Sabtu, 30 Maret 2013

Lentera Hati *Part 7*

Tadi sebelum kejadian konyol itu terjadi, Alvin tengah mengawasi rapat MPK yang dipimpin oleh Shilla. Selaku ketua OSIS, ia harus melakukan hal itu. Dan Sivia sendiri, ia hanya menunggu di baris belakang hingga rapat itu selesai.

"dia masih rapat. Lagian juga tadi, dia nyuruh gue pulang duluan"

"yaudah, lo pulanglah sana!"

"tapi Al, elo tau kan? Gue gak dijemput kak Iyel, dan gue eum gue ... gue gak tau arah jalan pulang"

"apaan sih lo, Vi? Itu mah lirik lagu"

"gue seriusan Al, ajak gue pulang bareng lo ya? Ya ya ya?"

"gue mau latihan basket, Vi. Gue pasti pulang agak malem"

"gapapa kok"

"tapi Vi, mending lo nunggu Shilla aja. Toh, dia pulangnya bakal lebih cepet dari gue"



"kalo nunggu Shilla, gue nunggu sendirian. Kalo nunggu lo kan, gue ada temennya", liriknya pada Agni yang sedang menunggu di bawah pohon rindang

"yaudahlah, terserah lo!"

Percuma saja kalau ia menolak, sementara Sivia nya masih terus bersikeras. Sivia tersenyum, lalu berlari kecil demi menyamakan langkahnya dengan Alvin yang hampir jauh meninggalkannya.

***

Sejuk. Begitulah yang dirasa dua orang berparas cantik ini. Ternyata guru IPA di masa sekolah dasar itu benar! Pernyataan tentang rasa sejuk akan udara segar menjadi lebih terasa bila kita duduk di bawah pohon rindang ini. Karena karbon dioksida yang diserap dan oksigen yang dihasilkan oleh pepohonan disini. Dengan fokus, Sivia memperhatikan lelaki bernomor punggung tujuh yang nampak berjalan itu. Semangatnya, tatapan matanya yang tajam, ya Tuhan! Apa benar dia sakit?

"jadi, sejak kapan elo kenal sama Alvin?", tanya Agni yang sedari tadi sudah duduk disebelahnya

"hah? Eum kapan yah? Oh ya, waktu itu kita ketemu di rumah sakit. Dulu gue lumpuh, jadi harus terapi disana. Tapi sekarang, gue bisa jalan"

"oh gitu. Vi, menurut lo Alvin itu kayak gimana?"

"Alvin? Eum ... dia baik, ganteng, populer, nyebelin, ya pokoknya dia baiklah"

"elo suka sama dia?", perlahan tapi pasti Agni sudah berhasil membuat Sivia kaget dan terjebak dalam rona merah di wajahnya

"su su suka kata lo?"

"iya. Wajar kali Vi, kalo lo suka sama cowok sekece dia"

"gak taulah, Ni. Gue juga gak ngerti sama gue yang sekarang. Apalagi sama perasaan gue ke Alvin"

"hehe", tawa Agni ringan

"jaga dia, Vi. Jangan buat dia kecewa, jangan buat dia sakit. Karena elo lah satu-satunya cewek di sekolah ini, selain gue, yang bisa deket sama cowok tertutup itu", pesan Agni

Sivia tak menjawab. Alvin beruntung bisa memiliki Agni sebagai sahabatnya.

"elo ngapain disini, Vi? Nunggu siapa?", Sivia mengalihkan pembicaraan

"gue kapten tim basket putri, Vi. Dan nunggu latihan kayak gini, adalah tugas gue. Jadi kalo setiap latihan tim putra, gue duduk disini. Dan Rio juga ngelakuin hal yang sama kalo tim putri yang latihan"

"wah, kompak ya kalian", kagum Sivia         

Menjelang waktu yang terus memutar, Sivia dan Agni telah menemukan chemistri (moga tulisannya bener) diantara mereka. Berpaling dari pada itu, Alvin yang baru saja datang nampak sedang diguyur banyak pertanyaan oleh sang pelatih baru mereka.

"maaf kak, saya telat", sesal Alvin yang sudah rapih dengan atribut basketnya

"siapa namamu?"

"Alvin, kak"

"oh, kau ketua OSIS itu?"

"iya, kak"

"kalau begitu, duduklah. Saya akan memperkenalkan diri"

Alvin menurut. Ia berjalan dengan tatapan sinis yang kini terlontar padanya. Tatapan yang seolah mengatakan: "wah, nyari mati lo bro! Hari pertama udah telat", dan Alvin yang seolah menjawab: "sorry guys, maafin gue".

"nama gue Steve, kalian bisa panggil gue kak Steve. Gue mahasiswa fakultas pendidikan jasmani", perkenalan singkat ala pelatih baru

Karena merasa sudah cukup, Steve langsung membagi kelompok. Yakni Rio, Alvin dkk melawan Cakka, Duto dkk. Pertandingan yang seru! Mengingat ada Alvin dan Duto yang akan bertarung disana. Sementara yang lain sedang bersiap-siap, Duto lebih memilih duduk tenang seraya memandang si lentera hatinya itu. Sivia. Dulu, sekarang, bahkan entah sampai kapan, sosoknyalah yang selalu menghantui Duto.

"separah itu kah salah gue, Vi? Sampe lo gak nganggep gue lagi?", miris Duto dalam hatinya

"woy bro! Ayo atur strategi", tegur Cakka yang langsung membuyarkan Duto dari lamunannya

Dilain sisi, ada Alvin dan Rio yang saling diam. Walau semua sudah siap, tapi mereka masih enggan untuk diskusi tentang permainan apalagi strategi mereka nanti. Si kulit hitam manis itu tengah menatap sinis seseorang yang dianggapnya telah melakukan kesalahan yang besar. Alvin, dialah orang itu. Merasa diperhatikan, akhirnya ia bangkit berdiri dan menghampiri pribadi yang dinamainya sahabat itu.

"sorry bro, gue tau gue salah. Tapi ... ya elo tau kan? OSIS dan basket gak mudah, Yo"

"udahlah Vin, gue capek dengerin omongan lo!"

"Yo, gue janji! Ini yang terakhir, Yo"

"janji? Eh Vin, gue udah peringatin lo kan? Gue udah nyuruh lo milih, Vin. Tapi apa yang lo lakuin? Lo tetep milih dua hal itu kan?"

"Yo, lo gak ngerti! Gue sama OSIS itu kewajiban. Dan gue sama basket itu ... "

"udahlah, capek gue dengerin lo!", Rio berlalu menghampiri Steve yang telah memberi tanda kalau pertandingan akan segera dimulai

"gue sama basket itu kayak gue sama lo, Yo. Kayak persahabatan kita", desah Alvin yang ikut berlalu

Dan kini pertandingan dimulai! Tim Rio melawan tim Cakka, atau lebih serunya tim Alvin melawan tim Duto. Perebutan bola dimenangi oleh Alvin yang memang lebih tinggi dari lawannya saat itu. Lalu ia mengoper ke Rio, namun sayang ... jarak mereka terlalu jauh, hingga akhirnya Duto yang mendapat bola tersebut.

"elo salah, Vin", teriak Rio penuh kesal

Tak menyerah ia berlari, dan hap … Sontak saja bola itu beralih tangan ke Alvin. Kini ia mengoper temannya yang lain, dan yes! Masuk. Hendak mengejar ketertinggalan 1-0 itu, tim Cakka bergegas melempar bola kembali. Pertandingan ini terus berjalan, saling serang itulah strategi kedua tim. Hingga akhirnya mereka berhenti, saat PRIITTT!!! Peluit tanda akhir permainan berbunyi.

***

Gadis yang khas dengan rambutnya yang terikat, serta dagu tirusnya. Kini tengah duduk sembari bersenandung kecil demi menunggu seseorang yang biasa pulang bersamanya. Diwaktu yang sama, lelaki itu sudah rapih dengan kaos serta balutan jaket yang baru saja digantinya. Kali ini ia pulang lebih cepat, karena ada Cakka yang bertugas untuk mengembalikan bola-bola oranye itu ke tempatnya.

"Ify", sontak Rio saat memandang gadis cantik itu duduk di dekat kolam ikan di pinggir halaman parkir sekolah

Apa yang harus dilakukannya? Berlari? Oh tidak! Lelaki sejati tak mungkin melakukan itu. Tapi, menghampirinya? Ah, inilah yang dikatakan orang 'dilema'. Dikala hati sulit memilih, antara iya atau tidak. Dan itulah bagian kecil dari suatu kata 'cinta'.

"ehem", Rio memutuskan untuk menghampiri Ify

"lho? Rio? Elo ngapain kesini?", tanya Ify

Tenanglah! Rio sudah menyiapkan hal ini. Ia tidak akan mengalami kegagapan di depan Ify seperti kali jumpa pertama mereka di perpustakaan. Dilema tadi sedikit memberinya kesempatan berpikir akan perilakunya di hadapan perempuan lembut itu. Ify ... ah, betapa hebatnya dia. Mampu menaklukan hati seorang Rio yang keras tidaklah mudah. Tapi Ify berbeda. Bahkan ia pun sanggup membuat Rio menunggu dan menjadi penggemarnya selama hampir tiga tahun.

"waktu itu kan gue punya utang sama lo, dan sekarang gue mau lunasin semua itu"

"utang?", Ify menatap lelaki di hadapannya itu bingung

"tentang ini", Rio mengeluarkan buku dongeng yang memang belum sempat ia kembalikan ke perpustakaan

"oh, itu. Iya gue inget"

"nah berhubung gue udah selesai baca, giliran lo yang baca sekarang"

Rio menyerahkan dongeng klasik 'pinokio' itu pada Ify. Bukannya menerima, Ify malah memandang lirih semua itu. Jangankan untuk membacanya, melihatnya pun terkadang masih menyisakan isak tangis yang siap meledak. Masa itu, masa dimana perubahan semua aspek di kehidupannya terjadi. Hal tersebutlah yang menyebabkan gadis piano ini belum bisa berinteraksi dengan dongeng-dongeng klasik seperti 'pinokio', yang merupakan kekhasan dari pribadi yang dicintainya dulu. Ah, seandainya dia masih ada disini!

"Fy, elo kenapa? Elo baik-baik aja kan?", khawatir Rio

"ah iya Yo, gue baik kok"

"tapi, kayaknya gue gak bisa baca itu deh. Gue mau elo yang ceritain ke gue", lanjut Ify mendorong sodoran buku tadi kembali pada Rio

"oke, gue ceritain yah. Eum, endingnya aja kan Fy?"

"iya Rio. Emang itu yang gue cari dari dulu"

Rio mulai menerawang, ini adalah kebiasaannya sebelum menceritakan suatu kejadian. Rio hebat! Ia mampu menghipnotis atau malah mampu membawanya masuk kedalam kisah yang diceritakan Rio.

"dan akhirnya dia berhasil! Lho Fy, elo nangis?"

"hah? e e enggak kok Yo, mata gue kelilipan", bohong Ify

"ada. Sesuatu ya Fy? Kenapa? Lo bisa cerita sama gue kok"

"eum Yo, gue mau pulang dulu yah"

Berniat mengalihkan pembicaraan, Ify segera bangkit berdiri untuk meninggalkan Rio. Mengingat ada Duto yang sudah tiba dan nampak dari kejauhan mata Ify. Namun sayang, tangan Rio begitu cepat mencegah kepergian Ify. Ini saatnya!

"gimana kalo kita pulang bareng? Gue bawa motor", cegah Rio

"ta tapi ... "

Seakan memberi tanda, Ify menatap Duto tajam dengan nurani yang berkata: "gimana Duto? Gue bareng sama siapa, kalo kayak gini?". Sementara itu, Duto menatap balik Ify lembut dengan nurani yang berkata: "gapapa, elo bareng dia aja. Gue bisa pulang sendiri". Tak lupa, ia tampilkan senyum menawan pada kembaran yang selalu ada untuknya. Lalu beranjak, meninggalkan Ify dengan Rio. Syukurlah mereka kembar. Kalau tidak? Entahlah, apa yang terjadi dengan percakapan nurani tadi

"tapi apa, Fy?", lagi-lagi Rio dibuat bingung oleh tingkah Ify

"enggak Yo, ayo kita pulang", tak sadar ia menarik tangan Rio yang malah mempercepat desiran napas serta detakan jantung lelaki itu tak beraturan

***

Ternyata momentum seperti tadi, juga dialami oleh Agni dan Cakka. Kini dua sahabat sejak kecil itu sedang berdiri di halaman depan sekolah. Cakka yang sudah merapikan bola bekas latihan tadi, segera menempatkan dirinya disini. Tepat disamping perempuan yang sangat berarti baginya, perempuan yang sudah lama menemaninya.

"kenapa gak pulang?", Agni memecahkan keheningan tadi

"elo sendiri kenapa gak pulang?"

"gue kan lagi nunggu Ozy, elo?"

"gue ... ya gue nunggu lo lah. Nemenin lo"

"oh gitu, eum thanks Cak"

Hening kembali. Sejak kelas XI atau mungkin sejak kejadian hari itu. Hari dimana Agni menerima pernyataan cinta orang lain. Mereka mulai menjauh. Bukan! Bukan raga mereka. Cakka dan Agni memang selalu bertemu, tapi itu berbeda. Jiwa mereka, hati mereka, bahkan pikiran mereka pun terasa dipisahkan oleh jurang jauh nan dalam.

"hubungan lo sama dia, gimana?", kini giliran Cakka yang memulai

"dia? Oh dia. Kita udah putus, Cak"

Putus? Cakka meremas tangannya kuat. Bagaimana mungkin mereka bisa putus? Walau sempat kesal karena si dia berhasil mencuri lentera hatinya, tapi setidaknya rasa kesal itu tak sebesar sekarang. Kenapa Agni tak memberitaunya? Ah seandainya hal itu terjadi, mungkinlah ia akan ... argh entahlah!

"gue putus, karena gue gak suka sama dia. Ada cowok lain yang masih gue tunggu sampe sekarang. Gue gak tau, dia sadar atau enggak. Tapi gue yakin dia juga punya rasa yang sama kayak gue. Jadi gue mutusin buat nunggu cowok itu, sampe dia siap buat nyatain semuanya", lanjut Agni memperjelas

"cowok? Lo rela nunggu cowok itu?"

"iya. Karena mau bagaimana pun, gue seorang cewek. Dan itu berarti gue adalah bunga yang harus menunggu lebah menghampirinya"

Cakka. Apa mungkin dia, cowok itu? Apa mungkin dia lebah yang sedang ditunggu Agni, selama ini? Seakan ingin memperjelas perkataannya -lagi-, Agni melanjutkan ucapannya.

"Cak, inget satu hal! Sebuah bunga gak akan bisa menghindar atau berlari, apabila ada lebah lain yang menghampirinya. Cak, jangan biarkan hal itu terjadi. Bila terus menunggu, bunga itu bisa layu dan menjadi lelah nantinya"

Bodoh! Dengan kata-kata yang begitu nyata, Cakka masih saja tak mengerti. Oh Cakka, Agni sedang menunggumu! Kau pun juga menyukainya, ayo cepat katakan hal itu padanya! Bukannya melembutkan hati untuk menerima gadis yang ada di hadapannya kembali masuk ke dalam relungnya, Cakka malah memantapkan hatinya untuk berpaling. Ia masih saja berpikir kalau cowok itu adalah orang lain, bukan dirinya! Tapi mau bagaimana lagi, Agni pun tak mungkin menyatakan perasaannya terlebih dahulu.

"elo sama Shilla, gimana?", tanya balik Agni agar Cakka tidak mencurigainya

"baik. Kita baik-baik aja"

"kalo emang dia yang terbaik, elo jangan sia-siain dia ya Cak", pesan Agni

"iya, elo tenang aja"

"eum Ni, elo udah catet progress latihan kita tadi kan?", Cakka berusaha mengalihkan pembicaraan yang bila dilanjutkan bisa membuat otaknya terkuras -melebihi saat ujian kimia sekalipun-

"iya, udah kok. Kalian seri"

Selaku kapten basket, Agni dan Rio selalu mencatat progress yang dialami oleh tim satu sama lainnya untuk menentukan strategi tanding nantinya. Itulah peraturan yang mereka buat sendiri. Walau canggung, mereka terus berusaha untuk menikmati nuansa seperti ini. Dimana mata mereka tak berani menyapa, juga wajah mereka yang merona. Dua sahabat itu telah
berubah. Rasa yang semula hanya sekedar sayang dan kasih ala anak kecil, telah berubah menjadi rasa yang ... entah apa itu, sulit untuk dijelaskan.

TIN .. TIN ..!! Suara klakson yang berasal dari sebuah mobil silver itu berbunyi untuk memanggil. Ozy. Dia sudah datang untuk menjemput sang kakak. Entah mengapa, Ozy enggan untuk turun seperti biasanya. Ia lebih memilih diam menunggu Agni masuk dan meninggalkan laki-laki itu. Laki-laki yang selalu membuat Ozy jengkel. Bayangkan saja! Hampir setiap pulang sekolah, Agni mengadu padanya tentang Cakka. Kadang dengan tawa, kadang dengan amarah, namun tak jarang dengan tangisan. Yang jelas, Ozy sama sekali tidak menyukai Cakka.

***

Sudah berkali-kali, gadis itu meniup-niup poninya sendiri. Menunggu seseorang yang janji akan kembali padanya. Ah, lama sekali dia!

"sorry Vi. Tadi ngantri banget", Alvin datang dengan dua es krim coklat ditangannya

"wah, es krim! Makasih ya Al"

Kini mereka sedang duduk berdua di pinggir trotoar depan sekolah, dengan es krim yang mereka jilati. Walau sudah berkali-kali di peringati untuk tidak memanggil Alvin dengan sebutan Al, Sivia tetap saja melakukannya. Dan yang lebih menjengkelkannya lagi, Alvin sudah menyerah untuk mengatasi tingkah gadis yang satu ini.

"ini, elo yang traktir kan?", tanya Sivia memastikan

"ya iyalah, menurut lo?"

"hehehe, sorry. Al, lo tadi main basket? Elo, anak basket?"

"bukan! Ya iyalah, menurut lo?"

"wah, kok bisa yah? Emangnya elo gak ngerasain sakit gitu?"

"maksud lo apaan sih, Vi?"

"udahlah Al, lo jujur aja sama gue. Elo sakit kan? Ditubuh lo itu ada kanker kan?"

"aduh Sivia! Elo tuh kalo ketemu gue pasti keponya kambuh"

Astaga! Kata-kata itu. Kata-kata yang selalu Sivia lontarkan pada Shilla -dulu- (look part 1). Kenapa sekarang hal tersebut berbalik padanya? Oh Alvin ...

"yah, maaf deh", Sivia mengakhiri kekepoannya

"Al", panggil Sivia

"ya? Kenapa?"

"kita naik taksi lagi?"

"iya"

"Al", panggil Sivia -lagi-

"apa?"

"masih lama, ya?"

"iya. Kalo jam segini, taksi jarang lewat"

"Al", Sivia masih memanggil

"kenapa lagi?"

"ongkosnya nanti, elo juga yang bayarin?"

"hem"

"Al", entah ini sudah yang keberapa

"ada apa Sivia?"

"thanks ya"

"ya"

"Al", menyebalkan!

"Via, elo tuh ya ... "

"itu, ada taksi", potongnya

Akhirnya mereka pulang bersama dengan menaiki taksi. Hari ini Tania dan Iyel tak datang menjemput, karena dua sejoli itu sedang melangsungkan makan malam pertama mereka.

***

"hati-hati yah", Iyel membukakan pintu mobilnya untuk wanita anggun yang satu ini

"thanks, Yel", sahut Tania yang tampil cantik dengan dress hitam selututnya serta bandana yang menghiasi kepalanya

Pukul 21.00, waktu yang dibatasi oleh papa saat mereka berpamitan untuk makan malam pada pukul enam sore. Gelap dan dinginnya malam terasa begitu damai nan hangat, kala dua insan itu berhadapan di bawah sinar rembulan. Perlahan, Iyel mulai mengusap rambut hitam panjang itu. Sementara Tania, ia terus berusaha memasang senyum manisnya demi menutupi rasa canggung yang kian menggerogoti. Tidak hanya itu, Iyel memajukan wajahnya. Mendekatkan mulutnya untuk mencapai telinga gadis itu.

"aku mencintaimu", bisik Iyel

Dengan meninggalkan sejuta pertanyaan akan satu pernyataan tadi, lelaki berwajah manis itu meninggalkan Tania yang mematung. Apa itu? Kenapa Iyel mengatakan hal itu? Tenggorokannya tercekit hebat, langkahnya pun bergetar. Inikah rasanya cinta? Inikah rasa orang bertemu dengan sosok yang kelak menjadi jodohnya?

Dibalik semua itu, ada Alvin yang memandang kejadian indah itu dari balik jendela kamarnya. Terlihat seulas senyum yang terukir manis disana. Melihat sang kakak seperti tadi, telah menumbuhkan energi positif dalam tubuhnya. Membuat ia kembali duduk dengan menekuni diary notebooknya. Bagai seorang pelukis profesional, laki-laki oriental itu mulai mengarungi selembar kertas kecil ini dengan goresan yang nantinya membentuk pasangan tangan lelaki pada seorang gadis. Yang bila diimplementasikan dalam kehidupan nyata, merupakan gambaran kejadian barusan. Adegan menawan antara sang kakak dengan teman laki-lakinya.

From: Gabriel
thanks for today, my angel J 
good night, have a nice dream
i will miss you so much

Begitulah pesan singkat dari Gabriel pada pukul 23.00. Membuat rona merah menghiasi wajah lugu Tania.

***

Pelajaran biologi kali ini sedikit berbeda, tak ada rumus apalagi hukum-hukum sains yang melalang buana di atas papan berwarna putih ini. Entah karena sudah terlalu banyak materi yang mereka terima di kelas sebelumnya, tapi kali ini Angel sama sekali belum menyentuh marker untuk menulis soal disana.

"ada yang ingin ibu sampaikan pada kalian"

Walaupun Angel bukan bagian dari kumpulan guru killer di sekolah. Tapi ucapannya tadi, mampu membungkam mulut seisi kelas.

"sehubungan dengan materi biologi kita hampir selesai, maka ibu memiliki tugas untuk kalian"

"yakni membuat suatu karya tulis yang menyangkut tentang pelajaran ini, biologi. Karya tulis tersebut dapat berupa penelitian tentang tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia. Apa pun itu, asalkan menyangkut tiga hal tadi", jelas Angel

"kalau begitu, bentuklah kelompok kalian! Satu kelompok tiga orang", tambahnya

Dengan penuh semangat, Alvin menatap Rio yang tepat duduk di depannya. Namun sosok yang telah dianggapnya sahabat itu malah membentuk kelompok lain bersama Agni. Kalau Agni sama Rio, berarti Cakka ...

"Vin, tinggal gue sama Sivia nih yang belom dapet, elo mau bareng gak?", tawar Cakka saat melihat Alvin yang kebingungan

"eum ... yaudah deh", sahutnya males-malesan

Sama Sivia? Kenapa selalu cewek nyebelin itu yang ngikutin dia? Meski ragu, Alvin nekat menuruti tawaran Cakka. Saat ini latar mereka bukan di kelas, melainkan di ruang laboratorium. Jadi tiap kelompok harus duduk melingkar di meja panjang.

"kalau begitu, ibu berikan waktu 5 menit untuk kalian. Gunakan waktu tersebut untuk menentukan tema apa yang akan kalian buat", pesan Angel yang langsung pergi meninggalkan ruangan

Suara riuh segera meluas. Entah karena membicarakan tema atau karena membicarakan hal-hal anak SMA lainnya. Namun kelompok Alvin dkk lebih memilih untuk melaksanakan hal yang pertama tadi.

"jadi ... "

"kanker, gue pilih kanker otak. Keren kan?", belum selesai Cakka memulai diskusi, Sivia malah memotongnya

"ba ... "

"gak bisa! Jangan kanker! Maksud gue ... ya pokoknya jangan!", kini giliran Alvin yang memotongnya

"kenapa sih Al, emangnya?", tantang Sivia

"ya, gak bolehlah. Masa iya, pelajaran biologi kita malah ngebahas kanker?"

"lho? Emangnya elo gak denger omongannya bu Angel? Katanya, karya tulis tentang makhluk hidup. Nah, kanker itu kan penyakit. Dan yang sakit kanker itu kan manusia. Boleh kan?", Sivia menulis tema 'kanker' di selembar kertas yang akan diberikan ke Angel

"enggak. Pokoknya gak boleh", Alvin merampas kertas tadi

Takut ucapannya akan dipotong lagi, Cakka lebih memilih diam untuk menjadi pendengar yang baik. Dan nampaknya dua bocah itu tak menyadarinya. Mereka berdua masih terus berdebat serta saling rebut kertas yang hanya selembar. 'kenapa sih nih orang? Takut banget kalo anak-anak tau soal kanker? Emangnya apa sih alesan dia buat nyembunyiin semuanya?', gumam Sivia. 'ah rese banget nih cewek! Kalo kita ngebahas kanker, Cakka pasti bakal tau soal gue yang ... aduh, rese banget lo Vi', rutuk Alvin

"ayo kumpulkan", pinta Angel pada kelompok pertama

Karena keasyikan berdebat, Sivia dan Alvin hanya bisa membuka mulut lebar-lebar. Kertas yang tadi ditulis, telah berubah menjadi gumpalan karena rebutan seru beberapa saat yang lalu. Sampai akhirnya, Angel datang dan meminta tema karya tulis pada kelompok ketiga. Kelompok Alvin, Sivia, dan Cakka.

"ini bu", dengan santai si penggemar berat Shilla itu pun menyerahkan selembar kertas pada Angel

"ide yang bagus", komen Angel sambil melirik Alvin

Setelah itu, Sivia dan Alvin segera menatap Cakka dengan pertanyaan yang sama dalam benak mereka. Sadar akan penasaran dua temannya, Cakka menarik ujung bibirnya tipis. Hahaha. Hatinya tertawa geli, kala menatap dua wajah konyol itu.

"temanya apa, Cak?", tanya mereka kompak -tumben-

"maunya?", ledek Cakka sambil merapihkan alat-alat tulisnya untuk pindah kelas karena bel istirahat juga telah berbunyi

"serius nih, Cak", Alvin nampak gelisah

"eum ... kanker otak, Vin"

"hah? Jadi lo dukung gue, Cak?", Sivia bahagia telah memenangkan ini dari Alvin

"sorry Vin, bukannya gue gak setia kawan. Tapi kayaknya, alesan Sivia tadi lebih jelas dibanding alesan lo", Cakka melangkah keluar

Bukan hanya Cakka yang keluar, Agni dan seisi kelas di SMA Jakarta pun berbondong-bondong keluar. Mengingat angka telah menunjukkan angka tepat 12.00, tanda istirahat telah dimulai. Tapi Alvin berbeda. Ia duduk sendiri ketika Sivia bangkit berdiri demi melihat koleksi anak KIR disini.

Lagi-lagi rasa sakit ini menguasai kepalanya. Ini bukan karena kejadian tadi, melainkan karena penyakit belasan tahun yang lalu. Jantungnya berdebar hebat, tangannya juga gemetar dengan keringat dingin yang menghiasi wajah bahkan telapak tangannya. Bibirnya yang semula tertutup rapat, telah ikut bergetar. Tubuhnya yang tegap, ia sandarkan perlahan pada sandaran kursinya.

"ya Tuhan", rasa sakit ini membuatnya menarik rambut hitam itu kuat
Nafasnya yang sesak membuatnya kesulitan untuk meraih jaket yang berada di ujung meja. Dingin. Ia butuh jaket tebal itu! Ia butuh obat yang ada di kantongnya.

"elo baik-baik aja?", Sivia menghampiri Alvin yang nampak sangat pucat dan tubuh yang meringkuk layaknya orang yang meriang

"ja ... jaket ... gu ... ", Alvin tak mampu menyelesaikan kalimatnya

Tanpa memerlukan konfirmasi dari si pemberi perintah, Sivia segera meraih jaket itu lalu mengambil beberapa butir obat yang tergabung dalam wadah yang dapat disebut kapsul itu. Ia menyelimuti Alvin dengan jaket tersebut lalu mengepal tangannya erat. Yang mungkin dapat membuat tubuh itu merasakan kehangatan.

"tenanglah, aku disini", bisik Sivia layaknya tokoh utama dalam drama korea yang ia tonton

Sesaat setelah dua butir obat ditelannya, ia memejamkan matanya perlahan. Tubuhnya begitu lemas, kepalan tangannya pun melemah. Membuat Sivia harus menahan kuat tubuh yang merosot itu.

"ya Tuhan, dia benar-benar sakit kanker", gumam Sivia dengan bulir air mata yang ia pertahankan

"Alvin", panggilnya lembut

Darah. Ya Tuhan, ini apalagi? Hidung Alvin mengeluarkan darah merah pekat yang cukup banyak.

"Al", panggilnya -lagi- dengan tangan yang berbalut tisu demi menghapus tetesan darah yang kian menyebar

Syukurlah hal ini terjadi disaat laboratorium sedang sepi. Dan syukurlah, Sivia dapat menempatkan posisinya tepat disisi Alvin. Saat-saat seperti ini merupakan saat dimana harapan Sivia akan keberadaannya disisi Alvin yang kian erat, itulah yang selalu menjadi dinding-dinding dalam pikirannya.

"argh", erang Alvin yang mulai menegakkan tubuhnya

"thanks Vi", ujarnya pelan

Sivia yang tadinya heboh karena panik, menjadi diam tanpa sepatah kata pun. Wajah pucat tadi, darah merah pekat tadi, tubuh lemas tadi, napas sesak tadi, tangan bergetar tadi. Semua itu seakan sirnah, dilahap tubuh Alvin yang kuat. Tunggu! Mungkin itu hanyalah tubuh Alvin yang rapuh namun dipaksakan untuk kuat.

"Al", lirih Sivia yang sudah tak dapat dibendungnya

Alvin menatap gadis itu lemah. Ia tahu, bagaimana rasanya menjadi Sivia. Perempuan ceria itu pasti akan bingung serta shock tak karuan kala penyakit itu melanda. Disandangnya wajah yang tertunduk itu lekat.

"maafkan aku", dengan penuh ketulusan ia memeluk gadis itu

Aliran air mata sudah mengalir dengan derasnya, membasahi relung yang sempat terluka perih. "maafkan aku", berulang kali Alvin membisikannya pada gadis yang -dulu- menyebalkan. Dan Sivia, ia nampak tak ingin waktu berlalu sedetik pun. Ia ingin waktu berhenti sekarang. Ketika tangan Alvin sanggup menariknya dalam dekapan, tanpa bergetar atau terbasahi oleh keringat dingin. Ketika tubuh Alvin kembali tegap, ketika wajah Alvin kembali segar, dan ketika Sivia dapat demi merasakan detakan jantung lelaki itu, yakni detakan yang sama dengan yang ia rasakan.

***

Nuansa glamour sudah cukup untuk kemarin, saat sepasang manusia ini melaksanakan dinner pertama. Dan kini, hanya ada satu tim musik yang melantunkan lagu klasik romantis. Manis sekali. Bunga serta dedaunan di taman yang menjadi mereka saat ini pun, turut bergabung dengan angin yang mendampinginya.

Si lelaki nampak santai dengan jas casual berwarna hitam serta kaos putih polos di dalamnya, hal itu terasa diimbangi dengan dress pink soft yang dikenakan si gadis.

"kamu suka makanannya?", tanya Iyel sambil memandang Tania yang nampak lahap menghabiskan pasta tuna dalam hidangannya

"iya. Ini enak lho, Yel", sahutnya dengan makanan yang penuh sesak dalam rongga mulut mungil itu

Iyel menatapnya senang. Kejadian makan malam kemarin sungguh membawa perubahan besar dalam hubungan dua orang ini. Salah satunya ialah, bahasa aku-kamu yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Sepertinya rencana Iyel untuk mendekati perempuan yang satu ini akan berjalan mulus.

"kamu suka banget sama tuna ya, Ni? Kenapa gak yang beef aja? Kayak aku, enak lho"

"eum, sebenernya aku punya alesan Yel"

"aku ... alergi daging", lanjut Tania sambil mendekatkan wajahnya pada Iyel yang berada dihadapannya

"hah? Serius kamu, Ni?", Iyel berusaha sekuat tenaga menahan tawa

"iya. Tapi, sst ... kamu jangan bilang siapa-siapa yah", dengan wajah polos Tania mengacungkan ibu jari tepat di hadapan hidungnya

"hahaha", tawa Iyel lepas juga

Suasana romantis pecah begitu saja, ketika tawa Iyel menggema. Jauh lebih menggelegar, dibandingkan alunan musik tadi.

"hahaha, kamu itu lucu banget sih!", Iyel mencubit pipi Tania

"ish, kamu apa-apaan sih Yel", Tania memanyunkan bibirnya

"hahaha, sorry. Abis kamu tuh bikin aku geregetan"

"eum Ni, kamu udah pacaran? Kok bisa sepolos ini sih?", lanjut Iyel yang cenderung meledek

"pacaran? Hehe, belom tuh Yel. Kamu sendiri, udah?"

"aku? Ya ... udah sih, Ni"

"rasanya gimana, Yel?", benar-benar polos

"banyak Ni, kayak nano-nano"

"tapi sebenernya, ada satu mantan aku yang nyaris tak terganti", lanjut Iyel membuat Tania penasaran

"siapa Yel?"

Tak sungkan, Iyel mulai mengisahkan kenangan itu. Membuka kembali memorinya akan mantan terindah. Sebut saja perempuan itu, Pricilla. Perempuan lembut yang menjadi lentera hati Iyel.

Lima tahun bersama, itulah yang membuat sosok Gabriel merasakan betapa sulitnya melupakan. Mereka mulai berkenalan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, kemudian terjalinlah kata persahabatan diantara mereka. Sampai akhirnya, Iyel memberanikan diri untuk menyatakan perasaanya saat mereka naik ke kelas dua. Cinta monyet. Awalnya, mereka memang beranggapan seperti itu. Namun itu salah! Cinta itu berkembang dengan usia mereka yang mendewasa. Masa putih abu-abu pun, mereka lalui bersama.

Hingga pada akhirnya, kelulusan dideklarasikan pada mereka. Yang berarti akan ada perpisahan besar di antara dua insan ini. Iyel, dia mendapat beasiswa ke Singapore. Dan kesempatan ini tidaklah mungkin ditolaknya. Walau mengalami 'long distance relationship', mereka tetap berusaha untuk bertahan. Meski terkadang ada rasa jenuh yang melanda, tapi kekuatan cinta tetap menjadi benteng yang teguh.

From: _My Girl_
sorry boy! Maafin aku

To: _My Girl_
what do you say?

From: _My Girl_
aku akan bertunangan dalam minggu ini. Mami sama papi yang jodohin aku sama calonku itu. Aku udah menolaknya, tapi ... maafkan aku

To: _My Girl_
sudahlah, ini bukan salahmu. Dari awal, akulah yang salah. Tak pantas, bila seorang laki-laki meninggalkan wanita yang luar biasa sepertimu untuk menunggu. Aku harap, kamu bisa membuka lembaran baru bersamanya

From: _My Girl_
love you

To: _My Girl_
love you too, sweatheart

Dan semenjak itu, tak ada komunikasi apapun hingga detik ini. Iyel memang sudah mengetahui ini sejak awal. Sejak orangtua Pricilla yang terkesan tidak menyukainya, karena telah meninggalkan anak perempuannya begitu saja. Tapi apa boleh buat, Tuhan pasti memiliki rencana yang jauh lebih baik. Lima tahun bersamanya memanglah jauh berbeda dengan dua tahun tanpa sosoknya. Dan kini, Tania hadir dengan caranya yang istimewa. Tak sadar, dirinya yang polos mampu untuk menyapu bayangan Pricilla. Perbedaan satu tahun diantara mereka, itulah yang membuat Iyel sadar kalau Tania adalah pribadi yang harus ia jaga. Mungkinkah lebih dari itu? Ah, biar Tuhan sajalah yang menjawab, lewat aluran sang waktu yang kian melaju.

TO BE CONTINUED


huaaaaahahahaha :D ciyus miapa?? ini puanjang buaaaangeeettt kaaan??? hahahaha :D
gimaana?? kurang gereget yaa?? hehehe :D
kalo misalnya minggu depan, aku gak post... berarti aku lagi gak mood buat nuliss
soalnya sampe detik ini, Lentera Hati part 8 nya belom kelar ditulis.. hehehe :D
tapi tenang ajaaa,, saya akan berusaha *fighting* wkwkwk

oh iyaaaa *nepokjidat*
pemeran Steve si pelatih baru itu adalah nama orang yang suka mentionan sama ce Tasya (kalo gak salah)
jadi daripada bingung pilih couple buat ceSya, mending saya pake dia ajaa hehe :D

FYI,...
aku post cerbung ini seminggu sekali, kalo gak sabtu ya minggu.. hari libur gituu *jadwalpadet*
cerbung ini partnya ada banyakkk,, gak tau ada berapa,, liat nanti aja yaaa
aku gak tau secara rinci gimana proses orang yang sakit kanker otak, jadi maaf aja kalo apa yang dialami Alvin disini agak anehh -_- hhehehe :D

See You On Next Part

go go follow: @brendafiona_
mention for follback

Thanks For Read :)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

yahhh.. belum di lanjut lagi nih..ayoo lanjut lagi dong..






numpang nitipin link gue yaa..kalau mau berkunjung juga boleh..
obat kista tradisional.
obat pelangsing herbal.
thanks before sis..