Menjelang
beberapa minggu diselenggarakannya liga basket, SMA Jakarta telah
menyiapkan diri demi mempertahankan kemenangannya. Rio, si kapten
berkulit hitam manis ini sedang mengabsen para anggota ekskulnya.
"Cakka"
"hadir sob"
"Alvin"
"..."
"Alvin!"
"kalian gak liatAlvin?", tanya Rio yang baru sadar akan ketidakhadiran anggotanya yangsatu itu
"Ni, elo tau diadimana?", Agni, hanya dialah yang tau dimana Alvin
"hah?
Eum, kayaknya dia gakmasuk sekolah deh. Kan latihan ini pas pulang
sekolah. Dan emangnya tadi eloliat Alvin di kelas?", jelas Agni
"oh iya! Bener tuh Yo, kataAgni. Dari tadi kan, si sipit itu gak keliatan", timpal Cakka
"emang dia selalu kayak gitukan. Paling jarang ikut latihan, tapi paling jadi andelan pas kitatanding", cercah Duto
"apaan sih lo! Kita gakngomong sama lo, jangan ikut campur!", kesal Agni
"ini fakta, Ni", lawanDuto
"elo tuh ya, nyari gara-garasama kita", Cakka telah siap dengan tinju kuatnya
"lagian Duto juga bener kan?Alvin emang kayak gitu. Dan di pertandingan nanti, dia bakal duduk di bangkucadangan", lanjutnya
"tapi Yo, Alvin kan..."
"hargain gue, Ni. Gue,kapten disini"potong Rio
Duto
tersenyum kecil. Bukan karena Alvin -rivalnya- haruskalah bersaing
dengannya, tanpa bertanding terlebih dahulu. Melainkan karenasatu hal
yang lain, satu hal yang masih menjadi rahasia di lubuk pikirannya.
Agni
tak bisa berbuat apa-apa. Kalau Rio sudah berkataseperti itu, pastilah
ia sedang keras kepala dengan amarahnya. Demikian jugaCakka yang hanya
bisa menurut kemauan sang kapten.
Ketika suasana masih
ricuh dengan berbagai saran dalammusyawarah tentang strategi tanding,
datanglah Steve dengan seragam olahraganyayang lengkap dengan kalungan
pluit di lehernya.
"hai guys! Gimana? List pemain kita udah siap?",tanya Steve
"ini kak"
Steve
menerima selembaran kertas itu dari tangan Rio.Dilihatnya sekilas,
namun tak ada nama Alvin yang bertengger disana. Apa merekasemua tau
kondisi Alvin yang sebenarnya? Untuk memastikan tanda tanya tadi,Steve
memilih untuk menyuruh mereka -tim inti- basket latihan terlebih dahulu.
Lalumengajak Rio untuk bicara sebentar di sebuah kursi yang di teduhkan
pohonrindang, jaraknya pun tak terlalu jauh dari lapangan.
"ini list pemain inti buat nanti?", tanya Steve
"iya kak. Kenapa? Ada yang salah?"
"enggak, tapi apa elo yakin? Maksud gue, Alvin. Kalianmain tanpa Alvin?"
"oh dia. Ini keputusan bersama kak, dia bakal duduk dibangku cadangan"
"lho? Kenapa?"
Rio
mulai menceritakannya, tentang keterlambatan Alvin danhal menyebalkan
lainnya. Steve mendengar itu serius, dan ia pun dapat menarikkesimpulan
sederhana. Yakni, Rio tidak menyukai Alvin. Entah apa yang
menjadialasannya, tapi rasa tak suka itu sungguhlah jelas tergambar
dalam air mukaRio.
#FlashBackOn#
Tiga siswa berseragam putih-biru itu nampak begitu riangdengan bola basket yang menjadi rebutan mereka saat ini.
"hah, capek gue", ujar salah seorang yang ternyataperempuan
"Ah payah lo, Ni", Cakka tak terima
Akhirnya
mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.Alvin, yang menjadi bagian
mereka masih diam mengatur napasnya yang timbultenggelam. Sesak. Itulah
yang ia rasakan saat ini.
BRAK! Tiba-tiba saja sebuah
kertas mendarat di hadapanlelaki berkulit putih langsat itu. Kertas yang
berisikan pengumuman tentangsiapa yang menjadi kapten tim basket
sekolah.
"elo apa-apaan sih, Vin?", gertak Rio yang nampakkecewa dengan hasil pengumuman tersebut
"ada apa sih, bro?", Cakka memungut kertastersebut kemudian membacanya sejenak
"dia!
Dia yang disebut pengkhianat, Cak! Di depan kita,dia selalu bilang mau
dukung gue jadi kapten. Tapi sekarang? Dia! Dia yang jadikapten itu",
marah Rio dengan telunjuk kanan yang terarah terus ke Alvinyang masih
setia dalam posisi berdirinya yang menyandar pada tiang ring
basket.Kesal dengan sikap Alvin yang acuh tak acuh padanya, Rio malah
menarik kerahseragam putih itu kasar lalu mulai memakinya. Alvin tak
menjawab sedikit pun,rasa sesak tadi kian berkembang menjadi sakit yang
menjalar di kepalanya.
"cukup Yo!", Agni segera melerai mereka berduasaat tangan Rio melayang ke wajah Alvin
"kenapa, Ni? Kenapa lo malah bela dia? Dia pengkhianatNi, dia pengecut!"
PRAK!
Tangan Agni mendarat mulus di pipi Rio. Ia tausemuanya, penyebab Alvin
yang menjadi kapten basket. Tapi Alvin malahmemintanya untuk bungkam,
dan Agni akan menuruti hal tersebut. Ia membopongtubuh Alvin menuju UKS.
Cakka. Bagai patung, ia menonton adegan demi adegantadi.
#FlashBackOff#
***
Linangan
air mata itu telah terhapuskan, oleh setumpukkenyamanan yang mereka
timbulkan. Walau belum memiliki hubungan yang jelas, duasejoli itu tetap
pada sifat dan sikap mereka yang sebelumnya. Menganggap semuakejadian
tadi sebagai pemanis yang sungguh nikmat.
"udah mau jam 10, sebentar lagi dokter dateng buatperiksa gue"
"elo tunggu di luar aja, gapapa kan?"
"iya, tenang aja", sahut Sivia lembut
Langkahnya mulai menjauh, meninggalkan lelaki yang sedangduduk itu sendirian. Belum sampai menggapai gagang pintu,
"thanks Vi"
"love you", lanjut Alvin
Wajah
keduanya memerah. Hah, seandainya Sivia bisa menjawab'ya' tadi.
Pastilah mereka sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Siviamembalasnya
dengan senyuman manis yang tak terungkapkan, lalu melanjutkanniatnya.
"kak Tania?", sapa Sivia yang buru-buru menutuppintu
"hai Vi", jawab Tania sambil menghapus bulir airmatanya yang tadi mengalir deras
"kakak nangis?", dengan lembut ia mengusap wajahputih itu
"enggak, kakak gak papa kok"
Mengalihkan
pembicaraan, Tania membahas Iyel yang tadi pamituntuk pulang lebih dulu
karena tak ingin membuat mama khawatir. Walau begitu,air muka mahasiswa
kedokteran itu masih memancarkan rasa sedih nan lirih. DanSivia sama
sekali tak tau apa penyebab semua itu.
"oh iya, eum kamu
belum makan kan Vi? Gimana kalo kitamakan di kantin rumah sakit? Tadi
kakak sama kakakmu gak jadi beli makanan.Ayo", ajak Tania
Makanan
beserta minuman telah disediakan di hadapan mereka.Tapi hal itu sangat
tak berdampak bagi Tania, ia hanya menonton adegan Siviayang begitu
lahap dalam mengunyah makanannya. Ada satu hal yang jauh lebihpenting
dari sekedar makan kali ini, satu hal yang harus ia bicarakan
denganSivia.
"kakak denger semuanya", Tania berhasilmenghentikan laju makan orang yang ada di hadapannya
"dulu,
kakak dan yang lainnya selalu berpikir tentangcara untuk membantu Alvin
bertahan hidup. Dulu kami selalu berpikir cara untukmemfasilitasi Alvin
layaknya anak normal lainnya, cara menumbuhkan hal positifdalam
dirinya. Dan itu berhasil, Vi. Alvin bisa bertahan lebih dari 10
tahun,sampai saat ini", lagi-lagi masalah ini yang terarahkan pada
dirinya
"tapi, kami tak sepenuhnya berhasil. Kami
memangberhasil membuat dia menjadi seperti apa yang kami pikirkan, namun
ada satu halyang kami lewatkan. Alvin penderita kanker yang masih kecil
telah beranjakdewasa, ia sudah berada di masa remajanya. Masa yang akan
membuatnya sulituntuk hidup normal"
"Sivia, ini bukan
pemaksaan untuk kamu. Tapi bukankahkamu tau bagaimana kondisi Alvin? Dia
sakit keras, Vi. Usianya mungkin tak akanlama lagi, namun dia juga
seorang remaja yang pantas merasakan manisnya jatuhcinta"
"kakak
tau ini sulit, tapi kakak harap apa yang menjadipilihan kamu nantinya
merupakan hal yang baik untuk kalian berdua", Taniamenggapai tangan
Sivia dan menatap mata bulat itu tajam
"kalau kamu sayang
sama dia, sayangilah dia sebagaimanamestinya. Jika dia hanyalah seorang
teman yang tak memiliki hal spesial, bantudia untuk melupakanmu", tangan
itu terasa begitu erat diiringi suaratangis yang kian mengalir
"jangan
khawatir, kak. Aku dan Alvin, kita akanbaik-baik aja. Aku emang gak tau
mau pilih apa, yang jelas apapun itu aku akanberusaha untuk berada di
sisi Alvin. Sampai akhir itu benar-benar datang",sahut Sivia bijak
Kini,
aliran benda cair itu terasa begitu mengharukan. Taniayang harus
memperjuangkan keinginan sang adik untuk menjadikan seseorang yangada di
hadapannya sebagai lentera pengisi hatinya, juga Sivia yang
mengalamidilema luar biasa akan sosok yang baru saja tampil dengan
pesona yang kuat.Berat dan sangat sulit! Tapi itulah hidup yang harus
mereka jalani satu samalainnya.
Dan semenjak saat inilah,
Tania mulai mengajarkan Sivia akanbeberapa cara yang mungkin lebih
tepatnya tips dalam menangani Alvin padasaat-saat nan memilukan itu
terjadi. Hal yang sederhana, namun akan sangatberguna bagi diri Sivia
pribadi.
***
Kepulan asap telah membumbung
tinggi, ditemani oleh bunyipenggorengan panas dengan minyak yang tertata
di dalamnya. Buliran saus merahpun menjadi penambah yang lezat. Demi
seorang anak yang tak memiliki setetesdarah dari dirinya, ibu muda ini
sela untuk bergelut dengan api kecil untukmemanggang salmon kesukaan
putri tirinya sampai akhirnya jam menunjukkan pukulsatu siang, waktu
yang tepat untuk makan.
"ini, makanlah", ibu menyajikan sepiring salmonpanggang yang lengkap dengan saus lezatnya
"wah,
enaknya. Makasih ya, bu", Tasya yang tadinyasedang memfokuskan diri
pada laptopnya segera berpaling karena aroma yangmerasuki pernapasannya
"bagaimana? Kau suka?", tanya ibu yang menontonbetapa cepatnya anak itu memakan salmon buatannya
"tentu. Salmon buatan ibu kan salmon yang paling enak!I like it", dua acungan jempol pun tertuju pada ibu
Wanita
yang masih berusia tiga puluh tujuh tahun itutersenyum simpul, memiliki
seorang putri yang usianya hanya terpaut lima belastahun darinya ialah
hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalampikirannya. Cara Tuhan
yang pada akhirnya menjadi indah, hal tersebutlah yangmembawa wanita ini
dapat menempati rumah yang begitu megah bersama dengan anaksemata
wayangnya.
"tapi ibu kok disini? Enggak ke rumah sakit?",tanya Tasya sambil menghapus sisa makanan di area mulutnya
"tidak. Ibu ingin disini, menemanimu di rumah ini"
"bagaimana makan malamnya? Maaf, ibu dan yang lainnyatak bisa menuruti rencana kita. Apa dia datang?", lanjutnya
"iya, dia datang. Tidak masalah, sudahlah tak usah kitabahas lagi"
"maaf", lirih seorang ibu
"sudahlah bu, jangan begitu. Aku sayang ibu",Tasya bangkit berdiri lalu memeluk ibunya dari belakang
Posisi
mereka yang berada dalam lingkaran meja makan seolahmembawa mereka ke
malam itu, malam dimana meja ini penuh dengan banyak sajian.Sebenarnya,
ada hal lain yang ingin sekali ibu ungkapkan. Karena selama tigabelas
tahun bersama, mereka berdua sangatlah jarang melakukan
percakapansederhana ini.
"hubungan kamu dan dia, sudah berapa lama?", tanyaibu sambil menyentuh lembut kepala Tasya yang tersandarkan di pundaknya
"tahun
ini adalah tahun keempat untuk kami. Dan bilaTuhan berkehendak, juga
papa, Tania, dan ibu merestui, kami akan menikah tahunini", Tasya
kembali duduk di sebelah ibu
"tentu saja, kami akan merestui kalian. Apapun itu,asalkan hal tersebut baik untukmu. Ibu akan selalu mendukungmu"
Sekarang
giliran Tasya yang menarik kedua ujung bibirnya,membentuk lekukan yang
begitu indah. Tasya yang dulu masih berusia sembilantahun, telah
berganti menjadi rupa yang sungguh menawan. Tasya yang dulumenentang
keras hubungan dia dengan papanya, menjadi seorang anak yang
mulaimengasihi ibu tirinya. Dan sepertinya, ini merupakan saat yang
tepat untukmembahas beberapa hal tadi.
"apa kau menyayangi ibu, nak?", pertanyaan yangpaling sederhana
"pasti.
Walau ibu bukanlah mama, tapi ibu yang sudahmembantu papa untuk
membesarkanku. Jadi tak ada alasan untuk tidak menyukaiibu"
"walau ibu adalah orang asing untukmu? Walau ibu adalahwanita yang tak pernah melahirkanmu?"
Tasya
mengangguk, mengangguk, dan mengangguk. Sejak beberapatahun yang lalu,
ia telah memutuskan untuk menganggap ibu sebagai ibu yangmengasihnya dan
ibu yang dikasihinya. Namun bukan mama yang telah mempunyaitempat
tersendiri dikehidupannya.
"lalu Alvin? Apa kamu juga mengasihinya?"
Ia
terdiam. Alvin? Entahlah! Rasa mengasihi itu pernah ada,tapi enggan
untuk tumbuh dan berbuah. Kasih itu seakan tertutupi oleh duritajam yang
terus mencabik, menambah luka yang memang belum terobati. Banyak
halyang menyebabkannya, dan sangatlah tak mungkin untuk
mendefinisikannya satu persatu.
"kau masih tak menyukainya, kau masih ..."
"aku
gak tau, bu. Aku sayang sama dia, tapi Alvin? Akugak tau cara untuk
menyayanginya, dan aku gak tau sampai kapan hal iniberakhir"
#FlashBackOn#
"dokter!
Tolong suami saya, dia pingsan dok. Hidungnyamengeluarkan banyak darah,
saya mohon obatilah dia", pinta seorang wanitakala pintu dibukakan
untuknya
Saat ini, hujan deras sedang melanda desa kecil
di kotaMalang. Wanita itu ialah Sandra, salah satu warga yang memohon
pada Vano-seorang dokter- yang sedang menjalankan dinasnya. Walau sudah
tepat pada katatengah malam, klinik yang menjadi lahan prakteknya pun
telah tutup sampai esokpagi. Namun Sandra, dia bukanlah orang biasa bagi
Vano. Dia adalah istri darisahabatnya -Nathan-.
Jadi,
mereka berdua segera menuju rumah Nathan lalu melihatpribadi yang
tergolek lemah itu dengan bergegas menghampirinya. Denganstetoskop dan
alat kedokteran seadanya, Vano mulai memeriksa keadaan sahabatnyaitu.
Nathan
merupakan teman sepermainannya sejak mereka duduk dibangku SMA, kuliah
pun mereka sama-sama mengambil jurusan kedokteran. TapiNathan berbeda,
ia lebih memilih mundur dan mengasingkan diri di desa terpencilini. Tak
ada yang tau, apa alasan lelaki itu. Sampai akhirnya, pada
beberapaminggu yang lalu Vano mengambil tugas dinasnya sebagai dokter di
desa ini. Danhal tersebutlah yang menjadi jalan Tuhan untuk
mempertemukan mereka berdua.
"ada apa?", tanya Nathan yang terlihat baik-baiksaja
"Nathan, apa yang kau lakukan? Berbaringlah! Biardokter Vano yang memeriksamu", kesal Sandra
"sudahlah
Sandra, ini sudah malam. Alvin akan terbangunkalau kau bicara sekeras
itu", Nathan melirik seorang bayi yang tengahterbaring diranjangnya
"Vano, pulanglah! Bukankah kau harus membuka klinikmubesok pagi?", tanyanya yang lebih terdengar seperti perintah
"kau yakin? Wajahmu pucat", ragu Vano
"aku baik-baik saja"
Belum
sempat Vano meraih gagang pintu kamar itu, tiba-tibasaja terdengar
bunyi yang cukup keras. Suatu bunyi yang dibarengi jeritanseorang wanita
juga tangisan bayi yang baru terbangun.
"sudah aku bilang, dia sakit! Ayo bantulah dia",marah Sandra pada Vano yang mematung sambil menatap semua adegan ini
Mereka
melaju dengan pesat, hingga tibalah mereka di sebuahrumah sakit besar
di kota Malang. Vano yang masih tampil dengan stetoskopnyanampak
berusaha keras untuk menahan tangis pedihnya, begitu pula Sandra
yangbersama dengan bayi berumur satu tahun dalam gendongannya.
"tunggu disini! Biar saya dan dokter bedah yangmengurus semuanya", pesan Vano yang bergegas memasuki ruang Unit GawatDarurat
Baju
berwarna hijau toska yang lengkap dengan master jugapenutup kepala
telah siap di masing-masing tubuh mereka, para suster dan paradokter
yang bertugas kali ini. Dini pagi hari ialah saat-saat palingmendebarkan
bagi pria yang baru saja beberapa bulan yang lalu menamatkankuliahnya,
yang saat ini harus membantu dokter bedah yang akan menjalanioperasi
besar dan sungguh penting dalam diri sahabatnya sendiri.
Detik
mulai bergerak membentuk menit, dan menit pun takkalah cepatnya
membentuk kan. Kemudian terbukalah pintu ruang operasi, danterjadilah
jabat tangan antara dosen dengan mantan muridnya.
"tak sia-sia kau menamatkan kuliahmu. Selamat atas operasipertama untukmu ini"
Vano
tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada sangsahabat yang masih
tergolek lemah di atas ranjang, ia mulai mendekat kala parasuster dan
dokter tadi meninggalkan mereka.
"hai! Apa kabar?", sapa Nathan yang baru sempat bertemudengan Vano walau sudah beberapa minggu mereka tinggal di satu desa
"yang jelas, jauh lebih baik dengan kabarmu",sahut Vano sambil mendudukan dirinya disisi kanan Nathan
"bayi itu, dia anakmu?", tanyanya
"ya, kau sendiri bagaimana? Maaf, aku tak bisa datangsaat itu. Jujur, aku dan keluarga turut berdukacita", sahut Nathan
Setelah
menerima gelar dokter, istri dari Vano mengalamikecelakaan yang
menyebabkannya meninggal. Vano terpukul. Oleh sebab itu, ia
melampiaskansemua itu dengan caranya. Yakni bekerja sekeras mungkin dan
sejauh mungkin. Tanpasadar itulah yang mempertemukannya dengan Nathan.
Vano pergi ke desa itu,dengan meninggalkan dua putrinya yang masih kecil
bersama dengan omanya diJakarta.
"kau sudah tau semuanya?
Hah! Inilah alasankumeninggalkan kuliah itu. Aku sakit parah, Van.
Kanker otak ada dalam tubuhku.Usiaku takkan lama lagi"
"apa yang kau bicarakan? Kau pasti akan baik-baik saja.Bayi itu pasti akan dibesarkan olehmu"
"tidak! Aku tak sanggup bertahan sampai sejauhitu"
"bolehkah
aku minta bantuanmu? Tolong jaga Sandra, diawanita yang tulus. Meski
perbedaan usia kita dengannya jauh, tapi dia adalahwanita yang cukup
dewasa. Dan Alvin, argh anak itu!", air mata mulaimengalir di pipi
Nathan
"aku sempat baca, soal kanker yang menjadi turunan.
Danapabila hal itu terjadi padanya, bantu dia. Tolong dia semampumu,
jaga diaVano", pinta Nathan dengan sesak yang begitu menguasainya
Waktu
berlaku. Tepat disaat matahari terbit, Nathan menghembuskannapas
terakhirnya dalam pelukan sang istri dan tangan yang masih
sanggupmerengkuh Alvin. Vano menarik napasnya berat, mengingat ada tugas
berat yangmenantinya. Namun Sandra memilih pindah ke rumah ibunya di
Malang ini, daripadapergi bersama Vano ke Jakarta.
#FlashBackOff#
***
Suasana
sore ini terasa mencekam, angin berhembus pertandahujan seakan menjadi
penghiasnya. Arus lalu lintas rawan macet pada saat pulangkantor ini
juga tak kalah mencekam, apalagi suara klakson yang memadu padanmenjadi
suatu kesatuan paduan suara nan bising. Dan satu lagi! Abu bahan
bakarminyak yang terkandung dalam asap atau lebih tepatnya polusi udara.
"kalo
nunggu di halte gini, kapan pulangnya? Argh, kakIyel! Gue pulang naik
apa nih? Macet, taksi sama angkot juga jarang. Sekalinyaada? Huh! Penuh
sesak padat merayap", gerutu Sivia sekenanya
Karena sang
kakak pulang lebih dahulu, Sivia terpaksa haruspulang sendiri dengan
kendaraan umum. Sebenarnya Tania sudah menawarkan antasanmobilnya, namun
ia menolaknya. Bagaimana mungkin diri seorang remaja itu tegauntuk
merepotkan pribadi yang tenga dirundung masalah tentang adiknya?
Jaditerpaksalah ia disini. Berdiri sambil berharap akan ada kendaraan
umum yangtidak penuh, lewat di hadapannya.
Bosan menunggu,
menunggu, dan menunggu. Sivia mengalihkandirinya untuk melewati gang
yang -mungkin- merupakan jalan pintas yang akanmembantunya dalam
mengatasi saat rumit ini. Dengan bermodalkan nekad nan luarbiasa, ia
mulai melangkahkan kali melewati gang tersebut. Biasa saja, tak adayang
jauh berbeda. Kalau disana terang, disini pun terang. Hanya saja,
disinisepi. Bahkan terlalu sepi bagi pemudi sepertinya. Sesekali dirinya
mendengarderap langkah, suatu bunyi yang berbeda dengannya. Dan itu pun
mendekat, dekat,dan berhenti. Tak terdengar sama sekali. Tidak
dengannya, tidak pula denganSivia.
"tolong!", teriak Sivia yang langsung berlariterbirit-birit demi meloloskan diri
Dua
pemuda yang berperawakan besar dengan usia yang lebihtua darinya ikut
berdiri, mereka adalah dua preman yang berusaha melakukan gakburuk pada
Sivia. Berhasil! Akhirnya si gadis itu berhasil keluar dari gang,namun
ia masih berteriak keluar dari gang, namun ia masih berteriak
denganjeritan minta tolong. Suasana di jalan itu memang ramai, namun
mereka yangberada disini enggan untuk menolongnya. Mereka tau, Sivia
dalam bahaya. Tapimereka juga tau, akan ada bahaya lain untuk mereka
yang bersedia menolongSivia. Dua preman tersebut sudah familiar di
lingkungan ini, dua orang yangselalu mengganggu warga sekitar. Sudah
berkali-kali menghubungi pihak berwajib,tapi mereka selalu berhasil
meloloskan diri.
"tolong gue!", jeritannya semakin melengkingditengah degupan jantungnya
Berbeda
dengan mereka yang mengabaikan gadis ini, tansilahseorang pemuda. Entah
siapa, tapi dia yang saat ini masih mengenakan bajubasket turut berlari
disisi Sivia. Mereka berdua tak saling menatap, matakeduanya terpasang
fokus ke depan.
"ikuti gue", seru pemuda itu
Tanpa
ambil pusing, Sivia menurutinya. Ia mengikuti jejakpemuda tadi.
Meliak-liuk, tak paham akan apa yang dilaluinya. Satu gak yangmembuatnya
yakin, yaitu pemuda tadi. Seorang semua yang belum ia lihat rupawujudya
saat ini, hanya saja ada rasa liar yang membuatnya nyaman dalampimpinan
pemuda itu.
"kemarilah", ia menarik Sivia ke dalam dekapannya
Layaknya
sepasang kekasih, mereka begitu mesra berpelukanseperti ini. Di tempat
yang daparat disebut persembunyian, mereka nampak begitudekat. Sampai
akhirnya,
"Duto", kaget Sivia kala menatap wajah lelakitersebut
Remaja itu saling melepaskan diri, dan dengan sigap Dutomenutup rapat mulut Sivia.
"diamlah, mereka masih mengejar kita", bisik Dutoperlahan
"tunggu-tunggu! Ah, gue tau. Ini pasti rencana lo kan?Mereka pasti orang suruhan lo kan?"
"Duto,
gue tuh udah tau semua rencana bodoh lo itu.Udahlah! Rencana lo ini
biasa banget. Elo pasti yang kirim mereka buat ganggugue. Terus nanti
elo dateng, dan gue akan berterimakasih dan maafin elokan?", berulang
kali Duto menyanggah juga memperingatkan namun Sivia tetapsaja berbicara
sambil berjalan mundur guna menjauhi Duto
Hup! Beberapa
langkah tadi telah berhasil mengeluarkan Siviadari tempat persembunyia.
Membuat dua preman yang nampak kebingungan mencarimereka segera berlari
mendekati Sivia yang terlihat masih dalam ocehannya.
"Sivia, gue mohon. Majulah, gue gak lagi buat rencanaapa pun. Ayo Vi, maju", pinta Duto
"enggak! Gue gak akan ketipu sama kebohongan lo ini,gak akan lagi", sahut Sivia kasar
Nyaris
saja tubuh Sivia tersentuh oleh sidik lari keduapenjahat tadi, tapi
tenanglah! Masih ada Duto yang menampiknya. Bagai seorangyang
profesional, ia melayangkan kerjakan tangan andalannya tepat di
wajahsalah seorang diantara mereka. Lalu ia pun menyuruh Sivia pergi,
berlarisebisanya. Awalnya Sivia menolak, dan akhirnya ia menuruti
perintah Duto tadi.Dia berlari meninggalkan lelaki itu, sendirian
menghadapi dua preman tadi.
Andai saja waktu bisa diulang
kembali, andai saja gak ituterjadi. Pastilah Duto tak akan berkelahi
melawan dua orang bertubuh jelas itu.Seandainya saja, Sivia mau
mempercayai Duto. Argh! Percuma. Tak ada gunanyamenggerutu karena sebuah
penyesalan. Toh, Duto masih disana. Melawan merekasemampunya,
menghindar sebisanya, dan berjuang demi seorang Sivia yang tadisama
sekali tidak mempercayainya.
"pulanglah! Aku baik-baik saja", ujar Duto dengankepala yang tertunduk
"enggak. Kita akan pulang bareng, aku gak akanninggalin kamu dengan kondisi babak belur gini", Sivia menggapai pipilebam itu
"aku bilang, pulanglah! Aku baik-baik saja", ulangDuto
Aku-kamu.
Bahasa yang sudah melekat, walau berulang kalidilepas. Sederhana. Namun
itulah mereka, dua mantan kekasih yang masihmenyimpan rasa yang sama
TO BE CONTINUED
NAAAHH ... aneh yah?? satu part ada dua flashback -_-
gimana? adakah diantara kalian yang bingung? kalo ada, silahkan melambaikan tangan ke kamera *plaakkk*
oke!
daripada kamera ancur berantakan karena wajah kalian *justkid* mending
kalian kasih tau aku, dimana letak kebingungan kalian :D
kalo soal flashback keluarganya Alvin masih ada lanjutannya, tapi nanti di beberapa part akhir :)
oke deh..!!! daripada berbasa-basi dan ngemeng
tidak jelas, mending aku nunggu komen dari kalian yekan?? hehe :D di
tunggu komenannya :)
oh iya..!! selamat menanti hasil ujiannya yahh kawan :)
kalo kalian udah usaha sebaik mungkin, dan berdoa sesungguh mungkin.. kalian pasti jadi yang terbaik kok :)
See You On Next Part
go go follow: @brendafiona_
mention for follback
Thanks For Read :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar