Kehangatan
Steve, itulah yang membuat Tasya tak raguuntuk mengeluarkan semua
perasaannya setidaknya itu bisa membuatnya lega. Dan Steve,ia akan
selalu setia mendengarkan setap alunan kata yang keluar dari mulutwanita
yang dicintainya.
“jadi, Alvin … astaga! Alvin adik
kamu? Alvin yang …ya ampun Tasya! Kamu harus bangga, bukan malah marah
dan kecewa kayak gini”,nasihat Steve
“kamu gak ngerti, Steve. Aku …”
“dia hebat, Sya! Dia ketua OSIS, tima inti basket,pelukis hebat, dan dia punya banyak fans di sekolah”
“tapi, Steve …”
“bukan hanya murid, Sya Guru pun jadi fansnya. Dia keren,Sya”
“Steve, aku …”
“Sya,
dia hebat! Aku kira Alvin yang selama inikamuceritain ke aku adalah
Alvin yang penyakitan dan gampang nyerah. Tapi sekarangaku tau. Dia
adalah Alvin yang aku latih tim basketnya di sekolah, Alvin yanghebat”,
seakan tak ingin Tasya memberi alas an, Steve terus
membangga-banggakanAlvin yang sungguh hebat dimatanya
“Steve, please! Hentikan semua itu!”
“dia
hebat. Aku gak paksa kamu buat berubah untukmenyayanginya. Tapi
percayalah kalau dia adalah adik dan saudara yang akanmembuatmu bangga”,
pesan Steve
Tasya terdiam. Steve benar, kata-kata yang
iaucapkan. Semuanya itu benar. Kalian tak usah bingung, karena Steve
telah mengetahuinya.Steve tau semuanya dari Tasya yang sudah
mempercayainya sebagai lahan curahanhatinya. Mau tak mau, Tasya mulai
terbawa arus itu. Arus yang bernama kasih saying.Mungkin bukan hal yang
mustahil, bila suatu hari nanti ia akan menjadi orangyang paling setia
menemani Alvin.
“sudahlah. Karena semua ini sudah dibuat denganbaik, ayo kita makan ini bersama”
Dan akhirnya mereka pun larut dalam kebersamaan yangbegitu tenang. Tasya dan Steve. Hanya mereka berdua.
***
Hatinya
benar-benar rapuh, ditelan pucatnya warna putih padadinding yang ada di
sekitarnya. 'Ya Tuhan, aku mohon jangan sekarang', doanyaberulang kali
pada Sang Maha Kuasa. Tubuh yang berbalut berbagai alat medis diruangan
sana, dialah permata yang bersinar. Menerangi setiap titikan
kegelapanyang nyaris menguasainya. Dia adalah anugerah yang Tuhan
percayakan untuknya.
Lain ibu, lain pula Tania. Gadis
ini nampak bersandar nyamanpada bahu kekar milik Iyel. Menangis dan
berdoa, hanya dua hal itulah yangmampu ia lakukan demi adiknya
tersayang. Begitu juga dengan Iyel. Dengan amatsetia, ia berada disini.
Tania. Sesekali ia menghapus derai air matanya, takjarang ia pun
mendekap tubuh wanita manis itu. Yang terpenting ialah Iyel adauntuk
Tania.
Di tempat yang sama, yakni ruang tunggu depan
ICU di sebuahrumah sakit. Masih ada remaja perempuan yang memiliki rasa
khawatir yang samadengan mereka. Rasa bersalah karena lupa mengembalikan
kapsul obatnya, terusmenghantui Sivia. Apalagi saat ini kondisi Alvin
sedang kritis. Begitulah yangia tahu dari ibu dan Tania.
Beberapa
saat kemudian, beberapa dokter dan perawat keluarbergilir. Salah satu
diantara mereka, ada papa. Dengan wajah yang cukup lelah,papa berbisik
pada ibu. Tanpa bicara, ibu segera bangkit berdiri mengikutipapa. Kini,
tinggalah mereka bertiga.
"kalo kamu mau liat, duluan
aja Vi", ujar Tania yangmengetahui betapa inginnya remaja itu melihat
sosok yang mungkin lebih darisekedar temannya
Sivia
menurut. Ia bangkit berdiri, lalu mengenakan suatupakaian khusus beserta
maskernya. Dan tibalah ia di ruangan yang bau tajamobatnya mampu
menembus tebalnya masker yang dikenakan.
"maafin gue", lirih Sivia tepat di telinga Alvin
Kini,
ia berdiri di sebelah kanan Alvin. Merengkuh tangan yangberbalut
selang-selang infus itu lembut. Laki-laki yang mulai dicintainya itupun
tampak begitu pucat dengan matanya yang masih terpejam. Walau
bagaimanapun, Sivia masih saja menyalahkan dirinya yang ceroboh untuk
kejadian ini.
Ibu, papa, juga beberapa dokter dengan
latar belakangspesialis kanker telah berkumpul dalam satu ruangan. Demi
membahas kondisisalah satu pasien mereka yang luar biasa.
"baiklah,
kita akan memulai semuanya melalui rapat dimalam hari ini", ujar papa
selaku dokter kepala yang memimpin rapatdadakan ini
Proyektor,
yakni LCD beserta telah siap sedia. Sorotan lampumenampilkan beberapa
tulisan juga gambar-gambar kedokteran, yang mungkin hanyadimengerti oleh
mereka yang berada disana.
"ini, merupakan fase seorang penderita kanker otak. Mulaidari stadium satu, dua, tiga, dan sampai kepada stadium lanjut"
Ruangan
ber-AC itu terasa begitu panas. Gerah! Itulah yangdirasakan ibu.
Melihat para ahli membahas tentang semua yang dialaminya nanti.Sungguh,
hal ini lebih sulit dibanding rapat yang dahulu.
"mengapa
kita tidak mengirim Alvin ke luar? Seperti Singapore,Aussie, atau
negara yang sudah jelas lebih baik pengobatannya disini",sela seorang
dokter
"atau mungkin jauh lebih baik, jika dia mengikuti terapipengobatan organik di China. Atau di Jepang?"
"saya rasa operasi hal yang bagus untuk membantunya
Alvin!
Dia telah menjadi topik perdebatan yang panas padamalam hari ini. Dan
ibu, dia hanya diam menundukkan wajahnya dengan derasnyaair mata. Juga
papa, dia tak tahu harus memilih saran yang mana. Semuanya sama,sama
hebatnya sama pula konsekuensinya.
"kankernya sudah
mencapai stadium yang ketiga, dansel-sel kanker ini sudah menyebar ke
hampir seluruh tubuhnya. Jika kita melakukanpemindahan rumah sakit, maka
kita harus memulai semua pemeriksaan disana, danitu sangat tak
memungkinkan untuk kondisi pasien. Jika melakukan terapi, halitu pasti
akan menimbulkan efek samping. Dan jika operasi, untuk kondisi
pasienbelakangan ini hal itu sangatlah tidak mungkin. Persentase
keberhasilanhanyalah 30 persen. Jadi ... bagaimana menurutmu, bu?", papa
mengalihkanpandangannya pada ibu yang sedari tadi tak bersua
"cukup!
Hentikan semuanya! Anakku hanya akan meminum obatdan melakukan
kemoterapi sebagai pengobatannya. Kemoterapi saja sudahmenyakitkan,
apalagi pengobatan yang lainnya?"
"Alvin perlu doa dan
kemampuan kalian yang palingterbaik. Bukankah semua manusia pasti akan
mati? Dan begitulah juga anakku.Tapi setidaknya kita harus berbuat yang
terbaik untuk membantu diamempertahankan nyawanya"
"cukup
dua hal itu saja, yang perlu kalian lakukan.Urusan yang lain, biar
Tuhan yang mengaturnya. Saya mohon", ujar ibu yangseolah menjadi
pembangkit kobaran api semangat dalam benak keempat dokter itu
"baiklah kalau begitu, kita harus segera menyiapkankemoterapi kedua untuk Alvin!", tambah papa
***
Hari
masih terus berlanjut, mentari pun masih dengankesetiaannya dalam
menerangi bumi. 'selamat pagi', itulah seruan para muridkala seorang
guru akan memulai pembelajaran. Sekolah. Ah! Kata orang, itulahhal yang
indah. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Begitulahungkapan
seorang musisi legendaris yang menambah pendapat-pendapat orang.Asmara,
belajar, prestasi, jati diri, persahabatan, bahkan begitu banyak
bidangyang dapat ditemukan dalam masa sekolah.
Rumus
dengan berbagai angka telah memenuhi seantero papantulis di depan kelas,
dan sang guru pun tak henti-hentinya berkicau demimenjelaskan maksud
dan tujuan semua tulisannya itu. Berbeda dengan Cakka yangterus menerus
mengangguk tanda mengerti, atau Agni yang sibuk catat, catat,
danmencatat. Rio hanya memandang lekat ke arah rumus-rumus tadi. Bukan
karena iamulai tertarik pada matematika, melainkan angka dan rumus itu.
Dua hal tersebuttelah berubah menjadi jutaan not balok yang menari riang
dalam pikirannya.Jutaan not balok yang berasal dari dentingan piano
yang dimainkan Ify, si gadispujaannya.
"i love you", desah Rio
"astaga Yo! Gak dapet Allysa, elo berpaling ke gue",ujar Cakka yang kebetulan lewat dengan seenaknya
"hah?
Apaan sih lo, Cak! Mana mungkin gue mau sama lo,lagian gue gak mungkin
kali suka sama sahabat sendiri", sahut Rio yangmalah membuat Cakka
membelalakan matanya
"berarti elo itu?"
"elo tuh ya", jitak Rio
"aw sakit Yo"
"haha, bodo. Eh tadi, bukannya kita lagi belajar ya? Kokkelas jadi sepi tiba-tiba?"
"Mario! Istirahat!", teriak Cakka tepat ditelingaRio
"gila lo, Cak! Elo mau gue budek?"
"bodo ah! Ayo ke kantin, gue laper nih", Cakkalangsung menarik tangan Rio
Cakka
dan Rio berjalan bersama ke depan kelas, menghampiriAgni yang telah
menunggu di pintu kelas. Karena sudah sejak kecil salingmengenal, mereka
sudah terbiasa untuk bersama. Bahkan untuk sekedar makan dikantin pun,
mereka tampil bersama.
Belum sampai di kantin,
melainkan baru saja di koridorsekolah. Langkah mereka berhenti tanpa
komando, menatap seorang perempuandengan rambut panjangnya yang terurai
sedang sibuk memunguti lembaran kertasyang mungkin baru saja tertiup
angin.
"Shilla", takjub Cakka di dalam hatinya
"kesempatan gak dateng dua kali, boy", bisik Rioyang berlalu sambil menarik tangan Agni
Lirih.
Bagaimana mungkin seorang gadis tak merasa kecewa kalalelaki yang
dicintainya berharap untuk mendapatkan sahabatnya sendiri? OhCakka! Agni
mencintaimu. Walau bagaimana pun, Agni masih sadar kalau
dirinyamerupakan seorang perempuan yang tak mungkin memulainya. Menunggu
dan merasakanpahitnya pemandangan seperti tadi, itulah proses yang
harus ia hadapi demimenyadari Cakka. Menyadari sosok yang sungguh bodoh
dalam hal bercinta itu,kalau dirinya adalah pribadi yang begitu setia.
Sesaat
setelah itu, Cakka maju perlahan. Mendekati Shilla yangsibuk menata
kembali kertas-kertasnya. Ia mengangkat tangannya, berniat untukmenepuk
pundak gadis cantik itu.
"Cakka?", tanya Shilla yang tiba-tiba membalikkantubuhnya
"ah. Hai Shill", Cakka mengubah niatnya denganmelambaikan tangannya tadi
Melihat
tingkah Cakka yang konyol, membuat Shilla terkekehgeli. Juga menambah
keinginan Cakka untuk memilikinya. Namun rasa itu sangatlahberbanding
terbalik dengan apa yang -dulu- ia rasakan pada Agni. Dulu, saatmasih
sekolah menengah pertama Cakka menyukai sahabatnya itu. Tapi hal itu
hanyasebatas rasa dimana Agni bahagia, ia pun turut bahagia. Hal yang
berbandingterbalik dengan apa yang ia rasa pada diri Shilla. Ambisi?
Entahlah, otaksepintar Cakka pun masih belum mampu untuk menjawab
pertanyaan macam itu.
"sini, agar gue bantu", Cakka mulai memungutikertas-kertas tersebut
"nih", tak lama kemudian ia menyerahkan setumpukkertas tadi
"thanks ya, Cak"
"sering-sering aja lo bantuin gue. Hehe", lanjutShilla sambil memamerkan deretan giginya
"apa sih yang enggak buat lo, Shill", gumam Cakka
"kenapa Cak?"
"hah? Enggak, enggak kenapa-napa kok. Hehe", kinigiliran Cakka yang memamerkan giginya
Agni
dan Cakka .. Shilla danCakka. Ah entahlah! Daripada membicarakan
percintaan Cakka yang belum menemukantitik terang, lebih baik beralih ke
lokasi yang bernama kantin. Tempat dimanaAgni dan Rio makan siang
berdua. Namun nampaknya hal itu tak akan bertahanlama. Karena, ...
"hai Ni!", sapa Ifysambil mendekat ke meja Rio dan Agni
"eh, hai Fy! Sini gabung",Ify menurut
"ini, kenalin temen gueRio", kini Ify dan Rio sama-sama mematung
"lho kenapa? Kalian udahsaling kenal?"
Hening. Tak ada satu pun yangmenjawab. Dua pasang mata itu saling menatap, dengan mulut yang masih terkatuprapat.
"hei, apa masih ada orangdisini?"
"eh sorry, Ni. Tapi gue udahkenal sama Rio", Ify sadar lebih dahulu
"kalo elo, Yo? Elo juga udahkenal sama Ify?"
"eum, iya Ni. Kita udahkenalan"
"oh. Baguslah. Kalo gitu,gue gak usah capek buat nyomblangin kalian"
"maksud lo?", tanya Riodan Ify kompak
"haduh!
Masa iya, gue harusjelasin semuanya. Nih ya ...", Agni mulai membuka
dan menutup mulutnyatanda bercerita akan apa yang ia ketahui diantara
dua orang yang sama-samasahabatnya itu
Tanpa
menyelidiki atau hal-hallainnya, Agni sudah tau soal ini. Soal Rio yang
menyukai si pianis sekolah,semenjak Rio memberi tau namanya Allysa pada
mereka di kantin (look part 1).Awalnya, ia memang tidak tau. Tapi
setelah beberapa waktu, ia baru sadar kalauAllysa adalah nama depan Ify
-sahabatnya-. Sementara tentang Ify, sebenarnyapianis itu juga menyukai
Rio. Diam-diam, ia yang notabennya pemalu seringmemandang Rio yang
tampil hebat sebagai kapten basket. Entah saat istirahat,ataupun saat
dirinya sedang menunggu Duto latihan. Dan hal itu pun ia ceritakanpada
Agni, yang tentunya mensensor nama Duto di dalamnya.
"jadi, kapan kalian mauresmi pacaran?", Agni menyimpulkan
"elo tuh ya!", jitakRio dan Ify bersamaan
"aw sakit tau"
"eh
tapi, kalian tuh kompakbanget! Ah, udah jadian aja gih. Fy, Rio si
kapten basket ini cowok idola lokan? Terus Yo, Allysa si pianis ini
cewek pujaan lo kan?"
"ayo jadian! Tunggu apalagi?", ungkap Agni
"Agni..!!", teriakgusar Rio dan Ify yang membuat Agni berlari kencang meninggalkan mereka
Itu
berarti tinggal Ify dan Rioyang duduk berhadapan di meja. Wajah mereka
sama-sama merah, kepala mereka puntertunduk karena malu. Suasana kantin
yang begitu ramai telah menjadi sepidalam lingkupan degup dua sejoli
ini. Saling mencintai, lalu tunggu apa lagi?
"Semua yang dibilang Agniitu, benar?", selaku lelaki yang peka Rio memberanikan diri untuk memulaipembicaraan
Ify mengangguk perlahan
"ya, yang tentang aku punitu benar", kini giliran Rio yang tersipu
"tapi jangansekarang!", ujar Ify yang berhasil membuat Rio kaget dengan level yangpaling tinggi
"dulu
pas masih SD, gue sukabanget nonton film putri tidur. Gue suka sama
keberanian pangerannya yangpemberani. Dia berani melawan naga yang jahat
banget, demi putri yang ada dimenara istana itu"
"dan gue mau alami itu, guemau jadi kayak putri tidur itu", lanjut Ify
"maksud lo, gue?"
"haha.
Maksud gue bukan itu.Elo gak perlu lawan naga, lagipula itu kan cuma
dongeng. Gue mau elo berkorbankayak pangeran tadi. Gak usah yang
muluk-muluk, gue cuma mau hubungan kitananti seromantis hubungan mereka
berdua. Ah, ngebayanginnya aja udah buat guedeg-degan. Gue harap elo
ngerti maksud gue. See you, Rio"
Kini tinggallah Rio
yang berdiamdiri dengan kebingungan yang luar biasa. Mudah namun juga
sangat sulit. Mudah,karena ia tinggal menyatakan perasaannya dan mereka
akan resmi menjadi sepasangkekasih. Namun juga sangat sulit, karena dia
harus menyiapkan segala hal berbauromantis demi seorang Ify yang
mengagumi sosok pangeran itu.
***
Dinding
dengan lapisan catberwarna putih nan pucat itulah yang menjadi latar
mereka kali ini. Walaumentari telah terbit, namun tangan mereka masih
saling menggenggam. Laki-lakiini nampak begitu beruntung, sampai-sampai
dua gadis cantik mau untuk bersandarpada dada bidangnya. Adiknya di
sebelah kiri, dan seorang yang spesial disebelah kanan. Sementara di
dalam sana, terdapat seorang muda yang tergoleklemah tanpa daya. Tepat
saat pukul menunjukkan angka 9 pagi, ia mulaimengerjapkan matanya.
"Ni, bangunlah ini udahpagi", ujar Iyel lembut
"argh, iya gue bangun",Tania menegakkan dirinya
"Vi, bangun Vi",sekarang giliran adiknya
"iya iya", Siviamenegakkan tubuhnya
Usai
beberapa saat berlalu, Taniamengajak Iyel untuk menemaninya membeli
sarapan bagi mereka bertiga. Darisemalam, hanyalah mereka yang tinggal
menemani Alvin di ruang tunggu yangterletak di depan pintu ruangan ICU.
Sementara ibu dan papa, memutuskan untukpulang karena lelah setelah
menjalani rapat yang begitu memakan waktu.
"kalo kalian pergi, Viagimana?", tanya Sivia yang matanya nampak bengkak karena menangissemalaman
"ya, temenin Alvin lah.Sekarang kan udah jam besuk, jadi kamu masuk aja ke dalam", sahut Taniayang matanya makin sipit
"yaudah deh, hati-hati yahkak"
Kala
langkah mereka mulai menjauh,Sivia pergi ke arah sebaliknya. Ia masuk
ke ruang ICU, tempat lentera hatinyaterbaring lemah. Meski rasa bersalah
masih terus bergejolak dalam batinnya,Sivia tetap memegang tekad
kuatnya untuk menemani Alvin.
"hai!", sapa Sivia padalelaki terpejam itu
"hari
ini gue bolos, cumagara-gara lo. Liat nih! Muka gue jadi bengep,
gara-gara nangisin lo. Pokoknyapas siuman nanti, elo harus beliin gue es
krim lagi"
"eh, tapi kan ini gara-garague juga. Haha, maaf yah Al. Gue emang ceroboh banget, payah banget, maafin gueya Al"
"yaudah,
gini aja! Nantikalo elo udah boleh sekolah lagi, gue bakal traktir lo
somay deh. Kan katanyaAgni, elo itu penggemar beratnya somay pak Bendon"
"makanya elo cepet bangunyah"
Ocehan
panjang itu terusberlanjut. Walau tak ada sepatah kata pun yang
menyahutinya, ia tetap sajaberbicara. Lirih memang, tapi inilah cara
yang -mungkin- dapat menghiburnya.Diambilnya perlahan telapak tangan
dengan selang berbagai cairan yang menempelitu, lalu direngkuhnya jemari
itu. Lembut. Tangan yang lemas itu terasa begitulembut. Apalagi saat
Sivia menempelkan benda itu pada wajahnya. Melihat wajahAlvin yang
nampak sangat pucat, membuatnya semakin mendekati diri denganranjang
yang diliputi warna biru itu. Setelah tangan, kini Sivia mengusaprambut
Alvin. Merasakan betapa lebatnya rambut hitam yang memenuhi kepalanya.
Deg!
Jantungnya berdebar lebihcepat, keringat dingin pun mulai membasahi
wajahnya. Alvin, ah dialahpenyebabnya. Berdekatan seperti ini seakan
telah membangkitkan semangatperempuan berambut sebahu itu. Mengalunkan
nada cinta yang menggetarkan jiwa.Waktu berlalu, Sivia masih di sisi
Alvin. Mengunggu laki-laki tampan itu maumembuka matanya.
"Vi", panggilnya pelansekali
Matanya terpejam, namun bibirnyanampak bergerak. Entah apa yang ia bicarakan, tapi nampaknya dia sudah siuman.
"lo baik-baik aja?",Sivia berbisik
Tak
menyahut, Alvin malahmemejamkan matanya lekat. Tubuhnya pun bergerak
perlahan, atau mungkin lebihtepatnya menggigil. Ia nampak kesulitan
berbicara, karena bibirnya yang mulaibergetar.
"Al, ... dokter!Dokter", teriak Sivia histeris menatap Alvin yang memprihatinkan
Bagai
superhero, dokter datangdengan pakaian juga alat-alat medis yang
menjadi kekhasannya. Dan Sivia, iaharus keluar. Demi kenyamanan dokter
dan Alvin.
"Alvin", Siviabangkit berdiri sela beberapa menit kemudian
Ranjang
Alvin besertadengan Alvin dan alat-alat medisnya di dorong keluar oleh
seorang dokter jugarombongan suster lainnya. Pikiran Sivia pun mulai
melalang buana, memikirkanberbagai kemungkinan yang terjadi saat ini.
Dan ternyata, semua itu sirnabegitu saja. Alvin tersenyum manis pada
Sivia saat ia melewatinya yang mematungdi ruang tunggu. Bingung harus
melakukan apa, Sivia malah melangkah mengikutipara suster yang membawa
Alvin pergi.
Astaga. Semua pikiran itusalah, sungguh
benar-benar salah. Bagaimana mungkin ia berpikir si mata sipititu
meninggal, apalagi diculik? Padahal, Alvin hanyalah pindah kamar. Ah
Sivia,berlebihan! Sementara itu, kondisi Alvin pun mulai membaik. Walau
masihterjebak dalam berbagai alat medis, setidaknya ia masih bisa
membuka matanyalalu melemparkan senyum manisnya. Usai mempersiapkan
semuanya, para suster jugadokter tadi bergegas meninggalkan Alvin dan
Sivia. Si perempuan itu masihberdiri di depan pintu kamar yang terbuka,
sembari menatap langkah mereka yangmenjauh.
"Vi", panggilAlvin parau
"ah iya, Al?",Sivia maju mendekat
"thanks ya"
"enggak, ini emangtanggung jawab gue. Toh, penyebab elo kayak gini kan gue"
"elo ngomong apa sih,Vi?"
"gue
serius, Al.Waktu elo sakit di lab, kapsul obat itu gue pegang. Dan
bodohnya, gue lupabalikin itu ke elo. Gue payah, ini salah gue", rutuk
Sivia yang membuatAlvin segera membelai tangannya
"gue sakit, ya emangini saatnya gue sakit. Dan soal kapsul itu, udahlah lupain aja! Lagipula guemasih baik-baik kan?"
"tapi, Al ..."
"udahlah, Vi",potong Alvin
"mending sekarang eloambil kursi, terus duduk disini. Kepala gue tambah pusing, kalo kiat elo yangberdiri gini", lanjutnya
Penyesalan
yang menyeruaksejak kemarin malam, akhirnya dapat diredam oleh kekehan
pelan itu. Alvinmemang begitu paham, bagaimana cara untuk menenangkan
bungsu dari duabersaudara itu.
"ada bubur, elo maumakan?", tawar Sivia yang malah disahuti gelengan lemah
"yah, kok gitu sih.Ayolah sedikit aja"
"Al, sedikit aja.Emangnya elo gak laper? Kan dari semalem elo gak makan"
"emangnya elo makandari semalem? Elo juga gak makan kan? Nah, kalo gitu elo duluan yang makan.Kita makan buburnya setengahan"
Mau
tak mau, Siviamenuruti perintah Alvin. Lahap. Karena memang, dia sangat
lapar saat ini. Danuntuk kedua kalinya, Alvin tertawa di pagi ini.
Setelah habis setengah, Siviamenghentikan lahapannya lalu melirik Alvin
tajam. Dan kini, giliran Alvin yangmembuka mulutnya demi mengisi
perutnya dengan setengah mangkok bubur rumahsakit itu.
"nah, ini yangterakhir Al", ujar Sivia sambil menyodorkan sesendok bubur
"gue kenyang. Udah,itu buat elo aja lagi"
"apaan sih lo! Nih,makan"
Hup!
Suapan itu berhasil memasukirongga mulut Alvin. Meski tak mau, akhirnya
ia menelan makanan itu kasar.Membuat Sivia tersenyum bangga akan
profesi sesaatnya menjadi suster. DanAlvin, ia hanya berdiam kesal
dengan pemaksaan tadi. Namun nampaknya, sipenyebab kekesalan itu pun tak
peduli. Dia malah berjalan santai ke sofa, lalududuk sambil menonton
televisi.
"ibu sama yang lainnya pastilagi sibuk
mikirin gue, mikirin gimana caranya buat gue bertahan dari penyakitini.
Hah, gue emang payah", rutuk Alvin yang menarik Sivia untukmenatapnya
"ngomong apaan sih lo,Al?"
"waktu
itu dokter-doktermulai memprediksi umur gue, waktu gue masih dua tahun.
Gue masih inget bangetkejadian itu, di rumah sakit ini empat belas
tahun yang lalu", Sivia mulaibangkit berdiri untuk mendekat pada ranjang
tempat Alvin duduk saat ini
"hampir semua dokter
bilang,kalo gue cuma bisa bertahan paling lama sepuluh tahun. Tapi ada
satu orangdokter yang bilang, kalo gue pasti bertahan. Gue pasti
bertahan lebih darisepuluh tahun"
"setuju! Kita gak bolehnyerah, Al"
"tapi
gue gak setuju, Vi.Gue lebih setuju, kalo gue cuma bertahan sepuluh
tahun doang. Dengan begitu,gue gak mungkin bisa masuk SMA Jakarta, jadi
ketos, dan prestasi lain yang buatgue susah buat ngelepas semua itu"
"dan kalo cuma sepuluhtahun, gue gak akan ketemu sama elo Sivia. Gue gak akan ngerasain manisnya eummanis ... ja ja jatuh cinta"
"maksud lo?", Siviamulai merasakan cucuran keringat dingin karena debaran jantungnya
"dari
dulu gue belum pernahngerasain hal kayak gini. Gimana jantung gue
deg-degan kalo ketemu seorangcewek, gimana tangan gue keringet dingin
kalo gandeng tangan seorang cewek,gimana pikiran gue nyaris selalu
mikirin seorang cewek"
"namun kemarin, pas elonolongin gue di lab. Gue ngerasain semua hal itu, dan gue sadar kalo seorangcewek itu adalah elo, Sivia"
"gue ... gu gu gue...", Sivia tak sanggup menjawabnya
"gue
tau elo perlu waktu,Vi. Gue tau betapa bingungnya elo mikirin hubungan
kita nanti, dan gue tau itubakalan jadi hal yang paling sulit buat elo
dan gue. Gue sakit kanker, Vi. Umurgue gak bakal lama lagi, itulah yang
gue tau dari dokter. Tapi satu hal yangharus lo tau, Vi. Gue, Alvin suka
eum maksudnya mau kalo elo, Sivia jadilentera hatinya"
"ini emang egois banget.Tapi gue mau habisin waktu yang gak lama ini bareng sama lo, Vi"
Alvin
menyatakan perasaannya,perasaan yang sejak kemarin telah menjadi
gejolak dalam dirinya. Cinta. Ohhanyalah satu kata, namun mengandung
sejuta dampak bagi kehidupan para insan.
Bukannya
tersenyum karenaternyata Alvin telah membalas perasaannya, Sivia malah
menangis tersedu dihadapan Alvin. Ia sungguh tak tau harus berbuat apa.
Ia memang mencintai Alvin,sama seperti Alvin menyukainya. Bahkan tentang
penyakit itu, bukanlah masalahuntuknya. Hanya saja ada hal lain yang
masih mengganjal dalam hatinya. Apalagikalau bukan masa lalunya bersama
lelaki lain, Duto. Hampir dua tahunbersamanya, membuat Sivia terjebak
dalam lingkaran kenangan yang dulu sempatmereka torehkan.
Lepas
dari itu semua, masih adaseorang wanita lain. Sama seperti Sivia, ia
menangis sambil tersedu-sedu dibalik pintu kamar rawat itu. Mendengar
percakapan tadi, telah membuat dirinyasemakin sulit berpikir. Alvin. Dia
memanglah pengidap kanker yang tak memilikibanyak waktu untuk bertahan
lagi, tapi apa dengan begitu dia tak bolehmerasakan kehidupan remaja
seperti yang lainnya? Argh! Tapi apa Sivia relamengorbankan perasaannya
yang lain demi seorang Alvin yang mungkin hanya akanbertahan beberapa
waktu saja nantinya?
***
Menjelang
beberapa minggudiselenggarakannya liga basket, SMA Jakarta telah
menyiapkan diri demimempertahankan kemenangannya. Rio, si kapten
berkulit hitam manis ini sedangmengabsen para anggota ekskulnya.
"Cakka"
"hadir sob"
"Alvin"
"..."
"Alvin!"
"kalian gak liatAlvin?", tanya Rio yang baru sadar akan ketidakhadiran anggotanya yangsatu itu
"Ni, elo tau diadimana?", Agni, hanya dialah yang tau dimana Alvin
"hah?
Eum, kayaknya dia gakmasuk sekolah deh. Kan latihan ini pas pulang
sekolah. Dan emangnya tadi eloliat Alvin di kelas?", jelas Agni
"oh iya! Bener tuh Yo, kataAgni. Dari tadi kan, si sipit itu gak keliatan", timpal Cakka
"emang dia selalu kayak gitukan. Paling jarang ikut latihan, tapi paling jadi andelan pas kitatanding", cercah Duto
"apaan sih lo! Kita gakngomong sama lo, jangan ikut campur!", kesal Agni
"ini fakta, Ni", lawanDuto
"elo tuh ya, nyari gara-garasama kita", Cakka telah siap dengan tinju kuatnya
"lagian Duto juga bener kan?Alvin emang kayak gitu. Dan di pertandingan nanti, dia bakal duduk di bangkucadangan", lanjutnya
"tapi Yo, Alvin kan..."
"hargain gue, Ni. Gue,kapten disini"potong Rio
TO BE CONTINUED
hahaha :D memaksakan kehendak banget lho ini -_- baru kelar ditulis tadi malem :O
buat yang besok mau UN, baca sama komennya nanti aja kalo udah kelar UN nya :)
buat yang mau UN (termasuk Alv sama Jem) cemungudth yaaaww..!! fighting ganbatte..!! semangat..!!
gimana ceritanya?? haaa komen yaah *yang panjang* wkwkwk :D
udahlah aku gak tau mau ngomong apaan lagi *gubrakk*
oh iyaaaa *nepokjidat*
pemeran Steve si pelatih baru itu adalah nama orang yang suka mentionan sama ce Tasya (kalo gak salah)
jadi daripada bingung pilih couple buat ceSya, mending saya pake dia ajaa hehe :D
FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku
gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak,
jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_-
hhehehe :D
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar