu yang membisikan hati Sivia untuk bertahan disini.
#KLEEK
Suara
ointu itu terbuka, bagai kilat Sivia menyembunyikan dirinya. Sesaat
setelah Ify pergi, Sivia masih terpaku memandang pintu yang Ify biarkan
terbuka begitu saja. Perlahan ia melangkah masuk. Dan….
“Alvin…”batin Sivia
Alvin berada didalam kamar itu. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus, dan wajahnya jauh lebih pucat dari biasanya.
“Sivia?”desah Alvin lemah
Alvin
terbaring diranjang polos, ditemani dengan selang infuse yang bersarang
di punggung tangannya. Ya, ini adalah rencana Iyel dan Ify serta Shilla
untuk kembali mempertemukan ALVIA kembali dan menyelesaikan rencana
mereka. Sivia terus mendekat, tatapannya kini menusuk Alvin. Membuat
Alvin tertunduk meratapi hubungannya dengan gadisnya itu.
“kau jahat, Alvin”ucap Sivia membangkitkan kepala Alvin
“Via”sahut Alvin lemah
“kau jahat. Kau jahat karena telah membuatku jahat padamu”lirih Sivia
Alvin merengkuh tangan Sivia yang berada didekatnya, lalu menaruh itu tepat didadanya.
“maafkan aku”ujar Alvin
“kau tak salah Vin, aku yang salah. Aku tak bisa memahamimu. Aku terlalu egois. Maafkan aku Alvin”ucap Sivia bertubi-tubi
“cukup Vi, hentikan itu”lirih Alvin
Seiring
waktu berjalan, semua berubah menjadi lebih baik. Seperti hubungan
ALVIA dan SHIEL. Selain itu, kini Sivia juga sudah mengetahui semua
tentang Alvin (jadi, dulu Alvin merahasiakan kehidupan pribadinya dari
Sivia) –termasuk soal Ify-. Namun dibalik semua itu, ada satu hal yang
mereka takuti. Yakni Alvin. Semakin hari, kondisinya semakin menurun.
Apalagi sekarang Alvin tak mau dirawat di rumah sakit lagi, alasannya
karena ia ingin menikmati sisa-sisa harinya didunia ini. Saat ditanya
soal kemoterapi, Alvin pasti akan langsung menolak itu, karena ia tak
mau kehilangan rambut hitamnya saat kepergiannya nanti. Tak hanya itu,
Alvin juga memutuskan untuk meninggalkan rumah Iyel dan tinggal kembali
bersama ibunya yang berada tak jauh dari pantai. Dia benar-benar
memperbaiki semua kesalahannya, sebelum Tuhan mengambil nafasnya.
Seperti meminta maaf pada ibu serta ayah tirinya dan Ify atas sikapnya
yang menolak keras hubungan mereka. Alvin sadar, kalau seorang manusia
memang tak bisa hidup tanpa seorang pendamping disisinya. Seperti yang
pernah ia alami bersama Sivia dulu.
“Vin,”panggil Sivia halus pada Alvin yang terbaring ditempat tidurnya
“kau baik-baik saja?”lanjut Sivia
Alvin
mengangguk pelan, tubuhnya sangat sakit kali ini. Kepalanya sangat
berat dan tenggorokannya terasa perih. Sivia mendekat dan duduk
disebelah Alvin.
“ini, aku bawa sarapan bubur untukmu”ucap Sivia lalu menyuapi itu ke mulut Alvin
satu suap…
dua suap..
tiga suap..
Sampai
akhirnya, Alvin muntah. Bukan hanya memuntahkan bubur tadi, tapi juga
cairan berwar merah pekat. Dan tidak hanya itu, hidung Alvin pun sudah
penuh dengan aliran darah yang terus mengalir.
“Vin..”lirih Sivia
Alvin
terdiam. Kepalanya sangat pusing. Sakitnya kali ini benar-benar sakit
yang menyakitkan. Dengan air mata yang ditahan, Sivia membersihkan kasur
Alvin yang terkena muntah Alvin dan mengelap wajah Alvin yang terkena
bercak-bercak darah.
“Vi, maafkan aku”ucap Alvin merasa bersalah
“tenanglah, ini hal yang biasa”sahut Sivia
Tak
tahan dengan tangisnya, Sivia keluar dan menangis hebat diluar kamar
Alvin. SHIEL yang melihat itu pun semakin terenyuh akan takdir kedua
sahabatnya itu. Shilla dan Iyel menghampiri Sivia dan Alvin secara
terpisah(?), lalu memeluk mereka erat. Memaksa ALVIA berbagi rasa sakit
itu pada mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Hari ini tepat tanggal 15 Juni 2011. Hari dimana ALVIA genap satu tahun.
“happy annive, pangeran sipit”sapa Sivia pada Alvin yang baru terbangun
Alvin
tersenyum lalu mencoba untuk bangkit berdiri, dibantu dengan Iyel serta
ayah tirinya. Yap! Berhasil, kini Alvin sudah mantap berdiri tegak.
“kita jalan yuk”ajak Alvin
“enggak ah, kamu mandi dulu sana! Baru kita jalan”sahut Sivia
Alvin
tertawa kecil, begitu juga dengan semuanya. Hari ini adalah hari yang
special, makanya Alvin berusaha keras untuk bersenang-senang dengan
Sivia pada hari ini.
“ayo”ajak Sivia pada Alvin yang sudah rapih
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sivia
melajukan mobilnya. Ini pertama kalinya Sivia menyetir mobil dengan
Alvin yang berada disebelahnya. Kini mereka sibuk berfoto-foto di foto
box Mall Holic, selain itu mereka juga bermain di Noszta Zone.
“kau sudah capek?”Tanya Sivia pada Alvin yang memucat
“tidak. Ayo kita lanjut”sahut Alvin mantap
Mereka
pun melanjutkan kegiatan mereka. Monas, Dufan, Ragunan, dan semua
tempat rekreasi mereka kunjungi saat ini. Sampai akhirnya mereka
berhenti karena wajah Alvin yang bertambah pucat.
“wajah kamu pucat, badan kamu juga panas. Kita pulang aja yah. Kita liat sunsetnya di pantai aja”rayu Sivia
Alvin
mengangguk lemah. Tubuhnya benar-benar lemas saat ini, hingga hampir
saja ia terjatuh. Tapi syukurlah ada Sivia yang berada disebelahnya.
Perlahan tapi pasti, Sivia memopang tubuh Alvin sampai ditempat mobilnya
terparkir.
“apa aku berat?”Tanya Alvin yang merasa tak enak
“iya, kau sangat berat! Pokoknya besok, kau harus memberiku coklat yang banyak”sahut Sivia dengan polos
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Waktu
sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sisa satu jam lagi menjelang sunset.
Dengan tenaga yang tersisa, Alvin duduk disebelah Sivia sambil memandang
lurus ke hamparan air laut. Dibalik itu, ada SHIEL serta keluarga Alvin
lainnya yang mengawasi dari belakang.
“Vi, kau ingat kejadian satu tahun yang lalu ditempat ini?”Tanya Alvin
“iya,
aku ingat. Saat itu kau berlutut dihadapanku sambil memberi kotak merah
muda yang terdapat bunga serta coklat didalamnya kan?”sahut Sivia yang
berusaha untuk tidak takut akan kondisi Alvin
Kini, mata
mereka kembali terfokus pada matahari yang akan tenggelam. Dan usai
matahari tenggelam, terdengar dentuman demi dentuman petasan yang
menghiasi langit serta serpihan mawar putih yang berjatuhan. Ini adalah
punck dari perayaannya, suatu rencana yang dibuat Alvin dengan bantuan
yang lainnya untuk Sivia. ALVIA berdiri, seling menghadap, dan
bertatapan. Alvin mengulurkan mawar putih ditangan kanannya, tersenyum
hangat ke arah Sivia.
“kau tau? Ini adalah mawar putih
kedua belas yang telah kuberikan padamu, yang menandakan 12 bulan yang
telah kita lewati bersama”ucap Alvin perlahan
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
#Sivia POV
15 JUNI 2012
Seperti
biasa, hari ini aku melintasi benda putih halus itu bersama semilir
angin. Menatap jengkal demi jengkal kenanganku bersamanya. Dua tahun
yang lalu di tempat ini, adalah kenangan paling manis yang pernah aku
lalui bersama dengannya. Namun satu tahun yang lalu adalah kenangan
paling sulit untuk aku hadapi. Kau pergi begitu saja dalam dekapan
tubuhku. Shilla salah dan benar-benar salah soal takdir aku dan kau,
tanggapannya tentang takdir yang tak rela memisahkan kita benar-benar
salah. Takdir memang telah memisahkan kita. Walau begitu, aku tetap
yakin kalau hati kita akan selalu menyatu.
Alvin, kau
adalah yang terbaik. Makasih untuk semuanya, semua yang telah kau
berikan dan lakukan untukku. Kini aku akan menjalani hidupku, tanpamu
disisiku, tanpamu disampingku. Aku yakin aku bisa.. walaupun…
AKU TANPAMU BUTIRAN DEBU…
UDAAHH
deh.. gimana?? Seru gak?? Huh jellek plus ancur and pasaran banget kan
nih cerpen?? Yaudahlah gapapa, maklum ini cerpen pertama yang aku post
*hehe…
go go follow: @brendafiona_
just mention for follback :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar