Rabu, 15 Februari 2017

Lentera Hati *Part 33*

“Oh tugas kelompok itu? Sorry Ni, gue ... maafin gue”

“Eh enggak Vi, bukan itu maksud gue. Em, gue justru mau bilang terimakasih ke elo. Karena elo, Cakka jadi lebih paham sama penyakitnya Alvin. Toh, nantinya mereka juga bakalan tau semuanya kan?”, sahut Agni sambil merangkul Sivia dan menggoyangkan tubuh itu. Mencoba untuk memberikan semangat untuk sahabatnya.

“Thanks Ni”, sahut Sivia yang merasa begitu beruntung bisa kenal dengan Alvin dan semua orang yang kini berada disisinya.

Semenjak bertemu dengan Alvin, semua hal yang di hidupnya berubah. Sivia yang dulu selalu manja dan hobi marah-marah, telah berubah menjadi Sivia yang harus tegar dan belajar untuk menerima dan memahami setiap kondisi yang ia terima.


*****

Hari ini ibu, Tasya, bahkan papa bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Dengan telaten, ibu menyiapkan beberapa bekal untuk perjalanan Alvin di LDKS selama dua hari satu malam. Sementara Tasya sibuk menata baju-baju serta jaket-jaket tebal yang nantinya akan dikenakan oleh adiknya. Dan papa, dia pun ikut ambil bagian dengan menyiapkan obat-obatan untuk putranya tersebut. Bahkan ada beberapa obat yang sengaja ditambahkan untuk membuat anak itu bertahan jauh darinya.

“Apa kamu yakin akan pergi?”, tanya ibu yang sudah selesai dengan tugasnya dan menghampiri Alvin yang kini duduk di meja makan sendirian.

Dengan pasti, anak bermata sipit itu mengangguk. “Aku akan baik-baik aja bu, kemarin kan aku juga udah ikut pemeriksaan dan hasilnya baik-baik aja. Lagipula, disana kan ada Duto sama Agni yang bisa bantuin aku”, ujarnya.

Ibu menarik nafasnya berat, lalu ditatapnyalah putra semata wayangnya itu dengan lekat. Secara fisik, Alvin berubah. Kulitnya jauh lebih gelap dari biasanya, matanya juga terlihat sendu tak bersemangat, tubuhnya pun selalu terasa panas walau sebenarnya dia tidak sedang demam, dan dia terlihat jauh semakin kurus.

“Kamu memang keras kepala, persis seperti ayahmu”, ujar ibu sambil memukul kepala anak itu pelan. Setidaknya sifat Alvin tetaplah sama. Dia tetap anak yang keras kepala dan menyebalkan. Dia bahkan sama sekali tidak mau mendengar nasihat ibu yang sudah berulang kali melarangnya untuk mengikuti kegiatan ini.

*****

Entah sudah berapa kali, Cakka memperhatikan jamnya. Dan benar saja, tepat tiga puluh menit dia berdiri di depan rumah bersama dengan satpam yang menjaga.

“Katanya sih sebentar lagi, tapi sampe setengah jam gini”, dumel Cakka sambil menengok ke pintu besar yang sejak tadi tertutup rapat.

“Yah namanya juga perempuan atuh den, biasalah dandan-dandan dulu”, komen satpam yang menjadi satu-satunya teman bicara Cakka.

“Tau gini, mending tadi saya masuk aja ya pak. Capek diri begini, udah malah banyak nyamuk lagi”, ucapnya penuh sesal. Walau sudah hampir dua minggu menjadi kekasihnya, dia masih belum berani untuk memperkenalkan diri di hadapan orang tua Agni sebagai pacarnya.

Mendengar ocehan Cakka, pak satpam tertawa kecil. “Makanya nge-gasnya yang pol dong den”, ujarnya malu.

“Hai Cak, sorry telat”, ucap Agni yang akhirnya keluar juga.

Tapi, kesengsaraan cowok bertubuh jangkung itu masih belum berakhir. Dengan kedua tangannya, dia harus mengangkut kedua tas koper milik Agni serta menjinjing tas besarnya. Dan lagi-lagi harus berdiri untuk menunggu taksi yang entah kapan akan masuk ke dalam komplek perumahan ini.

*****

Shilla merapihkan tatanan rambutnya, dan bercermin sejenak melalui spion mobil. Lalu keluar dari mobil sport itu dan membantu Iyel yang sedang mengeluarkan tas serta kopernya dari bagasi mobil.

“Sini kak, biar aku bantu”, ucapnya sambil menarik tas jinjing kecilnya.

Dengan susah payah, akhirnya koper besar berhasil dikeluarkannya dari bagasi mobil. Iyel yang terlihat berkeringat, langsung disambut oleh tisu yang telah disiapkan oleh Shilla di tasnya.

“Makasih yah kak”, ucapnya sambil menghapus keringat pada dahi Iyel.

Iyel menahan nafasnya sejenak, dia tidak mau kalau nanti gadis itu mendengar betapa cepat detak jantungnya saat ini. Tidak hanya itu, dia bahkan mengangkat bola matanya agar tidak menatap mata Shilla yang akan membuatnya semakin terlihat bodoh.

Sadar kalau tindakannya telah membuat Iyel merasa tidak nyaman, ia segera memundurkan tubuhnya dan menyerahkan tisu itu begitu saja.

“Em, aku pergi dulu yah kak. Makasih udah mau anterin aku”, ucapnya yang langsung berlari pelan bersama dengan tas jinjing serta koper besarnya.

Iyel yang merasa bersalah karena membuat Shilla pergi begitu saja, ikut berlari dan menarik Shilla untuk berbalik menatapnya.

Kali ini, baik Iyel maupun Shilla sama-sama menahan nafasnya. Jarak yang begitu dekat antara mereka berdua, suasana pagi yang penuh keheningan serta sinar mentari yang menghangatkan terasa menjadi instrumen yang paling tepat untuk menemani keberadaan mereka disini.

“Hati-hati yah! Jaga diri kamu baik-baik, jangan nakal, jangan dekat-dekat ... sama cowok lain”, ucapnya yang membuat Shilla mematung seketika.

“Kakak sayang sama kamu, Shill”, ucapnya sambil mengusap lembut rambut Shilla.

*****

Berbeda dengan Shilla yang baru saja sampai di sekolah, Rio justru sudah berada lebih dulu bersama Ify di taman belakang sekolah. Ify memilih untuk datang langsung ke sekolah dan membantu kekasihnya itu untuk mengurus segala keperluannya disana.

“Bekal makan siang udah, minuman penyegar udah, selimut udah, kaos kaki udah, terus ...”, celotehnya panjang lebar sambil mengabsen satu per satu perkakas yang ada di tas besar milik Rio. Sementara itu, dengan manis si pemilik tas tersebut duduk dan mengamati tingkah kekasihnya.

Lagi-lagi Duto hanya bisa duduk dan menatap keduanya dari kejauhan. Melihat bagaimana interaksi antara Ify dan Rio. Bila diperhatikan lebih dekat, pribadi Ify semakin mirip dengan mendiang ibunya. Perlahan, gadis kecil itu berubah menjadi gadis berwibawa yang penuh kasih sayang.

“Pokoknya disana nanti kamu jangan lupa pake jaket biar gak masuk angin! Terus juga jangan lupa nih bawa ...”, Ify menggantungkan kalimatnya ketika matanya tak sengaja bertatapan dengan mata cowok yang tengah duduk di bawah pohon yang agak jauh dari posisinya saat ini.

“Kenapa Fy?”, tanya Rio yang mengikuti arah pandangan kekasihnya itu. Tapi dengan cepat, Ify tersenyum dan tertawa kecil lalu kembali berpesan panjang lebar padanya. Membuat Rio kembali memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari bibir tipisnya.

Sebenarnya, alasan Ify ke sekolah seperti ini bukanlah hanya untuk Rio belaka. Di sisi lain, dia juga ingin memastikan kalau kakaknya baik-baik saja. Bahkan tadi, gadis itu rela bangun dini hari untuk membuatkan makan siang dan sarapan untuk kembarannya itu. Walau memang hanya sebatas nasi goreng dengan telur dadar serta saus yang diolesi di atasnya. Sederhana tapi mampu membuat Duto tersenyum ketika memakannya tadi.

*****

Tepat pukul sembilan pagi, seluruh peserta dan panitia LDKS sudah berbaris di lapangan sekolah. Dengan pembukaan dari Alvin selaku ketua OSIS dan juga penanggung jawab, beserta kepala sekolah, mereka memulai kegiatan dua hari satu malam ini.

Sambil bermodalkan toa, Rio dan anak basket lainnya mengatur para peserta ke dalam dua barisan. Satu untuk laki-laki dan yang lainnya untuk perempuan. Sambil berpegangan bahu satu sama lain, mereka berjalan hingga ke jalan raya yang merupakan tempat dimana bis mereka berada.

Alvin yang kali ini selalu ditemani oleh Duto, berjalan mengikuti dari belakang. Dan baru kali ini, kedua rival itu berjalan bersama tanpa membuat keributan. Alvin yang asik mengamati dua barisan panjang yang ada di depannya sama sekali tidak merasa terganggu oleh tatapan penuh kekhawatiran dari orang yang berada di sebelahnya.

From: Sweties
Selamat pagi jagoan aku! Semangat buat hari ini yah! Jgn lupa makan yg banyak! Jgn lupa minum obat! Aku sayang sm kamu :*

Alvin tersenyum tipis. Sivia memang selalu berhasil membuat harinya terasa lebih ringan untuk di lewati, gadis itu selalu berhasil menyadarkannya kalau dia tidak sendirian.

“Kan aku udah bilang sama kamu Ni, bawa tuh yang penting-penting aja. Jangan semuanya kamu bawa kayak gini. Liat nih, aku juga kan yang kesusahan”, oceh Cakka sambil menarik dua koper besar milik kekasihnya. Dia juga masih harus mengenakan tas jinjing besar miliknya.

“Aku kan juga udah bilang ke kamu, kalo aku bisa bawa itu sendirian. Kalo kamu gak mau bantuin, ya aku juga bisa bawa sendirian kok”, balas Agni yang memilih untuk membantu anak OSIS lainnya membawa beberapa perlengkapan untuk permainan disana.

Cakka menghembuskan nafasnya kasar. Perempuan itu memang keras kepala! Dia akan terus bicara sampai memenangkan perdebatan, dan seperti inilah jadinya. Cakka memilih untuk diam dan membiarkan Agni menang dengan sendirinya.

*****

Sesampai di perkemahan, hal yang pertama dilakukan adalah membagi kelompok. Selain peserta, panitia pun dibagi menjadi kelompok untuk kamar di villa masing-masing. Seperti biasa, Alvin, Rio dan Cakka menempati kamar yang sama.

“Gue pojok”, ucap Rio langsung menaruh tas besarnya di atas tempat tidur yang berdempetan langsung dengan dinding sekaligus jendela kamar.

“Elo tau kan Cak, kalo gue paling gak bisa denger suara dengkurnya si Rio”, Alvin menepuk pundak sahabatnya itu pelan lalu menaruh tasnya di tempat tidur yang hanya beberapa langkah jaraknya dari pintu kamar mandi.

“Enak aja lo! Elo pikir cuma gue yang mendengkur disini?”, Rio tak terima. Dia bahkan menaruh beberapa baju yang tengah dirapihkannya dan berjalan mendekati Alvin.

“Ya, emang kenyataannya gitu kok Yo. Hahaha”, sahut Alvin yang malah tertawa puas. Sudah lama dia tidak bertengkar seperti ini dengan sahabatnya yang satu itu.

“Bawel lo semua!”, teriak Cakka yang ikut bangkit berdiri sambil membanting tas besarnya ke atas lantai. Bergantian, ditatapnya Alvin dan Rio. Tadi pagi Agni, dan sekarang mereka. Tidur di antara kedua orang yang tak pernah akur dengan posisi tepat di tengah-tengah pastilah akan membuat dua hari ini menjadi hari yang amat panjang baginya.

“Elo Yo, duduk!”, perintah Cakka dengan wajahnya yang merah padam.

“Dan elo Vin, tutup mulut lo!”, perintahnya lagi sambil menunjuk Alvin yang masih tertawa.

Baik Alvin maupun Rio, keduanya diam dan menuruti instruksi dari sahabatnya. Cakka yang biasanya hanya tertawa dan bertingkah konyol di depan mereka, telah berubah drastis dengan wajahnya yang merah dan teriakannya yang keras.

“Aish! Jadi cewek ribet banget sih!”, ocehnya ketika kembali membayangkan serentetan tugas membawa koper-koper Agni yang nantinya akan kembali dilakukannya ketika mereka kembali ke Jakarta.

Secara bersamaan, Rio dan Alvin tertawa. “Oh jadi masalahnya itu tentang Agni, hahahaha”, ucap Alvin penuh tawa.

*****

Duto yang sudah selesai merapihkan barang-barangnya di kamar, beranjak keluar untuk melihat pemandangan daerah yang sulit ia rasakan saat berada di ibu kota. Melihat gunung yang jauh lebih menenangkan dari gedung pencakar langit, menatap langit yang terlihat lebih teduh, serta merasakan udara dan memaksakan seluruh oksigen untuk membersihkan paru-parunya yang sudah tercemar oleh udara yang mengandung banyak polusi.

Akan tetapi, semua itu tidak bisa berlangsung lebih lama. Mata yang ia gunakan untuk melihat keindahan alam, telah terpanah pada satu titik fokus yang salah.

“Sini biar gue bantu”, ucap Duto sambil menarik koper milik Shilla yang tersangkut oleh salah satu besar yang ada di sekitar perkemahan.

Shilla dan Agni yang akan menuju ke kamar mereka, menatap Duto penuh harapan. “Elo emang selalu bisa di andalkan!”, seru Agni sambil memukul punggung Duto.

“Kamar kalian dimana?”, tanya Duto yang kini beralih ke salah satu koper milik Agni.

Tatapan kedua cewek paling cantik di sekolah itu pun semakin menjadi. Mereka menatap Duto sebagai pahlawan yang luar biasa. Tidak hanya membantu Shilla menarik kopernya yang tersangkut, dia bahkan membantu Agni membawakan salah satu kopernya. Sungguh berbeda dari cowok lainnya. Terutama cowok yang bernama Cakka.

“Gue heran kenapa Sivia bisa nolak elo mentah-mentah”, ucap Shilla sambil berjalan.

“Iya, gue juga”, timpal Agni.

Duto yang mendengar perkataan itu hanya bisa membuang nafasnya kasar. Bukannya berterimakasih, mereka malah membuatnya kembali mengingat peristiwa lalu itu.

*****

Dengan berbagai panduan dari panitia, para peserta LDKS menjalani berbagai kegiatan dari pagi sampai sore menjelang. Hingga saatnya waktu bersih-bersih tiba.

“Waktu kalian bersih-bersih hanya lima belas menit. Jangan terlalu lama di kamar mandi! Yang laki-laki, ikut saya! Yang perempuan, silahkan ikut kak Shilla!”, ucap Alvin melalui toa yang kini menjadi miliknya sepenuhnya.

Sebagai ketua OSIS sekaligus penanggung jawab, Alvin memegang semua kendali yang ada di kegiatan kali ini. Mulai dari setiap segmen yang ada, hingga waktu bersih-bersih pun ada dalam kuasanya. Dengan ditemani Duto, dia berjalan di depan rombongan anak laki-laki dan memimpin mereka menuju kamar mandi umum yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi perkemahan.

Sementara mereka berjalan berdua, Rio dan Cakka memilih untuk menemani dan menjaga barisan paling belakang.

“Duto berubah ya, Yo”, ucapnya memecah keheningan yang ada diantara mereka semenjak adegan marah-marah Cakka di kamar tadi.

Rio menatap Cakka, kemudian mengangkat kedua bahunya bersamaan. “Gak tau, gue”, ucapnya singkat lalu kembali asik dengan ponselnya.

“Masa sih, elo gak nyadar? Dia tuh kayak jadi deket sama Alvin, Yo”, Cakka masih tidak mau menyerah.

Tidak ada tanggapan. Bagi Rio, saat ini yang lebih penting adalah membalas pesan singkat Ify daripada menanggapi ucapan Cakka yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya.

“Gue takut Alvin sakit, Yo”, kali ini ucapan itu berhasil membuat Rio menghentikan langkahnya dan menatap Cakka untuk kedua kalinya. Namun lebih lekat.

“Elo ngomong apaan sih, Cak? Tadi tentang Duto sama Alvin, terus kenapa jadi Alvin sakit sih?”

Semenjak perbincangan mereka di kantin beberapa hari yang lalu, Rio tidak pernah bisa melepaskan pikiranya dari kondisi Alvin. Walau sebenarnya, dia bukanlah tipe orang yang mau membuang waktunya untuk memikirkan orang lain. Tapi untuk saat ini, dia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Dia takut kalau dugaan-dugaan Cakka yang selalu berkata kalau Alvin sakit parah, akan menjadi kenyataan.

“Tolong tertib yah! Waktu kalian memang sedikit, tapi jangan buat keonaran disini!”, ucap Alvin yang menyadarkan keduanya untuk kembali menjalani tugas mereka untuk mengawasi para peserta.

*****

“Alvin lagi sakit yah, Ni?”, tanya Shilla sambil mendudukan dirinya di sebelah Agni.

Spontan, gadis yang kini tengah duduk di bawah salah satu pohon di dekat kamar mandi umum perempuan itu menengok ke arahnya. “Alvin sakit?”, tanyanya balik.

Shilla tersenyum tipis, lalu mengangguk yakin. “Tadi gue liat mukanya pucat banget. Dia juga lebih diam akhir-akhir ini. Padahal tahun lalu, dia orang yang paling semangat”, sahutnya.


TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar: