Minggu, 26 Januari 2014

Lentera Hati *Part 19*

Kini tawa itu pun berganti menjadi tangis yang tak tertahankan. Tasya yang juga ikut larut dalam tangis itu,
segera menghamburkan pelukannya pada Tania.

"aku gak mau liat Alvin alami semua hal itu kak, aku takut, aku gak mau", Tania mengeratkan pelukannya

"ya, kakak yang akan jaga dia. Kakak yang akan bantu dia untuk bertahan. Kakak janji, kakak akan lakuin semua
yang biasa kamu lakuin buat Alvin. Kakak akan sayang sama dia seperti kakak sayang sama kamu. Dan, kakak
akan jadi kakak yang baik buat kamu dan buat Avin. Kakak janji!"


*****

Mentari kembali terbit di sebelah timur, seperti biasanya semua orang telah bangun dan bersiap untuk melaksanakan susunan kegiatan mereka pada hari ini. Begitu juga dengan Tania yang sudah anggun dengan busana yang ia kenakan saat ini. Yakni kemeja casual berwana putih dan celana jeans pendek juga aksesoris kalung yang menggantung panjang di lehernya. Setelah mendapat izin dari papa dan ibunya, ia bergegas menghampiri Iyel yang sudah terdengar bunyi motornya di depan rumah.

"apa aku terlambat?", tanya Iyel yang memasang helm pada kepala Tania

"kurasa tidak, ayo kita berangkat sekarang!", ajak Tania sambil menaiki motor besar berwarna hitam

Rencananya, hari ini mereka jalan-jalan dan melakukan hal lain yang biasa dilakukan oleh pasangan lainnya. Jalan, nonton, makan, belanja, dan lain sebagainya.

"apa aku boleh menggandeng tanganmu?", Iyel memintanya saat mereka memasuki salah satu mall terbesar di Jakarta

Tania menghentikan langkahnya, lalu memandang aneh ke arah pria yang ada di sebelahnya. Alisnya terangkat satu dan bibirnya miring ke kiri. Satu detik ... dua detik ... dan seketika mulut itu merekah menampilkan sederet giginya. Dia tertawa geli karena tingkah Iyel yang kaku.

"apa aku lucu?", tanya Iyel yang masih kaku

"tidak. Hanya saja, kau sungguh menggemaskan", Tania mencubit pipi Iyel

"ini, gandenglah selama yang kamu mau", lanjutnya pada Iyel yang terlihat bingung

Gandengan itu terus berlangsung, dan hanya terlepas saat mereka jajan di aalah satu kafe kopi disana. Iyel menyeruput kopi hitam kesukaannya, sementara Tania lebih memilih ice cream cappucino sebagai menunya. Karena terlalu bersemangat, butiran ice cream itu menempel di ujung bibirnya. Iyel yang ada di hadapannya pun tersenyum kecil, lalu memgambil tisu untuk membasuh kotoran kecil itu.
Karena tingkah Iyel yang tiba-tiba, Tania hanya terdiam mematung sambil membelalakan mata sipitnya. Sesekali ia melirik ke wajah Iyel yang begitu dekat. Ah, Iyel memang sangat tampan. Lekukan karya Tuhan itu benar-benar terlihat mempesona, terlebih bagi gadis yang satu ini.

*****

Berbeda dengan Tania dan Iyel yang masih canggung untuk bergandengan tangan, Shilla dan Cakka malah jalan bersama menuju kantin dengan tangan yang saling bertautan. Berita dua sejoli ini berpacaran pun telah menyebar di antara siswa dengan begitu cepat, termasuk pada Agni.

Kini Agni dan Rio juga Ofy sedang menghabiskan waktu istirahat di kantin, duduk bersama dan saling bersenda gurau. Sampai akhirnya, semua itu mereda saat sepasang kekasih baru ini datang untuk bergabung.

"widih, kayaknya ada yang baru jadian nih!", seru Rio menyambut mereka

"cie Shilla, eh sejak kapan?", tanya Ify

"sejak kemarin, hehe masih baru banget ini", sahut Shilla

Di sebelah kanan Shilla yang terus mengumbar senyumnya, Cakka malah menatap tajam ke arah Agni. Sementara Agni, dia menatap lirih genggaman tangan Cakka yang semakin erat pada Shilla. Melihat ekspresi Agni yang melamun, Cakka merasa bersalah. Entahlah, tapi ada juga rasa puas dalam hati kecilnya.

"hai Ni! Nanti jangan lupa, kita ada latihan band", sapa Shilla pada Agni

"i iya. Em guys! Gue duluan ya, ada tugas yang harus gue selesain", Agni bangkit berdiri lalu beranjak pergi

Cakka menatap kepergian Agni, dan tiba-tiba saja rasa bersalah itu menyeruak. Bahkan berhasil menghilangkan rasa puas yang sedikit tadi. Dan saat Agni sudah tak terlihat bayangannya, Cakka segera melepas genggamannya pada Shilla. Membuat Shilla menatap aneh ke arahnya.

"Yo, apa hari ini elo udah liat Alvin?", tanya Cakka mengalihkan topik pembicaraani

"enggaklah. Tadi Agni bilang, dia lagi ada keperluan sama keluarganya di Malang", sahut Rio

"sayang banget kalo Alvin pergi, padahal kan pensi tinggal menghitung hari lagi", timpal Shilla

"ya, kalo itu mah masih ada si Duto", Cakka menyahut

Ify yang sedang meminum air jeruknya, seketika tersedak ketika mendengar nama saudarnya disebut-sebut.

"aduh Fy, kamu minumnya pelan-pelan dong", Rio mengusap tangannya di punggung Ify

Pikirannya kini tertuju pada Duto. Kalau perkataan Cakka benar, bagaimana saudara kembarnya otu dapat
menyelenggarakan acara pensi untuk ulang tahun sekolah? Sementara tidak ada yang mau untuk membantunya.

*****

Di balik jendela, terdapat seorang anak laki-laki yang tengah duduk dengan meja yang ada di hadapannya. Tidak hanya itu, di atas meja pun terdapat kapsul obat juga air putih dan makanan di sebelahnya. Dengan wajah yang begitu pucat, dia memandang lelah semua hal itu.

"Vin, kakak masuk ya?", tanya Tasya sambil menggedor pintu kamar adiknya

"lho? Kamu belum makan sarapannya? Obatnya juga belum diminum lagi", omel Tasya saat sudah memasuki
kamar

Alvin tersenyum sejenak, lalu beranjak ke tempat tidurnya. Diletakannya dua bantal menumpuk lalu ditaruhlah kepalanya disana.

"aku capek, kak. Minum obat sama makan juga gak akan bisa hilangin rasa sakit ini kan?", lirih Alvin

"kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Vin", Tasya mengusap lembut rambut Alvin

"aku mau istirahat, kak. Kalo kakak keluar, tolong tutup pintunya ya", ucap Alvin lemah

Tasya yang pahan maksud dari adiknya, segera bangkit dan melangkah keluar dari kamar itu. Walau dipaksa
bagaimana pun juga, Alvin pasti tidak akan mau minum obat dan makan. Ya, perkataan anak itu ada benarnya juga. Namun belum sampai Tasya menutup rapat pintu itu, ia kembali membukanya. Sang adik jatuh tersungkur di lantai, usai mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Itulah alasan Tasya untuk kembali.

"kenapa kamu malah nyuruh kakak pergi?", sesal Tasya yang langsung duduk untuk membersihkan bercak darah di bibir yang pucat itu

"aku ... a ... aku ...", Alvin yang tadinya tersungkur kini beralih ke dalam pangkuan Tasya membuat baju gadis itu berlumuran darah

Mata sipit itu pun terpejam bersamaan dengan tubuhnya yang melemas.

"astaga, Alvin! Vin, bangun Vin! Alvin!", teriak Tasya dengan menggoyang-goyangkan tubuh itu

Mendengar suara teriakan dari kamar sang anak, ibu segera datang lalu memanggil sopir untuk membawa
mereka ke rumah sakit. Di dalam mobil, Tasya terus menggenggam tangan Alvin yang berada di paangkuannya.
Sementara ibu dusuk di sebelah sopir.

"bu, tangannya dingin banget Terus tadi Alvin gak makan dan minun obatnya" Tasya khawatir

"dasar anak itu, ayo pak lebih cepat lagi", kesal ibu

Tasya mengeratkan genggamannya, tanpa sadar air mata mulai membasahi pipinya. Air mata pertamanya untuk
Alvin. Dia meletakkan wajah pada Alvin, lalu mulai berbicara dengan pelan sekali: "bertahanlah, kakak sayang
sama Alvin"

*****

Duto yang biasa sendirian di Sekolah sedang tertidur di kursi paling belakang dalam kelasnya. Tertidur sejenak, hal itulah yang menjadi pengisi waktu istirahatnya di Sekolah.

"perhatian perhatian. Diberitahukan, bagi siswa yang bernama Duto Sudarma kelaa XII IPA 2 harap ke pembina OSIS sekarang", ucap seseorang dari balik speaker sekolah

Bagaikan alarm, pengumuman tadi telah membangunkan Duto yang sempat terlelap. Dia mengusap matanya
kasar lalu mulai merapihkan rambutnya yang acak-acakan.

"apa bapak memanggil saya?", tanya Duto yang sudah tiba di ruang pembina OSIS

"ya silahkan duduk"

"apa kamu tau kalau hari ini, Alvin gak masuk sekolah?", lanjutnya

Duto menggelengkan kepalanya

"tadi pagi bu Sandra menelpon, dia bilang kalau untuk beberapa hari ke depan Alvin tidak akan masuk karena dia
harus pergi ke Malang bersama keluarganya, entah ada acara apa", jelas pembina

"acara? Alvin Alvin ... sampai kapan elo terus sembunyiin ini dari kita semua", gumam Duto dalam hatinya

"jadi, kamu harus menggantikan posisinya sebagai ketua pensi tahun ini", tegas pembina yang berhasil membuat
Duto membelalakan matanya

"tapi pak, pensi kan tinggal beberapa hari lagi"

"justru karena itu, kamu harus bisa membujuk anggota lain untuk bekerja lebih keras lagi. Lagipula, itu memang tugas kamu sebagai wakil ketua OSIS kan?"

"bagaimana kalau anggota yang lain tidak mau membantu, pak?"

"mereka pasti mau", ucap pembina yang bangkit berdiri dan menepuk pundak Duto

"bapak percaya sama kamu", ucapnya -lagi-

Wajahnya terus tertunduk di sepanjang jalan menuju ruang kelasnya. Hanya ada satu hal yang membuatnya berpikir keras, yaitu bagaimana caranya untuk mengumpulkan banyak bahkan semua anggota OSIS yang sama sekali tidak dekat dengannya mau untuk membantunya. Andai saja pembina tidak memilihnya sebagai wakil Alvin, pasti hal ini tidak akan terjadi. Tapi sebenarnya, bagaimana keadaan rivalnya yang satu itu? Ah dia memang selalu menyusahkan Duto.

*****

Kini mereka berdua tengah duduk sambil memandangi sekeliling, setelah lelah mengitari mall besar ini. Tanpa rasa canggung, mereka duduk berdua dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa segan, Iyel meraih jemari Tania lembut. Tanpa bicara, Tania pun membalas raihan itu dengan halus. Mereka benar-benar menikmati saat-saat ini.

"apa kamu mencintai aku?", tanya Tania sambil menyadarkan kepalanya pada bahu Iyel

"ya, aku sangat mencintaimu"

"apa kamu sayang sama aku?"

"ya, aku sangat sayang sama kamu", Iyel mengusap rambut Tania pelan

"kalau begitu, berjanjilah padaku", pinta Tania

"janji? Janji apa?"

"janji kalau cinta dan sayang itu untuk aku, tapi bukan hanya untuk aku"

"maksud kamu?"

"ah entahlah! Ayo kita pulang", Tania bangkit berdiri lalu menarik tangan Iyel

Kala sudah puas dengan apa yang mereka lalui pada pagi hingga siang hari, mereka kembali bertemu dengan
motor besar milik Iyel dan kembali pulang. Sepanjang jalan mereka saling diam. Tania memeluk Iyel erat, dan
Iyel membalasnya dengan sentuhan tangannya sesekali. Entah kenapa, tapi ada sesuatu yang begitu mengganjal
dalam hati Tania. Ia tak mau kehilangan Iyel, tapi ada satu hal yang membuatnya harus merelakan Iyel. Ah ini
memang aneh.

TO BE CONTINUED

GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^

See You On Next Part
Thanks For Read

Tidak ada komentar: