Selasa, 02 Mei 2017

Lentera Hati *Part 36*

“Semalem Agni jelek banget, Vin. Rambutnya berantakan, wajahnya juga ikut berantakan. Elo tau sendiri kan, gimana jeleknya tuh cewek kalo lagi nangis. Badut aja kalah jeleknya”, Rio menyunggingkan senyumnya. Berharap Alvin ikut terkekeh mendengar ucapannya

Rio benar, gadis itu terlihat begitu lemah semalam. Untunglah ada Shilla yang menemaninya. Kalau tidak, Agni pasti akan merasa semakin hancur saat melihat sikap Cakka yang tak acuh padanya. Ditambah lagi dengan wajah Rio yang terlihat begitu kecewa pada sahabat perempuannya itu.

“Gue juga nyalahin Agni karena udah ngerahasiain ini, gue juga gak mau nyalahin elo Vin. Tapi ...”

Tangan Alvin bergerak. “Cak, gue haus”, ucapnya sambil menyentuh pergelangan tangan Rio.

“Sekarang jam berapa? Elo gak balik ke rumah, Cak?”


Alvin mencoba bangun dari tidurnya, memaksa Rio untuk menopang tubuh kurus itu untuk bersandar pada kepala ranjangnya. “Gue Rio, Vin”, sahut Rio pelan usai menelan kasar ludahnya. Alvin memanggilnya Cakka? Apa kejadian semalam telah membuat cowok itu melupakannya?

“Rio?”, tanya balik Alvin tak kalah pelan. Otaknya kembali bekerja. “Rio siapa?”, lanjutnya dengan wajah yang penuh tanda tanya.

Rio diam, lalu melirik ke artikel yang dibacanya semalam. Artikel yang berisikan beberapa halaman mengenai perjuangan penderita kanker yang dibawa Cakka. Dia bilang, kalau artikel itu akan menjadi referensi tugas biologinya. Dia juga bilang, kalau apa yang ada dalam artikel tersebut adalah apa yang terjadi pada diri Alvin. Ya, Cakka sangat yakin kalau sahabat mereka yang satu itu menderita penyakit mematikan itu.

“Elo gak kenal gue?”, tanya Rio yang masih tak bisa melepaskan arah pandangnya. Cakka benar.

“Yakin, elo gak kenal sama gue?”, kini dia mendekati wajah Alvin dan memaksa cowok itu untuk memandanganya dengan seksama.

Alvin memundurkan kepalanya, “udah deh Cak, cepet sana ambilin gue minum”

*****

“Apa-apaan sih, Cak!”, seru Duto ketika Cakka mendorong tubuhnya sampai membentur dinding aula. Untung saja, seluruh siswa dan guru sedang berkumpul di lapangan untuk games pagi.

“Elo tahu apa tentang Alvin?”, tanya Cakka dengan sorot matanya yang tajam. Dia juga menarik kerah Duto, membuat cowok itu dapat mendengar deruan nafas Cakka dengan jelas.

“Jadi, elo gak tahu?”, balas Duto yang membuat tarikan di kerahnya semakin menjadi

“Berhenti basa basi, dan jelasin semuanya, To!”, bentak Cakka yang bercampur dengan getaran di tenggorokannya. Dia sudah tak bisa bicara dengan jelas, karena rasa takut yang sudah tertahan sejak semalam.

Penjelasan dari papanya Agni, isi artikel yang diberikan oleh Sivia, dan semua hal yang terjadi semalam terus berkelebat dalam pikirannya. Ketiga hal tersebut telah bersatu untuk memberikan kesimpulan yang paling menyakitkan dalam sejarah hidupnya. Cakka bukan orang bodoh yang mudah dibohongi, dia malah dapat dengan pasti menyimpulkan kalau Alvin menderita penyakit itu. Tapi entah kenapa, otak dan keinginan serta perasaannya sedang tidak bisa diajak untuk bekerjasama.

Duto tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. “Gue gak nyangka, dia bisa rahasiain ini semua dari lo. Atau jangan-jangan, dia bohongin Agni dan Rio juga?”

Bugh! Satu buah tonjokan berhasil lepas landas tepat di pipi Duto. Membuat si waketos itu jatuh dan tersungkur ke lantai aula. Cakka tahu kalau memukul Duto adalah kesalahan, toh dia juga sudah dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi kan. Tapi bukankah otak dan keinginan serta perasaannya sedang tidak bisa diajak untuk bekerjasama?

“Gue udah bilang, berhenti basa basi!”, Cakka kembali menarik kerah Duto dan membuat cowok itu kembali berdiri menghadapnya.

Bugh! Satu buah tonjokan kembali lepas landas. Yang ini bukan di pipi, melainkan di perut Duto. Membuat cowok itu sedikit meringis sambil memijat perutnya pelan. Dia bisa berantem juga, ternyata.

Cakka kembali menarik kerah itu dan berusaha untuk memukulnya kembali. Namun, tangan Duto menahannya. Dia tersenyum kecil, lalu menatap Cakka. “Elo mau pukul gue sampai gue mati pun, itu gak ada efeknya buat lo Cak. Alvin juga gak akan bisa sembuh kalo elo luapin amarah lo kayak gini”, ucapnya yang berhasil membuat tatapan tajam itu mereda. Sial, dia benar.

Duto kembali tersungkur ke lantai. Cakka melepas tarikannya, lalu menatap lantai aula dengan hampa. “Alvin sakit kanker, Cak”, ucap Duto yang berhasil membuat air mata Cakka kembali mewarnai pipinya. Ya, cowok yang habis berantem itu menangis.

Krek. Pintu aula kosong itu terbuka. “Cak, kamu gak papa?”

*****

Flashback On

“Gimana? Elo udah pertimbangkan, kan?”

“Gue gak tahu, kak”, sahut Alvin lemah. Selembar kertas berlogo OSIS di bagian atas itulah penyebabnya.

Seminggu yang lalu, salah seorang kakak kelas datang untuk menawarkannya menjadi ketua ekskul basket. Dia juga memaksanya untuk menjadi kapten tim basket sekolah. Tapi, Alvin tidak bisa. Dia tahu bagaimana kondisi tubuhnya. Dia juga tahu kalau ada orang lain yang lebih pantas untuk hal itu ketimbang dirinya sendiri.

“Gue gak siap”, lanjutnya masih dengan nada yang sama

“Yakin? Permainan elo tuh keren! Dribble lo itu oke punya, dibanding sama anak kelas satu lainnya, skill lo juga lebih keliatan, Vin”, Patton gak menyerah. Dia malah duduk di sebelah Alvin yang tidak sedikit pun memalingkan wajahnya dari selembar kertas tadi.

“Gue sakit, kak. Gue sakit kanker. Mana mungkin cowok penyakitan kayak gue bisa jadi ketua basket?”

Ingin rasanya Alvin berteriak seperti itu. Memberitahukan semua orang, kalau dirinya bukanlah Alvin yang selama ini mereka banggakan. Dia hanya Alvin yang lemah, yang sakit, yang selalu meminum obat untuk mempertahankan hidupnya.

“Yaudah, gini aja. Gue kasih elo waktu seminggu lagi. Elo pikirin baik-baik dulu”

“Rio ...”

Patton yang baru saja akan pergi, menghentikan langkahnya. Dia tersenyum kecil sejenak, lalu berpaling menatap adik kelasnya.

“Mario Stevano, maksud lo?”, Alvin mengangguk.

“Vin Vin, dia tuh lolos seleksi tim basket kita aja udah patut bersyukur. Masa cowok yang gak bisa ngoper bola macam dia harus jadi ketua basket juga sih? Mending juga Cakka. Cupu-cupu gitu juga bisa diandalin, walaupun arah shootnya masih gak jelas”, lanjut Patton sambil kembali membayangkan pertandingan seleksi tim bakset antar kelas sebulan yang lalu.

“Tapi seenggaknya, Rio itu ...”

“Vin, gue tuh maunya elo. Gak ada anak kelas satu yang kemampuannya sehebat lo. Lagian apa susahnya sih jadi kapten sekaligus ketua basket? Elo juga nanti bakalan bersyukur karena gue udah pilih lo buat gantiin posisi gue. Udah ya, pokoknya gue tunggu jawaban lo minggu depan!”

Alvin menatap kepergian kakak kelasnya itu dalam diam. Sejujurnya, dia juga ingin mengiyakan kemauan Patton. Tapi, kondisinya sangatlah tidak memungkinkan. Apalagi akhir-akhir ini ibu dan kak Tania terus memaksanya untuk menginap di rumah sakit. Mereka bilang kalau kondisinya akan semakin parah bila terus dipaksakan untuk bersekolah, seperti ini.

Lagipula, kalau nanti dia yang menjadi ketua dan kapten tim basket, bagaimana dengan Rio? Walau sempat bertengkar sebulan yang lalu, Rio tetaplah sahabatnya. Walau Rio sering membentaknya dan selalu memiliki keyakinan yang bertolak belakang dengannya, cowok itu tetaplah orang yang berarti dalam hidupnya. Toh, yang memaksa Alvin untuk mengikuti seleksi tim basket adalah Rio. Padahal awalnya, Alvin hanya akan mengikuti ekskul ilmiah bersama dengan Cakka. Tapi Rio terus memaksanya, sampai akhirnya mereka bertiga lolos dan Alvin terjebak dalam pilihan ini.

“Kenapa Vin?”, gadis berambut panjang itu datang lalu dengan santai mengambil selembar kertas yang ada dalam genggaman Alvin

“Pendaftaran anggota OSIS? Elo mau jadi anak OS ...”, Alvin segera merampas selembar itu. Ah, untung saja tidak sobek.

“Diem deh, Ni”, ucapnya seraya merapikan selembar kertas tadi dan memasukkannya ke saku celananya. Untuk berjaga-jaga, kalau dia berubah pikiran.

Agni mendekatkan wajahnya, dia menatap sahabatnya dengan penuh selidik. “Elo mau jadi anak OSIS?”, tanyanya berbisik. Alvin yang ngerti dengan tatapannya, mundur seketika sekaligus berdiri dan membentaknya.

“Apa-apaan sih lo! Kalau nanti Cakka liat, terus dia marah sama gue gimana?”, ocehnya sambil memegang kedua pipinya yang memerah. Tidak, dia tidak menyukai sahabatnya itu. Hanya saja, tatapan itu, bisikan suara itu, aroma tubuh itu ... ah sudahlah.

“Peduli banget sama Cakka. Dia aja gak pernah deketin gue. Lagian elo kenapa segitunya yakin sih, kalo dia suka sama gue. Jalan bareng berdua aja gak pernah”, kini balik Agni yang mengoceh

“Oh iya, jadi gimana? Kertas tadi itu ... em, elo beneran mau jadi ...”, ucapan Agni terhenti seketika kepala Alvin yang tertunduk. “Vin ...”, ucapnya yang langsung berdiri dan menahan tubuh sahabatnya itu.

*****

Alvin menatap tetesan infusnya dengan penuh kemalasan. Hari ini, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, dia harus mendekam di rumah sakit. Kalau saja lusa sore kemarin, dia tidak pingsan. Dia pasti sudah berada di rumah Cakka untuk merayakan ulang tahunnya hari ini. Tapi ...

“Vin!”, seru seorang anak cowok dari balik pintu kamarnya. Ya, tubuh Cakka yang masih mengenakan topi ulang tahunnya itu berlari memasuki kamar rawat Alvin. Diikuti oleh Rio dan Agni yang mengekor di belakangnya. Mereka bertiga mengenakan topi yang sama. Syukurlah, Alvin tidak ikut perayaan tadi. Topi ulang tahun itu benar-benar menjijikan.

Alvin yang bingung, kenapa bisa Cakka dan Rio mengetahui dirinya disini segera menatap ibu yang berdiri di sebelah ranjangnya. “Cakka maksa ibu, katanya dia mau kasih bingkisan ulang tahunnya”, sahut ibu yang kemudian meninggalkan mereka berempat.

“Duh Vin, elo tuh bilang dong kalo elo alergi sinar matahari”, ucap Cakka sambil membuka bingkisan yang katanya untuk Alvin.

Mendengar ucapan Alvin, membuat cowok yang masih duduk di bangku SMP kelas satu itu menelan ludahnya kasar. Alergi sinar matahari?

“Untung aja, kemarin ada si Agni. Jadinya kan elo bisa langsung dibawa ke rumah sakit, Vin”, lanjut Cakka yang lagi-lagi membuat Alvin menelan ludahnya. Kasar.

Agni yang sadar dengan air wajah Alvin yang kebingungan, segera menyenggol lengan itu pelan. “Eh iya, Cak. Sorry. Hehehe”, sahut Alvin canggung. Kebohongan macam apa ini.

Rio yang daritadi mengekor, hanya diam memandangi adegan Cakka yang membuka bingkisan ulang tahun, Alvin yang senyum-senyum, dan Agni yag tertawa kecil. Dia ingin bergabung, tapi jaraknya dengan Alvin terlalu susah untuk dilompati.

“Yo, ayo sini”, ucap Agni sambil menarik tangan Rio paksa. Membuat cowok itu melangkah malu mendekat.

“Itu kertas apa Yo?”, tanya Cakka ketika melihat lipatan kertas yang terjatuh dari tasnya Rio

“Oh, itu kertas pendaftaran OSIS”

“Elu mau ikut OSIS juga, Yo?”, timpal Agni

“Iya, gue mau jadi ketua bas ...”

“Wah, sama kayak Alvin dong”, potong Agni yang membuat Alvin merutuki gadis itu.

“Elo mau jadi ketua basket juga, Vin?”, tanya Rio. Alvin diam. Tidak, dia ingin menjawabnya. Tapi kue ulang tahun Cakka terlanjur masuk ke dalam mulutnya.

*****

“Yo, maaf Yo”

“Yo, plis maafin gue”

“Yo, gue gak tahu kalau kak Patton bakalan pilih gue buat gantiin dia”

Rio menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Alvin yang sudah seharian ini mengikutinya. Dia berbalik dan menatap mata sahabatnya ah tidak, temannya itu dengan lekat. Seorang sahabat tidak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri, kan?

“Elo gak tahu?”, tanya Rio masih dengan tatapan lekatnya

“Maaf Yo”, sesal Alvin. Sungguh, dia tidak tahu kalau ketika dia masuk sekolah semua ini akan terjadi. Dia bahkan belum bilang setuju, tapi Patton sudah mengumpulkan form pendaftarannya dan memilihnya menjadi ketua basket.

“Gue kira elo gak tertarik sama basket, Vin”, lirihnya. Entah kenapa, cowok itu jadi menyesal karena telah mengajak kedua sahabatnya untuk mengikuti seleksi tim basket waktu itu.

“Yo, plis. Gue ...”

“Udahlah, Vin. Gue sadar kok, gue emang gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama lo. Elo itu hebat, Vin. Buktinya, banyak kan yang dukung lo pas pemilihan tadi? Apalagi kak Patton yang setia banget sama pujiannya buat lo”, Rio melangkahkan kakinya. Dia pergi, dan semakin menjauh.

“Maafin gue, Yo”, ucap Alvin penuh sesal.

Flashback Off

*****

“Vin ...”, panggil Rio pada Alvin yang mematung usai meminum segelas air dari Rio. Dia tidak bergerak sama sekali, dan menatap sisa air di dalam gelas bening yang ada ditangannya

“Vin?”

“Maafin gue, Yo”, potong Alvin. Dia meletakkan gelasnya, lalu menatap Rio dengan penuh sesal. Dia seharusnya paham dengan kebingungan di wajah Rio, ketika dia memanggilnya dengan nama Cakka. Dia seharusnya tahu kalau sekarang dia berada di luar kota untuk LDKS, bukannya berada di kamar tidurnya.

Rio diam. Alvin sudah mengingat namanya?

“Maafin gue, Yo”, ucapnya lagi. Rio masih diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wajah sesal Alvin membuatnya kembali mengingat kejadian ketika pemilihan ketua basket waktu itu. Bagaimana dia memusuhi Alvin saat itu, bagaimana dia menjaga jaraknya dengan Alvin sejak saat itu, bagaimana dia terus berusaha untuk merebut posisi itu dari Alvin saat mereka masuk di SMA yang sama. Rio tetap diam.

“Gapapa Vin, mungkin elo masih pusing gara-gara semalem”, sahut Rio setelah lama terdiam. Alvin tak menjawab, dia malah mengusap wajahnya dengan kasar. Entahlah, tapi pikirannya terlalu sulit untuk berkompromi saat ini.

*****

“Cak, kamu gak papa?”, Agni berlari mendekati kekasihnya yang terlihat begitu kacau. Dia bahkan melewati Duto yang tersungkur dengan luka babak belurnya.

“Kamu gak papa?”, tanyanya kembali sambil mengusap air mata di pipi kekasihnya itu

“Maafin aku, Cak”, lanjut Agni yang malah ikut menangis. Dia bahkan menenggelamkan wajahnya di balik bahu Cakka.

Duto menatap malas adegan romansa yang ada di hadapannya. Dia ingin bangkit berdiri, tapi kembali terjatuh karena bekas tonjokkan Cakka yang terasa dalam di perutnya. “Sini, biar gue bantu”, ucap Shilla sambil menarik tangan Duto dan membuat cowok itu berdiri meski tidak tegak.

“Yuk, gue anter ke anak PMR”, ajak Shilla sambil memapah tubuh mantan kekasih sahabatnya itu. Mereka berjalan meninggalkan aula, serta menyisakan Agni yang masih menangis dalam peluknya Cakka.

“Cukup, Ni”, Cakka melepas dekapan itu dan menatap wajah Agni dengan penuh perhatian. Tidak seharusnya, cewek manis itu meminta maaf padanya. Ini semua salahnya. Wajah yang dulu selalu ceria itu berubah menjadi kusut tanpa semangat, ini semua salahnya.

“Alvin, dia ...”


TO BE CONTINUED

3 komentar:

Iin indah mengatakan...

Maaf nih kak/dek awal part alvin kanker otak tpi kok dsini leukimia, hehe
Sekedar intruksi

Unknown mengatakan...

Adegan kemo lagi donggg kak tapi bikin adegan yang bener bener sedih gitu. Suka part dimana alvin jadi anak manja ucuu👍

Unknown mengatakan...

Adegan kemo lagi donggg kak tapi bikin adegan yang bener bener sedih gitu. Suka part dimana alvin jadi anak manja ucuu👍