Minggu, 29 Juni 2014

Lentera Hati *Part 20*

Kini mereka berdua tengah duduk sambil memandangi sekeliling, setelah lelah mengitari mall besar ini. Tanpa rasa canggung, mereka duduk berdua dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa segan, Iyel meraih jemari Tania lembut. Tanpa bicara, Tania pun membalas raihan itu dengan halus. Mereka benar-benar menikmati saat-saat ini.

"apa kamu mencintai aku?", tanya Tania sambil menyadarkan kepalanya pada bahu Iyel

"ya, aku sangat mencintaimu"

"apa kamu sayang sama aku?"

"ya, aku sangat sayang sama kamu", Iyel mengusap rambut Tania pelan

"kalau begitu, berjanjilah padaku", pinta Tania

"janji? Janji apa?"

"janji kalau cinta dan sayang itu untuk aku, tapi bukan hanya untuk aku"

"maksud kamu?"

"ah entahlah! Ayo kita pulang", Tania bangkit berdiri lalu menarik tangan Iyel

Kala sudah puas dengan apa yang mereka lalui pada pagi hingga siang hari, mereka kembali bertemu dengan motor besar milik Iyel dan kembali pulang. Sepanjang jalan mereka saling diam. Tania memeluk Iyel erat, dan Iyel membalasnya dengan sentuhan tangannya sesekali. Entah kenapa, tapi ada sesuatu yang begitu mengganjal dalam hati Tania. Ia tak mau kehilangan Iyel, tapi ada satu hal yang membuatnya harus merelakan Iyel. Ah ini memang aneh.


KRING! KRING! Ponsel milik Tania berdering. Ada panggilan masuk. Tasya. Begitulah nama yang tertera disana. “Halo?”, sapanya lembut di tengah kebisingan jalan raya. Hening. Tak terdengar suatu bunyi pun disana. “Halo?”, ulang Tania dengan nada yang lebih keras. Iyel yang sadar akan aktivitas kekasihnya, segera menghentikan laju motor itu dan menepi.

“halo kak? Kakak kenapa?”, kali ini suara itu bergetar. Terdengar isakan tangis disana, suara tangis yang ia yakini milik kakaknya, Tasya.

“Alvin? Iya iya, aku kesana sekarang”, Tania mematikan sambungan telepon itu.

“Alvin masuk rumah sakit?”

“iya, kita langsung kesana aja yah, Yel”, ucapnya lirih.

Iyel mengangguk, lalu kembali menyalakan motornya. Namun, belum sampai motor itu melaju ke tengah, sebuah truk besar melaju dengan begitu cepat. Iyel segera menghindar. Tapi sayang, mereka malah menabrak pohon besar di pinggir jalan raya itu. Iyel terjatuh dan terguling di jalan beraspal kasar itu. Sementara Tania, dia sudah tak sadarkan diri di bawah pohon besar itu.

*****

Alvin tengah berada di ICU, tubuhnya yang lemas sedang diselimuti oleh banyak alat medis. Tasya dan ibu tampak khawatir di ruang tunggu, sementara papa yang adalah dokter spesialis kanker berusaha untuk membantu anak tirinya untuk bertahan hidup lebih lama lagi.

“udah siang, kamu belum makan kan?”, tanya ibu pada Tasya yang berada di sebelahnya.

“enggak usah, bu. Tasya nunggu Alvin disini aja bareng ibu”,

“kamu harus makan. Lebih baik, sekarang kamu turun ke bawah, cari makanan buat kamu yah”, perintah ibu sambil memberikan sejumlah uang pada Tasya.

“baiklah. Aku juga akan membelikannya untuk ibu”

Tasya mengambil uang itu lalu berlalu meninggalkan ibunya. Ya, semenjak saat itu hubungan mereka semua mulai membaik. Tasya mulai menghargai kehadiran wanita muda itu sebagai pengganti mamanya, dia juga mulai merasakan kekhawatiran saat penyakit Alvin kambuh.

Di tengah perjalanan menuju kantin rumah sakit, Tasya melihat seorang anak laki-laki dengan rupa yang tak karuan tengah mengantar seorang gadis yang sudah tak asing lagibaginya. Jika dilihat dengan seksama, kondisi laki-laki itulah yang lebih parah. Tapi anehnya, malah si gadislah yang memasuki ruang UGD tersebut. Dan ... gadis itulah Tania. Ya, Tania!

“Iyel!”, teriak Tasya sambil menghampiri orang yang tak karuan itu.

“apa itu Tania? Apa yang terjadi sebenarnya?”, desak Tasya.

Iyel tak menjawab, dia malah duduk sambil bersandar pada dinding rumah sakit dengan kedua tangan yang memeluk kakinya. Dia menangis, lirih sekali. Rasa perih karena sejumlah luka yang ada di tubuhnya juga rasa bersalah yang begitu besarlah yang menyebabkan tangisan itu. Ini salahnya, Tania masuk ke UGD karena kelalaiannya. Itulah yang tengah menggerogoti pikirannya saat ini.

“maafin aku, kak. Ini salah aku. Seandainya tadi aku perhatiin jalan, seandainya tadi aku gak langsung ke tengah. Hal ini pasti gak akan terjadi, kak”, rutuknya.

Kini giliran Tasya yang tak menjawab. Sama seperti Iyel, ia terduduk lemas. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi pada adik kesayangannya.

*****

Lelah telah sampai pada batasnya
Melambung tinggi melampaui lapisan bumi
Tak tahu pula tak memahami
Hanya dapat terdiam dan merindu ...

“stop!”, teriak Agni menghentikan nyanyian Sivia sambil meletakkan gitarnya.

Ify dan Shilla yang ada disana juga berhenti dan meletakkan alat musik mereka masing-masing.

“elo gimana sih, Vi? Itu tuh menanti, bukan merindu! Apa sebelumnya elo gak hapalin liriknya?”, geram Agni.

“sorry Ni, gue gak sempet”, sesal Sivia.

“kalo lo gak niat, mending gak usah gabung deh”, ketusnya.

“ni, kok elo ngomong kayak gitu sih? Apa elo gak suka kalo Sivia gabung sama band kita?”, Shilla membela sahabatnya.

“bukan itu masalahnya, Shill. Sivia itu udah salah lirik tiga kali dari tadi”

“Sivia kan anak baru, Ni. Wajar kan kalo dia salah”

“lho? Kok lo jadi belain Sivia sih?”

“ya, karna disini Sivia yang bener”

“oh, jadi maksud lo, gue yang salah?”

“udahlah, Shill! Gue tau elo sama Sivia sahabatan dari kecil, makanya elo selalu belain dia”, lanjut Agni.

“kok lo jadi ngebahas soal yang lain?”

“udah, Ni. Udah, Shill”, lerai Ify.

“enggak, Fy. Gue harus selesaiin semua ini sama Agni”, bantah Shilla.

“elo kenapa sih, Ni? Kenapa elo berubah jadi tempramen gini? Apa elo punya masalah sama gue?”, tantang Shilla

“iya! Karena lo udah ambil Cakka yang seharusnya jadi milik gue!”, batin Agni.

“sorry Shill. Sorry , Vi. Sorry juga Fy. Gue ada masalah yang gak bisa gue ceritain ke kalian. Makanya gue jadi tempramen kayak gini. Em, latihannya kita undur besok aja ya. Gue harus balik sekarang”, ucap Agni yag langsung meninggalkan ruang musik.

KRING! KRING! Belum lama Agni pergi, ponsel Sivia berdering. Ada panggilan masuk, dengan nomor tanpa nama.

“hallo?”, sapa Sivia

“ya? Ada apa kak Tasya?”

“apa? Ah iya, iya aku akan kesana”

“makasih ya kak”, sambungan telepon itu pun berakhir.

“dari siapa Vi?”, tanya Shilla.

“em, sorry girls. Gue ada urusan, gue duluan yah”, seperti Agni, Sivia pun meninggalkan ruang musik.

Kini tinggalah Shilla dan Ify yang berada disini. Menatap dua jejak sahabat mereka yang pergi lebih dulu dengan masalah yang enggan untuk mereka sampaikan.

*****

Sivia bergegas menuju rumah sakit. Tapi belum sempat ia bertemu sang kakak, Sivia menghentikan langkahnya menuju ruang UGD.

Prak! Dengan penuh amarah Vano –papa Tania– menampar Iyel. Ia mencaci Iyel, tak terima dengan perbuatan Iyel yang menyebabkan anaknya harus seperti ini.

“maafkan saya, om”, Iyel berlutut di hadapan Vano.

“pulanglah! Tania akan jauh lebih baik, kalau kamu gak ada disini”, Vano melepas kasar tangan Iyel.

“udah pa, biarkan anak itu disini”, Sandra –ibu Tania– berusaha menjadi penengah.

“saya tau, om. Saya salah. Tapi saya akan tetap disini, karena saya mencintai Tania, om”, ucapnya yang membuat Vano meliriknya sejenak untuk menatap ketulusan dalam wajahnya.

Vano tidak menjawab, dia malah berbalik dan meneruskan laju kakinya. Sementara Sandra mengikutinya disamping. Sivia yang berpapasan dengan mereka pun hanya dapat tersenyum kecut lalu menundukkan kepalanya. Sampai akhirnya, dia berlari menyongsong Iyel yang tengah terpuruk di kursi tunggu.

“akhirnya kamu datang juga”, ucap Tasya saat Sivia menghampirinya dan Iyel.

“maaf kak, tadi aku masih di sekolah”

“yaudah, sekarang kamu suruh kakak kamu ini untuk diobati. Luka-lukanya lumayan parah, bisa infeksi nantinya”, jelas Tasya.

“iya, kak”

“Vi, soal papa aku. Aku minta maaf yah, aku tau kamu tadi melihatnya. Papaku emosi, Vi”

“iya kak, makasih yah”

Tasya membalas senyum itu, lalu beranjak pergi ke arah sama dengan ibu dan papa tadi. Tania masih dalam pemeriksaan disana, namun Iyel masih diam merutuki kesalahannya.

“ini salah aku, Vi”, rutuknya.

“seandainya tadi aku liat-liat dulu, seandainya tadi aku gak langsung panik. Ini semua pasti gak akan terjadi”

“seandainya tadi aku ...”, Sivia memotongnya dengan pelukan yang begitu erat.

“kak Tania begitu bukan karna kesalahan kak Iyel, kecelakaan itu juga bukan salah kakak atau siapapun”

“tapi, Vi ...”

“tenanglah, semua akan baik-baik saja, kak. Kak Tania akan sembuh dan bersama lagi dengan kakak. Kalian akan bahagia”

“jadi sekarang, lebih baik kakak masuk ke ruangan itu lalu diobati”, lanjut Sivia lembut.

Iyel mengangguk lemah. Pelipisnya yang mengeluarkan darah, pipinya yang lebam, dan bibirnya yang mengalami luka membuatnya harus menuruti adiknya. Lagipula sejak tadi, dirinya tak mampu untuk menahan rasa sakit dari luka-luka tersebut.

“jangan beritahu hal ini pada mama dan papa. Mereka harus menikmati liburan mereka di kapal itu”, perintah Iyel.

*****

Tidak seperti biasanya, Agni yang baru pulang sekolah malah langsung menuju kamarnya di lantai atas. Membuat Ozy yang sedang menonton televisi menatap kakaknya penuh tanya. Ini pasti ada hubungannya dengan cowok menyebalkan itu.

“Cakka?”, tanya Ozy yang membuka pintu kamar Agni.

“papa sama mama masih di rumah sakit?”, Agni berusaha mengalihkan pembicaraan sambil beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti seragamnya.

“masih, mungkin nanti malam baru balik. Kak jawab gue. Apa ini gara-gara Cakka?”, Ozy menunggu jawaban Agni di pinggir ranjang bermotif merahmuda-hitam itu.

“kalo Alvin, apa papa sama mama ngabarin kamu tentang dia?”, kini Agni menghampiri Ozy dan duduk di sebelahnya.

“kak, ayolah! Jawab aku”

Agni terdiam, mencoba untuk meyakinkan Ozy kalau tidak ada masalah dalam dirinya. Tapi apa boleh buat, Ozy tetap memaksa. Bahkan dia pun tau kalau ini tentang Cakka. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauhlah yang menyebabkan hal ini terjadi, mereka saling memahami, apalagi tentang hal yang satu ini.

“apa ada hubungannya dengan Shilla juga?”, tebaknya yang disahuti anggukan Agni.

“mereka ... mereka jadian?”, tebaknya lagi.

“ah ayolah! Kenapa tebakan lo selalu bener?”, sungut Agni.

“masalah lo emang cuma itu doang kan?”, tanya Ozy yang semakin membuat Agni kesal.

“baiklah, gue akan bantuin lo”, lanjutnya.

“bantuin gue? Apa yang mau elo lakukan?”

“udahlah, lebih baik sekarang kakak ke dapur dan masakin sesuatu. Gue laper”

Ozy menyunggingkan senyumnya, dia telah memiliki rencana untuk mengatasi orang yang telah membuat kakaknya seperti ini.

*****

Masih di waktu yang sama, yakni saat kuning senja mulai mewarnai langit. Rumah besar yang biasa sepi ini terasa jauh lebih sepi. Apalagi di dalam kamar yang didominasi warna hitam dengan kenangan pekat di dalamnya. Kali ini ada hal lain yang memenuhi pikirannya. Bukan tentang papa, Ify, ataupun mama. Pensi. Apa yang harus dilakukannya?

“boleh gue masuk?”, tanya Ify dari balik pintu kamarnya.

Duto bangkit berdiri dari tempat tidurnya, lalu membuka pintu yang terkunci itu. Ify yang ada di balik pintu segera masuk dan menata makanan yang dibawanya ke atas meja belajar.

“ayo kita makan malam disini”, ajak Ify yang dituruti Duto.

“gue baru tau kalo kamar lo segelap ini, berantakan lagi”, lanjutnya di sela makan.

“elo kenapa? Kok malah diem aja? Oh soal itu, pensi?”, ucap Ify –lagi–.

“gapapa, gue bisa atasi itu semua kok”, sahut Duto.

“tapi gue bisa kok bantuin lo. Gue kesini, gue ajak elo makan bareng karena ...”

“karena elo pikir gue gak bisa atasin ini? Gue tau, gue gak punta temen satu pun disana. Gue tau, gak ada satu pun dari anak OSIS yang bakal dukung gue. Gue tau, kalo pembina udah salah pilih gue jadi wakil ketos”, potong Duto dengan kekesalan pada dirinya sambil  bangkit berdiri.

“elo kenapa sih? Kenapa tiba-tiba elo jadi meledak kayak gini?”, bingung Ify

“gue gak tau, Fy. Gue gak tau mau mulai semuanya dariman. Gue gak tau harus ngapain”

“Duto, kita saudara kembar. Dan, gue ada disini. Ayo, kita mulai semuanya. Em, pertama kita harus buat tema buat pensi, terus susunan panitianya, abis itu susunan acara, dan strategi buat bikin acaranya berhasil”, bantu Ify

“Fy, makasih yah”, Duto memeluk Ify.

“kita kan kembar. Apa yang elo rasain, itu yang gue rasain. Elo bahagia, gue pun akan bahagia”, sahut Ify dalam pelukannya.

Makan malam itu dilanjutnya, sesekali Duto dan Ify melontarkan canda. Usai itu, Duto segera mengeluarkan laptopnya, dan mulai membuat hal-hal apa saja yang mestinya sudah dibuatnya bersama Ify. Gadis berwajah tirus itu berjanji akan membantunya, dan Duto yakin kalau semua akan berlangsung dengan baik.

*****

Setelah memastikan kakaknya telah terbaring dengan nyenyak, Sivia beranjak keluar kamar untuk mengunjungi Tania yang sudah dipindahkan ke kamar rawat. Dia juga harus meminta maaf karena kecelakaan tadi.

Ditatapnyalah Iyel yang kondisinya jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Lelaki itu tampak sangat tenang. Dengan seulas senyum, Sivia bangkit berdiri. Ia menatap kakaknya kembali, lalu beranjak pergi dari ruangan itu.

Namun belum sempat ia tiba di kamar Tania, langkahnya terhenti ketika ekor matanya menangkap bayang sosok yang tak asing lagi baginya dari balik jendela kamar yang lain.

“Alvin”, desisnya lirih. Lelaki yang menjabat sebagai kekasihnya kini terbaring dengan banyak alat medis yang bersarang di tubuhnya.

“dia gak ke Malang? Dia sakit, dan gue gak tau?”, sesal Sivia dalam benaknya. Rasa kesal dan khawatir itu kini menyatu dalam dirinya. Kenapa Alvin selalu seperti ini? merahasiakan apa yang terjadi dalam dirinya?

“Sivia? Hai nak, bagaimana kabarmu?”, sapa seorang wanita sambil menepuk lembut bahu Sivia.

TO BE CONTINUED

Hai hai hai! Brenda disiniii! Pasti udah lupa ya sama cerita ini? Aku juga sama lupanya kayak kalian :p tapi dari kemaren-kemaren tuh ada aja yang mensen aku buat nagih cerbung ini, jadi yaaaa aku lanjutkan sajalah.

Maaf karena emang part ini gak dapet feelnya sama sekali. Aneh deh pasti -_-

Oke sekian. Kalo kalian lupa, baca ajalah part-part sebelumnya.
Yang mau ditag, komen aja yah. Aku cuma ngetag beberapa doang soalnya :D

Gogogo Follow @brendafiona_
Follback? Just mention :p

See you next part guysss!

7 komentar:

Unknown mengatakan...

Kak lanjut dong;;) hehe

Anonim mengatakan...

Lanjut dongg :):)

Anonim mengatakan...

Ceritanya Bagus (y)
Lanjut dong kak :) ;D
Udah penasaran banget nihh ..
heheh ..

Anonim mengatakan...

Nextt dongg ..
udahh nunggu lama nihh :D
pleasee lahh ...
Udah penasaran bangett sma ceritanya ..
Pleasee :)

Princess_01 mengatakan...

Nextt dongg ..
ayolahh..
Pleasee

Anonim mengatakan...

Next dong kk.....

Anonim mengatakan...

Nextt dongg ...
Pleasee ...