“Oh tugas kelompok itu? Sorry Ni, gue ... maafin gue”
“Eh enggak Vi, bukan itu maksud gue. Em, gue justru mau
bilang terimakasih ke elo. Karena elo, Cakka jadi lebih paham sama penyakitnya
Alvin. Toh, nantinya mereka juga bakalan tau semuanya kan?”, sahut Agni sambil
merangkul Sivia dan menggoyangkan tubuh itu. Mencoba untuk memberikan semangat
untuk sahabatnya.
“Thanks Ni”, sahut Sivia yang merasa begitu beruntung bisa
kenal dengan Alvin dan semua orang yang kini berada disisinya.
Semenjak bertemu dengan Alvin, semua hal yang di hidupnya
berubah. Sivia yang dulu selalu manja dan hobi marah-marah, telah berubah
menjadi Sivia yang harus tegar dan belajar untuk menerima dan memahami setiap
kondisi yang ia terima.
*****
Hari ini ibu, Tasya, bahkan papa bangun jauh lebih pagi dari
biasanya. Dengan telaten, ibu menyiapkan beberapa bekal untuk perjalanan Alvin
di LDKS selama dua hari satu malam. Sementara Tasya sibuk menata baju-baju
serta jaket-jaket tebal yang nantinya akan dikenakan oleh adiknya. Dan papa,
dia pun ikut ambil bagian dengan menyiapkan obat-obatan untuk putranya
tersebut. Bahkan ada beberapa obat yang sengaja ditambahkan untuk membuat anak
itu bertahan jauh darinya.
“Apa kamu yakin akan pergi?”, tanya ibu yang sudah selesai
dengan tugasnya dan menghampiri Alvin yang kini duduk di meja makan sendirian.
Dengan pasti, anak bermata sipit itu mengangguk. “Aku akan
baik-baik aja bu, kemarin kan aku juga udah ikut pemeriksaan dan hasilnya
baik-baik aja. Lagipula, disana kan ada Duto sama Agni yang bisa bantuin aku”,
ujarnya.
Ibu menarik nafasnya berat, lalu ditatapnyalah putra semata
wayangnya itu dengan lekat. Secara fisik, Alvin berubah. Kulitnya jauh lebih
gelap dari biasanya, matanya juga terlihat sendu tak bersemangat, tubuhnya pun
selalu terasa panas walau sebenarnya dia tidak sedang demam, dan dia terlihat
jauh semakin kurus.
“Kamu memang keras kepala, persis seperti ayahmu”, ujar ibu
sambil memukul kepala anak itu pelan. Setidaknya sifat Alvin tetaplah sama. Dia
tetap anak yang keras kepala dan menyebalkan. Dia bahkan sama sekali tidak mau
mendengar nasihat ibu yang sudah berulang kali melarangnya untuk mengikuti
kegiatan ini.
*****
Entah sudah berapa kali, Cakka memperhatikan jamnya. Dan
benar saja, tepat tiga puluh menit dia berdiri di depan rumah bersama dengan
satpam yang menjaga.
“Katanya sih sebentar lagi, tapi sampe setengah jam gini”,
dumel Cakka sambil menengok ke pintu besar yang sejak tadi tertutup rapat.
“Yah namanya juga perempuan atuh den, biasalah dandan-dandan
dulu”, komen satpam yang menjadi satu-satunya teman bicara Cakka.
“Tau gini, mending tadi saya masuk aja ya pak. Capek diri
begini, udah malah banyak nyamuk lagi”, ucapnya penuh sesal. Walau sudah hampir
dua minggu menjadi kekasihnya, dia masih belum berani untuk memperkenalkan diri
di hadapan orang tua Agni sebagai pacarnya.
Mendengar ocehan Cakka, pak satpam tertawa kecil. “Makanya nge-gasnya yang pol dong den”, ujarnya malu.
“Hai Cak, sorry telat”, ucap Agni yang akhirnya keluar juga.
Tapi, kesengsaraan cowok bertubuh jangkung itu masih belum
berakhir. Dengan kedua tangannya, dia harus mengangkut kedua tas koper milik
Agni serta menjinjing tas besarnya. Dan lagi-lagi harus berdiri untuk menunggu
taksi yang entah kapan akan masuk ke dalam komplek perumahan ini.
*****
Shilla merapihkan tatanan rambutnya, dan bercermin sejenak
melalui spion mobil. Lalu keluar dari mobil sport itu dan membantu Iyel yang
sedang mengeluarkan tas serta kopernya dari bagasi mobil.
“Sini kak, biar aku bantu”, ucapnya sambil menarik tas
jinjing kecilnya.
Dengan susah payah, akhirnya koper besar berhasil
dikeluarkannya dari bagasi mobil. Iyel yang terlihat berkeringat, langsung
disambut oleh tisu yang telah disiapkan oleh Shilla di tasnya.
“Makasih yah kak”, ucapnya sambil menghapus keringat pada
dahi Iyel.
Iyel menahan nafasnya sejenak, dia tidak mau kalau nanti
gadis itu mendengar betapa cepat detak jantungnya saat ini. Tidak hanya itu,
dia bahkan mengangkat bola matanya agar tidak menatap mata Shilla yang akan
membuatnya semakin terlihat bodoh.
Sadar kalau tindakannya telah membuat Iyel merasa tidak
nyaman, ia segera memundurkan tubuhnya dan menyerahkan tisu itu begitu saja.
“Em, aku pergi dulu yah kak. Makasih udah mau anterin aku”,
ucapnya yang langsung berlari pelan bersama dengan tas jinjing serta koper
besarnya.
Iyel yang merasa bersalah karena membuat Shilla pergi begitu
saja, ikut berlari dan menarik Shilla untuk berbalik menatapnya.
Kali ini, baik Iyel maupun Shilla sama-sama menahan
nafasnya. Jarak yang begitu dekat antara mereka berdua, suasana pagi yang penuh
keheningan serta sinar mentari yang menghangatkan terasa menjadi instrumen yang
paling tepat untuk menemani keberadaan mereka disini.
“Hati-hati yah! Jaga diri kamu baik-baik, jangan nakal,
jangan dekat-dekat ... sama cowok lain”, ucapnya yang membuat Shilla mematung
seketika.
“Kakak sayang sama kamu, Shill”, ucapnya sambil mengusap
lembut rambut Shilla.
*****
Berbeda dengan Shilla yang baru saja sampai di sekolah, Rio
justru sudah berada lebih dulu bersama Ify di taman belakang sekolah. Ify
memilih untuk datang langsung ke sekolah dan membantu kekasihnya itu untuk
mengurus segala keperluannya disana.
“Bekal makan siang udah, minuman penyegar udah, selimut
udah, kaos kaki udah, terus ...”, celotehnya panjang lebar sambil mengabsen
satu per satu perkakas yang ada di tas besar milik Rio. Sementara itu, dengan
manis si pemilik tas tersebut duduk dan mengamati tingkah kekasihnya.
Lagi-lagi Duto hanya bisa duduk dan menatap keduanya dari
kejauhan. Melihat bagaimana interaksi antara Ify dan Rio. Bila diperhatikan
lebih dekat, pribadi Ify semakin mirip dengan mendiang ibunya. Perlahan, gadis
kecil itu berubah menjadi gadis berwibawa yang penuh kasih sayang.
“Pokoknya disana nanti kamu jangan lupa pake jaket biar gak
masuk angin! Terus juga jangan lupa nih bawa ...”, Ify menggantungkan
kalimatnya ketika matanya tak sengaja bertatapan dengan mata cowok yang tengah
duduk di bawah pohon yang agak jauh dari posisinya saat ini.
“Kenapa Fy?”, tanya Rio yang mengikuti arah pandangan
kekasihnya itu. Tapi dengan cepat, Ify tersenyum dan tertawa kecil lalu kembali
berpesan panjang lebar padanya. Membuat Rio kembali memperhatikan setiap
perkataan yang keluar dari bibir tipisnya.
Sebenarnya, alasan Ify ke sekolah seperti ini bukanlah hanya
untuk Rio belaka. Di sisi lain, dia juga ingin memastikan kalau kakaknya
baik-baik saja. Bahkan tadi, gadis itu rela bangun dini hari untuk membuatkan
makan siang dan sarapan untuk kembarannya itu. Walau memang hanya sebatas nasi
goreng dengan telur dadar serta saus yang diolesi di atasnya. Sederhana tapi
mampu membuat Duto tersenyum ketika memakannya tadi.
*****
Tepat pukul sembilan pagi, seluruh peserta dan panitia LDKS
sudah berbaris di lapangan sekolah. Dengan pembukaan dari Alvin selaku ketua
OSIS dan juga penanggung jawab, beserta kepala sekolah, mereka memulai kegiatan dua
hari satu malam ini.
Sambil bermodalkan toa, Rio dan
anak basket lainnya mengatur para peserta ke dalam dua barisan. Satu untuk
laki-laki dan yang lainnya untuk perempuan. Sambil berpegangan bahu satu sama
lain, mereka berjalan hingga ke jalan raya yang merupakan tempat dimana bis
mereka berada.
Alvin yang kali ini selalu ditemani oleh Duto, berjalan
mengikuti dari belakang. Dan baru kali ini, kedua rival itu berjalan bersama
tanpa membuat keributan. Alvin yang asik mengamati dua barisan panjang yang ada
di depannya sama sekali tidak merasa terganggu oleh tatapan penuh kekhawatiran
dari orang yang berada di sebelahnya.
From: Sweties
Selamat pagi jagoan
aku! Semangat buat hari ini yah! Jgn lupa makan yg banyak! Jgn lupa minum obat!
Aku sayang sm kamu :*
Alvin tersenyum tipis. Sivia memang selalu berhasil membuat
harinya terasa lebih ringan untuk di lewati, gadis itu selalu berhasil menyadarkannya
kalau dia tidak sendirian.
“Kan aku udah bilang sama kamu Ni, bawa tuh yang
penting-penting aja. Jangan semuanya kamu bawa kayak gini. Liat nih, aku juga
kan yang kesusahan”, oceh Cakka sambil menarik dua koper besar milik
kekasihnya. Dia juga masih harus mengenakan tas jinjing besar miliknya.
“Aku kan juga udah bilang ke kamu, kalo aku bisa bawa itu
sendirian. Kalo kamu gak mau bantuin, ya aku juga bisa bawa sendirian kok”,
balas Agni yang memilih untuk membantu anak OSIS lainnya membawa beberapa
perlengkapan untuk permainan disana.
Cakka menghembuskan nafasnya kasar. Perempuan itu memang
keras kepala! Dia akan terus bicara sampai memenangkan perdebatan, dan seperti
inilah jadinya. Cakka memilih untuk diam dan membiarkan Agni menang dengan
sendirinya.
*****
Sesampai di perkemahan, hal yang pertama dilakukan adalah
membagi kelompok. Selain peserta, panitia pun dibagi menjadi kelompok untuk
kamar di villa masing-masing. Seperti biasa, Alvin, Rio dan Cakka menempati
kamar yang sama.
“Gue pojok”, ucap Rio langsung menaruh tas besarnya di atas
tempat tidur yang berdempetan langsung dengan dinding sekaligus jendela kamar.
“Elo tau kan Cak, kalo gue paling gak bisa denger suara
dengkurnya si Rio”, Alvin menepuk pundak sahabatnya itu pelan lalu menaruh
tasnya di tempat tidur yang hanya beberapa langkah jaraknya dari pintu kamar
mandi.
“Enak aja lo! Elo pikir cuma gue yang mendengkur disini?”,
Rio tak terima. Dia bahkan menaruh beberapa baju yang tengah dirapihkannya dan
berjalan mendekati Alvin.
“Ya, emang kenyataannya gitu kok Yo. Hahaha”, sahut Alvin
yang malah tertawa puas. Sudah lama dia tidak bertengkar seperti ini dengan
sahabatnya yang satu itu.
“Bawel lo semua!”, teriak Cakka yang ikut bangkit berdiri
sambil membanting tas besarnya ke atas lantai. Bergantian, ditatapnya Alvin dan
Rio. Tadi pagi Agni, dan sekarang mereka. Tidur di antara kedua orang yang tak
pernah akur dengan posisi tepat di tengah-tengah pastilah akan membuat dua hari
ini menjadi hari yang amat panjang baginya.
“Elo Yo, duduk!”, perintah Cakka dengan wajahnya yang merah
padam.
“Dan elo Vin, tutup mulut lo!”, perintahnya lagi sambil
menunjuk Alvin yang masih tertawa.
Baik Alvin maupun Rio, keduanya diam dan menuruti instruksi
dari sahabatnya. Cakka yang biasanya hanya tertawa dan bertingkah konyol di
depan mereka, telah berubah drastis dengan wajahnya yang merah dan teriakannya
yang keras.
“Aish! Jadi cewek ribet banget sih!”, ocehnya ketika kembali
membayangkan serentetan tugas membawa koper-koper Agni yang nantinya akan
kembali dilakukannya ketika mereka kembali ke Jakarta.
Secara bersamaan, Rio dan Alvin tertawa. “Oh jadi masalahnya
itu tentang Agni, hahahaha”, ucap Alvin penuh tawa.
*****
Duto yang sudah selesai merapihkan barang-barangnya di
kamar, beranjak keluar untuk melihat pemandangan daerah yang sulit ia rasakan
saat berada di ibu kota. Melihat gunung yang jauh lebih menenangkan dari gedung
pencakar langit, menatap langit yang terlihat lebih teduh, serta merasakan
udara dan memaksakan seluruh oksigen untuk membersihkan paru-parunya yang sudah
tercemar oleh udara yang mengandung banyak polusi.
Akan tetapi, semua itu tidak bisa berlangsung lebih lama.
Mata yang ia gunakan untuk melihat keindahan alam, telah terpanah pada satu
titik fokus yang salah.
“Sini biar gue bantu”, ucap Duto sambil menarik koper milik
Shilla yang tersangkut oleh salah satu besar yang ada di sekitar perkemahan.
Shilla dan Agni yang akan menuju ke kamar mereka, menatap
Duto penuh harapan. “Elo emang selalu bisa di andalkan!”, seru Agni sambil
memukul punggung Duto.
“Kamar kalian dimana?”, tanya Duto yang kini beralih ke
salah satu koper milik Agni.
Tatapan kedua cewek paling cantik di sekolah itu pun semakin
menjadi. Mereka menatap Duto sebagai pahlawan yang luar biasa. Tidak hanya
membantu Shilla menarik kopernya yang tersangkut, dia bahkan membantu Agni
membawakan salah satu kopernya. Sungguh berbeda dari cowok lainnya. Terutama cowok yang bernama Cakka.
“Gue heran kenapa Sivia bisa nolak elo mentah-mentah”, ucap
Shilla sambil berjalan.
“Iya, gue juga”, timpal Agni.
Duto yang mendengar perkataan itu hanya bisa membuang
nafasnya kasar. Bukannya berterimakasih, mereka malah membuatnya kembali
mengingat peristiwa lalu itu.
*****
Dengan berbagai panduan dari panitia, para peserta LDKS
menjalani berbagai kegiatan dari pagi sampai sore menjelang. Hingga saatnya
waktu bersih-bersih tiba.
“Waktu kalian bersih-bersih hanya lima belas menit. Jangan
terlalu lama di kamar mandi! Yang laki-laki, ikut saya! Yang perempuan,
silahkan ikut kak Shilla!”, ucap Alvin melalui toa yang kini menjadi miliknya
sepenuhnya.
Sebagai ketua OSIS sekaligus penanggung jawab, Alvin
memegang semua kendali yang ada di kegiatan kali ini. Mulai dari setiap segmen
yang ada, hingga waktu bersih-bersih pun ada dalam kuasanya. Dengan ditemani
Duto, dia berjalan di depan rombongan anak laki-laki dan memimpin mereka menuju
kamar mandi umum yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi perkemahan.
Sementara mereka berjalan berdua, Rio dan Cakka memilih
untuk menemani dan menjaga barisan paling belakang.
“Duto berubah ya, Yo”, ucapnya memecah keheningan yang ada
diantara mereka semenjak adegan marah-marah Cakka di kamar tadi.
Rio menatap Cakka, kemudian mengangkat kedua bahunya
bersamaan. “Gak tau, gue”, ucapnya singkat lalu kembali asik dengan ponselnya.
“Masa sih, elo gak nyadar? Dia tuh kayak jadi deket sama
Alvin, Yo”, Cakka masih tidak mau menyerah.
Tidak ada tanggapan. Bagi Rio, saat ini yang lebih penting
adalah membalas pesan singkat Ify daripada menanggapi ucapan Cakka yang sama
sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
“Gue takut Alvin sakit, Yo”, kali ini ucapan itu berhasil
membuat Rio menghentikan langkahnya dan menatap Cakka untuk kedua kalinya.
Namun lebih lekat.
“Elo ngomong apaan sih, Cak? Tadi tentang Duto sama Alvin,
terus kenapa jadi Alvin sakit sih?”
Semenjak perbincangan mereka di kantin beberapa hari yang
lalu, Rio tidak pernah bisa melepaskan pikiranya dari kondisi Alvin. Walau
sebenarnya, dia bukanlah tipe orang yang mau membuang waktunya untuk memikirkan
orang lain. Tapi untuk saat ini, dia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya
itu. Dia takut kalau dugaan-dugaan Cakka yang selalu berkata kalau Alvin sakit
parah, akan menjadi kenyataan.
“Tolong tertib yah! Waktu kalian memang sedikit, tapi jangan
buat keonaran disini!”, ucap Alvin yang menyadarkan keduanya untuk kembali
menjalani tugas mereka untuk mengawasi para peserta.
*****
“Alvin lagi sakit yah, Ni?”, tanya Shilla sambil mendudukan
dirinya di sebelah Agni.
Spontan, gadis yang kini tengah duduk di bawah salah satu
pohon di dekat kamar mandi umum perempuan itu menengok ke arahnya. “Alvin
sakit?”, tanyanya balik.
Shilla tersenyum tipis, lalu mengangguk yakin. “Tadi gue
liat mukanya pucat banget. Dia juga lebih diam akhir-akhir ini. Padahal tahun
lalu, dia orang yang paling semangat”, sahutnya.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar