Saatnya pun tiba, Ozy beserta mama dan
papa perlahan mulai menjauh dari mereka berdua. Sambil melambaikan tangannya,
cowok pemain bola itu meninggalkan kakak perempuannya. “Sampai jumpa di liburan
tahun depan, Zy”, teriak Agni.
Sementara Agni melambaikan tangan
kanannya, Cakka yang sejak tadi berdiri di samping kiri gadis itu, mendekatkan
tangannya hingga menggapainya. Refleks, Agni menoleh dan ...
“Aku rasa ini saatnya”, ucap Cakka dengan
tatapan yang berbeda
Cowok itu berdiri menghadapkan dirinya di
depan Agni, gadis yang selama ini sudah menantinya. Kini, dia menggenggam kedua
tangan gadis itu dengan erat.
“E .. elo kenapa Cak?”, ucap Agni dengan
suara yang bergetar. Semua bayangan dan khayalan akan apa yang akan terjadi
selanjutnya, dengan cepat berkeliaran di dalam pikirannya.
“Apa kamu pernah dengar kisah tentang
orang yang berjalan di taman bunga?”, tanya Cakka yang entah sejak kapan mulai
menggunakan bahasa aku-kamu.
Agni menggelengkan kepalanya. Wajah Cakka
yang serius dan genggaman tangannya telah membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Saat ini, Agni yakin seratus persen kalau dirinya terlihat seperti orang bodoh
yang berpikiran kosong.
“Jadi ada seorang pemuda. Dia
diperintahkan untuk memetik bunga yang terbaik yang ada di taman bunga, dengan
larangan untuk tidak berbalik ke belakang. Kamu tahu apa yang dia dapatkan?”
Bodoh, lagi-lagi Agni hanya bisa
menggeleng tanpa bisa berkata apa-apa. Ini seperti drama yang pernah ia tonton.
“Dia tidak mendapatkan apa-apa. Karena
ketika dia menemukan satu, dia berpikir kalau akan ada bunga yang lebih bagus
di bagian taman yang lain. Tapi nyatanya, dia tidak pernah mendapat bunga yang
lebih bagus dari yang sebelumnya”, meski grogi akhirnya Cakka yang sudah
menghafal semalaman berhasil mengatakannya.
Merasa kalau genggaman tangan saja tidak
cukup, Cakka menekuk lututnya. Membuat beberapa orang yang berlalu lalang di
bandara, berhenti sejenak dan melihat tingkah kedua remaja itu.
Dengan tangan kanan yang masih mengenggam,
dia berlutut di hadapan gadis yang hari ini terlihat jauh lebih cantik dari
biasanya. Cinta memang selalu membuat semuanya terasa lebih indah.
“Terimakasih, karena sudah mengizinkan aku
untuk menoleh ke belakang. Aku janji, untuk selanjutnya aku gak akan pernah
berpikir kalau ada cewek lain yang lebih baik daripada kamu”
“Aku cinta sama kamu, Ni”, lanjutnya yang
diakhiri dengan kecupan mesra di punggung tangan kanan Agni.
“Terima!”, seketika pengunjung yang tadi
berhenti bertambah banyak dan menyerukan kalimat yang sama.
Agni yang menjadi pusat perhatian dari
mereka, tak bisa bergerak sedikit pun. Dia mematung. Bahkan ketika air matanya
kembali mengalir, dia masih diam di posisinya.
“Maafin aku, Ni. Maaf udah buat kamu
menunggu terlalu lama. Maaf karena hubungan aku sama Shilla. Maafin aku, Ni”,
seru Cakka yang masih berlutut.
“Ah mama ...”, sambil menangis Agni malah
merengek layaknya anak kecil
*****
Meski hujan sudah berhenti sejak satu jam
yang lalu, tapi masih belum ada yang ingin beranjak sedikit pun. Baik Shilla
maupun Iyel, mereka masih menikmati suasana kafe yang jaraknya cukup dekat dari
sekolah.
