"argh, ... ", desah Alvin menyandarkan tubuhnya di
dinding tembok jalan
Sakit tadi masih tersisa dikepalanya, bahkan membuatnya nyaris
kehilangan kesadarannya. Tidak! Ia tak boleh merasa lemah seperti ini! Ibu, kak
Tania, dan orang rumah lainnya pasti sedang mencemaskannya. Perlahan ia mulai
bangkit berdiri, dengan wajah yang tertunduk ia melangkahkan kakinya.
***
"sudah jam 8, tapi dia belum pulang juga. Nia, coba kamu
telpon Alvin", khawatir ibu pada anak laki-lakinya itu
"aku udah telpon, tapi gak aktif bu"
"maaf, aku pulang telat", parau Alvin dari kejauhan
Ibu, papa, dan Tania pun langsung menyambutnya, bangkit
berdiri dari sofa ruang tamu lalu menghampirinya. Dengan perasaan yang sangat
lega, ibu mengelus rambut Alvin. Memeluk tubuh kurus itu dengan rasa yang
tulus. Sementara papa, ia hanya menatap lirih semua itu. Menanti saatnya hingga
ia bisa memperlakukan Alvin seperti itu.
"dasar nyebelin!", desah Tasya yang tadi juga
terpaksa menunggu Alvin
Sebenarnya Tasya juga merasa senang dan lega seperti yang
lainnya, tapi rasa kecewa itu terlalu besar untuk dilawan. Tak ingin terjebak
disituasi ini, Tasya segera menuju kamarnya. Seperti biasa.
"yaudah, kalo gitu kamu mandi dulu yah. Nanti ibu suruh
kak Tania buat anter makanan ke kamar kamu yah", ujar ibu
Tanpa menyahut sepatah kata pun, Alvin melangkahkan kakinya
menuju kamar. Ibu dan yang lainnya hanya memasang tampang pasrah. Alvin belum
berubah, pendiriannya yang seolah-olah tak peduli masih mengental disana.
Sambil sesekali berharap, kalau bocah itu berubah menjadi lelaki yang dewasa
nantinya. Lepas dari itu, Alvin yang sudah membersihkan dirinya, kini tengah
duduk di hadapan cermin dalam kamarnya. Dipandangnya wajah pucat itu
dalam-dalam.
"udah empat belas tahun elo di tubuh gue, ngebuat gue
kesakitan karna perlakuan lo. Tapi jangan harap gue bakal nyerah sama lo! Gue,
Alvin gak akan pernah berhenti buat melawan lo. Inget itu!", gertak Alvin
pada bayangan cerminnya
PROK ... PROK ... PROK, suara tepuk tangan yang malah menjadi
penyahut gertakan tadi. Dan tak lama kemudian, muncullah Tania dengan baki
berisikan makanan dan minuman memasuki kamar bercorak N. B. A itu. Ditaruhnya
baki itu di atas meja kecil, lalu dirangkulnya Alvin dengan kedua tangannya
dari belakang.
"itu baru Alvin yang kakak kenal", serunya
"huh, gak sopan!", lanjut Alvin sambil berbalik dan
memandang Tania
"gak sopan? Kamu tuh yang gak sopan! Memperlakukan ibu
sama papa kayak tadi", omel Tania
"hehe, abis tadi aku lagi bad mood. Kakak sendiri ngapain
kesini?"
"tuh, sesuai perintah ibu", ujarnya sambil menunjuk
baki tadi
Alvin tersenyum, lalu bangkit berdiri.
"tunggu, Vin ... ", Tania menarik tangan Alvin,
membuatnya kembali duduk di posisinya yang semula
"ada apa kak?"
"tadi kamu sakit, kan? Kamu pulang telat gini karna sakit
kamu kambuh kan, Vin?"
"hah? Eum, aku eng ... "
"udahlah Vin, kakak tau itu. Muka kamu yang pucat, baju
kamu yang lusuh. Berhentilah menutupi semua ini Vin, jujurlah sama kakak
tentang apa yang terjadi sama kamu"
"mulai besok, kakak yang akan anter jemput kamu sekolah.
Setidaknya itu akan lebih baik, daripada tiap hari kamu harus naik taksi",
lanjut Tania
"lah? kok jadi gitu sih kak? Kak Tania, aku tuh Alvin
yang udah tujuh belas tahun. Aku udah gede kak, tahun ini aja umur aku bakal
jadi delapan belas tahun", tolak Alvin mentah-mentah
"emang siapa juga yang bilang kamu masih kecil sih, Vin?
Nenek sama anak kecil pun tau kalo kamu udah gede", sahut Tania sambil
mencubit pipi adik tirinya itu gemas
"ish, kakak apa-apaan sih?", gerutu Alvin
"hehe .. kakak tuh ngelakuin semua ini, karena kakak
sayang sama kamu. Kamu tuh istimewa, Alvin!"
"istimewa? Chibi chibi kali, kak"
"kamu itu ya, udah ah kakak males debat sama kamu.
Pokoknya mulai besok, kamu fix dianter jemput sama kakak. Titik!", ujar
Tania yang langsung melangkah keluar kamar Alvin
"males? Bilang aja takut kalah. Dasar kakak nyebelin. Bodo
ah, mendingan juga gue makan. Laper"
Sebenarnya Tania tidaklah pergi, ia masih berdiri sembari
menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar Alvin. Walau samar, didengarnya
gerutu si adik semata wayangnya itu, lalu mengembangkan senyumnya lebar. Alvin
memanglah sosok istimewa untuk Tania, dan mungkin juga untuk semua orang yang
mengenalnya. Karena lelaki chinese itu hadir disaat Tania membutuhkan seorang
teman yang dapat ada disampingnya, jadi saat itu ... Setelah papa dan ibu
menikah, Tania ditinggal Tasya ke rumah oma. Tasya tinggal selama beberapa
tahun disana. Dan akhirnya Alvin hadir sebagai bocah ceria, yang mampu
meramaikan suasana rumah saat itu.
***
Wajahnya sungguh berbinar-binar, sama persis seperti mata
bulatnya yang bersinar. Pipi chubby nya merona bahagia, membuat warna merah
menghiasinya. Sivia, itulah dia. Sebelum memasuki rumah, ia tarik napasnya
dalam-dalam. 'mereka pasti seneng', pikirnya. Usai itu, ia segera memantapkan
langkahnya untuk memasuki rumah bertipe minimalis itu. Namun belum sampai ia
membuka pintu, muncullah sosok lelaki dari balik sana.
"Sivia, kemana aja kamu? Kakak jemput, kamunya gak ada.
Terus kamu kok baru pulang jam segini? Kamu tau gak sih, dari tadi tuh kakak
sama mama panik nyariin kamu. Malah tadi mama hampir aja mau telpon papa. Lho
Vi, kamu kok ... ", takjub Iyel diakhir pertanyaan bertubi itu
"kakak udah ngomongnya? Aduh kak Iyel ini yah, hehe. Maaf
ya kak, aku pulangnya telat. Tapi gimana pendapat kakak? Aku tambah cantik
kan?", tanya Sivia sambil menunjukkan kakinya
"ta ta tapi kok kamu bisa, Vi?"
"enggak tau kak, aku juga bingung"
"ya ampun Vi, ini beneran kan? Kakak lagi gak mimpi
kan?"
"aduh, sakit tau Vi", sahut Iyel usai Sivia menoyor
kepalanya
"nah, berarti ini bukan mimpi kak"
"dasar nyebelin kamu, Vi! Oh iya, ayo kita masuk. Mama
pasti seneng banget, dan papa juga harus tau soal ini Vi", ajak Iyel
Kini kedua bersaudara itu berjalan menuju dapur, tempat mama
mereka berada.
"mama!", seru Sivia
"Via? Kamu? Bagaimana bisa?", ujar sang mama tak
percaya
Untuk mengelakan rasa tak percaya itu, Sivia berlari mendekap
mama tercinta. Tak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut mereka, hanya
ada air mata yang mengalir tulus di wajah mereka. Akhirnya semua selesai dengan
hasil yang memuaskan. Perjuangan selama tujuh belas tahun lalu, telah berbuah
manis. Tuhan baik, dan selalu begitu. Dia pasti akan menyediakan rencana indah
dalam hidup umatNya.
"ehem, maaf banget. Bukan bermaksud merusak momen indah
ini, tapi apa mama sama Via gak nyium bau gosong?", tanya Iyel tiba-tiba
Sontak saja hal itu membuat mama segera melepas dekapannya dan
bergegas menuju kompornya yang masih menyala. Dan dapat dipastikan betapa paniknya
wanita parubaya itu.
"ya ampun"
"makan malam kita gosong, aduh gimana nih? Yel,
Vi?", lanjut mama
"hahaha, mama ada ada aja", tawa Iyel lepas
"ish kamu itu", cubit mama
"aduh duh, sakit ma. Yaudah gini aja, daripada mama masak
lagi. Mendingan kita ke resto aja, ma. Sekalian ngerayain Via yang udah bisa
jalan", seru Iyel
"Via setuju, ayolah ma. Ini kan cuma sekali aja,
please"
"iya iya, mau gimana lagi. Yasudah, ayo kita ke resto
terdekat", ajak mama -akhirnya-
Selama perjalanan, Sivia menceritakan semuanya. Mulai dari
dirinya yang diganggu oleh Dayat dan Sion, sampai dengan Duto yang datang dan
Sivia meninggalkannya. Bahkan ia pun juga menceritakan bagaimana pertemuannya
dengan Alvin. Mama dan Iyel juga menatap Sivia fokus, seakan tak ingin
kehilangan setitik dari cerita gadis itu. Perempuan penyuka warna pink ini
telah berubah, begitulah yang dipikirkan Iyel dan mama. Dia bukanlah anak
perempuan yang diam dan sensitif, kini dia telah menjelma menjadi Sivia yang
ceria dan penuh semangat.
"Duto yang ngelakuin itu ke kamu? Wah, harus di kasih
pelajaran tuh anak", komen Iyel
"udahlah kak, yang penting Via baik-baik aja. Iya kan,
ma?"
"iya. Tapi Vi, Alvin itu siapa ya? Kok mama baru
denger?"
"dia itu temen aku ma, nanti deh kapan-kapan aku cerita
ke mama"
Dan momen ini pun berlangsung hangat, walau tanpa kehadiran
papa sekalipun.
***
Kicauan burung terdengar saling bersahutan menyambut sang
surya yang akan segera menunaikan tugasnya. Berbeda jauh sekali dengan lelaki
berparas oriental ini. Pukul sudah menunjukkan angka 06.00, tapi dia masih saja
memejamkan matanya dan enggan untuk membukanya -sedikit saja-.
"Alvin! Woy bangun woy!", teriak Tania di telinga
Alvin
"aduh Vin, bangun woy! Udah jam enam nih", kini
sembari menarik selimutnya
"bodo ah kak, Alvin ngantuk tau!", gerutunya yang
masih memejamkan matanya
"bangun sipit, bangun", untuk gerakan yang terakhir,
tubuh kurus itu hingga
GUBRAAAKKK!!!
"aw ... ", lirih Alvin sambil mengusap-usap tubuhnya
yang terjatuh
"nah, udah bangun kan? Dasar sipit! Udah sana,
mandi", perintah Tania yang langsung berlalu
"sipit? Kalo gue sipit, elo apanya kak? Sumpit? Huh,
sesama sipit dilarang saling mendahulukan", gerutu Alvin
"Alvin, kakak denger itu!", teriak Tania dari
kejauhan
Spontan saja Alvin bangkit berdiri, lalu terbirit-birit menuju
kamar mandi. Takut Tania datang dan kembali menerkamnya.
"Alvin!", panggil Tania selang beberapa waktu menit
dari bawah
"iya bentar", sahut Alvin yang sibuk memasang dasi
dan ikat pinggangnya sambil menuruni anak tangga
"kakak tunggu di mobil ya", ujarnya meninggalkan
adik dan ibunya
"semuanya udah ibu masukin, bekal sama susunya juga udah.
Obatnya itu ada di bagian tengah, seperti biasa", pesan ibu sambil
membantu anaknya mengenakan tas
Aneh memang, bahkan terlalu aneh untuk remaja kelas tiga SMA
seperti Alvin. Manja. Tapi itulah Alvin, anak semata wayang yang kini menjadi
bungsu dari tiga bersaudara. Dia memang selalu dimanjakan oleh ibunya. Karena
bagi beliau, ia adalah sosok yang begitu mirip dengan suaminya.
"Alvin berangkat ya, bu", pamitnya mencium tangan
kanan ibu
"makasih bu, maafin sikap Alvin yang kemarin bu. Alvin
nyesel", lanjutnya dengan mendekap wanita muda yang telah melahirkannya
itu erat
"mau bagaimana pun si anak bersikap, seorang ibu pasti
selalu menyayanginya. Kenapa? Karena bagi seorang ibu, anak adalah yang
melebihi emas, perak, dan permata sekalipun. Dan itulah Alvin di mata ibu"
"jadi sekarang bergegaslah, kak Tania pasti udah nunggu
kamu", lanjut ibu melepas dekapannya
"itu baru jagoan!", salut Tania sambil membukakan
pintu(?) mobil bagi Alvin
Perjalanan dari rumah menuju sekolah cukup lancar. Mengingat
waktu telah menunjukkan setengah tujuh kurang beberapa menit, jalan masih sepi
dari pelbagai kendaraan yang biasa menghiasinya. Untuk memanfaatkan waktu,
Alvin sarapan di dalam mobil serta meminum obatnya. Sampai akhirnya mobil hitam
yang hanya dua kali digunakan Alvin itu berhenti di tengah jalan. Tepatnya di
tikungan SMA Jakarta.
"lho kak? Mobil Alvin kenapa? Wah parah! Ini baru dua
kali dipake, masa udah rusak gini sih?", kesal Alvin
"aduh duh, sakit tau kak! Bukannya minta maaf malah
nyubit lagi", kesalnya sambil mengelus lengan
"abisnya kamu aneh! Yang sekarang harus kamu pikirin itu,
gimana caranya kamu sampai ke sekolah tanpa terlambat. Bukannya malah ...
"
"sekolah? Astaga, ini jam berapa kak?", potong si
adik panik
"setengah tujuh"
"hah?", teriak Alvin
"lho kamu mau kemana?", tanyanya pada Alvin yang
bergegas keluar dari mobil
"Alvin mau lari sampe sekolah, kak"
"hah? Ta ta tapi Vin, nanti kamu bisa ... "
Tania mengatupkan mulutnya, sambil menatap lesatan sang adik.
Seraya berdoa supaya Alvin akan baik-baik saja. Di lain sisi, lelaki berkulit
putih langsat itu pun berlari mengejar jarum jam yang akan melewati kata
setengah tujuh. Untung saja penyakitnya bukan kelainan jantung, kalau iya? Wah
tak dapat dibayangkan betapa menderitanya dia.
"lho Alvin? Kamu?", bingung pak satpam pada si ketos
yang dengan gesitnya melewati gerbang yang nyaris tertutup
"maaf pak"
Dengan napas yang tersenggal-senggal, ia menghampiri meja
piket. Namun bukannya melapor, Alvin malah menatap sosok gadis yang tengah
duduk membelakanginya sambil menatap tanaman yang ada disana.
"Alvin?"
"hah? Iya bu?"
"kamu telat?"
"i i iya bu, maaf banget ya bu. Tadi ada kesalahan
teknis, bu. Sekarang terserah ibu deh, mau hukum saya kayak gimana"
"eum apa ya? Gak usahlah, Vin. Toh ini baru lewat tiga
menit, gak nyampe lima menit"
"yah, masa gitu bu? Nanti kalo yang lain tau
gimana?"
"yasudah, begini aja. Hukuman kamu adalah mengantar gadis
itu menuju kelasnya, dia adalah murid baru disini"
Walau kecewa karena hukuman aneh itu, tapi Alvin tetap
melakukannya. Jujur, ini merupakan pertama kali dirinya terlambat. Mengingat
posisinya sebagai ketua OSIS, ia selalu berusaha tampil layaknya siswa teladan.
"hai, kenalin gue Al ... Via?", kagetnya saat
menatap gadis tadi mengangkat wajahnya lalu menatap Alvin balik
"Alvia? Wah keren! Dapet inspirasi dari mana lo bisa buat
nama itu? So sweet"
"hah? Duh, apa banget sih lo itu?"
"kok gue? Elo tuh yang apa-apa, dateng tiba-tiba"
"hem, daripada berdebat mending lo ikut gue", Alvin
menarik tangan Sivia keras sampai akhirnya mereka melangkah bergandengan
"aduh sakit Al"
"Al?"
"iya, kan Alvia"
"udah ah, cepet lepasin tangan gue", lanjut Sivia
sambil menggoyang-goyangkan tangannya
"oh iya, sorry. Tapi kok lo bisa sekolah disini sih? Wah,
elo pasti ngikutin gue kan?"
"ih pede banget lo! Sebelum gue lulus SMP tuh, gue udah
pengen banget sekolah disini. Tapi karena gue lumpuh, gue jadi gak bisa sekolah
normal disini. And then, look at me! Gue udah bisa jalan, dan gue bisa sekolah
disini"
"Alvin? Kamu ngapain disini?", seru Angle (IC 1)
sambil memerhatikan kedua tangan Alvin dan Sivia yang menyatu
"hah? Eum sa sa saya ... ", gugup Alvin yang melepas
genggamannya begitu saja
"Alvin dihukum untuk nganter saya ke kelas karena
ketelatannya, ini hukuman dari bu Zahra, bu", jelas Sivia yang sempat
mendengar percakapan di meja piket tadi
"kamu Sivia, ya? Murid baru di kelas XII IPA 3?"
"hah? Sekelas sama gue dong?", batin Alvin
"iya bu"
"yasudah kalo gitu. Alvin dan Sivia, ayo kita ke
kelas"
Selalu wali kelas yang menjabat sebagai wali kelas itu, Angle
mengantar dua siswa ini menuju kelas yang hanya dihuni oleh dua puluh siswa. Karena
begitulah yang dialami oleh setiap kelas di SMA Jakarta. Tanpa menunggu
perintah, Alvin segera mendudukan dirinya dengan digiring oleh tatapan bingung
siswa lainnya. Sementara Sivia, ia masih setia berdiri di samping Zahra dengan
memampangkan senyuman manisnya.
"selamat pagi, hari ini kita kedatangan murid baru.
Sivia, silahkan perkenalkan diri kamu", ujar sang walikelas yang disahuti
anggukan Sivia
"perkenalkan nama saya, Sivia", singkat jelas padat
"cuma itu?"
"dia gak kasih tau asal sekolahnya?"
"apa dia punya hubungan sama Alvin?"
Terdengar sayupan bisik para siswa. Tapi si dia pun nampak tak
peduli dengan semua itu. Dengan senyuman yang masih bertengger, ia menatap satu
per satu calon temannya.
"Sivia, silahkan kamu duduk disana"
Perlahan si murid baru menuju arah tunjukkan jari Angle, lalu
duduk di kursi yang hanya berjarak dua lantai dari kursi Alvin, di belakang
kursi Agni, dan di serong kanan-kiri kursi Rio-Cakka.
"hai gue Agni, salam kenal ya"
***
Ada apa dengan mobil mewah ini? Keputusasaan serta pelbagai
macam umpatan telah menguasai hatinya. Bahkan tidak hanya itu, ia juga
memikirkan adik tirinya. Kalau sakitnya kambuh, gimana? Kalau dia pingsan di
jalan, bagaimana? Pikiran itu serasa berkecambuk ria di tengah mobil yang
berlalu lalang. Namun, tak disangka ada sebuah mobil yang cukup familiar bagi
Tania berhenti tepat di hadapannya.
"astaga, mobil itu kan ... ", pikir Tania
"hai! Lho, elo?", si empunya mobil pun mengeluarkan
ekspresi yang sama
"Gabriel?"
"Tania?"
Tanpa aba-aba, Iyel segera keluar dari mobilnya. Membuka mesin
mobil itu, lalu mulai mengeceknya. Sementara itu, Tania hanya memandang lelaki
yang baru dikenalnya dua hari yang lalu dengan tatapan tak percaya. Kenapa
Tuhan selalu mengirimkan Iyel untuknya? Dulu di bandara, kini di tengah jalan
raya. Apa ini maksudNya?
"kayaknya gue gak bisa deh, Ni. Secara jurusan gue itu
kan seni rupa, bukan otomotif", ujar Iyel sela beberapa waktu
"yah, terus gimana dong?"
"eum gini aja, mending mobil lo ditinggal. Terus gue
telpon bengkel buat ambil mobilnya. Gimana?"
"i i iy, tapi Yel", ragu Tania
"i iya deh", ujar Tania usai menatap Iyel yang
terkesan memelas
Iyel tersenyum lalu menarik lengan Tania santai, mungkin
seperti sepasang kekasih. Tanpa mereka sadari, ada suatu rasa yang mulai
merasuki relung hingga membuat degup jantung terasa lebih kencang. Dan kini,
mereka duduk berdua di dalam mobil. Hanya berdua!
***
TENG NONG TENG NONG ... Bunyi bel sekolah telah berbunyi,
membuat para siswa maupun siswi berhamburan. Waktu tiga puluh menit istirahat,
tak akan mungkin mereka sia-siakan begitu saja. Itu pula yang dilakukan Alvin
dkk. Dengan langkah yang santai, mereka menuju kantin. Hal ini wajar saja,
mengingat si empat sekawan ini merupakan kumpulan anak-anak tenar di sekolah.
Jadi tak dapat dipungkiri, kalau mereka menjadi disegani.
"tunggu!", seru Alvin yang tiba-tiba merentangkan
kedua tangannya
"aww", ringis Agni, Rio, dan Cakka layaknya tim
paduan suara
"elo kenapa sih, Vin? Aneh banget! Sakit nih pundak gue,
gara-gara kepentok tangan kurus lo itu"
"tau lo bro, kenapa sih? Mau ngajakin ribut? Laper woy
laper", timpal Cakka gak jelas
"udah udah, Alvin mau jawab tuh", lerai Agni
"tuh liat"
Alvin menunjuk ke arah Sivia, Shilla, dan Duto yang nampak
sedang berbincang di pinggir lapangan. Entah apa yang dibicarakan, tapi hal
tersebut mampu menghimpun ratusan siswa untuk membuang waktu tiga puluh menit
ini demi menyaksikan lakon tiga sosok tadi.
"Vi", Duto mencegah lengan Sivia
"Shill, elo duluan aja ya", suruh Sivia
Sadar akan keinginan sahabatnya, Shilla menurutinya. Ia
melangkah sedikit untuk menjauh, memerhatikan tentang hubungan sahabat dan
mantan pacar sahabatnya itu. Ya, Shilla tau itu. Dia tau bagaimana rupa tali
antara Duto dan Sivia, sejak mereka bertemu bahkan sampai detik ini pun.
"ada apa?", Sivia menatap Duto tak sudi
"maafin aku, Vi", Duto meraih tangan Sivia lembut
"sebelum kamu minta pun, aku udah maafin kamu. Tapi
perasaan gak bisa bohong, aku kecewa sama kamu"
"kalo gitu, aku mohon kamu jangan kecewa sama aku"
"aku gak bisa, karena aku gak tau gimana caranya",
Sivia melepas kasar pegangan Duto
"Vi, aku mohon", bagai kilat ia menahan tangan yang
nyaris berlalu itu
"Duto, aku ... ", ucapannya terhenti
Ada perasaan sedih disana. Kenapa ia harus sekejam ini pada
lelaki yang pernah menjadi lentera di hatinya, dulu? Mata itu, wajah itu,
bahkan sentuhan tangannya ini tak pernah berubah. Ingin rasanya ia bertahan dan
tak berpaling. Tapi apa daya ia tak mampu, rasa kecewa sudah terlanjur melebur
dalam desiran emosinya.
"ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku kecewa padanya,
tapi apa ini? Mengapa aku tak rela melepasnya", pikir Sivia
"Vi, aku mohon", pinta Duto
"Duto, maaf ... ", untuk kedua kalinya tangan itu
terhempas
"Vi, beri aku kesempatan. Sekali ini aja, Vi", Duto
menarik Sivia ke dalam dekapannya
PRAAKK!! Dengan penuh amarah, Sivia menampar lelaki itu.
Keterlaluan! Beraninya dia memeluk seorang gadis di depan umum, di sekolah!
"tadinya aku kecewa sama kamu, tapi sekarang aku kesel,
aku marah, dan aku sangat kecewa sama kamu! Duto, kamu ... argh, entah apa yang
ada di pikiran kamu. Tapi aku beri tau, itu salah! Cara kamu kemarin, cara kamu
sekarang ... itu salah! Kamu bukan lagi Duto yang aku kenal, kamu Duto yang
penuh obsesi. Aku kecewa sama kamu", Sivia berlari menembus kerumunan
orang di sekitarnya
Tak peduli betapa banyak pasang mata yang menatapnya, betapa
banyak celoteh kasar yang mereka lontarkan. Ia terus berlari. Mencari kesunyian
yang setidaknya mampu menyejukkan hatinya.
"hahaha", tawa lepas Alvin yang terdengar begitu
menggelegar di tengah keheningan ini
"Duto Duto, kasian banget lo!", Alvin mulai
mendekati rivalnya yang diikuti oleh tiga kawannya
"Vin, udah", Agni menahannya
"tenang Ni, gue gak akan ribut kok sama dia"
"keliatannya Sivia marah banget sama lo", lanjut
Alvin
"jangan ganggu dia!", gertak Duto
"oow, takut!"
"Vin, ... ", Cakka mengingatkan
"sabar Cak, gue gak bakal lama kok. Eh Duto, yang
seharusnya bilang kalimat itu gue bukan lo. Elo sendiri kan yang liat kemarin?
Dia lebih milih gue, bukan lo!", sahut Alvin
"gue gak akan nyerah, Vin! Persaingan kita kali ini,
pasti akan gue menangin"
"Alvin, cukup!", Rio menarik tangan Alvin dan
membawanya kasar
"liat aja nanti, gue yang pasti akan dapetin dia",
teriaknya menjauh
HUUU!! Suara para siswa terdengar seperti paduan suara
sekolah. Tak disangka pertengkaran sensasional tadi juga menyangkut pada sosok
ketua OSIS yang notabennya merupakan rival Duto, si tokoh utama tadi. Mereka
berlalu dan berusaha untuk memanfaatkan waktu yang tinggal sepuluh menit lagi.
Berbeda dengan Duto. Si waketos ini masih mematung, takut kalau apa yang
dikatakan sang rival ialah benar adanya. Mengingat selama ini, dirinyalah yang
selalu kalah dan menjadi pecundang.
"Duto", sapa seseorang dengan tangannya di pundak
Duto
Bukannya menoleh dan menanggapi sapaan tadi, ia malah
melangkah meninggalkan seseorang tadi.
TO BE CONTINUED
ceritanya ngebingungin ya?? olaaalalaaa~~ maaf bangett yaaa.....
FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar