Sabtu, 16 Maret 2013

Lentera Hati *Part 5*

'elo sakit kanker kan? Stadium berapa?', entah kenapa kata-kata Sivia tadi terasa telah menguasai pikirannya. Ia sendiri bahkan tak tau stadium berapa kankernya saat ini. Bagi Alvin, hal itu hanya akan membuatnya terpuruk dan takut untuk menjalani hidupnya. Syukurlah tadi ia turun di perempatan komplek rumahnya, jadi ia tak usah susah payah berjalan dihari yang semakin gelap ini. Pukul 20.00, ibu pasti sangat khawatir.

"argh, ... ", desah Alvin menyandarkan tubuhnya di dinding tembok jalan

Sakit tadi masih tersisa dikepalanya, bahkan membuatnya nyaris kehilangan kesadarannya. Tidak! Ia tak boleh merasa lemah seperti ini! Ibu, kak Tania, dan orang rumah lainnya pasti sedang mencemaskannya. Perlahan ia mulai bangkit berdiri, dengan wajah yang tertunduk ia melangkahkan kakinya.

***


"sudah jam 8, tapi dia belum pulang juga. Nia, coba kamu telpon Alvin", khawatir ibu pada anak laki-lakinya itu

"aku udah telpon, tapi gak aktif bu"

"maaf, aku pulang telat", parau Alvin dari kejauhan

Ibu, papa, dan Tania pun langsung menyambutnya, bangkit berdiri dari sofa ruang tamu lalu menghampirinya. Dengan perasaan yang sangat lega, ibu mengelus rambut Alvin. Memeluk tubuh kurus itu dengan rasa yang tulus. Sementara papa, ia hanya menatap lirih semua itu. Menanti saatnya hingga ia bisa memperlakukan Alvin seperti itu.

"dasar nyebelin!", desah Tasya yang tadi juga terpaksa menunggu Alvin

Sebenarnya Tasya juga merasa senang dan lega seperti yang lainnya, tapi rasa kecewa itu terlalu besar untuk dilawan. Tak ingin terjebak disituasi ini, Tasya segera menuju kamarnya. Seperti biasa.

"yaudah, kalo gitu kamu mandi dulu yah. Nanti ibu suruh kak Tania buat anter makanan ke kamar kamu yah", ujar ibu

Tanpa menyahut sepatah kata pun, Alvin melangkahkan kakinya menuju kamar. Ibu dan yang lainnya hanya memasang tampang pasrah. Alvin belum berubah, pendiriannya yang seolah-olah tak peduli masih mengental disana. Sambil sesekali berharap, kalau bocah itu berubah menjadi lelaki yang dewasa nantinya. Lepas dari itu, Alvin yang sudah membersihkan dirinya, kini tengah duduk di hadapan cermin dalam kamarnya. Dipandangnya wajah pucat itu dalam-dalam.

"udah empat belas tahun elo di tubuh gue, ngebuat gue kesakitan karna perlakuan lo. Tapi jangan harap gue bakal nyerah sama lo! Gue, Alvin gak akan pernah berhenti buat melawan lo. Inget itu!", gertak Alvin pada bayangan cerminnya

PROK ... PROK ... PROK, suara tepuk tangan yang malah menjadi penyahut gertakan tadi. Dan tak lama kemudian, muncullah Tania dengan baki berisikan makanan dan minuman memasuki kamar bercorak N. B. A itu. Ditaruhnya baki itu di atas meja kecil, lalu dirangkulnya Alvin dengan kedua tangannya dari belakang.

"itu baru Alvin yang kakak kenal", serunya

"huh, gak sopan!", lanjut Alvin sambil berbalik dan memandang Tania

"gak sopan? Kamu tuh yang gak sopan! Memperlakukan ibu sama papa kayak tadi", omel Tania

"hehe, abis tadi aku lagi bad mood. Kakak sendiri ngapain kesini?"

"tuh, sesuai perintah ibu", ujarnya sambil menunjuk baki tadi

Alvin tersenyum, lalu bangkit berdiri.

"tunggu, Vin ... ", Tania menarik tangan Alvin, membuatnya kembali duduk di posisinya yang semula

"ada apa kak?"

"tadi kamu sakit, kan? Kamu pulang telat gini karna sakit kamu kambuh kan, Vin?"

"hah? Eum, aku eng ... "

"udahlah Vin, kakak tau itu. Muka kamu yang pucat, baju kamu yang lusuh. Berhentilah menutupi semua ini Vin, jujurlah sama kakak tentang apa yang terjadi sama kamu"

"mulai besok, kakak yang akan anter jemput kamu sekolah. Setidaknya itu akan lebih baik, daripada tiap hari kamu harus naik taksi", lanjut Tania

"lah? kok jadi gitu sih kak? Kak Tania, aku tuh Alvin yang udah tujuh belas tahun. Aku udah gede kak, tahun ini aja umur aku bakal jadi delapan belas tahun", tolak Alvin mentah-mentah

"emang siapa juga yang bilang kamu masih kecil sih, Vin? Nenek sama anak kecil pun tau kalo kamu udah gede", sahut Tania sambil mencubit pipi adik tirinya itu gemas

"ish, kakak apa-apaan sih?", gerutu Alvin

"hehe .. kakak tuh ngelakuin semua ini, karena kakak sayang sama kamu. Kamu tuh istimewa, Alvin!"

"istimewa? Chibi chibi kali, kak"

"kamu itu ya, udah ah kakak males debat sama kamu. Pokoknya mulai besok, kamu fix dianter jemput sama kakak. Titik!", ujar Tania yang langsung melangkah keluar kamar Alvin

"males? Bilang aja takut kalah. Dasar kakak nyebelin. Bodo ah, mendingan juga gue makan. Laper"

Sebenarnya Tania tidaklah pergi, ia masih berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar Alvin. Walau samar, didengarnya gerutu si adik semata wayangnya itu, lalu mengembangkan senyumnya lebar. Alvin memanglah sosok istimewa untuk Tania, dan mungkin juga untuk semua orang yang mengenalnya. Karena lelaki chinese itu hadir disaat Tania membutuhkan seorang teman yang dapat ada disampingnya, jadi saat itu ... Setelah papa dan ibu menikah, Tania ditinggal Tasya ke rumah oma. Tasya tinggal selama beberapa tahun disana. Dan akhirnya Alvin hadir sebagai bocah ceria, yang mampu meramaikan suasana rumah saat itu.

***

Wajahnya sungguh berbinar-binar, sama persis seperti mata bulatnya yang bersinar. Pipi chubby nya merona bahagia, membuat warna merah menghiasinya. Sivia, itulah dia. Sebelum memasuki rumah, ia tarik napasnya dalam-dalam. 'mereka pasti seneng', pikirnya. Usai itu, ia segera memantapkan langkahnya untuk memasuki rumah bertipe minimalis itu. Namun belum sampai ia membuka pintu, muncullah sosok lelaki dari balik sana.

"Sivia, kemana aja kamu? Kakak jemput, kamunya gak ada. Terus kamu kok baru pulang jam segini? Kamu tau gak sih, dari tadi tuh kakak sama mama panik nyariin kamu. Malah tadi mama hampir aja mau telpon papa. Lho Vi, kamu kok ... ", takjub Iyel diakhir pertanyaan bertubi itu

"kakak udah ngomongnya? Aduh kak Iyel ini yah, hehe. Maaf ya kak, aku pulangnya telat. Tapi gimana pendapat kakak? Aku tambah cantik kan?", tanya Sivia sambil menunjukkan kakinya

"ta ta tapi kok kamu bisa, Vi?"

"enggak tau kak, aku juga bingung"

"ya ampun Vi, ini beneran kan? Kakak lagi gak mimpi kan?"

"aduh, sakit tau Vi", sahut Iyel usai Sivia menoyor kepalanya

"nah, berarti ini bukan mimpi kak"

"dasar nyebelin kamu, Vi! Oh iya, ayo kita masuk. Mama pasti seneng banget, dan papa juga harus tau soal ini Vi", ajak Iyel

Kini kedua bersaudara itu berjalan menuju dapur, tempat mama mereka berada.

"mama!", seru Sivia

"Via? Kamu? Bagaimana bisa?", ujar sang mama tak percaya

Untuk mengelakan rasa tak percaya itu, Sivia berlari mendekap mama tercinta. Tak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut mereka, hanya ada air mata yang mengalir tulus di wajah mereka. Akhirnya semua selesai dengan hasil yang memuaskan. Perjuangan selama tujuh belas tahun lalu, telah berbuah manis. Tuhan baik, dan selalu begitu. Dia pasti akan menyediakan rencana indah dalam hidup umatNya.

"ehem, maaf banget. Bukan bermaksud merusak momen indah ini, tapi apa mama sama Via gak nyium bau gosong?", tanya Iyel tiba-tiba

Sontak saja hal itu membuat mama segera melepas dekapannya dan bergegas menuju kompornya yang masih menyala. Dan dapat dipastikan betapa paniknya wanita parubaya itu.

"ya ampun"

"makan malam kita gosong, aduh gimana nih? Yel, Vi?", lanjut mama

"hahaha, mama ada ada aja", tawa Iyel lepas

"ish kamu itu", cubit mama

"aduh duh, sakit ma. Yaudah gini aja, daripada mama masak lagi. Mendingan kita ke resto aja, ma. Sekalian ngerayain Via yang udah bisa jalan", seru Iyel

"Via setuju, ayolah ma. Ini kan cuma sekali aja, please"

"iya iya, mau gimana lagi. Yasudah, ayo kita ke resto terdekat", ajak mama -akhirnya-

Selama perjalanan, Sivia menceritakan semuanya. Mulai dari dirinya yang diganggu oleh Dayat dan Sion, sampai dengan Duto yang datang dan Sivia meninggalkannya. Bahkan ia pun juga menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Alvin. Mama dan Iyel juga menatap Sivia fokus, seakan tak ingin kehilangan setitik dari cerita gadis itu. Perempuan penyuka warna pink ini telah berubah, begitulah yang dipikirkan Iyel dan mama. Dia bukanlah anak perempuan yang diam dan sensitif, kini dia telah menjelma menjadi Sivia yang ceria dan penuh semangat.

"Duto yang ngelakuin itu ke kamu? Wah, harus di kasih pelajaran tuh anak", komen Iyel

"udahlah kak, yang penting Via baik-baik aja. Iya kan, ma?"

"iya. Tapi Vi, Alvin itu siapa ya? Kok mama baru denger?"

"dia itu temen aku ma, nanti deh kapan-kapan aku cerita ke mama"

Dan momen ini pun berlangsung hangat, walau tanpa kehadiran papa sekalipun.

***

Kicauan burung terdengar saling bersahutan menyambut sang surya yang akan segera menunaikan tugasnya. Berbeda jauh sekali dengan lelaki berparas oriental ini. Pukul sudah menunjukkan angka 06.00, tapi dia masih saja memejamkan matanya dan enggan untuk membukanya -sedikit saja-.

"Alvin! Woy bangun woy!", teriak Tania di telinga Alvin

"aduh Vin, bangun woy! Udah jam enam nih", kini sembari menarik selimutnya

"bodo ah kak, Alvin ngantuk tau!", gerutunya yang masih memejamkan matanya

"bangun sipit, bangun", untuk gerakan yang terakhir, tubuh kurus itu hingga

GUBRAAAKKK!!!

"aw ... ", lirih Alvin sambil mengusap-usap tubuhnya yang terjatuh

"nah, udah bangun kan? Dasar sipit! Udah sana, mandi", perintah Tania yang langsung berlalu

"sipit? Kalo gue sipit, elo apanya kak? Sumpit? Huh, sesama sipit dilarang saling mendahulukan", gerutu Alvin

"Alvin, kakak denger itu!", teriak Tania dari kejauhan

Spontan saja Alvin bangkit berdiri, lalu terbirit-birit menuju kamar mandi. Takut Tania datang dan kembali menerkamnya.

"Alvin!", panggil Tania selang beberapa waktu menit dari bawah

"iya bentar", sahut Alvin yang sibuk memasang dasi dan ikat pinggangnya sambil menuruni anak tangga

"kakak tunggu di mobil ya", ujarnya meninggalkan adik dan ibunya

"semuanya udah ibu masukin, bekal sama susunya juga udah. Obatnya itu ada di bagian tengah, seperti biasa", pesan ibu sambil membantu anaknya mengenakan tas

Aneh memang, bahkan terlalu aneh untuk remaja kelas tiga SMA seperti Alvin. Manja. Tapi itulah Alvin, anak semata wayang yang kini menjadi bungsu dari tiga bersaudara. Dia memang selalu dimanjakan oleh ibunya. Karena bagi beliau, ia adalah sosok yang begitu mirip dengan suaminya.

"Alvin berangkat ya, bu", pamitnya mencium tangan kanan ibu

"makasih bu, maafin sikap Alvin yang kemarin bu. Alvin nyesel", lanjutnya dengan mendekap wanita muda yang telah melahirkannya itu erat

"mau bagaimana pun si anak bersikap, seorang ibu pasti selalu menyayanginya. Kenapa? Karena bagi seorang ibu, anak adalah yang melebihi emas, perak, dan permata sekalipun. Dan itulah Alvin di mata ibu"

"jadi sekarang bergegaslah, kak Tania pasti udah nunggu kamu", lanjut ibu melepas dekapannya

"itu baru jagoan!", salut Tania sambil membukakan pintu(?) mobil bagi Alvin

Perjalanan dari rumah menuju sekolah cukup lancar. Mengingat waktu telah menunjukkan setengah tujuh kurang beberapa menit, jalan masih sepi dari pelbagai kendaraan yang biasa menghiasinya. Untuk memanfaatkan waktu, Alvin sarapan di dalam mobil serta meminum obatnya. Sampai akhirnya mobil hitam yang hanya dua kali digunakan Alvin itu berhenti di tengah jalan. Tepatnya di tikungan SMA Jakarta.

"lho kak? Mobil Alvin kenapa? Wah parah! Ini baru dua kali dipake, masa udah rusak gini sih?", kesal Alvin

"aduh duh, sakit tau kak! Bukannya minta maaf malah nyubit lagi", kesalnya sambil mengelus lengan

"abisnya kamu aneh! Yang sekarang harus kamu pikirin itu, gimana caranya kamu sampai ke sekolah tanpa terlambat. Bukannya malah ... "

"sekolah? Astaga, ini jam berapa kak?", potong si adik panik

"setengah tujuh"

"hah?", teriak Alvin

"lho kamu mau kemana?", tanyanya pada Alvin yang bergegas keluar dari mobil

"Alvin mau lari sampe sekolah, kak"

"hah? Ta ta tapi Vin, nanti kamu bisa ... "

Tania mengatupkan mulutnya, sambil menatap lesatan sang adik. Seraya berdoa supaya Alvin akan baik-baik saja. Di lain sisi, lelaki berkulit putih langsat itu pun berlari mengejar jarum jam yang akan melewati kata setengah tujuh. Untung saja penyakitnya bukan kelainan jantung, kalau iya? Wah tak dapat dibayangkan betapa menderitanya dia.

"lho Alvin? Kamu?", bingung pak satpam pada si ketos yang dengan gesitnya melewati gerbang yang nyaris tertutup

"maaf pak"

Dengan napas yang tersenggal-senggal, ia menghampiri meja piket. Namun bukannya melapor, Alvin malah menatap sosok gadis yang tengah duduk membelakanginya sambil menatap tanaman yang ada disana.

"Alvin?"

"hah? Iya bu?"

"kamu telat?"

"i i iya bu, maaf banget ya bu. Tadi ada kesalahan teknis, bu. Sekarang terserah ibu deh, mau hukum saya kayak gimana"

"eum apa ya? Gak usahlah, Vin. Toh ini baru lewat tiga menit, gak nyampe lima menit"

"yah, masa gitu bu? Nanti kalo yang lain tau gimana?"

"yasudah, begini aja. Hukuman kamu adalah mengantar gadis itu menuju kelasnya, dia adalah murid baru disini"

Walau kecewa karena hukuman aneh itu, tapi Alvin tetap melakukannya. Jujur, ini merupakan pertama kali dirinya terlambat. Mengingat posisinya sebagai ketua OSIS, ia selalu berusaha tampil layaknya siswa teladan.

"hai, kenalin gue Al ... Via?", kagetnya saat menatap gadis tadi mengangkat wajahnya lalu menatap Alvin balik

"Alvia? Wah keren! Dapet inspirasi dari mana lo bisa buat nama itu? So sweet"

"hah? Duh, apa banget sih lo itu?"

"kok gue? Elo tuh yang apa-apa, dateng tiba-tiba"

"hem, daripada berdebat mending lo ikut gue", Alvin menarik tangan Sivia keras sampai akhirnya mereka melangkah bergandengan

"aduh sakit Al"

"Al?"

"iya, kan Alvia"

"udah ah, cepet lepasin tangan gue", lanjut Sivia sambil menggoyang-goyangkan tangannya

"oh iya, sorry. Tapi kok lo bisa sekolah disini sih? Wah, elo pasti ngikutin gue kan?"

"ih pede banget lo! Sebelum gue lulus SMP tuh, gue udah pengen banget sekolah disini. Tapi karena gue lumpuh, gue jadi gak bisa sekolah normal disini. And then, look at me! Gue udah bisa jalan, dan gue bisa sekolah disini"

"Alvin? Kamu ngapain disini?", seru Angle (IC 1) sambil memerhatikan kedua tangan Alvin dan Sivia yang menyatu

"hah? Eum sa sa saya ... ", gugup Alvin yang melepas genggamannya begitu saja

"Alvin dihukum untuk nganter saya ke kelas karena ketelatannya, ini hukuman dari bu Zahra, bu", jelas Sivia yang sempat mendengar percakapan di meja piket tadi

"kamu Sivia, ya? Murid baru di kelas XII IPA 3?"

"hah? Sekelas sama gue dong?", batin Alvin

"iya bu"

"yasudah kalo gitu. Alvin dan Sivia, ayo kita ke kelas"

Selalu wali kelas yang menjabat sebagai wali kelas itu, Angle mengantar dua siswa ini menuju kelas yang hanya dihuni oleh dua puluh siswa. Karena begitulah yang dialami oleh setiap kelas di SMA Jakarta. Tanpa menunggu perintah, Alvin segera mendudukan dirinya dengan digiring oleh tatapan bingung siswa lainnya. Sementara Sivia, ia masih setia berdiri di samping Zahra dengan memampangkan senyuman manisnya.

"selamat pagi, hari ini kita kedatangan murid baru. Sivia, silahkan perkenalkan diri kamu", ujar sang walikelas yang disahuti anggukan Sivia

"perkenalkan nama saya, Sivia", singkat jelas padat

"cuma itu?"

"dia gak kasih tau asal sekolahnya?"

"apa dia punya hubungan sama Alvin?"

Terdengar sayupan bisik para siswa. Tapi si dia pun nampak tak peduli dengan semua itu. Dengan senyuman yang masih bertengger, ia menatap satu per satu calon temannya.

"Sivia, silahkan kamu duduk disana"

Perlahan si murid baru menuju arah tunjukkan jari Angle, lalu duduk di kursi yang hanya berjarak dua lantai dari kursi Alvin, di belakang kursi Agni, dan di serong kanan-kiri kursi Rio-Cakka.

"hai gue Agni, salam kenal ya"

***

Ada apa dengan mobil mewah ini? Keputusasaan serta pelbagai macam umpatan telah menguasai hatinya. Bahkan tidak hanya itu, ia juga memikirkan adik tirinya. Kalau sakitnya kambuh, gimana? Kalau dia pingsan di jalan, bagaimana? Pikiran itu serasa berkecambuk ria di tengah mobil yang berlalu lalang. Namun, tak disangka ada sebuah mobil yang cukup familiar bagi Tania berhenti tepat di hadapannya.

"astaga, mobil itu kan ... ", pikir Tania

"hai! Lho, elo?", si empunya mobil pun mengeluarkan ekspresi yang sama

"Gabriel?"

"Tania?"

Tanpa aba-aba, Iyel segera keluar dari mobilnya. Membuka mesin mobil itu, lalu mulai mengeceknya. Sementara itu, Tania hanya memandang lelaki yang baru dikenalnya dua hari yang lalu dengan tatapan tak percaya. Kenapa Tuhan selalu mengirimkan Iyel untuknya? Dulu di bandara, kini di tengah jalan raya. Apa ini maksudNya?

"kayaknya gue gak bisa deh, Ni. Secara jurusan gue itu kan seni rupa, bukan otomotif", ujar Iyel sela beberapa waktu

"yah, terus gimana dong?"

"eum gini aja, mending mobil lo ditinggal. Terus gue telpon bengkel buat ambil mobilnya. Gimana?"

"i i iy, tapi Yel", ragu Tania

"i iya deh", ujar Tania usai menatap Iyel yang terkesan memelas

Iyel tersenyum lalu menarik lengan Tania santai, mungkin seperti sepasang kekasih. Tanpa mereka sadari, ada suatu rasa yang mulai merasuki relung hingga membuat degup jantung terasa lebih kencang. Dan kini, mereka duduk berdua di dalam mobil. Hanya berdua!

***

TENG NONG TENG NONG ... Bunyi bel sekolah telah berbunyi, membuat para siswa maupun siswi berhamburan. Waktu tiga puluh menit istirahat, tak akan mungkin mereka sia-siakan begitu saja. Itu pula yang dilakukan Alvin dkk. Dengan langkah yang santai, mereka menuju kantin. Hal ini wajar saja, mengingat si empat sekawan ini merupakan kumpulan anak-anak tenar di sekolah. Jadi tak dapat dipungkiri, kalau mereka menjadi disegani.

"tunggu!", seru Alvin yang tiba-tiba merentangkan kedua tangannya

"aww", ringis Agni, Rio, dan Cakka layaknya tim paduan suara

"elo kenapa sih, Vin? Aneh banget! Sakit nih pundak gue, gara-gara kepentok tangan kurus lo itu"

"tau lo bro, kenapa sih? Mau ngajakin ribut? Laper woy laper", timpal Cakka gak jelas

"udah udah, Alvin mau jawab tuh", lerai Agni

"tuh liat"

Alvin menunjuk ke arah Sivia, Shilla, dan Duto yang nampak sedang berbincang di pinggir lapangan. Entah apa yang dibicarakan, tapi hal tersebut mampu menghimpun ratusan siswa untuk membuang waktu tiga puluh menit ini demi menyaksikan lakon tiga sosok tadi.

"Vi", Duto mencegah lengan Sivia

"Shill, elo duluan aja ya", suruh Sivia

Sadar akan keinginan sahabatnya, Shilla menurutinya. Ia melangkah sedikit untuk menjauh, memerhatikan tentang hubungan sahabat dan mantan pacar sahabatnya itu. Ya, Shilla tau itu. Dia tau bagaimana rupa tali antara Duto dan Sivia, sejak mereka bertemu bahkan sampai detik ini pun.

"ada apa?", Sivia menatap Duto tak sudi

"maafin aku, Vi", Duto meraih tangan Sivia lembut

"sebelum kamu minta pun, aku udah maafin kamu. Tapi perasaan gak bisa bohong, aku kecewa sama kamu"

"kalo gitu, aku mohon kamu jangan kecewa sama aku"

"aku gak bisa, karena aku gak tau gimana caranya", Sivia melepas kasar pegangan Duto

"Vi, aku mohon", bagai kilat ia menahan tangan yang nyaris berlalu itu

"Duto, aku ... ", ucapannya terhenti

Ada perasaan sedih disana. Kenapa ia harus sekejam ini pada lelaki yang pernah menjadi lentera di hatinya, dulu? Mata itu, wajah itu, bahkan sentuhan tangannya ini tak pernah berubah. Ingin rasanya ia bertahan dan tak berpaling. Tapi apa daya ia tak mampu, rasa kecewa sudah terlanjur melebur dalam desiran emosinya.

"ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku kecewa padanya, tapi apa ini? Mengapa aku tak rela melepasnya", pikir Sivia

"Vi, aku mohon", pinta Duto

"Duto, maaf ... ", untuk kedua kalinya tangan itu terhempas

"Vi, beri aku kesempatan. Sekali ini aja, Vi", Duto menarik Sivia ke dalam dekapannya

PRAAKK!! Dengan penuh amarah, Sivia menampar lelaki itu. Keterlaluan! Beraninya dia memeluk seorang gadis di depan umum, di sekolah!

"tadinya aku kecewa sama kamu, tapi sekarang aku kesel, aku marah, dan aku sangat kecewa sama kamu! Duto, kamu ... argh, entah apa yang ada di pikiran kamu. Tapi aku beri tau, itu salah! Cara kamu kemarin, cara kamu sekarang ... itu salah! Kamu bukan lagi Duto yang aku kenal, kamu Duto yang penuh obsesi. Aku kecewa sama kamu", Sivia berlari menembus kerumunan orang di sekitarnya

Tak peduli betapa banyak pasang mata yang menatapnya, betapa banyak celoteh kasar yang mereka lontarkan. Ia terus berlari. Mencari kesunyian yang setidaknya mampu menyejukkan hatinya.

"hahaha", tawa lepas Alvin yang terdengar begitu menggelegar di tengah keheningan ini

"Duto Duto, kasian banget lo!", Alvin mulai mendekati rivalnya yang diikuti oleh tiga kawannya

"Vin, udah", Agni menahannya

"tenang Ni, gue gak akan ribut kok sama dia"

"keliatannya Sivia marah banget sama lo", lanjut Alvin

"jangan ganggu dia!", gertak Duto

"oow, takut!"

"Vin, ... ", Cakka mengingatkan

"sabar Cak, gue gak bakal lama kok. Eh Duto, yang seharusnya bilang kalimat itu gue bukan lo. Elo sendiri kan yang liat kemarin? Dia lebih milih gue, bukan lo!", sahut Alvin

"gue gak akan nyerah, Vin! Persaingan kita kali ini, pasti akan gue menangin"

"Alvin, cukup!", Rio menarik tangan Alvin dan membawanya kasar

"liat aja nanti, gue yang pasti akan dapetin dia", teriaknya menjauh

HUUU!! Suara para siswa terdengar seperti paduan suara sekolah. Tak disangka pertengkaran sensasional tadi juga menyangkut pada sosok ketua OSIS yang notabennya merupakan rival Duto, si tokoh utama tadi. Mereka berlalu dan berusaha untuk memanfaatkan waktu yang tinggal sepuluh menit lagi. Berbeda dengan Duto. Si waketos ini masih mematung, takut kalau apa yang dikatakan sang rival ialah benar adanya. Mengingat selama ini, dirinyalah yang selalu kalah dan menjadi pecundang.

"Duto", sapa seseorang dengan tangannya di pundak Duto

Bukannya menoleh dan menanggapi sapaan tadi, ia malah melangkah meninggalkan seseorang tadi.

TO BE CONTINUED


part 5 sudah dipost.. bagaimana pendapat kalian?? Yang panggil Duto itu siapa ya?? Monggo ditebak.. hahahaha..
ceritanya ngebingungin ya?? olaaalalaaa~~ maaf bangett yaaa.....

FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D

See You On Next Part

go go follow:  @brendafiona_

mention for follback

Thanks For Read :)


Tidak ada komentar: