“Alvin lagi sakit yah, Ni?”, tanya Shilla sambil mendudukan
dirinya di sebelah Agni.
Spontan, gadis yang kini tengah duduk di bawah salah satu
pohon di dekat kamar mandi umum perempuan itu menengok ke arahnya. “Alvin
sakit?”, tanyanya balik.
Shilla tersenyum tipis, lalu mengangguk yakin. “Tadi gue
liat mukanya pucat banget. Dia juga lebih diam akhir-akhir ini. Padahal tahun
lalu, dia orang yang paling semangat”, sahutnya.
“Hah? Masa sih? Ah enggak deh kayaknya”, balas Agni yang
berusaha untuk memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab Shilla.
“Iya tau, Ni. Sivia yang biasanya ceria juga jadi murung
selama kondisi Alvin menurun. Gue khawatir sama mereka”
“Em Shill, gue duluan yah! Gue mau siapin perlengkapan buat
acara api unggun nanti malam dulu yah”, lanjutnya yang kemudian berjalan
meninggalkan Shilla.
Gadis berambut pendek itu memilih untuk menghindarinya, dia
sudah tidak tahu lagi jawaban apa yang tepat untuk menjawab setiap pertanyaan
tentang Alvin. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk berbohong di hadapan semua
orang.
*****
Seusai mendampingi peserta bersih-bersih di kamar mandi
umum, sekarang giliran panitia untuk membersihkan dirinya di kamar mandi yang
terletak di kamar masing-masing.
“Gue duluan yah”, seru Rio yang langsung mengambil handuknya
dan masuk ke kamar mandi.
“Dasar! Gak pernah mau ngalah!”, balas Cakka sambil memakan
cemilan yang dibawanya.
“Elo ... elo kenapa Vin?”, Cakka segera berdiri dan duduk di
sebelah Alvin yang sejak tadi menundukkan kepalanya sambil memegang tisu di hidungnya.
“Gapapa kok, Cak”, balas Alvin yang mengangkat kepalanya.
Darah. Itulah hal pertama yang dapat dilihat oleh Cakka dari
wajah Alvin. Bukan hanya wajahnya, tisu yang digenggamnya pun sudah penuh
dengan darah yang sama. Darah yang ia yakini berasal dari hidung Alvin.
“Yo! Yo, keluar sekarang Yo!”, teriak Cakka histeris.
Rio yang baru saja akan membuka bajunya, terpaksa keluar.
“Apaan sih lo Cak! Gak jelas banget sih lo! Elo tau kan kalo gue ... Alvin ?”,
Rio yang keluar segera membantu Cakka memapah Alvin menuju kamar mandi.
“Gue gak papa kok”, ucap Alvin sambil membersihkan
hidungnya.
“Kalo mimisan gitu mah, berarti elo udah kecapekan banget,
Vin. Udah elo istirahat disini aja. Biar nanti si Duto tuh yang pimpin api
unggun”, saran Rio yang masih setia berdiri di samping kiri Alvin.
“Gue gak papa, beneran”, Alvin mengangkat wajahnya lalu
menatap kedua sahabatnya dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Berbeda dengan Rio yang terus berusaha untuk menyuruh Alvin
menetap di kamar, Cakka justru hanya diam tak berkata satu kata pun. Dengan
cepat, keyakinan itu membulat dalam benaknya. Dan dengan cepat pula, rasa takut
itu menguasai dirinya.
*****
Dengan dihangatkan oleh api unggun besar yang ada di
tengah-tengah mereka, para peserta bersama dengan panitia dan guru-guru memulai
acara api unggun yang menjadi kekhasan dari LDKS di SMA Jakarta.
Bersama dengan lagu kecil buatan salah satu guru Seni,
mereka membuka bagian pertama. Yaitu pertunjukkan kecil untuk mendekatkan satu
kelompok dengan kelompok lainnya. Sesuai dengan dugaan, kelompok Agnilah yang
paling heboh dengan yel-yelnya. Sebagai pembimbing kelompok, cewek berenerjik
itu memang selalu mampu membangkitkan semangat orang-orang yang berada di
sekitarnya.
Dan dengan diiringi oleh alunan gitar dari Rio, mereka
memulai bagian yang kedua. That’s my hope.
Bagian dimana mereka yang terpilih, harus maju untuk membicarakan tentang
harapan yang ingin dicapai di hidupnya.
“Gimana kalau untuk yang pertama, kita minta Duto! Duto kan
selama ini selalu jadi pendiam dan misterius nih”, seru MC yang merupakan salah
satu anggota OSIS.
Mau tak mau, Duto pun maju dan mengambil micnya.
“Nama gue Duto, gue kelas XII jurusan IPS. Gue ... gue ...
gue berharap kalau suatu hari nanti gue bisa hidup di lingkungan yang normal.
Gue berharap kalau gue bisa menikmati lingkungan yang normal itu bareng sama
keluarga dan teman-teman gue”, ucapnya yang membuat semua orang diam terlebih
lagi para peserta perempuan yang menyimpan rasa suka padanya.
“Wow, lingkungan yang normal?”, tanya MC yang membuat Duto
kembali berpikir tentang apa yang harus ia katakan selanjutnya.
“Normal, ya berarti ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada
kebanggaan, dan ada kekecewaan yang seimbang. Gue mau tinggal di tempat yang
seperti itu”, lanjut Duto yang kemudian kembali ke tempatnya dengan diiringi
oleh suara tepuk tangan.
Duto mengusap matanya cepat. Membayangkan betapa indahnya
kalau ia, Ify, dan papanya hidup normal seperti apa yang ia harapkan membuat
matanya mengeluarkan cairan. Ya, dia sudah lelah hidup dalam kesedihan tanpa
kebahagiaan. Dia juga sudah cukup dengan kekecewaan tanpa kebanggaan.
“Oke, selanjutnya?”
“Ketos ... Ketos ... Ketos!”, seru seluruh peserta yang
membuat Alvin maju secara otomatis.
Sebelum memulai pembicaraannya, Alvin menatap semua orang
yang berada di tempat ini. Mulai dari semua sahabatnya, rekan-rekan OSISnya,
adik-adik kelasnya, hingga para guru yang mendampingi mereka.
“Hai! Selamat malam. Nama gue Alvin dari kelas XII jurusan
IPA. Gue ketua OSIS, gue anak basket, gue pelukis, dan gue ... Gue berharap
kalau kita semua yang ada disini bisa sama-sama bersyukur atas semua hal yang
Tuhan kasih ke kita. Jujur, gue belum pernah berterimakasih sama ibu yang udah
lahirin gue, terus gue juga belum pernah berterimakasih sama sahabat-sahabat
gue yang udah selalu dampingi gue, gue juga belum pernah berterimakasih sama
guru-guru yang mau bantuin gue belajar dengan baik di sekolah, dan parahnya gue
bahkan belum pernah berterimakasih sama Tuhan yang sudah menciptakan gue”,
ucapan Alvin terputus. Dia menarik nafasnya berat, matanya pun memerah menahan
tangis.
Semua yang mendengarnya ikut larut dalam harapan Alvin, tak
sedikit yang ikut menangis karena terharu mendengarnya. Termasuk Agni dan
Shilla. Sementara Cakka dan Rio hanya menatap sahabatnya itu dengan penuh tanda
tanya. Apa selama ini ada sesuatu yang disembunyikan olehnya?
“Gue ... mau minta maaf kalau selama di sekolah, gue punya
salah sama kalian. Gue juga mau berterimakasih buat semua kebaikan yang kalian
buat untuk gue. Terimakasih. Gue bersyukur dan gue harap kalian juga ikut
bersyukur bareng gue”, lanjutnya sambil menatap posisi Cakka dan Rio disebelah
kanannya sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke semua yang hadir di acara api
unggun itu.
“Terimakasih buat semua kepercayaan yang udah kalian kasih
ke gue”, tutupnya sambil tersenyum tulus. Semua siswa perempuan yang hadir
disana pun dibuat terpaku oleh senyumnya. Meski terlihat samar karena nyalanya
api unggun yang ada disebelahnya, senyum Alvin tetap terlihat menawan dengan
mata sipit yang terbentuk disana.
“Oke, mulai dari sekarang, gue juga bakal bersyukur.
Terimakasih ketos!”, ucap MC sambil menghapus air mata yang terus keluar dari
matanya.
Acara pun kembali berlanjut. Setelah Alvin, ada guru serta
peserta yang mengungkapkan harapan-harapan mereka.
“Gue sayang elo, Vin”, ucap Agni sambil memeluk Alvin dengan
erat seusai acara api unggun selesai. Dia bahkan menangis dalam pelukan itu,
membuat pelukan erat itu berlangsung cukup lama.
Cakka dan Rio yang melihatnya dari kejauhan pun tak bisa
berkata apa-apa. Rio yang ikut meneteskan air mata, memilih untuk pergi dan
membantu yang lainnya dalam merapihkan api unggun dan hal-hal lainnya. Dia
terlalu malu untuk bergabung dalam pelukan itu.
Sementara Cakka. Dia masih diam dan tak mau beranjak sedikit
pun. Ingin rasanya, ia berlari dan ikut mendekap Alvin bersama dengan Agni.
Tapi, pertanyaan mengenai kondisi Alvin dan kejadian mimisan tadi masih
mengganjal di hatinya. Apalagi ditambah dengan ucapan di api unggun tadi. Apa
Alvin benar-benar baik-baik saja?
“Gue juga sayang sama elo, Ni”, sahut Alvin sambil menghapus
air mata Agni dan mencubit pipi tembam itu pelan.
Agni yang masih larut dalam tangisnya yang belum mereda,
memalingkan pandangannya pada Cakka yang menatap kosong ke arah mereka. “Gue
harap kita semua bisa tahu tentang semuanya, Vin”, ucap Agni sambil menepuk
bahu sahabatnya pelan lalu berjalan menuju Cakka.
Kini giliran Alvin yang diam sendirian. Dia tahu betul apa
maksud Agni. Lagipula semua juga akan terbongkar pada waktunya. Tapi semakin
memikirkan hal itu, membuatnya semakin merasa khawatir. Bagaimana kalau semua
orang akan kecewa padanya. Bagaimana kalau mereka akan meninggalkannya setelah
tahu kalau selama ini dia bukanlah orang hebat yang ada dalam pikiran mereka.
Apa yang akan mereka lakukan bila tahu kalau Alvin yang mereka kenal adalah
Alvin yang memiliki penyakit mematikan?
*****
Shilla meninggalkan teman-temannya yang tengah merapihkan
kayu api unggun, dan duduk di samping Duto yang sejak tadi menyendiri di
pinggir penginapan. “Buat lo”, ucapnya sambil meletakkan segelas susu hangat di
sebelah Duto.
Duto tidak mempedulikan kehadiran Shilla. Dia masih asyik
dengan lamunannya yang entah untuk apa dan siapa. Perkataannya tentang hidup
normal tadi terus mewarnai pikirannya. Dia memang orang yang tidak punya
harapan. Papa benar. Hidupnya selalu saja membuat orang lain susah. Mulai dari
ibu, Sivia, dan teman-temannya, bahkan Ify pun telah meninggalkannya sendirian.
“Gue taruh sini deh ya”, lanjut Shilla yang tak mendapat
sahutan sedikit pun darinya.
“Kalo lo punya masalah, elo boleh kok cerita sama gue”, ucap
Shilla sambil menyeruput susu hangat miliknya.
Kali ini, Duto menoleh ke arah gelas yang Shilla taruh di
hadapannya. “Gue tau kita gak deket. Tapi seenggaknya, gue mau kok jadi teman
curhat lo”, lanjut Shilla penuh perhatian.
Mendengar perkataan Duto tadi, membuat Shilla yakin kalau
Duto bukanlah anak misterius yang harus ia jauhi. Dia hanya kesepian. Ya, cowok
paling diam di antara cowok satu sekolah itu butuh seorang teman.
“Gue sering denger cerita tentang lo dari Sivia. Dulu, dia
sering bilang kalo lo itu cowok yang keren. Kalo ada anak-anak yang ngejek Via,
pasti elo bakalan dateng dan pukul mereka semua. Sivia itu cinta banget sama lo,
makanya gue agak kaget pas tau kalian putus”, Shilla menarik nafasnya lalu
menatap Duto yang sama sekali tidak menghiraukannya.
“Sorry, seharusnya gue gak cerita tentang itu”, sesal Shilla
yang yakin betul kalau ucapannya barusan malah memperkeruh keadaan.
“Gue gak bisa, Shill”, sahut Duto lemah. Dia menatap Shilla
lalu bangkit berdiri. “Thanks ya, susu hangatnya”, ucapnya lalu meninggalkan
gadis itu sendirian.
Shilla hanya bisa mendesah lelah. Sementara Duto terus
mengutuki dirinya. Apa yang telah ia katakan di depan semua siswa dan guru
tadi? Hidup normal? Ah! Bagaimana kalau mereka mengetahui tentang bagaimana
kehidupannya yang sebenarnya? Tentang hubungannya dengan Ify. Tapi, tunggu
dulu. Tadi Shilla bilang, Sivia itu cinta
banget sama lo. Cinta banget?
*****
Rio yang lelah karena kegiatan hari ini langsung tidur
dengan pulas di tempat tidurnya. Begitu juga dengan Alvin setelah meminta selimut
tambahan dari Agni yang memang sengaja membawa selimut lebih. Tapi Cakka, dia
masih duduk memandangi Alvin di sebelah kirinya.
Dengan tangan yang dilipat serta punggung yang bersandar
pada dinding, dia memandangi sahabatnya dengan penuh kekhawatiran.
“Cak! Elo belum tidur?”, bisik Rio yang terbangun karena
ingin ke kamar mandi.
“Tidur gih! Besok kan elo harus pimpin games”, Rio bergegas
masuk ke kamar mandi dan Cakka pun mulai memejamkan matanya.
Satu jam berlalu, dan Alvin sudah tidak bisa menahannya
lagi. Dua selimut serta satu jaket tebal yang dikenakannya sudah tidak mampu
menahan tubuhnya yang kedingininan.
“Vin ...”
*****
“Iya tante”
“...”
“Alvin udah balik ke kamar kok”
“...”
“Iya, tante. Aku udah kasih selimut tambahan kok”
“...”
“Iya, gapapa kok tante. Iya, selamat malam tante”
Agni memutus sambungan teleponnya dengan ibunya Alvin. Waktu
sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tapi matanya belum juga
dipejamkan. Shilla yang menjadi teman sekamarnya saja, sudah tidur sejak dua
jam yang lalu.
Drrt ... drrrt ...
drrrrt ...
Pacar :* is calling
...
“Cakka?”, desahnya ketika melihat nama caller di layar ponselnya
*****
“Yo, cepet ambil tisu Yo!”, seru Cakka pada Rio yang baru
saja membawa semangkuk air beserta dengan handuk kecil untuk kening Alvin.
“Badannya panas banget itu, Cak”, sahut Rio sambil
menyerahkan sejumlah tisu pada Cakka yang belum juga bisa menghentikan mimisan
dari hidung Alvin.
“Vin, bangun Vin ...”, seru Cakka sambil sesekali menepuk
pipi pucat sahabatnya.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar