Hari itu hari
Senin di bulan Agustus, hari dimana seorang gadis yang baru resmi menjadi
mahasiswi duduk menunggu jemputannya di pinggir jalan. Namun, belum sampai
mobil itu muncul, dia malah diganggu oleh dua pria kekar yang menodongkan pisau
ke arahnya.
"Uang atau nyawa", suara serak itu terdengar menakutkan
Takut akan apa yang terjadi pada dirinya, dia malah memejamkan mata dan melantunkan doa dalam batinnya. Berharap Sang Maha Kuasa akan mengirimkan malaikat penolongnya.
Bug! Sebelum mata itu terbuka, juga mulutnya yang mengucapkan kata 'amin'. Suara pukulan terdengar begitu keras di telinganya.
"Lepasin, atau gue panggil polisi", ucap si pemukul tadi
Dua pria yang berhasil ditumbangkannya, segera lari terbirit-birit. Si penolong yang misterius itu melangkah mendekati si gadis yang sama sekali tak beranjak.
"Maaf, apa ada yang dicuri sama mereka?", tanyanya lembut
Gadis itu masih terdiam, tak menyahuti si penolong yang ternyata seorang laki-laki sebayanya itu.
"Aku rasa tidak, kalau gitu aku pamit ya", lanjutnya
"Tunggu", akhirnya si gadis membuka mulutnya
"Wajahmu lebam, bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu untuk mengobatinya", tambahnya
"Kamu tak perlu melakukannya"
"Ayolah, anggap ini ucapan terimakasih"
Kini giliran si lelaki yang terdiam. Bajunya yang kusam mana mungkin bisa naik barang semewah mobil si gadis yang baru tiba itu. Tapi tidak mungkin juga ia menolak keinginan lawan bicaranya ini, apalagi jika menatap wajahnya yang penuh harapan.
"Soal bajumu, kita membelinya di jalan. Bagaimana? Mau ya?"
***
Wajah lelaki itu jauh dari kata tampan, manis juga tidak. Lelaki itu sangat kurus, tinggi, dan cenderung bongkok. Berbeda jauh dengan gadis yang sedang berada di hadapannya ini. Dia cantik, berkulit putih bersih, dan dia tinggi seperti supermodel yang tampil di layar kaca. Kini, mereka sedang di restoran mewah.
“kamu sudah menolongku, terimakasih banyak”, si gadis memulai pembicaraan
“tidak, seharusnya akulah yang mengucapkan terimakasih padamu. Lihatlah! Wajahku sudah tidak
lebam lagi, dan ini … mungkin ini adalah baju yang paling mahal yang pernah aku kenakan”
“kenapa bisa begitu? Kamu yang menolongku, tapi malah kamu yang mengucapkan terimakasih. Haha”, si gadis menutup kedua mulutnya sambil terkekeh pelan
“ya memang harus begitu, kita memang harus saling mendahului dalam mengucapkan terimakasih kan? Em, omong-omong kenalkan namaku Rudi, lebih tepatnya Rudi Handika” , lelaki itu menyodorkan tangan kanannya
“aku Bunga, mahasiswi fakultas hukum di kampus itu. Em Rud, apa kau juga mahasiswa di sana?”, tanya Bunga yang masih sulit untuk menebak alasan kenapa harus Rudi yang menjadi malaikat penolongnya
“ya, memang kenapa? Apa mukaku ini sama sekali tak pantas disebut mahasiswa?”, sahut Rudi sambil mengelus wajahnya yang dipenuhi warna kusam
“ah tidak, bukan itu maksudku”
“tidak apa-apa, kau bukanlah orang pertama yang meragukanku”
“meragukanmu?”
“sudahlah Bunga, aku tau apa yang sedari tadi kau pikirkan. Bunga, semua orang pasti sudah dapat
menebaknya dari penampilanku. Lihatlah aku, aku hanyalah seorang miskin yang dapat bersekolah di perguruan tinggi hebat itu”
“tapi Rud, sungguh aku sama sekali tak memikirkan hal itu”
Rudi menyunggingkan senyum tipis di bibirnya untuk yang pertama kalinya, membuat Bunga memfokuskan menatap objek yang ada di hadapannya ini. Ya, lelaki hitam itu tampak begitu manis saat tersenyum seperti sekarang ini. Rona kasar yang sadari tadi menghiasi wajahnya sirnah sesaat, lalu berganti dengan wajah super manis yang sulit untuk dituliskan.
“kalau gitu, kamu adalah orang pertama yang tak memikirkan hal itu”, sahutnya
***
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya mentari yang sudah menyelesaikan tugasnya beranjak untuk kembali ke tahtanya. Namun mereka, Rudi dan Bunga masih terus berpandangan satu sama lain.
“kita mau kemana, non?”, tanya supir yang sudah siap di bangku kemudi
“lurus aja pak”
Dua jam yang lalu, mereka adalah pemuda dan pemudi yang saling tak mengenal. Tapi setelah itu, mereka sudah saling paham satu sama lain. Kehidupan Bunga sebagai putri dari seorang konglomerat yang kaya raya sudah diketahui persis oleh Rudi. Sementara kehidupan Rudi yang memiliki ayah seorang supir dan ibu seorang tukang cuci, sama sekali belum dapat dipahami oleh Bunga.
“lalu, bagaimana caramu untuk membayar keperluan kuliah?”, tanya Bunga saat sang supir mulai melajukan mobil di tengah keramaian malam kota Jakarta
“sebenarnya aku dibiayai oleh majikan ayahku, namun itu masih saja kurang. Dan akhirnya aku menutupi semuanya itu dengan cara bekerja”
“bekerja? Apa kau mengajar privat?”
“kau bercanda? Aku tak sejenius itu. Untuk mengerti satu rumus saja, aku harus menghafal lebih dari lima jam. IQku rendah, mungkin jauh lebih rendah darimu. Aku masuk kedokteran, karena kerja keras dan doa, bukan karena kepintaran. Lagipula, aku bukanlah orang miskin yang jenius seperti di drama-drama tivi”
“lalu, kau bekerja dimana?”
Rudi terdiam sejenak. Bukannya menjawab pertanyaan Bunga, ia malah mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan raya.
“disana! Seperti laki-laki itu”, ucap Rudi sambil menunjuk seorang pedagang asongan lampu merah
“kau melakukannya. Tapi kenapa? Bukankah ayah dan ibumu sudah bekerja?”, lagi-lagi Bunga menunjukkan ketidakpolosannya
“itu tak seberapa. Mungkin uang jajanmu jauh lebih tinggi dibanding penghasilan mereka”
“sungguh? Tapi, bukankah kau pernah bilang kalau kau anak kedua dari tiga bersaudara? Kenapa
kakakmu tak membantu biaya kuliahmu?
“dulu, dialah yang membiayai sekolahku. Tapi sekarang, dia sudah tiada. Dua tahun yang lalu, dia mengalami kecelakaan kerja sebagai TKW di negeri seberang. Lalu tak lama kemudian, adikku yang menyusul kepergiannya. Kau tau? Adikku sudah menderita kelainan jantung sejak lahir. Tapi karena kekurangan biaya, kami tak bisa mengobatinya. Dan itulah yang menyebabkanku harus berusaha dengan sungguh untuk membanggakan seluruh keluargaku”
“maaf Rud, aku sama sekali gak bermaksud”
“tidak apa-apa. Aku malah senang kamu bertanya tentang hal itu, aku senang karena kamu mau mendengarkan semua perkataanku itu”
“selama itu baik, aku akan melakukannya terus untukmu. Oh iya, apa alasanmu kuliah juga karena adikmu?”
“iya, aku ingin membantu mereka yang bernasib sama dengan kami bisa tak akan mengalami hal yang sama. Aku tau ini tak mudah, tapi aku ingin menjadi dokter ahli jantung bagi mereka yang kekurangan biaya”
“wah, itu impian yang terbaik yang pernah aku dengar”, aku Bunga
“setidaknya aku jauh lebih beruntung dari dua orang temanku yang hampir merampokmu tadi siang. Maafkan dua temanku itu ya?”
“jadi mereka? Ah pantas, kau mudah untuk mengusir mereka”, Bunga mendecak kesal
“mereka memiliki pandangan hidup yang berbeda denganku. Bagi mereka, hidup itu singkat dan kita harus berlari mengejar impian kita hingga akhirnya bisa sukses dan kaya. Kau tau? Mereka terlalu bersemangat untuk menjadi kaya”
“lalu, apa kau tak ingin kaya?”
“tidak! Aku tak ingin berlari dan menjadi kaya. Aku hanya ingin melangkah untuk menikmati dendang kehidupan yang Tuhan lantunkan dengan merdu. Dendang kehidupan yang membuatku bersemangat untuk melaju dan sampai ke tujuan akhir hidupku”
***
Sekarang adalah hari Senin di bulan Agustus, tepat sepuluh tahun aku bertemu dengan Rudi yang begitu hebat. Tuhan memang memiliki rencana yang indah, cara Dia mempertemukan kami memang tak masuk akal, tapi mampu mengubahku menjadi anak yang mandiri dan lebih rendah hati juga berjiwa sosial. Hanya saja, sejak saat itu aku tak lagi melihat Rudi. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Bahkan sampai saat ini, saat aku melajukan mobilku menuju rumah sakit milik ibuku
yang sudah diwariskan padaku.
Aku terus melangkah cepat dengan berkas-berkas di tanganku. Hari ini adalah hari pertamaku memimpin rumah sakit ini, namun semua itu kacau. Saat …
“ah maaf, tidak sengaja”, ucap seseorang berpakaian putih dengan stetoskop di lehernya
“sini, biarku bantu”, tubuh tegapnya langsung menunduk untuk mengambil berkas-berkas yang
berceceran itu
“Dokter Handika, pasien sudah siap. Operasi cangkok jantung dapat segera dimulai”, ujar seorang suster
SELESAI
Go Go Follow @brendafiona_
Makasih udah mau baca :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar