Minggu, 24 Mei 2015

Lentera Hati *Part 21*

Setelah memastikan kakaknya telah terbaring dengan nyenyak, Sivia beranjak keluar kamar untuk mengunjungi Tania yang sudah dipindahkan ke kamar rawat. Dia juga harus meminta maaf karena kecelakaan tadi.

Ditatapnyalah Iyel yang kondisinya jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Lelaki itu tampak sangat tenang. Dengan seulas senyum, Sivia bangkit berdiri. Ia menatap kakaknya kembali, lalu beranjak pergi dari ruangan itu.

Namun belum sempat ia tiba di kamar Tania, langkahnya terhenti ketika ekor matanya menangkap bayang sosok yang tak asing lagi baginya dari balik jendela kamar yang lain.

“Alvin”, desisnya lirih. Lelaki yang menjabat sebagai kekasihnya kini terbaring dengan banyak alat medis yang bersarang di tubuhnya.

“dia gak ke Malang? Dia sakit, dan gue gak tau?”, sesal Sivia dalam benaknya. Rasa kesal dan khawatir itu kini menyatu dalam dirinya. Kenapa Alvin selalu seperti ini? merahasiakan apa yang terjadi dalam dirinya?

“Sivia? Hai nak, bagaimana kabarmu?”, sapa seorang wanita sambil menepuk lembut bahu Sivia.


Sivia menoleh ke sisi kanannya, ibu tersenyum hangat menyambutnya. “Baik bu, ibu gimana?”, sahut Sivia dengan senyumannya. Ibu pun balas tersenyum.

Kini mereka berdua duduk di kursi tunggu ruang ICU. Ibu mengaku tidak bisa tidur karena pikirannya yang tersita oleh keadaan kedua anaknya. Sementara Sivia masih merasa bersalah pada keluarga wanita muda yang kini sedang menghabiskan malam bersamamnya.

“Soal kak Tania, Sivia minta maaf bu”, ucap gadis itu penuh sesal.

“Itu bukan salah kamu, nak”, balas ibu yang tak pernah lepas dari senyumannya yang menenangkan.

“Tapi bu, kak Iyel yang ...”

“Sudahlah, itu bukan salahnya. Ini bukan masalah salah siapa. Lebih baik kamu pulang dan beristirahatlah. Biar ibu yang sekalian menjaga kakak kamu disini”, Sivia mengangguk mengerti.

Dia kembali ke kamar Iyel lalu mengemasi tasnya yang masih berisi buku-buku pelajarannya. Lalu beranjak pulang. Ibu yang menyuruhnya pulang sudah menyiapkan mobil beserta supirnya di depan pintu masuk rumah sakit. “Sivia pulang dulu ya, bu”, salamnya pada ibu yang entah kenapa sudah seperti ibu sendiri baginya.

*****

Pagi ini, Agni tidak bersemangat sedikit pun. Mengingat kejadian kemarin, betapa dekatnya Cakka dan Shilla. Membuatnya enggan untuk pergi ke sekolah. Apa keputusannya untuk tetap menunggu Cakka adalah salah? Kenapa Cakka tidak pernah sekalipun berpaling untuk sekedar menatapnya dan melihat sebutir cinta dalam dirinya?

“Udah jam enam, elo belum mau siap-siap juga?”, tanya Ozy yang sudah rapi sejak satu jam lalu. Seperti biasa, dialah yang akan mengantar Agni hari ini.

Agni membangkitkan tubuhnya, lalu menatap Ozy lemas. “Kenapa sih cinta itu harus ada? Kenapa juga Tuhan harus memasangkan manusia?”, tanya Agni yang berhasil membuat adiknya mengernyit bingung.

“Karena manusia gak bisa hidup sendiri”, jawab Ozy santai namun membuat langkah Agni menuju kamar mandi terhenti seketika. Gak bisa hidup sendiri?

“Udah sana cepetan mandi! Gue tunggu di bawah ya!”, serunya yang langsung beranjak pergi.

Meski samar, tapi seulas senyum mulai terbentuk di wajahnya. Kalau memang Cakka sudah memilih Shilla sebagai kekasihnya, kenapa dia tidak membuka hatinya untuk orang lain? Ya, manusia memang tidak bisa hidup sendiri.

*****

Ketika matahari baru memaparkan sinarnya, Iyel sudah bangun dan berjalan menuju kamar Tania. Ia sangat merindukan kekasihnya. Ingin sekali rasanya menggenggam tangan itu erat, berusaha untuk menyerahkan tenaganya demi membantu gadis yang paling dicintainya itu.

Sampai di kamar, Iyel disambut oleh deretan gigi yang masih bersinar dalam rona wajahnya yang pucat. “Hai Yel”, sahutnya lemah. Dia melambaikan tangannya pelan, mengajak cowok itu untuk datang mendekat.

“Apa ka ... bar? Aku ka ... kangen”, lanjutnya yang kesulitan bicara karena masker oksigen yang menutupi rongga mulutnya.

Sambil berusaha menahan air matanya Iyel menggapai tangan kanan Tania lalu menciumnya lembut. “Aku baik, aku juga kangen banget sama kamu. Bertahanlah, kita akan terus bersama kan?”, jawabnya bersama dengan air mata yang sudah meluap dari batasannya.

Tania menggeleng lemah. Dia menarik tangannya dari genggaman Iyel, lalu menghapus air mata yang lama kelamaan mulai menderas di pipi cowok itu. “Dasar cowok cengeng!”, omel Tania sambil memukul pipi itu pelan.

Masih dengan air mata yang menderas, Iyel tertawa pelan. “Dasar bodoh! Sudah tau sakit masih aja marah”, ucapnya kesal sekaligus bahagia.

Walaupun hanya dapat bicara beberapa kata, tapi Tania sangat menikmati obrolannya bersama Iyel di pagi hari ini. Dia suka saat-saat ini, saat dimana dia dan orang yang dicintainya bisa terus bersama tanpa takut akan adanya waktu yang akan memisahkan mereka.

*****

Semua anggota OSIS sudah duduk rapi di mejanya masing-masing. Hingga akhirnya, Duto melangkah masuk dan berdiri tegap di hadapan mereka.

“Selamat siang”, sapanya dengan ekspresi yang begitu kaku. Ini adalah pertama kalinya dia memimpin rapat.

Anggota OSIS yang ada di hadapannya hanya memandang sinis ke arahnya. Mereka meremehkan keberadaan sosok yang berdiri tegap disana.

“Disini gue mau membahas tentang pensi dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah kita yang tinggal beberapa hari lagi”, tak ada suara lain membuat rapat ini menjadi rapat paling sepi sepanjang perjalanan OSIS di sekolah ini.

“Gue tau, pasti banyak dari kalian yang gak mau kerjasama bareng gue. Tapi gue mohon, ini demi sekolah kita”, lanjut Duto yang langsung mengutarakan isi hatinya.

Namun tatapan mereka belum berubah, masih meremehkan. Bahkan ada di antara mereka yang meninggalkan ruangan. Ini semua karena kesalahan pembina OSIS yang memilih Duto sebagai perwakilan dari pilihan guru, dan malah memutuskannya sebagai wakil ketus OSIS mendampingi Alvin. Padahal tidak ada satupun siswa yang mau bersimpati pada dirinya.

“Oke, gue rasa rapat kali ini cukup sampai disini. Gue harap kalian mau datang ke ruang musik sepulang sekolah nanti, buat siapin hal-hal yang diperlukan”, tak tahan lagi akhirnya rapat itu diakhiri.

Dari semua peserta rapat, tidak ada yang menanggapi perkataan Duto. Termasuk Rio yang pada dasarnya tidak suka, Shilla yang memilih untuk bbm-an dengan Sivia yang hari ini kembali izin, juga Agni yang masih hanyut dalam pikirannya tentang Cakka. Sementara yang lainnya hanya berkata-kata untuk menjelek-jelekkan posisi Duto yang memaksa cowok itu untuk menutup telinganya rapat-rapat.

*****

Setelah semalaman beristirahat di rumah, Sivia kembali berkunjung ke rumah sakit. Sebelum ke kamar kakaknya, dia mengunjungi kamar Alvin lebih dulu. Tadi pagi ibu mengirim pesan padanya kalau Alvin sudah dipindahkan ke kamar inap. Meski belum sadar dari tidur panjangnya, tapi kondisi cowok itu sudah mulai membaik.

“Apa matamu itu tidak lelah karena harus dipejamkan terus?”, sapa Sivia sambil menata bunga-bunga yang tadi ia bawa untuk menghiasi kamar Alvin.

“Tadi Shilla bbm aku, dia bilang Duto yang dipilih kepala sekolah buat jadi ketua panitia pensi tahun ini. Aku tau kamu gak suka sama dia, tapi bukan berarti kamu harus terus mengerjainya kan?”, lanjut Sivia seolah Alvin bisa mendengar semua ocehannya.

“Hah, apa kamu sedang memimpikan aku?”, tanyanya ketika selesai menata bunga-bunganya lalu duduk di sisi ranjang Alvin.

Ditatapnya cowok itu lekat. Ia yakin kalau dirinya tidak salah pilih. Dia tau kalau waktu yang tersisa untuk Alvin jauh lebih sedikit dibanding cowok lain. Tapi dia juga tau kalau lentera yang kini menghiasi hatinya telah jauh lebih bersinar dibanding lentera yang dulu ada namun telah padam. Ya, Duto memang menyayanginya tapi Alvinlah yang mampu mengalihkan dunianya.

“Sivia?”, panggil suara yang tidak asing lagi baginya bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.

“Hai! Kamu menjenguk Alvin?”, tanya Tasya mendekat.

Sivia mengangguk tersenyum. “Tadi aku mau ke kak Iyel dan kak Tania, jadi sekalian aku kesini. Aku juga bawa bunga-bunga buat di kamar ini”, sahut Sivia yang dihadiahi pelukan oleh Tasya. Sivia sudah mendengar perubahan sikap Tasya dari Alvin, tapi dia tidak pernah menyangka kalau akan seberbeda ini.

“Makasih ya kak, udah mau berubah buat Alvin”

“Makasih juga ya Vi, udah mau selalu ada buat Alvin”

*****

Iyel memarkirkan kursi roda itu tepat di sebelahnya, lalu menatap seorang gadis yang berada disana dengan penuh rasa bersalah. Sekeras apapun ia menghindar, sekeras itu juga rasa hadir dalam pikirannya. Kalau saja ia lebih berhati-hati, kalau saja ia tidak ceroboh, begitulah penyesalan yang terus menerus menghantuinya.

“Jangan menatap aku seperti itu”, komen Tania yang membalas tatapan Iyel.

“Jangan pasang wajah jelekmu itu! Kamu udah jelek, jadi jangan ditambah lagi jeleknya”, lanjutnya yang berhasil merekahkan senyum itu.

Iyel membelai rambut panjang Tania dengan mesra, lalu gadis itu menyandarkan kepalanya tepat pada bahu bidang kekasihnya. Membalas sandaran kepala itu, Iyel pun mengalungkan tangannya pada bahu kekasihnya. Memeluk gadis itu seerat yang ia bisa.

Papa dan ibu yang mengkhawatirkan kondisi Tania yang baru saja membaik, kini berdiri jauh di belakang dua sejoli yang tengah menikmati keindahan cinta. Mereka terus mengikuti gerak-geriknya. Termasuk saat Tania dan Iyel duduk bersama di taman rumah sakit ini.

“Kamu peluk aku, kenapa kamu gak minta izin dulu kayak waktu kamu pegang tangan aku kemarin?”, omel Tania

“Minta izin atau enggak, kamu pasti akan setuju sama aku. Aku akan terus memelukmu”

Tania melepaskan pelukan itu, lalu menatap kekasihnya dengan sedih. “Enggak bisa! Kamu gak bisa peluk aku terus”, Iyel mengernyit bingung. Dia tidak paham dengan maksud Tania.

Gadis itu terdiam dan membuang pandangannya pada pemandangan taman rumah sakit yang menyegarkan. “Dulu, waktu Alvin masih kecil ... aku selalu berharap kalau aku gak akan pernah melihatnya tumbuh besar. Aku gak mau, karena aku tau pasti kalau akan sangat sulit untuk kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Kehilangan mama sudah membuat aku sangat menderita, apalagi kalau harus kehilangan Alvin. Dan akhirnya, permintaanku akan terkabul Yel”, ucap Tania.

Iyel yang masih tidak mengerti maksud pembicaraan ini, segera berlutut dan menatap Tania lekat. “Apa maksud kamu? Kamu bicara apa, Ni?”, tanya Iyel lembut.

“Aku ini calon dokter, aku tau kondisi kesehatan aku saat ini. Aku tau, Yel”, Iyel menunduk dan lagi-lagi merutuki dirinya.

“Enggak Yel! Ini bukan salah kamu! Aku kayak gini karena aku yang menginginkannya. Aku yang memohon pada Tuhan, jauh sebelum aku mengenal kamu. Dan sepertinya, Tuhan telah mendengarkannya”

Karena kecelakaan itu, Tania mengalami pendarahan di otaknya. Entah sampai kapan, gadis itu dapat bertahan. “Maafkan aku”, entah sudah berapa kali Iyel mengucapkannya. Dia bangkit berdiri lalu kembali memeluk gadis itu erat.

Papa dan ibu menatap semua itu. Meski sayup, percakapan kedua remaja itu masih bisa didengar. “Tania benar, bu. Ini semua adalah rencana Tuhan. Ini bukan salah Iyel”, ucap papa sambil mengamati tingkah anak keduanya.

“Apa pendarahan itu gak bisa diobati? Apa Tania gak bisa sembuh?”

Papa menggeleng pelan lalu memegang bahu istrinya itu. “Bukankah ini yang dia inginkan? Jadi, tenanglah. Semua orang pasti memiliki waktu untuk pergi”

*****

Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang, semua kelas sudah kosong. Bahkan di sekolah, hanya ada beberapa siswa atau siswi yang tengah latihan untuk mengisi acara pensi. Berbeda dengan mereka yang berkelompok, Duto malah duduk sendiri di ruang musik yang selalu dipakai sebagai tempat pertunjukan. Dia sedang menunggu kehadiran para rekannya.

Sampai tiga puluh menit kemudian, hanya Duto sajalah yang berada di ruangan luas itu. Bahkan mereka yang tadinya latihan sudah bergegas meninggalkan sekolah. “Mereka gak akan datang”, ucap hati kecilnya.

Wakil ketua OSIS itu hanya bisa menarik nafas dalam, dan berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya sendirian. Dengan menjadi musuh besar Alvin, dia pun jadi tidak bisa memiliki satu teman pun di sekolah. Musuh dari orang yang memiliki jumlah teman hampir satu sekolah memang telah membuatnya selalu sendirian. Termasuk dalam menyiapkan pensi ini. Sendirian.


TO BE CONTINUED


Gimana? Pasti kalian udah lupa ya, kan? Maafin aku yang baru mau post cerbung ini lagi. Komennya ditunggu banget loh! Jangan lupa buat tinggalin komen kalian yah!

I hope you like it, guys!
See you on next part xD

2 komentar:

Queen of Sad Ending mengatakan...

ke mana aja, emangnya? emang bener.. aku lupa lagii.. hehe.. harus baca dari awal lagi tauuu biar ngerti. tp no problem... aku seneng kok bacanya.. part selanjutnya jangan lama2 okehh?

Unknown mengatakan...

lanjut kak please :)