20 Agustus 2008
Di tempat ini, kamu menggenggam tanganku. Aku pun membalasmu dengan pelukan yang sangat erat. Aku tau, ini adalah hal yang sangat sulit untukmu, mengingat baru satu tahun yang lalu kamu ditinggal ayahmu. Kamu menangis dipelukanku, suatu tangis tanpa air mata. Ya, air matamu telah terkuras habis karena kesakitan dihatimu.
"Jangan tinggalkan aku, Yu", ucapmu lirih padaku
Aku mengangguk perlahan, aku janji!
***
28 April 2010
Masih di tempat yang sama, dengan kamu yang juga masih menggenggam tanganku. Namun kali ini ada yang berbeda, kamu tidak hanya memperkenalkan aku -sahabat yang baru kamu kenal di universitas sela beberapa hari sebelum ibumu meninggal-, tapi kamu juga melakukan satu hal yang tak pernah aku rangka. Tanpa komando, kamu berlutut dihadapanku dengan bunga -yang kupikir akan kamu taruh di makam orang tuamu- yang ada di tanganmu.
"katakan kalau aku bodoh! Katakan kalau aku pengecut!", kamu mulai berbicara
"dua tahun yang kita lalui sebagai sepasang sahabat membuatku sadar kalau aku terlalu bodoh karena tak mampu merasakan cinta yang kamu taman dihatiku, kalau aku terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku padamu. Dan pada saat ini ... ", kamu memandang aku tajam, mencoba meyakinkanku akan ketulusan yang terpancar jelas disana.
"aku mau mengakhiri semua kebodohan dan sikap pengecut itu. Rahayu, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?", ucapmu -akhirnya-
Warna merah pasti langsung menghiasi wajahku, ah! Kamu telah membuatku tersipu. Tidak langsung menjawabmu, aku malah memalingkan pandanganku pada makam kedua orang tuamu. Senyum bahagia terlihat jelas di bibirku.
"tante, om. Seandainya kalian masih hidup, pasti kalian akan merasakan hal yang sama dengan saya", kini aku malah melirikmu sejenak
"kalian pasti bahagia karena telah memiliki seorang anak 'calon dokter', sama seperti saya yang juga telah memiliki seorang kekasih 'calon dokter'. Aku juga mencintaimu, Evan", aku dan kamu resmi menjadi sepasang kekasih.
***
28 April 2011
Hari itu kita merayakan hari jadi hubungan kita yang pertama. Kamu mengajakku ke sebuah taman yang telah kamu perlengkapi dengan pernak pernik untuk makan malam. Kamu memakai kaos santai dengan balutan jacket yang selalu menjadi ciri khasmu. Berbeda jauh dengan penampilanku yang sangat formal, yaitu mengenakan dress berwarna merah muda. Kamu selalu begitu. Menurutmu, kaos jauh lebih nyaman dibanding kemeja, dan jaket jauh lebih berfungsi dibanding jas ataupun tuxedo. Aku dan kamu makan malam dalam diam. Hanya ada alunan melodi dari para pemusik klasik yang telah kamu siapkan untuk malam spesial ini. Entah kenapa, wajahmu terliha begitu lesu, tidak seperti biasanya. Matamu yang tertutup kacamata berlensa tebal pun tak mampu menutupi lesu itu.
"kamu sakit?", tanyaku padamu yang sama sekali belum menyentuh makanan itu
"Yu", bukannya menjawab, kamu malah meraih tanganku "tadi kepala dokter di rumah sakit panggil aku, dia bilang ... ", kamu mengeratkan sentuhan itu
"minggu depan, aku ... aku harus ke Papua, Yu"
DEG! Aku segera melepas sentuhan itu dengan kasar, berdiri tegak sambil mencoba untuk menghapus air mata yang langsung mengalir deras.
"ini tugas, Yu. Kamu tau kan, gimana kondisi di Papua sana? Mereka kekurangan dokter, Yu"
"iya, aku tau. Tapi di rumah sakit itu ada banyak dokter kan, Van? Lagipula, kamu ini baru aja tamat kuliah. Kamu juga baru beberapa bulan kerja disana, kamu masih muda, kamu belum berpengalaman"
"justru itu, Yu. Aku mau ambil kesempatan ini untuk jadi pengalaman buat aku, selagi aku masih muda. Lagipula ini hanya untuk satu tahun, Yu. Setelah itu aku akan kembali kesini, berganti tugas dengan temanku"
"tapi aku? Kamu mau tinggalin aku gitu aja? Evan, aku ini kekasih kamu!" Kamu turut bangkit berdiri, dan untuk kedua kalinya kamu menggenggam tanganku.
Kali ini tanpa kata, kamu menatapku lekat, tatapan memohon yang begitu dalam. Aku mencoba menghindar, namun nihil! Aku terjebak dalam permainanmu, seperti biasanya.
"aku janji, aku akan kembali untukmu. Hanya untukmu", kamu memegang pipiku dengan kedua jemarmu lalu mencium keningku
***
05 Mei 2011
Hari itu kamu pergi meninggalkan daerah istimewa, yang kita sebut Yogyakarta. Di bandara Adisucipto, kita mengikrarkan janji kita. Janjiku untuk menunggumu dan janjimu untuk kembali padaku. Kamu meletakkan tas dan kopermu, kemudian memeluk pinggangku. Aku pun membalas dengan mengalungkan kedua lenganku pada lehermu. Dengan musik yang mengalun dalam pikiran masing-masing, kita mulai melangkahkan kaki ke kanan dan juga kiri.
"jangan lupakan aku", ucapku disela dansa kita
"tidak akan pernah" "kamu harus selalu menghubungiku"
"jika sinyal ada, aku berjanji"
"jangan selingkuh!"
Langkahmu terhenti, bertukar dengan mata nakal yang menjengkelkan.
"janji gak ya", menyebalkan!
Aku merajuk dan memukul dada bidangmu pelan. Ah, aku pasti akan sangat merindukan saat-saat ini.
"iya .. iya, aku pasti enggak akan pernah menyelingkuhi wanita secantik kamu, Rahayu"
Roda koper itu mulai bergerak, bersamaan dengan bayangmu yang kian menjauh. Aku tidak rela, tapi ini demi kamu.
***
Dear sunshine,
hai! kamu apa kabar disana? Maaf, aku baru sempat menghubungimu. Disini tidak ada sinyal, makanya aku hanya bisa mengirim surat ini. Untuk menghilangkan rindumu padaku. Haha. Sebenarnya akulah yang merindukanmu!
Ayu, disini aku seneng banget. Walau di daerah pedalaman yang gak ada sinyal, aku merasa kalau tempat ini surga. Disini aku bisa sepuasnya ke pantai yang letaknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, disini juga gak butuh waktu lama untuk dapet temen. Jadi, kamu gak usah takut kalo aku akan kesepian. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama di Yogya. Aku sayang kamu, aku cinta sama kamu. Sangat mencintaimu!
Love you,
Evan
Dengan seulas senyum, aku menutup surat pertamamu. Kamu tidak berubah! Kamu tetaplah Evan yang begitu baik, apa adanya, dan menjengkelkan! Tapi itulah yang membuatku semakin mencintaimu. Ya, cinta memang seperti itu. Aneh.
hai! kamu apa kabar disana? Maaf, aku baru sempat menghubungimu. Disini tidak ada sinyal, makanya aku hanya bisa mengirim surat ini. Untuk menghilangkan rindumu padaku. Haha. Sebenarnya akulah yang merindukanmu!
Ayu, disini aku seneng banget. Walau di daerah pedalaman yang gak ada sinyal, aku merasa kalau tempat ini surga. Disini aku bisa sepuasnya ke pantai yang letaknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, disini juga gak butuh waktu lama untuk dapet temen. Jadi, kamu gak usah takut kalo aku akan kesepian. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama di Yogya. Aku sayang kamu, aku cinta sama kamu. Sangat mencintaimu!
Love you,
Evan
Dengan seulas senyum, aku menutup surat pertamamu. Kamu tidak berubah! Kamu tetaplah Evan yang begitu baik, apa adanya, dan menjengkelkan! Tapi itulah yang membuatku semakin mencintaimu. Ya, cinta memang seperti itu. Aneh.
Tangan kananku mulai menari di secarik kertas, aku akan membalas surat yang kuterima siang tadi. Satu bulan yang aku lalui tanpamu, membuatku menuliskan banyak hal. Mulai dari kegiatanku, perasaanku, dan yang paling penting kerinduanku. Belum sempat aku membalas suratmu, ponselku berdering. Ada telepon masuk.
"ada apa, Ris? Tumben malem-malem telpon?", tanyaku pada si penelpon
"aduh Yu, elo gimana sih? Kan kemaren gue udah kasih tau elo, malem ini ada reuni SMA Yu", reuni SMA? Astaga, aku lupa!
"yaudah, nanti jam tujuh tak jemput yo. Jangan telat!" Sambungan telepon tertutup.
Kulihat jam dinding yang bertengger di kamarku. Pukul 06.30 sore. Bukannya beranjak untuk bersiap-siap, aku malah tenggelam dalam lamunanku. Seandainya kamu ada di Yogya, aku pasti akan ke acara itu bersamamu, sambil menaiki mobil jeep terbuka milikmu.
***
Malam ini tak ada yang spesial. Hanya pesta mewah dengan taburan lampu yang megah, namanya juga reuni akbar. Aku berdiri di samping pondok yang menyediakan gudeg sebagai menunya. Lagi-lagi aku teringat kamu, kamu yang selalu mengajakku keliling kota ini di malam minggu demi kuliner gudeg -makanan kesukaanmu-.
"Hai, Rahayu yo?", sapa seseorang dengan suara beratnya
Aku menoleh, dan ... Dika? Bukankah dia sudah pergi ke Jakarta? Kenapa dia bisa berada disini? Ah, bodohnya! Dika kan juga teman SMAku.
"hei? Kamu Rahayu kan? Yang dulu sekelas sama saya?", ucapnya -lagi-
"iya, siapa ya?", aku sedang berpura-pura
"wah, sudah lupa toh sama saya? Saya Dika, temanmu dulu"
"oh, Dika ... "
Percakapan kami pun terus berlanjut, bahkan ditambah dengan hadirnya Rissa di antara kami. Bukannya bermaksud untuk membuatmu cemburu. Tapi, Dika tak berubah. Dia tetaplah lelaki berkulit hitam manis yang selalu tampan dengan style rapihnya.Dia tetaplah Dika yang beraksen medok, walau sudah dua tahun menetap di Jakarta. Ya, dia adalah mantan kekasihku, jauh sebelum aku mengenalmu. Dulu, semenjak kelas satu SMA aku sudah menjalin kisah asmara bersamanya, bahkan kisah itu terus berlanjut hingga kami kelas tiga, bahkan kami pernah dinobatkan sebagai pasangan terbaik. Namun, dia mengkhianatiku. Aku memergoki Dika sedang memeluk Rissa di taman belakang sekolah, pelukan yang begitu erat dan sangat lama. Dan sejak itulah, aku memutuskan hubungan itu juga berusaha untuk bersikap normal pada Rissa. Seringkali mereka datang dan mencoba untuk menjelaskan semuanya, tapi aku selalu menutup telingaku. Bagiku, semua itu sudah sangat jelas.
Tapi setelah kejadian itu, aku tak lagi melihat mereka bersama. Mungkin malu, karena sudah kupergoki. Dan kini, dua manusia itu tengah ada dihadapanku. Kami tertawa, tersenyum, mengingat semua kenangan dulu -kecuali perselingkuhan itu tentunya-. Aku sudah memaafkan mereka, itu pun karena kamu yang hadir dan mewarnai lembar baru di hidupku.
***
Bulan terus berganti, dan kita masih terus berkomunikasi dalam surat.
Dear Sunshine,
Wah, kayaknya kamu bahagia banget ya. Pasien kamu kebanyakan anak-anak? Hem, bagus dong! Berarti, kamu gak bisa selingkuhin aku. Ah, Tuhan memang sayang sama aku. Sayang, aku denger di Papua lagi musim hujan. Kamu jaga diri baik-baik ya, makan yang banyak, sama minum vitamin yang waktu itu aku kirim ke kamu. Dan ini, aku kirim baju hangat buat kamu, dipakai ya!
Dua bulan lagi, aku yakin kita bisa lalui ini sama-sama. Evan, aku kangen banget sama kamu.
Love you, sunshine ...
Rahayu
Itu balasan suratku untukmu, tak terasa sepuluh bulan telah kita lalui. Perasaanku masih seperti dulu, masih mencintaimu dan setia untuk merindukanmu. Aku yakin, kamu juga merasakan hal yang sama.
Sepucuk surat tadi
sudah kumasukkan ke dalam amplop biru muda, warna kesukaan kita. Aku
bercermin, semua sudah tampak rapih di tubuhku. Aku akan pergi ke kantor
pos, mengantar surat ini untukmu.
Namun, belum sampai kaki ini melangkah, ponselku berdering tanda pesan masuk. Nomor asing, tanpa nama.
From: 081280xxxxxx
hi Yu! Ni Dika, km pa kbr? Kalo da waktu, temuin aku d resto deket SMA kita dulu ya ...
Dika? Resto? Kulirik jam sesaat, em dia pasti akan mengajakku makan siang. Tapi untuk apa? Ah, sepertinya aku punya rencana bagus untuknya. Doakan aku ya.
***
Resto sederhana ini tak pernah berubah, masih sama seperti dulu saat aku -yang masih duduk di kelas satu SMA- dan Dika kesini untuk menjalani kencan pertama. Kuharap kamu tidak cemburu, ayolah itu hanya goresan masa lalu.
"hai! Aku pikir kamu ndak bakal dateng", ujarnya saat kami bertemu "tadi, kebetulan aku lewat sini.
Habis dari kantor pos" "ada apa ke kantor pos? Kerja?"
Namun, belum sampai kaki ini melangkah, ponselku berdering tanda pesan masuk. Nomor asing, tanpa nama.
From: 081280xxxxxx
hi Yu! Ni Dika, km pa kbr? Kalo da waktu, temuin aku d resto deket SMA kita dulu ya ...
Dika? Resto? Kulirik jam sesaat, em dia pasti akan mengajakku makan siang. Tapi untuk apa? Ah, sepertinya aku punya rencana bagus untuknya. Doakan aku ya.
***
Resto sederhana ini tak pernah berubah, masih sama seperti dulu saat aku -yang masih duduk di kelas satu SMA- dan Dika kesini untuk menjalani kencan pertama. Kuharap kamu tidak cemburu, ayolah itu hanya goresan masa lalu.
"hai! Aku pikir kamu ndak bakal dateng", ujarnya saat kami bertemu "tadi, kebetulan aku lewat sini.
Habis dari kantor pos" "ada apa ke kantor pos? Kerja?"
"bukan, ada urusan lain", maaf aku merahasiakanmu darinya "kamu tau nomorku darimana?", lanjutku
"dari Rissa. Em, Yu ... ", dia menggaruk tengkuknya berulang kali, dia grogi
"besok kan hari Minggu. Kamu libur kan?" "ya sebagai pegawai swasta memang seharusnya libur kan?"
"haha, iya. Em, kamu mau ndak temenin aku keliling Yogya? Cari objek potret baru. Gimana?"
Ide bagus! Sepertinya Tuhan mengabulkan doaku untuk rencana bagus tadi.
"hah? Elo serius? Aduh Yu, gue kasih nomor lo ke Dika karena ada yang mau dia sampein ke elo.
Bukannya malah buat rencana lo itu", Rissa terkejut akan pengakuanku saat ini, aku sedang menelponnya untuk memberitahu rencana bagusku
"ya gapapa lah, Ris"
"tapi, apa dengan elo deketin dia terus tiba-tiba menjauh dan bilang kalo elo udah punya pacar berarti elo udah balas dendam. Yu, elo juga belum denger penjelasan dari gue sama Dika juga kan?"
"gue gak butuh penjelasan dari kalian kok, toh gue juga udah maafin kalian. Dan ini tuh cuma buat pembuktian, kalo bukan cuma dia yang bisa sakiti hati gue"
"kalo Evan tau, gimana?" "dia gak akan tau, kalo gak ada yang kasih tau"
"em terserah lo deh, Yu. Gue mau ngomong gimana juga, elo pasti tetep lakuin itu. Gue harap elo gak salah pilih jalan ya"
Aku tersenyum bangga, akhirnya waktu itu tiba juga. Evan, ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku yakin, aku tidak akan mengecewakanmu.
***
"ini, liat deh! Bagus-bagus kan fotonya?", dia menunjukkan banyak foto dalam kameranya, foto yang diambilnya dari perjalanan menuju candi Borobudur
"keren, kamu emang fotografer yang handal", pujiku tulus
"iyo, dan aku rasa akan lebih bagus lagi kalau ada kamu di foto-foto ini", dia menatapku lekat
"aku? Keren darimananya toh Dik?"
"keren pokoknya, coba kamu berdiri disana", dia menunjukkan posisi sudut Borobudur yang membentangkan pegunungan
Aku menurut, melakukan hal yang sesuai dengan perintahnya. Jika diperhatikan dengan seksama, dia telah berubah. Dia terlihat lebih dewasa dengan balutan kemeja santainya, tubuhnya juga lebih tegap dan gagah, layaknya seorang lelaki sejati. Senyum tipis yang ia miliki telah berganti menjadi senyum ramah yang hangat. Tapi tenanglah, aku masih lebih terpesona dengan dirimu.
Waktu terus berjalan, meninggalkan jejaknya dalam goresan kenangan. Aku dan kamu masih terus bersatu dalam setiap surat-surat kita. Tapi aku dan dia juga masih terus bersama, menyusuri Yogya dengan segala keanggunannya. Entah itu sekedar melihat-lihat pernak-pernik di Malioboro ataupun melirik keindahan sejarah di alun-alun Yogyakarta. Hingga suatu saat, kala matahari sudah beranjak dari persinggahannya.
"ada yang mau aku sampein, Yu", Dika memegang jemari tanganku.
Membuatku pergi dari keramaian malam di resto kesukaan kami sejak SMA, dan menenggelamkanku dalam masa-masa dulu. Bahkan bayangmu pun mulai memudar dalam benakku. Maafkan aku.
"Sebenarnya, alasan aku kesini bukan karena aku mau memotret Yogya. Tapi, karena aku jelasin semua ini ke kamu", lanjutnya
Aku ingin beranjak pergi, atau setidaknya menutup telingaku rapat-rapat. Aku tidak mau mendengarnya!
"waktu itu, aku sama Rissa emang deket. Kita sahabatan, sama kayak kamu dan Rissa. Adegan pelukan itu ndak sengaja, Yu. Saat itu, perusahaan yang ayah aku dan ayah Rissa bangkrut. Dan semua itu disebabkan oleh mereka yang di duga korupsi", Dika memejamkan matanya, dia pasti sulit untuk mengingat masa itu. Dan ... ah bodohnya aku! Tapi, apa hubungannya dengan adegan pelukan mereka?
"pas aku lagi menyendiri di taman belakang sekolah, Rissa dateng sambil bawa surat keterangan kalo pemeriksaan menyatakan ayah kami positip korupsi. Rissa yang terlihat begitu rapuh langsung mendekapku yang masih berdiri mematung, dan aku yang ndak tau harus ngapain langsung membalas pelukan itu", bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku tak mencoba untuk mendengar itu? Aku egois!
"aku dateng ke Yogya, karena aku mau mulai semuanya dari awal. Ayah aku dan Rissa juga mulai merintis usahanya dulu di Jepang. Dan sekarang, aku mau mulai semua itu bersama kamu", genggaman itu mengerat perlahan
***
Permasalahan pun bertambah rumit. Cintaku padamu memang tak pernah berubah. Tapi cintaku pada Dika juga sama, sama seperti masa putih abu-abu dulu. Aku mencintaimu, tapi rasaku pada Dika masih setia membayanginya.
"aku masih cinta sama kamu, Yu. Aku tau, kamu ndak bisa jawab sekarang. Tapi tolong ... maafkan aku Yu", samar-samar suara itulah yang masih terdengar dari mulutnya tadi. Membuatku enggan untuk tidur, meski waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kuperiksa ponselku, dan ... pesan masuk?
From: My Sunshine
Kalo km blm tdr, angkat video call aku ya!
Video call? Dengan tergesa-gesa aku merapihkan diri, berusaha untuk tampil cantik di matamu. Tak lama, ponselku berdering. Dan akhirnya, wajahmu kembali hadir dalam pandanganku. Namun kamu terlihat jauh lebih kurus, wajahmu yang biasanya riang terlihat begitu pucat.
"aku lagi di kota, tadi pagi habis pesan tiket balik ke Yogya. Gak kerasa, sisa dua minggu lagi. Kamu apa kabar? Kok belum tidur?", ucapmu di seberang sana. Kamu tersenyum tenang, senyum yang begitu khas dari dirimu. Bahkan tubuhmu yang menggigil karena kedinginan malam pun tak dapat menghapusnya
"kok gak jawab? Kamu kenapa? Wah, pasti ada yang kamu sembunyiin dari aku ya? Atau, jangan-jangan kamu selingkuh?", aku tersentak. Apa kamu tau? Tapi, baik Dika maupun kamu, tak ada yang saling mengenal
"kata siapa? Kamu kenapa sih? Pucat gitu mukanya?"
"kata aku barusan. Hehe. Iya nih, aku lagi flu. Disini dingin banget, nih makanya aku pake sweater dari kamu"
"udah tau dingin, kenapa gak telpon dari dalem rumah tumpangan kamu itu aja sih? Kenapa harus di luar? Atau, kenapa gak telpon besok aja?"
"kalo di dalem, sinyalnya kurang, nanti wajah cantik kamu bisa hancur karena sinyal. Kalo besok, ah aku udah terlanjur kangen banget sama kamu"
Aku merindukanmu! Rindu suaramu, rindu wajahmu, rindu senyummu, rindu tawamu. Aku sangat merindukanmu!
***
Dalam hempasan gelombang ombak, aku sudah meyakinkan diri akan jawaban yang kuranpaikan pada Dika, nanti. Di pantai Baron, pantai yang didominasi para nelayan ini, aku akan mengakhiri rencana bagusku itu, tak peduli akan penjelasanmu waktu itu. Karena yang ada di pikiranku saat ini adalah kamu, aku ingin hidup bahagia denganmu. Lagipula aku sudah meminta maaf pada Rissa dan Dika atas keegoisanku, beberapa hari yang lalu. Jadi tinggallah aku yang memilih, dan aku akan memilihmu.
"aku sudah punya kekasih, namanya Evan. Dia dokter yang sedang bertugas di Papua, dan minggu depan dia akan kembali ke Yogya. Aku mohon, jauhi aku. Aku mau hidup bahagia bersama Evan"
Tanpa menunggu Dika, aku berbalik dan meninggalkannya. Dadaku terasa sesak, bahkan jauh lebih sesak dibanding saat Dika 'mengkhianatiku'.
***
Dear Sunshine,
Ini akan jadi surat terakhir aku buat kamu, karena beberapa hari lagi aku akan pulang ke pelukanmu di Yogya. Aku gak sabar, karena nanti aku akan kasih kejutan besar atau kamu. Kejutan yang aku buat disini. Jadi, tunggu aku ya. Aku akan sampai hari Rabu, sekitar pukul 09.00 pagi.
Love you,
Evan
Sisa dua hari. Aku menatap foto kita semasa kuliah dulu. Waktu berjalan dengan cepat ya. Kamu yang dulu hanya sebagai sahabat yang selalu ada buat aku telah berubah menjadi kamu yang merupakan kekasih aku. Bahkan seorang Dika -sosok yang masih membayangi aku- pun mengalah karena kekuatan cinta kita. Rissa yang tadinya berharap aku akan lebih memilih Dika dan melupakan kamu juga telah menjadi pasrah dan menyadari kalau kamulah jodohku yang sesungguhnya.
***
"maaf, tapi pendarahan di otaknya begitu hebat. Mungkin karena benturan keras saat kecelakaan itu terjadi. Kami telah berusaha, tapi Tuhan berencana lain", jelas seorang dokter yang kukenal sebagai atasanmu di rumah sakit. Dia menangis, Rissa dan ibu yang mendampingiku juga menangis sambil mengelus pundakku. Tapi aku, aku masih terdiam tak percaya akan apa yang terjadi sebenarnya.
"boleh aku melihatnya?", ujarku yang masih belum meneteskan air mata. Dokter kepala bagian bedah itu pun mengangguk mengiyakan.
Dan ah! Tubuh yang selalu mendekapku kini terbujur lalu disana, wajah yang selalu menghiasi hariku juga terdiam tanpa kacamata disana, bahkan senyumnya yang khas pun terlihat abadi disana. Air mataku masih belum turun, sampai akhirnya seorang suster datang dengan setelan jas dan gaun putih yang sederhana namun menampilkan sisi sucinya. Tidak hanya itu, si suster pun juga menyerahkan kotak perhiasan berisikan cincin di dalamnya. Dan disaat itulah, aku berteriak. Aku merengkuhmu, erat! Aku memelukmu, sesuai dengan keinginan di suratmu itu.
***
01 November 2013
Kini aku menatapmu yang tertimbun tanah, aku hanya berusaha untuk menepati janjiku kalau aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu pergi karena kecelakaan pesawat. Jas dan kemeja yang seharusnya kamu pakai di hari pernikahan kita, malah kamu pakai dihari pemakamanmu. Kamu sangat tampan saat itu. Tapi kamu tenang saja, aku tetap mengenakan gaun putih pilihanmu di hari pernikahanku dengan cincinmu yang melingkar di jariku. Membuatku memakai dua cincin, satu milikmu dan satu miliknya.
"aku sudah memberitahu pengurus makamnya, dia akan menjaganya agar tetap bersih"
Aku bangkit berdiri, lalu menggapai tangannya. Meninggalkan kamu dan segala kenangan kita, beranjak untuk pergi ke Jepang. Meneruskan bisnis ayah suamiku dan ayah Rissa. Aku dan mereka yang sependapat denganku salah. Aku mencintaimu, tapi aku sangat mencintainya. Evan, kanulah kekasih terindah yang pernah kumiliki. Dika, dialah suami yang selalu kucintai.
SELESAI
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
Thanks For Read
Tidak ada komentar:
Posting Komentar