Senin, 12 Agustus 2013

Lentera Hati *Part 15*

Mereka berdua menyalakan musik klasik dari mp3 ponselnya, lalu mulai mengikutinya dengan gerak dansa. Awalnya mereka sama sekali tak memahami sedikit pun, apa itu dansa.

Tapi lama kelamaan, mereka saling melengkapi dan menikmati nuansa ini.

"Rio, jika aku bisa memilih. Aku akan ... "

"kau akan meminta pada waktu untuk berhenti?", potong Rio

"tidak! Aku justru ingin waktu terus berlalu, hingga aku dapat merasakan hal yang lebih romantis lagi nantinya"

Rio menghentikan laju dansa, ia menatap Ify dengan dalam. Sungguh beruntung dirinya mendapatkan perempuan yang begitu istimewa seperti Ify. Perlahan, ia mulai mendekati wajahnya dengan wajah Ify. Begitu pula dengan Ify, yang memahami maksud Rio. Mereka mendekat dengan mata yang terpejam, hingga hanya ada kurang dari satu sentimeter saja jarak yang ada disana. Satu ... dua ... dan ...



"hei! Apa yang kalian lakukan? Cepat pulang! Dasar anak nakal!", teriak satpam sekolah

Kedekatan tadi pun lenyap seketika, terlarut dalam kepanikan mereka. Rio langsung berlari sambil menarik Ify di belakangnya. Tak peduli dengan apa yang terjadi, mereka bergegas pulang sambil menaiki motor. Rio mengantar Ify sampai di depan gerbang rumahnya, seperti biasa. Karena Ify belum pernah mengizinkannya untuk masuk atau melewati gerbang ini. Dan itu bukanlah masalah untuk Rio. Karena baginya, bersama Ify dan mengantarnya merupakan hal yang sudah lebih dari cukup.

***

Rumah yang sepi ini, terasa begitu lebih sepi. Kepergian om Vano, ibu, Tasya, dan Tania untuk perayaan HKS lah yang menjadi faktor penyebabnya. Tapi Alvin, dia masih berdiam di kamarnya. Entah apa yang akan ia lakukan di malam romantis ini, tak ada hal yang membuatnya tertarik.

Bosan dengan posisinya yang hanya memandang lalu lalang pasangan dari jendela kamarnya, Alvin beranjak untuk mengambil buku hariannya. Namun baru saja buku itu dibuka, matanya langsung terpaku pada gambar di halaman pertama. Yaitu sketsa wajah Sivia.

"dia ... "

Tangan itu mulai merabah goresan pensil yang bertengger disana. Sungguh, Alvin mencintai Sivia. Mau bagaimana pun juga, Sivia tetaplah cinta pertamanya.

"ya ampun, dia! Astaga, kenapa gak kepikiran dari tadi?"

Dengan sigap, Alvin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

***

Pada malam ini, tepatnya hari yang spesial ini. Ada seorang gadis yang tampak jauh lebih anggun dari kesehariannya, dia adalah Agni. Bukan untuk sekedar menepati perkataannya pada Alvin, Agni datang ke rumah Cakka dengan cake coklat yang sudah disiapkannya. Ia datang untuk membicarakan semuanya, tentang perasaan yang sudah meluap dalam relung hatinya.

Tak peduli dengan latar belakangnya sebagai wanita atau bunga yang harus menunggu lebah menghampirinya, Agni telah memilih untuk menyatakan perasaannya lebih dahulu daripada harus menunggu lebih lama lagi.

"permisi", ujarnya sambil mengetuk pintu rumah yang didominasi warna coklat kayu itu

Rumah Cakka, tempat itulah yang diinjakinya saat ini. Meski jantungnya berlomba, tanda kekhawatiran akan pilihannya yang -mungkin- salah. Agni tetap mengepal tangannya erat, untuk mengetuk pintu yang juga berwarna coklat ini.

"wah mas Cakka ya, non? Baru aja mas Cakkanya pergi", ujar seorang parubaya dengan kain lap di punggungnya

"kemana bi? Makan malem bareng om sama tante?", tebak Agni

"bukan non, yang jelas tadi mas Cakka pergi naik mobilnya. Kayaknya sih mau pergi sama temennya"

Temannya? Siapa? Kalau Rio, tidak mungkin! Dia sedang kencan dengan Ify. Lalu Alvin? Ah dia tidak akan keluar pada malam hari.

Jadi, siapa lagi kalau bukan mereka berdua?

"eng enggak bi, Agni cuma mau ngomong bentar sama Cakka"

"oh yaudah, kalo gitu tunggu di dalem aja. Kebetulan tuan sama nyonya lagi makan malem di luar"

Agni tersenyum, dia dan bibi memang sudah dekat. Dulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar Agni sangat sering main ke rumah Cakka. Sama seperti Cakka yang sering ke rumah Agni. Tapi itu dulu, jauh sebelum semua ini terjadi.

***

Lagi-lagi alunan musik lah yang terdengar. Tapi kali ini berbeda! Melodi ini bukanlah buah karya Beethoven, Mozart, atau sang maestro lainnya. Ini hanya musik sederhana yang teralun dari gitar yang tak kalah sederhana. Bukan sebuah lagu, ini hanya melodi indah yang ia ukir sendiri. Di hadapan perempuan ini, ia menampilkan yang terbaik. Demi kelangsungan saat-saat indah ini.

"Tania"

"ya?"

"mau dansa dengan ku?"

Tania mengangguk, ia mengulurkan tangannya yang langsung disahuti oleh genggaman Iyel. Di tengah taman kota yang cukup ramai, mereka mulai menari di rerumputan. Mengikuti irama yang berputar dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga sesaat kemudian, Iyel menyenderkan kepala Tania tepat pada dada kirinya.

"kamu mau mendengarnya?"

"apa?"

"tutuplah matamu, dan tajamkanlah telingamu"

Gadis itu menurut, ia melakukan apa yang diperintahkan padanya. Dan hal itu pun terdengar, detakan jantung yang jauh lebih cepat.

"apa kau mendengarnya? Apa kau merasakannya? Apa jantungmu juga seperti ini, sekarang?"

masih dalam mata yang terpejam, Tania mengangguk dengan senyumnya yang menawan.

"iya, tentu saja", sahut Tania

Iyel mendekatkan mulutnya, tepat di telinga Tania. Ada yang ingin ia sampaikan.

"Tania, aku mencintaimu"

"kau? Ah Gabriel", Tania memeluk Iyel erat

"aku juga mencintaimu", lanjutnya

Dan pada hari kasih sayang inilah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Tania dan Iyel, ah kalian serasi!

***

"dasar cowok gak peka! Bukannya cegah gue, biar gak pulang sama Shilla. Malah ngalah, dan pulang sama Agni. Terus tadi, ngapain coba pake segala ngasih coklat ke Agni juga. Emang sih dia sahabat lo, tapi elo kan gak harus kasih itu di depan gue"

"direbutin dua cowok itu gak menjamin yah! Yang satu gak peka, yang satu lagi gak tau kemana"

"argh, bisa jadi orang apaan nih kalo gue ngegalau di malem HKS kayak gini. Udah malah gue ditinggal sendirian. Papa mama pasti lagi nikmati paket super romantis di kapal, kak Iyel? Paling udah jadian sama kak Tania. Gue? Ah nyebelin! Si Shilla juga ikut pergi segala lagi, padahal juga biasanya dia kan kesini buat bikin kue bareng"

KRING KRING!!! Ponsel Sivia berdering, membuatnya segera bangkit berdiri. Dan benar saja, nama Alvin pun terpajang indah di layar ponselnya. Akhirnya!

"halo", sapa Sivia sambil menahan kegirangannya yang meluap

"hai Vi, ini gue Alvin"

"em Vi, malem ini elo ada acara gak?", lanjutnya

'acara? Wah! Pasti dia mau ajak gue dinner', pikir Sivia

"enggak kok, Al. Emang kenapa?", sahut Sivia seolah tak mengerti maksud Alvin

"mau ke rumah gue? Maksud gue, disini ada banyak makanan dan gue gak bisa habisin sendirian. Apa elo mau bantuin gue?"

'bilang aja mau ajak dinner, pake segala alesan banyak makanan lagi'

"halo Vi? Gimana? Elo bisa kan?", tanya Alvin lagi

"iya Al, gue bisa"

"oke, kalo gitu gue tunggu jam 8 yah. See you, Vi", ujar Alvin mengakhiri sambungan teleponnya

Sivia berjalan santai menuju ranjangnya, memejamkan matanya sejenak. Ada satu hal yang ia pertanyakan dalam benaknya saat ini, yaitu tentang tujuan Alvin mengundangnya makan malam. Apa ini cara lelaki itu untuk menanyakan jawabannya akan pertanyaan tempo itu? Ah, entahlah!

Untuk kedua kalinya, gadis itu memejamkan matanya.

"Alvin ... Duto ... Ah kalian berdua membuatku ... ", teriakan itu terhenti saat kedua matanya terbuka di hadapan jam dinding

Pukul 18.30! Tanda kalau tiga puluh menit lagi makan malam akan dimulai. Itulah yang membuat Sivia segera bangkit berdiri, membuka lemari, lalu mulai mendandani diri. Ia harus tampil spesial malam ini.

Tepat pada pukul 18.45, gadis berambut panjang ini sudah tampil manis dengan stylenya yang girly. Dress berwarna oranye dengan renda pada bagian ujungnya, nampak begitu serasi dengan sepatu highheelsnya yang bercorak sama. Sivia, kau sungguh cantik!

Usai bercermin, untuk memastikan semua pernak-pernik telah menempati posisi yang pas di tubuhnya. Sivia melangkahkan kakinya, keluar dari kamarnya, lalu bergegas membuka pintu rumahnya. Namun langkah itu terhenti, saat rupa lelaki yang tampil dengan kemeja casual berwarna hitam dihadapannya.

Untuk kedua kalinya, gadis itu memejamkan matanya.

"Alvin ... Duto ... Ah kalian berdua membuatku ... ", teriakan itu terhenti saat kedua matanya terbuka di hadapan jam dinding

Pukul 18.30! Tanda kalau tiga puluh menit lagi makan malam akan dimulai. Itulah yang membuat Sivia segera bangkit berdiri, membuka lemari, lalu mulai mendandani diri. Ia harus tampil spesial malam ini.

Tepat pada pukul 18.45, gadis berambut panjang ini sudah tampil manis dengan stylenya yang girly. Dress berwarna oranye dengan renda pada bagian ujungnya, nampak begitu serasi dengan sepatu highheelsnya yang bercorak sama. Sivia, kau sungguh cantik!

Usai bercermin, untuk memastikan semua pernak-pernik telah menempati posisi yang pas di tubuhnya. Sivia melangkahkan kakinya, keluar dari kamarnya, lalu bergegas membuka pintu rumahnya. Namun langkah itu terhenti, saat rupa lelaki yang tampil dengan kemeja casual berwarna hitam dihadapannya.

Untuk kedua kalinya, gadis itu memejamkan matanya.

"Alvin ... Duto ... Ah kalian berdua membuatku ... ", teriakan itu terhenti saat kedua matanya terbuka di hadapan jam dinding

Pukul 18.30! Tanda kalau tiga puluh menit lagi makan malam akan dimulai. Itulah yang membuat Sivia segera bangkit berdiri, membuka lemari, lalu mulai mendandani diri. Ia harus tampil spesial malam ini.

Tepat pada pukul 18.45, gadis berambut panjang ini sudah tampil manis dengan stylenya yang girly. Dress berwarna oranye dengan renda pada bagian ujungnya, nampak begitu serasi dengan sepatu highheelsnya yang bercorak sama. Sivia, kau sungguh cantik!

Usai bercermin, untuk memastikan semua pernak-pernik telah menempati posisi yang pas di tubuhnya. Sivia melangkahkan kakinya, keluar dari kamarnya, lalu bergegas membuka pintu rumahnya. Namun langkah itu terhenti, saat rupa lelaki yang tampil dengan kemeja casual berwarna hitam dihadapannya.

"hai Vi! Lho, kamu mau kemana?", tanyanya tersentak

"Duto? Em gue ... gue ... ah kebetulan ada lo. Elo bawa mobil kan?", tanya Sivia pada lelaki yang ternyata bernama Duto

"bawa, emangnya kamu mau kemana?", tanyanya lagi

"udah, nanti gue kasih tau", tanpa sadar Sivia menarik lengan Duto

"Vi", tegur Duto

"ops sorry", dengan spontan Sivia melepas tarikannya

"eh bukan Vi, maksud aku bukan tangan kamu. Tapi, ini Vi. Aku bawa bunga buat kamu"

Mawar putih, itulah jenis karangan bunga yang disodorkannya pada Sivia. Gadis ini tak bergeming. Duto tidak berubah, bahkan kebiasaannya memberi warna putih untuk Sivia di hari kasih sayang pun masih terus dilakukannya. Tapi Sivia masih tetap berpegang pada prinsipnya yang sebelumnya, jawaban untuk siapa yang menjadi lentera hatinya tak akan berubah.

"thanks", ujar Sivia yang mengambil mawar tadi

"gue taruh ini di dalem dulu ya", lanjut Sivia yang kembali masuk ke rumahnya

Usai beberapa menit, Sivia kembali dan menaiki mobil bersama dengan Duto. Tanpa sepengetahuan Duto, mereka berdua berangkat menuju rumah Alvin.

***

Gemerlap kota Jakarta yang begitu menyala membuat Cakka dan Shilla terperangah menatapnya. Lalu lalang mobil juga para gedung pencakar langit terlihat begitu indah dari tempat ini. Angin malam yang berhembus pun terasa menjadi teman yang menyejukan bagi mereka, terutama Cakka yang sedari tadi menggosok kedua telapak tangannya. Lelaki ini tak mengerti tentang dirinya sendiri, apalagi tentang siapa lentera hatinya.

"keren banget ya, Cak"

"itu kata-kata yang udah kamu ulang tujuh kali, Shill"

"hah? Iya yah? Hehe, abis tempat ini keren banget"

Shilla merentangkan kedua tangannya, berharap angin dapat membawanya terbang.

Namun Cakka, ia hanya terduduk diam memandang gadis yang ada di hadapannya.

"ini gedung apa, Cak?", tanya Shilla yang masih pada posisinya

"ini atap gedung galerinya Alvin, Shill"

"galerinya Alvin? Dia punya galeri sebesar ini?"

"dia pelukis, Shill. Dia pelukis yang paling hebat, yang pernah gue temuin. Karya-karyanya juga udah dikenal banyak orang, em elo mau gue ajak keliling?"

"enggak deh, gue juga kurang ngerti soal seni. Tapi apa elo udah izin?"

"ya udahlah. Udah elo tenang aja, dia bukan orang yang bocor kok. Jadi besok, anak-anak gak akan ada yang tau soal malem ini"

"waw, elo pinter banget. Gue aja gak kepikiran sampe kesana", Shilla menghampiri Cakka

Cakka menatap langkah Shilla dengan tangan yang memegang erat dadanya sebelah kiri. Jantungnya biasa saja, tak berdetak kencang layaknya orang yang sedang kasmaran. Tak ada yang spesial dari Shilla, itulah yang ada di benak Cakka.

Apa Cakka benar-benar menyukai gadis ini? Atau mungkin, ini hanya suatu rasa pelampiasan karna cintanya yang tak sampai dengan Agni?

"makasih ya", ujar Shilla mendudukan dirinya di sebelah Cakka

Tatapan Shilla, ah cantik sekali. Siapa pun dia, asalkan laki-laki, pastilah membelalakan matanya. Termasuk Cakka yang menjadi satu-satunya laki-laki disini. Meski tak ada pertanda orang jatuh cinta, Cakka tetaplah yakin kalau pilihannya pada Shilla tidaklah salah.

"buat apa?"

"buat semuanya. Buat sapu tangan lo, buat kehadiran lo, dan buat malam ini"

Berbeda dengan Cakka yang tak memiliki efek apa-apa atas adegan kali ini, Shilla malah terus menahan mulutnya untuk tersenyum, juga sibuk mengatur pola detak jantungnya sejak pertama kali bertemu Cakka di depan rumahnya tadi. Memang aneh, tapi itulah yang dirasakannya. Shilla menyukai Cakka.

"wah, kenapa disini dingin sekali", seru Shilla sambil memeluk dirinya sendiri

Paham dengan maksud Shilla, dirinya langsung melepas jaket tebalnya lalu merentangkannya tepat di bahu Shilla juga di bahunya sendiri. Membuat mereka duduk semakin lebih dekat.

"Shill", panggil Cakka dengan mata yang lurus ke depan

"ya?", sahut Shilla yang juga menatap lurus ke depan

Entah mengapa, berpandangan membuat keduanya menjadi salah tingkah.

"Apa ada cowok yang lo suka?"

"iya, ada"

"pasti kak Iyel, kakaknya sahabat lo yang waktu itu kan?"

"Cakka .. Cakka. Kak Iyel itu kakaknya Sivia, tapi maksud gue tadi itu bukan dia. Ada cowok yang lain"

"siapa?"

"Cakka, namanya"

Dan ya! Meski menghindar, hal itu tetaplah terjadi. Untuk kedua kalinya, mata itu saling tatap. Namun kali ini, ada tempo yang membuat mereka menengok secara bersamaan. Bagi Shilla, Cakka adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membasuh luka di hatinya. Dan bagi Cakka, Shilla adalah segumpal cahaya yang membuat hatinya menjadi terang kembali. Tentang beberapa hal pertanda jatuh cinta pun, sudah tak dipedulikan oleh lelaki ini. Yang terpenting ialah Shilla yang akan menjadi miliknya.

"aku rasa kita harus pulang", Shilla berdiri lalu mengulurkan tangan yang disahuti Cakka

Kini, tinggalah Cakka yang menentukannya. Toh, Shilla juga telah menyukainya.

***

Sepasang manusia ini tampak begitu serasi, corak warna pakaian yang mereka kenakan pun seakan menandakan kalau mereka adalah sejoli yang sedang kasmaran. Dua tahun yang mereka lalui, tidaklah mengurangi harum cinta yang menyeruak. Melainkan memupuk benih cinta yang mereka tanam bersama. Tasya dan Steve, begitulah nama mereka.

"kamu suka steaknya!", tanya Steve di sela laju makannya

"suka, kentangnya ini lho crispy banget"

"hehe, iyalah. Restorannya siapa dulu?"

"huu, sombongnya yang punya restoran!", Tasya menimpuk kentang tepat ke arah Steve

"duh, sakit tau. Sini! Rasakan pembalasanku", Steve bangkit berdiri lalu mencubit Tasya dengan gemasnya

Tasya memejamkan mata sipitnya, demi menahan geli juga sakit dari cubitan ala Steve. Dan kekasihnya pun nampak tak peduli dengan hal itu, ia tertawa terbahak melihat reaksinya yang sungguh lucu.

"selamat malam, ini ada minuman spesial untuk nona Tasya", ujar seorang pelayan yang mengakhiri tingkah sepasang kekasih ini

Hari ini memang spesial, tapi Tasya tak menyangka kalau semua akan berlangsung seindah ini. Restoran steak yang dipimpin oleh keluarga Steve secara turun temurun ini pun telah dipesan hanya untuk mereka berdua, sehingga tak ada satu pun pelanggan yang mengisi bangku-bangku disini. Dan kini, masih ada minuman berwarna hijau yang tersaji di hadapannya. Gadis oriental ini melirik ke arah Steve, ia ingin menanyakan maksud lelaki itu. Tapi sang kekasih hanyalah mengangguk, membuat Tasya segera meminumnya.

Entah apa yang ditaruh pelayan dalam minuman ini, tapi ada suatu benda yang terdengar bila Tasya memutar sedotannya. Penasaran dengan benda tersebut, ia mengangkat sedotannya. Dan ...

"cincin? Steve, apa maksudmu?", Tasya memegang cincin bermata batu berlian warna biru muda

"ini maksudku", Steve mengambil cincin tadi lalu mengenakannya pada jari manis tangan kiri Tasya

"pas, apa kau menyukainya?", lanjutnya

"Steve, kau ... "

Lelaki itu memotong perkataan kekasihnya, dengan kecupan hangat di punggung tangan kiri sang kekasih. Ia memandang Tasya dengan lekat, menatap tulang rusuknya yang begitu sempurna untuk melengkapi hidupnya. Rona bahagia juga rasa kasih sayang yang menguasainya kali ini, Tasya telah dipilihnya.

"aku mencintaimu, Tasya. Maukah kau menjadi pendampingku? Menjadi pasangan hidupku?"

Aliran air mata itu tertumpah dengan cepat, tak ada jawaban yang terlontar disana.

Hanya ada desahan napas dengan isakan yang terdengar.

"Steve, maaf ... Maafkan aku", ujar Tasya yang sibuk menghapus aliran air matanya

"Ma maksud kamu?"

"Maaf aku gak bisa"

"Aku gak bisa tahan air mata aku. Ah gak seharusnya aku nangis di saat yang membahagiakan ini", lanjut Tasya

"lalu, apa jawaban kamu?", entah sudah berapa kali Steve bertanya

"aku mau, Steve. Aku mau", Tasya bangkit berdiri dan segera memeluk kekasihnya tersebut

"makasih, Sya. Aku ... Aku sangat mencintaimu", bisik Steve dengan pelukan yang semakin erat

"Aku pun begitu"

***

Semilir angin telah menjadi temannya selama 4 jam belakangan ini. Menunggu Cakka dalam kedinginan malam, malah membuat Agni terlelap dalam kantuknya. Hingga pada akhirnya, tepat saat jam menunjukkan kata setengah sembilan malam. Sinar cahaya dari mobil yang datang, membuat gadis ini tersadar dan menatap siapa yang datang.

"Agni?", tanya dia yang baru saja tiba

"eh Cak, elo baru pulang?"

"iya, tadi gue abis pergi sama Shilla. Kenapa, Ni? Kok tumben elo kesini?"

'Shilla? Cakka sama Shilla?', hati yang sudah bulat ini pun mulai menunjukkan retakannya

Agni terdiam, dia sama sekali tak paham cara bersikap dengan baik. Cakka, Shilla, bahkan semua yang terjadi pada malam ini benar-benar menyesakan dadanya. Sampai akhirnya, ia meneteskan air mata yang sulit untuk ditahan

"Ni, elo baik-baik aja kan?", tanya Cakka memastikan

"ini, gue bawa cake coklat buat lo. Gue balik yah Cak", ujar Agni yang langsung berlalu pergi

"lho, Ni? Tapi ... "

Percuma saja Cakka mencegah gadis itu, karena ia tahu apa penyebab semua ini. Pilihannya salah? Agni cemburu pada Shilla? Tapi, bukankah Agni sudah memiliki kekasih -dulu-? Ah sudahlah! Kalau memang Agni cemburu, mungkin ini adalah pembalasan untuknya. Toh, ini semua berawal darinya. Dia yang terlebih dahulu menyakiti Cakka.

***

Dua pasang yang bukan kekasih ini telah bersiap di depan pintu suatu rumah yang cukup megah, demi menunggu sang empunya rumah membukakan pintu. Dan benar saja, sela beberapa menit kemudian, pintu itu pun terbuka.

"Duto?", tanya si pembuka pintu

"Iya Al, gapapa kan kalo gue ajak Duto?"

Alvin yang sudah tampil dengan kemeja berbalut switer itu mengernyitkan alisnya, bagaimana mungkin Sivia mengajak Duto? Apa maksud dari gadis itu?

"I iya gapapa, yaudah kalo gitu silahkan masuk", ucap Alvin dengan senyum tipisnya

"Gue harap makanannya enak ya, bro", bisik Duto yang membuat senyum tipis itu sirnah seketika

TO BE CONTINUED

maaf ngaret :D i hope you like it, guys :)
alvia dikit yah?? hehehe :D wait aja yaaa wkwk

GoGoFollow
@brendafiona_

just mention for follback ^^

See You On Next Part
Thanks For Read

Tidak ada komentar: