Selasa, 21 Februari 2017

Lentera Hati *Part 34*

“Alvin lagi sakit yah, Ni?”, tanya Shilla sambil mendudukan dirinya di sebelah Agni.

Spontan, gadis yang kini tengah duduk di bawah salah satu pohon di dekat kamar mandi umum perempuan itu menengok ke arahnya. “Alvin sakit?”, tanyanya balik.

Shilla tersenyum tipis, lalu mengangguk yakin. “Tadi gue liat mukanya pucat banget. Dia juga lebih diam akhir-akhir ini. Padahal tahun lalu, dia orang yang paling semangat”, sahutnya.


“Hah? Masa sih? Ah enggak deh kayaknya”, balas Agni yang berusaha untuk memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab Shilla.

“Iya tau, Ni. Sivia yang biasanya ceria juga jadi murung selama kondisi Alvin menurun. Gue khawatir sama mereka”

“Em Shill, gue duluan yah! Gue mau siapin perlengkapan buat acara api unggun nanti malam dulu yah”, lanjutnya yang kemudian berjalan meninggalkan Shilla.

Gadis berambut pendek itu memilih untuk menghindarinya, dia sudah tidak tahu lagi jawaban apa yang tepat untuk menjawab setiap pertanyaan tentang Alvin. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk berbohong di hadapan semua orang.

*****

Seusai mendampingi peserta bersih-bersih di kamar mandi umum, sekarang giliran panitia untuk membersihkan dirinya di kamar mandi yang terletak di kamar masing-masing.

“Gue duluan yah”, seru Rio yang langsung mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.

“Dasar! Gak pernah mau ngalah!”, balas Cakka sambil memakan cemilan yang dibawanya.

“Elo ... elo kenapa Vin?”, Cakka segera berdiri dan duduk di sebelah Alvin yang sejak tadi menundukkan kepalanya sambil memegang tisu di hidungnya.

“Gapapa kok, Cak”, balas Alvin yang mengangkat kepalanya.

Darah. Itulah hal pertama yang dapat dilihat oleh Cakka dari wajah Alvin. Bukan hanya wajahnya, tisu yang digenggamnya pun sudah penuh dengan darah yang sama. Darah yang ia yakini berasal dari hidung Alvin.

“Yo! Yo, keluar sekarang Yo!”, teriak Cakka histeris.

Rio yang baru saja akan membuka bajunya, terpaksa keluar. “Apaan sih lo Cak! Gak jelas banget sih lo! Elo tau kan kalo gue ... Alvin ?”, Rio yang keluar segera membantu Cakka memapah Alvin menuju kamar mandi.

“Gue gak papa kok”, ucap Alvin sambil membersihkan hidungnya.

“Kalo mimisan gitu mah, berarti elo udah kecapekan banget, Vin. Udah elo istirahat disini aja. Biar nanti si Duto tuh yang pimpin api unggun”, saran Rio yang masih setia berdiri di samping kiri Alvin.

“Gue gak papa, beneran”, Alvin mengangkat wajahnya lalu menatap kedua sahabatnya dengan senyum yang merekah di wajahnya.

Berbeda dengan Rio yang terus berusaha untuk menyuruh Alvin menetap di kamar, Cakka justru hanya diam tak berkata satu kata pun. Dengan cepat, keyakinan itu membulat dalam benaknya. Dan dengan cepat pula, rasa takut itu menguasai dirinya.

*****

Dengan dihangatkan oleh api unggun besar yang ada di tengah-tengah mereka, para peserta bersama dengan panitia dan guru-guru memulai acara api unggun yang menjadi kekhasan dari LDKS di SMA Jakarta.

Bersama dengan lagu kecil buatan salah satu guru Seni, mereka membuka bagian pertama. Yaitu pertunjukkan kecil untuk mendekatkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sesuai dengan dugaan, kelompok Agnilah yang paling heboh dengan yel-yelnya. Sebagai pembimbing kelompok, cewek berenerjik itu memang selalu mampu membangkitkan semangat orang-orang yang berada di sekitarnya.

Dan dengan diiringi oleh alunan gitar dari Rio, mereka memulai bagian yang kedua. That’s my hope. Bagian dimana mereka yang terpilih, harus maju untuk membicarakan tentang harapan yang ingin dicapai di hidupnya.

“Gimana kalau untuk yang pertama, kita minta Duto! Duto kan selama ini selalu jadi pendiam dan misterius nih”, seru MC yang merupakan salah satu anggota OSIS.

Mau tak mau, Duto pun maju dan mengambil micnya.

“Nama gue Duto, gue kelas XII jurusan IPS. Gue ... gue ... gue berharap kalau suatu hari nanti gue bisa hidup di lingkungan yang normal. Gue berharap kalau gue bisa menikmati lingkungan yang normal itu bareng sama keluarga dan teman-teman gue”, ucapnya yang membuat semua orang diam terlebih lagi para peserta perempuan yang menyimpan rasa suka padanya.

“Wow, lingkungan yang normal?”, tanya MC yang membuat Duto kembali berpikir tentang apa yang harus ia katakan selanjutnya.

“Normal, ya berarti ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada kebanggaan, dan ada kekecewaan yang seimbang. Gue mau tinggal di tempat yang seperti itu”, lanjut Duto yang kemudian kembali ke tempatnya dengan diiringi oleh suara tepuk tangan.

Duto mengusap matanya cepat. Membayangkan betapa indahnya kalau ia, Ify, dan papanya hidup normal seperti apa yang ia harapkan membuat matanya mengeluarkan cairan. Ya, dia sudah lelah hidup dalam kesedihan tanpa kebahagiaan. Dia juga sudah cukup dengan kekecewaan tanpa kebanggaan.

“Oke, selanjutnya?”

“Ketos ... Ketos ... Ketos!”, seru seluruh peserta yang membuat Alvin maju secara otomatis.

Sebelum memulai pembicaraannya, Alvin menatap semua orang yang berada di tempat ini. Mulai dari semua sahabatnya, rekan-rekan OSISnya, adik-adik kelasnya, hingga para guru yang mendampingi mereka.

“Hai! Selamat malam. Nama gue Alvin dari kelas XII jurusan IPA. Gue ketua OSIS, gue anak basket, gue pelukis, dan gue ... Gue berharap kalau kita semua yang ada disini bisa sama-sama bersyukur atas semua hal yang Tuhan kasih ke kita. Jujur, gue belum pernah berterimakasih sama ibu yang udah lahirin gue, terus gue juga belum pernah berterimakasih sama sahabat-sahabat gue yang udah selalu dampingi gue, gue juga belum pernah berterimakasih sama guru-guru yang mau bantuin gue belajar dengan baik di sekolah, dan parahnya gue bahkan belum pernah berterimakasih sama Tuhan yang sudah menciptakan gue”, ucapan Alvin terputus. Dia menarik nafasnya berat, matanya pun memerah menahan tangis.

Semua yang mendengarnya ikut larut dalam harapan Alvin, tak sedikit yang ikut menangis karena terharu mendengarnya. Termasuk Agni dan Shilla. Sementara Cakka dan Rio hanya menatap sahabatnya itu dengan penuh tanda tanya. Apa selama ini ada sesuatu yang disembunyikan olehnya?

“Gue ... mau minta maaf kalau selama di sekolah, gue punya salah sama kalian. Gue juga mau berterimakasih buat semua kebaikan yang kalian buat untuk gue. Terimakasih. Gue bersyukur dan gue harap kalian juga ikut bersyukur bareng gue”, lanjutnya sambil menatap posisi Cakka dan Rio disebelah kanannya sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke semua yang hadir di acara api unggun itu.

“Terimakasih buat semua kepercayaan yang udah kalian kasih ke gue”, tutupnya sambil tersenyum tulus. Semua siswa perempuan yang hadir disana pun dibuat terpaku oleh senyumnya. Meski terlihat samar karena nyalanya api unggun yang ada disebelahnya, senyum Alvin tetap terlihat menawan dengan mata sipit yang terbentuk disana.

“Oke, mulai dari sekarang, gue juga bakal bersyukur. Terimakasih ketos!”, ucap MC sambil menghapus air mata yang terus keluar dari matanya.

Acara pun kembali berlanjut. Setelah Alvin, ada guru serta peserta yang mengungkapkan harapan-harapan mereka.

“Gue sayang elo, Vin”, ucap Agni sambil memeluk Alvin dengan erat seusai acara api unggun selesai. Dia bahkan menangis dalam pelukan itu, membuat pelukan erat itu berlangsung cukup lama.

Cakka dan Rio yang melihatnya dari kejauhan pun tak bisa berkata apa-apa. Rio yang ikut meneteskan air mata, memilih untuk pergi dan membantu yang lainnya dalam merapihkan api unggun dan hal-hal lainnya. Dia terlalu malu untuk bergabung dalam pelukan itu.

Sementara Cakka. Dia masih diam dan tak mau beranjak sedikit pun. Ingin rasanya, ia berlari dan ikut mendekap Alvin bersama dengan Agni. Tapi, pertanyaan mengenai kondisi Alvin dan kejadian mimisan tadi masih mengganjal di hatinya. Apalagi ditambah dengan ucapan di api unggun tadi. Apa Alvin benar-benar baik-baik saja?

“Gue juga sayang sama elo, Ni”, sahut Alvin sambil menghapus air mata Agni dan mencubit pipi tembam itu pelan.

Agni yang masih larut dalam tangisnya yang belum mereda, memalingkan pandangannya pada Cakka yang menatap kosong ke arah mereka. “Gue harap kita semua bisa tahu tentang semuanya, Vin”, ucap Agni sambil menepuk bahu sahabatnya pelan lalu berjalan menuju Cakka.

Kini giliran Alvin yang diam sendirian. Dia tahu betul apa maksud Agni. Lagipula semua juga akan terbongkar pada waktunya. Tapi semakin memikirkan hal itu, membuatnya semakin merasa khawatir. Bagaimana kalau semua orang akan kecewa padanya. Bagaimana kalau mereka akan meninggalkannya setelah tahu kalau selama ini dia bukanlah orang hebat yang ada dalam pikiran mereka. Apa yang akan mereka lakukan bila tahu kalau Alvin yang mereka kenal adalah Alvin yang memiliki penyakit mematikan?

*****

Shilla meninggalkan teman-temannya yang tengah merapihkan kayu api unggun, dan duduk di samping Duto yang sejak tadi menyendiri di pinggir penginapan. “Buat lo”, ucapnya sambil meletakkan segelas susu hangat di sebelah Duto.

Duto tidak mempedulikan kehadiran Shilla. Dia masih asyik dengan lamunannya yang entah untuk apa dan siapa. Perkataannya tentang hidup normal tadi terus mewarnai pikirannya. Dia memang orang yang tidak punya harapan. Papa benar. Hidupnya selalu saja membuat orang lain susah. Mulai dari ibu, Sivia, dan teman-temannya, bahkan Ify pun telah meninggalkannya sendirian.

“Gue taruh sini deh ya”, lanjut Shilla yang tak mendapat sahutan sedikit pun darinya.

“Kalo lo punya masalah, elo boleh kok cerita sama gue”, ucap Shilla sambil menyeruput susu hangat miliknya.

Kali ini, Duto menoleh ke arah gelas yang Shilla taruh di hadapannya. “Gue tau kita gak deket. Tapi seenggaknya, gue mau kok jadi teman curhat lo”, lanjut Shilla penuh perhatian.

Mendengar perkataan Duto tadi, membuat Shilla yakin kalau Duto bukanlah anak misterius yang harus ia jauhi. Dia hanya kesepian. Ya, cowok paling diam di antara cowok satu sekolah itu butuh seorang teman.

“Gue sering denger cerita tentang lo dari Sivia. Dulu, dia sering bilang kalo lo itu cowok yang keren. Kalo ada anak-anak yang ngejek Via, pasti elo bakalan dateng dan pukul mereka semua. Sivia itu cinta banget sama lo, makanya gue agak kaget pas tau kalian putus”, Shilla menarik nafasnya lalu menatap Duto yang sama sekali tidak menghiraukannya.

“Sorry, seharusnya gue gak cerita tentang itu”, sesal Shilla yang yakin betul kalau ucapannya barusan malah memperkeruh keadaan.

“Gue gak bisa, Shill”, sahut Duto lemah. Dia menatap Shilla lalu bangkit berdiri. “Thanks ya, susu hangatnya”, ucapnya lalu meninggalkan gadis itu sendirian.

Shilla hanya bisa mendesah lelah. Sementara Duto terus mengutuki dirinya. Apa yang telah ia katakan di depan semua siswa dan guru tadi? Hidup normal? Ah! Bagaimana kalau mereka mengetahui tentang bagaimana kehidupannya yang sebenarnya? Tentang hubungannya dengan Ify. Tapi, tunggu dulu. Tadi Shilla bilang, Sivia itu cinta banget sama lo. Cinta banget?

*****

Rio yang lelah karena kegiatan hari ini langsung tidur dengan pulas di tempat tidurnya. Begitu juga dengan Alvin setelah meminta selimut tambahan dari Agni yang memang sengaja membawa selimut lebih. Tapi Cakka, dia masih duduk memandangi Alvin di sebelah kirinya.

Dengan tangan yang dilipat serta punggung yang bersandar pada dinding, dia memandangi sahabatnya dengan penuh kekhawatiran.

“Cak! Elo belum tidur?”, bisik Rio yang terbangun karena ingin ke kamar mandi.

“Tidur gih! Besok kan elo harus pimpin games”, Rio bergegas masuk ke kamar mandi dan Cakka pun mulai memejamkan matanya.

Satu jam berlalu, dan Alvin sudah tidak bisa menahannya lagi. Dua selimut serta satu jaket tebal yang dikenakannya sudah tidak mampu menahan tubuhnya yang kedingininan.

“Vin ...”

*****

“Iya tante”

“...”

“Alvin udah balik ke kamar kok”

“...”

“Iya, tante. Aku udah kasih selimut tambahan kok”

“...”

“Iya, gapapa kok tante. Iya, selamat malam tante”

Agni memutus sambungan teleponnya dengan ibunya Alvin. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tapi matanya belum juga dipejamkan. Shilla yang menjadi teman sekamarnya saja, sudah tidur sejak dua jam yang lalu.

Drrt ... drrrt ... drrrrt ...

Pacar :* is calling ...

“Cakka?”, desahnya ketika melihat nama caller di layar ponselnya

*****

“Yo, cepet ambil tisu Yo!”, seru Cakka pada Rio yang baru saja membawa semangkuk air beserta dengan handuk kecil untuk kening Alvin.

“Badannya panas banget itu, Cak”, sahut Rio sambil menyerahkan sejumlah tisu pada Cakka yang belum juga bisa menghentikan mimisan dari hidung Alvin.

“Vin, bangun Vin ...”, seru Cakka sambil sesekali menepuk pipi pucat sahabatnya.


TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar: