Duto menatap malas adegan romansa yang ada di hadapannya.
Dia ingin bangkit berdiri, tapi kembali terjatuh karena bekas tonjokkan Cakka
yang terasa dalam di perutnya. "Sini, biar gue bantu", ucap Shilla
sambil menarik tangan Duto dan membuat cowok itu berdiri meski tidak tegak.
"Yuk, gue anter ke anak PMR", ajak Shilla sambil
memapah tubuh mantan kekasih sahabatnya itu. Mereka berjalan meninggalkan aula,
serta menyisakan Agni yang masih menangis dalam peluknya Cakka.
"Cukup, Ni", Cakka melepas dekapan itu dan menatap
wajah Agni dengan penuh perhatian. Tidak seharusnya, cewek manis itu meminta
maaf padanya. Ini semua salahnya. Wajah yang dulu selalu ceria itu berubah
menjadi kusut tanpa semangat, ini semua salahnya.
"Alvin, dia ..."
"Iya, dia alergi sinar matahari kan? Dia gak boleh
lama-lama kena sinar matahari, supaya kepalanya gak sakit dan pingsan
kan?", Cakka berbohong
Tangis itu terhenti. Cakka mengusap rambut Agni dengan penuh
kehangatan. "Maafin aku, aku udah buat kamu kayak gini", lanjutnya.
"Tapi Cak, ..."
Cakka memeluk Agni, membuat gadis itu tak mampu untuk
melanjutkan ucapannya. "Aku udah tahu, kamu gak usah jelasin lagi",
potongnya. Kali ini, dia berkata jujur.
Dia kembali mengusap lembut rambut hitam sebahu milik
kekasihnya. Cakka sudah tahu semuanya. Ucapan Duto tadi seakan menjadi peresmi
dari semua kesimpulan yang berkelebat dalam otaknya. Tapi, cowok pintar itu
tidak bisa mengatakan apa yang ia ketahui itu di depan gadisnya ini.
Ya, dia
tidak mungkin memaksa Agni untuk menjelaskan semua itu padanya. Lagipula ini
permintaan Alvin. Sebagai kekasihnya, bukankah Cakka harus menjaga dan tidak
melukai Agni? Dan sebagai sahabatnya, bukankah Cakka harus menghargai keinginan
Alvin? Ya, dia tidak mau Alvin kecewa karena permintaannya tidak dapat
terpenuhi.
*****
Keheningan meliputi mereka. Dari sepuluh menit yang lalu,
hanya suara perasan handuk hangat yang terdengar.
Shilla membawa Duto masuk ke tenda anak PMR. Dia membawa air
hangat dan handuk lalu mengobati luka lebam yang ada di wajah Duto. Tak ada
suara yang keluar dari mulutnya. Dia hanya diam dan fokus pada kegiatannya.
Sama dengan Shilla, Duto ikut diam. Sebenarnya, dia ingin
pergi meninggalkan Shilla dan segera menemui Alvin. Melihat keadaannya dan
memastikan kalau kondisi rivalnya itu baik-baik saja. Tapi melihat betapa
sungguh-sungguhnya pengobatan yang Shilla berikan, Duto mengurungkan niatnya.
"Gue gak nyangka, Cakka yang kutu buku itu bisa buat lo
babak belur gini", komen Shilla memecahkan keheningan.
Duto membuang nafasnya malas. Sepertinya memang sudah
menjadi hobi orang banyak untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Tak
terkecuali Shilla. Saat ini.
"Gue lagi males aja bales tonjokannya", sahut Duto
yang dilengkapi dengan tawa kecil Shilla. Ekspresi tidak mau kalah cowok itu
terlihat lucu dengan bibir yang berkerucut kedepan.
"Gue gak nyangka cowok galak kayak lo bisa seimut ini.
Hahaha", tawa kecil itu pun berubah menjadi tawa yang menggelikan.
Sungguh. Ini sisi Duto yang baru pertama kali dilihatnya.
"Kayaknya semua cerita Sivia itu bener deh. Elo gak
seangker keliatannya. Pantes aja Sivia bahagia sama lo dulu"
Duto tercekat. Dia menahan tangan Shilla, lalu menatap gadis itu lekat. Sivia bahagia saat
bersamanya?
Tak hanya Duto. Shilla pun ikut tercekat. Dia terlalu sibuk
tertawa sampai keceplosan mengenai cerita sahabatnya itu. "Begonya
gue", gerutu Shilla pelan.
"Dia bahagia sama gue, Shill?"
*****
Usai mandi, Alvin dikejutkan oleh kedatangan Cakka dan Agni
yang langsung sibuk mencari barang-barang miliknya lalu memasukkannya ke dalam
koper serta ransel yang juga miliknya.
"Elo langsung pulang pagi ini ya, Vin", ucap Agni
yang membuat Alvin harus memutar kembali ingatannya. Apa yang terjadi sama gue?
Rio yang juga ikut ambil bagian dalam misi memulangkan Alvin
hanya mengangkat kedua bahunya ketika cowok itu menoleh kearahnya untuk meminta
petunjuk.
"Emang kenapa, Ni?"
"Semalem alergi lo kambuh", bukannya Agni malah
Cakka yang menjawabnya. Alergi? Siapa? Gue? Alergi apaan?
"Oh iya, pake nih jaket lo biar gak kena sinar
matahari", Alvin menangkap lemparan jaket tebalnya dari Cakka.
Alvin masih diam. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang
terjadi saat ini. Seingatnya, tadi malam dia sempat merasa kedinginan dan
melihat bayangan Cakka serta Rio yang terbangun. Tapi setelahnya, Alvin sama
sekali tidak ingat. Apakah mereka sudah mengetahui semuanya? Tapi
kenapa Cakka malah menyebutnya alergi?
Alvin mendesah kecil, "alergi matahari? Gue yakin elo
gak sebodoh itu Cak".
Rio yang mendengar ocehan pelan Alvin ikut mendesah pula.
Sama dengan Alvin, dia juga masih bingung dengan apa yang tengah terjadi.
Beberapa saat yang lalu, ketika Alvin masih berada dalam
kamar mandi, Cakka datang bersama Agni dalam gandengannya. Mereka tak bicara
apa-apa dan langsung mengemasi barang-barang milik Alvin.
Lalu entah mendapat ilham darimana, Cakka mengatakan kalau
Alvin terkena alergi sinar matahari. Rio pernah mendengar rumor itu ketika
mereka masih SMP. Tapi Rio yakin betul kalau itu hanyalah rumor yang dibuat
Agni untuk menghindari kecurigaannya dan juga Cakka. Lalu kenapa Cakka yang
semalam sangat yakin kalau Alvin sakit kanker bisa mengubah pendapatnya, dan
malah mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal?
"Ja ... jadi gue pulang?", seru Alvin yang baru
menyadari kalau ada hal penting yang harus dilakukannya. Ya, pidato penutupan
LDKS.
"Enggak! Pokoknya gue gak boleh pulang sekarang! Gue
harus pidato dulu!", lanjut Alvin yang menaikan nada bicaranya.
"Gak bisa Vin! Gue udah telepon bokap lo buat dateng.
Dan sekarang bokap lo udah di gerbang tol. Gak mungkin kan gue suruh bokap lo
balik pulang ke Jakarta"
"Enggak Ni, gue juga gak mungkin ninggalin LDKS gitu
aja"
"Tapi elo kan masih punya Duto, Vin. Udahlah, yang
penting sekarang itu kesehatan lo. Nanti kalo alergi lo nambah parah
gimana?"
"Enggak Cak! Cukup pas penutupan MOS aja dia gantiin
gue. Ini acara penting buat gue sebagai ketua OSIS. Please ngertiin gue. Gue
mohon", Alvin mendudukan dirinya di pinggir ranjangnya. Bicara dengan nada
tinggi, membuat kepalanya terasa pening. Sepertinya, tadi malam sakitnya
bertambah parah.
Cakka mengusap wajahnya kasar. Agni mendecak malas. Dan Rio
terdiam.
"Gue tau kalian khawatir sama gue. Tapi gue mohon kali
ini aja. Toh nanti gue bisa balik ke rumah sakit buat ngobatin alergi
gue", lanjut Alvin sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak mau kalau sakit
kepalanya kali ini ketahuan. Bisa-bisa dia disekap sampai papanya datang.
"Gue rasa bokapnya Alvin masih kejebak macet deh"
Sontak, Rio mendapat tatapan tak percaya dari ketiga
sahabatnya. Termasuk Alvin yang mengangkat kepalanya.
"Ya, kalian taulah. Sekarang lagi musim liburan. Jadi
ya macet. Iya kan?", lanjut Rio ragu.
"Yaudah gih sana Vin", Cakka putus asa. Percuma
saja dia melarang sifat keras kepala Alvin, apalagi ditambah dengan campur
tangan Rio. Dia tidak akan mampu beradu argumen dengan keduanya. Jangankan
beradu argumen dengan mereka. Dengan Agni sendiri pun dirinya akan kalah.
"Lho kok kamu ngizinin Alvin sih Cak?"
"Udahlah Ni. Bokapnya Alvin juga belom dateng kok.
Lagian cuma pidato doang apa beratnya sih"
"Tapi kalo nanti Alvin kenapa-napa gimana? Kamu mau
sesuatu terjadi sama dia?"
"Ni, ayolah. Toh sekarang dia udah gapapa kok",
Cakka melirik posisi Alvin dan Rio yang asyik menonton pertengkaran sepasang
kekasih.
"Ngapain kalian berdua? Udah sana ke lapangan
apel!", perintah Cakka yang dituruti oleh keduanya.
"Cakka, please lah. Elo sendiri kan yang bilang kalau
kita harus sama-sama jaga kondisi Alvin"
"Udahlah Ni, anggep ini hadiah buat Alvin"
"Tapi Cak, ..."
Apa Cakka bilang, dia kalah kan?
*****
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar