Minggu, 12 Februari 2017

Lentera Hati *Part 32*

“Jadi hari ini kamu naik taksi lagi?”, tanya ibu pada Alvin yang baru saja tiba di rumah bersama dengan Sivia.

“Maaf bu, tapi tadi Alvin beneran lupa”, sahutnya penuh sesal.

“Sorry tante, tapi Sivia harus pulang sekarang”, pamit Sivia yang disahuti anggukan ramah dan ucapan terimakasih dari ibu.

Ibu yang mulai memahami tentang kondisi Alvin saat ini, berusaha untuk menahan air matanya yang sejak awal sudah berusaha untuk mengalir di wajahnya. “Ayo, masuklah”, ucapnya sambil memijat punggung putranya lembut.

“Hai Vin!”, sapa Tasya yang sejak tadi menyiapkan makan malam untuk mereka.

“Eh, kak Tania udah pulang kuliah?”, tanya Alvin yang malah membuat ibu dan Tasya diam sesaat.


“Aku Tasya, Vin”, sahut Tasya dengan cepat. Dia tersenyum tipis lalu menggandeng tangan adiknya menuju kamarnya.

Alvin yang bingung, hanya bisa tersenyum malu mendengar jawaban kakaknya. Bagaimana mungkin dia melupakan nama kakaknya. “Maaf kak”, ucapnya sedih.

Sekali lagi, Tasya memberikan senyumnya. Tapi kali ini, senyum itu ditambah dengan tangannya yang menepuk bahu Alvin pelan. “Gapapa, kakak bakalan terus bantu kamu buat inget nama kakak kok. Hehehe”, ucapnya sambil tertawa. Tawa yang sekeras apapun ia berusaha, tetaplah terdengar hampa.

Usai mengantar Alvin menuju kamarnya, Tasya berbalik ke lantai bawah. Namun langkahnya terhenti, ketika suara tangis itu kembali terdengar. Ibu menangis lagi.

“Apa yang harus ibu lakukan, Sya?”, tanyanya yang membuat Tasya semakin mempererat pelukannya.

Hampir setiap hari semenjak Alvin kembali dari rumah sakit, wanita muda itu terus meneteskan air matanya. Apalagi hari ini, putra kesayangannya itu kembali melupakan hal-hal biasa yang seharusnya tidak dilupakan olehnya.

“Ibu tahu kalo semua ini bakalan terjadi, Sya. Tapi ibu gak mau sekarang. Ibu belum siap liat Alvin mengalami semuanya ini”, ucap ibu dengan tangis yang semakin menjadi.

*****

Bel istirahat berbunyi, dan seperti biasa mereka kembali berkumpul di meja panjang di kantin. Alvin, Sivia, Cakka, Agni, Rio, dan Ify. Tapi kali ini, gadis berdagu tirus itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.

“Yo, si Ify mana? Kok gak keliatan?”, tanya Cakka sambil mengangkat kepalanya demi melihat keberadaan kekasih sahabatnya itu.

Rio mendesah berat, “Gak tahu, gue abis berantem sama dia”. Semua mata bulat pun langsung terarah kepadanya. Tidak hanya mata bulat, mulut menganga pun ikut terarah kepadanya.

“Tadi pagi, ada masalah kecil. Mungkin dia juga masih marah sama gue”, jelasnya.

Sejak kemarin sore, hubungan mereka berdua terasa semakin kelam. Apalagi tadi pagi, lagi-lagi Rio harus menunggunya di depan pintu gerbang komplek untuk mengantarnya ke sekolah. Dan bila dibahas, alasan Ify pun tetaplah sama. Aneh. Dan Rio menjadi semakin kesal akan hal tersebut. Dia pun membentak Ify, dan gadis itu tidak ada di kantin saat ini.

“Elo sih, jadi cowok gak bisa jaga perasaan cewek!”, Agni menyalahkan. Dia bahkan menunjuk-nunjuk wajah Rio, kesal karena sahabatnya itu telah membentak sahabatnya yang lain.

“Kok jadi gue sih, dia juga salah dong. Kenapa dia gak pernah izinin gue buat ke rumahnya? Elo aja sama Cakka, sering kan main ke rumah masing-masing?”, Rio tak terima.

Tidak mau perdebatan ini bertambah panjang, Alvin segera mengangkat tangannya dan melambaikan itu ke tengah-tengah, berharap kalau baik Agni maupun Rio menutup mulutnya.

“Eh Vin, tangan lo kenapa?”, tanya Cakka yang berada di sebelah Alvin. Dia menarik tangan kurus itu lalu mengamatinya dengan teliti.

Sivia dan Agni pun menengok untuk melihat apa yang Cakka lihat tadi. Rio yang biasanya tidak peduli dengan Alvin, juga ikut menengok. Apalagi tadi wajah Cakka terlihat begitu serius.

“Kok bisa kusam kayak gini sih, Vin? Masa lo bisa tiba-tiba iteman gini, Vin?”, tanya Cakka yang malah dihadiahi pukulan oleh Agni.

“Elo tuh ya, kayak apaan aja sih. Ngomongin kulit kusamlah, itemanlah. Masa cowok ngomong kayak gitu sih?”, omel Agni.

Tidak menanggapi omelan Agni, Cakka malah tetap menatap tangan Alvin yang kini sudah terlepas dari pegangannya. Tidak hanya kusam, tangan itu juga terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya. Wajah Alvin pun semakin lama semakin pucat dan terlihat lelah. Dan anehnya, semua ini hampir sama dengan apa yang ia dapatkan dari ayah Agni tadi malam. Apa yang sahabatnya alami itu, hampir sama dengan apa yang dialami oleh penderita kanker.

“Gue balik duluan yah!”, seru Rio lalu beranjak pergi. Sama seperti Cakka, Rio jadi ikut penasaran dengan Alvin. Dia memang tidak sedetail Cakka, tapi tubuh Alvin memang terlihat semakin payah. Dan itu membuatnya sedikit mengkhawatirkan kondisi orang yang sudah menjadi sahabatnya selama lebih dari sepuluh tahun itu.

“Gue emang lagi iteman, Cak. Akhir-akhir ini gue sama Sivia lagi suka main-main ke taman gitu. Iya kan, Vi?”, tanya Alvin yang disetujui sepenuhnya oleh kekasihnya itu.

Cakka menyerah. Dia pun kembali melanjutkan makan siangnya. Sementara itu, Sivia malah terus menatap Alvin dengan lekat. Dan benar saja, tubuh itu telah berubah.

Tidak hanya Sivia, Agni pun ikut menatap tubuh yang semakin lama terlihat semakin lemah itu. Gadis itu tahu betul apa yang kekasihnya maksud. Tapi mau bagaimana pun, dia tidak mungkin membiarkan rahasia ini terbongkar begitu saja. Lagipula saat ini kantin sangatlah ramai. Bagaimana kalau mereka mengetahui hal ini? Bagaimana kalau hal yang ditakutkan Alvin itu benar-benar terjadi?

*****

Jam pulang sudah berlalu sejak satu jam yang lalu, tapi seluruh anggota OSIS belum ada yang berniat untuk beranjak pergi. Mereka malah menghabiskan waktu yang seharusnya mereka manfaatkan untuk beristirahat dengan rapat persiapan LDKS yang akan diadakan sebentar lagi.

Tidak hanya anggota OSIS, Cakka dan anak-anak basketnya yang turut ambil tugas dalam seksi perlengkapan ini pun ikut mengikuti rapat. Sementara itu, di sisi Alvin tetap ada Sivia yang walaupun tidak ikut berpartisipasi, tapi selalu ada di setiap rapat guna menemani kekasihnya itu.

“Gue udah bagi kelompoknya, pembimbing kelompok juga udah gue cantumin disana”, ucap Alvin sambil membagi beberapa lembar kertas kepada seluruh peserta rapat.

“Sebelumnya, gue mau bilang terimakasih banget ke semua anak basket. Gue harap kegiatan kita kali ini bisa berlangsung dengan lancar dan bisa berdampak positif juga buat kita nantinya”, lanjutnya.

Usai kertas dibagikan, suasana rapat sepi. Mereka semua fokus pada kertas masing-masing. Melihat dimana dan apa tugas mereka untuk LDKS nanti. Hingga akhirnya, “Gue gak setuju”, seru Duto yang seperti biasanya selalu tampil sebagai penyanggah keputusan yang dibuat oleh Alvin.

“Gue gak mau jadi pembimbing kelompok! Gue maunya jadi wakil penanggung jawab”, ucap Duto yang membuat Alvin tersenyum tipis. Dia tahu betul maksud dari sahabat barunya tersebut.

“Gue setuju sama Duto”, timpal Cakka yang bertugas sebagai wakil penanggung jawab.

“Walaupun gue deket sama lo, tapi gue kan cuma anak basket yang bantuin kegiatan ini, Vin. Jadi gue rasa, Duto lebih pantes buat posisi itu. Dia sama elo kan juga udah jadi ketua dan wakil di OSIS”, jelas Cakka.

Alvin menarik nafasnya berat, “Oke, kita ikut saran Duto. Jadi gue tetep jadi penanggung jawabnya, dan Duto jadi wakilnya, dan Cakka yang gantiin Duto jadi pembimbing kelompok. Ada saran lagi?”

“Gue rasa udah cukup, Vin”, sahut Shilla yang juga bertugas untuk memimpin rapat ini bersama Alvin.

“Kalo gitu, kita lanjut ke pembagian acaranya ...”, rapat pun kembali berlanjut.

Cakka memandang Alvin dengan lekat, matanya tidak pernah lepas dari setiap hal yang Alvin lakukan. Walau masih penuh dengan keraguan, tapi cowok pintar itu merasa kalau ada sesuatu yang telah terjadi pada tubuh sahabatnya. Alvin memang selalu kurus sejak pertama kali mereka bertemu. Cowok bermata sipit itu juga selalu suka mengenakan jaket tebal yang cenderung panas.

Tapi, hari ini semua itu terasa semakin menjadi. Tubuh Alvin semakin kurus ditambah dengan warna pucat yang selalu menghiasi wajahnya. Apalagi, dia juga sering salah menyebut namanya. Bahkan dia pernah memanggilnya dengan nama Rio tanpa sadar. Perlahan, Cakka mencoba untuk mulai memahami makna pertengkaran Alvin dan Sivia saat penentuan tema waktu itu.

*****

Dengan malas, Rio melangkah menuju lapangan parkir sekolah. Perkataan Agni ketika istirahat tadi telah membuatnya sadar kalau sikapnya salah. Lagipula setiap orang memang memiliki hal-hal yang mau tak mau harus mereka jaga. Mungkin hal itulah yang menyebabkan Ify tidak mengizinkannya untuk berkunjung ke rumahnya. Dan, tidak seharusnya dia terus menekan dan memaksa kekasihnya untuk hal tidak begitu penting seperti ini. Ya, dia harus meminta maaf.

“Lho, ka ... kamu disini?”, Rio menghentikan langkahnya ketika didapatinya Ify tengah duduk disalah satu kursi di pinggir lapangan parkir.

Sambil menguap, Ify mengangkat wajahnya untuk menatap asal suara yang sudah membangunkannya. “Hai”, sapanya malu lalu bangkit berdiri dan menarik tangan Rio lalu menggenggamnya.

“Maafin aku yah”, ucapnya penuh sesal.

Mendengar ucapan Ify, membuat tangan Rio secara otomatis langsung beralih untuk memegang kepala kekasihnya itu sambil mengusapnya lembut. “Enggak, ini salah aku”, balasnya yang diikuti oleh pelukan hangat.

Mereka pun berbaikan. Rio kembali mengantar Ify pulang, dan kali ini dia sudah berjanji pada dirinya kalau dia hanya akan mengantarnya sampai di pintu gerbang komplek dan tidak akan memaksa untuk mengantarnya sampai ke rumah.

Sementara itu, Duto yang sejak awal berjalan di belakang Rio tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap semuanya dengan tenang. Mau bagaimana pun juga, itu hak Ify. Dia tidak bisa melarang saudaranya itu untuk menjalin hubungan dengan Rio.

Meski sempat menyulut amarah Duto karena kejadian tadi pagi. Siang ini, Rio berhasil memadamkannya dengan kembali memperlakukan saudaranya dengan baik. Dan kini, Duto kembali mengikuti mereka dari belakang. Seperti biasanya.

*****

Kali ini, Agni tidak pulang bersama dengan Cakka. Dia berbohong pada kekasihnya, dengan mengatakan kalau hari ini dia ada acara bersama dengan papa dan mamanya. Padahal kenyataannya, dia ingin mengantar Alvin ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan di bulan ini.

Sikap Cakka dan Rio tadi membuatnya semakin mengkhawatirkan kondisi sahabatnya yang satu ini, apalagi tadi wajah mereka berdua terlihat begitu serius. Rio yang biasanya hanya bisa bertengkar dengan Alvin pun ikut peduli dan menatap tangannya dengan lekat. Keadaan sahabatnya itu memang semakin buruk.

“Hah, kenapa elo jadi ikut juga sih Ni?”, tanya Alvin yang malah disahuti oleh pukulan dari Agni.

“Aduh, apa-apaan sih Ni? Gue kan lagi sakit, masa elo pukulin gini sih?”, ocehnya yang malah dihadiahi tawa renyahnya Agni. Bukan, lebih tepatnya tawa renyah yang hanya dipaksakan oleh Agni. Dan Sivia pun ikut memaksakan tawanya agar bisa terdengar oleh Alvin.

“Jangan ketawa kalau gak bisa ketawa”, komen Alvin kesal.

Dua perempuan penjaganya itu pun diam seketika, akting mereka memang payah. Alvin pun memang terlalu pintar untuk bisa dibohongi.

“Alvin, ayo masuk”, papa keluar lalu membawa anak tirinya itu masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

Agni dan Sivia menunggu berdua di ruang tunggu. Semenjak projek band itu selesai, hubungan mereka berdua tidak sedekat dulu. Mereka masih berteman, hanya saja pertemuan mereka berdualah yang jarang terjadi. Agni sibuk dengan basketnya dan Cakka, sementara Sivia sibuk dengan Iyel dan Alvin.

“Gimana hubungan lo sama Alvin?”, tanya Agni memecah keheningan.

Sivia tersenyum singkat lalu mengangguk pelan, “Baik Ni, elo sendiri gimana sama Cakka?”

“Baik juga Vi, masa baru jadian udah gak baik”, sahut Agni sambil tertawa kecil.

“Selama LDKS nanti, tolong jagain Alvin yah Ni. Tolong ingetin dia, buat minum obatnya, buat istirahat yang cukup, dan enggak maksain dirinya”

“Siap! Udah elo tenang aja, kan gue juga sahabatnya dia”

“Oh iya, Vi! Elo, Alvin, sama Cakka ...?”, lanjut Agni menggantung kalimatnya.

“Oh tugas kelompok itu? Sorry Ni, gue ... maafin gue”

“Eh enggak Vi, bukan itu maksud gue. Em, gue justru mau bilang terimakasih ke elo. Karena elo, Cakka jadi lebih paham sama penyakitnya Alvin. Toh, nantinya mereka juga bakalan tau semuanya kan?”, sahut Agni sambil merangkul Sivia dan menggoyangkan tubuh itu. Mencoba untuk memberikan semangat untuk sahabatnya.

“Thanks Ni”, sahut Sivia yang merasa begitu beruntung bisa kenal dengan Alvin dan semua orang yang kini berada disisinya.

Semenjak bertemu dengan Alvin, semua hal yang di hidupnya berubah. Sivia yang dulu selalu manja dan hobi marah-marah, telah berubah menjadi Sivia yang harus tegar dan belajar untuk menerima dan memahami setiap kondisi yang ia terima.


TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar: