Sabtu, 13 April 2013

Lentera Hati *Part 8*

From: _My Girl_
sorry boy! Maafin aku

To: _My Girl_
what do you say?

From: _My Girl_
aku akan bertunangan dalam minggu ini. Mami sama papi yang jodohin aku sama calonku itu. Aku udah menolaknya, tapi ... maafkan aku

To: _My Girl_
sudahlah, ini bukan salahmu. Dari awal, akulah yang salah. Tak pantas, bila seorang laki-laki meninggalkan wanita yang luar biasa sepertimu untuk menunggu. Aku harap, kamu bisa membuka lembaran baru bersamanya

From: _My Girl_
love you

To: _My Girl_
love you too, sweatheart



Dan semenjak itu, tak ada komunikasi apapun hingga detik ini. Iyel memang sudah mengetahui ini sejak awal. Sejak orangtua Pricilla yang terkesan tidak menyukainya, karena telah meninggalkan anak perempuannya begitu saja. Tapi apa boleh buat, Tuhan pasti memiliki rencana yang jauh lebih baik. Lima tahun bersamanya memanglah jauh berbeda dengan dua tahun tanpa sosoknya. Dan kini, Tania hadir dengan caranya yang istimewa. Tak sadar, dirinya yang polos mampu untuk menyapu bayangan Pricilla. Perbedaan satu tahun diantara mereka, itulah yang membuat Iyel sadar kalau Tania adalah pribadi yang harus ia jaga. Mungkinkah lebih dari itu? Ah, biar Tuhan sajalah yang menjawab, lewat aluran sang waktu yang kian melaju.

***


Keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.Walau hanya seulas, namun senyum itu dapat mengembang tenang dalam wajahnya.Langkahnya yang tegap, serta genggaman tangannya yang lembut. Hal inilah yangmembuat Sivia takjub akan diri manusia yang satu ini. Ya, Sivia menyukai Alvin.Alasannya? Begitu banyak nuansa baru nan berwarna yang menggema dalam dirinyasaat berhadapan dengan Alvin. Satu diantaranya, ialah karena Sivia mau menjadisosok yang berarti bagi Alvin. Bagi sisa hidup serta desahan napas laki-lakitampan itu.

Meski canggung, karena ini adalah kali pertamanyadia menggandeng seorang gadis yang begitu istimewa. Gadis yang telah menjelmamenjadi bidadari yang mau menolongnya saat masa-masa tak mengenakan ituterjadi, gadis yang dulu sempat membuatnya kesal tujuh keliling.

"kita mau kemana?", tanya Sivia dalamlangkahnya yang sejajar dengan Alvin

"tenang aja", sahut Alvin singkat

Shilla, Rio, Agni, Cakka, Duto, bahkan semua siswayang lalu lalang di koridor sekolah menatap Alvin dan Sivia dengan tanda tanyayang begitu besar. Mereka ... bersama ... lagi? Tapi nampaknya itu hanyalahangin lalu, yang tak mungkin sanggup meruntuhkan pondasi rasa yang telahdipupuk subur dalam pikiran serta hati seorang Alvin. Suatu rasa yang biasaorang sebut dengan kata 'cinta'.

"Masuklah", Alvin membukakan pintu yangdidalamnya terdapat suatu tangga panjang menuju bawah tanah

Perempuan ini terdiam. Apa yang dimaksud Alvin? Apayang mau ia lakukan padanya? Oh Tuhan, lindungilah perempuan yang satu ini!

"jangan takut! Gue bakal ada disisi lo,kok", lagi-lagi ucapannya mampu membuat tenang gejolak dibenak Sivia

Usai melewati sepersekian waktu, tibalah mereka dihadapan pintu ruangan yang kelihatannya cukup besar. Masih dengan sikapnya yangtenang, Alvin merogoh saku celananya lalu membuka pintu tersebut dengan kunciyang didapatinya.

Ini adalah tempat yang luar biasa! Walau sedikitberdebu, ini sungguhlah menawan. Apalagi dengan nuansa lampu yang begitu terangdan cat ruangan yang begitu dirawat secara teratur. Piala serta piagam berjejerdengan anggunnya. Lukisan, foto-foto, juga prakarya bidang datar lainnya telahmenempel apik di dinding. Tak hanya itu, beberapa kaos tim basket jugaterpajang disana. Nama serta nomor punggung yang sudah tak asing lagi bagiSivia. Tentu saja! Karena dua hal itu dapat ia temukan sekarang. Nama dan nomorpunggung itu merupakan milik salah seorang atlet yang kini sudah menyumbangkanbeberapa medali bagi negeri pertiwi.

"ini gudang sekolah kita"

"gudang yang menyimpan sejuta kebanggaan buatgue dan buat semua orang yang pernah sekolah disini", lanjut Alvin

"gudang? Sebagus ini?", Sivia penasaran-selalu begitu-

Dulu, barang-barang ini terpampang tegas dalamlemari kaca di depan ruang guru. Namun dengan seiringnya waktu berjalan,benda-benda hebat itu pun tersingkirkan oleh hal hebat lainnya. Maka jadilahtempat yang nampak sungguh luar biasa ini.

"Vi, sebenernya ada satu hal yang mau guejelasin ke elo", Alvin mendekati Sivia yang memandang lekat suatu lukisanyang terpajang di sisi kanan

"apa?", Sivia memfokuskan matanya padawajah Alvin

"lukisan itu. Lukisan yang menggambarkantentang tangan seorang ayah dan tangan seorang anak yang saling berpegangan, loliat? Tangan yang kuat ini menempel dengan tangan kecil ini", Alvinmenunjuk-nunjukan lukisan yang memiliki luas 50 x 30 cm

"lukisan ini dibuat dua tahun yang lalu, pasgue jadi peserta termuda di festival seni rupa nusantara. Disana, gue berhasilVi. Gue berhasil buat ibu gue bangga. Gue berhasil buat sekolah kita lebihdikenal masyarakat. Gue berhasil jadi pemenang antar pelajar SMAsederajat", cerita Alvin dengan suara yang mulai melirih

Alvin menarik napasnya panjang. Jujur, ini bukanlahhal yang mudah! Mengenang kejadian indah itu -mungkin- akan semakin membuatnyasulit untuk meninggalkannya. Mau bagaimana pun, ia harus melakukannya. Demimenjawab semua pertanyaan si cinta pertamanya itu.

"selain lukisan ini, masih ada lukisan sertapiala dan piagam lainnya. Bahkan disana, di deretan foto itu ada gue. Semua ituadalah foto ketua OSIS yang berhasil dalam masanya. Awalnya gue bingung, tapimereka semua .. anggota OSIS bilang gue udah berhasil mimpin organisasi ini.Dan ini! Kunci gudang ini cuma ada dua. Satu untuk kepala sekolah dan satuuntuk gue. Hebat kan?", lirihan tadi berubah menjadi bulir air mata yangtak tertahankan

"mereka, semua orang bilang gue hebat. Merekaselalu bilang, kalo mereka mau jadi kayak gue. Mereka juga sering ngaku kalomereka iri sama gue. Mereka bangga sama gue, Vi"

Hening. Kini Alvin menatap Sivia dengan tanganmereka yang saling menggenggam.

"ini semua alasan gue, Vi. Alasan yang membuatgue bisa bertahan dengan kanker otak yang gue derita. Alasan yang membuat guengerahasiain semuanya"

"gue gak mau, kalo mereka tau semuanya. Apajadinya kalo mereka tau, si pelukis hebat sekolah, si ketua OSIS, si tim intibasket, si murid kebanggaan dan idola di sekolah ini adalah Alvin yangmenderita kanker sejak empat belas tahun yang lalu?"

"gue gak bisa, Vi! Gue gak bisa ngebayanginkalo semua hal itu bener-bener terjadi"

Walau hanya ada mereka berdua, namun ruangantersebut terasa begitu sesak. Alvin sakit kanker, itu benar. Bahkan Sivia tausemua alasannya. Disini, gudang yang penuh dengan sejuta kebanggaan. Sivia danAlvin berdiri bergandengan, menyiapkan langkah untuk menyambut sang waktu yangmasih berputar. Istimewa. Gadis menyebalkan itu benar-benar telah menjadi sosokyang istimewa bagi lelaki ini. Dia merupakan murid -tanpa jabatan ketua OSIS-satu-satunya yang pernah masuk ke ruangan ini.

***

Masih dengan tangan yang saling menggandeng, merekamenyusuri tatapan para siswa. Karena begitu lelah melewati kejadian yangmenguras airmata tadi, Alvin mengajak Sivia untuk makan di kantin. Lapar. Maubagaimana pun, Sivia tetap dengan sikapnya yang menggemaskan.

"lho Vin?", tegur Agni saat merekaberpapasan

"elo gak ke ruang kepsek? Tadi ada pengumuman,katanya elo, Duto, sama Rio dipanggil kepsek. Mending lo kesana deh",lanjutnya

Sepintas Alvin melirik Sivia, meminta tanggapannya.Dania pun menyahut dengan segaris senyum, yang menandakan tak apa bila ditinggal.

"gue titip Via ya, Ni", pesan Alvin yangsegera berlalu

Agni memandang gadis yang berada di sebelahnyasecara rinci, ada sesuatu yang berbeda dengannya. Apa mungkin, Alvin sudahmengatakannya? Membongkar semua kenyataan besar itu pada seorang murid baru?Tak ingin berpikir terlalu jauh, ia memutuskan untuk mengajak teman barunya iniduduk berhadapan di salah satu kursi.

"ada yang mau elo sampein?", Agni langsungto the point

Sivia diam. Semenjak kejadian tadi, tenggorokannyaterasa kering. Air mata. Lagi-lagi benda cair itu yang mewakili dirinya untukmenjawab. Agni pun berbuat yang sama, ia juga mengeluarkan air mata yangsejenis dengan milik Sivia. Digenggamnya erat telapak tangan itu, salingmenguatkan, hanya itu yang dapat mereka lakukan. Dulu, lebih tepatnya limatahun yang lalu. Agni juga merasakan hal yang tidak jauh beda dengan apa yangSivia rasakan. Sulit dan sungguh memcekit.

"Tuhan pasti punya rencana yang indah buatdia", ujarnya

Sejak saat ini, Agni dan Sivia meresmikan dirimenjadi sepasang sahabat. Genggaman yang begitu kuat serta rasa yang samaseakan menjadi materai antara mereka.

***

Walau tubuhnya masih terasa begitu lemas, seorangAlvin tetaplah pribadi yang memegang teguh prinsip tanggung jawabnya sebagaiketua OSIS. Setidaknya ia masih bisa berlari kecil menuju ruang kepsek.

"telat? haha", ejek Duto saat Alvinmenempatkan diri disebelahnya

"maaf pak, saya terlambat", Alvinmengacuhkannya

"baiklah, saya akan memulai semuanya", pakkepala sekolah bangkit berdiri lalu mengeluarkan suatu piala yang berukurancukup besar dengan tulisan 'juara umum liga basket antar SMA' dari lemari kacadi ruangan itu.

Liga basket ialah ajang lomba basket yang diadakantiga tahun sekali, dan memiliki tiga bagian secara garis besarnya. Untukkategori SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Dan tiga tahun yang lalu, timkebanggan sekolah ini berhasil meraih piala yang menjadi rebutan lebih dariseribu sekolah di seantero nusantara. Kini hal tersebut harus menjadi bebanyang diperjuangkan oleh Rio dkk.

"Rio, anggaplah ini sebagai tugas terakhirmusebagai kapten basket di sekolah ini. Begitu juga kalian berdua. Sebagai rekansatu tim, tolong bantu Mario. Karena kita hanya memiliki beberapa minggulagi", pesannya

Selain satu hal tadi, pak kepsek masih menyimpan hallain yang sama pentingnya dengan tadi. Duto dan Alvin, duo rival ini dimintauntuk bekerja sama -lagi- untuk kesekian kalinya. Bila sesuai rencana, PENSIuntuk memperingati hari ulang tahun sekolah akan diadakan pada beberapa harisetelah liga basket dilaksanakan. "oleh sebab itu, saya meminta pada kalianberdua. Alvin sebagai ketua OSIS, dan Duto sebagai wakil ketua OSIS. Bekerjasamalah! Persiapkan proposal dan perencanaan yang paling terbaik dari kalian.Jadikan acara ini lebih menarik menarik dari tahun yang lalu", pesannyakembali

Kalo untuk hal seperti ini, mereka berdua pasti amatsangat kompak dan saling melengkapi. Usai melakukan pembicaraan yang bisadibilang tertutup ini. Buktinya saja, Rio yang tadi berada disana keluar demimembahas hal ini. Mereka saling berjabat tangan tanda setuju. Alvin dan Dutopun melakukan hal yang sama, bahkan dengan senyum yang tergambar jelas di wajahkeduanya.

"hah", Duto menghempaskan tubuhnya untukbersandar pada dinding bagian luar ruang kepsek

"sekeras apapun elo usaha, gue yang bakaldapetin dia. Gue bakal jadi lentera hatinya", kini langkah Alvin terhentidan melirik Duto tajam

 "dulugue emang gak serius sama ucapan gue yang akan ngerebut Via dari lo. Tapi hariini, sejak beberapa saat yang lalu", Alvin melangkahkan kakinya mendekat

"gue cinta sama Sivia", bisiknya pelansekali

Mendengar hal tersebut, mental Duto sungguh terjatuhkeras. Mengapa cinta harus sesulit ini? Alvin yang melakukan hal itu punmenatap Duto dengan senyum tipisnya. Dan ... pertarungan yang sesungguhnya akandimulai! Sivia, bersiaplah!

***

Mobil sport hitam yang sudah tak asing lagi melajudan kemudian berhenti tepat di hadapan dua pelajar SMA ini.

"hai Vi", sapa Tania dari dalam mobil

"hai kak", akhirnya ia mampu untuk bicarakembali

"Vi, gue duluan ya"

"makasih buat semua yang elo lakuin tadi",lanjut Alvin sambil mengupas lembut jemari yang entah sudah berapa kalidigenggamnya

Sivia yang sudah merasa nyaman dengan perlakuanAlvin tadi, hanya dapat menampakkan senyum terbaiknya. Hari ini sungguh luar biasa!

"kamu gak mau bareng, Vi?", tawar Tania

"enggak usah kak, aku bareng temen kok"

"oh, oke. Kita duluan ya, Vi. Hati-hati"

Tak ada air mata, kini hanya senyum yang tiada hentitersungging di wajahnya. Menambah ungkapan cantik bagi ciptaan Tuhan yang satuini. Sivia, dia akan berusaha tersenyum mesti terkadang itu sangatlah sulit.

Sela beberapa detik saat mobil itu berlalu,datanglah Shilla yang nampak ngos-ngosan.

"Vi, dia itu siapa? Kok kenal sama lo?",tanyanya yang memang selalu penasaran

"dia itu kakaknya Alvin. Ya biasalah Shill, diaitu kan ...", opss hampir saja Sivia membongkar semuanya

Tidak! Shilla tidak boleh mengetahuinya. HubunganIyel dan Tania, pastilah akan membuatnya sakit hati. Dan bila hal itu terjadi,maka persahabatan yang sudah begitu lama terjalin ini akan bubar seketika. Siviamenarik napasnya dalam lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharapdapat menemukan alasan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Vi ..."

"eum Shill! Kita pulang aja yuk. Udah mau ujankayaknya", Sivia menarik tangan Shilla

Sementara Shilla, ia bukanlah orang yang dapatdikadali begitu saja. Kalau sudah penasaran, ia pasti akan menyelidikinya.Apalagi ditambah dengan adegan Alvin dan Sivia yang bergandengan siang tadi.

***

"papa gak mau tau! Pokoknya, kamu harus jadidokter. Titik!", bentak seorang papa pada anaknya

"tapi aku gak suka, pa. Aku gak mau jadidokter"

"kalo gitu, kamu mau jadi apa? Pemain basket?Pemusik? Itu gak akan ada gunanya"

"Ify? Kenapa papa izinin Ify, tapi akuenggak?"

"kamu dan Ify beda. Kamu, seorang laki-laki.Kamu harus jadi tulang punggung. Jadi dokter, itu yang terbaik!"

"terbaik untuk papa, kan? Pa, sampe kapan akuharus nurutin semua kemauan papa? Aku capek, pa. Apa kalo mama masih ada, papabakal ngekang aku?"

"jangan bicara seperti itu!"

"kenapa? Papa takut? Papa takut inget semuakejadian menyenangkan itu?"

"Duto ...", papa melayangkan tangannyapada pipi anaknya itu

"terus pa, terus tampar aku. Aku capek, pa. Akumau cepet-cepet ketemu mama. Ayo pa, tampar aku lagi"

Pertengkaran itu lagi. Kalau bertemu, pastilahpertengkaran hebat ini terjadi. Papa yang kesepian karena kepergian mama, iaberusaha keras untuk mengurus kedua anak kembarnya itu dengan baik. Namun halini dipandang salah oleh kedua anak itu. Cara papa yang membebaskan Ify danselalu membanggakannya dengan alasan untuk mendidik Duto menjadi sosok yangkuat dan tegar dengan cara yang keras, juga caranya yang berusaha membentukDuto sesuai kehendaknya. Hal tersebut merupakan hal yang sungguh dibenci Duto. Baginya,papa yang dulu dan sekarang merupakan pribadi yang berbeda. Papa yang duluadalah papa yang sangat mengasihinya, bahkan mendidiknya dengan penuh cintakasih. Sementara papa yang sekarang selalu menamparnya, selalu menolakpendapatnya, selalu memasaknya, dan tak pernah mempedulikannya.

Suasana riuh tadi berbanding seratus delapan puluhderajat dengan kamar yang dilengkapi fasilitas piano ini. Walau sedangberhadapan dengan piano putih kesayangannya, Ify nampak memandang hujan diluarsana dengan tataran yang sulit diartikan. Sedih penuh kelirihan, mungkin itulebih tepatnya.

#FlashBackOn#

Hujan begitu deras. Malam yang sunyi pun terasaramai dengan tetesan airnya. Pukul 22.00. Namun si kembar kecil ini pun belumberniat untuk tidur. Alasan mereka sama. Menunggu sang papa yang tak kunjungpulang. Kalau menurut mama, papa sedang meeting sebentar. Untuk menghibur duaanaknya, wanita muda itu mengambil suatu buku dongeng yang berjudul"Pinokio". Walau ini merupakan hal yang baru, tapi Ify dan Dutotampak begitu semangat menyambutnya.

Tanpa ada hal yang aneh sedikit pun, mama mulaimembacakan kisah tersebut mulai dari keinginan kakek Gepetto memiliki seoranganak, sampai akhirnya ia berhenti pada lima halaman yang terakhir. Entah kenapajantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan, membuatnya menjatuhkan bukubergambar itu begitu saja.

"mama haus? Biar Duto ambilin minum ya",Duto beranjak menuju dapur

Ify tak beranjak sedikit pun, ia masih setiatenggelam dalam dekapan mama. Menyandarkan kepalanya demi mendengar detakanjantung wanita yang telah melahirkannya. Ify memandang wajah itu lekat. Mamayang memejamkan matanya membuat Ify semakin meringkuk dalam posisinya, sampaiakhirnya...

"ma", panggil Ify

"ma ... mama!", teriaknya

Jantung mama sudah tak terdengar. Pelukan hangatnyapun melemah. Tangan, kaki, bahkan sekujur tubuhnya menjadi dingin.

#FlashBackOff#

Seandainya waktu dua belas tahun yang lalu, dapatterulang kembali. Seandainya papa gak pulang terlambat. Seandainya Dutomenelpon dokter, bukannya mengambil minum. Dan seandainya Ify mengerti, iapasti berusaha untuk menolong mama yang sungguh dicintainya. Tapi mau bagaimanapun juga, Tuhan berkata lain. Dan Ify yakin, kalau semua ini pasti akan menjadiindah nantinya.

Mama meninggal karena virus yang menyerang otaknya.Semua terlambat! Jadi, nyawa beliau tak dapat ditolong. Menyesal, sedih, tapiya ... itu rencana Tuhan yang paling baik.

***

Hari ini merupakan hari yang spesial. Khususnyamalam ini. Itulah yang menyebabkan Tasya, Tania, ibu, bahkan papa juga parapelayan di rumah ini mondar-mandir, untuk menyiapkan makan malam istimewa bagisulung dari dua bersaudara ini. "Tasya, kamu gak usah elap meja ini lagi.Sekarang sudah jam berapa?", ujar ibu

"jam enam, bu"

"kita makan malamnya jam berapa?"

"jam setengah tujuh, bu"

"kalau gitu cepat mandi dan persiapkan dirikamu!"

Tanpa menjawab lagi, Tasya menuruti omongan ibu.Sementara ibu yang menjadi pengatur disinya pun, nampak masih memikirkansesuatu. Padahal hampir semua persiapan telah dilakukan.

"Tania, apa kamu liat Alvin?"

Alvin! Astaga, dimana bocah itu? Mengapa ia takkunjung terlihat sejak tadi?

"enggak tau, bu. Tania coba cari ke kamarnyaaja ya", Tania bergegas mencari adiknya

Dibalik itu semua, Alvin nampak duduk di mejabelajarnya. Seperti biasa, ia mulai menggambar di notebook pemberian Tania.Gambar tentang dirinya dan Sivia, tangan mereka yang bergandengan. Namun,pensil yang ia gunakan tiba-tiba terjatuh. Rasa sakit itu melandanya lagi.Argh..! Ini sungguh menyakitkan.

Kapsul! Dimana kapsul itu? Dengan sekuat tenaga,Alvin meraba meja belajarnya. Namun tidak ada. Tak menyerah, ia berusahabangkit berdiri demi menemukan obat pereda rasa sakit itu. Diatas ranjang,dalam saku jaketnya. Tetap saja tidak ada.

"argh! Sakit!", jeritnya nyaring dengantangan yang terus menarik rambut hitamnya

Tubuhnya meringkuk dengan bersandar ke tempattidurnya. Dingin dan rasa sakit luar biasa itu telah tercampur. Hingga padaakhirnya, Alvin tak sanggup! Ia sudah tak mampu!

Bruukk! Tubuh itu terjatuh, dan astaga! Kepalanyamembentur meja yang berada tepat disebelah kirinya. Dan dapatlah dibayangkan,betapa banyaknya darah yang berebut keluar dari kepala bahkan hidungnya.

"Alvin!", lirih Tania yang segera mendekaptubuh itu

Ibu yang mendengarnya, segera berlari menuju kamaranak muda itu. Diikuti oleh papa yang berada di belakangnya. Tanpa menunggulagi, papa segera memapah tubuh itu ke dalam mobilnya. Mereka pergi ke rumahsakit saat itu juga. Karena kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padalaki-laki itu.

Walau tak kalah khawatir, Tania nampak masih berdiridi depan kamar Alvin. Ada seseorang yang harus mendengar penjelasannya.

"lho Ni, yang lainnya ...", pertanyaanTasya terhenti saat matanya melihat baju adiknya yang terkena bercakan darah

"Alvin, kak. Dia sakit, dan papa sama ibu lagibawa dia ke rumah sakit. Maaf kak ... aku juga harus kesana"

Alvin. Lagi-lagi dirinyalah yang membuat semuanyamenjadi kacau. Entah karena penyakitnya atau tingkahnya yang menjengkelkan.Buktinya ialah saat ini. Bila dihitung, mungkin ini sudah yang kesekiankalinya. Anak itu telah menghancurkan makan malam ini! Makan malam yang sungguhberarti bagi Tasya.

Dengan penuh kekecewaan, Tasya menatap kepergianTania. Kini ia sendiri. Dua orang yang sungguh berharga dihidupnya -papa danTania- lebih memilih orang itu, dibandingkan dirinya. Alvin. Dia pengacau!Tasya sungguh tak menyukainya!

***

Gadis ini nampak terus menatap suatu benda yang barusaja ia lihat hari ini, suatu benda yang dapat membantu orang yang dicintainyabertahan. Bosan hanya menatap, terkadang ia melempar-lemparkan kapsul itu.Sambil tiduran pantai di atas sofa, ia mulai merenungkan apa yang terjadi dalamhidupnya dihari ini.

Semua orang punya kelebihan dan kekurangan, itulahkeadilan yang paling sederhana. Keadilan sederhana yang telah dibuat oleh SangMaha Kuasa. Alvin, dia memang anak yang luar biasa. Ia pun banyak digemari olehremaja seusianya. Tapi siapa sangka, kalau pemain basket juga ketua OSIS di SMAJakarta itu menderita kanker. Begitu pula perempuan berpipi chubby ini. Meskitak memiliki suatu prestasi cemerlang seperti Alvin, tapi dia masih bisa hidupbebas. Tanpa obat-obatan juga alat medis lainnya. Tuhan itu adil dan sangatbaik!

Lain Sivia, lain juga kakaknya. Meski berada dalamsatu tempat yang disebut ruang tamu. Tapi mereka nampak mengacuhkan siaransinetron di layar televisi, dan begitu asyik dalam pikiran masing-masing.

Tania. Ah, sepertinya si polos itu telah menjaditrending topic dihatinya. Tingkahnya yang lugu, hatinya yang tulus, jugasifatnya yang sungguh baik. Itulah kecantikan yang sesungguhnya dari Tania. Danitulah juga yang membuat Iyel semakin ingin mendeklarasikan hubungan mereka.Terutama saat mengenang acara dinner pertama mereka. Suatu makan malam yangtujuan utamanya ialah untuk waktu luang. Tapi hal tersebutlah yang malahmemperkokoh hubungan mereka.

Kring.. Kring..! Ponsel Iyel berdering. Tania.Begitulah tulisan yang terdapat di layar ponsel berlabel smartphone ini. Apakahini pertanda? Baru saja dikenang, ia sudah menelpon. "halo?", sapaIyel lembut

"apa?"

"oh iya, iya Ni. Gue kesana sekarang"

"iya, gue bareng Sivia"

"oke, see you"

Wajah yang tadinya memerah karena memikirkan Tania,bertambah merah dengan telepon dari Tania tadi.

"ada apaan sih, kak?", tanya Sivia yangnamanya dibawa-bawa

"Alvin, Vi. Dia masuk rumah sakit"

"kita harus jenguk dia. Jadi sekarang, kamucepet ganti baju ya"

Bukannya langsung menuruti sang kakak, Sivia malahmematung dan memandang kapsul itu lirih. Gara-gara kecerobohannya yang lupamengembalikan benda itu pada pemiliknya, Alvin jadi sakit. Alvin, maafkanlahSivia.

***

Dibalik semua itu, masih ada Tasya yang kecewa beratsama Alvin. Sendirian, ia mendudukan dirinya di hadapan meja yang telah penuh sesakdengan berbagai makanan dan minuman. Dress juga riasan cantik ditubuhnya,hanyalah penambah rasa kesalnya. Seharusnya ada makan malam yang menambahkedekatan keluarganya dengan orang yang spesial. Seharusnya seperti itu! Alvin.Kau pengacau! Kau menyebalkan! Tasya telah mencapai level yang paling tinggiakan kemarahannya juga kekecewaannya pada adik tirinya. Tak peduli, Alvin sakitatau tidak. Tsya masih merasakan semuanya itu.

TING NONG..! Bel rumah berbunyi. Dia, pastilah sosokitu yang dating. Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan Tasyasekarang?

“hai Sya”, sapa laki-laki bertubuh tinggi itu

“elo kenapa? Murung gitu sih?”, lanjutnya

Argh.! Mengapa pembantu di rumahnya jadi ikutmenyebalkan seperti Alvin? Kalau begini, akan semakin mempermudah diamengetahui semuanya.

“Sya, kenapa?”, ia mendudukan dirinya di sebelahTasya -kekasihnya-

“eng … enggak Steve. Aku Cuma … eum aku”, Tasyamenjadi gagap seketika

“ada apa?”, Steve menggenggam tangan Tasya

Itulah Steve. Dia adalah laki-laki yang mampumembuat Tasya merasa nyaman dalam caranya. Sikapnya yang romantic seakan telahmenjadi keseharian yang begitu indah. Tasya mencintai Steve, dan begitulahsebaliknya. Itulah yang membuat mereka bertahan sampai angka tiga tahun ini,dan semoga saja akan lebih daripada itu.

Kehangatan Steve, itulah yang membuat Tasya tak raguuntuk mengeluarkan semua perasaannya setidaknya itu bisa membuatnya lega. Dan Steve,ia akan selalu setia mendengarkan setap alunan kata yang keluar dari mulutwanita yang dicintainya.

“jadi, Alvin … astaga! Alvin adik kamu? Alvin yang …ya ampun Tasya! Kamu harus bangga, bukan malah marah dan kecewa kayak gini”,nasihat Steve

“kamu gak ngerti, Steve. Aku …”

“dia hebat, Sya! Dia ketua OSIS, tima inti basket,pelukis hebat, dan dia punya banyak fans di sekolah”

“tapi, Steve …”

“bukan hanya murid, Sya Guru pun jadi fansnya. Dia keren,Sya”

“Steve, aku …”

“Sya, dia hebat! Aku kira Alvin yang selama inikamuceritain ke aku adalah Alvin yang penyakitan dan gampang nyerah. Tapi sekarangaku tau. Dia adalah Alvin yang aku latih tim basketnya di sekolah, Alvin yanghebat”, seakan tak ingin Tasya memberi alas an, Steve terus membangga-banggakanAlvin yang sungguh hebat dimatanya

“Steve, please! Hentikan semua itu!”

“dia hebat. Aku gak paksa kamu buat berubah untukmenyayanginya. Tapi percayalah kalau dia adalah adik dan saudara yang akanmembuatmu bangga”, pesan Steve

Tasya terdiam. Steve benar, kata-kata yang iaucapkan. Semuanya itu benar. Kalian tak usah bingung, karena Steve telah mengetahuinya.Steve tau semuanya dari Tasya yang sudah mempercayainya sebagai lahan curahanhatinya. Mau tak mau, Tasya mulai terbawa arus itu. Arus yang bernama kasih saying.Mungkin bukan hal yang mustahil, bila suatu hari nanti ia akan menjadi orangyang paling setia menemani Alvin.

“sudahlah. Karena semua ini sudah dibuat denganbaik, ayo kita makan ini bersama”

Dan akhirnya mereka pun larut dalam kebersamaan yangbegitu tenang. Tasya dan Steve. Hanya mereka berdua.



TO BE CONTINUED

aahhhhh~~~
dipost juga yaa akhirnya haha :D
gimana?? tak memuaskan?? hahaha :D
sorry yah, minggu kemaren aku gak ngepost.. tapi doakan saja biar hal itu tak terulang kembali :D wkwk
okeeeeee ,, daripada ngebacot gak jelas, mending pada komen yuuukkk!! satu komen seribu karakter *loh* hehehe :D #IniCiyusLho :D :D

oh iyaaaa *nepokjidat*
pemeran Steve si pelatih baru itu adalah nama orang yang suka mentionan sama ce Tasya (kalo gak salah)
jadi daripada bingung pilih couple buat ceSya, mending saya pake dia ajaa hehe :D

FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D

See You On Next Part

go go follow: @brendafiona_
mention for follback

Thanks For Read :)

Tidak ada komentar: