Minggu, 21 April 2013

Lentera Hati *Part 9*

Kehangatan Steve, itulah yang membuat Tasya tak raguuntuk mengeluarkan semua perasaannya setidaknya itu bisa membuatnya lega. Dan Steve,ia akan selalu setia mendengarkan setap alunan kata yang keluar dari mulutwanita yang dicintainya.

“jadi, Alvin … astaga! Alvin adik kamu? Alvin yang …ya ampun Tasya! Kamu harus bangga, bukan malah marah dan kecewa kayak gini”,nasihat Steve

“kamu gak ngerti, Steve. Aku …”

“dia hebat, Sya! Dia ketua OSIS, tima inti basket,pelukis hebat, dan dia punya banyak fans di sekolah”

“tapi, Steve …”

“bukan hanya murid, Sya Guru pun jadi fansnya. Dia keren,Sya”

“Steve, aku …”



“Sya, dia hebat! Aku kira Alvin yang selama inikamuceritain ke aku adalah Alvin yang penyakitan dan gampang nyerah. Tapi sekarangaku tau. Dia adalah Alvin yang aku latih tim basketnya di sekolah, Alvin yanghebat”, seakan tak ingin Tasya memberi alas an, Steve terus membangga-banggakanAlvin yang sungguh hebat dimatanya

“Steve, please! Hentikan semua itu!”

“dia hebat. Aku gak paksa kamu buat berubah untukmenyayanginya. Tapi percayalah kalau dia adalah adik dan saudara yang akanmembuatmu bangga”, pesan Steve

Tasya terdiam. Steve benar, kata-kata yang iaucapkan. Semuanya itu benar. Kalian tak usah bingung, karena Steve telah mengetahuinya.Steve tau semuanya dari Tasya yang sudah mempercayainya sebagai lahan curahanhatinya. Mau tak mau, Tasya mulai terbawa arus itu. Arus yang bernama kasih saying.Mungkin bukan hal yang mustahil, bila suatu hari nanti ia akan menjadi orangyang paling setia menemani Alvin.

“sudahlah. Karena semua ini sudah dibuat denganbaik, ayo kita makan ini bersama”

Dan akhirnya mereka pun larut dalam kebersamaan yangbegitu tenang. Tasya dan Steve. Hanya mereka berdua.



***



Hatinya benar-benar rapuh, ditelan pucatnya warna putih padadinding yang ada di sekitarnya. 'Ya Tuhan, aku mohon jangan sekarang', doanyaberulang kali pada Sang Maha Kuasa. Tubuh yang berbalut berbagai alat medis diruangan sana, dialah permata yang bersinar. Menerangi setiap titikan kegelapanyang nyaris menguasainya. Dia adalah anugerah yang Tuhan percayakan untuknya.

Lain ibu, lain pula Tania. Gadis ini nampak bersandar nyamanpada bahu kekar milik Iyel. Menangis dan berdoa, hanya dua hal itulah yangmampu ia lakukan demi adiknya tersayang. Begitu juga dengan Iyel. Dengan amatsetia, ia berada disini. Tania. Sesekali ia menghapus derai air matanya, takjarang ia pun mendekap tubuh wanita manis itu. Yang terpenting ialah Iyel adauntuk Tania.

Di tempat yang sama, yakni ruang tunggu depan ICU di sebuahrumah sakit. Masih ada remaja perempuan yang memiliki rasa khawatir yang samadengan mereka. Rasa bersalah karena lupa mengembalikan kapsul obatnya, terusmenghantui Sivia. Apalagi saat ini kondisi Alvin sedang kritis. Begitulah yangia tahu dari ibu dan Tania.

Beberapa saat kemudian, beberapa dokter dan perawat keluarbergilir. Salah satu diantara mereka, ada papa. Dengan wajah yang cukup lelah,papa berbisik pada ibu. Tanpa bicara, ibu segera bangkit berdiri mengikutipapa. Kini, tinggalah mereka bertiga.

"kalo kamu mau liat, duluan aja Vi", ujar Tania yangmengetahui betapa inginnya remaja itu melihat sosok yang mungkin lebih darisekedar temannya

Sivia menurut. Ia bangkit berdiri, lalu mengenakan suatupakaian khusus beserta maskernya. Dan tibalah ia di ruangan yang bau tajamobatnya mampu menembus tebalnya masker yang dikenakan.

"maafin gue", lirih Sivia tepat di telinga Alvin

Kini, ia berdiri di sebelah kanan Alvin. Merengkuh tangan yangberbalut selang-selang infus itu lembut. Laki-laki yang mulai dicintainya itupun tampak begitu pucat dengan matanya yang masih terpejam. Walau bagaimanapun, Sivia masih saja menyalahkan dirinya yang ceroboh untuk kejadian ini.

Ibu, papa, juga beberapa dokter dengan latar belakangspesialis kanker telah berkumpul dalam satu ruangan. Demi membahas kondisisalah satu pasien mereka yang luar biasa.

"baiklah, kita akan memulai semuanya melalui rapat dimalam hari ini", ujar papa selaku dokter kepala yang memimpin rapatdadakan ini

Proyektor, yakni LCD beserta telah siap sedia. Sorotan lampumenampilkan beberapa tulisan juga gambar-gambar kedokteran, yang mungkin hanyadimengerti oleh mereka yang berada disana.

"ini, merupakan fase seorang penderita kanker otak. Mulaidari stadium satu, dua, tiga, dan sampai kepada stadium lanjut"

Ruangan ber-AC itu terasa begitu panas. Gerah! Itulah yangdirasakan ibu. Melihat para ahli membahas tentang semua yang dialaminya nanti.Sungguh, hal ini lebih sulit dibanding rapat yang dahulu.

"mengapa kita tidak mengirim Alvin ke luar? Seperti Singapore,Aussie, atau negara yang sudah jelas lebih baik pengobatannya disini",sela seorang dokter

"atau mungkin jauh lebih baik, jika dia mengikuti terapipengobatan organik di China. Atau di Jepang?"

"saya rasa operasi hal yang bagus untuk membantunya

Alvin! Dia telah menjadi topik perdebatan yang panas padamalam hari ini. Dan ibu, dia hanya diam menundukkan wajahnya dengan derasnyaair mata. Juga papa, dia tak tahu harus memilih saran yang mana. Semuanya sama,sama hebatnya sama pula konsekuensinya.

"kankernya sudah mencapai stadium yang ketiga, dansel-sel kanker ini sudah menyebar ke hampir seluruh tubuhnya. Jika kita melakukanpemindahan rumah sakit, maka kita harus memulai semua pemeriksaan disana, danitu sangat tak memungkinkan untuk kondisi pasien. Jika melakukan terapi, halitu pasti akan menimbulkan efek samping. Dan jika operasi, untuk kondisi pasienbelakangan ini hal itu sangatlah tidak mungkin. Persentase keberhasilanhanyalah 30 persen. Jadi ... bagaimana menurutmu, bu?", papa mengalihkanpandangannya pada ibu yang sedari tadi tak bersua

"cukup! Hentikan semuanya! Anakku hanya akan meminum obatdan melakukan kemoterapi sebagai pengobatannya. Kemoterapi saja sudahmenyakitkan, apalagi pengobatan yang lainnya?"

"Alvin perlu doa dan kemampuan kalian yang palingterbaik. Bukankah semua manusia pasti akan mati? Dan begitulah juga anakku.Tapi setidaknya kita harus berbuat yang terbaik untuk membantu diamempertahankan nyawanya"

"cukup dua hal itu saja, yang perlu kalian lakukan.Urusan yang lain, biar Tuhan yang mengaturnya. Saya mohon", ujar ibu yangseolah menjadi pembangkit kobaran api semangat dalam benak keempat dokter itu

"baiklah kalau begitu, kita harus segera menyiapkankemoterapi kedua untuk Alvin!", tambah papa

***

Hari masih terus berlanjut, mentari pun masih dengankesetiaannya dalam menerangi bumi. 'selamat pagi', itulah seruan para muridkala seorang guru akan memulai pembelajaran. Sekolah. Ah! Kata orang, itulahhal yang indah. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Begitulahungkapan seorang musisi legendaris yang menambah pendapat-pendapat orang.Asmara, belajar, prestasi, jati diri, persahabatan, bahkan begitu banyak bidangyang dapat ditemukan dalam masa sekolah.

Rumus dengan berbagai angka telah memenuhi seantero papantulis di depan kelas, dan sang guru pun tak henti-hentinya berkicau demimenjelaskan maksud dan tujuan semua tulisannya itu. Berbeda dengan Cakka yangterus menerus mengangguk tanda mengerti, atau Agni yang sibuk catat, catat, danmencatat. Rio hanya memandang lekat ke arah rumus-rumus tadi. Bukan karena iamulai tertarik pada matematika, melainkan angka dan rumus itu. Dua hal tersebuttelah berubah menjadi jutaan not balok yang menari riang dalam pikirannya.Jutaan not balok yang berasal dari dentingan piano yang dimainkan Ify, si gadispujaannya.

"i love you", desah Rio

"astaga Yo! Gak dapet Allysa, elo berpaling ke gue",ujar Cakka yang kebetulan lewat dengan seenaknya

"hah? Apaan sih lo, Cak! Mana mungkin gue mau sama lo,lagian gue gak mungkin kali suka sama sahabat sendiri", sahut Rio yangmalah membuat Cakka membelalakan matanya

"berarti elo itu?"

"elo tuh ya", jitak Rio

"aw sakit Yo"

"haha, bodo. Eh tadi, bukannya kita lagi belajar ya? Kokkelas jadi sepi tiba-tiba?"

"Mario! Istirahat!", teriak Cakka tepat ditelingaRio

"gila lo, Cak! Elo mau gue budek?"

"bodo ah! Ayo ke kantin, gue laper nih", Cakkalangsung menarik tangan Rio

Cakka dan Rio berjalan bersama ke depan kelas, menghampiriAgni yang telah menunggu di pintu kelas. Karena sudah sejak kecil salingmengenal, mereka sudah terbiasa untuk bersama. Bahkan untuk sekedar makan dikantin pun, mereka tampil bersama.

Belum sampai di kantin, melainkan baru saja di koridorsekolah. Langkah mereka berhenti tanpa komando, menatap seorang perempuandengan rambut panjangnya yang terurai sedang sibuk memunguti lembaran kertasyang mungkin baru saja tertiup angin.

"Shilla", takjub Cakka di dalam hatinya

"kesempatan gak dateng dua kali, boy", bisik Rioyang berlalu sambil menarik tangan Agni

Lirih. Bagaimana mungkin seorang gadis tak merasa kecewa kalalelaki yang dicintainya berharap untuk mendapatkan sahabatnya sendiri? OhCakka! Agni mencintaimu. Walau bagaimana pun, Agni masih sadar kalau dirinyamerupakan seorang perempuan yang tak mungkin memulainya. Menunggu dan merasakanpahitnya pemandangan seperti tadi, itulah proses yang harus ia hadapi demimenyadari Cakka. Menyadari sosok yang sungguh bodoh dalam hal bercinta itu,kalau dirinya adalah pribadi yang begitu setia.

Sesaat setelah itu, Cakka maju perlahan. Mendekati Shilla yangsibuk menata kembali kertas-kertasnya. Ia mengangkat tangannya, berniat untukmenepuk pundak gadis cantik itu.

"Cakka?", tanya Shilla yang tiba-tiba membalikkantubuhnya

"ah. Hai Shill", Cakka mengubah niatnya denganmelambaikan tangannya tadi

Melihat tingkah Cakka yang konyol, membuat Shilla terkekehgeli. Juga menambah keinginan Cakka untuk memilikinya. Namun rasa itu sangatlahberbanding terbalik dengan apa yang -dulu- ia rasakan pada Agni. Dulu, saatmasih sekolah menengah pertama Cakka menyukai sahabatnya itu. Tapi hal itu hanyasebatas rasa dimana Agni bahagia, ia pun turut bahagia. Hal yang berbandingterbalik dengan apa yang ia rasa pada diri Shilla. Ambisi? Entahlah, otaksepintar Cakka pun masih belum mampu untuk menjawab pertanyaan macam itu.

"sini, agar gue bantu", Cakka mulai memungutikertas-kertas tersebut

"nih", tak lama kemudian ia menyerahkan setumpukkertas tadi

"thanks ya, Cak"

"sering-sering aja lo bantuin gue. Hehe", lanjutShilla sambil memamerkan deretan giginya

"apa sih yang enggak buat lo, Shill", gumam Cakka

"kenapa Cak?"

"hah? Enggak, enggak kenapa-napa kok. Hehe", kinigiliran Cakka yang memamerkan giginya

Agni dan Cakka .. Shilla danCakka. Ah entahlah! Daripada membicarakan percintaan Cakka yang belum menemukantitik terang, lebih baik beralih ke lokasi yang bernama kantin. Tempat dimanaAgni dan Rio makan siang berdua. Namun nampaknya hal itu tak akan bertahanlama. Karena, ...

"hai Ni!", sapa Ifysambil mendekat ke meja Rio dan Agni

"eh, hai Fy! Sini gabung",Ify menurut

"ini, kenalin temen gueRio", kini Ify dan Rio sama-sama mematung

"lho kenapa? Kalian udahsaling kenal?"

Hening. Tak ada satu pun yangmenjawab. Dua pasang mata itu saling menatap, dengan mulut yang masih terkatuprapat.

"hei, apa masih ada orangdisini?"

"eh sorry, Ni. Tapi gue udahkenal sama Rio", Ify sadar lebih dahulu

"kalo elo, Yo? Elo juga udahkenal sama Ify?"

"eum, iya Ni. Kita udahkenalan"

"oh. Baguslah. Kalo gitu,gue gak usah capek buat nyomblangin kalian"

"maksud lo?", tanya Riodan Ify kompak                             

"haduh! Masa iya, gue harusjelasin semuanya. Nih ya ...", Agni mulai membuka dan menutup mulutnyatanda bercerita akan apa yang ia ketahui diantara dua orang yang sama-samasahabatnya itu

Tanpa menyelidiki atau hal-hallainnya, Agni sudah tau soal ini. Soal Rio yang menyukai si pianis sekolah,semenjak Rio memberi tau namanya Allysa pada mereka di kantin (look part 1).Awalnya, ia memang tidak tau. Tapi setelah beberapa waktu, ia baru sadar kalauAllysa adalah nama depan Ify -sahabatnya-. Sementara tentang Ify, sebenarnyapianis itu juga menyukai Rio. Diam-diam, ia yang notabennya pemalu seringmemandang Rio yang tampil hebat sebagai kapten basket. Entah saat istirahat,ataupun saat dirinya sedang menunggu Duto latihan. Dan hal itu pun ia ceritakanpada Agni, yang tentunya mensensor nama Duto di dalamnya.

"jadi, kapan kalian mauresmi pacaran?", Agni menyimpulkan

"elo tuh ya!", jitakRio dan Ify bersamaan

"aw sakit tau"

"eh tapi, kalian tuh kompakbanget! Ah, udah jadian aja gih. Fy, Rio si kapten basket ini cowok idola lokan? Terus Yo, Allysa si pianis ini cewek pujaan lo kan?"

"ayo jadian! Tunggu apalagi?", ungkap Agni

"Agni..!!", teriakgusar Rio dan Ify yang membuat Agni berlari kencang meninggalkan mereka

Itu berarti tinggal Ify dan Rioyang duduk berhadapan di meja. Wajah mereka sama-sama merah, kepala mereka puntertunduk karena malu. Suasana kantin yang begitu ramai telah menjadi sepidalam lingkupan degup dua sejoli ini. Saling mencintai, lalu tunggu apa lagi?

"Semua yang dibilang Agniitu, benar?", selaku lelaki yang peka Rio memberanikan diri untuk memulaipembicaraan

Ify mengangguk perlahan

"ya, yang tentang aku punitu benar", kini giliran Rio yang tersipu

"tapi jangansekarang!", ujar Ify yang berhasil membuat Rio kaget dengan level yangpaling tinggi

"dulu pas masih SD, gue sukabanget nonton film putri tidur. Gue suka sama keberanian pangerannya yangpemberani. Dia berani melawan naga yang jahat banget, demi putri yang ada dimenara istana itu"

"dan gue mau alami itu, guemau jadi kayak putri tidur itu", lanjut Ify

"maksud lo, gue?"

"haha. Maksud gue bukan itu.Elo gak perlu lawan naga, lagipula itu kan cuma dongeng. Gue mau elo berkorbankayak pangeran tadi. Gak usah yang muluk-muluk, gue cuma mau hubungan kitananti seromantis hubungan mereka berdua. Ah, ngebayanginnya aja udah buat guedeg-degan. Gue harap elo ngerti maksud gue. See you, Rio"

Kini tinggallah Rio yang berdiamdiri dengan kebingungan yang luar biasa. Mudah namun juga sangat sulit. Mudah,karena ia tinggal menyatakan perasaannya dan mereka akan resmi menjadi sepasangkekasih. Namun juga sangat sulit, karena dia harus menyiapkan segala hal berbauromantis demi seorang Ify yang mengagumi sosok pangeran itu.

***

Dinding dengan lapisan catberwarna putih nan pucat itulah yang menjadi latar mereka kali ini. Walaumentari telah terbit, namun tangan mereka masih saling menggenggam. Laki-lakiini nampak begitu beruntung, sampai-sampai dua gadis cantik mau untuk bersandarpada dada bidangnya. Adiknya di sebelah kiri, dan seorang yang spesial disebelah kanan. Sementara di dalam sana, terdapat seorang muda yang tergoleklemah tanpa daya. Tepat saat pukul menunjukkan angka 9 pagi, ia mulaimengerjapkan matanya.

"Ni, bangunlah ini udahpagi", ujar Iyel lembut

"argh, iya gue bangun",Tania menegakkan dirinya

"Vi, bangun Vi",sekarang giliran adiknya

"iya iya", Siviamenegakkan tubuhnya

Usai beberapa saat berlalu, Taniamengajak Iyel untuk menemaninya membeli sarapan bagi mereka bertiga. Darisemalam, hanyalah mereka yang tinggal menemani Alvin di ruang tunggu yangterletak di depan pintu ruangan ICU. Sementara ibu dan papa, memutuskan untukpulang karena lelah setelah menjalani rapat yang begitu memakan waktu.

"kalo kalian pergi, Viagimana?", tanya Sivia yang matanya nampak bengkak karena menangissemalaman

"ya, temenin Alvin lah.Sekarang kan udah jam besuk, jadi kamu masuk aja ke dalam", sahut Taniayang matanya makin sipit

"yaudah deh, hati-hati yahkak"

Kala langkah mereka mulai menjauh,Sivia pergi ke arah sebaliknya. Ia masuk ke ruang ICU, tempat lentera hatinyaterbaring lemah. Meski rasa bersalah masih terus bergejolak dalam batinnya,Sivia tetap memegang tekad kuatnya untuk menemani Alvin.

"hai!", sapa Sivia padalelaki terpejam itu

"hari ini gue bolos, cumagara-gara lo. Liat nih! Muka gue jadi bengep, gara-gara nangisin lo. Pokoknyapas siuman nanti, elo harus beliin gue es krim lagi"

"eh, tapi kan ini gara-garague juga. Haha, maaf yah Al. Gue emang ceroboh banget, payah banget, maafin gueya Al"

"yaudah, gini aja! Nantikalo elo udah boleh sekolah lagi, gue bakal traktir lo somay deh. Kan katanyaAgni, elo itu penggemar beratnya somay pak Bendon"

"makanya elo cepet bangunyah"

Ocehan panjang itu terusberlanjut. Walau tak ada sepatah kata pun yang menyahutinya, ia tetap sajaberbicara. Lirih memang, tapi inilah cara yang -mungkin- dapat menghiburnya.Diambilnya perlahan telapak tangan dengan selang berbagai cairan yang menempelitu, lalu direngkuhnya jemari itu. Lembut. Tangan yang lemas itu terasa begitulembut. Apalagi saat Sivia menempelkan benda itu pada wajahnya. Melihat wajahAlvin yang nampak sangat pucat, membuatnya semakin mendekati diri denganranjang yang diliputi warna biru itu. Setelah tangan, kini Sivia mengusaprambut Alvin. Merasakan betapa lebatnya rambut hitam yang memenuhi kepalanya.

Deg! Jantungnya berdebar lebihcepat, keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya. Alvin, ah dialahpenyebabnya. Berdekatan seperti ini seakan telah membangkitkan semangatperempuan berambut sebahu itu. Mengalunkan nada cinta yang menggetarkan jiwa.Waktu berlalu, Sivia masih di sisi Alvin. Mengunggu laki-laki tampan itu maumembuka matanya.

"Vi", panggilnya pelansekali

Matanya terpejam, namun bibirnyanampak bergerak. Entah apa yang ia bicarakan, tapi nampaknya dia sudah siuman.

"lo baik-baik aja?",Sivia berbisik

Tak menyahut, Alvin malahmemejamkan matanya lekat. Tubuhnya pun bergerak perlahan, atau mungkin lebihtepatnya menggigil. Ia nampak kesulitan berbicara, karena bibirnya yang mulaibergetar.

"Al, ... dokter!Dokter", teriak Sivia histeris menatap Alvin yang memprihatinkan

Bagai superhero, dokter datangdengan pakaian juga alat-alat medis yang menjadi kekhasannya. Dan Sivia, iaharus keluar. Demi kenyamanan dokter dan Alvin.

"Alvin", Siviabangkit berdiri sela beberapa menit kemudian               

Ranjang Alvin besertadengan Alvin dan alat-alat medisnya di dorong keluar oleh seorang dokter jugarombongan suster lainnya. Pikiran Sivia pun mulai melalang buana, memikirkanberbagai kemungkinan yang terjadi saat ini. Dan ternyata, semua itu sirnabegitu saja. Alvin tersenyum manis pada Sivia saat ia melewatinya yang mematungdi ruang tunggu. Bingung harus melakukan apa, Sivia malah melangkah mengikutipara suster yang membawa Alvin pergi.

Astaga. Semua pikiran itusalah, sungguh benar-benar salah. Bagaimana mungkin ia berpikir si mata sipititu meninggal, apalagi diculik? Padahal, Alvin hanyalah pindah kamar. Ah Sivia,berlebihan! Sementara itu, kondisi Alvin pun mulai membaik. Walau masihterjebak dalam berbagai alat medis, setidaknya ia masih bisa membuka matanyalalu melemparkan senyum manisnya. Usai mempersiapkan semuanya, para suster jugadokter tadi bergegas meninggalkan Alvin dan Sivia. Si perempuan itu masihberdiri di depan pintu kamar yang terbuka, sembari menatap langkah mereka yangmenjauh.

"Vi", panggilAlvin parau

"ah iya, Al?",Sivia maju mendekat

"thanks ya"

"enggak, ini emangtanggung jawab gue. Toh, penyebab elo kayak gini kan gue"

"elo ngomong apa sih,Vi?"

"gue serius, Al.Waktu elo sakit di lab, kapsul obat itu gue pegang. Dan bodohnya, gue lupabalikin itu ke elo. Gue payah, ini salah gue", rutuk Sivia yang membuatAlvin segera membelai tangannya

"gue sakit, ya emangini saatnya gue sakit. Dan soal kapsul itu, udahlah lupain aja! Lagipula guemasih baik-baik kan?"

"tapi, Al ..."

"udahlah, Vi",potong Alvin

"mending sekarang eloambil kursi, terus duduk disini. Kepala gue tambah pusing, kalo kiat elo yangberdiri gini", lanjutnya

Penyesalan yang menyeruaksejak kemarin malam, akhirnya dapat diredam oleh kekehan pelan itu. Alvinmemang begitu paham, bagaimana cara untuk menenangkan bungsu dari duabersaudara itu.

"ada bubur, elo maumakan?", tawar Sivia yang malah disahuti gelengan lemah

"yah, kok gitu sih.Ayolah sedikit aja"

"Al, sedikit aja.Emangnya elo gak laper? Kan dari semalem elo gak makan"

"emangnya elo makandari semalem? Elo juga gak makan kan? Nah, kalo gitu elo duluan yang makan.Kita makan buburnya setengahan"

Mau tak mau, Siviamenuruti perintah Alvin. Lahap. Karena memang, dia sangat lapar saat ini. Danuntuk kedua kalinya, Alvin tertawa di pagi ini. Setelah habis setengah, Siviamenghentikan lahapannya lalu melirik Alvin tajam. Dan kini, giliran Alvin yangmembuka mulutnya demi mengisi perutnya dengan setengah mangkok bubur rumahsakit itu.

"nah, ini yangterakhir Al", ujar Sivia sambil menyodorkan sesendok bubur

"gue kenyang. Udah,itu buat elo aja lagi"

"apaan sih lo! Nih,makan"

Hup! Suapan itu berhasil memasukirongga mulut Alvin. Meski tak mau, akhirnya ia menelan makanan itu kasar.Membuat Sivia tersenyum bangga akan profesi sesaatnya menjadi suster. DanAlvin, ia hanya berdiam kesal dengan pemaksaan tadi. Namun nampaknya, sipenyebab kekesalan itu pun tak peduli. Dia malah berjalan santai ke sofa, lalududuk sambil menonton televisi.

"ibu sama yang lainnya pastilagi sibuk mikirin gue, mikirin gimana caranya buat gue bertahan dari penyakitini. Hah, gue emang payah", rutuk Alvin yang menarik Sivia untukmenatapnya

"ngomong apaan sih lo,Al?"

"waktu itu dokter-doktermulai memprediksi umur gue, waktu gue masih dua tahun. Gue masih inget bangetkejadian itu, di rumah sakit ini empat belas tahun yang lalu", Sivia mulaibangkit berdiri untuk mendekat pada ranjang tempat Alvin duduk saat ini

"hampir semua dokter bilang,kalo gue cuma bisa bertahan paling lama sepuluh tahun. Tapi ada satu orangdokter yang bilang, kalo gue pasti bertahan. Gue pasti bertahan lebih darisepuluh tahun"

"setuju! Kita gak bolehnyerah, Al"

"tapi gue gak setuju, Vi.Gue lebih setuju, kalo gue cuma bertahan sepuluh tahun doang. Dengan begitu,gue gak mungkin bisa masuk SMA Jakarta, jadi ketos, dan prestasi lain yang buatgue susah buat ngelepas semua itu"

"dan kalo cuma sepuluhtahun, gue gak akan ketemu sama elo Sivia. Gue gak akan ngerasain manisnya eummanis ... ja ja jatuh cinta"

"maksud lo?", Siviamulai merasakan cucuran keringat dingin karena debaran jantungnya

"dari dulu gue belum pernahngerasain hal kayak gini. Gimana jantung gue deg-degan kalo ketemu seorangcewek, gimana tangan gue keringet dingin kalo gandeng tangan seorang cewek,gimana pikiran gue nyaris selalu mikirin seorang cewek"

"namun kemarin, pas elonolongin gue di lab. Gue ngerasain semua hal itu, dan gue sadar kalo seorangcewek itu adalah elo, Sivia"

"gue ... gu gu gue...", Sivia tak sanggup menjawabnya

"gue tau elo perlu waktu,Vi. Gue tau betapa bingungnya elo mikirin hubungan kita nanti, dan gue tau itubakalan jadi hal yang paling sulit buat elo dan gue. Gue sakit kanker, Vi. Umurgue gak bakal lama lagi, itulah yang gue tau dari dokter. Tapi satu hal yangharus lo tau, Vi. Gue, Alvin suka eum maksudnya mau kalo elo, Sivia jadilentera hatinya"

"ini emang egois banget.Tapi gue mau habisin waktu yang gak lama ini bareng sama lo, Vi"

Alvin menyatakan perasaannya,perasaan yang sejak kemarin telah menjadi gejolak dalam dirinya. Cinta. Ohhanyalah satu kata, namun mengandung sejuta dampak bagi kehidupan para insan.

Bukannya tersenyum karenaternyata Alvin telah membalas perasaannya, Sivia malah menangis tersedu dihadapan Alvin. Ia sungguh tak tau harus berbuat apa. Ia memang mencintai Alvin,sama seperti Alvin menyukainya. Bahkan tentang penyakit itu, bukanlah masalahuntuknya. Hanya saja ada hal lain yang masih mengganjal dalam hatinya. Apalagikalau bukan masa lalunya bersama lelaki lain, Duto. Hampir dua tahunbersamanya, membuat Sivia terjebak dalam lingkaran kenangan yang dulu sempatmereka torehkan.

Lepas dari itu semua, masih adaseorang wanita lain. Sama seperti Sivia, ia menangis sambil tersedu-sedu dibalik pintu kamar rawat itu. Mendengar percakapan tadi, telah membuat dirinyasemakin sulit berpikir. Alvin. Dia memanglah pengidap kanker yang tak memilikibanyak waktu untuk bertahan lagi, tapi apa dengan begitu dia tak bolehmerasakan kehidupan remaja seperti yang lainnya? Argh! Tapi apa Sivia relamengorbankan perasaannya yang lain demi seorang Alvin yang mungkin hanya akanbertahan beberapa waktu saja nantinya?

***

Menjelang beberapa minggudiselenggarakannya liga basket, SMA Jakarta telah menyiapkan diri demimempertahankan kemenangannya. Rio, si kapten berkulit hitam manis ini sedangmengabsen para anggota ekskulnya.

"Cakka"

"hadir sob"

"Alvin"

"..."

"Alvin!"

"kalian gak liatAlvin?", tanya Rio yang baru sadar akan ketidakhadiran anggotanya yangsatu itu

"Ni, elo tau diadimana?", Agni, hanya dialah yang tau dimana Alvin

"hah? Eum, kayaknya dia gakmasuk sekolah deh. Kan latihan ini pas pulang sekolah. Dan emangnya tadi eloliat Alvin di kelas?", jelas Agni

"oh iya! Bener tuh Yo, kataAgni. Dari tadi kan, si sipit itu gak keliatan", timpal Cakka

"emang dia selalu kayak gitukan. Paling jarang ikut latihan, tapi paling jadi andelan pas kitatanding", cercah Duto

"apaan sih lo! Kita gakngomong sama lo, jangan ikut campur!", kesal Agni

"ini fakta, Ni", lawanDuto

"elo tuh ya, nyari gara-garasama kita", Cakka telah siap dengan tinju kuatnya

"lagian Duto juga bener kan?Alvin emang kayak gitu. Dan di pertandingan nanti, dia bakal duduk di bangkucadangan", lanjutnya

"tapi Yo, Alvin kan..."

"hargain gue, Ni. Gue,kapten disini"potong Rio




TO BE CONTINUED



hahaha :D memaksakan kehendak banget lho ini -_- baru kelar ditulis tadi malem :O
buat yang besok mau UN, baca sama komennya nanti aja kalo udah kelar UN nya :)
buat yang mau UN (termasuk Alv sama Jem) cemungudth yaaaww..!! fighting ganbatte..!! semangat..!!

gimana ceritanya?? haaa komen yaah *yang panjang* wkwkwk :D
udahlah aku gak tau mau ngomong apaan lagi *gubrakk*

oh iyaaaa *nepokjidat*
pemeran Steve si pelatih baru itu adalah nama orang yang suka mentionan sama ce Tasya (kalo gak salah)
jadi daripada bingung pilih couple buat ceSya, mending saya pake dia ajaa hehe :D

FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D

See You On Next Part

go go follow: @brendafiona_
mention for follback

Thanks For Read :)

Tidak ada komentar: