Sabtu, 27 April 2013

Lentera Hati *Part 10*

Menjelang beberapa minggu diselenggarakannya liga basket, SMA Jakarta telah menyiapkan diri demi mempertahankan kemenangannya. Rio, si kapten berkulit hitam manis ini sedang mengabsen para anggota ekskulnya.

"Cakka"

"hadir sob"

"Alvin"

"..."

"Alvin!"



"kalian gak liatAlvin?", tanya Rio yang baru sadar akan ketidakhadiran anggotanya yangsatu itu

"Ni, elo tau diadimana?", Agni, hanya dialah yang tau dimana Alvin

"hah? Eum, kayaknya dia gakmasuk sekolah deh. Kan latihan ini pas pulang sekolah. Dan emangnya tadi eloliat Alvin di kelas?", jelas Agni

"oh iya! Bener tuh Yo, kataAgni. Dari tadi kan, si sipit itu gak keliatan", timpal Cakka

"emang dia selalu kayak gitukan. Paling jarang ikut latihan, tapi paling jadi andelan pas kitatanding", cercah Duto

"apaan sih lo! Kita gakngomong sama lo, jangan ikut campur!", kesal Agni

"ini fakta, Ni", lawanDuto

"elo tuh ya, nyari gara-garasama kita", Cakka telah siap dengan tinju kuatnya

"lagian Duto juga bener kan?Alvin emang kayak gitu. Dan di pertandingan nanti, dia bakal duduk di bangkucadangan", lanjutnya

"tapi Yo, Alvin kan..."

"hargain gue, Ni. Gue,kapten disini"potong Rio

Duto tersenyum kecil. Bukan karena Alvin -rivalnya- haruskalah bersaing dengannya, tanpa bertanding terlebih dahulu. Melainkan karenasatu hal yang lain, satu hal yang masih menjadi rahasia di lubuk pikirannya.

Agni tak bisa berbuat apa-apa. Kalau Rio sudah berkataseperti itu, pastilah ia sedang keras kepala dengan amarahnya. Demikian jugaCakka yang hanya bisa menurut kemauan sang kapten.

Ketika suasana masih ricuh dengan berbagai saran dalammusyawarah tentang strategi tanding, datanglah Steve dengan seragam olahraganyayang lengkap dengan kalungan pluit di lehernya.

"hai guys! Gimana? List pemain kita udah siap?",tanya Steve

"ini kak"

Steve menerima selembaran kertas itu dari tangan Rio.Dilihatnya sekilas, namun tak ada nama Alvin yang bertengger disana. Apa merekasemua tau kondisi Alvin yang sebenarnya? Untuk memastikan tanda tanya tadi,Steve memilih untuk menyuruh mereka -tim inti- basket latihan terlebih dahulu. Lalumengajak Rio untuk bicara sebentar di sebuah kursi yang di teduhkan pohonrindang, jaraknya pun tak terlalu jauh dari lapangan.

"ini list pemain inti buat nanti?", tanya Steve

"iya kak. Kenapa? Ada yang salah?"

"enggak, tapi apa elo yakin? Maksud gue, Alvin. Kalianmain tanpa Alvin?"

"oh dia. Ini keputusan bersama kak, dia bakal duduk dibangku cadangan"

"lho? Kenapa?"

Rio mulai menceritakannya, tentang keterlambatan Alvin danhal menyebalkan lainnya. Steve mendengar itu serius, dan ia pun dapat menarikkesimpulan sederhana. Yakni, Rio tidak menyukai Alvin. Entah apa yang menjadialasannya, tapi rasa tak suka itu sungguhlah jelas tergambar dalam air mukaRio.

#FlashBackOn#

Tiga siswa berseragam putih-biru itu nampak begitu riangdengan bola basket yang menjadi rebutan mereka saat ini.

"hah, capek gue", ujar salah seorang yang ternyataperempuan

"Ah payah lo, Ni", Cakka tak terima

Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.Alvin, yang menjadi bagian mereka masih diam mengatur napasnya yang timbultenggelam. Sesak. Itulah yang ia rasakan saat ini.

BRAK! Tiba-tiba saja sebuah kertas mendarat di hadapanlelaki berkulit putih langsat itu. Kertas yang berisikan pengumuman tentangsiapa yang menjadi kapten tim basket sekolah.

"elo apa-apaan sih, Vin?", gertak Rio yang nampakkecewa dengan hasil pengumuman tersebut

"ada apa sih, bro?", Cakka memungut kertastersebut kemudian membacanya sejenak

"dia! Dia yang disebut pengkhianat, Cak! Di depan kita,dia selalu bilang mau dukung gue jadi kapten. Tapi sekarang? Dia! Dia yang jadikapten itu", marah Rio dengan telunjuk kanan yang terarah terus ke Alvinyang masih setia dalam posisi berdirinya yang menyandar pada tiang ring basket.Kesal dengan sikap Alvin yang acuh tak acuh padanya, Rio malah menarik kerahseragam putih itu kasar lalu mulai memakinya. Alvin tak menjawab sedikit pun,rasa sesak tadi kian berkembang menjadi sakit yang menjalar di kepalanya.

"cukup Yo!", Agni segera melerai mereka berduasaat tangan Rio melayang ke wajah Alvin

"kenapa, Ni? Kenapa lo malah bela dia? Dia pengkhianatNi, dia pengecut!"

PRAK! Tangan Agni mendarat mulus di pipi Rio. Ia tausemuanya, penyebab Alvin yang menjadi kapten basket. Tapi Alvin malahmemintanya untuk bungkam, dan Agni akan menuruti hal tersebut. Ia membopongtubuh Alvin menuju UKS. Cakka. Bagai patung, ia menonton adegan demi adegantadi.

#FlashBackOff#

***

Linangan air mata itu telah terhapuskan, oleh setumpukkenyamanan yang mereka timbulkan. Walau belum memiliki hubungan yang jelas, duasejoli itu tetap pada sifat dan sikap mereka yang sebelumnya. Menganggap semuakejadian tadi sebagai pemanis yang sungguh nikmat.

"udah mau jam 10, sebentar lagi dokter dateng buatperiksa gue"

"elo tunggu di luar aja, gapapa kan?"

"iya, tenang aja", sahut Sivia lembut

Langkahnya mulai menjauh, meninggalkan lelaki yang sedangduduk itu sendirian. Belum sampai menggapai gagang pintu,

"thanks Vi"

"love you", lanjut Alvin

Wajah keduanya memerah. Hah, seandainya Sivia bisa menjawab'ya' tadi. Pastilah mereka sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Siviamembalasnya dengan senyuman manis yang tak terungkapkan, lalu melanjutkanniatnya.

"kak Tania?", sapa Sivia yang buru-buru menutuppintu

"hai Vi", jawab Tania sambil menghapus bulir airmatanya yang tadi mengalir deras

"kakak nangis?", dengan lembut ia mengusap wajahputih itu

"enggak, kakak gak papa kok"

Mengalihkan pembicaraan, Tania membahas Iyel yang tadi pamituntuk pulang lebih dulu karena tak ingin membuat mama khawatir. Walau begitu,air muka mahasiswa kedokteran itu masih memancarkan rasa sedih nan lirih. DanSivia sama sekali tak tau apa penyebab semua itu.

"oh iya, eum kamu belum makan kan Vi? Gimana kalo kitamakan di kantin rumah sakit? Tadi kakak sama kakakmu gak jadi beli makanan.Ayo", ajak Tania

Makanan beserta minuman telah disediakan di hadapan mereka.Tapi hal itu sangat tak berdampak bagi Tania, ia hanya menonton adegan Siviayang begitu lahap dalam mengunyah makanannya. Ada satu hal yang jauh lebihpenting dari sekedar makan kali ini, satu hal yang harus ia bicarakan denganSivia.

"kakak denger semuanya", Tania berhasilmenghentikan laju makan orang yang ada di hadapannya

"dulu, kakak dan yang lainnya selalu berpikir tentangcara untuk membantu Alvin bertahan hidup. Dulu kami selalu berpikir cara untukmemfasilitasi Alvin layaknya anak normal lainnya, cara menumbuhkan hal positifdalam dirinya. Dan itu berhasil, Vi. Alvin bisa bertahan lebih dari 10 tahun,sampai saat ini", lagi-lagi masalah ini yang terarahkan pada dirinya

"tapi, kami tak sepenuhnya berhasil. Kami memangberhasil membuat dia menjadi seperti apa yang kami pikirkan, namun ada satu halyang kami lewatkan. Alvin penderita kanker yang masih kecil telah beranjakdewasa, ia sudah berada di masa remajanya. Masa yang akan membuatnya sulituntuk hidup normal"

"Sivia, ini bukan pemaksaan untuk kamu. Tapi bukankahkamu tau bagaimana kondisi Alvin? Dia sakit keras, Vi. Usianya mungkin tak akanlama lagi, namun dia juga seorang remaja yang pantas merasakan manisnya jatuhcinta"

"kakak tau ini sulit, tapi kakak harap apa yang menjadipilihan kamu nantinya merupakan hal yang baik untuk kalian berdua", Taniamenggapai tangan Sivia dan menatap mata bulat itu tajam

"kalau kamu sayang sama dia, sayangilah dia sebagaimanamestinya. Jika dia hanyalah seorang teman yang tak memiliki hal spesial, bantudia untuk melupakanmu", tangan itu terasa begitu erat diiringi suaratangis yang kian mengalir

"jangan khawatir, kak. Aku dan Alvin, kita akanbaik-baik aja. Aku emang gak tau mau pilih apa, yang jelas apapun itu aku akanberusaha untuk berada di sisi Alvin. Sampai akhir itu benar-benar datang",sahut Sivia bijak

Kini, aliran benda cair itu terasa begitu mengharukan. Taniayang harus memperjuangkan keinginan sang adik untuk menjadikan seseorang yangada di hadapannya sebagai lentera pengisi hatinya, juga Sivia yang mengalamidilema luar biasa akan sosok yang baru saja tampil dengan pesona yang kuat.Berat dan sangat sulit! Tapi itulah hidup yang harus mereka jalani satu samalainnya.

Dan semenjak saat inilah, Tania mulai mengajarkan Sivia akanbeberapa cara yang mungkin lebih tepatnya tips dalam menangani Alvin padasaat-saat nan memilukan itu terjadi. Hal yang sederhana, namun akan sangatberguna bagi diri Sivia pribadi.

***

Kepulan asap telah membumbung tinggi, ditemani oleh bunyipenggorengan panas dengan minyak yang tertata di dalamnya. Buliran saus merahpun menjadi penambah yang lezat. Demi seorang anak yang tak memiliki setetesdarah dari dirinya, ibu muda ini sela untuk bergelut dengan api kecil untukmemanggang salmon kesukaan putri tirinya sampai akhirnya jam menunjukkan pukulsatu siang, waktu yang tepat untuk makan.

"ini, makanlah", ibu menyajikan sepiring salmonpanggang yang lengkap dengan saus lezatnya

"wah, enaknya. Makasih ya, bu", Tasya yang tadinyasedang memfokuskan diri pada laptopnya segera berpaling karena aroma yangmerasuki pernapasannya

"bagaimana? Kau suka?", tanya ibu yang menontonbetapa cepatnya anak itu memakan salmon buatannya

"tentu. Salmon buatan ibu kan salmon yang paling enak!I like it", dua acungan jempol pun tertuju pada ibu

Wanita yang masih berusia tiga puluh tujuh tahun itutersenyum simpul, memiliki seorang putri yang usianya hanya terpaut lima belastahun darinya ialah hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalampikirannya. Cara Tuhan yang pada akhirnya menjadi indah, hal tersebutlah yangmembawa wanita ini dapat menempati rumah yang begitu megah bersama dengan anaksemata wayangnya.

"tapi ibu kok disini? Enggak ke rumah sakit?",tanya Tasya sambil menghapus sisa makanan di area mulutnya

"tidak. Ibu ingin disini, menemanimu di rumah ini"

"bagaimana makan malamnya? Maaf, ibu dan yang lainnyatak bisa menuruti rencana kita. Apa dia datang?", lanjutnya

"iya, dia datang. Tidak masalah, sudahlah tak usah kitabahas lagi"

"maaf", lirih seorang ibu

"sudahlah bu, jangan begitu. Aku sayang ibu",Tasya bangkit berdiri lalu memeluk ibunya dari belakang

Posisi mereka yang berada dalam lingkaran meja makan seolahmembawa mereka ke malam itu, malam dimana meja ini penuh dengan banyak sajian.Sebenarnya, ada hal lain yang ingin sekali ibu ungkapkan. Karena selama tigabelas tahun bersama, mereka berdua sangatlah jarang melakukan percakapansederhana ini.

"hubungan kamu dan dia, sudah berapa lama?", tanyaibu sambil menyentuh lembut kepala Tasya yang tersandarkan di pundaknya

"tahun ini adalah tahun keempat untuk kami. Dan bilaTuhan berkehendak, juga papa, Tania, dan ibu merestui, kami akan menikah tahunini", Tasya kembali duduk di sebelah ibu

"tentu saja, kami akan merestui kalian. Apapun itu,asalkan hal tersebut baik untukmu. Ibu akan selalu mendukungmu"

Sekarang giliran Tasya yang menarik kedua ujung bibirnya,membentuk lekukan yang begitu indah. Tasya yang dulu masih berusia sembilantahun, telah berganti menjadi rupa yang sungguh menawan. Tasya yang dulumenentang keras hubungan dia dengan papanya, menjadi seorang anak yang mulaimengasihi ibu tirinya. Dan sepertinya, ini merupakan saat yang tepat untukmembahas beberapa hal tadi.

"apa kau menyayangi ibu, nak?", pertanyaan yangpaling sederhana

"pasti. Walau ibu bukanlah mama, tapi ibu yang sudahmembantu papa untuk membesarkanku. Jadi tak ada alasan untuk tidak menyukaiibu"

"walau ibu adalah orang asing untukmu? Walau ibu adalahwanita yang tak pernah melahirkanmu?"

Tasya mengangguk, mengangguk, dan mengangguk. Sejak beberapatahun yang lalu, ia telah memutuskan untuk menganggap ibu sebagai ibu yangmengasihnya dan ibu yang dikasihinya. Namun bukan mama yang telah mempunyaitempat tersendiri dikehidupannya.

"lalu Alvin? Apa kamu juga mengasihinya?"

Ia terdiam. Alvin? Entahlah! Rasa mengasihi itu pernah ada,tapi enggan untuk tumbuh dan berbuah. Kasih itu seakan tertutupi oleh duritajam yang terus mencabik, menambah luka yang memang belum terobati. Banyak halyang menyebabkannya, dan sangatlah tak mungkin untuk mendefinisikannya satu persatu.

"kau masih tak menyukainya, kau masih ..."

"aku gak tau, bu. Aku sayang sama dia, tapi Alvin? Akugak tau cara untuk menyayanginya, dan aku gak tau sampai kapan hal iniberakhir"

#FlashBackOn#

"dokter! Tolong suami saya, dia pingsan dok. Hidungnyamengeluarkan banyak darah, saya mohon obatilah dia", pinta seorang wanitakala pintu dibukakan untuknya

Saat ini, hujan deras sedang melanda desa kecil di kotaMalang. Wanita itu ialah Sandra, salah satu warga yang memohon pada Vano-seorang dokter- yang sedang menjalankan dinasnya. Walau sudah tepat pada katatengah malam, klinik yang menjadi lahan prakteknya pun telah tutup sampai esokpagi. Namun Sandra, dia bukanlah orang biasa bagi Vano. Dia adalah istri darisahabatnya -Nathan-.

Jadi, mereka berdua segera menuju rumah Nathan lalu melihatpribadi yang tergolek lemah itu dengan bergegas menghampirinya. Denganstetoskop dan alat kedokteran seadanya, Vano mulai memeriksa keadaan sahabatnyaitu.

Nathan merupakan teman sepermainannya sejak mereka duduk dibangku SMA, kuliah pun mereka sama-sama mengambil jurusan kedokteran. TapiNathan berbeda, ia lebih memilih mundur dan mengasingkan diri di desa terpencilini. Tak ada yang tau, apa alasan lelaki itu. Sampai akhirnya, pada beberapaminggu yang lalu Vano mengambil tugas dinasnya sebagai dokter di desa ini. Danhal tersebutlah yang menjadi jalan Tuhan untuk mempertemukan mereka berdua.

"ada apa?", tanya Nathan yang terlihat baik-baiksaja

"Nathan, apa yang kau lakukan? Berbaringlah! Biardokter Vano yang memeriksamu", kesal Sandra

"sudahlah Sandra, ini sudah malam. Alvin akan terbangunkalau kau bicara sekeras itu", Nathan melirik seorang bayi yang tengahterbaring diranjangnya

"Vano, pulanglah! Bukankah kau harus membuka klinikmubesok pagi?", tanyanya yang lebih terdengar seperti perintah

"kau yakin? Wajahmu pucat", ragu Vano

"aku baik-baik saja"

Belum sempat Vano meraih gagang pintu kamar itu, tiba-tibasaja terdengar bunyi yang cukup keras. Suatu bunyi yang dibarengi jeritanseorang wanita juga tangisan bayi yang baru terbangun.

"sudah aku bilang, dia sakit! Ayo bantulah dia",marah Sandra pada Vano yang mematung sambil menatap semua adegan ini

Mereka melaju dengan pesat, hingga tibalah mereka di sebuahrumah sakit besar di kota Malang. Vano yang masih tampil dengan stetoskopnyanampak berusaha keras untuk menahan tangis pedihnya, begitu pula Sandra yangbersama dengan bayi berumur satu tahun dalam gendongannya.

"tunggu disini! Biar saya dan dokter bedah yangmengurus semuanya", pesan Vano yang bergegas memasuki ruang Unit GawatDarurat

Baju berwarna hijau toska yang lengkap dengan master jugapenutup kepala telah siap di masing-masing tubuh mereka, para suster dan paradokter yang bertugas kali ini. Dini pagi hari ialah saat-saat palingmendebarkan bagi pria yang baru saja beberapa bulan yang lalu menamatkankuliahnya, yang saat ini harus membantu dokter bedah yang akan menjalanioperasi besar dan sungguh penting dalam diri sahabatnya sendiri.

Detik mulai bergerak membentuk menit, dan menit pun takkalah cepatnya membentuk kan. Kemudian terbukalah pintu ruang operasi, danterjadilah jabat tangan antara dosen dengan mantan muridnya.

"tak sia-sia kau menamatkan kuliahmu. Selamat atas operasipertama untukmu ini"

Vano tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada sangsahabat yang masih tergolek lemah di atas ranjang, ia mulai mendekat kala parasuster dan dokter tadi meninggalkan mereka.

"hai! Apa kabar?", sapa Nathan yang baru sempat bertemudengan Vano walau sudah beberapa minggu mereka tinggal di satu desa

"yang jelas, jauh lebih baik dengan kabarmu",sahut Vano sambil mendudukan dirinya disisi kanan Nathan

"bayi itu, dia anakmu?", tanyanya

"ya, kau sendiri bagaimana? Maaf, aku tak bisa datangsaat itu. Jujur, aku dan keluarga turut berdukacita", sahut Nathan

Setelah menerima gelar dokter, istri dari Vano mengalamikecelakaan yang menyebabkannya meninggal. Vano terpukul. Oleh sebab itu, ia melampiaskansemua itu dengan caranya. Yakni bekerja sekeras mungkin dan sejauh mungkin. Tanpasadar itulah yang mempertemukannya dengan Nathan. Vano pergi ke desa itu,dengan meninggalkan dua putrinya yang masih kecil bersama dengan omanya diJakarta.

"kau sudah tau semuanya? Hah! Inilah alasankumeninggalkan kuliah itu. Aku sakit parah, Van. Kanker otak ada dalam tubuhku.Usiaku takkan lama lagi"

"apa yang kau bicarakan? Kau pasti akan baik-baik saja.Bayi itu pasti akan dibesarkan olehmu"

"tidak! Aku tak sanggup bertahan sampai sejauhitu"

"bolehkah aku minta bantuanmu? Tolong jaga Sandra, diawanita yang tulus. Meski perbedaan usia kita dengannya jauh, tapi dia adalahwanita yang cukup dewasa. Dan Alvin, argh anak itu!", air mata mulaimengalir di pipi Nathan

"aku sempat baca, soal kanker yang menjadi turunan. Danapabila hal itu terjadi padanya, bantu dia. Tolong dia semampumu, jaga diaVano", pinta Nathan dengan sesak yang begitu menguasainya

Waktu berlaku. Tepat disaat matahari terbit, Nathan menghembuskannapas terakhirnya dalam pelukan sang istri dan tangan yang masih sanggupmerengkuh Alvin. Vano menarik napasnya berat, mengingat ada tugas berat yangmenantinya. Namun Sandra memilih pindah ke rumah ibunya di Malang ini, daripadapergi bersama Vano ke Jakarta.

#FlashBackOff#

***

Suasana sore ini terasa mencekam, angin berhembus pertandahujan seakan menjadi penghiasnya. Arus lalu lintas rawan macet pada saat pulangkantor ini juga tak kalah mencekam, apalagi suara klakson yang memadu padanmenjadi suatu kesatuan paduan suara nan bising. Dan satu lagi! Abu bahan bakarminyak yang terkandung dalam asap atau lebih tepatnya polusi udara.

"kalo nunggu di halte gini, kapan pulangnya? Argh, kakIyel! Gue pulang naik apa nih? Macet, taksi sama angkot juga jarang. Sekalinyaada? Huh! Penuh sesak padat merayap", gerutu Sivia sekenanya

Karena sang kakak pulang lebih dahulu, Sivia terpaksa haruspulang sendiri dengan kendaraan umum. Sebenarnya Tania sudah menawarkan antasanmobilnya, namun ia menolaknya. Bagaimana mungkin diri seorang remaja itu tegauntuk merepotkan pribadi yang tenga dirundung masalah tentang adiknya? Jaditerpaksalah ia disini. Berdiri sambil berharap akan ada kendaraan umum yangtidak penuh, lewat di hadapannya.

Bosan menunggu, menunggu, dan menunggu. Sivia mengalihkandirinya untuk melewati gang yang -mungkin- merupakan jalan pintas yang akanmembantunya dalam mengatasi saat rumit ini. Dengan bermodalkan nekad nan luarbiasa, ia mulai melangkahkan kali melewati gang tersebut. Biasa saja, tak adayang jauh berbeda. Kalau disana terang, disini pun terang. Hanya saja, disinisepi. Bahkan terlalu sepi bagi pemudi sepertinya. Sesekali dirinya mendengarderap langkah, suatu bunyi yang berbeda dengannya. Dan itu pun mendekat, dekat,dan berhenti. Tak terdengar sama sekali. Tidak dengannya, tidak pula denganSivia.

"tolong!", teriak Sivia yang langsung berlariterbirit-birit demi meloloskan diri

Dua pemuda yang berperawakan besar dengan usia yang lebihtua darinya ikut berdiri, mereka adalah dua preman yang berusaha melakukan gakburuk pada Sivia. Berhasil! Akhirnya si gadis itu berhasil keluar dari gang,namun ia masih berteriak keluar dari gang, namun ia masih berteriak denganjeritan minta tolong. Suasana di jalan itu memang ramai, namun mereka yangberada disini enggan untuk menolongnya. Mereka tau, Sivia dalam bahaya. Tapimereka juga tau, akan ada bahaya lain untuk mereka yang bersedia menolongSivia. Dua preman tersebut sudah familiar di lingkungan ini, dua orang yangselalu mengganggu warga sekitar. Sudah berkali-kali menghubungi pihak berwajib,tapi mereka selalu berhasil meloloskan diri.

"tolong gue!", jeritannya semakin melengkingditengah degupan jantungnya

Berbeda dengan mereka yang mengabaikan gadis ini, tansilahseorang pemuda. Entah siapa, tapi dia yang saat ini masih mengenakan bajubasket turut berlari disisi Sivia. Mereka berdua tak saling menatap, matakeduanya terpasang fokus ke depan.

"ikuti gue", seru pemuda itu

Tanpa ambil pusing, Sivia menurutinya. Ia mengikuti jejakpemuda tadi. Meliak-liuk, tak paham akan apa yang dilaluinya. Satu gak yangmembuatnya yakin, yaitu pemuda tadi. Seorang semua yang belum ia lihat rupawujudya saat ini, hanya saja ada rasa liar yang membuatnya nyaman dalampimpinan pemuda itu.

"kemarilah", ia menarik Sivia ke dalam dekapannya

Layaknya sepasang kekasih, mereka begitu mesra berpelukanseperti ini. Di tempat yang daparat disebut persembunyian, mereka nampak begitudekat. Sampai akhirnya,

"Duto", kaget Sivia kala menatap wajah lelakitersebut

Remaja itu saling melepaskan diri, dan dengan sigap Dutomenutup rapat mulut Sivia.

"diamlah, mereka masih mengejar kita", bisik Dutoperlahan

"tunggu-tunggu! Ah, gue tau. Ini pasti rencana lo kan?Mereka pasti orang suruhan lo kan?"

"Duto, gue tuh udah tau semua rencana bodoh lo itu.Udahlah! Rencana lo ini biasa banget. Elo pasti yang kirim mereka buat ganggugue. Terus nanti elo dateng, dan gue akan berterimakasih dan maafin elokan?", berulang kali Duto menyanggah juga memperingatkan namun Sivia tetapsaja berbicara sambil berjalan mundur guna menjauhi Duto

Hup! Beberapa langkah tadi telah berhasil mengeluarkan Siviadari tempat persembunyia. Membuat dua preman yang nampak kebingungan mencarimereka segera berlari mendekati Sivia yang terlihat masih dalam ocehannya.

"Sivia, gue mohon. Majulah, gue gak lagi buat rencanaapa pun. Ayo Vi, maju", pinta Duto

"enggak! Gue gak akan ketipu sama kebohongan lo ini,gak akan lagi", sahut Sivia kasar

Nyaris saja tubuh Sivia tersentuh oleh sidik lari keduapenjahat tadi, tapi tenanglah! Masih ada Duto yang menampiknya. Bagai seorangyang profesional, ia melayangkan kerjakan tangan andalannya tepat di wajahsalah seorang diantara mereka. Lalu ia pun menyuruh Sivia pergi, berlarisebisanya. Awalnya Sivia menolak, dan akhirnya ia menuruti perintah Duto tadi.Dia berlari meninggalkan lelaki itu, sendirian menghadapi dua preman tadi.

Andai saja waktu bisa diulang kembali, andai saja gak ituterjadi. Pastilah Duto tak akan berkelahi melawan dua orang bertubuh jelas itu.Seandainya saja, Sivia mau mempercayai Duto. Argh! Percuma. Tak ada gunanyamenggerutu karena sebuah penyesalan. Toh, Duto masih disana. Melawan merekasemampunya, menghindar sebisanya, dan berjuang demi seorang Sivia yang tadisama sekali tidak mempercayainya.

"pulanglah! Aku baik-baik saja", ujar Duto dengankepala yang tertunduk

"enggak. Kita akan pulang bareng, aku gak akanninggalin kamu dengan kondisi babak belur gini", Sivia menggapai pipilebam itu

"aku bilang, pulanglah! Aku baik-baik saja", ulangDuto

Aku-kamu. Bahasa yang sudah melekat, walau berulang kalidilepas. Sederhana. Namun itulah mereka, dua mantan kekasih yang masihmenyimpan rasa yang sama

TO BE CONTINUED



NAAAHH ... aneh yah?? satu part ada dua flashback -_-
gimana? adakah diantara kalian yang bingung? kalo ada, silahkan melambaikan tangan ke kamera *plaakkk*
oke! daripada kamera ancur berantakan karena wajah kalian *justkid* mending kalian kasih tau aku, dimana letak kebingungan kalian :D
kalo soal flashback keluarganya Alvin masih ada lanjutannya, tapi nanti di beberapa part akhir :)
oke deh..!!! daripada berbasa-basi dan ngemeng tidak jelas, mending aku nunggu komen dari kalian yekan?? hehe :D di tunggu komenannya :)

oh iya..!! selamat menanti hasil ujiannya yahh kawan :)
kalo kalian udah usaha sebaik mungkin, dan berdoa sesungguh mungkin.. kalian pasti jadi yang terbaik kok :)

See You On Next Part

go go follow: @brendafiona_
mention for follback

Thanks For Read :)

Tidak ada komentar: