Jumat, 13 Desember 2013

Lentera Hati *Part 17*

Alvin diam, cara Sivia kali ini telah berhasil memecahkan sifat kerasnya untuk terus menyalahkan diri sendiri. Setidaknya dengan begini, Alvin akan lebih sadar kalau dia begitu berharga, tak peduli ada penyakit mematikan di dalam tubuhnya.

"awalnya, pas tau kamu sakit kanker. Aku kasian sama kamu, aku terus deketin kamu. Karena bagi aku, kamu adalah orang yang harus ditolong"

"tapi setelah waktu berlalu, ada kak Tania, Agni, dan begitu banyak hal yang membuat aku sadar kalo kamulah yang tolong aku, jauh sebelum aku berniat buat tolong kamu"

"lepas dari sana, aku sadar kalo aku ... aku cinta sama kamu, Al. Rasa aku ke kamu jauh berbeda sama rasa aku ke Duto", jelas Sivia


Berbeda dengan Sivia yang telah melontarkan beragam kata, Alvin justru terdiam dengan wajah yang menatap jendela.

"Setelah itu, aku takut. Aku takut kehilangan orang yang begitu berarti buat aku. Tapi tadi, lagi-lagi Agni yang menyadarkan aku"

"Al, berapa pun waktu yang kamu punya. Aku akan terus di sebelah kamu. Kita hadapi ini sama-sama, bahkan sampai akhir itu datang", Sivia meremas ujung bajunya sambil berusaha keras menahan tangis yang meluap

Kepala Alvin berbalik menatap lekat pada wajah gadis yang ada di hadapannya. Rona merah bekas rasa takut itu masih terlihat jelas, juga aliran air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.

"sebulan, itu yang aku denger dari rapat para dokter yang menangani aku. Bukan cuma itu, aku juga akan mengalami hal-hal yang lebih menakutkan dari yang tadi"

"Vi, jika saat itu tiba. Aku gak akan lagi bisa menghapus air mata kamu, gak bisa menggenggam tangan kamu, rambut aku akan rontok, kulit aku akan kusam, bahkan aku akan lupa sama kamu", lanjut Alvin

"tapi aku bisa, Al. Aku bisa ngelakuin itu semua buat kamu. Aku bisa"

"aku akan menikmati saat-saat dimana kamu yang melakukan hal tadi, tapi aku akan setia untuk suatu saat nanti dimana aku yang akan melakukan semua hal tadi ke kamu", Sivia menundukan wajahnya berusaha untuk menyembunyikan tangisnya

Alvin tersenyum tipis, lalu mengusap lembut rambut panjang itu. Gadis ini telah membuat janji padanya, dan dia pun akan berusaha untuk mewujudkan janji itu bersamanya.

"thanks Vi, makasih banyak", ucap Alvin sambil menghapus aliran air mata Sivia

***

"Babak ketiga pun berakhir dengan skor 39-20. Bagaimana ini? Mampukah SMA Jakarta mengejar ketertinggalan dibabak akhir?", begitulah suara yang bergema di lapangan pertandingan

Alvin yang kondisinya sudah jauh lebih baik, memasuki lapangan pertandingan bersama Sivia disebelahnya.

"Thanks Ni", ujarnya sambil menyerahkan jacket yang sempat ia kenakan

"Itu dia, Alvin", ujar salah satu pemain yang tengah beristirahat

"Kamu baik-baik aja kan, Vin?", tanya Steve khawatir

"Gak papa kak, gue baik-baik aja kok. Sorry yah, gue telatnya parah banget"

"Oke. Em Duto, gimana kaki kamu? Masih sakit?"

"iya kak. Gue rasa bakal tambah sakit, kalo dipaksa main lagi"

"Vin, ... "

"gue siap, kak", Alvin mengencangkan tali sepatunya

Mereka mulai merapat, demi membahas apa yang akan mereka lakukan untuk mengejar ketertinggalan. Sivia yang bukan bagian dari tim, beranjak pergi. Dia bergabung dengan keluarga Alvin di bangku penonton.

"apapun itu, kita harus lakukan yang terbaik. Kita pasti bisa lolos ke babak selanjutnya! Kita pasti menang!", seperti biasanya sang kapten menyemangati anggotanya

***

Pertandingan babak keempat akan segera dimulai. Walau tertinggal banyak angka, tim basket SMA Jakarta tetap tampil optimis dengan pergantian salah satu pemainnya. Duto Sudarma dengan nomor punggung 5 yang digantikan Alvin Andrean dengan nomor punggung 8. Rio berada di tengah lapangan, besama dengan kapten tim lawan dan wasit yang bertugas untuk melempar bola.

"Alvin! Lempar ke Cakka, sekarang! Dia bebas", teriak Rio pada Alvin yang tengah memegang bola

Namun sayang, bola tersebut sudah terlanjur terlempar. Benda melambung tinggi, dan memantul tiang ring. Rio mendecak kesal, lalu menghampiri Alvin dengan omelan yang siap ia lontarkan.

"gue udah bilang kan, malah gue udah teriak ke elo kan? Lempar bola ke Cakka! Tapi apa yang elo lakuin? Elo malah lempar bola itu ke ring, dan apa yang terjadi? Kita gak dapet skor apa-apa!", ucap Rio geram

"sorry Yo, tapi gue telat denger"

"telat denger? Astaga Vin, elo tuh ... "

"stop Yo!", potong Cakka

"semua orang ngeliatin kita", lanjutnya yang membuat Rio menjauh

"lain kali jangan diulang ya Vin", seperti biasa Cakka memukul punggung Alvin pelan

Waktu terus berlalu, membuat kedua tim semakin sigap untuk menggiring bola ke ring lawan. Mereka mengincar hal yang sama, yakni kemenangan. Papan skor telah menunjukkan angka 42-40 untuk kendohangan SMA Pelita Harapan, dengan satu menit waktu yang tersisa.

Cakka yang mendapat operan dari Rio, segera mendrible bola untuk melewati daerah musuh. Ia membawa bola dengan terburu-buru, hingga berhasil direbut oleh tim lawan. Tapi syukurlah, rekan mereka berhasil membawa kembali bola dan tak lama kemudian mengopernya ke arah Alvin yang berada tak jauh dari posisinya.

Lima detik, itulah waktu yang tersisa saat bola tepat berada di tangan Alvin. Sementara itu, Rio terus
meneriakinya untuk mengoper bola kearahnya yang tengah bebas. Tapi Alvin punya cara lain, yang ia yakini dapat membawa timnya memenangi pertandingan ini.

Hap! Pluit wasit tanda akhir pertandingan berbunyi sela beberapa detik bola memasuki ring milik tim SMA Pelita Harapan. Three point! Itulah yang berhasil Alvin lakukan.

"gue berhasil", ucapnya bangga sambil menatap pantulan bola yang tadi melalui lubang ring

Sorak riuh penonton pun terdengar begitu meriah. Dengan kompak, seluruh pemain serta pendukung SMA Jakarta berlari mendekati Alvin. Mereka mengangkatnya lalu menggendongnya diatas bahu mereka. Walau hanya bermain satu babak, tapi lelaki sipit yang satu ini mampu membawa tim mereka lolos ke babak selanjutnya.

42-43, itulah skor akhir dari pertandingan ini. Seluruh pemain telah meninggalkan lapangan bahkan hampir semua dari mereka telah kembali pulang ke rumah masing-masing. Kecuali dua sahabat ini.

"kapten", Alvin menghampiri Rio lalu duduk disebelahnya

"maaf, gue gak denger teriakan lo tadi. Gue gak oper bola itu ke elo", lanjutnya

"itu bukan salah lo, Vin. Kalo tadi elo oper ke gue, kita belum tentu menang kan?"

"kapten gak selamanya bener", lanjut Rio yang langsung meninggalkan ruang ganti

Alvin tersenyum tipis. Sahabatnya yang satu ini memang tak banyak berubah, ia tetap menjadi Rio yang keras.

***

"hallo?", sapa Shilla pada penelpon di ponsel

"em, hai Shill!", sahut si penelpon yang memiliki nama kontak 'Cakka'

"ada apa, Kka?", Shilla tampak tak acuh dan lebih memilih jemari-jemarinya yang baru diolesi warna-warnian

"besok, hari Minggu elo ada acara gak?"

"kayaknya sih gak ada, emangnya kenapa?"

"gue mau ajak elo jalan, elo mau kan?"

"boleh, kan 10an aja ya tapinya"

"oke, jam 10 gue jemput lo ya"

"oke", sambungan telepon terputus

Shilla berdiri dan menatap kaca yang sedari tadi bertengger di atas meja riasnya. Tersenyum tenang sambil berkata: "saatnya move on, Shilla". Lalu beranjak sambil menjatuhkan bingkai foto Iyel di meja tadi. Hampir sama dengan Shilla, Cakka yang saat itu memegang foto Agni segera meremasnya sambil berkata:

"Shilla lebih baik dari lo". Dia bangkit dari sofa di ruang tamunya, lalu memasukkan foto tadi di tempat sampah.

***

Lampu-lampu pinggir jalan seakan telah menjadi penghangat bagi dua anak manusia yang tengah makan lesehan di pedagang kaki lima. Disini, Steve terus berbicara. Menceritakan semua kesenangannya atas pertandingan yang dimenangkan timnya. Tasya yang berada dihadapannya terus mengangguk dan tak jarang tersenyum bangga atas apa yang dicapai kekasihnya itu.

"Kalo kamu menang, kenapa kamu gak ajak aku ke restoran yang mahal?", ledek Tasya pada Steve yang sudah mengakhiri ceritanya

"Kalo di restoran mahal, mejanya panjang, aku jadi susah buat liat muka kamu. Tapi kalo disini, mejanya kecil, dan aku bisa gampang buat pandang muka lucu kamu", Steve mencubit pipi Tasya gemas

"Haha, udah ah ... Nanti pipi aku tembem gimana? Kamu mau tanggung jawab?"

"Iya, nanti pipi kamu aku jadiin bakpau", lagi-lagi Steve mencubitnya

***
Di kamar berornamen basket, Rio asyik dengan ponsel yang sedari tadi digenggamnya.

From: Ify 'pacar'
Hai jagoan! Gimana tadi? Km menang?

To: Ify 'pacar'
Wah, iya dong. Pacar'a sapa dlu?

From: Ify 'pacar'
Haha  slamat ya syg. Maaf, aku ga bisa nonton sampe slesai

To: Ify 'pacar'
Iya gpp. Gimana sodara km yg kaki'a skt itu?

From: Ify 'pacar'
Oh, dia dah gpp. Cuma keseleo grgr tanding basket td

To: Ify 'pacar'
Dia nak basket jg? Skolah pa?

Di kamarnya, Ify tersentak. Ah bodohnya dia, kenapa dia memberitahu Rio soal Duto? Tidak ... Tidak, Rio tidak boleh tau soal Duto!

To: Rio 'pacar'
Km pasti ga kenal deh, skolah'a dia tuh jauh bgt. Dah mlm, aku month tidur. Good night syg {}

From: Rio 'pacar'
Have a nice dream syg

"Sms-an sama siapa? Rio?", tebak Duto yang baru keluar dari kamar kecil di kamar Ify

"Iya, eh gimana? Kaki lo udah mendingan?"

"Em, udah mendingan kok", Duto memijit-mijit kakinya

"Fy, lo gak kasih tau tentang gue ke Rio kan?", Duto memastikan

"Enggak kok, lagian elo aneh banget. Kenapa sih? Elo malu ya punya saudara kayak gue?", Ify yang tak tau alasan Duto ini pun menundukkan kepalanya

"Bukan gitu, Fy. Tapi ya gitu deh, cukup papa yang banding-bandingin kita. Gue gak mau temen-temen kita juga kayak papa", jelasnya

"Lagian, gue kali yang seharusnya ngerasa kalo lo malu punya kembaran kayak gue", kini giliran Duto yang menundukkan wajahnya

"Lho kenapa?"

"Udah deh Fy, jangan polos gitu. Elo tau kan di sekolah itu gue kayak anak autis. Kemana-mana sendiri, dan elo tau kan ... Gue cuma punya dua temen dari dulu. Gimana? Masih gak malu?"

"Enggaklah, buat gue ... Elo tuh saudara kembar terbaik yang ada didunia ini. Elo sering belain gue, kalo ada yang gangguin gue. Dan elo selalu dan selalu ada buat gue"

Duto tersenyum simpul. Lalu menggerakan jemarinya untuk mengacak-acak rambut saudara semata wayangnya.

"Elo juga satu-satunya orang yang selalu ada buat obatin luka-luka gue, yah kayak gini nih. Haha", untuk pertama kalinya setelah sekian lama sepasang manusia ini tertawa bersama.

TO BE CONTINUED

GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^

See You On Next Part
Thanks For Read

Tidak ada komentar: