From: _My Girl_
sorry boy! Maafin aku
To: _My Girl_
what do you say?
From: _My Girl_
aku
akan bertunangan dalam minggu ini. Mami sama papi yang jodohin aku sama
calonku itu. Aku udah menolaknya, tapi ... maafkan aku
To: _My Girl_
sudahlah,
ini bukan salahmu. Dari awal, akulah yang salah. Tak pantas, bila
seorang laki-laki meninggalkan wanita yang luar biasa sepertimu untuk
menunggu. Aku harap, kamu bisa membuka lembaran baru bersamanya
From: _My Girl_
love you
To: _My Girl_
love you too, sweatheart
Dan
semenjak itu, tak ada komunikasi apapun hingga detik ini. Iyel memang
sudah mengetahui ini sejak awal. Sejak orangtua Pricilla yang terkesan
tidak menyukainya, karena telah meninggalkan anak perempuannya begitu
saja. Tapi apa boleh buat, Tuhan pasti memiliki rencana yang jauh lebih
baik. Lima tahun bersamanya memanglah jauh berbeda dengan dua tahun
tanpa sosoknya. Dan kini, Tania hadir dengan caranya yang istimewa. Tak
sadar, dirinya yang polos mampu untuk menyapu bayangan Pricilla.
Perbedaan satu tahun diantara mereka, itulah yang membuat Iyel sadar
kalau Tania adalah pribadi yang harus ia jaga. Mungkinkah lebih dari
itu? Ah, biar Tuhan sajalah yang menjawab, lewat aluran sang waktu yang
kian melaju.
***
Keadaannya
sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.Walau hanya seulas, namun senyum
itu dapat mengembang tenang dalam wajahnya.Langkahnya yang tegap, serta
genggaman tangannya yang lembut. Hal inilah yangmembuat Sivia takjub
akan diri manusia yang satu ini. Ya, Sivia menyukai Alvin.Alasannya?
Begitu banyak nuansa baru nan berwarna yang menggema dalam dirinyasaat
berhadapan dengan Alvin. Satu diantaranya, ialah karena Sivia mau
menjadisosok yang berarti bagi Alvin. Bagi sisa hidup serta desahan
napas laki-lakitampan itu.
Meski canggung, karena ini
adalah kali pertamanyadia menggandeng seorang gadis yang begitu
istimewa. Gadis yang telah menjelmamenjadi bidadari yang mau menolongnya
saat masa-masa tak mengenakan ituterjadi, gadis yang dulu sempat
membuatnya kesal tujuh keliling.
"kita mau kemana?", tanya Sivia dalamlangkahnya yang sejajar dengan Alvin
"tenang aja", sahut Alvin singkat
Shilla,
Rio, Agni, Cakka, Duto, bahkan semua siswayang lalu lalang di koridor
sekolah menatap Alvin dan Sivia dengan tanda tanyayang begitu besar.
Mereka ... bersama ... lagi? Tapi nampaknya itu hanyalahangin lalu, yang
tak mungkin sanggup meruntuhkan pondasi rasa yang telahdipupuk subur
dalam pikiran serta hati seorang Alvin. Suatu rasa yang biasaorang sebut
dengan kata 'cinta'.
"Masuklah", Alvin membukakan pintu yangdidalamnya terdapat suatu tangga panjang menuju bawah tanah
Perempuan ini terdiam. Apa yang dimaksud Alvin? Apayang mau ia lakukan padanya? Oh Tuhan, lindungilah perempuan yang satu ini!
"jangan takut! Gue bakal ada disisi lo,kok", lagi-lagi ucapannya mampu membuat tenang gejolak dibenak Sivia
Usai
melewati sepersekian waktu, tibalah mereka dihadapan pintu ruangan yang
kelihatannya cukup besar. Masih dengan sikapnya yangtenang, Alvin
merogoh saku celananya lalu membuka pintu tersebut dengan kunciyang
didapatinya.
Ini adalah tempat yang luar biasa! Walau
sedikitberdebu, ini sungguhlah menawan. Apalagi dengan nuansa lampu yang
begitu terangdan cat ruangan yang begitu dirawat secara teratur. Piala
serta piagam berjejerdengan anggunnya. Lukisan, foto-foto, juga prakarya
bidang datar lainnya telahmenempel apik di dinding. Tak hanya itu,
beberapa kaos tim basket jugaterpajang disana. Nama serta nomor punggung
yang sudah tak asing lagi bagiSivia. Tentu saja! Karena dua hal itu
dapat ia temukan sekarang. Nama dan nomorpunggung itu merupakan milik
salah seorang atlet yang kini sudah menyumbangkanbeberapa medali bagi
negeri pertiwi.
"ini gudang sekolah kita"
"gudang yang menyimpan sejuta kebanggaan buatgue dan buat semua orang yang pernah sekolah disini", lanjut Alvin
"gudang? Sebagus ini?", Sivia penasaran-selalu begitu-
Dulu,
barang-barang ini terpampang tegas dalamlemari kaca di depan ruang
guru. Namun dengan seiringnya waktu berjalan,benda-benda hebat itu pun
tersingkirkan oleh hal hebat lainnya. Maka jadilahtempat yang nampak
sungguh luar biasa ini.
"Vi, sebenernya ada satu hal
yang mau guejelasin ke elo", Alvin mendekati Sivia yang memandang lekat
suatu lukisanyang terpajang di sisi kanan
"apa?", Sivia memfokuskan matanya padawajah Alvin
"lukisan
itu. Lukisan yang menggambarkantentang tangan seorang ayah dan tangan
seorang anak yang saling berpegangan, loliat? Tangan yang kuat ini
menempel dengan tangan kecil ini", Alvinmenunjuk-nunjukan lukisan yang
memiliki luas 50 x 30 cm
"lukisan ini dibuat dua tahun
yang lalu, pasgue jadi peserta termuda di festival seni rupa nusantara.
Disana, gue berhasilVi. Gue berhasil buat ibu gue bangga. Gue berhasil
buat sekolah kita lebihdikenal masyarakat. Gue berhasil jadi pemenang
antar pelajar SMAsederajat", cerita Alvin dengan suara yang mulai
melirih
Alvin menarik napasnya panjang. Jujur, ini
bukanlahhal yang mudah! Mengenang kejadian indah itu -mungkin- akan
semakin membuatnyasulit untuk meninggalkannya. Mau bagaimana pun, ia
harus melakukannya. Demimenjawab semua pertanyaan si cinta pertamanya
itu.
"selain lukisan ini, masih ada lukisan sertapiala
dan piagam lainnya. Bahkan disana, di deretan foto itu ada gue. Semua
ituadalah foto ketua OSIS yang berhasil dalam masanya. Awalnya gue
bingung, tapimereka semua .. anggota OSIS bilang gue udah berhasil
mimpin organisasi ini.Dan ini! Kunci gudang ini cuma ada dua. Satu untuk
kepala sekolah dan satuuntuk gue. Hebat kan?", lirihan tadi berubah
menjadi bulir air mata yangtak tertahankan
"mereka,
semua orang bilang gue hebat. Merekaselalu bilang, kalo mereka mau jadi
kayak gue. Mereka juga sering ngaku kalomereka iri sama gue. Mereka
bangga sama gue, Vi"
Hening. Kini Alvin menatap Sivia dengan tanganmereka yang saling menggenggam.
"ini
semua alasan gue, Vi. Alasan yang membuatgue bisa bertahan dengan
kanker otak yang gue derita. Alasan yang membuat guengerahasiain
semuanya"
"gue gak mau, kalo mereka tau semuanya.
Apajadinya kalo mereka tau, si pelukis hebat sekolah, si ketua OSIS, si
tim intibasket, si murid kebanggaan dan idola di sekolah ini adalah
Alvin yangmenderita kanker sejak empat belas tahun yang lalu?"
"gue gak bisa, Vi! Gue gak bisa ngebayanginkalo semua hal itu bener-bener terjadi"
Walau
hanya ada mereka berdua, namun ruangantersebut terasa begitu sesak.
Alvin sakit kanker, itu benar. Bahkan Sivia tausemua alasannya. Disini,
gudang yang penuh dengan sejuta kebanggaan. Sivia danAlvin berdiri
bergandengan, menyiapkan langkah untuk menyambut sang waktu yangmasih
berputar. Istimewa. Gadis menyebalkan itu benar-benar telah menjadi
sosokyang istimewa bagi lelaki ini. Dia merupakan murid -tanpa jabatan
ketua OSIS-satu-satunya yang pernah masuk ke ruangan ini.
***
Masih
dengan tangan yang saling menggandeng, merekamenyusuri tatapan para
siswa. Karena begitu lelah melewati kejadian yangmenguras airmata tadi,
Alvin mengajak Sivia untuk makan di kantin. Lapar. Maubagaimana pun,
Sivia tetap dengan sikapnya yang menggemaskan.
"lho Vin?", tegur Agni saat merekaberpapasan
"elo gak ke ruang kepsek? Tadi ada pengumuman,katanya elo, Duto, sama Rio dipanggil kepsek. Mending lo kesana deh",lanjutnya
Sepintas
Alvin melirik Sivia, meminta tanggapannya.Dania pun menyahut dengan
segaris senyum, yang menandakan tak apa bila ditinggal.
"gue titip Via ya, Ni", pesan Alvin yangsegera berlalu
Agni
memandang gadis yang berada di sebelahnyasecara rinci, ada sesuatu yang
berbeda dengannya. Apa mungkin, Alvin sudahmengatakannya? Membongkar
semua kenyataan besar itu pada seorang murid baru?Tak ingin berpikir
terlalu jauh, ia memutuskan untuk mengajak teman barunya iniduduk
berhadapan di salah satu kursi.
"ada yang mau elo sampein?", Agni langsungto the point
Sivia
diam. Semenjak kejadian tadi, tenggorokannyaterasa kering. Air mata.
Lagi-lagi benda cair itu yang mewakili dirinya untukmenjawab. Agni pun
berbuat yang sama, ia juga mengeluarkan air mata yangsejenis dengan
milik Sivia. Digenggamnya erat telapak tangan itu, salingmenguatkan,
hanya itu yang dapat mereka lakukan. Dulu, lebih tepatnya limatahun yang
lalu. Agni juga merasakan hal yang tidak jauh beda dengan apa yangSivia
rasakan. Sulit dan sungguh memcekit.
"Tuhan pasti punya rencana yang indah buatdia", ujarnya
Sejak
saat ini, Agni dan Sivia meresmikan dirimenjadi sepasang sahabat.
Genggaman yang begitu kuat serta rasa yang samaseakan menjadi materai
antara mereka.
***
Walau tubuhnya
masih terasa begitu lemas, seorangAlvin tetaplah pribadi yang memegang
teguh prinsip tanggung jawabnya sebagaiketua OSIS. Setidaknya ia masih
bisa berlari kecil menuju ruang kepsek.
"telat? haha", ejek Duto saat Alvinmenempatkan diri disebelahnya
"maaf pak, saya terlambat", Alvinmengacuhkannya
"baiklah,
saya akan memulai semuanya", pakkepala sekolah bangkit berdiri lalu
mengeluarkan suatu piala yang berukurancukup besar dengan tulisan 'juara
umum liga basket antar SMA' dari lemari kacadi ruangan itu.
Liga
basket ialah ajang lomba basket yang diadakantiga tahun sekali, dan
memiliki tiga bagian secara garis besarnya. Untukkategori SMP, SMA, dan
Perguruan Tinggi. Dan tiga tahun yang lalu, timkebanggan sekolah ini
berhasil meraih piala yang menjadi rebutan lebih dariseribu sekolah di
seantero nusantara. Kini hal tersebut harus menjadi bebanyang
diperjuangkan oleh Rio dkk.
"Rio, anggaplah ini sebagai
tugas terakhirmusebagai kapten basket di sekolah ini. Begitu juga
kalian berdua. Sebagai rekansatu tim, tolong bantu Mario. Karena kita
hanya memiliki beberapa minggulagi", pesannya
Selain
satu hal tadi, pak kepsek masih menyimpan hallain yang sama pentingnya
dengan tadi. Duto dan Alvin, duo rival ini dimintauntuk bekerja sama
-lagi- untuk kesekian kalinya. Bila sesuai rencana, PENSIuntuk
memperingati hari ulang tahun sekolah akan diadakan pada beberapa
harisetelah liga basket dilaksanakan. "oleh sebab itu, saya meminta pada
kalianberdua. Alvin sebagai ketua OSIS, dan Duto sebagai wakil ketua
OSIS. Bekerjasamalah! Persiapkan proposal dan perencanaan yang paling
terbaik dari kalian.Jadikan acara ini lebih menarik menarik dari tahun
yang lalu", pesannyakembali
Kalo untuk hal seperti ini,
mereka berdua pasti amatsangat kompak dan saling melengkapi. Usai
melakukan pembicaraan yang bisadibilang tertutup ini. Buktinya saja, Rio
yang tadi berada disana keluar demimembahas hal ini. Mereka saling
berjabat tangan tanda setuju. Alvin dan Dutopun melakukan hal yang sama,
bahkan dengan senyum yang tergambar jelas di wajahkeduanya.
"hah", Duto menghempaskan tubuhnya untukbersandar pada dinding bagian luar ruang kepsek
"sekeras
apapun elo usaha, gue yang bakaldapetin dia. Gue bakal jadi lentera
hatinya", kini langkah Alvin terhentidan melirik Duto tajam
"dulugue
emang gak serius sama ucapan gue yang akan ngerebut Via dari lo. Tapi
hariini, sejak beberapa saat yang lalu", Alvin melangkahkan kakinya
mendekat
"gue cinta sama Sivia", bisiknya pelansekali
Mendengar
hal tersebut, mental Duto sungguh terjatuhkeras. Mengapa cinta harus
sesulit ini? Alvin yang melakukan hal itu punmenatap Duto dengan senyum
tipisnya. Dan ... pertarungan yang sesungguhnya akandimulai! Sivia,
bersiaplah!
***
Mobil sport hitam yang sudah tak asing lagi melajudan kemudian berhenti tepat di hadapan dua pelajar SMA ini.
"hai Vi", sapa Tania dari dalam mobil
"hai kak", akhirnya ia mampu untuk bicarakembali
"Vi, gue duluan ya"
"makasih buat semua yang elo lakuin tadi",lanjut Alvin sambil mengupas lembut jemari yang entah sudah berapa kalidigenggamnya
Sivia
yang sudah merasa nyaman dengan perlakuanAlvin tadi, hanya dapat
menampakkan senyum terbaiknya. Hari ini sungguh luar biasa!
"kamu gak mau bareng, Vi?", tawar Tania
"enggak usah kak, aku bareng temen kok"
"oh, oke. Kita duluan ya, Vi. Hati-hati"
Tak
ada air mata, kini hanya senyum yang tiada hentitersungging di
wajahnya. Menambah ungkapan cantik bagi ciptaan Tuhan yang satuini.
Sivia, dia akan berusaha tersenyum mesti terkadang itu sangatlah sulit.
Sela beberapa detik saat mobil itu berlalu,datanglah Shilla yang nampak ngos-ngosan.
"Vi, dia itu siapa? Kok kenal sama lo?",tanyanya yang memang selalu penasaran
"dia itu kakaknya Alvin. Ya biasalah Shill, diaitu kan ...", opss hampir saja Sivia membongkar semuanya
Tidak!
Shilla tidak boleh mengetahuinya. HubunganIyel dan Tania, pastilah akan
membuatnya sakit hati. Dan bila hal itu terjadi,maka persahabatan yang
sudah begitu lama terjalin ini akan bubar seketika. Siviamenarik
napasnya dalam lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling,
berharapdapat menemukan alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Vi ..."
"eum Shill! Kita pulang aja yuk. Udah mau ujankayaknya", Sivia menarik tangan Shilla
Sementara
Shilla, ia bukanlah orang yang dapatdikadali begitu saja. Kalau sudah
penasaran, ia pasti akan menyelidikinya.Apalagi ditambah dengan adegan
Alvin dan Sivia yang bergandengan siang tadi.
***
"papa gak mau tau! Pokoknya, kamu harus jadidokter. Titik!", bentak seorang papa pada anaknya
"tapi aku gak suka, pa. Aku gak mau jadidokter"
"kalo gitu, kamu mau jadi apa? Pemain basket?Pemusik? Itu gak akan ada gunanya"
"Ify? Kenapa papa izinin Ify, tapi akuenggak?"
"kamu dan Ify beda. Kamu, seorang laki-laki.Kamu harus jadi tulang punggung. Jadi dokter, itu yang terbaik!"
"terbaik
untuk papa, kan? Pa, sampe kapan akuharus nurutin semua kemauan papa?
Aku capek, pa. Apa kalo mama masih ada, papabakal ngekang aku?"
"jangan bicara seperti itu!"
"kenapa? Papa takut? Papa takut inget semuakejadian menyenangkan itu?"
"Duto ...", papa melayangkan tangannyapada pipi anaknya itu
"terus pa, terus tampar aku. Aku capek, pa. Akumau cepet-cepet ketemu mama. Ayo pa, tampar aku lagi"
Pertengkaran
itu lagi. Kalau bertemu, pastilahpertengkaran hebat ini terjadi. Papa
yang kesepian karena kepergian mama, iaberusaha keras untuk mengurus
kedua anak kembarnya itu dengan baik. Namun halini dipandang salah oleh
kedua anak itu. Cara papa yang membebaskan Ify danselalu membanggakannya
dengan alasan untuk mendidik Duto menjadi sosok yangkuat dan tegar
dengan cara yang keras, juga caranya yang berusaha membentukDuto sesuai
kehendaknya. Hal tersebut merupakan hal yang sungguh dibenci Duto.
Baginya,papa yang dulu dan sekarang merupakan pribadi yang berbeda. Papa
yang duluadalah papa yang sangat mengasihinya, bahkan mendidiknya
dengan penuh cintakasih. Sementara papa yang sekarang selalu
menamparnya, selalu menolakpendapatnya, selalu memasaknya, dan tak
pernah mempedulikannya.
Suasana riuh tadi berbanding
seratus delapan puluhderajat dengan kamar yang dilengkapi fasilitas
piano ini. Walau sedangberhadapan dengan piano putih kesayangannya, Ify
nampak memandang hujan diluarsana dengan tataran yang sulit diartikan.
Sedih penuh kelirihan, mungkin itulebih tepatnya.
#FlashBackOn#
Hujan
begitu deras. Malam yang sunyi pun terasaramai dengan tetesan airnya.
Pukul 22.00. Namun si kembar kecil ini pun belumberniat untuk tidur.
Alasan mereka sama. Menunggu sang papa yang tak kunjungpulang. Kalau
menurut mama, papa sedang meeting sebentar. Untuk menghibur duaanaknya,
wanita muda itu mengambil suatu buku dongeng yang berjudul"Pinokio".
Walau ini merupakan hal yang baru, tapi Ify dan Dutotampak begitu
semangat menyambutnya.
Tanpa ada hal yang aneh sedikit
pun, mama mulaimembacakan kisah tersebut mulai dari keinginan kakek
Gepetto memiliki seoranganak, sampai akhirnya ia berhenti pada lima
halaman yang terakhir. Entah kenapajantungnya tiba-tiba saja berdetak
tak karuan, membuatnya menjatuhkan bukubergambar itu begitu saja.
"mama haus? Biar Duto ambilin minum ya",Duto beranjak menuju dapur
Ify
tak beranjak sedikit pun, ia masih setiatenggelam dalam dekapan mama.
Menyandarkan kepalanya demi mendengar detakanjantung wanita yang telah
melahirkannya. Ify memandang wajah itu lekat. Mamayang memejamkan
matanya membuat Ify semakin meringkuk dalam posisinya, sampaiakhirnya...
"ma", panggil Ify
"ma ... mama!", teriaknya
Jantung mama sudah tak terdengar. Pelukan hangatnyapun melemah. Tangan, kaki, bahkan sekujur tubuhnya menjadi dingin.
#FlashBackOff#
Seandainya
waktu dua belas tahun yang lalu, dapatterulang kembali. Seandainya papa
gak pulang terlambat. Seandainya Dutomenelpon dokter, bukannya
mengambil minum. Dan seandainya Ify mengerti, iapasti berusaha untuk
menolong mama yang sungguh dicintainya. Tapi mau bagaimanapun juga,
Tuhan berkata lain. Dan Ify yakin, kalau semua ini pasti akan
menjadiindah nantinya.
Mama meninggal karena virus yang
menyerang otaknya.Semua terlambat! Jadi, nyawa beliau tak dapat
ditolong. Menyesal, sedih, tapiya ... itu rencana Tuhan yang paling
baik.
***
Hari ini merupakan hari yang
spesial. Khususnyamalam ini. Itulah yang menyebabkan Tasya, Tania, ibu,
bahkan papa juga parapelayan di rumah ini mondar-mandir, untuk
menyiapkan makan malam istimewa bagisulung dari dua bersaudara ini.
"Tasya, kamu gak usah elap meja ini lagi.Sekarang sudah jam berapa?",
ujar ibu
"jam enam, bu"
"kita makan malamnya jam berapa?"
"jam setengah tujuh, bu"
"kalau gitu cepat mandi dan persiapkan dirikamu!"
Tanpa
menjawab lagi, Tasya menuruti omongan ibu.Sementara ibu yang menjadi
pengatur disinya pun, nampak masih memikirkansesuatu. Padahal hampir
semua persiapan telah dilakukan.
"Tania, apa kamu liat Alvin?"
Alvin! Astaga, dimana bocah itu? Mengapa ia takkunjung terlihat sejak tadi?
"enggak tau, bu. Tania coba cari ke kamarnyaaja ya", Tania bergegas mencari adiknya
Dibalik
itu semua, Alvin nampak duduk di mejabelajarnya. Seperti biasa, ia
mulai menggambar di notebook pemberian Tania.Gambar tentang dirinya dan
Sivia, tangan mereka yang bergandengan. Namun,pensil yang ia gunakan
tiba-tiba terjatuh. Rasa sakit itu melandanya lagi.Argh..! Ini sungguh
menyakitkan.
Kapsul! Dimana kapsul itu? Dengan sekuat
tenaga,Alvin meraba meja belajarnya. Namun tidak ada. Tak menyerah, ia
berusahabangkit berdiri demi menemukan obat pereda rasa sakit itu.
Diatas ranjang,dalam saku jaketnya. Tetap saja tidak ada.
"argh! Sakit!", jeritnya nyaring dengantangan yang terus menarik rambut hitamnya
Tubuhnya
meringkuk dengan bersandar ke tempattidurnya. Dingin dan rasa sakit
luar biasa itu telah tercampur. Hingga padaakhirnya, Alvin tak sanggup!
Ia sudah tak mampu!
Bruukk! Tubuh itu terjatuh, dan
astaga! Kepalanyamembentur meja yang berada tepat disebelah kirinya. Dan
dapatlah dibayangkan,betapa banyaknya darah yang berebut keluar dari
kepala bahkan hidungnya.
"Alvin!", lirih Tania yang segera mendekaptubuh itu
Ibu
yang mendengarnya, segera berlari menuju kamaranak muda itu. Diikuti
oleh papa yang berada di belakangnya. Tanpa menunggulagi, papa segera
memapah tubuh itu ke dalam mobilnya. Mereka pergi ke rumahsakit saat itu
juga. Karena kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padalaki-laki
itu.
Walau tak kalah khawatir, Tania nampak masih berdiridi depan kamar Alvin. Ada seseorang yang harus mendengar penjelasannya.
"lho Ni, yang lainnya ...", pertanyaanTasya terhenti saat matanya melihat baju adiknya yang terkena bercakan darah
"Alvin, kak. Dia sakit, dan papa sama ibu lagibawa dia ke rumah sakit. Maaf kak ... aku juga harus kesana"
Alvin.
Lagi-lagi dirinyalah yang membuat semuanyamenjadi kacau. Entah karena
penyakitnya atau tingkahnya yang menjengkelkan.Buktinya ialah saat ini.
Bila dihitung, mungkin ini sudah yang kesekiankalinya. Anak itu telah
menghancurkan makan malam ini! Makan malam yang sungguhberarti bagi
Tasya.
Dengan penuh kekecewaan, Tasya menatap
kepergianTania. Kini ia sendiri. Dua orang yang sungguh berharga
dihidupnya -papa danTania- lebih memilih orang itu, dibandingkan
dirinya. Alvin. Dia pengacau!Tasya sungguh tak menyukainya!
***
Gadis
ini nampak terus menatap suatu benda yang barusaja ia lihat hari ini,
suatu benda yang dapat membantu orang yang dicintainyabertahan. Bosan
hanya menatap, terkadang ia melempar-lemparkan kapsul itu.Sambil tiduran
pantai di atas sofa, ia mulai merenungkan apa yang terjadi
dalamhidupnya dihari ini.
Semua orang punya kelebihan
dan kekurangan, itulahkeadilan yang paling sederhana. Keadilan sederhana
yang telah dibuat oleh SangMaha Kuasa. Alvin, dia memang anak yang luar
biasa. Ia pun banyak digemari olehremaja seusianya. Tapi siapa sangka,
kalau pemain basket juga ketua OSIS di SMAJakarta itu menderita kanker.
Begitu pula perempuan berpipi chubby ini. Meskitak memiliki suatu
prestasi cemerlang seperti Alvin, tapi dia masih bisa hidupbebas. Tanpa
obat-obatan juga alat medis lainnya. Tuhan itu adil dan sangatbaik!
Lain
Sivia, lain juga kakaknya. Meski berada dalamsatu tempat yang disebut
ruang tamu. Tapi mereka nampak mengacuhkan siaransinetron di layar
televisi, dan begitu asyik dalam pikiran masing-masing.
Tania.
Ah, sepertinya si polos itu telah menjaditrending topic dihatinya.
Tingkahnya yang lugu, hatinya yang tulus, jugasifatnya yang sungguh
baik. Itulah kecantikan yang sesungguhnya dari Tania. Danitulah juga
yang membuat Iyel semakin ingin mendeklarasikan hubungan mereka.Terutama
saat mengenang acara dinner pertama mereka. Suatu makan malam
yangtujuan utamanya ialah untuk waktu luang. Tapi hal tersebutlah yang
malahmemperkokoh hubungan mereka.
Kring.. Kring..!
Ponsel Iyel berdering. Tania.Begitulah tulisan yang terdapat di layar
ponsel berlabel smartphone ini. Apakahini pertanda? Baru saja dikenang,
ia sudah menelpon. "halo?", sapaIyel lembut
"apa?"
"oh iya, iya Ni. Gue kesana sekarang"
"iya, gue bareng Sivia"
"oke, see you"
Wajah yang tadinya memerah karena memikirkan Tania,bertambah merah dengan telepon dari Tania tadi.
"ada apaan sih, kak?", tanya Sivia yangnamanya dibawa-bawa
"Alvin, Vi. Dia masuk rumah sakit"
"kita harus jenguk dia. Jadi sekarang, kamucepet ganti baju ya"
Bukannya
langsung menuruti sang kakak, Sivia malahmematung dan memandang kapsul
itu lirih. Gara-gara kecerobohannya yang lupamengembalikan benda itu
pada pemiliknya, Alvin jadi sakit. Alvin, maafkanlahSivia.
***
Dibalik
semua itu, masih ada Tasya yang kecewa beratsama Alvin. Sendirian, ia
mendudukan dirinya di hadapan meja yang telah penuh sesakdengan berbagai
makanan dan minuman. Dress juga riasan cantik ditubuhnya,hanyalah
penambah rasa kesalnya. Seharusnya ada makan malam yang
menambahkedekatan keluarganya dengan orang yang spesial. Seharusnya
seperti itu! Alvin.Kau pengacau! Kau menyebalkan! Tasya telah mencapai
level yang paling tinggiakan kemarahannya juga kekecewaannya pada adik
tirinya. Tak peduli, Alvin sakitatau tidak. Tsya masih merasakan
semuanya itu.
TING NONG..! Bel rumah berbunyi. Dia,
pastilah sosokitu yang dating. Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus
dilakukan Tasyasekarang?
“hai Sya”, sapa laki-laki bertubuh tinggi itu
“elo kenapa? Murung gitu sih?”, lanjutnya
Argh.!
Mengapa pembantu di rumahnya jadi ikutmenyebalkan seperti Alvin? Kalau
begini, akan semakin mempermudah diamengetahui semuanya.
“Sya, kenapa?”, ia mendudukan dirinya di sebelahTasya -kekasihnya-
“eng … enggak Steve. Aku Cuma … eum aku”, Tasyamenjadi gagap seketika
“ada apa?”, Steve menggenggam tangan Tasya
Itulah
Steve. Dia adalah laki-laki yang mampumembuat Tasya merasa nyaman dalam
caranya. Sikapnya yang romantic seakan telahmenjadi keseharian yang
begitu indah. Tasya mencintai Steve, dan begitulahsebaliknya. Itulah
yang membuat mereka bertahan sampai angka tiga tahun ini,dan semoga saja
akan lebih daripada itu.
Kehangatan Steve, itulah yang
membuat Tasya tak raguuntuk mengeluarkan semua perasaannya setidaknya
itu bisa membuatnya lega. Dan Steve,ia akan selalu setia mendengarkan
setap alunan kata yang keluar dari mulutwanita yang dicintainya.
“jadi,
Alvin … astaga! Alvin adik kamu? Alvin yang …ya ampun Tasya! Kamu harus
bangga, bukan malah marah dan kecewa kayak gini”,nasihat Steve
“kamu gak ngerti, Steve. Aku …”
“dia hebat, Sya! Dia ketua OSIS, tima inti basket,pelukis hebat, dan dia punya banyak fans di sekolah”
“tapi, Steve …”
“bukan hanya murid, Sya Guru pun jadi fansnya. Dia keren,Sya”
“Steve, aku …”
“Sya,
dia hebat! Aku kira Alvin yang selama inikamuceritain ke aku adalah
Alvin yang penyakitan dan gampang nyerah. Tapi sekarangaku tau. Dia
adalah Alvin yang aku latih tim basketnya di sekolah, Alvin yanghebat”,
seakan tak ingin Tasya memberi alas an, Steve terus
membangga-banggakanAlvin yang sungguh hebat dimatanya
“Steve, please! Hentikan semua itu!”
“dia
hebat. Aku gak paksa kamu buat berubah untukmenyayanginya. Tapi
percayalah kalau dia adalah adik dan saudara yang akanmembuatmu bangga”,
pesan Steve
Tasya terdiam. Steve benar, kata-kata yang
iaucapkan. Semuanya itu benar. Kalian tak usah bingung, karena Steve
telah mengetahuinya.Steve tau semuanya dari Tasya yang sudah
mempercayainya sebagai lahan curahanhatinya. Mau tak mau, Tasya mulai
terbawa arus itu. Arus yang bernama kasih saying.Mungkin bukan hal yang
mustahil, bila suatu hari nanti ia akan menjadi orangyang paling setia
menemani Alvin.
“sudahlah. Karena semua ini sudah dibuat denganbaik, ayo kita makan ini bersama”
Dan akhirnya mereka pun larut dalam kebersamaan yangbegitu tenang. Tasya dan Steve. Hanya mereka berdua.
TO BE CONTINUED
aahhhhh~~~
dipost juga yaa akhirnya haha :D
gimana?? tak memuaskan?? hahaha :D
sorry yah, minggu kemaren aku gak ngepost.. tapi doakan saja biar hal itu tak terulang kembali :D wkwk
okeeeeee
,, daripada ngebacot gak jelas, mending pada komen yuuukkk!! satu komen
seribu karakter *loh* hehehe :D #IniCiyusLho :D :D
oh iyaaaa *nepokjidat*
pemeran Steve si pelatih baru itu adalah nama orang yang suka mentionan sama ce Tasya (kalo gak salah)
jadi daripada bingung pilih couple buat ceSya, mending saya pake dia ajaa hehe :D
FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku
gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak,
jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_-
hhehehe :D
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar