Setelah memastikan kakaknya telah terbaring dengan nyenyak,
Sivia beranjak keluar kamar untuk mengunjungi Tania yang sudah dipindahkan ke
kamar rawat. Dia juga harus meminta maaf karena kecelakaan tadi.
Ditatapnyalah Iyel yang kondisinya jauh lebih baik dari yang
sebelumnya. Lelaki itu tampak sangat tenang. Dengan seulas senyum, Sivia
bangkit berdiri. Ia menatap kakaknya kembali, lalu beranjak pergi dari ruangan
itu.
Namun belum sempat ia tiba di kamar Tania, langkahnya
terhenti ketika ekor matanya menangkap bayang sosok yang tak asing lagi baginya
dari balik jendela kamar yang lain.
“Alvin”, desisnya lirih. Lelaki yang menjabat sebagai
kekasihnya kini terbaring dengan banyak alat medis yang bersarang di tubuhnya.
“dia gak ke Malang? Dia sakit, dan gue gak tau?”, sesal
Sivia dalam benaknya. Rasa kesal dan khawatir itu kini menyatu dalam dirinya.
Kenapa Alvin selalu seperti ini? merahasiakan apa yang terjadi dalam dirinya?
“Sivia? Hai nak, bagaimana kabarmu?”, sapa seorang wanita
sambil menepuk lembut bahu Sivia.
Sivia menoleh ke sisi kanannya, ibu tersenyum hangat
menyambutnya. “Baik bu, ibu gimana?”, sahut Sivia dengan senyumannya. Ibu pun
balas tersenyum.
Kini mereka berdua duduk di kursi tunggu ruang ICU. Ibu
mengaku tidak bisa tidur karena pikirannya yang tersita oleh keadaan kedua
anaknya. Sementara Sivia masih merasa bersalah pada keluarga wanita muda yang
kini sedang menghabiskan malam bersamamnya.
“Soal kak Tania, Sivia minta maaf bu”, ucap gadis itu penuh
sesal.
“Itu bukan salah kamu, nak”, balas ibu yang tak pernah lepas
dari senyumannya yang menenangkan.
“Tapi bu, kak Iyel yang ...”
“Sudahlah, itu bukan salahnya. Ini bukan masalah salah
siapa. Lebih baik kamu pulang dan beristirahatlah. Biar ibu yang sekalian
menjaga kakak kamu disini”, Sivia mengangguk mengerti.
Dia kembali ke kamar Iyel lalu mengemasi tasnya yang masih
berisi buku-buku pelajarannya. Lalu beranjak pulang. Ibu yang menyuruhnya
pulang sudah menyiapkan mobil beserta supirnya di depan pintu masuk rumah
sakit. “Sivia pulang dulu ya, bu”, salamnya pada ibu yang entah kenapa sudah
seperti ibu sendiri baginya.
*****
Pagi ini, Agni tidak bersemangat sedikit pun. Mengingat
kejadian kemarin, betapa dekatnya Cakka dan Shilla. Membuatnya enggan untuk
pergi ke sekolah. Apa keputusannya untuk tetap menunggu Cakka adalah salah?
Kenapa Cakka tidak pernah sekalipun berpaling untuk sekedar menatapnya dan
melihat sebutir cinta dalam dirinya?
“Udah jam enam, elo belum mau siap-siap juga?”, tanya Ozy
yang sudah rapi sejak satu jam lalu. Seperti biasa, dialah yang akan mengantar
Agni hari ini.
Agni membangkitkan tubuhnya, lalu menatap Ozy lemas. “Kenapa
sih cinta itu harus ada? Kenapa juga Tuhan harus memasangkan manusia?”, tanya
Agni yang berhasil membuat adiknya mengernyit bingung.
“Karena manusia gak bisa hidup sendiri”, jawab Ozy santai
namun membuat langkah Agni menuju kamar mandi terhenti seketika. Gak bisa hidup sendiri?
“Udah sana cepetan mandi! Gue tunggu di bawah ya!”, serunya
yang langsung beranjak pergi.
Meski samar, tapi seulas senyum mulai terbentuk di wajahnya.
Kalau memang Cakka sudah memilih Shilla sebagai kekasihnya, kenapa dia tidak
membuka hatinya untuk orang lain? Ya, manusia memang tidak bisa hidup sendiri.
*****
Ketika matahari baru memaparkan sinarnya, Iyel sudah bangun
dan berjalan menuju kamar Tania. Ia sangat merindukan kekasihnya. Ingin sekali
rasanya menggenggam tangan itu erat, berusaha untuk menyerahkan tenaganya demi
membantu gadis yang paling dicintainya itu.
Sampai di kamar, Iyel disambut oleh deretan gigi yang masih
bersinar dalam rona wajahnya yang pucat. “Hai Yel”, sahutnya lemah. Dia
melambaikan tangannya pelan, mengajak cowok itu untuk datang mendekat.
“Apa ka ... bar? Aku ka ... kangen”, lanjutnya yang
kesulitan bicara karena masker oksigen yang menutupi rongga mulutnya.
Sambil berusaha menahan air matanya Iyel menggapai tangan
kanan Tania lalu menciumnya lembut. “Aku baik, aku juga kangen banget sama
kamu. Bertahanlah, kita akan terus bersama kan?”, jawabnya bersama dengan air
mata yang sudah meluap dari batasannya.
Tania menggeleng lemah. Dia menarik tangannya dari genggaman Iyel, lalu menghapus air mata yang lama kelamaan mulai menderas di pipi cowok
itu. “Dasar cowok cengeng!”, omel Tania sambil memukul pipi itu pelan.
Masih dengan air mata yang menderas, Iyel tertawa pelan.
“Dasar bodoh! Sudah tau sakit masih aja marah”, ucapnya kesal sekaligus
bahagia.
Walaupun hanya dapat bicara beberapa kata, tapi Tania sangat
menikmati obrolannya bersama Iyel di pagi hari ini. Dia suka saat-saat ini,
saat dimana dia dan orang yang dicintainya bisa terus bersama tanpa takut akan
adanya waktu yang akan memisahkan mereka.
*****
Semua anggota OSIS sudah duduk rapi di mejanya
masing-masing. Hingga akhirnya, Duto melangkah masuk dan berdiri tegap di hadapan
mereka.
“Selamat siang”, sapanya dengan ekspresi yang begitu kaku.
Ini adalah pertama kalinya dia memimpin rapat.
Anggota OSIS yang ada di hadapannya hanya memandang sinis ke
arahnya. Mereka meremehkan keberadaan sosok yang berdiri tegap disana.
“Disini gue mau membahas tentang pensi dalam rangka
memperingati hari ulang tahun sekolah kita yang tinggal beberapa hari lagi”,
tak ada suara lain membuat rapat ini menjadi rapat paling sepi sepanjang
perjalanan OSIS di sekolah ini.
“Gue tau, pasti banyak dari kalian yang gak mau kerjasama
bareng gue. Tapi gue mohon, ini demi sekolah kita”, lanjut Duto yang langsung
mengutarakan isi hatinya.
Namun tatapan mereka belum berubah, masih meremehkan. Bahkan
ada di antara mereka yang meninggalkan ruangan. Ini semua karena kesalahan
pembina OSIS yang memilih Duto sebagai perwakilan dari pilihan guru, dan malah
memutuskannya sebagai wakil ketus OSIS mendampingi Alvin. Padahal tidak ada
satupun siswa yang mau bersimpati pada dirinya.
“Oke, gue rasa rapat kali ini cukup sampai disini. Gue harap
kalian mau datang ke ruang musik sepulang sekolah nanti, buat siapin hal-hal
yang diperlukan”, tak tahan lagi akhirnya rapat itu diakhiri.
Dari semua peserta rapat, tidak ada yang menanggapi
perkataan Duto. Termasuk Rio yang pada dasarnya tidak suka, Shilla yang memilih
untuk bbm-an dengan Sivia yang hari ini kembali izin, juga Agni yang masih
hanyut dalam pikirannya tentang Cakka. Sementara yang lainnya hanya
berkata-kata untuk menjelek-jelekkan posisi Duto yang memaksa cowok itu untuk
menutup telinganya rapat-rapat.
*****
Setelah semalaman beristirahat di rumah, Sivia kembali
berkunjung ke rumah sakit. Sebelum ke kamar kakaknya, dia mengunjungi kamar
Alvin lebih dulu. Tadi pagi ibu mengirim pesan padanya kalau Alvin sudah dipindahkan
ke kamar inap. Meski belum sadar dari tidur panjangnya, tapi kondisi cowok itu
sudah mulai membaik.
“Apa matamu itu tidak lelah karena harus dipejamkan terus?”,
sapa Sivia sambil menata bunga-bunga yang tadi ia bawa untuk menghiasi kamar
Alvin.
“Tadi Shilla bbm aku, dia bilang Duto yang dipilih kepala
sekolah buat jadi ketua panitia pensi tahun ini. Aku tau kamu gak suka sama
dia, tapi bukan berarti kamu harus terus mengerjainya kan?”, lanjut Sivia
seolah Alvin bisa mendengar semua ocehannya.
“Hah, apa kamu sedang memimpikan aku?”, tanyanya ketika
selesai menata bunga-bunganya lalu duduk di sisi ranjang Alvin.
Ditatapnya cowok itu lekat. Ia yakin kalau dirinya tidak
salah pilih. Dia tau kalau waktu yang tersisa untuk Alvin jauh lebih sedikit
dibanding cowok lain. Tapi dia juga tau kalau lentera yang kini menghiasi
hatinya telah jauh lebih bersinar dibanding lentera yang dulu ada namun telah padam. Ya, Duto memang menyayanginya tapi Alvinlah yang mampu mengalihkan
dunianya.
“Sivia?”, panggil suara yang tidak asing lagi baginya
bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.
“Hai! Kamu menjenguk Alvin?”, tanya Tasya mendekat.
Sivia mengangguk tersenyum. “Tadi aku mau ke kak Iyel dan
kak Tania, jadi sekalian aku kesini. Aku juga bawa bunga-bunga buat di kamar
ini”, sahut Sivia yang dihadiahi pelukan oleh Tasya. Sivia sudah mendengar
perubahan sikap Tasya dari Alvin, tapi dia tidak pernah menyangka kalau akan
seberbeda ini.
“Makasih ya kak, udah mau berubah buat Alvin”
“Makasih juga ya Vi, udah mau selalu ada buat Alvin”
*****
Iyel memarkirkan kursi roda itu tepat di sebelahnya, lalu
menatap seorang gadis yang berada disana dengan penuh rasa bersalah. Sekeras
apapun ia menghindar, sekeras itu juga rasa hadir dalam pikirannya. Kalau saja
ia lebih berhati-hati, kalau saja ia tidak ceroboh, begitulah penyesalan yang
terus menerus menghantuinya.
“Jangan menatap aku seperti itu”, komen Tania yang membalas
tatapan Iyel.
“Jangan pasang wajah jelekmu itu! Kamu udah jelek, jadi
jangan ditambah lagi jeleknya”, lanjutnya yang berhasil merekahkan senyum itu.
Iyel membelai rambut panjang Tania dengan mesra, lalu gadis
itu menyandarkan kepalanya tepat pada bahu bidang kekasihnya. Membalas sandaran
kepala itu, Iyel pun mengalungkan tangannya pada bahu kekasihnya. Memeluk gadis
itu seerat yang ia bisa.
Papa dan ibu yang mengkhawatirkan kondisi Tania yang baru
saja membaik, kini berdiri jauh di belakang dua sejoli yang tengah menikmati
keindahan cinta. Mereka terus mengikuti gerak-geriknya. Termasuk saat Tania dan
Iyel duduk bersama di taman rumah sakit ini.
“Kamu peluk aku, kenapa kamu gak minta izin dulu kayak waktu
kamu pegang tangan aku kemarin?”, omel Tania
“Minta izin atau enggak, kamu pasti akan setuju sama aku.
Aku akan terus memelukmu”
Tania melepaskan pelukan itu, lalu menatap kekasihnya dengan
sedih. “Enggak bisa! Kamu gak bisa peluk aku terus”, Iyel mengernyit bingung.
Dia tidak paham dengan maksud Tania.
Gadis itu terdiam dan membuang pandangannya pada pemandangan
taman rumah sakit yang menyegarkan. “Dulu, waktu Alvin masih kecil ... aku
selalu berharap kalau aku gak akan pernah melihatnya tumbuh besar. Aku gak mau,
karena aku tau pasti kalau akan sangat sulit untuk kehilangan orang yang sangat
kita sayangi. Kehilangan mama sudah membuat aku sangat menderita, apalagi kalau
harus kehilangan Alvin. Dan akhirnya, permintaanku akan terkabul Yel”, ucap
Tania.
Iyel yang masih tidak mengerti maksud pembicaraan ini,
segera berlutut dan menatap Tania lekat. “Apa maksud kamu? Kamu bicara apa,
Ni?”, tanya Iyel lembut.
“Aku ini calon dokter, aku tau kondisi kesehatan aku saat
ini. Aku tau, Yel”, Iyel menunduk dan lagi-lagi merutuki dirinya.
“Enggak Yel! Ini bukan salah kamu! Aku kayak gini karena aku
yang menginginkannya. Aku yang memohon pada Tuhan, jauh sebelum aku mengenal
kamu. Dan sepertinya, Tuhan telah mendengarkannya”
Karena kecelakaan itu, Tania mengalami pendarahan di
otaknya. Entah sampai kapan, gadis itu dapat bertahan. “Maafkan aku”, entah
sudah berapa kali Iyel mengucapkannya. Dia bangkit berdiri lalu kembali memeluk gadis
itu erat.
Papa dan ibu menatap semua itu. Meski sayup, percakapan
kedua remaja itu masih bisa didengar. “Tania benar, bu. Ini semua adalah rencana
Tuhan. Ini bukan salah Iyel”, ucap papa sambil mengamati tingkah anak keduanya.
“Apa pendarahan itu gak bisa diobati? Apa Tania gak bisa
sembuh?”
Papa menggeleng pelan lalu memegang bahu istrinya itu. “Bukankah ini yang dia inginkan? Jadi, tenanglah. Semua orang pasti memiliki waktu untuk pergi”
Papa menggeleng pelan lalu memegang bahu istrinya itu. “Bukankah ini yang dia inginkan? Jadi, tenanglah. Semua orang pasti memiliki waktu untuk pergi”
*****
Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang, semua kelas sudah
kosong. Bahkan di sekolah, hanya ada beberapa siswa atau siswi yang tengah
latihan untuk mengisi acara pensi. Berbeda dengan mereka yang berkelompok, Duto
malah duduk sendiri di ruang musik yang selalu dipakai sebagai tempat
pertunjukan. Dia sedang menunggu kehadiran para rekannya.
Sampai tiga puluh menit kemudian, hanya Duto sajalah yang
berada di ruangan luas itu. Bahkan mereka yang tadinya latihan sudah bergegas
meninggalkan sekolah. “Mereka gak akan datang”, ucap hati kecilnya.
Wakil ketua OSIS itu hanya bisa menarik nafas dalam, dan
berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya sendirian. Dengan menjadi musuh besar Alvin,
dia pun jadi tidak bisa memiliki satu teman pun di sekolah. Musuh dari orang yang
memiliki jumlah teman hampir satu sekolah memang telah membuatnya selalu
sendirian. Termasuk dalam menyiapkan pensi ini. Sendirian.
TO BE CONTINUED
Gimana? Pasti kalian udah lupa ya, kan? Maafin aku yang baru mau post cerbung ini lagi. Komennya ditunggu banget loh! Jangan lupa buat tinggalin komen kalian yah!
I hope you like it, guys!
See you on next part xD
2 komentar:
ke mana aja, emangnya? emang bener.. aku lupa lagii.. hehe.. harus baca dari awal lagi tauuu biar ngerti. tp no problem... aku seneng kok bacanya.. part selanjutnya jangan lama2 okehh?
lanjut kak please :)
Posting Komentar