“Semalem Agni jelek banget, Vin. Rambutnya berantakan,
wajahnya juga ikut berantakan. Elo tau sendiri kan, gimana jeleknya tuh cewek
kalo lagi nangis. Badut aja kalah jeleknya”, Rio menyunggingkan senyumnya.
Berharap Alvin ikut terkekeh mendengar ucapannya
Rio benar, gadis itu terlihat begitu lemah semalam.
Untunglah ada Shilla yang menemaninya. Kalau tidak, Agni pasti akan merasa
semakin hancur saat melihat sikap Cakka yang tak acuh padanya. Ditambah lagi
dengan wajah Rio yang terlihat begitu kecewa pada sahabat perempuannya itu.
“Gue juga nyalahin Agni karena udah ngerahasiain ini, gue
juga gak mau nyalahin elo Vin. Tapi ...”
Tangan Alvin bergerak. “Cak, gue haus”, ucapnya sambil
menyentuh pergelangan tangan Rio.
“Sekarang jam berapa? Elo gak balik ke rumah, Cak?”
Alvin mencoba bangun dari tidurnya, memaksa Rio untuk
menopang tubuh kurus itu untuk bersandar pada kepala ranjangnya. “Gue Rio,
Vin”, sahut Rio pelan usai menelan kasar ludahnya. Alvin memanggilnya Cakka?
Apa kejadian semalam telah membuat cowok itu melupakannya?
“Rio?”, tanya balik Alvin tak kalah pelan. Otaknya kembali
bekerja. “Rio siapa?”, lanjutnya dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Rio diam, lalu melirik ke artikel yang dibacanya semalam.
Artikel yang berisikan beberapa halaman mengenai perjuangan penderita kanker
yang dibawa Cakka. Dia bilang, kalau artikel itu akan menjadi referensi tugas
biologinya. Dia juga bilang, kalau apa yang ada dalam artikel tersebut adalah
apa yang terjadi pada diri Alvin. Ya, Cakka sangat yakin kalau sahabat mereka
yang satu itu menderita penyakit mematikan itu.
“Elo gak kenal gue?”, tanya Rio yang masih tak bisa
melepaskan arah pandangnya. Cakka benar.
“Yakin, elo gak kenal sama gue?”, kini dia mendekati wajah
Alvin dan memaksa cowok itu untuk memandanganya dengan seksama.
Alvin memundurkan kepalanya, “udah deh Cak, cepet sana
ambilin gue minum”
*****
“Apa-apaan sih, Cak!”, seru Duto ketika Cakka mendorong
tubuhnya sampai membentur dinding aula. Untung saja, seluruh siswa dan guru
sedang berkumpul di lapangan untuk games
pagi.
“Elo tahu apa tentang Alvin?”, tanya Cakka dengan sorot
matanya yang tajam. Dia juga menarik kerah Duto, membuat cowok itu dapat
mendengar deruan nafas Cakka dengan jelas.
“Jadi, elo gak tahu?”, balas Duto yang membuat tarikan di
kerahnya semakin menjadi
“Berhenti basa basi, dan jelasin semuanya, To!”, bentak
Cakka yang bercampur dengan getaran di tenggorokannya. Dia sudah tak bisa
bicara dengan jelas, karena rasa takut yang sudah tertahan sejak semalam.
Penjelasan dari papanya Agni, isi artikel yang diberikan
oleh Sivia, dan semua hal yang terjadi semalam terus berkelebat dalam
pikirannya. Ketiga hal tersebut telah bersatu untuk memberikan kesimpulan yang
paling menyakitkan dalam sejarah hidupnya. Cakka bukan orang bodoh yang mudah
dibohongi, dia malah dapat dengan pasti menyimpulkan kalau Alvin menderita
penyakit itu. Tapi entah kenapa, otak dan keinginan serta perasaannya sedang
tidak bisa diajak untuk bekerjasama.
Duto tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. “Gue gak
nyangka, dia bisa rahasiain ini semua dari lo. Atau jangan-jangan, dia bohongin
Agni dan Rio juga?”
Bugh! Satu buah tonjokan berhasil lepas landas tepat di pipi
Duto. Membuat si waketos itu jatuh dan tersungkur ke lantai aula. Cakka tahu
kalau memukul Duto adalah kesalahan, toh dia juga sudah dapat menyimpulkan apa
yang sebenarnya terjadi kan. Tapi bukankah otak dan keinginan serta perasaannya
sedang tidak bisa diajak untuk bekerjasama?
“Gue udah bilang, berhenti basa basi!”, Cakka kembali menarik
kerah Duto dan membuat cowok itu kembali berdiri menghadapnya.
Bugh! Satu buah tonjokan kembali lepas landas. Yang ini
bukan di pipi, melainkan di perut Duto. Membuat cowok itu sedikit meringis
sambil memijat perutnya pelan. Dia bisa
berantem juga, ternyata.
Cakka kembali menarik kerah itu dan berusaha untuk
memukulnya kembali. Namun, tangan Duto menahannya. Dia tersenyum kecil, lalu
menatap Cakka. “Elo mau pukul gue sampai gue mati pun, itu gak ada efeknya buat
lo Cak. Alvin juga gak akan bisa sembuh kalo elo luapin amarah lo kayak gini”,
ucapnya yang berhasil membuat tatapan tajam itu mereda. Sial, dia benar.
Duto kembali tersungkur ke lantai. Cakka melepas tarikannya,
lalu menatap lantai aula dengan hampa. “Alvin sakit kanker, Cak”, ucap Duto
yang berhasil membuat air mata Cakka kembali mewarnai pipinya. Ya, cowok yang
habis berantem itu menangis.
Krek. Pintu aula kosong itu terbuka. “Cak, kamu gak papa?”
*****
Flashback On
“Gimana? Elo udah pertimbangkan, kan?”
“Gue gak tahu, kak”, sahut Alvin lemah. Selembar kertas berlogo
OSIS di bagian atas itulah penyebabnya.
Seminggu yang lalu, salah seorang kakak kelas datang untuk
menawarkannya menjadi ketua ekskul basket. Dia juga memaksanya untuk menjadi
kapten tim basket sekolah. Tapi, Alvin tidak bisa. Dia tahu bagaimana kondisi
tubuhnya. Dia juga tahu kalau ada orang lain yang lebih pantas untuk hal itu
ketimbang dirinya sendiri.
“Gue gak siap”, lanjutnya masih dengan nada yang sama
“Yakin? Permainan elo tuh keren! Dribble lo itu oke punya, dibanding sama anak kelas satu lainnya, skill lo juga lebih keliatan, Vin”,
Patton gak menyerah. Dia malah duduk di sebelah Alvin yang tidak sedikit pun
memalingkan wajahnya dari selembar kertas tadi.
“Gue sakit, kak. Gue sakit kanker. Mana mungkin cowok
penyakitan kayak gue bisa jadi ketua basket?”
Ingin rasanya Alvin berteriak seperti itu. Memberitahukan
semua orang, kalau dirinya bukanlah Alvin yang selama ini mereka banggakan. Dia
hanya Alvin yang lemah, yang sakit, yang selalu meminum obat untuk mempertahankan
hidupnya.
“Yaudah, gini aja. Gue kasih elo waktu seminggu lagi. Elo
pikirin baik-baik dulu”
“Rio ...”
Patton yang baru saja akan pergi, menghentikan langkahnya.
Dia tersenyum kecil sejenak, lalu berpaling menatap adik kelasnya.
“Mario Stevano, maksud lo?”, Alvin mengangguk.
“Vin Vin, dia tuh lolos seleksi tim basket kita aja udah
patut bersyukur. Masa cowok yang gak bisa ngoper bola macam dia harus jadi
ketua basket juga sih? Mending juga Cakka. Cupu-cupu gitu juga bisa diandalin,
walaupun arah shootnya masih gak
jelas”, lanjut Patton sambil kembali membayangkan pertandingan seleksi tim
bakset antar kelas sebulan yang lalu.
“Tapi seenggaknya, Rio itu ...”
“Vin, gue tuh maunya elo. Gak ada anak kelas satu yang
kemampuannya sehebat lo. Lagian apa susahnya sih jadi kapten sekaligus ketua
basket? Elo juga nanti bakalan bersyukur karena gue udah pilih lo buat gantiin
posisi gue. Udah ya, pokoknya gue tunggu jawaban lo minggu depan!”
Alvin menatap kepergian kakak kelasnya itu dalam diam.
Sejujurnya, dia juga ingin mengiyakan kemauan Patton. Tapi, kondisinya
sangatlah tidak memungkinkan. Apalagi akhir-akhir ini ibu dan kak Tania terus
memaksanya untuk menginap di rumah sakit. Mereka bilang kalau kondisinya akan
semakin parah bila terus dipaksakan untuk bersekolah, seperti ini.
Lagipula, kalau nanti dia yang menjadi ketua dan kapten tim
basket, bagaimana dengan Rio? Walau sempat bertengkar sebulan yang lalu, Rio
tetaplah sahabatnya. Walau Rio sering membentaknya dan selalu memiliki
keyakinan yang bertolak belakang dengannya, cowok itu tetaplah orang yang
berarti dalam hidupnya. Toh, yang memaksa Alvin untuk mengikuti seleksi tim
basket adalah Rio. Padahal awalnya, Alvin hanya akan mengikuti ekskul
ilmiah bersama dengan Cakka. Tapi Rio terus memaksanya, sampai akhirnya mereka
bertiga lolos dan Alvin terjebak dalam pilihan ini.
“Kenapa Vin?”, gadis berambut panjang itu datang lalu dengan
santai mengambil selembar kertas yang ada dalam genggaman Alvin
“Pendaftaran anggota OSIS? Elo mau jadi anak OS ...”, Alvin
segera merampas selembar itu. Ah, untung saja tidak sobek.
“Diem deh, Ni”, ucapnya seraya merapikan selembar kertas
tadi dan memasukkannya ke saku celananya. Untuk berjaga-jaga, kalau dia berubah
pikiran.
Agni mendekatkan wajahnya, dia menatap sahabatnya dengan
penuh selidik. “Elo mau jadi anak OSIS?”, tanyanya berbisik. Alvin yang ngerti
dengan tatapannya, mundur seketika sekaligus berdiri dan membentaknya.
“Apa-apaan sih lo! Kalau nanti Cakka liat, terus dia marah
sama gue gimana?”, ocehnya sambil memegang kedua pipinya yang memerah. Tidak,
dia tidak menyukai sahabatnya itu. Hanya saja, tatapan itu, bisikan suara itu,
aroma tubuh itu ... ah sudahlah.
“Peduli banget sama Cakka. Dia aja gak pernah deketin gue.
Lagian elo kenapa segitunya yakin sih, kalo dia suka sama gue. Jalan bareng
berdua aja gak pernah”, kini balik Agni yang mengoceh
“Oh iya, jadi gimana? Kertas tadi itu ... em, elo beneran
mau jadi ...”, ucapan Agni terhenti seketika kepala Alvin yang tertunduk. “Vin
...”, ucapnya yang langsung berdiri dan menahan tubuh sahabatnya itu.
*****
Alvin menatap tetesan infusnya dengan penuh kemalasan. Hari
ini, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, dia harus mendekam di rumah sakit.
Kalau saja lusa sore kemarin, dia tidak pingsan. Dia pasti sudah berada di
rumah Cakka untuk merayakan ulang tahunnya hari ini. Tapi ...
“Vin!”, seru seorang anak cowok dari balik pintu kamarnya.
Ya, tubuh Cakka yang masih mengenakan topi ulang tahunnya itu berlari memasuki
kamar rawat Alvin. Diikuti oleh Rio dan Agni yang mengekor di belakangnya.
Mereka bertiga mengenakan topi yang sama. Syukurlah, Alvin tidak ikut perayaan
tadi. Topi ulang tahun itu benar-benar menjijikan.
Alvin yang bingung, kenapa bisa Cakka dan Rio mengetahui
dirinya disini segera menatap ibu yang berdiri di sebelah ranjangnya. “Cakka maksa
ibu, katanya dia mau kasih bingkisan ulang tahunnya”, sahut ibu yang kemudian
meninggalkan mereka berempat.
“Duh Vin, elo tuh bilang dong kalo elo alergi sinar
matahari”, ucap Cakka sambil membuka bingkisan yang katanya untuk Alvin.
Mendengar ucapan Alvin, membuat cowok yang masih duduk di
bangku SMP kelas satu itu menelan ludahnya kasar. Alergi sinar matahari?
“Untung aja, kemarin ada si Agni. Jadinya kan elo bisa
langsung dibawa ke rumah sakit, Vin”, lanjut Cakka yang lagi-lagi membuat Alvin
menelan ludahnya. Kasar.
Agni yang sadar dengan air wajah Alvin yang kebingungan,
segera menyenggol lengan itu pelan. “Eh iya, Cak. Sorry. Hehehe”, sahut Alvin
canggung. Kebohongan macam apa ini.
Rio yang daritadi mengekor, hanya diam memandangi adegan
Cakka yang membuka bingkisan ulang tahun, Alvin yang senyum-senyum, dan Agni
yag tertawa kecil. Dia ingin bergabung, tapi jaraknya dengan Alvin terlalu
susah untuk dilompati.
“Yo, ayo sini”, ucap Agni sambil menarik tangan Rio paksa.
Membuat cowok itu melangkah malu mendekat.
“Itu kertas apa Yo?”, tanya Cakka ketika melihat lipatan
kertas yang terjatuh dari tasnya Rio
“Oh, itu kertas pendaftaran OSIS”
“Elu mau ikut OSIS juga, Yo?”, timpal Agni
“Iya, gue mau jadi ketua bas ...”
“Wah, sama kayak Alvin dong”, potong Agni yang membuat Alvin
merutuki gadis itu.
“Elo mau jadi ketua basket juga, Vin?”, tanya Rio. Alvin
diam. Tidak, dia ingin menjawabnya. Tapi kue ulang tahun Cakka terlanjur masuk
ke dalam mulutnya.
*****
“Yo, maaf Yo”
“Yo, plis maafin gue”
“Yo, gue gak tahu kalau kak Patton bakalan pilih gue buat
gantiin dia”
Rio menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Alvin yang
sudah seharian ini mengikutinya. Dia berbalik dan menatap mata sahabatnya ah
tidak, temannya itu dengan lekat. Seorang
sahabat tidak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri, kan?
“Elo gak tahu?”, tanya Rio masih dengan tatapan lekatnya
“Maaf Yo”, sesal Alvin. Sungguh, dia tidak tahu kalau ketika
dia masuk sekolah semua ini akan terjadi. Dia bahkan belum bilang setuju, tapi
Patton sudah mengumpulkan form pendaftarannya dan memilihnya menjadi ketua
basket.
“Gue kira elo gak tertarik sama basket, Vin”, lirihnya.
Entah kenapa, cowok itu jadi menyesal karena telah mengajak kedua sahabatnya
untuk mengikuti seleksi tim basket waktu itu.
“Yo, plis. Gue ...”
“Udahlah, Vin. Gue sadar kok, gue emang gak ada apa-apanya
kalo dibandingin sama lo. Elo itu hebat, Vin. Buktinya, banyak kan yang dukung
lo pas pemilihan tadi? Apalagi kak Patton yang setia banget sama pujiannya buat
lo”, Rio melangkahkan kakinya. Dia pergi, dan semakin menjauh.
“Maafin gue, Yo”, ucap Alvin penuh sesal.
Flashback Off
*****
“Vin ...”, panggil Rio pada Alvin yang mematung usai meminum
segelas air dari Rio. Dia tidak bergerak sama sekali, dan menatap sisa air di
dalam gelas bening yang ada ditangannya
“Vin?”
“Maafin gue, Yo”, potong Alvin. Dia meletakkan gelasnya,
lalu menatap Rio dengan penuh sesal. Dia seharusnya paham dengan kebingungan di
wajah Rio, ketika dia memanggilnya dengan nama Cakka. Dia seharusnya tahu kalau
sekarang dia berada di luar kota untuk LDKS, bukannya berada di kamar tidurnya.
Rio diam. Alvin sudah
mengingat namanya?
“Maafin gue, Yo”, ucapnya lagi. Rio masih diam. Dia tidak
tahu harus berbuat apa. Wajah sesal Alvin membuatnya kembali mengingat kejadian
ketika pemilihan ketua basket waktu itu. Bagaimana dia memusuhi Alvin saat itu,
bagaimana dia menjaga jaraknya dengan Alvin sejak saat itu, bagaimana dia terus
berusaha untuk merebut posisi itu dari Alvin saat mereka masuk di SMA yang sama.
Rio tetap diam.
“Gapapa Vin, mungkin elo masih pusing gara-gara semalem”,
sahut Rio setelah lama terdiam. Alvin tak menjawab, dia malah mengusap wajahnya
dengan kasar. Entahlah, tapi pikirannya terlalu sulit untuk berkompromi saat
ini.
*****
“Cak, kamu gak papa?”, Agni berlari mendekati kekasihnya
yang terlihat begitu kacau. Dia bahkan melewati Duto yang tersungkur dengan
luka babak belurnya.
“Kamu gak papa?”, tanyanya kembali sambil mengusap air mata
di pipi kekasihnya itu
“Maafin aku, Cak”, lanjut Agni yang malah ikut menangis. Dia
bahkan menenggelamkan wajahnya di balik bahu Cakka.
Duto menatap malas adegan romansa yang ada di hadapannya.
Dia ingin bangkit berdiri, tapi kembali terjatuh karena bekas tonjokkan Cakka
yang terasa dalam di perutnya. “Sini, biar gue bantu”, ucap Shilla sambil
menarik tangan Duto dan membuat cowok itu berdiri meski tidak tegak.
“Yuk, gue anter ke anak PMR”, ajak Shilla sambil memapah
tubuh mantan kekasih sahabatnya itu. Mereka berjalan meninggalkan aula, serta
menyisakan Agni yang masih menangis dalam peluknya Cakka.
“Cukup, Ni”, Cakka melepas dekapan itu dan menatap wajah
Agni dengan penuh perhatian. Tidak seharusnya, cewek manis itu meminta maaf
padanya. Ini semua salahnya. Wajah yang dulu selalu ceria itu berubah menjadi
kusut tanpa semangat, ini semua salahnya.
“Alvin, dia ...”
TO BE CONTINUED
3 komentar:
Maaf nih kak/dek awal part alvin kanker otak tpi kok dsini leukimia, hehe
Sekedar intruksi
Adegan kemo lagi donggg kak tapi bikin adegan yang bener bener sedih gitu. Suka part dimana alvin jadi anak manja ucuu👍
Adegan kemo lagi donggg kak tapi bikin adegan yang bener bener sedih gitu. Suka part dimana alvin jadi anak manja ucuu👍
Posting Komentar