“Kamu yakin gak kedinginan?”
Shilla tersenyum kecil sambil menggeleng.
Iyel terlalu berlebihan. Dia sudah meminjamkan jaketnya pada Shilla, tapi masih
bertanya apa gadis itu kedinginan atau tidak. Toh, tadi mereka naik mobil dan
gadis itu sama sekali tidak terkena air hujan, cipratannya pun tidak.
“Thanks ya Shill”, ucap Iyel yang kemudian
kembali menghirup americanonya yang hangat.
“Thanks? Jadi, kakak gak mau bayarin ini
semua?”, tanya polos Shilla yang membuat Iyel tertawa geli mendengarnya.
Dia mengusap lembut rambut panjang itu.
Sementara itu, gadis yang kini semakin dekat dengannya terlihat tertawa
bersamanya. Iyel menyukai hal ini. Lekukan senyum Shilla, cara dia tertawa,
bagaimana kekhawatiran gadis itu padanya. Dia sangat menyukainya.
“Thanks udah jadi sandaran aku”, ujarnya
Baik Iyel maupun Shilla, mereka kompak
menatap satu sama lain. “Jangan pergi, dan tetaplah disini”, sambung Iyel
sambil menarik tangan Shilla dan menepuknya pelan.
*****
Rencananya gagal. Begitulah hal pertama
yang Cakka sadari ketika mereka berdua tiba di salah satu resto yang ada di
bandara. Sekeras apapun dia berusaha, untuk menjalankan rencananya yang lain,
dia pasti akan menelan kegagalan yang sama.
Agni yang merasa bersalah karena
teriakannya yang terdengar aneh tadi, masih tetap diam dalam posisinya. Dia
terus menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Makanan yang ada di hadapannya
pun sama sekali belum disentuhnya.
“Ini ... em maaf Ni, maafin aku yah”,
entah sudah berapa kali tapi Cakka terus mengucapkan hal yang sama. Selalu
menyalahkan dirinya atas apa yang kini mereka alami.
Proses pernyataan cinta yang sudah Cakka
pikirkan sejak tadi malam. Dan membuatnya harus begadang demi menghafal setiap kata
maupun ekspresi yang akan di tampilkannya di hadapan Agni, berakhir dengan hal
yang memalukan. Pengunjung yang tadi berkumpul di sekeliling mereka demi
menunggu jawaban dari Agni, seketika bubar dengan tawa yang tertahan. Tepat
ketika gadis itu merengek dan memanggil-manggil mamanya. Benar-benar memalukan.
“Ayo dong, Ni. Jangan diam terus kayak
gini. Kan kamu juga belum makan dari tadi siang. Ini ... ayo buka dong
mulutnya. Jangan ditutup kayak gitu”, ucap Cakka sambil mengangkat sesendok
nasi yang lengkap dengan lauk di atasnya.
“Kenapa sih kamu harus kayak gitu? Kamu
tahu kan kalau aku itu pemalu, kamu juga tahu kan kalo aku tuh susah buat
kontrol emosi aku. Kalo kamu suka sama aku, kalo kamu juga cinta sama aku, kalo
kamu sayang sama aku, dan kalo kamu mau tembak dan bilang tentang semua itu ke
aku. Ya bilang aja. Gak usah kayak tadi”, omel Agni sambil menatap tajam ke
arah Cakka yang kini menunduk penuh sesal. Perlahan, dia mulai terbawa aku-kamu
sama seperti Cakka.
“Ja ... jadi?”
“Jadi apa?”, Agni yang sudah
memperlihatkan wajahnya kini memakan dengan lahap makanan yang sejak tadi
diabaikannya.
“Jawabannya”, sahut Cakka ragu.
Agni menatap Cakka, kemudian menelan
makanannya dengan kasar. “Ya, ya ... ya aku juga suka sama kamu. Aku cinta sama
kamu”.
Dan mereka pun resmi menjadi pasangan
kekasih.
*****
Setibanya di rumah, Alvin langsung
beristirahat di kamarnya. Dengan ditemani ibu, dia menyantap makan malamnya di
kamar.
“Bu ...”, ibu pun menatap putranya dengan
penuh perhatian.
“Kenapa ibu gak pernah mengatakannya?”
“Mengatakan apa?”, tanya ibu yang kembali
merapihkan baju-baju Alvin.
“Apa selama aku sakit, ada orang lain yang
dikorbankan?”
Ibu diam seketika, dia menatap Alvin yang
terlihat sangat lelah. “Apa sesuatu telah terjadi?”, tanya ibu yang
meninggalkan baju-baju tadi dan duduk di sebelah Alvin.
Alvin meletakkan sendoknya, lalu
memalingkan wajahnya membelakangi ibu. Apa dia harus menyalahkan ibu dan papa yang
telah mempertahankan nyawanya? Tapi, apa dia juga harus berterimakasih karena
mereka berdua telah menyebabkan kematian orang lain karena dirinya?
“Maafkan ibu”, ucap ibu seolah menjadi
pemandu air mata yang kini kembali mengalir di wajah Alvin.
“Dia sedikit lebih tua dari ibu. Dia punya
anak kembar, usianya anaknya juga sama dengan kamu”, lanjut ibu yang mulai
mengingat peristiwa yang menyesakkan itu.
#Flashback On#
“Nak, maafkan om. Tapi
om juga enggak mau kehilangan anak om. Om juga harus membangunkannya”, papa
yang menjadi satu-satunya dokter disana pun memilih untuk menyelamatkan Alvin
lebih dulu.
Saat itu kondisi Alvin
sangatlah payah. Dia pingsan dengan banyak darah yang keluar dari mulut dan
hidungnya. Dia sangat kritis. Dan papa tidaklah mungkin meninggalkannya begitu
saja. Kalau saja saat itu, dia tidak langsung menangani anak itu. Mungkin Alvin
akan kehilangan banyak darah dan tidak akan bertahan.
Papa pergi dan
meninggalkan anak kecil itu. Dan dengan suara yang sangat keras, anak itu
menangis sendirian.
“Kamu kenapa?”, tanya
ibu yang kemudian menghampiri untuk menenangkannya.
Bukannya menjawab, dia
malah terus menangis. Hingga akhirnya ibu mendekap anak itu erat dalam
pelukannya.
“Mama ... mama aku ada
disana. Mama aku sakit disana”, ucapnya sambil terus menangis.
Tak lama kemudian,
dokter yang lain yang juga merupakan papanya Agni berlari. Dia langsung masuk
ke ICU dan menangani mama dari anak laki-laki itu.
Namun sayang, nyawanya
sudah tidak bisa terselamatkan. Ibu muda itu pergi dan meninggalkan suami serta
anak kembarnya.
#Flashback Off#
“Ibu belum siap kalau kamu pergi, Vin”,
ucap ibu dengan suara gemetar. Mengingat kejadia itu sama halnya dengan
mengingat semua ketakutan yang ia alami di masa lampau. Bagaimana usahanya
untuk mempertahankan hidup Alvin. Mulai dari berdoa hingga berbagai cara untuk
membuat anak itu selalu berada di sisinya.
“Dia, ibu temanku”, aku Alvin sambil
menundukkan kepalanya dalam. Dia tahu kalau tadi Duto dan dirinya sudah saling
menenangkan. Tapi, bagaimanapun juga dia akan tetap merasa bersalah. Mau bagaimanapun
juga, dia telah ikut ambil bagian dalam kepergian mamanya.
Ibu yang tahu persis bagaimana perasaan putranya
itu segera memeluknya dengan hangat. Membiarkannya menangis disana,
membiarkannya membagi luka yang kini terbentuk disana.
Dengan lembut, ibu terus mengusap punggung
putranya. Dia pun mendengar setiap perkataan penuh putus asa yang diucapkan
oleh Alvin dengan seksama. Dia ingin menjadi tempat semua emosi itu meluap. Toh
ini juga bagian dari kesalahannya.
Seandainya Alvin tidak disana saat itu,
seandainya putranya itu tidak menderita penyakit ini, seandainya putranya tidak
terlahirkan untuk sakit seperti ini, seandainya dia tidak menikahi Nathan,
seandainya saja semua hal itu tidak terjadi.
“Maafkan ibu”, ucap ibu sambi menatap
Alvin yang kini terlelap dalam pelukannya.
*****
“Kau baru pulang?”, tanya papa yang sudah
tiba sejak tiga puluh menit yang lalu namun anak laki-lakinya yang seharusnya
pulang lebih cepat darinya, malah baru sampai sekarang.
“Latihan basket lagi? Atau OSIS? Atau
berkumpul dengan anak-anak gak berguna seperti mereka?”
“Kamu memang anak yang gak berguna, Duto”,
ucap papa yang kemudian bangkit dari sofa dan berjalan ke kamarnya.
Duto yang sudah mulai terbiasa dengan setiap
perkataan papa yang selalu merendahkannya, hanya berjalan tenang menuju
kamarnya tanpa sedikit pun meninggalkan perhatiannya. Papanya membencinya, dan
begitu pun dirinya. Dia juga benci dengan dirinya sendiri. Dirinya yang tidak
bisa melakukan apa-apa dan membuat papanya bangga.
“Elo gak kehujanan, kan?”, tanya Ify yang
berdiri di depan kamarnya. Dia bahkan membawa kotak P3K di tangannya.
“Apa kalo gue kehujanan, semua akan
berubah? Apa papa jadi ikut simpati, kayak elo yang simpati sama gue?”, tanpa
menunggu jawaban Duto masuk ke kamarnya.
Ify menarik nafasnya dengan lelah. Setiap
hari, bila mereka bertemu. Maka seperti inilah jadinya. Malah, kalau Duto
melawan, semua akan terlihat lebih menyeramkan. Tidak hanya beradu mulut, papa
pasti akan memukulnya dan Duto pasti juga akan memukul semua barang-barang yang
ada di dalam kamarnya. Mereka berdua sama, terlalu sama.
“Ya, Yo?”, sambil mengangkat teleponnya
Ify memasuki kamarnya.
“....”
“Oh, minggu depan?”
“...”
“Em, iyalah aku bisa. Masa buat nonton
pertandingan kamu aja, aku gak bisa”
“...”
“Jadi, gimana? Kamu udah sampai rumah?”
“...”
“Oh, yaudah. Jangan lupa minum obat yah,
biar gak sakit. Hehe”
“...”
“Yap, see you juga dear”
*****
Seminggu kemudian, pertandingan liga
basket kembali berlanjut. Dan SMA Jakarta yang telah melanjutkan langkahnya,
akhirnya tiba di laga final. Masih dengan Rio yang mengisi posisi kapten,
mereka siap menjalani pertandingan hari ini.
“Semangat ya Cak!”, pesan Alvin yang kini
duduk di kursi cadangan
Walaupun dia sudah berkali-kali memohon,
baik pada Rio maupun kak Steve. Tetap saja, dia tidak diperbolehkan. Apalagi
sekarang kak Steve tahu betul bagaimana kondisi anak didiknya itu. Jadi mau
bagaimanapun, dia tidak bisa membela Alvin seperti yang sudah-sudah.
TO BE CONTINUED
Yeay! Agni sama Cakka udah jadian! Yuhuuu~~ suka banget sama couple yang satu itu hehehehe :D
Shilla-Iyel mah nanti dulu deh yaa .. PDKT aja dulu ... biarin Iyel move on sepenuhnya dari Tania hihi
Dan Alvin, semangat yah! Ini bukan salah kamu kok :* huhuhuhu
Jangan lupa komennya yah :)
Sekian.
I hope you like it, guys!
See you on next part!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar