Kini
mereka berdua menangis, merasakan perih yang menggeliat dalam
sanubari. Sivia menyesal, kesalahannya memang besar. Shilla pun sudah
terlalu kecewa dengan sikap Sivia.
“gue marah, Vi. Gue kesel, gue marah sama lo”, lirih Shilla
"dulu, gue cuma anak yang selalu sendiri. Duduk di kursi roda, tanpa ada anak seusia gue yang nemenin. Gue sendiri dan duduk diam di atas kursi itu. Tapi itu gak lama, sampai akhirnya elo dateng. Lewat kepindahan elo ke Jakarta dengan rumah yang sebelahan sama gue, pas kita masih SMP kelas satu. Kita dipertemukan, Shill"
"waktu itu kita deket banget, kemana-mana pasti selalu berdua. Tapi, gak lama kemudian elo pindah. Meski masih satu komplek, tapi rumah lo gak di sebelah rumah gue lagi. Saat itu gue sedih banget, tapi lagi-lagi elo ada buat hapus air mata itu. Elo selalu dateng buat ajarin gue gimana rasanya sekolah formal, padahal gue yakin elo punya banyak temen yang lebih baik dari gue"
"elo ada buat gue, dan gue gak mau hal itu berakhir sampe disini, Shill", papar Sivia
"gue emang marah sama lo, Vi. Tapi mau bagaimana pun elo tetep sahabat gue, kan?", tanya Shilla yang langsung bangkit berdiri
Keduanya memancarkan senyum yang terbaik. Shilla mengulurkan tangannya, membantu Sivia untuk bangkit berdiri. Mereka saling meminta maaf, dan sepakat untuk mengakhiri permasalahan ini. Sivia sudah merasa lega, karena dirinya masih dapat memiliki sahabat macam Shilla. Dan Shilla, ia akan membuka lembaran baru dalam romansanya.
***
Keharuan tadi telah berakhir, kini mereka berdua sedang berjalan memasuki ruang musik. Bergabung dengan Agni dan Ify yang sudah terlebih dahulu sampai disini.
"hai girls!", sapa Shilla dengan Sivia yang berada di sebelahnya
Wajah yang sudah cukup familiar baginya membuat Ify terperangah. Gadis itu? Dia yang waktu itu menampar Duto di depan umum, di depan semua siswa!
"hai Shill, lho kok ada Sivia?", tanya Agni
"iya, gapapa kan gue disini?", sahut Sivia
"ya gapapa lah Vi, eh Vi! Kenalin ini Ify, dia juga kelas tiga. Sama kayak kita"
Ify terdiam. Meski tangan Sivia telah terulur di hadapannya, dia malah menatap wajah Sivia lekat. Sivia! Dia adalah perempuan yang sudah membuat Duto terlena, dan yang masih diingat Ify ... Sivia telah menyakiti Duto. Itulah yang menyebabkan diri Ify tak mampu menyahuti uluran tangan Sivia. Menurut Ify, Sivia hanyalah debu pengganggu yang harus disingkirkan dari hidup Duto.
"gue Ify", ujar Ify tanpa melirik apalagi menggapai uluran tadi
"em gue Sivia", sahutnya sambil menarik tangannya kembali
Shilla dan Agni saling tatap, mereka sama sekali tak mengerti dengan tingkah Ify. Lalu ada apa dengan sahabat mereka yang satu ini? Padahal sebelumnya, Ify tidak pernah bertemu dengan Sivia -setau mereka-.
"oke girls, gu ada ide nih. Gimana kalo Sivia gabung sama band kita? Kan kita juga lagi butuh vokalis", saran Shilla
"tapi Shill, ... ", Sivia yang tidak tau apa-apa pun menyanggah
Namun,
"ide bagus tuh", potong Agni
"tapi gue gak bisa nyanyi"
"udahlah Vi, elo gak usah bohong! Kan dulu elo pernah ikut les vokal, dan itu berarti, suara lo udah dijamin bagus", ucap Shilla
"wah oke nih, Shill. Gimana Fy, menurut lo?", tanya Agni
"gue sih terserah kalian aja"
"nah kalo gitu, elo resmi jadi vokalis band kita", ujar Agni memutuskan
"ta tapi ... "
"gak boleh ada tapi! Hehe, selamat yah vokalis", Shilla langsung menjabat tangan si sobat kecilnya itu
"latihan mulai diadakan tiga hari ke depan, pas pulang sekolah. Jangan telat yah", ungkap Ify
Ingin rasanya Ify bicara panjang lebar pada Sivia, ingin rasanya dia menjalin tali persahabatan layaknya dirinya dengan Shilla juga Agni. Tapi lagi-lagi, kekesalan itu timbul. Menjalar masuk ke dalam sela pikirannya, hingga teralihkannya semua keinginan tadi.
***
Latihan basket telah usai, begitu pula dengan latihan band.
Mereka saling berpencar, dan berpasangan satu sama lain. Alvin dengan Sivia di gerbang belakang sekolah untuk menunggu Tania yang datang menjemput, Ify dengan Rio yang saling membantu untuk merapihkan bola-bola basket, Shilla dengan Cakka yang tengah bersiap di lapangan parkir, juga Agni yang berdiri di seberang sana dengan mata yang sibuk memperhatikan nuansa mereka berdua.
Sedih memang, tapi ini adalah pilihannya. Berdiam diri untuk menunggu lelaki yang tak kunjung sadar akan rasa sukanya yang terus bertumbuh. Lagi-lagi dia sadar, kalau dirinya adalah seorang perempuan. Dan sungguhlah tak mungkin, kalau ia yang lebih dulu menyatakan rasa itu.
"jadi, dia yang namanya Cakka", ujar seseorang di sebelah Agni
"Ozy? Kamu kok ngomong gitu. Panggil dia kak Cakka", bela Agni
"gak peduli kak atau Cakka. Bagi aku dia tetep satu orang yang udah buat kakak kayak gini"
"Ozy, kamu tuh ya"
"kak! Mau sampe kapan kakak kayak gini? Cakka tuh bukan yang terbaik buat kakak, udahlah kak lupain dia"
"kakak tuh cantik, baik, bahkan kakak juga perhatian kan sama orang lain. Kak, kakak tuh enggak cacat. Dan di luar sana! Begitu banyak cowok yang mau jadi pasangan kakak. Jadi mau sampe kapan, kakak kayak gini?", lanjut Ozy
"Cakka beda, Zy. Dia emang gak peka, tapi kakak gak bisa ubah sikap ini. Ini pilihan kakak, Zy"
"ayo kita pulang", Agni menarik lengan Ozy yang nampak begitu berapi
"Ozy, ayo!", ujar Agni lagi
Kini, mereka menuju mobil yang terparkir di depan sekolah. Ozy benar! Namun Agni, dia tak mungkin berbalik dan meninggalkan sikap ini. Agni yakin, suatu hari nanti Cakkalah yang akan memulai semua itu.
"gara-gara kejadian semalem, gue jadi sering sama elo gini. Hehe, sorry yah", ujar Shilla sambil mengambil helm yang memang disediakan Cakka baginya
"gapapalah Shill, gue juga seneng ada temen barengnya"
"hehe, iya. Eh Cak, gimana latihan basketnya?", kini Shilla merapihkan rambutnya untuk mengenakan helm tadi
"bagus Shill, hari ini latihan terakhir. Elo gimana bandnya?"
"sama Cak, besok kita gak latihan dulu. Yah, elo taulah kenapa"
"iya, pasti karna HKS kan?"
"iya"
"ngomongin HKS, ada yang mau gue tanyain ke elo Shill"
"gu gue em gue ... maksud gue, elo ... besok malem tapi gak terlalu malem juga sih. Em, apa elo ... "
"gue enggak ada acara, dan gue bisa jalan sama lo. Tapi gak boleh lewat dari jam delapan malem, oke?"
Shilla langsung menaiki motor Cakka, dan berpegangan erat pada pinggang si pengemudi. Cakka yang tak percaya kalau Shilla sudah tau maksud ucapannya itu malah melebarkan mulutnya hingga terbentuklah senyuman puas.
***
Di tempat lain, Ify sedang memegang dua bola basket yang akan diopernya pada Rio untuk dimasukan ke dalam ruang olahraga.
Hingga semua bola sudah tertata rapih, Rio mengunci ruangan itu. Dengan santai, dia menggapai jemari Ify lalu menggandengnya. menyukai ini, ia suka dengan cara Rio memperlakukannya. Cara yang sederhana, namun begitu romantis di matanya.
Mereka berdua berjalan bersama, sampai tiba di lapangan parkir yang sudah sepi. Tepat pada beberapa saat setelah Shilla dan Cakka pergi. Rio sibuk menata barang-barangnya di gantungan motor, dengan mulut yang terus berkomunikasi dengan Ify.
"besok aku sama yang lain enggak latihan, tapi apa kamu mau pulang sore kayak gini lagi?", tanya Rio
"ya tergantung alesannya sih, emang kenapa Yo?"
"besok kan HKS, Fy. Dan Hari Kasih Sayang itu harus dilalui sama orang yang kita sayang, dan menurut aku ... kamu adalah orang itu. Jadi besok jangan pulang dulu yah"
Selama Rio berbicara, Ify hanya terdiam. Dia malah menatap sosok yang nampak berlari sambil merapihkan seragamnya. Duto, dialah orang itu.
Entah kenapa, Ify merasa bersalah atas hubungannya dengan Rio. Karena itu, Duto harus pulang sendiri. Tapi Duto, dia malah menoleh ke arah Ify dan tersenyum lebar. Setidaknya itu mampu menghapus sedikit rasa bersalah saudaranya, begitulah pemikiran lelaki ini.
"halo Fy? Elo kenapa sih? Liatin siapa?", Rio berusaha mengikuti arah pandang Ify, tapi disana tidak ada siapa pun
"ah bisa Yo, gue pasti bisa kok"
Kini lelaki itu mengambil helm, dan mengenakanya lembut pada kepala Ify. Rio benar-benar mencintai Ify, ia sungguh menyayangi gadis itu. Tak peduli sekeras apa rasa amarahnya pada Alvin, di dalam dirinya masih ada kasih yang begitu nyata. Salah satunya untuk Ify.
***
Lalu lalang mobil selalu menjadi pemandangan rutin mereka berdua, ketika waktu pulang tiba. Seperti biasa, Sivia lah yang sibuk melirik untuk berjaga kalau Tania datang. Namun Alvin, ia lebih memilih duduk di pinggir trotoar dengan wajah yang tertunduk.
Hubungan tanpa status memang menjengkelkan, tapi mereka berdua nampak tak peduli akan hal itu.
"udah sepuluh menit kita disini", lelah berdiri Sivia duduk di sebelah Alvin
Entah kenapa, sedari tadi Alvin terut menundukan kepalanya dan membungkam mulutnya rapat. Sivia yang merasa aneh dengan adegan ini segera memfokuskan diri pada Alvin, ia takut kalau akan terjadi sesuatu menakutkan lagi.
"Al, elo ... ", Sivia menghentikan ucapannya
Bukannya melanjutkan kata-kata tadi, Sivia malah menggigit bibirnya. Ia melihat tetesan darah membasahi sepatu Alvin, tidak hanya satu melainkan banyak tetesan yang kian mengucur disana.
"Al, cukup! Angkat muka lo, biar gue yang bersihin"
"enggak Vi, elo pasti takut. Gue serem, Vi. Darahnya terlalu banyak"
"enggak! Gue gak takut. Ayo Al, angkat muka lo"
Perlahan atau mungkin sangat pelan, wajah itu mulai terangkat. Warna pucat telah mewarnai wajah oriental itu. Mata yang semula sipit itu pun tak lagi terbuka, rasa pusing yang luar biasa di kepalanya lah yang menyebabkan semuanya ini terjadi. Dan benar saja, tetesan darah yang begitu banyak telah memenuhi sekujur wajah Alvin. Darah yang keluar dari hidung juga mulutnya itu mengalir dengan lancarnya, membuat Alvin harus menutupnya rapat-rapat.
"sini, biar gue bersihin", Alvin membiarkan Sivia melaksanakan keinginannya
Perempuan yang dicintai Alvin ini segera mengambil sejumlah tisu yang ada di dalam tasnya, lalu mulai mengelap darah yang ada disana. Ia mengerjakan tugasnya dengan baik, melawan rasa jijik yang terus menyerangnya.
"apa kamu gak jijik sama aku?", tanya Alvin yang nampak menurut dengan tingkah Sivia kali ini
"enggak, buat apa gue jijik? Gak ada gunanya juga kan?"
"tapi, ... "
Jari telunjuk mengarah pada mulut Alvin, menyuruhnya untuk menghentikan ucapannya.
"elo orang yang berarti buat gue"
"oke, sekarang muka lo udah bersih. Lain kali, elo bilang aja ya. Gak usah diumpetin kayak tadi", lanjut Sivia
"thanks Vi", Alvin memegang tangan yang telah membasuh darahnya
"sama-sama. Kalo lo gak kuat buat main, gak usah dipaksain yah", pesannya
Percuma saja ucapan Sivia, karena Alvin pasti akan bertanding dengan penampilannya yang terbaik.
***
Lampu yang ada di meja belajar sudah cukup baginya, demi menulis apa saja yang sudah di laluinya selama beberapa hari belakangan ini. Ia tidak lagi melakukannya untuk Tania, melainkan untuk dirinya sendiri. Alvin takut, bahkan ia sangatlah takut menghadapi hari-hari dimana kankernya bertambah parah. Ia tak takut harus menjadi botak, ia tak takut harus memiliki kulit yang hitam, ia tak takut harus merasakan sakitnya kemoterapi, tapi ia takut ... Alvin takut kehilangan semua hal yang telah dilaluinya, terutama hal dengan Sivia.
Om Vano sudah memberitahunya tentang semua hal itu, yakni beberapa hal yang akan dirasakan Alvin suatu saat nanti. Dia tak mau kehilangan semua ingatan indah ini, ia tak mau melupakannya. Itulah sebabnya Alvin menulis di note ini, berharap note tersebut dapat membantunya mengingat semuanya kembali.
"hei, kamu belum tidur?", tanya Tania yang baru saja memasuki kamar adiknya
"belum, kakak juga belum tidur?"
"iya, kakak gak bisa tidur. Vin, tadi Sivia bilang kamu mimisan. Apa kamu ... "
"aku gak papa kak, aku baik-baik aja kok", potong Alvin
"kakak tau, kalo besok lusa kamu ada pertandingan. Tapi inget Vin, kamu harus jaga diri kamu. Karena kamu sendiri yang tau gimana kondisi kamu"
"iya kak, Alvin tau kok. Kakak tenang aja"
Alvin memeluk Tania, membuat Tania harus menuruti pendapatnya. Inilah kebiasaan si adik, memeluk sang kakak supaya keinginannya dituruti. Menyebalkan namun mengharukan.
"maafin kakak"
"lho kok jadi kakak yang minta maaf sih?"
"kakak takut, Vin", Tania mempererat pelukannya
"kakak takut semua yang dibilang papa akan bener-bener terjadi sama kamu, kakak gak mau liat itu Vin. Kakak gak mau"
"coba deh, sekarang kakak liat aku", Alvin melepas dekapannya lalu memegang kedua pipi Tania untuk menatap tubuhnya
"rambut Alvin masih utuh kan? Kulit Alvin juga masih normal. Ini, tangan Alvin enggak gemetar. Ya walaupun muka Alvin pucat, tapi Alvin masih jadi adiknya kakak yang paling keren kan?", sahutnya
Tangan itu membasuh air mata yang mulai mengalir, lalu menarik pipi chubby itu dengan perlahan. Hingga membuat senyum yang damai di wajah tersebut.
"jangan takut lagi ya kak"
***
Kicauan burung teralun merdu, menyambut Hari Kasih Sayang atau yang biasa disingkat dengan HKS. Hari inilah HKS, hari yang spesial untuk menyampaikan kasih pada orang yang disayang.
Ya mungkin, salah satunya pada Alvin. Ketika seisi sekolah kembali pulang ke rumah masing-masing, lelaki ini duduk di antara dua perempuan yang memiliki arti sendiri dalam hidupnya. Yaitu Agni dan Sivia.
"ini buat Sivia, ini buat Agni", ujarnya sambil memberikan masing-masing dua kotak coklat
"wah, gue juga dapet nih", balas Agni
"itu jatah lo tiap tahun kan?"
"hehe, iya juga sih"
"thanks ya, Al", ucap Sivia
"iya, sama-sama. Kita balik naik taksi aja yah. Kan kak Tania lagi makan malem sama kak Iyel", ajak Alvin
"gak usah Al, gue udah janji mau pulang bareng sama Shilla. Sorry yah"
"oh gapapa Vi, gue bisa bareng Agni kok. Iya kan Ni?"
"iya Vi, calon pacar lo ini bakalan aman kok sama gue. Hehe"
"ada-ada aja lo, Ni. Yaudah, gue duluan yah. Bye!", Sivia menghampiri Shilla yang berdiri cukup jauh dari mereka
Agni memandang Alvin. Bocah kecil yang selalu bersamanya sejak kecil ini telah beranjak dewasa, sama seperti dirinya. Mulai mengenal cinta dan rasa suka pada lawan jenis pun terasa kental dalam raut wajahnya.
"kita balik yuk!", dengan santai Alvin menarik tangan Agni
Mereka berdua menaiki taksi, duduk bersama di kursi penumpang. Seperti biasa, Alvin langsung mengedarkan matanya demi melihat pemandangan di jalan raya. Sebenarnya ada satu hal yang ingin dibicarakan Agni pada sahabatnya yang satu ini, dan mungkin inilah saatnya.
"Vin, gue ... "
"eh Ni! Si Ozy mana? Dia gak jemput lo?"
Aduh Alvin! Agni mau membicarakan sesuatu denganmu!
"em ... dia ada acara sama temen-temennya, persiapan buat nanti malem"
"Vin, sebenernya ada yang mau gue tanyain ke elo", lanjut Agni
"soal apa?"
Gadis ini menarik napasnya dalam, ia harus menanyakan hal ini. Tentang lelaki yang sudah lama dinantinya, suatu kumbang yang tak kunjung menghampiri bunganya.
"Cakka, apa dia pernah ceritain tentang perasaannya ke elo?"
"sekarang sih udah jarang, emangnya kenapa Ni?"
"apa omongan lo yang bilang kalo Cakka suka sama gue itu bener? Apa Cakka suka sama gue?"
Dulu, ketika masih mengenakan seragam putih biru. Cakka sering menceritakan isi hatinya pada Alvin, begitu pula Agni pada Alvin. Dan Agni, dia tau tentang aktivitas Cakka yang satu ini. Bahkan Alvin pun pernah memberitahu Agni tentang Cakka yang menyukai Agni. Itulah yang membuat gadis ini rela bertahan sampai sejauh ini.
"dia sayang sama lo, Ni. Soal Shilla, gue gak ngerti. Tapi percaya deh! Cakka itu suka sama lo, dia cuma butuh waktu buat bilang semua hal itu ke elo", Agni mengangguk mengiyakan
Itulah jawaban Alvin, jawaban yang selalu dilontarkannya bila Agni menanyakan hal yang sama. Meskipun begitu, dia tetap percaya pada Alvin. Walau jawaban itu telah dihapalnya, Agni tetap yakin kalau sahabatnya ini tak akan membohonginya.
***
Tinggal menunggu beberapa menit lagi, sehingga mentari akan sepenuhnya terbenam dalam pangkuan langit. Namun dua manusia berseragam sekolah ini masih duduk di taman sekolah, dengan tangan yang masih bergandengan. Burung-burung beterbangan menuju sarangnya, dan semilir angin terasa begitu menyejukan. Inilah saat yang paling diimpikan Ify, kedamaian yang dapat dirasakannya bersama cara Rio yang romantis.
"indah banget, Yo"
"kamu suka kan?"
"iya, banget! Apalagi sunsetnya, ah keren!"
"kalo ini, suka?"
Entah dapat darimana, tiba-tiba saja Rio menunjukan rangkaian bunga mawar. Sesaat kemudian, dia berlutut di hadapan perempuan yang disayangnya itu.
"tiga hari aku hidup dalam rangkaian cinta ini, menggoreskan tinta ketulusan dalam kanvas kehidupan kita. Memang baru tiga hari, tapi sungguh ... aku mencintaimu"
Bagai penyair yang sesungguhnya, syair indah itu terlantunkan dengan fasih. Rio menutup penampilannya kali ini dengan kecupan manis yang mendarat tepat di punggung tangan Ify.
"aku pun mencintaimu, Rio", sahut Ify mengambil bunga tadi lalu bangkit berdiri yang diikuti oleh Rio
Mereka berdua menyalakan musik klasik dari mp3 ponselnya, lalu mulai mengikutinya dengan gerak dansa. Awalnya mereka sama sekali tak memahami sedikit pun, apa itu dansa.
Tapi lama kelamaan, mereka saling melengkapi dan menikmati nuansa ini.
"Rio, jika aku bisa memilih. Aku akan ... "
"kau akan meminta pada waktu untuk berhenti?", potong Rio
"tidak! Aku justru ingin waktu terus berlalu, hingga aku dapat merasakan hal yang lebih romantis lagi nantinya"
Rio menghentikan laju dansa, ia menatap Ify dengan dalam. Sungguh beruntung dirinya mendapatkan perempuan yang begitu istimewa seperti Ify. Perlahan, ia mulai mendekati wajahnya dengan wajah Ify. Begitu pula dengan Ify, yang memahami maksud Rio. Mereka mendekat dengan mata yang terpejam, hingga hanya ada kurang dari satu sentimeter saja jarak yang ada disana. Satu ... dua ... dan ...
TO BE CONTINUED
waaaaah Rio sama Ify .. hahaha :D tenang aja.. cerbung ini gak frontal kok :) penulisnya masih polos :p
HKS itu semacam valentine,, cuma ini lebih bermakna gitu artinya .. pokoknya part ini sama part 15 masih ada unsur HKSnya deeh :D
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
See You On Next Part
Thanks For Read
“gue marah, Vi. Gue kesel, gue marah sama lo”, lirih Shilla
"dulu, gue cuma anak yang selalu sendiri. Duduk di kursi roda, tanpa ada anak seusia gue yang nemenin. Gue sendiri dan duduk diam di atas kursi itu. Tapi itu gak lama, sampai akhirnya elo dateng. Lewat kepindahan elo ke Jakarta dengan rumah yang sebelahan sama gue, pas kita masih SMP kelas satu. Kita dipertemukan, Shill"
"waktu itu kita deket banget, kemana-mana pasti selalu berdua. Tapi, gak lama kemudian elo pindah. Meski masih satu komplek, tapi rumah lo gak di sebelah rumah gue lagi. Saat itu gue sedih banget, tapi lagi-lagi elo ada buat hapus air mata itu. Elo selalu dateng buat ajarin gue gimana rasanya sekolah formal, padahal gue yakin elo punya banyak temen yang lebih baik dari gue"
"elo ada buat gue, dan gue gak mau hal itu berakhir sampe disini, Shill", papar Sivia
"gue emang marah sama lo, Vi. Tapi mau bagaimana pun elo tetep sahabat gue, kan?", tanya Shilla yang langsung bangkit berdiri
Keduanya memancarkan senyum yang terbaik. Shilla mengulurkan tangannya, membantu Sivia untuk bangkit berdiri. Mereka saling meminta maaf, dan sepakat untuk mengakhiri permasalahan ini. Sivia sudah merasa lega, karena dirinya masih dapat memiliki sahabat macam Shilla. Dan Shilla, ia akan membuka lembaran baru dalam romansanya.
***
Keharuan tadi telah berakhir, kini mereka berdua sedang berjalan memasuki ruang musik. Bergabung dengan Agni dan Ify yang sudah terlebih dahulu sampai disini.
"hai girls!", sapa Shilla dengan Sivia yang berada di sebelahnya
Wajah yang sudah cukup familiar baginya membuat Ify terperangah. Gadis itu? Dia yang waktu itu menampar Duto di depan umum, di depan semua siswa!
"hai Shill, lho kok ada Sivia?", tanya Agni
"iya, gapapa kan gue disini?", sahut Sivia
"ya gapapa lah Vi, eh Vi! Kenalin ini Ify, dia juga kelas tiga. Sama kayak kita"
Ify terdiam. Meski tangan Sivia telah terulur di hadapannya, dia malah menatap wajah Sivia lekat. Sivia! Dia adalah perempuan yang sudah membuat Duto terlena, dan yang masih diingat Ify ... Sivia telah menyakiti Duto. Itulah yang menyebabkan diri Ify tak mampu menyahuti uluran tangan Sivia. Menurut Ify, Sivia hanyalah debu pengganggu yang harus disingkirkan dari hidup Duto.
"gue Ify", ujar Ify tanpa melirik apalagi menggapai uluran tadi
"em gue Sivia", sahutnya sambil menarik tangannya kembali
Shilla dan Agni saling tatap, mereka sama sekali tak mengerti dengan tingkah Ify. Lalu ada apa dengan sahabat mereka yang satu ini? Padahal sebelumnya, Ify tidak pernah bertemu dengan Sivia -setau mereka-.
"oke girls, gu ada ide nih. Gimana kalo Sivia gabung sama band kita? Kan kita juga lagi butuh vokalis", saran Shilla
"tapi Shill, ... ", Sivia yang tidak tau apa-apa pun menyanggah
Namun,
"ide bagus tuh", potong Agni
"tapi gue gak bisa nyanyi"
"udahlah Vi, elo gak usah bohong! Kan dulu elo pernah ikut les vokal, dan itu berarti, suara lo udah dijamin bagus", ucap Shilla
"wah oke nih, Shill. Gimana Fy, menurut lo?", tanya Agni
"gue sih terserah kalian aja"
"nah kalo gitu, elo resmi jadi vokalis band kita", ujar Agni memutuskan
"ta tapi ... "
"gak boleh ada tapi! Hehe, selamat yah vokalis", Shilla langsung menjabat tangan si sobat kecilnya itu
"latihan mulai diadakan tiga hari ke depan, pas pulang sekolah. Jangan telat yah", ungkap Ify
Ingin rasanya Ify bicara panjang lebar pada Sivia, ingin rasanya dia menjalin tali persahabatan layaknya dirinya dengan Shilla juga Agni. Tapi lagi-lagi, kekesalan itu timbul. Menjalar masuk ke dalam sela pikirannya, hingga teralihkannya semua keinginan tadi.
***
Latihan basket telah usai, begitu pula dengan latihan band.
Mereka saling berpencar, dan berpasangan satu sama lain. Alvin dengan Sivia di gerbang belakang sekolah untuk menunggu Tania yang datang menjemput, Ify dengan Rio yang saling membantu untuk merapihkan bola-bola basket, Shilla dengan Cakka yang tengah bersiap di lapangan parkir, juga Agni yang berdiri di seberang sana dengan mata yang sibuk memperhatikan nuansa mereka berdua.
Sedih memang, tapi ini adalah pilihannya. Berdiam diri untuk menunggu lelaki yang tak kunjung sadar akan rasa sukanya yang terus bertumbuh. Lagi-lagi dia sadar, kalau dirinya adalah seorang perempuan. Dan sungguhlah tak mungkin, kalau ia yang lebih dulu menyatakan rasa itu.
"jadi, dia yang namanya Cakka", ujar seseorang di sebelah Agni
"Ozy? Kamu kok ngomong gitu. Panggil dia kak Cakka", bela Agni
"gak peduli kak atau Cakka. Bagi aku dia tetep satu orang yang udah buat kakak kayak gini"
"Ozy, kamu tuh ya"
"kak! Mau sampe kapan kakak kayak gini? Cakka tuh bukan yang terbaik buat kakak, udahlah kak lupain dia"
"kakak tuh cantik, baik, bahkan kakak juga perhatian kan sama orang lain. Kak, kakak tuh enggak cacat. Dan di luar sana! Begitu banyak cowok yang mau jadi pasangan kakak. Jadi mau sampe kapan, kakak kayak gini?", lanjut Ozy
"Cakka beda, Zy. Dia emang gak peka, tapi kakak gak bisa ubah sikap ini. Ini pilihan kakak, Zy"
"ayo kita pulang", Agni menarik lengan Ozy yang nampak begitu berapi
"Ozy, ayo!", ujar Agni lagi
Kini, mereka menuju mobil yang terparkir di depan sekolah. Ozy benar! Namun Agni, dia tak mungkin berbalik dan meninggalkan sikap ini. Agni yakin, suatu hari nanti Cakkalah yang akan memulai semua itu.
"gara-gara kejadian semalem, gue jadi sering sama elo gini. Hehe, sorry yah", ujar Shilla sambil mengambil helm yang memang disediakan Cakka baginya
"gapapalah Shill, gue juga seneng ada temen barengnya"
"hehe, iya. Eh Cak, gimana latihan basketnya?", kini Shilla merapihkan rambutnya untuk mengenakan helm tadi
"bagus Shill, hari ini latihan terakhir. Elo gimana bandnya?"
"sama Cak, besok kita gak latihan dulu. Yah, elo taulah kenapa"
"iya, pasti karna HKS kan?"
"iya"
"ngomongin HKS, ada yang mau gue tanyain ke elo Shill"
"gu gue em gue ... maksud gue, elo ... besok malem tapi gak terlalu malem juga sih. Em, apa elo ... "
"gue enggak ada acara, dan gue bisa jalan sama lo. Tapi gak boleh lewat dari jam delapan malem, oke?"
Shilla langsung menaiki motor Cakka, dan berpegangan erat pada pinggang si pengemudi. Cakka yang tak percaya kalau Shilla sudah tau maksud ucapannya itu malah melebarkan mulutnya hingga terbentuklah senyuman puas.
***
Di tempat lain, Ify sedang memegang dua bola basket yang akan diopernya pada Rio untuk dimasukan ke dalam ruang olahraga.
Hingga semua bola sudah tertata rapih, Rio mengunci ruangan itu. Dengan santai, dia menggapai jemari Ify lalu menggandengnya. menyukai ini, ia suka dengan cara Rio memperlakukannya. Cara yang sederhana, namun begitu romantis di matanya.
Mereka berdua berjalan bersama, sampai tiba di lapangan parkir yang sudah sepi. Tepat pada beberapa saat setelah Shilla dan Cakka pergi. Rio sibuk menata barang-barangnya di gantungan motor, dengan mulut yang terus berkomunikasi dengan Ify.
"besok aku sama yang lain enggak latihan, tapi apa kamu mau pulang sore kayak gini lagi?", tanya Rio
"ya tergantung alesannya sih, emang kenapa Yo?"
"besok kan HKS, Fy. Dan Hari Kasih Sayang itu harus dilalui sama orang yang kita sayang, dan menurut aku ... kamu adalah orang itu. Jadi besok jangan pulang dulu yah"
Selama Rio berbicara, Ify hanya terdiam. Dia malah menatap sosok yang nampak berlari sambil merapihkan seragamnya. Duto, dialah orang itu.
Entah kenapa, Ify merasa bersalah atas hubungannya dengan Rio. Karena itu, Duto harus pulang sendiri. Tapi Duto, dia malah menoleh ke arah Ify dan tersenyum lebar. Setidaknya itu mampu menghapus sedikit rasa bersalah saudaranya, begitulah pemikiran lelaki ini.
"halo Fy? Elo kenapa sih? Liatin siapa?", Rio berusaha mengikuti arah pandang Ify, tapi disana tidak ada siapa pun
"ah bisa Yo, gue pasti bisa kok"
Kini lelaki itu mengambil helm, dan mengenakanya lembut pada kepala Ify. Rio benar-benar mencintai Ify, ia sungguh menyayangi gadis itu. Tak peduli sekeras apa rasa amarahnya pada Alvin, di dalam dirinya masih ada kasih yang begitu nyata. Salah satunya untuk Ify.
***
Lalu lalang mobil selalu menjadi pemandangan rutin mereka berdua, ketika waktu pulang tiba. Seperti biasa, Sivia lah yang sibuk melirik untuk berjaga kalau Tania datang. Namun Alvin, ia lebih memilih duduk di pinggir trotoar dengan wajah yang tertunduk.
Hubungan tanpa status memang menjengkelkan, tapi mereka berdua nampak tak peduli akan hal itu.
"udah sepuluh menit kita disini", lelah berdiri Sivia duduk di sebelah Alvin
Entah kenapa, sedari tadi Alvin terut menundukan kepalanya dan membungkam mulutnya rapat. Sivia yang merasa aneh dengan adegan ini segera memfokuskan diri pada Alvin, ia takut kalau akan terjadi sesuatu menakutkan lagi.
"Al, elo ... ", Sivia menghentikan ucapannya
Bukannya melanjutkan kata-kata tadi, Sivia malah menggigit bibirnya. Ia melihat tetesan darah membasahi sepatu Alvin, tidak hanya satu melainkan banyak tetesan yang kian mengucur disana.
"Al, cukup! Angkat muka lo, biar gue yang bersihin"
"enggak Vi, elo pasti takut. Gue serem, Vi. Darahnya terlalu banyak"
"enggak! Gue gak takut. Ayo Al, angkat muka lo"
Perlahan atau mungkin sangat pelan, wajah itu mulai terangkat. Warna pucat telah mewarnai wajah oriental itu. Mata yang semula sipit itu pun tak lagi terbuka, rasa pusing yang luar biasa di kepalanya lah yang menyebabkan semuanya ini terjadi. Dan benar saja, tetesan darah yang begitu banyak telah memenuhi sekujur wajah Alvin. Darah yang keluar dari hidung juga mulutnya itu mengalir dengan lancarnya, membuat Alvin harus menutupnya rapat-rapat.
"sini, biar gue bersihin", Alvin membiarkan Sivia melaksanakan keinginannya
Perempuan yang dicintai Alvin ini segera mengambil sejumlah tisu yang ada di dalam tasnya, lalu mulai mengelap darah yang ada disana. Ia mengerjakan tugasnya dengan baik, melawan rasa jijik yang terus menyerangnya.
"apa kamu gak jijik sama aku?", tanya Alvin yang nampak menurut dengan tingkah Sivia kali ini
"enggak, buat apa gue jijik? Gak ada gunanya juga kan?"
"tapi, ... "
Jari telunjuk mengarah pada mulut Alvin, menyuruhnya untuk menghentikan ucapannya.
"elo orang yang berarti buat gue"
"oke, sekarang muka lo udah bersih. Lain kali, elo bilang aja ya. Gak usah diumpetin kayak tadi", lanjut Sivia
"thanks Vi", Alvin memegang tangan yang telah membasuh darahnya
"sama-sama. Kalo lo gak kuat buat main, gak usah dipaksain yah", pesannya
Percuma saja ucapan Sivia, karena Alvin pasti akan bertanding dengan penampilannya yang terbaik.
***
Lampu yang ada di meja belajar sudah cukup baginya, demi menulis apa saja yang sudah di laluinya selama beberapa hari belakangan ini. Ia tidak lagi melakukannya untuk Tania, melainkan untuk dirinya sendiri. Alvin takut, bahkan ia sangatlah takut menghadapi hari-hari dimana kankernya bertambah parah. Ia tak takut harus menjadi botak, ia tak takut harus memiliki kulit yang hitam, ia tak takut harus merasakan sakitnya kemoterapi, tapi ia takut ... Alvin takut kehilangan semua hal yang telah dilaluinya, terutama hal dengan Sivia.
Om Vano sudah memberitahunya tentang semua hal itu, yakni beberapa hal yang akan dirasakan Alvin suatu saat nanti. Dia tak mau kehilangan semua ingatan indah ini, ia tak mau melupakannya. Itulah sebabnya Alvin menulis di note ini, berharap note tersebut dapat membantunya mengingat semuanya kembali.
"hei, kamu belum tidur?", tanya Tania yang baru saja memasuki kamar adiknya
"belum, kakak juga belum tidur?"
"iya, kakak gak bisa tidur. Vin, tadi Sivia bilang kamu mimisan. Apa kamu ... "
"aku gak papa kak, aku baik-baik aja kok", potong Alvin
"kakak tau, kalo besok lusa kamu ada pertandingan. Tapi inget Vin, kamu harus jaga diri kamu. Karena kamu sendiri yang tau gimana kondisi kamu"
"iya kak, Alvin tau kok. Kakak tenang aja"
Alvin memeluk Tania, membuat Tania harus menuruti pendapatnya. Inilah kebiasaan si adik, memeluk sang kakak supaya keinginannya dituruti. Menyebalkan namun mengharukan.
"maafin kakak"
"lho kok jadi kakak yang minta maaf sih?"
"kakak takut, Vin", Tania mempererat pelukannya
"kakak takut semua yang dibilang papa akan bener-bener terjadi sama kamu, kakak gak mau liat itu Vin. Kakak gak mau"
"coba deh, sekarang kakak liat aku", Alvin melepas dekapannya lalu memegang kedua pipi Tania untuk menatap tubuhnya
"rambut Alvin masih utuh kan? Kulit Alvin juga masih normal. Ini, tangan Alvin enggak gemetar. Ya walaupun muka Alvin pucat, tapi Alvin masih jadi adiknya kakak yang paling keren kan?", sahutnya
Tangan itu membasuh air mata yang mulai mengalir, lalu menarik pipi chubby itu dengan perlahan. Hingga membuat senyum yang damai di wajah tersebut.
"jangan takut lagi ya kak"
***
Kicauan burung teralun merdu, menyambut Hari Kasih Sayang atau yang biasa disingkat dengan HKS. Hari inilah HKS, hari yang spesial untuk menyampaikan kasih pada orang yang disayang.
Ya mungkin, salah satunya pada Alvin. Ketika seisi sekolah kembali pulang ke rumah masing-masing, lelaki ini duduk di antara dua perempuan yang memiliki arti sendiri dalam hidupnya. Yaitu Agni dan Sivia.
"ini buat Sivia, ini buat Agni", ujarnya sambil memberikan masing-masing dua kotak coklat
"wah, gue juga dapet nih", balas Agni
"itu jatah lo tiap tahun kan?"
"hehe, iya juga sih"
"thanks ya, Al", ucap Sivia
"iya, sama-sama. Kita balik naik taksi aja yah. Kan kak Tania lagi makan malem sama kak Iyel", ajak Alvin
"gak usah Al, gue udah janji mau pulang bareng sama Shilla. Sorry yah"
"oh gapapa Vi, gue bisa bareng Agni kok. Iya kan Ni?"
"iya Vi, calon pacar lo ini bakalan aman kok sama gue. Hehe"
"ada-ada aja lo, Ni. Yaudah, gue duluan yah. Bye!", Sivia menghampiri Shilla yang berdiri cukup jauh dari mereka
Agni memandang Alvin. Bocah kecil yang selalu bersamanya sejak kecil ini telah beranjak dewasa, sama seperti dirinya. Mulai mengenal cinta dan rasa suka pada lawan jenis pun terasa kental dalam raut wajahnya.
"kita balik yuk!", dengan santai Alvin menarik tangan Agni
Mereka berdua menaiki taksi, duduk bersama di kursi penumpang. Seperti biasa, Alvin langsung mengedarkan matanya demi melihat pemandangan di jalan raya. Sebenarnya ada satu hal yang ingin dibicarakan Agni pada sahabatnya yang satu ini, dan mungkin inilah saatnya.
"Vin, gue ... "
"eh Ni! Si Ozy mana? Dia gak jemput lo?"
Aduh Alvin! Agni mau membicarakan sesuatu denganmu!
"em ... dia ada acara sama temen-temennya, persiapan buat nanti malem"
"Vin, sebenernya ada yang mau gue tanyain ke elo", lanjut Agni
"soal apa?"
Gadis ini menarik napasnya dalam, ia harus menanyakan hal ini. Tentang lelaki yang sudah lama dinantinya, suatu kumbang yang tak kunjung menghampiri bunganya.
"Cakka, apa dia pernah ceritain tentang perasaannya ke elo?"
"sekarang sih udah jarang, emangnya kenapa Ni?"
"apa omongan lo yang bilang kalo Cakka suka sama gue itu bener? Apa Cakka suka sama gue?"
Dulu, ketika masih mengenakan seragam putih biru. Cakka sering menceritakan isi hatinya pada Alvin, begitu pula Agni pada Alvin. Dan Agni, dia tau tentang aktivitas Cakka yang satu ini. Bahkan Alvin pun pernah memberitahu Agni tentang Cakka yang menyukai Agni. Itulah yang membuat gadis ini rela bertahan sampai sejauh ini.
"dia sayang sama lo, Ni. Soal Shilla, gue gak ngerti. Tapi percaya deh! Cakka itu suka sama lo, dia cuma butuh waktu buat bilang semua hal itu ke elo", Agni mengangguk mengiyakan
Itulah jawaban Alvin, jawaban yang selalu dilontarkannya bila Agni menanyakan hal yang sama. Meskipun begitu, dia tetap percaya pada Alvin. Walau jawaban itu telah dihapalnya, Agni tetap yakin kalau sahabatnya ini tak akan membohonginya.
***
Tinggal menunggu beberapa menit lagi, sehingga mentari akan sepenuhnya terbenam dalam pangkuan langit. Namun dua manusia berseragam sekolah ini masih duduk di taman sekolah, dengan tangan yang masih bergandengan. Burung-burung beterbangan menuju sarangnya, dan semilir angin terasa begitu menyejukan. Inilah saat yang paling diimpikan Ify, kedamaian yang dapat dirasakannya bersama cara Rio yang romantis.
"indah banget, Yo"
"kamu suka kan?"
"iya, banget! Apalagi sunsetnya, ah keren!"
"kalo ini, suka?"
Entah dapat darimana, tiba-tiba saja Rio menunjukan rangkaian bunga mawar. Sesaat kemudian, dia berlutut di hadapan perempuan yang disayangnya itu.
"tiga hari aku hidup dalam rangkaian cinta ini, menggoreskan tinta ketulusan dalam kanvas kehidupan kita. Memang baru tiga hari, tapi sungguh ... aku mencintaimu"
Bagai penyair yang sesungguhnya, syair indah itu terlantunkan dengan fasih. Rio menutup penampilannya kali ini dengan kecupan manis yang mendarat tepat di punggung tangan Ify.
"aku pun mencintaimu, Rio", sahut Ify mengambil bunga tadi lalu bangkit berdiri yang diikuti oleh Rio
Mereka berdua menyalakan musik klasik dari mp3 ponselnya, lalu mulai mengikutinya dengan gerak dansa. Awalnya mereka sama sekali tak memahami sedikit pun, apa itu dansa.
Tapi lama kelamaan, mereka saling melengkapi dan menikmati nuansa ini.
"Rio, jika aku bisa memilih. Aku akan ... "
"kau akan meminta pada waktu untuk berhenti?", potong Rio
"tidak! Aku justru ingin waktu terus berlalu, hingga aku dapat merasakan hal yang lebih romantis lagi nantinya"
Rio menghentikan laju dansa, ia menatap Ify dengan dalam. Sungguh beruntung dirinya mendapatkan perempuan yang begitu istimewa seperti Ify. Perlahan, ia mulai mendekati wajahnya dengan wajah Ify. Begitu pula dengan Ify, yang memahami maksud Rio. Mereka mendekat dengan mata yang terpejam, hingga hanya ada kurang dari satu sentimeter saja jarak yang ada disana. Satu ... dua ... dan ...
TO BE CONTINUED
waaaaah Rio sama Ify .. hahaha :D tenang aja.. cerbung ini gak frontal kok :) penulisnya masih polos :p
HKS itu semacam valentine,, cuma ini lebih bermakna gitu artinya .. pokoknya part ini sama part 15 masih ada unsur HKSnya deeh :D
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
See You On Next Part
Thanks For Read
Tidak ada komentar:
Posting Komentar