Selasa, 10 November 2015

Lentera Hati *Part 29*

Setelah menyelesaikan rapat, Alvin masih duduk disana bersama dengan Duto. Sebagai wakil yang telah menjalankan tugas ketuanya, Duto melaporkan setiap hal yang telah terjadi selama kepergian Alvin.

“Gue tau ini aneh, tapi ... thanks ya bro!”, ujar Alvin sambil menyikut tangan Duto yang duduk di sebelahnya.

Duto menatap Alvin datar. Lalu kembali melanjutkan pembicaraannya yang terpotong dengan ucapan aneh dari cowok aneh.

“Gue rasa LDK harus diikuti sama semua anak baru. Gak cuma mereka yang bakal jadi OSIS. Ya, walaupun jumlahnya jadi banyak banget. Tapi ... gue rasa ini perlu dan penting buat mereka nantinya”, ujar Duto sambil terus memperhatikan lembaran-lembaran kertas yang baru tadi siang diberikan kepala sekolah.

“Em ... gimana menurut lo?”, tanyanya pada Alvin yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.

“Elo sakit, Vin?”, tanyanya lagi saat tubuh Alvin bergetar kedinginan.


Alvin tidak menjawab. Bibirnya terasa sangat kering dan sama seperti tubuhnya yang bergetar.

Melihat kondisi Alvin yang payah, Duto segera melepas jaket yang ia kenakan sejak tadi lalu meletakannya di atas bahu Alvin yang juga sudah mengenakan jaket yang jauh lebih tebal darinya.

“Elo demam”, simpul Duto usai memegang kening rivalnya itu.

Tanpa ragu, Duto segera mengangkat tasnya dan juga tas Alvin lalu menggendong cowok kurus itu di bahunya.

*****

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Cakka pada gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya.

Berbeda dengan Cakka yang berhasil mengontrol emosinya, Shilla menangis. Dia sudah tidak mampu menahan emosinya yang sudah sejak kemarin dibendungnya.

“Maafin aku. Kejadian di taman kemarin ...”, Shilla tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Dia tidak mau membohongi dirinya dan juga Cakka. Ya, dia masih menyukai Iyel. Dia bahkan masih mencintai laki-laki itu.

Cakka menarik nafasnya berat lalu memegang kedua bahu gadisnya dengan erat. Membuat Shilla menatap kekasihnya dengan lekat.

Sejak awal, Shilla tidak pernah berpikir kalau hal ini akan terjadi. Dia pikir, Cakka adalah orang yang tepat untuknya. Kehadiran cowok itu terasa begitu tepat. Dia datang tepat disaat Iyel pergi meninggalkannya. Tapi ketika Iyel kembali, semua terasa berubah.

“Apa kamu cinta sama aku?”, dengan satu nafas Cakka menyelesaikan pertanyaannya. Pertanyaaan yang sebenarnya juga ditujukan pada dirinya. Apa dia cinta sama Shilla?

*****

Sambil memandangi rintikkan air yang turun ke bumi, Agni mengusap-usap kedua tangannya. Tidak bawa jaket, tidak bawa payung, dan tidak ada teman. Begitulah kondisi gadis ini sekarang. Sungguh mengenaskan.

From: Brother
Elo dimana? Mama, papa, sama gue udah siap-siap nih. Gue tunggu elo di bandara yah!

Begitulah pesan singkat dari Ozy yang ia terima sepuluh menit yang lalu. Tepat sebelum baterai di ponselnya habis.

“Hah, gue harus gimana?”, tanya Agni entah pada siapa.

Masih dengan tangan yang terus menggosok, dia duduk dan sesekali berdiri untuk melihat hujan yang entah sampai kapan akan berhenti untuk turun. Rapat OSIS sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan Alvin yang saat ini seharusnya berdiri disampingnya malah harus melanjutkan rapat itu berdua dengan Duto.

Tin ... tin ... tin! Bersama dengan suara klakson yang menggema, sinar kuning terpancar di kedua bola matanya.

“Woy Ni! Elo mau bareng gue gak?”, teriak seorang cowok yang suaranya mampu mengalahkan derasnya hujan.

Agni yang tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu, segera berlari dan menghampirinya. “Rio? Ah malaikat gue!”, ucapnya histeris. Dinaikinyalah motor Rio, lalu dipeluknya sahabatnya itu dengan erat. “Makasih ya Tuhan!”, lanjutnya penuh ucapan syukur.

“Elo mau kemana sih? Gapapa ujan-ujanan kayak gini?”, tanya Rio sambil kembali melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah.

Agni mengangguk cepat, “Gapapa kok, tapi Ify gapapa kan Yo kalo gue nebeng sama lo?”.

“Lah kok bawa-bawa Ify sih, dia kan tau kalo elo sahabat gue. Hahaha”, Rio tertawa.

“Nanti turunin gue di jalanan besar sana aja ya Yo, gue mau naik taksi”, seru Agni yang diangguki oleh Rio.

*****

Shilla membuang pandangannya. Semakin menatap Cakka, semakin membuatnya merasa bersalah. “Maafin aku, Cak. Maaf”, rintihnya.

Cakka menatap Shilla dengan iba. Dengan lembut, dia menarik kekasihnya itu ke dalam pelukannya. “Ini bukan salah lo, Shill. Jadi elo gak perlu minta maaf”, bisiknya.

“Gue juga cinta sama cewek lain. Gue juga sayang sama dia”, ucap Cakka.

Perempuan berambut hitam panjang itu diam seketika. Butuh waktu yang cukup lama, hingga ia bisa memahami ucapan Cakka tadi. Jadi selama ini, mereka hanya bermain-main? Jadi selama ini, mereka tak pernah saling mencintai? Jadi selama ini ...

“Aku rasa cinta kita salah, Shill”, ucap Cakka bersama dengan pelukan mereka yang melonggar.

“Aku rasa, ini saatnya kita buat memilih cinta yang benar”, lanjutnya sambil menghapus air mata di kedua mata bulat itu. “Maaf yah, aku udah buat kamu nangis kayak gini”, Shilla tersenyum tipis mendengar ketiga perkataan kekasihnya itu.

Shilla menarik nafasnya dalam, sampai akhirnya benar-benar bisa tersenyum dengan penuh kelegaan. “Apa kita harus mengakhirinya sampai disini?”.

Cakka mengangguk, lalu tertawa kecil. “Menurut aku, ini adalah pertama kalinya ada pasangan yang bahagia ketika hubungan mereka berakhir”, ujarnya yang juga membuat mantan kekasihnya itu tertawa. Ya, mereka akhiri hubungan semu itu dengan tawa dan kelegaan yang menenangkan.

*****

Tubuh Alvin semakin panas, badannya juga terus bergetar. “Tolong ... tolong gue”, meski pelan tapi dia terus mengatakan hal itu.

Duto yang menjadi satu-satunya pendamping Alvin saat ini, sibuk membuat kompres air hangat untuk rivalnya. Dia bahkan membuat segelas teh hangat dan menggenggam tangan itu demi menghangatkannya.

“Bertahanlah, Vin”, ucap Duto sambil terus menggenggam tangan yang selama ini selalu mengalahkannya.

Kalau saja hal itu tidak terjadi, mungkin dia tidak akan berada disini untuk Alvin. Kalau saja ibunya tidak diabaikan begitu saja, mungkin dia akan menjadi sahabat Alvin dan menjadi orang pertama yang selalu ada untuk cowok bermata sipit itu.

Tapi hal itu telah terjadi dan membuat semuanya sedikit sulit. Walau pada kenyataannya, membuat semuanya menjadi sangat sulit. Ya, Duto memang sangat membenci orang yang kini sedang terbaring lemah di hadapannya. Dia membenci Alvin.

“Apa gue harus telepon papa tiri lo?”, tanyanya yang digelengkan oleh Alvin.

“Gue mohon ... jangan pergi!”, ucap Alvin yang malah membuat Duto tak bisa lagi menahan air matanya. Dia tahu kalau hal ini mungkin akan terjadi. Dan dia benci, dia sangat membenci saat-saat seperti ini.

*****

Cakka menatap kepergian Shilla dengan penuh kepercayaan diri. Gadis itu akan jauh lebih bahagia bila bersama dengan laki-laki yang ia cintai. Tidak hanya Shilla, tapi dirinya pun akan jauh lebih bahagia bila bersama dengan gadis yang ia cintai.

“Ya, kenapa Yo?”, Cakka mengangkat sambungan teleponnya.

“...”

“Mogok? Dimana?”

“Oh, iya. Oke oke, gue kesana sekarang”, seru Cakka yang bergegas menuju ke lokasi lawan bicaranya tadi.

*****

#FLASHBACK ON#

“Ma, mama! Mama bangun, ma!”, dengan jeritannya Ify mendorong ranjang mama menuju ruang ICU.

Papa yang saat itu baru saja kembali dari pekerjaannya juga mengatakan hal yang sama. Dan Duto, dia diam di ambang pintu rumah sakit. Kakinya terasa terlepas dari tubuhnya. Dia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Seketika, waktu terasa berhenti dari putarannya.

“Alvin! Alvin, bangun sayang. Berjuanglah untuk ibu! Bangun nak!”

Beberapa menit kemudian, pasien lain datang dan memasuki ruangan yang sama. Pasien itu terlihat masih sangat muda, dia seusia dengan Duto. Tapi, kondisinya jauh lebih buruk. Walau saat ini, wajah Duto terlihat pucat dan tubuhnya gemetar karena ketakutan. Tapi wajah anak itu jauh lebih pucat darinya.

“Ada dua pasien di ICU”, ucap seorang suster yang mendampingi seorang dokter yang tengah menuju ke ruangan ICU.

“Om ...”, Duto meraih tangan dokter yang sedang terburu-buru itu. Membuat dokter itu berhenti lalu menunduk demi mendengarkan apa yang ingin dikatakannya.

“Mama aku ada disana, mama aku enggak mau buka matanya. Tolong bangunin dia, om. Aku gak mau mama aku pergi”, lanjut Duto sambil menangis dengan keras.

“Apa disini ada dokter yang lain?”, tanya dokter pada suster yang mendampinginya.

Dengan lemah, suster itu menggeleng. “Salah satu dokter sedang dalam perjalanan. Dokter spesialis kanker yang lain sedang menjalani pemeriksaan juga”, sahut suster penuh sesal.

“Nak, maafkan om. Tapi om juga enggak mau kehilangan anak om. Om juga harus membangunkannya”, dokter itu pun berlalu meninggalkan Duto yang menangis lebih keras.

#Flashback Off#

“Gue benci sama lo, Vin. Seandainya elo gak disana saat itu! Seandainya elo gak sakit saat itu! Mama gue pasti masih disini!”, seru Duto yang lebih memilih untuk keluar dari ruang UKS.

Melihat kondisi Alvin disaat seperti ini, membuatnya bingung harus bersikap apa. Menolongnya karena dia memang butuh pertolongannya, atau malah meninggalkannya karena dialah penyebab kepergian mamanya.

*****

Sudah hampir dua belas tahun menjalin persahabatan, baru kali ini Agni merasa kalau dia adalah gadis yang paling beruntung di seluruh dunia. Kalau tadi ada Rio yang datang seperti malaikat penolongnya, kini ada Cakka yang datang seperti pangeran yang akan mengantarnya sampai ke bandara.

“Elo yakin, elo bisa anterin gue sampe bandara?”, tanya Agni pada Cakka yang nampak sangat fokus pada laju motornya.

Kalau saja motor Rio tidak mogok di tengah jalan, lalu ada taksi yang lewat dan hujan mereda. Pasti saat ini dia tidak akan bisa naik motor bersama dengan Cakka. Apalagi sampai memeluk pinggang cowok itu dengan modus berpegangan. Agni tahu kalau ini akan menyakiti harkat dan martabat seorang wanita, tapi dia menyukai saat-saat ini. Dia suka berada di dekat Cakka, dia mencintainya.

“Jangankan bandara, kemanapun elo mau ... gue bakalan siap buat kesana”, teriak Cakka yang malah diabaikan oleh Agni yang asik dengan pemikirannya.

“Apaan Cak? Apa? Gue gak denger”, balas Agni yang malah tidak disahuti sedikit pun oleh Cakka.

Sama persis dengan Agni, Cakka juga merasakan hal ini. Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, senyum yang enggan untuk berhenti terbentuk, bahagia yang melewati batasannya. Ya, dia masih mencintai sahabatnya itu.

*****

“Dimana sih tuh anak? Ini udah jam tujuh malam, tapi belum pulang juga”, oceh ibu sambil terus mondar-mandir di pintu rumah.

“Tasya udah telepon Sivia, tapi katanya Alvin gak sama dia”, lapor Tasya yang semakin membuat ibu tidak bisa diam.

Berkali-kali ibu menelpon dan mengirimi putranya itu pesan, tapi sama sekali tak ada jawaban atau balasannya. Papa yang seharusnya berada di rumah sakit pun ikut mencari keberadaan putra tirinya itu.

*****

Satu jam sebelum keberangkatan kedua orang tua dan juga adiknya, akhirnya Agni tiba di bandara. Sambil berlari-larian, dia dan juga Cakka menyusuri setiap terminal di bandara. “Apa gapapa, kita ketemu mereka dalam keadaan kayak gini?”, ucap Cakka yang berhasil membuat mereka berdua berhenti.

“Oh iya, bener juga”, Agni segera mengeluarkan cermin dari tasnya lalu mulai menata rambutnya. Seragamnya yang tadi basah kuyup, kini sudah kering karena angin di perjalanan usai hujan berhenti tadi.

Sementara itu, Cakka sibuk menata dasinya yang berantakan. Sudah berkali-kali tapi dia masih saja gagal membentuk simpul disana.

“Sini, gue yang pakein”, Agni mengambil dasi itu lalu mengenakannya di leher Cakka. Cowok jenius itu menahan nafasnya untuk beberapa detik, berusaha untuk memperlambat detak jantungnya yang mungkin akan didengar oleh Agni dalam jarak dekat seperti ini.

Usai memastikan kalau mereka berdua sudah rapih, Cakka meraih tangan Agni lalu mereka kembali berlari bersama.

*****

“Walaupun gue gak tau kenapa elo ngelakuin semua hal ini ke gue, gue tetep mau bilang terimakasih banyak ke elo”, ucap Alvin yang kini tengah meminum teh hangat buatan Duto tadi.

Duto yang juga merasa lebih baik, kembali mengenakan jaket dan tasnya untuk bersiap pulang. Tapi, Alvin menahan lajunya. “Gue denger semuanya”, Duto pun berbalik dan menatapnya tajam.

“Gue harus pulang sekarang”, Duto mendorong tangan itu lalu kembali melanjutkan langkahnya.

“Makasih ... gue gak pernah nyangka kalo orang yang paling benci sama gue adalah orang yang paling peduli sama gue”

Untuk kedua kalinya, Duto berhenti. Dia berbalik dan menatap rivalnya, menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Alvin selanjutnya.

“Maafin gue, maafin penyakit gue”, Alvin bangkit berdiri lalu berlutut di hadapan rivalnya itu.

Duto membuang pandangannya. Dia tahu kalau inilah hal yang paling diingininya, dia ingin Alvin berlutut dan meminta maaf seperti ini padanya. Tapi apa berhaknya? Kepergian mama untuk selama-lamanya bukanlah salah Alvin. Dia juga tidak pernah berharap untuk memiliki penyakit mematikan itu.

Lagipula, kalaupun Alvin tidak ada disana saat itu. Mungkin Duto tidak akan pernah belajar cara untuk merelakan dan memaafkan.

“Bodoh!”, ucapnya sambil memukul kepala Alvin lemah.

“Elo tuh bukan penyebabnya! Nyokap gue pergi, karena emang itu adalah waktunya. Ini bukan salah lo!”, lanjut Duto dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Dia bahkan ikut berlutut bersama Alvin.

Alvin mengangkat wajahnya, lalu melihat wajah Duto yang tengah menangis. Ternyata cowok dingin menyebalkan sepertinya juga bisa menangis. Dengan satu gerakan, Alvin memeluk Duto erat. Ini yang pertama kalinya. Cowok yang selalu beradu pendapat dengannya itu kini juga turut dan tidak ingin melawan. Dia juga menikmati pelukan persahabatan yang entah kapan terakhir kalinya ia rasakan.

Dalam beberapa menit selanjutnya, mereka saling diam. Larut dalam pelukan persahabatan yang entah kenapa dapat membuat perasaan mereka jauh lebih tenang.

*****

“Jaga diri kamu baik-baik ya sayang”, pesan papa sambil memeluk tubuh anak pertamanya dengan penuh kasih sayang.

Mama yang dari tadi terus menutup wajah dengan kedua tangannya, juga ikut memeluk Agni. Dia bahkan mencium kening anak perempuannya itu dengan penuh rasa bersalah. “Mama janji gak akan pergi lama-lama. Mama janji, setelah urus keperluan Ozy disana, mama dan papa akan segera kembali ke Jakarta”, ucap mama di sela tangisnya yang tak tertahankan.

Tak jauh berbeda dengan mama, Agni juga menangis di pelukan orang yang telah melahirkannya itu. Dia harus dewasa. Lagipula kepergian mama dan papa hanya sementara, itu pun hanya untuk mengurus kebutuhan Ozy selama bersekolah disana.

“Jangan jadi cewek lemah ya kak”, ucap Ozy ketika gilirannya tiba.

Untuk terakhir kalinya di tahun ini, Agni memukul kepala Ozy. “Dasar tukang ikut campur!”, omelnya yang masih dengan air mata berlinang.

Ozy tertawa kecil, lalu menatap Cakka yang sedari tadi diam menonton pertunjukan keluarganya. “Tolong jaga kakak gue ya. Walaupun dia suka mukul dan marah-marah, tapi dia penyayang dan setia kok”, pesan Ozy yang malah dihadiahi pukulan lain di perutnya.

Saatnya pun tiba, Ozy beserta mama dan papa perlahan mulai menjauh dari mereka berdua. Sambil melambaikan tangannya, cowok pemain bola itu meninggalkan kakak perempuannya. “Sampai jumpa di liburan tahun depan, Zy”, teriak Agni.

Sementara Agni melambaikan tangan kanannya, Cakka yang sejak tadi berdiri di samping kiri gadis itu, mendekatkan tangannya hingga menggapainya. Refleks, Agni menoleh dan ...

“Aku rasa ini saatnya”, ucap Cakka dengan tatapan yang berbeda

TO BE CONTINUED

Sebelumnya, gue mau minta maaf karena gue lupa buat ngepost di hari minggu kemarin hihihi :D Maaf yaa beneran deh ini lupa beneran ...

Jadi, di part kali ini gue mau jelasin alasan kenapa si Duto bisa benci banget sama si Alvin. Terus gue juga mau akhirin hubungan semunya Cakka-Shilla dan mau alihin Cakka ke Agni wkwkwk :D

Hayoooo itu si Cakka mau ngomong apaan sama si Agni? Hihihihi :D

Jangan lupa komen plus follow blog ini yaaaa :)
Sekian...
I hope you like it, guys!
See you on next part!!!

Tidak ada komentar: