HUUU!!
Suara para siswa terdengar seperti paduan suara sekolah. Tak disangka
pertengkaran sensasional tadi juga menyangkut pada sosok ketua OSIS
yang notabennya merupakan rival Duto, si tokoh utama tadi. Mereka
berlalu dan berusaha untuk memanfaatkan waktu yang tinggal sepuluh
menit lagi. Berbeda dengan Duto. Si waketos ini masih mematung, takut
kalau apa yang dikatakan sang rival ialah benar adanya. Mengingat
selama ini, dirinyalah yang selalu kalah dan menjadi pecundang.
"Duto", sapa seseorang dengan tangannya di pundak Duto
Bukannya menoleh dan menanggapi sapaan tadi, ia malah melangkah meninggalkan seseorang tadi.
***
Entah sudah berapa lama ia menunggu disini, menanti pintu itu terbuka lalu mendekap orang itu erat. Mau selama apa pun itu, ia harus tetap disini. Bukankah ini yang disebut sahabat? Sela beberapa saat, tangis dan desahan napas itu terhenti.
"Shill", panggilnya lemah yang baru keluar dari pintu kamar mandi
"Via", Shilla berlari mendekap sahabatnya
Cukup lama pelukan itu berlangsung. Shilla hadir disini bukan karena Sivia merupakan adik dari lelaki yang ia cintai, bukan karena Sivia murid baru yang butuh pelukan, melainkan karena perempuan itu adalah sahabatnya. Tak peduli sejak kecil atau baru beberapa detik yang lalu persahabatan itu terjalin, ia harus membantunya. Karena itulah arti sahabat yang sesungguhnya.
"gue gue sayang dia, Shill. Gue emang kecewa berat sama dia, tapi hati gue jelas-jelas masih suka sama dia. Gue nyesel, Shill. Kenapa tadi gue nampar dia", adu Sivia dalam isakannya
"tenang Vi, ini keputusan lo kan? Jadi lo harus jalanin ini, biarin Duto sendiri dan lo sendiri. Oke?", Shilla menenangkan dan nampaknya hal itu berhasil
Kini Sivia nampak lebih tenang, senyum yang tadi sempat lenyap telah kembali secara perlahan. Berbeda dengan Sivia, Duto masih terdiam dan menundukkan kepalannya dalam. Sepi. Begitulah yang selalu ia rasakan disini. "itu salah", dua kata yang Sivia ucapkan terasa begitu melayang memenuhi rongga pikirannya.
"argh", erang kecil Duto sambil memegang erat kepalanya
"ini", ujar seseorang yang sudah tak asing lagi untuknya
"kalo gak mau dikompresin, kompres sendiri aja", lanjutnya
"tinggalin gue", ujar Duto pelan
"Duto, mana mungkin gue tega ninggalin elo yang ancur banget gini"
"udah sini, gue yang kompres", ujarnya pada Duto
"gak usah, biar gue sendiri aja"
Orang itu memerhatikan Duto lekat, walau banyak orang lain yang memperbincangkannya. Sosok itu, dialah yang selalu mengalah untuknya. Menyayanginya dengan tulus. Itulah seorang Duto dimatanya. Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi mereka. Namun baru kali ini dirinya menghampiri dia, yang bahkan selalu ada untuknya. Kejam sekali orang itu.
"sakit yah?", tanyanya halus
"kok diem aja? Elo pusing? Atau elo sakit? Yaudah ayo kita ke UKS, eum jangan ... kita ke rumah sakit aja yuk", paniknya
"gue gak papa"
Meski singkat, tapi jawaban itu mampu untuk menyejukkan hatinya sejenak. Duto ... argh, kau tidak berubah.
"pergilah! Gue udah biasa sendiri", ujar Duto
"Duto, gue ... "
"Ify, kita gak boleh begini. Elo inget peraturan kita dulu kan? Waktu pertama kali kita sekolah disini?", Ify -orang itu- mengangguk
"kalo gitu, pergilah! Gue bisa sendiri", perintah Duto yang kali ini langsung ditanggapi Ify
Duto dan Ify. Mereka adalah saudara kembar! Tak banyak atau malah tak ada seorang pun dari teman-temannya yang tahu akan hal ini. Ify, si pianis hebat sekolah yang banyak menghabiskan waktunya di ruang musik bersama Agni dan Shilla adalah sosok yang berbanding terbalik dengan Duto, si waketos yang suka menyendiri dengan alasan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Duto tak punya sahabat di sekolah seperti Ify, ia bahkan selalu menghabiskan waktunya sendiri. Hal itu terjadi, bukan karena Duto yang anti sosial. Justru Duto adalah seseorang yang ramah dan memiliki banyak teman di luar sekolah. Semua itu bermula semenjak mereka yang tadinya sekolah terpisah saat SMP disatukan dalam SMA Jakarta. Saat itu, Duto menyuruh Ify untuk merahasiakan hubungan yang ada diantara mereka. Awalnya Ify sempat menolak, tapi hal itu sirnah ketika ia tau apa yang menjadi alasan Duto. Yakni "karena gue gak mau kita dibanding-bandingin disini, gue gak mau elo yang nyaris sempurna dibandingin sama gue. Cukup di rumah dan bokap aja yang bandingin kita, yang ngehina gue. Oke?"
Dan semenjak itulah Ify berusaha sekeras mungkin agar tidak ada yang tau atau pun curiga akan status saudara kembar diantara mereka.
***
"parah lo Vin, cara tadi itu bener-bener yang paling kacau", komen Rio akan kejadian tadi
"tau lo, bro. Emang siapa sih tuh cewek? Sampe elo pengen dapetin dia?", tanya Cakka
"elo gak serius kan, Vin?", Agni turut bertanya
Alvin berpikir sejenak sambil menatap sepiring somay yang telah ia makan tadi. Mereka semua memang benar! Walau Alvin merupakan rival Duto, tapi cara dia tadi sangatlah tidak terpuji. Apalagi hal itu hanya karena seorang Sivia, yang bahkan baru beberapa hari dikenal Alvin.
"gue gak tau", jawabnya -sangat- singkat
"maksud lo?", tanya mereka bebarengan
"gue gak tau apa yang gue rasain. Duto, entah kenapa gue pengen banget saingan sama dia. Gue mau ngerebut cewek yang bahkan sama sekali bukan tipe gue. Sivia, gue gak suka sama dia! Tapi tadi, argh ... gue gak tau!", jelas Alvin yang melahirkan tatapan bingung dari teman-temannya
"ah, ada-ada aja lo. Tapi cara lo itu tetep aja gak terpuji", Agni menyimpulkan
"iya, gue tau", celetuk Alvin
"eh Yo, kemaren elo kemana? Kok gak main basket bareng gue sama Alvin?", Cakka mengalihkan pembicaraan
"mau tau aja apa mau tau banget?"
"seriusan nih, Yo", timpal Agni
"oke oke, gue cerita!"
"jadi kemaren gue ke perpus, disana gue baca buku, ehem dongeng gitu. Abis itu, secara gak sengaja gue nabrak cewek. Ayo tebak? Dia Allysa, si pianis itu. Nah, terus ... ", lanjut Rio lalu mencoba mengingat apa yang terjadi setelahnya
#FlashBackOn#
Setelah beberapa menit kemudian, sampailah mereka di depan ruang musik yang kelihatan jauh lebih ramai dari biasanya.
"thanks ya, Yo", ujar Ify yang mulai mengambil alih setumpuk buku ditangan Rio
"sip, eh Fy! Kok ruang musik rame banget, tumben?"
"lho, emangnya elo gak tau? Jadi beberapa minggu lagi, sekolah kita bakal ngadain pensi. Elo kapten basket kan? Anak OSIS juga kan? Masa gak tau sih?"
"oh, kalo pensi mah gue tau. Tapi gue baru tau kalo anak musik juga isi acara. Hehe"
"hehe. Eum, lo mau gabung?", tawar Ify
"ma ... ", ucapan Rio terhenti saat sosok Agni tampak dari balik jendela.
Kalau Rio bergabung dengan mereka, ia pasti akan bertemu dengan Agni. Dan kalau bertemu, Agni pasti akan meledeknya dan tau serta membongkar semuanya ini di depan Ify. Oh tidak!
"eum sorry Fy, gue gak bisa", lanjutnya
"yaudah kalo gitu, bye Yo!", Ify membalikan tubuhnya
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... dan akhirnya,
"Rio!", panggil Ify
"ya?"
"kalo nanti ketemu, jangan lupa buat ceritain dongeng itu ke gue yah! Gue mau tau akhir dari dongeng itu", seru Ify sambil melirik buku dongeng yang tadi diselipkan Rio dalam saku celana
Dengan penuh semangat, Rio mengangguk. Itu berarti akan ada kesempatan untuk mereka bertemu di lain waktu.
#FlashBackOff#
"terus apa, Yo?", Alvin nampak penasaran pada Rio yang senyam-senyum sendiri
"kepo lo! Hahaha", sahut Rio asal
"ah gak seru lo, Yo!", kesal Agni
"sabarlah, nanti juga kalian bakal tau siapa itu Allysa"
"serah lo Yo! Eh, kok gak ada yang nanya tentang gue sama Shilla sih?", Cakka mulai gaje
"bodo ah! Ayo balik", Alvin langsung melangkah pergi
Walau kesal, Cakka tetap saja mengikuti langkah ketiga temannya menuju kelas. Sebenarnya Alvin tidak semena-mena melakukan hal tadi. Selain karena jarum jam istirahat yang akan habis, ada satu hal yang harus ia jaga. Yakni perasaan sahabatnya!
***
Dinding bercorak serasa tak ada apa-apanya dengan lukisan beragam yang menempel di dirinya. Mulai dari yang klasik, abstrak, natural, dan sebagainya telah terpajang sangat apik. Sepi sekali. Walau berbeda, tapi rumah ini dengan rumah yang ia huni memiliki tingkat kesepian yang sama.
"ini minumnya", ujar seorang laki-laki sambil membawa baki
"thanks yah"
"Yel, kok rumah lo sepi? Orang-orang pada kemana?", lanjut Tania
"biasalah Ni. Adik gue sekolah, nyokap ngurus bisnis, bokap kerja. Lagipula juga bokap gue jarang pulang, hampir tiap bulan dia berlayar"
"kalo sopir yang waktu itu anterin kita?"
"sopir nganter nyokap. Asal lo tau, rumah ini gak pake jasa pembantu lho Ni. Semuanya ini diurus sama nyokap gue. Keren kan?"
"haha, iya keren banget!"
"eum Ni, elo abis darimana tadi? Sampe mobil lo bisa mogok disana?"
"oh itu. Jadi tadi gue mau anter adek gue sekolah, tapi tiba-tiba tuh mobil mogok. Ya terpaksalah adek gue maraton sampe sekolah"
"haha, ada-ada aja tuh mobil"
Percakapan santai itu terus berlanjut. Tania nampak begitu ceria, sama seperti Iyel. Rasa canggung telah luntur tanpa menyisakan bekas sedikit pun, yang kemudian diganti oleh canda tawa yang khas ala persahabatan. Tapi mungkin, akan lebih daripada itu.
"Tania, elo dokter kan?", tanya Iyel
"hah? Enggaklah! Gue masih mahasiswa"
"ya sama ajalah. Ni, ada satu hal yang mau gue tanyain"
Perlahan, Iyel mulai menceritakan tentang Sivia pada Tania. Bagaimana kondisinya yang sejak lahir duduk di kursi roda karena kelumpuhan permanen yang di alaminya, serta bagaimana akhirnya ia bisa berjalan kembali.
"Sebenernya dia emang gak bisa jalan, tapi itu kata dokter. Kalo menurut gue sih, dia bisa jalan karena mujizat Tuhan juga kemauan yang kuat dari hatinya. Hati, pikiran, dan tindakan itu ada disatu garis. Kalo hati kita meminta, pikiran akan memprosesnya hingga menjadi suatu tindakan. Walau sering kali, tindakan enggak sesuai dengan kemauan hati. Tapi saat itu Sivia beda, dia bisa menjalani proses itu dengan baik (ciyus miapa, ini penulis ngarang bebas)", jelas Tania
Dengan sangat yakin, Iyel mengangukkan kepalanya. Bangga sekali rasanya ia bisa bertemu dengan sosok sehebat Tania.
***
Jam sudah menunjukkan jarumnya hingga membentuk pukul 15.00, saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Pulang. Hal itulah yang membuat mereka -para guru dan siswa- berhamburan keluar area sekolah. Jauh berbeda akan hal tersebut, Alvin dan Sivia malah berdiam diri sambil mendudukkan dirinya di taman sekolah yang menghadap langsung ke arah gerbang utama. Mereka duduk dengan posisi yang cukup jauh, dan sangat sulit bagi mereka untuk dapat berpandangan apalagi bertegur sapa. Jarum jam terus berputar, membuat dua insan ini khawatir akan nasib mereka nanti.
Sekolah telah sepi, namun dua orang ini masih menunggu dengan setia. Sivia dengan wajah yang cukup khawatir mengedarkan pandangannya untuk menyapu objek sekitar. Ada orang! Secercah harapan mencuat ketika ditangkapnya pandangan orang dari kejauhan sana juga tengah duduk di taman ini. Hampiri atau enggak? Pertanyaan itu telah menjadi dilema baginya. Selain sepi, langit juga sudah dipenuhi oleh awan kumulus yang siap menghantarkan titikan air ke bumi.
"aduh, kok jadi labil gini sih. Eum, hampiri atau ... "
JETAAAARR!!! Suara petir mendorong Sivia untuk berlari kencang dengan teriakan yang menjadi pengiringnya.
"Sivia?", bingung Alvin saat cewek chubby itu berlari padanya
"elo kenapa?"
"Vi, elo kenapa sih? Aneh banget", tanya Alvin -lagi-
"Sivia! Jawab gue dong!", kesalnya
"ish, apaan sih lo! Elo noh yang aneh. Orang lagi ngos-ngosan malah ditanya-tanya", kesal Sivia balik
"lho kok jadi gue sih yang aneh?", ratap Alvin
"Alvin!"
"Sivia!"
Teriak dua orang dari balik gerbang sekolah. Tania dan Iyel, itulah mereka. Dengan senyum yang merona, mereka berdua menghampiri sang adik kesayangan. Walau si adik sendiri nampak mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa mereka datang bersama?
"Vin, kenalin ini Iyel. Dia temen kakak"
"Vi, kenalin ini Tania"
Ucap Tania dan Iyel bersautan, yang malah menambah tingkat kebingungan dua bocah itu. Tanpa ambil pusing, Tania dan Iyel langsung menarik mereka ke dalam mobil dengan berjanji akan menceritakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kalau sudah begitu, terpaksalah Alvin dan Sivia mengunci mulut rapat-rapat untuk bertanya.
Usai beberapa menit terjebak dalam lalu lintas kota metropolitan, kini mereka tiba di rumah berornamen seni itu.
"wah, keren! Ini semua, elo yang bikin kak?", kagum Alvin saat baru saja memasuki rumah yang mungkin lebih pantas disebut galeri lukisan itu
"pastinya. Kata Tania, elo juga suka melukis. Siapa pelukis kesukaan lo, dek?"
"eum banyak kak! Tapi gue lebih tertarik sama gaya monalisanya Leonardo da Vinci"
"ternyata selera kita sama. Vin, kakak punya banyak lukisan bergaya da Vinci. Mau liat?"
"serius kak? Ah itu mah gak usah ditanya. Gue mau banget, kak!", sahut Alvin yang langsung beranjak dengan Iyel
"hah ... ", desah Sivia dan Tania bersamaan
Daripada harus ikut gabung dengan dua pecinta seni rupa bidang datar itu, lebih baik bersantai minum teh dengan nuansa hujan yang menghiasi jendela ruang tamu. Walau baru kenal, dua perempuan cantik ini sudah cocok satu sama lain.
"oh jadi, kakak sama kak Iyel ketemu di bandara? Haha, kok bisa sih kak?", simpul Sivia usai mendengar cerita Tania
"ya begitulah. Kamu sendiri, gimana awal pertemuan kamu sama Alvin?"
"eum, jadi waktu itu ... ", Sivia mengerjapkan matanya demi mengingat kejadian di rumah sakit
Tanpa ada yang terlewat, ia menceritakan semuanya. Hingga pada akhirnya hal tersebut, ketika Sivia mengingat sesuatu. Meski ragu, ia memajukan sedikit badannya.
"kak, apa bener Alvin sakit ... kanker?", bisik Sivia -pelan sekali-
Mendengarnya, membuat kerongkongan Tania kering seketika. Suasana hangat yang sempat tercipta lenyap oleh keheningan yang luar biasa. Apa yang harus ia lakukan?
"kakak gak usah jawab pake mulut. Kalo iya, kakak anggukin kepala. Kalo enggak, kakak menggeleng. Oke?"
"baiklah"
"jadi, apa bener Alvin sakit kanker?"
Usai menarik napas yang panjang, akhirnya ia menganggukan kepalanya perlahan. Sementara Sivia, ia sungguh kacau saat itu. Kaget, kesal, sedih, semua bercampur dalam sesak dada. Alvin sakit kanker yang tadinya hanya sebuah statement asal buatannya telah menjadi suatu kenyataan. Yang mau tak mau, harus ia terima. Tapi bagaimana mungkin? Argh!
"jangan kasih tau hal ini pada siapa pun", Tania memperingatkan
"kak, balik yuk! Ujannya udah berhenti. Tadi bengkelnya juga udah telpon, katanya mobil aku udah di anter kesini", ajak Alvin yang baru saja memasuki ruang tamu
***
Hening. Entah kenapa, mereka lebih memilih diam dalam gerak masing-masing. Tania, si pengemudi itu terkesan fokus pada jalur yang ada di hadapannya. Berbeda jauh dengan Alvin yang sibuk mengotak-atik rubrik di sebelahnya.
"kak", panggilnya usai misteri sang rubrik dapat dipecahkan
"tadi kata kak Iyel, kakak ketemu dia di bandara? Kok bisa sih kak?", lanjutnya
"ya bisalah, Vin. Dia baik kok"
"iya, emang dia baik. Tapi kalo waktu itu yang jemput kakak, kak Iyel yang lain. Kak Iyel yang jahat, gimana? Gimana kalo kakak kenapa-napa? Gimana kalo ada kejadian buruk waktu itu?"
"kamu kenapa sih, Vin? Kok begitu?"
"kak, kita tuh gak boleh main percaya gitu aja sama orang asing. Emangnya kakak tau niat apa yang ada di benak orang yang mau nolong kakak itu? Emangnya kakak tau niat kak Iyel waktu nolong kakak di bandara?"
"tau"
"niatnya Iyel waktu itu sama kayak niat kamu waktu nolong Sivia di dekat sekolah", lanjut Tania
"hah? Maksud kakak?"
"Alvin, kakak tau semuanya. Tadi Sivia udah cerita semuanya sama kamu"
"ya aku ... eum, niat aku ya buat nolongin orang. Aku gak tega, kak. Cuma itu"
"berarti niat Iyel juga itu"
"ergh!", rutuk Alvin. Menyebalkan! Kenapa tiba-tiba Tania membalikan pertanyaan itu pada dirinya? Tidak taukah dia? Kalau saat ini Alvin sungguhlah mengalami dilema. Sivia, apa yang kau lakukan hingga membuat sosok Alvin menjadi seperti ini?
Hal yang sama pun terjadi di tempat lain. Dua bersaudara ini juga nampak berdiam diri, demi mempersiapkan pertanyaan yang tepat akan apa yang sebenarnya terjadi.
"jadi kak Iyel sama kak Tania baru kenal?", Sivia memulainya
"yap"
"menurut kakak, kak Tania itu gimana?"
"dia baik, pintar, manis, lembut, ceria, putih, sipit, dan lain-lain"
"kakak suka sama dia?"
"ya ... sukalah"
"hah? Seriusan kak?"
"iya. Emang kenapa sih, Via? Wajar kan, kakakmu yang seorang laki-laki ini suka sama perempuan?"
"wajar sih, tapi sampe kapan kak?"
"maksud aku, kapan kakak akuin itu di depan kak Tania?", lanjut Sivia
"huh ada-ada aja kamu!", Iyel mengacak rambut adiknya
"ish kak Iyel! Aku serius nih"
"udah sana! Masak yang banyak buat makan malam. Laper nih", sahut Iyel yang mendorong Sivia menuju dapur
Karena mama belum pulang, jadi Sivialah yang memasak untuk makan malam. Tapi jangan khawatir! Karena Sivia sangat suka memasak. Iyel saja sering lupa diri kalau memakan nasi goreng ala chef Sivia. Dan kini, si chef akan memasak ayam bakar. Makanan kesukaan Iyel.
***
Makan malam yang hangat juga tengah terjadi di ruang makan sebuah rumah mewah itu. Alvin terlihat manis dengan piyamanya, begitu pula Tania dan Tasya dengan sepatu tidur yang bercorak sama. Sementara ibu dan papa, mereka elegan dengan baju tidur yang berpasangan. Menu kali ini: 'salmon'. Makanan kesukaan Alvin dan Tasya. Walau sedang bersitegang dan entah kapan bisa berhenti, mereka memiliki banyak kesamaan. Mulai dari selera makan, hobi melukis, suka main basket, dan yang lainnya.
"ehem", Tasya berniat untuk memulai suatu pembicaraan
"aku punya rencana. Besok lusa, temen aku mau dateng kesini untuk makan malam. Boleh kan, pa?", lanjutnya
"tentu saja, boleh. Gimana menurutmu, bu?", tanya papa pada wanita yg jauh lebih muda darinya
"ya, ibu setuju. Dia itu siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"aduh ibu itu gimana sih! Ya pasti laki-laki dong, itu pacar kakak kan?", sahut Tania geregetan
"i i iya, bu. Dia laki-laki"
"kalau gitu, kamu kapan, Ni?", tanya ibu yang malah membuat Tania membelalakan matanya
"nanti bu, tenang aja! Kak Nia cuma butuh waktu aja, iya kan kak?", ledek Alvin
"ish, dasar sipit nyebelin! Rasain nih", dengan penuh kekesalan ia menyodorkan salmon yang lengkap dengan nasinya sekaligus sendoknya ke dalam mulut orang di sebelahnya
"hahaha", tawa bahagia itu menggema nyaring di ruang makan. Walau memang, Tasya terlihat begitu sungkan untuk hal itu. Tania-Alvin, duo sipit ini selalu bertengkar dengan cara mereka. Cara yang selalu membuat orang di sekitar mereka siap-siap untuk tertawa terpingkal-pingkal.
Usai makan malam itu, Alvin mendudukan diri di meja belajarnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin melakukan hal itu sekarang. Waktu ini adalah waktu yang tepat! Begitulah pikirnya. Diambilnyalah suatu note kecil pemberian Tania lampau, note yang harus diisinya demi memorinya yang akan hilang nanti.
"kelak kanker ini akan menjalar masuk memenuhi seluruh sel saraf otaknya, hingga akhirnya dia akan kehilangan semuanya. Semua ingatannya, tanpa terkecuali", begitulah vonis dokter saat dirinya dikemoterapi
Sedih, ragu, kesal, marah sedang merasuki batinnya. Kenapa harus dia, ya Tuhan? Kenapa harus anak muda ini? Perlahan tapi pasti, ia mulai membuka halaman pertama dalam buku itu, meraut pensil kesukaannya, lalu mulai menggoreskan apa yang kini berada dalam pikirannya. Tapi tunggu dulu, lihatlah! Ia tidak menulis, melainkan ... ia melukis. Lekukan garis itu terukir menawan, sentuhan penghapus pun telah menjadi pelengkap yang setia. Ia hebat! Jiwa pelukis ada dalam dirinya.
Hingga pada akhirnya ia berhenti, menatap kertas bergambar itu dalam.
"astaga!", dengan kasar ia menutup note tersebut
"ya Tuhan, dia? Kenapa dia? Argh, dasar menyebalkan!", dengan perasaan tak menentu ia melangkahkan kakinya untuk terlelap dalam rengkuhan tempat tidurnya
Disana, dalam note itu. Alvin menggambar dia, gadis yang mampu membuatnya berpikir keras. Senyumnya yang manis, pipinya yang chubby, matanya yang bulat, serta rambut pendeknya nampak nyaris sempurna dengan arsiran gelap terang ala Alvin. Tapi kenapa harus dia? Sivia? Bukankah dia, gadis yang paling menyebalkan sekaligus terkepo seantero sekolah bahkan jagat raya? Menurut Alvin?
***
Tak terasa, matahari sudah hampir selesai menunaikan tugasnya. Si sang surya, kini tengah bersantai sembari menunggu senja datang. Jauh berbeda, dengan laki-laki yang satu ini. Tergesa-gesa. Itulah yang ia alami. Pukul 16.10. Argh, telat 10 menit! Mau bagaimana pun, ini merupakan konsekuensi yang harus ia hadapi. Menjadi ketua OSIS yang harus selalu menemani rapat MPK juga menjadi anggota tim inti basket, harus ia lakukan secara berderet saat ini!
"Alvin!", teriak seseorang dalam keadaan berlari
"aih, dia lagi?", kesal Alvin dalam batinnya
Dengan malas, ia membalikan badannya. Yang malah membuat Sivia ...
"Al ... ", ia berhenti tepat di hadapan Alvin
Lebih sedikit mm dari satu cm adalah jarak yang memisahkan mereka. Dekat sekali! Alvin menahan napasnya, begitu pula dengan Sivia. Jantung mereka berdebar satu irama, mata mereka pun tak berkedip satu sama lain. Semilir angin pun seakan menjadi penghantar rasa itu. Rasa yang mampu membuat dua sejoli itu mematung, dengan getaran yang entah berasal dari mana.
"hasyim!", Sivia bersin tepat di hadapan Alvin
Membuat lelaki itu beranjak dan membasuh wajahnya yang sudah basah itu dengan sapu tangan. Jorok sekali perempuan yang satu ini! Tapi mau bagaimana pun juga, rasa itu belum mau memudar. Atau mungkin atau berkembang biak bersama dengan tingkah konyol itu.
"maaf", lirihnya sambil membersihkan air liar yang memenuhi lingkaran mulutnya
"ada apa?", Alvin langsung to the point
"eum, gue boleh balik bareng lo? Terserah deh, mau naik apa"
"hah? Bareng? Kenapa gak sama Shilla aja?"
Tadi sebelum kejadian konyol itu terjadi, Alvin tengah mengawasi rapat MPK yang dipimpin oleh Shilla. Selaku ketua OSIS, ia harus melakukan hal itu. Dan Sivia sendiri, ia hanya menunggu di baris belakang hingga rapat itu selesai.
"dia masih rapat. Lagian juga tadi, dia nyuruh gue pulang duluan"
"yaudah, lo pulanglah sana!"
"tapi Al, elo tau kan? Gue gak dijemput kak Iyel, dan gue eum gue ... gue gak tau arah jalan pulang"
"apaan sih lo, Vi? Itu mah lirik lagu"
"gue seriusan Al, ajak gue pulang bareng lo ya? Ya ya ya?"
"gue mau latihan basket, Vi. Gue pasti pulang agak malem"
"gapapa kok"
"tapi Vi, mending lo nunggu Shilla aja. Toh, dia pulangnya bakal lebih cepet dari gue"
"kalo nunggu Shilla, gue nunggu sendirian. Kalo nunggu lo kan, gue ada temennya", liriknya pada Agni yang sedang menunggu di bawah pohon rindang
"yaudahlah, terserah lo!"
Percuma saja kalau ia menolak, sementara Sivia nya masih terus bersikeras. Sivia tersenyum, lalu berlari kecil demi menyamakan langkahnya dengan Alvin yang hampir jauh meninggalkannya.
TO BE CONTINUED
jujur,, part ini ngecewain banget kan?? udahlah jujur aja.. aku juga ngerasa gitu.. adegan demi adegan di part ini pun bikin boring banget -_-" tapi tenang aja..!!! aku masih mau ngelanjutin cerita ini kok.. hahaha :D
FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
"Duto", sapa seseorang dengan tangannya di pundak Duto
Bukannya menoleh dan menanggapi sapaan tadi, ia malah melangkah meninggalkan seseorang tadi.
***
Entah sudah berapa lama ia menunggu disini, menanti pintu itu terbuka lalu mendekap orang itu erat. Mau selama apa pun itu, ia harus tetap disini. Bukankah ini yang disebut sahabat? Sela beberapa saat, tangis dan desahan napas itu terhenti.
"Shill", panggilnya lemah yang baru keluar dari pintu kamar mandi
"Via", Shilla berlari mendekap sahabatnya
Cukup lama pelukan itu berlangsung. Shilla hadir disini bukan karena Sivia merupakan adik dari lelaki yang ia cintai, bukan karena Sivia murid baru yang butuh pelukan, melainkan karena perempuan itu adalah sahabatnya. Tak peduli sejak kecil atau baru beberapa detik yang lalu persahabatan itu terjalin, ia harus membantunya. Karena itulah arti sahabat yang sesungguhnya.
"gue gue sayang dia, Shill. Gue emang kecewa berat sama dia, tapi hati gue jelas-jelas masih suka sama dia. Gue nyesel, Shill. Kenapa tadi gue nampar dia", adu Sivia dalam isakannya
"tenang Vi, ini keputusan lo kan? Jadi lo harus jalanin ini, biarin Duto sendiri dan lo sendiri. Oke?", Shilla menenangkan dan nampaknya hal itu berhasil
Kini Sivia nampak lebih tenang, senyum yang tadi sempat lenyap telah kembali secara perlahan. Berbeda dengan Sivia, Duto masih terdiam dan menundukkan kepalannya dalam. Sepi. Begitulah yang selalu ia rasakan disini. "itu salah", dua kata yang Sivia ucapkan terasa begitu melayang memenuhi rongga pikirannya.
"argh", erang kecil Duto sambil memegang erat kepalanya
"ini", ujar seseorang yang sudah tak asing lagi untuknya
"kalo gak mau dikompresin, kompres sendiri aja", lanjutnya
"tinggalin gue", ujar Duto pelan
"Duto, mana mungkin gue tega ninggalin elo yang ancur banget gini"
"udah sini, gue yang kompres", ujarnya pada Duto
"gak usah, biar gue sendiri aja"
Orang itu memerhatikan Duto lekat, walau banyak orang lain yang memperbincangkannya. Sosok itu, dialah yang selalu mengalah untuknya. Menyayanginya dengan tulus. Itulah seorang Duto dimatanya. Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi mereka. Namun baru kali ini dirinya menghampiri dia, yang bahkan selalu ada untuknya. Kejam sekali orang itu.
"sakit yah?", tanyanya halus
"kok diem aja? Elo pusing? Atau elo sakit? Yaudah ayo kita ke UKS, eum jangan ... kita ke rumah sakit aja yuk", paniknya
"gue gak papa"
Meski singkat, tapi jawaban itu mampu untuk menyejukkan hatinya sejenak. Duto ... argh, kau tidak berubah.
"pergilah! Gue udah biasa sendiri", ujar Duto
"Duto, gue ... "
"Ify, kita gak boleh begini. Elo inget peraturan kita dulu kan? Waktu pertama kali kita sekolah disini?", Ify -orang itu- mengangguk
"kalo gitu, pergilah! Gue bisa sendiri", perintah Duto yang kali ini langsung ditanggapi Ify
Duto dan Ify. Mereka adalah saudara kembar! Tak banyak atau malah tak ada seorang pun dari teman-temannya yang tahu akan hal ini. Ify, si pianis hebat sekolah yang banyak menghabiskan waktunya di ruang musik bersama Agni dan Shilla adalah sosok yang berbanding terbalik dengan Duto, si waketos yang suka menyendiri dengan alasan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Duto tak punya sahabat di sekolah seperti Ify, ia bahkan selalu menghabiskan waktunya sendiri. Hal itu terjadi, bukan karena Duto yang anti sosial. Justru Duto adalah seseorang yang ramah dan memiliki banyak teman di luar sekolah. Semua itu bermula semenjak mereka yang tadinya sekolah terpisah saat SMP disatukan dalam SMA Jakarta. Saat itu, Duto menyuruh Ify untuk merahasiakan hubungan yang ada diantara mereka. Awalnya Ify sempat menolak, tapi hal itu sirnah ketika ia tau apa yang menjadi alasan Duto. Yakni "karena gue gak mau kita dibanding-bandingin disini, gue gak mau elo yang nyaris sempurna dibandingin sama gue. Cukup di rumah dan bokap aja yang bandingin kita, yang ngehina gue. Oke?"
Dan semenjak itulah Ify berusaha sekeras mungkin agar tidak ada yang tau atau pun curiga akan status saudara kembar diantara mereka.
***
"parah lo Vin, cara tadi itu bener-bener yang paling kacau", komen Rio akan kejadian tadi
"tau lo, bro. Emang siapa sih tuh cewek? Sampe elo pengen dapetin dia?", tanya Cakka
"elo gak serius kan, Vin?", Agni turut bertanya
Alvin berpikir sejenak sambil menatap sepiring somay yang telah ia makan tadi. Mereka semua memang benar! Walau Alvin merupakan rival Duto, tapi cara dia tadi sangatlah tidak terpuji. Apalagi hal itu hanya karena seorang Sivia, yang bahkan baru beberapa hari dikenal Alvin.
"gue gak tau", jawabnya -sangat- singkat
"maksud lo?", tanya mereka bebarengan
"gue gak tau apa yang gue rasain. Duto, entah kenapa gue pengen banget saingan sama dia. Gue mau ngerebut cewek yang bahkan sama sekali bukan tipe gue. Sivia, gue gak suka sama dia! Tapi tadi, argh ... gue gak tau!", jelas Alvin yang melahirkan tatapan bingung dari teman-temannya
"ah, ada-ada aja lo. Tapi cara lo itu tetep aja gak terpuji", Agni menyimpulkan
"iya, gue tau", celetuk Alvin
"eh Yo, kemaren elo kemana? Kok gak main basket bareng gue sama Alvin?", Cakka mengalihkan pembicaraan
"mau tau aja apa mau tau banget?"
"seriusan nih, Yo", timpal Agni
"oke oke, gue cerita!"
"jadi kemaren gue ke perpus, disana gue baca buku, ehem dongeng gitu. Abis itu, secara gak sengaja gue nabrak cewek. Ayo tebak? Dia Allysa, si pianis itu. Nah, terus ... ", lanjut Rio lalu mencoba mengingat apa yang terjadi setelahnya
#FlashBackOn#
Setelah beberapa menit kemudian, sampailah mereka di depan ruang musik yang kelihatan jauh lebih ramai dari biasanya.
"thanks ya, Yo", ujar Ify yang mulai mengambil alih setumpuk buku ditangan Rio
"sip, eh Fy! Kok ruang musik rame banget, tumben?"
"lho, emangnya elo gak tau? Jadi beberapa minggu lagi, sekolah kita bakal ngadain pensi. Elo kapten basket kan? Anak OSIS juga kan? Masa gak tau sih?"
"oh, kalo pensi mah gue tau. Tapi gue baru tau kalo anak musik juga isi acara. Hehe"
"hehe. Eum, lo mau gabung?", tawar Ify
"ma ... ", ucapan Rio terhenti saat sosok Agni tampak dari balik jendela.
Kalau Rio bergabung dengan mereka, ia pasti akan bertemu dengan Agni. Dan kalau bertemu, Agni pasti akan meledeknya dan tau serta membongkar semuanya ini di depan Ify. Oh tidak!
"eum sorry Fy, gue gak bisa", lanjutnya
"yaudah kalo gitu, bye Yo!", Ify membalikan tubuhnya
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... dan akhirnya,
"Rio!", panggil Ify
"ya?"
"kalo nanti ketemu, jangan lupa buat ceritain dongeng itu ke gue yah! Gue mau tau akhir dari dongeng itu", seru Ify sambil melirik buku dongeng yang tadi diselipkan Rio dalam saku celana
Dengan penuh semangat, Rio mengangguk. Itu berarti akan ada kesempatan untuk mereka bertemu di lain waktu.
#FlashBackOff#
"terus apa, Yo?", Alvin nampak penasaran pada Rio yang senyam-senyum sendiri
"kepo lo! Hahaha", sahut Rio asal
"ah gak seru lo, Yo!", kesal Agni
"sabarlah, nanti juga kalian bakal tau siapa itu Allysa"
"serah lo Yo! Eh, kok gak ada yang nanya tentang gue sama Shilla sih?", Cakka mulai gaje
"bodo ah! Ayo balik", Alvin langsung melangkah pergi
Walau kesal, Cakka tetap saja mengikuti langkah ketiga temannya menuju kelas. Sebenarnya Alvin tidak semena-mena melakukan hal tadi. Selain karena jarum jam istirahat yang akan habis, ada satu hal yang harus ia jaga. Yakni perasaan sahabatnya!
***
Dinding bercorak serasa tak ada apa-apanya dengan lukisan beragam yang menempel di dirinya. Mulai dari yang klasik, abstrak, natural, dan sebagainya telah terpajang sangat apik. Sepi sekali. Walau berbeda, tapi rumah ini dengan rumah yang ia huni memiliki tingkat kesepian yang sama.
"ini minumnya", ujar seorang laki-laki sambil membawa baki
"thanks yah"
"Yel, kok rumah lo sepi? Orang-orang pada kemana?", lanjut Tania
"biasalah Ni. Adik gue sekolah, nyokap ngurus bisnis, bokap kerja. Lagipula juga bokap gue jarang pulang, hampir tiap bulan dia berlayar"
"kalo sopir yang waktu itu anterin kita?"
"sopir nganter nyokap. Asal lo tau, rumah ini gak pake jasa pembantu lho Ni. Semuanya ini diurus sama nyokap gue. Keren kan?"
"haha, iya keren banget!"
"eum Ni, elo abis darimana tadi? Sampe mobil lo bisa mogok disana?"
"oh itu. Jadi tadi gue mau anter adek gue sekolah, tapi tiba-tiba tuh mobil mogok. Ya terpaksalah adek gue maraton sampe sekolah"
"haha, ada-ada aja tuh mobil"
Percakapan santai itu terus berlanjut. Tania nampak begitu ceria, sama seperti Iyel. Rasa canggung telah luntur tanpa menyisakan bekas sedikit pun, yang kemudian diganti oleh canda tawa yang khas ala persahabatan. Tapi mungkin, akan lebih daripada itu.
"Tania, elo dokter kan?", tanya Iyel
"hah? Enggaklah! Gue masih mahasiswa"
"ya sama ajalah. Ni, ada satu hal yang mau gue tanyain"
Perlahan, Iyel mulai menceritakan tentang Sivia pada Tania. Bagaimana kondisinya yang sejak lahir duduk di kursi roda karena kelumpuhan permanen yang di alaminya, serta bagaimana akhirnya ia bisa berjalan kembali.
"Sebenernya dia emang gak bisa jalan, tapi itu kata dokter. Kalo menurut gue sih, dia bisa jalan karena mujizat Tuhan juga kemauan yang kuat dari hatinya. Hati, pikiran, dan tindakan itu ada disatu garis. Kalo hati kita meminta, pikiran akan memprosesnya hingga menjadi suatu tindakan. Walau sering kali, tindakan enggak sesuai dengan kemauan hati. Tapi saat itu Sivia beda, dia bisa menjalani proses itu dengan baik (ciyus miapa, ini penulis ngarang bebas)", jelas Tania
Dengan sangat yakin, Iyel mengangukkan kepalanya. Bangga sekali rasanya ia bisa bertemu dengan sosok sehebat Tania.
***
Jam sudah menunjukkan jarumnya hingga membentuk pukul 15.00, saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Pulang. Hal itulah yang membuat mereka -para guru dan siswa- berhamburan keluar area sekolah. Jauh berbeda akan hal tersebut, Alvin dan Sivia malah berdiam diri sambil mendudukkan dirinya di taman sekolah yang menghadap langsung ke arah gerbang utama. Mereka duduk dengan posisi yang cukup jauh, dan sangat sulit bagi mereka untuk dapat berpandangan apalagi bertegur sapa. Jarum jam terus berputar, membuat dua insan ini khawatir akan nasib mereka nanti.
Sekolah telah sepi, namun dua orang ini masih menunggu dengan setia. Sivia dengan wajah yang cukup khawatir mengedarkan pandangannya untuk menyapu objek sekitar. Ada orang! Secercah harapan mencuat ketika ditangkapnya pandangan orang dari kejauhan sana juga tengah duduk di taman ini. Hampiri atau enggak? Pertanyaan itu telah menjadi dilema baginya. Selain sepi, langit juga sudah dipenuhi oleh awan kumulus yang siap menghantarkan titikan air ke bumi.
"aduh, kok jadi labil gini sih. Eum, hampiri atau ... "
JETAAAARR!!! Suara petir mendorong Sivia untuk berlari kencang dengan teriakan yang menjadi pengiringnya.
"Sivia?", bingung Alvin saat cewek chubby itu berlari padanya
"elo kenapa?"
"Vi, elo kenapa sih? Aneh banget", tanya Alvin -lagi-
"Sivia! Jawab gue dong!", kesalnya
"ish, apaan sih lo! Elo noh yang aneh. Orang lagi ngos-ngosan malah ditanya-tanya", kesal Sivia balik
"lho kok jadi gue sih yang aneh?", ratap Alvin
"Alvin!"
"Sivia!"
Teriak dua orang dari balik gerbang sekolah. Tania dan Iyel, itulah mereka. Dengan senyum yang merona, mereka berdua menghampiri sang adik kesayangan. Walau si adik sendiri nampak mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa mereka datang bersama?
"Vin, kenalin ini Iyel. Dia temen kakak"
"Vi, kenalin ini Tania"
Ucap Tania dan Iyel bersautan, yang malah menambah tingkat kebingungan dua bocah itu. Tanpa ambil pusing, Tania dan Iyel langsung menarik mereka ke dalam mobil dengan berjanji akan menceritakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kalau sudah begitu, terpaksalah Alvin dan Sivia mengunci mulut rapat-rapat untuk bertanya.
Usai beberapa menit terjebak dalam lalu lintas kota metropolitan, kini mereka tiba di rumah berornamen seni itu.
"wah, keren! Ini semua, elo yang bikin kak?", kagum Alvin saat baru saja memasuki rumah yang mungkin lebih pantas disebut galeri lukisan itu
"pastinya. Kata Tania, elo juga suka melukis. Siapa pelukis kesukaan lo, dek?"
"eum banyak kak! Tapi gue lebih tertarik sama gaya monalisanya Leonardo da Vinci"
"ternyata selera kita sama. Vin, kakak punya banyak lukisan bergaya da Vinci. Mau liat?"
"serius kak? Ah itu mah gak usah ditanya. Gue mau banget, kak!", sahut Alvin yang langsung beranjak dengan Iyel
"hah ... ", desah Sivia dan Tania bersamaan
Daripada harus ikut gabung dengan dua pecinta seni rupa bidang datar itu, lebih baik bersantai minum teh dengan nuansa hujan yang menghiasi jendela ruang tamu. Walau baru kenal, dua perempuan cantik ini sudah cocok satu sama lain.
"oh jadi, kakak sama kak Iyel ketemu di bandara? Haha, kok bisa sih kak?", simpul Sivia usai mendengar cerita Tania
"ya begitulah. Kamu sendiri, gimana awal pertemuan kamu sama Alvin?"
"eum, jadi waktu itu ... ", Sivia mengerjapkan matanya demi mengingat kejadian di rumah sakit
Tanpa ada yang terlewat, ia menceritakan semuanya. Hingga pada akhirnya hal tersebut, ketika Sivia mengingat sesuatu. Meski ragu, ia memajukan sedikit badannya.
"kak, apa bener Alvin sakit ... kanker?", bisik Sivia -pelan sekali-
Mendengarnya, membuat kerongkongan Tania kering seketika. Suasana hangat yang sempat tercipta lenyap oleh keheningan yang luar biasa. Apa yang harus ia lakukan?
"kakak gak usah jawab pake mulut. Kalo iya, kakak anggukin kepala. Kalo enggak, kakak menggeleng. Oke?"
"baiklah"
"jadi, apa bener Alvin sakit kanker?"
Usai menarik napas yang panjang, akhirnya ia menganggukan kepalanya perlahan. Sementara Sivia, ia sungguh kacau saat itu. Kaget, kesal, sedih, semua bercampur dalam sesak dada. Alvin sakit kanker yang tadinya hanya sebuah statement asal buatannya telah menjadi suatu kenyataan. Yang mau tak mau, harus ia terima. Tapi bagaimana mungkin? Argh!
"jangan kasih tau hal ini pada siapa pun", Tania memperingatkan
"kak, balik yuk! Ujannya udah berhenti. Tadi bengkelnya juga udah telpon, katanya mobil aku udah di anter kesini", ajak Alvin yang baru saja memasuki ruang tamu
***
Hening. Entah kenapa, mereka lebih memilih diam dalam gerak masing-masing. Tania, si pengemudi itu terkesan fokus pada jalur yang ada di hadapannya. Berbeda jauh dengan Alvin yang sibuk mengotak-atik rubrik di sebelahnya.
"kak", panggilnya usai misteri sang rubrik dapat dipecahkan
"tadi kata kak Iyel, kakak ketemu dia di bandara? Kok bisa sih kak?", lanjutnya
"ya bisalah, Vin. Dia baik kok"
"iya, emang dia baik. Tapi kalo waktu itu yang jemput kakak, kak Iyel yang lain. Kak Iyel yang jahat, gimana? Gimana kalo kakak kenapa-napa? Gimana kalo ada kejadian buruk waktu itu?"
"kamu kenapa sih, Vin? Kok begitu?"
"kak, kita tuh gak boleh main percaya gitu aja sama orang asing. Emangnya kakak tau niat apa yang ada di benak orang yang mau nolong kakak itu? Emangnya kakak tau niat kak Iyel waktu nolong kakak di bandara?"
"tau"
"niatnya Iyel waktu itu sama kayak niat kamu waktu nolong Sivia di dekat sekolah", lanjut Tania
"hah? Maksud kakak?"
"Alvin, kakak tau semuanya. Tadi Sivia udah cerita semuanya sama kamu"
"ya aku ... eum, niat aku ya buat nolongin orang. Aku gak tega, kak. Cuma itu"
"berarti niat Iyel juga itu"
"ergh!", rutuk Alvin. Menyebalkan! Kenapa tiba-tiba Tania membalikan pertanyaan itu pada dirinya? Tidak taukah dia? Kalau saat ini Alvin sungguhlah mengalami dilema. Sivia, apa yang kau lakukan hingga membuat sosok Alvin menjadi seperti ini?
Hal yang sama pun terjadi di tempat lain. Dua bersaudara ini juga nampak berdiam diri, demi mempersiapkan pertanyaan yang tepat akan apa yang sebenarnya terjadi.
"jadi kak Iyel sama kak Tania baru kenal?", Sivia memulainya
"yap"
"menurut kakak, kak Tania itu gimana?"
"dia baik, pintar, manis, lembut, ceria, putih, sipit, dan lain-lain"
"kakak suka sama dia?"
"ya ... sukalah"
"hah? Seriusan kak?"
"iya. Emang kenapa sih, Via? Wajar kan, kakakmu yang seorang laki-laki ini suka sama perempuan?"
"wajar sih, tapi sampe kapan kak?"
"maksud aku, kapan kakak akuin itu di depan kak Tania?", lanjut Sivia
"huh ada-ada aja kamu!", Iyel mengacak rambut adiknya
"ish kak Iyel! Aku serius nih"
"udah sana! Masak yang banyak buat makan malam. Laper nih", sahut Iyel yang mendorong Sivia menuju dapur
Karena mama belum pulang, jadi Sivialah yang memasak untuk makan malam. Tapi jangan khawatir! Karena Sivia sangat suka memasak. Iyel saja sering lupa diri kalau memakan nasi goreng ala chef Sivia. Dan kini, si chef akan memasak ayam bakar. Makanan kesukaan Iyel.
***
Makan malam yang hangat juga tengah terjadi di ruang makan sebuah rumah mewah itu. Alvin terlihat manis dengan piyamanya, begitu pula Tania dan Tasya dengan sepatu tidur yang bercorak sama. Sementara ibu dan papa, mereka elegan dengan baju tidur yang berpasangan. Menu kali ini: 'salmon'. Makanan kesukaan Alvin dan Tasya. Walau sedang bersitegang dan entah kapan bisa berhenti, mereka memiliki banyak kesamaan. Mulai dari selera makan, hobi melukis, suka main basket, dan yang lainnya.
"ehem", Tasya berniat untuk memulai suatu pembicaraan
"aku punya rencana. Besok lusa, temen aku mau dateng kesini untuk makan malam. Boleh kan, pa?", lanjutnya
"tentu saja, boleh. Gimana menurutmu, bu?", tanya papa pada wanita yg jauh lebih muda darinya
"ya, ibu setuju. Dia itu siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"aduh ibu itu gimana sih! Ya pasti laki-laki dong, itu pacar kakak kan?", sahut Tania geregetan
"i i iya, bu. Dia laki-laki"
"kalau gitu, kamu kapan, Ni?", tanya ibu yang malah membuat Tania membelalakan matanya
"nanti bu, tenang aja! Kak Nia cuma butuh waktu aja, iya kan kak?", ledek Alvin
"ish, dasar sipit nyebelin! Rasain nih", dengan penuh kekesalan ia menyodorkan salmon yang lengkap dengan nasinya sekaligus sendoknya ke dalam mulut orang di sebelahnya
"hahaha", tawa bahagia itu menggema nyaring di ruang makan. Walau memang, Tasya terlihat begitu sungkan untuk hal itu. Tania-Alvin, duo sipit ini selalu bertengkar dengan cara mereka. Cara yang selalu membuat orang di sekitar mereka siap-siap untuk tertawa terpingkal-pingkal.
Usai makan malam itu, Alvin mendudukan diri di meja belajarnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin melakukan hal itu sekarang. Waktu ini adalah waktu yang tepat! Begitulah pikirnya. Diambilnyalah suatu note kecil pemberian Tania lampau, note yang harus diisinya demi memorinya yang akan hilang nanti.
"kelak kanker ini akan menjalar masuk memenuhi seluruh sel saraf otaknya, hingga akhirnya dia akan kehilangan semuanya. Semua ingatannya, tanpa terkecuali", begitulah vonis dokter saat dirinya dikemoterapi
Sedih, ragu, kesal, marah sedang merasuki batinnya. Kenapa harus dia, ya Tuhan? Kenapa harus anak muda ini? Perlahan tapi pasti, ia mulai membuka halaman pertama dalam buku itu, meraut pensil kesukaannya, lalu mulai menggoreskan apa yang kini berada dalam pikirannya. Tapi tunggu dulu, lihatlah! Ia tidak menulis, melainkan ... ia melukis. Lekukan garis itu terukir menawan, sentuhan penghapus pun telah menjadi pelengkap yang setia. Ia hebat! Jiwa pelukis ada dalam dirinya.
Hingga pada akhirnya ia berhenti, menatap kertas bergambar itu dalam.
"astaga!", dengan kasar ia menutup note tersebut
"ya Tuhan, dia? Kenapa dia? Argh, dasar menyebalkan!", dengan perasaan tak menentu ia melangkahkan kakinya untuk terlelap dalam rengkuhan tempat tidurnya
Disana, dalam note itu. Alvin menggambar dia, gadis yang mampu membuatnya berpikir keras. Senyumnya yang manis, pipinya yang chubby, matanya yang bulat, serta rambut pendeknya nampak nyaris sempurna dengan arsiran gelap terang ala Alvin. Tapi kenapa harus dia? Sivia? Bukankah dia, gadis yang paling menyebalkan sekaligus terkepo seantero sekolah bahkan jagat raya? Menurut Alvin?
***
Tak terasa, matahari sudah hampir selesai menunaikan tugasnya. Si sang surya, kini tengah bersantai sembari menunggu senja datang. Jauh berbeda, dengan laki-laki yang satu ini. Tergesa-gesa. Itulah yang ia alami. Pukul 16.10. Argh, telat 10 menit! Mau bagaimana pun, ini merupakan konsekuensi yang harus ia hadapi. Menjadi ketua OSIS yang harus selalu menemani rapat MPK juga menjadi anggota tim inti basket, harus ia lakukan secara berderet saat ini!
"Alvin!", teriak seseorang dalam keadaan berlari
"aih, dia lagi?", kesal Alvin dalam batinnya
Dengan malas, ia membalikan badannya. Yang malah membuat Sivia ...
"Al ... ", ia berhenti tepat di hadapan Alvin
Lebih sedikit mm dari satu cm adalah jarak yang memisahkan mereka. Dekat sekali! Alvin menahan napasnya, begitu pula dengan Sivia. Jantung mereka berdebar satu irama, mata mereka pun tak berkedip satu sama lain. Semilir angin pun seakan menjadi penghantar rasa itu. Rasa yang mampu membuat dua sejoli itu mematung, dengan getaran yang entah berasal dari mana.
"hasyim!", Sivia bersin tepat di hadapan Alvin
Membuat lelaki itu beranjak dan membasuh wajahnya yang sudah basah itu dengan sapu tangan. Jorok sekali perempuan yang satu ini! Tapi mau bagaimana pun juga, rasa itu belum mau memudar. Atau mungkin atau berkembang biak bersama dengan tingkah konyol itu.
"maaf", lirihnya sambil membersihkan air liar yang memenuhi lingkaran mulutnya
"ada apa?", Alvin langsung to the point
"eum, gue boleh balik bareng lo? Terserah deh, mau naik apa"
"hah? Bareng? Kenapa gak sama Shilla aja?"
Tadi sebelum kejadian konyol itu terjadi, Alvin tengah mengawasi rapat MPK yang dipimpin oleh Shilla. Selaku ketua OSIS, ia harus melakukan hal itu. Dan Sivia sendiri, ia hanya menunggu di baris belakang hingga rapat itu selesai.
"dia masih rapat. Lagian juga tadi, dia nyuruh gue pulang duluan"
"yaudah, lo pulanglah sana!"
"tapi Al, elo tau kan? Gue gak dijemput kak Iyel, dan gue eum gue ... gue gak tau arah jalan pulang"
"apaan sih lo, Vi? Itu mah lirik lagu"
"gue seriusan Al, ajak gue pulang bareng lo ya? Ya ya ya?"
"gue mau latihan basket, Vi. Gue pasti pulang agak malem"
"gapapa kok"
"tapi Vi, mending lo nunggu Shilla aja. Toh, dia pulangnya bakal lebih cepet dari gue"
"kalo nunggu Shilla, gue nunggu sendirian. Kalo nunggu lo kan, gue ada temennya", liriknya pada Agni yang sedang menunggu di bawah pohon rindang
"yaudahlah, terserah lo!"
Percuma saja kalau ia menolak, sementara Sivia nya masih terus bersikeras. Sivia tersenyum, lalu berlari kecil demi menyamakan langkahnya dengan Alvin yang hampir jauh meninggalkannya.
TO BE CONTINUED
jujur,, part ini ngecewain banget kan?? udahlah jujur aja.. aku juga ngerasa gitu.. adegan demi adegan di part ini pun bikin boring banget -_-" tapi tenang aja..!!! aku masih mau ngelanjutin cerita ini kok.. hahaha :D
FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
1 komentar:
keren nih keren.. yu lanjut lagi baru part 6 tuh...
numpang promo.. jangan lupa kunjungi blog gue yaa..
obat pelangsing herbal.
obat kista tradisional.
thanks before..
Posting Komentar