Suasana
sore ini terasa mencekam, angin berhembus pertandahujan seakan menjadi
penghiasnya. Arus lalu lintas rawan macet pada saat pulangkantor ini
juga tak kalah mencekam, apalagi suara klakson yang memadu padanmenjadi
suatu kesatuan paduan suara nan bising. Dan satu lagi! Abu bahan
bakarminyak yang terkandung dalam asap atau lebih tepatnya polusi
udara.
"kalo nunggu di halte gini, kapan pulangnya? Argh,
kakIyel! Gue pulang naik apa nih? Macet, taksi sama angkot juga
jarang. Sekalinyaada? Huh! Penuh sesak padat merayap", gerutu Sivia
sekenanya
Karena sang kakak pulang lebih dahulu, Sivia
terpaksa haruspulang sendiri dengan kendaraan umum. Sebenarnya Tania
sudah menawarkan antasanmobilnya, namun ia menolaknya. Bagaimana
mungkin diri seorang remaja itu tegauntuk merepotkan pribadi yang tenga
dirundung masalah tentang adiknya? Jaditerpaksalah ia disini. Berdiri
sambil berharap akan ada kendaraan umum yangtidak penuh, lewat di
hadapannya.
Bosan menunggu, menunggu, dan menunggu. Sivia
mengalihkandirinya untuk melewati gang yang -mungkin- merupakan jalan
pintas yang akanmembantunya dalam mengatasi saat rumit ini. Dengan
bermodalkan nekad nan luarbiasa, ia mulai melangkahkan kali melewati
gang tersebut. Biasa saja, tak adayang jauh berbeda. Kalau disana
terang, disini pun terang. Hanya saja, disinisepi. Bahkan terlalu sepi
bagi pemudi sepertinya. Sesekali dirinya mendengarderap langkah, suatu
bunyi yang berbeda dengannya. Dan itu pun mendekat, dekat,dan berhenti.
Tak terdengar sama sekali. Tidak dengannya, tidak pula denganSivia.
"tolong!", teriak Sivia yang langsung berlari terbirit-birit demi meloloskan diri
Dua
pemuda yang berperawakan besar dengan usia yang lebihtua darinya ikut
berdiri, mereka adalah dua preman yang berusaha melakukan gakburuk pada
Sivia. Berhasil! Akhirnya si gadis itu berhasil keluar dari gang,namun
ia masih berteriak keluar dari gang, namun ia masih berteriak
denganjeritan minta tolong. Suasana di jalan itu memang ramai, namun
mereka yang berada disini enggan untuk menolongnya. Mereka tau, Sivia
dalam bahaya. Tapimereka juga tau, akan ada bahaya lain untuk mereka
yang bersedia menolong Sivia. Dua preman tersebut sudah familiar di
lingkungan ini, dua orang yang selalu mengganggu warga sekitar. Sudah
berkali-kali menghubungi pihak berwajib,tapi mereka selalu berhasil
meloloskan diri.
"tolong gue!", jeritannya semakin melengkingditengah degupan jantungnya
Berbeda
dengan mereka yang mengabaikan gadis ini, tampilah seorang pemuda.
Entah siapa, tapi dia yang saat ini masih mengenakan bajubasket turut
berlari disisi Sivia. Mereka berdua tak saling menatap, mata keduanya
terpasang fokus ke depan.
"ikuti gue", seru pemuda itu
Tanpa
ambil pusing, Sivia menurutinya. Ia mengikuti jejakpemuda tadi.
Meliak-liuk, tak paham akan apa yang dilaluinya. Satu gak yang
membuatnya yakin, yaitu pemuda tadi. Seorang semua yang belum ia lihat
rupa wujudya saat ini, hanya saja ada rasa liar yang membuatnya nyaman
dalam pimpinan pemuda itu.
"kemarilah", ia menarik Sivia ke dalam dekapannya
Layaknya
sepasang kekasih, mereka begitu mesra berpelukan seperti ini. Di
tempat yang daparat disebut persembunyian, mereka nampak begitu dekat.
Sampai akhirnya,
"Duto", kaget Sivia kala menatap wajah lelakitersebut
Remaja itu saling melepaskan diri, dan dengan sigap Duto menutup rapat mulut Sivia.
"diamlah, mereka masih mengejar kita", bisik Duto perlahan
"tunggu-tunggu! Ah, gue tau. Ini pasti rencana lo kan?Mereka pasti orang suruhan lo kan?"
"Duto,
gue tuh udah tau semua rencana bodoh lo itu.Udahlah! Rencana lo ini
biasa banget. Elo pasti yang kirim mereka buat ganggu gue. Terus nanti
elo dateng, dan gue akan berterimakasih dan maafin elokan?", berulang
kali Duto menyanggah juga memperingatkan namun Sivia tetap saja
berbicara sambil berjalan mundur guna menjauhi Duto
Hup!
Beberapa langkah tadi telah berhasil mengeluarkan Siviadari tempat
persembunyinya. Membuat dua preman yang nampak kebingungan mencari
mereka segera berlari mendekati Sivia yang terlihat masih dalam
ocehannya.
"Sivia, gue mohon. Majulah, gue gak lagi buat rencana apa pun. Ayo Vi, maju", pinta Duto
"enggak! Gue gak akan ketipu sama kebohongan lo ini,gak akan lagi", sahut Sivia kasar
Nyaris
saja tubuh Sivia tersentuh oleh sidik lari keduapenjahat tadi, tapi
tenanglah! Masih ada Duto yang menampiknya. Bagai seorangyang
profesional, ia melayangkan kerjakan tangan andalannya tepat di wajah
salah seorang diantara mereka. Lalu ia pun menyuruh Sivia pergi,
berlarisebisanya. Awalnya Sivia menolak, dan akhirnya ia menuruti
perintah Duto tadi.Dia berlari meninggalkan lelaki itu, sendirian
menghadapi dua preman tadi.
Andai saja waktu bisa diulang
kembali, andai saja gak ituterjadi. Pastilah Duto tak akan berkelahi
melawan dua orang bertubuh jelas itu.Seandainya saja, Sivia mau
mempercayai Duto. Argh! Percuma. Tak ada gunanya menggerutu karena
sebuah penyesalan. Toh, Duto masih disana. Melawan mereka semampunya,
menghindar sebisanya, dan berjuang demi seorang Sivia yang tadisama
sekali tidak mempercayainya.
"pulanglah! Aku baik-baik saja", ujar Duto dengan kepala yang tertunduk
"enggak. Kita akan pulang bareng, aku gak akan ninggalin kamu dengan kondisi babak belur gini", Sivia menggapai pipi lebam itu
"aku bilang, pulanglah! Aku baik-baik saja", ulangDuto
Aku-kamu.
Bahasa yang sudah melekat, walau berulang kali dilepas. Sederhana.
Namun itulah mereka, dua mantan kekasih yang masih menyimpan rasa yang
sama
"aku takut, aku terlalu pengecut untuk mengantarkanmu pulang. Takut jika nanti kak Iyel akan memakiku, karena kau pulang malam"
"tapi, Duto ..."
"motor
aku terparkir disana, di tempat awal mula aku berlari denganmu tadi.
Jadi tenanglah, aku baik-baik saja. Soal luka ini, aku sudah biasa.
Oke?", Duto memotong kalimat Sivia
Anggukan kepala segera
tergambar dalam satu wajah Sivia, ia bangkit berdiri lalu beranjak
meninggalkan Duto dengan lambaian tangan tanda perpisahan di sore ini.
Titikan gerimis pun turut mewarnai adegan romantis dua sejoli ini,
menambah keindahan kasih yang mereka torehkan di lubuk hati
masing-masing.
***
Sivia telah pulang, masa
jabatannya sebagai satpam pun berakhir juga. Hari ini cukup melelahkan!
Tapi ia senang, ia bangga karena sejatinya seorang pria telah terpampang
dalam dirinya. Tiga wanita dalam hidupnya, yakni mama, Tania, dan
Sivia. Seakan menjadi penyemangatnya dalam hari-hari yang kian
terlewati. Pagi bersama Tania, siang penuh untuk mama, dan malam masih
harus menunggu Sivia. Melelahkan namun membanggakan! Baginya pula bagi
mereka yang berada di sekitar.
KRING! KRING! Ringtone
ponsel yang ia letakkan tepat di sisi kanannya berdering nyaring,
memaksa tubuhnya yang tengah telentang pasrah harus bangkit demi
mengangkat sambungan telepon tersebut. Tania! Ah lagi-lagi sang pujaan
hati yang menyapa. Tanpa ragu, ia segera menekan tombol hijau kemudian
menempelkan benda tiga dimensi itu tepat di telinganya.
"hai Ni", sapa Iyel lembut -seperti biasanya-
"hai Yel"
"ada apa?"
"bagaimana kabarmu?", sahut Tania yang bingung harus bicara apa lagi
'kabar? Menelpon jam segini, cuma nanya kabar doang?', gerutu Iyel dalam hatinya
"halo?", ujarnya lagi
"ah, iya Ni. Aku baik, kamu gimana?"
'ish gak asik banget! Masa cuma jawab gitu doang? Pendek lagi jawabannya', giliran Tania yang menggerutu
"Ni? Halo? Kamu masih disana, kan?"
"iya Yel, aku baik juga kok. Sama kayak kamu"
"oh, baguslah. Kenapa malem-malem telpon?"
'aduh! Basi banget pertanyaan gue", desah Iyel
"em aku ..."
'argh! Gue harus bilang apa?', Tania panik
"kamu kenapa? Capek ya, harus nemenin Alvin?", tanya Iyel -lagi-
"enggak, em maksud aku iya. Besok pagi, kamu bisa main ke rumah? Nemenin aku beresin kamar Alvin,
mau?"
'oh, jadi dia mau ngajak gue ketemuan? Ah! Elo emang yang terbaik deh, Tania'
"halo, Gabriel?"
"oke sip, see you Tania"
TUT! TUT! Sambungan telepon telah terputus. Di tempat yang berbeda, namun di saat yang sama. Mereka
merebahkan tubuh masing-masing, Iyel di ranjang dan Tania di sandaran kursinya.
"itu siapa, kak?", suara parau segera membangkitkan tubuh Tania
Alvin
telah terbangun, mungkin karena pembicaraan telepon tadi. Obat yang
tadi disuntikkan dokter dalam infusannya, sudah bekerja dengan baik.
Obat tidur yang membuat adiknya lebih segar dibanding saat sebelumnya.
Tania bangkit berdiri, lalu mengusap kening Alvin lembut. Ia beranjak
untuk menuangkan segelas air putih bagi pemuda yang sejak siang tadi
memejamkan matanya.
"tadi itu siapa kak? Kak Iyel?", tanya Alvin usai menghabisi air putih tadi
"iya, emang kenapa?"
"kakak suka yah sama kak Iyel?", ledek Alvin
"kamu ini! Lagi sakit, masih aja sempet ngeledekin kakak"
"hehe, tapi iya kan? Udahlah kak, tenang aja. Bentar lagi kak Iyel juga bakal ungkapin semuanya"
"ah sok tau, kamu"
"serius kak, kan kak Iyel juga suka sama kakak"
"udahlah, mending sekarang kamu makan. Abis itu minum obat"
Layaknya melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, Tania menyuapi adiknya, mengupasi buah untuknya, lalu
menyodorkan obat untuk diminumnya. Wajar saja! Karena sejak Tania duduk di bangku SMP, ia selalu ada di
sisi
Alvin yang sering keluar masuk rumah sakit. Alvin beruntung! Dia
beruntung bisa memiliki kakak tiri yang begitu baik, Tania juga
beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menjaga Alvin dengan sepenuh
hatinya.
"kak", ujar Alvin saat Tania hendak merapihkan peralatan makan tadi
"iya, kenapa Vin?", sahut Tania yang segera menghentikan tugasnya
"ibu sama yang lainnya mana? Kok cuma ada kakak doang?"
"ibu lagi nemenin kak Tasya di rumah, kalo papa. Papa pasti kesini, nanti malam mungkin"
"makasih ya kak", sahut Alvin yang memalingkan wajahnya
"iya, sudahlah! Jangan buat kakak khawatir. Berbaliklah, dan tatap kakak. Jangan seperti ini"
Pedih.
Ia sungguh merasa sedih saat ini. Bukan karena ibu, atau kak Tasya,
atau seorang pria yang menjelma menjadi seorang papa baginya. Bukan pula
karena Tania, atau orang lain yang ada disekitarnya. Melainkan karena
Alvin, karena dirinya sendiri. Ia terlalu payah untuk bertahan dan
selalu berada di sisi mereka, ia terlalu bodoh untuk memahami segala
macam kebaikan yang telah diterimanya. Dari Tuhan, keluarga, para
sahabat dan temannya. Bukankah semuanya itu terdengar begitu sempurna?
Meski terkadang Tasya selalu menganggapnya si pengganggu, meski tak
jarang Rio selalu menjudge dirinya. Tapi ini begitu indah, bahkan
terlalu manis untuk dilupakannya. Cepat atau lambat, ia akan pergi.
Pergi ke suatu tempat yang jauh lebih baik.
"kakak sayang sama kamu. Kakak, ibu, papa, kak Tasya, Sivia, dan semuanya sayang sama kamu", bisik Tania
dengan lirihannya yang semakin membuat kepedihan itu berkobar
Ya Tuhan! Dia belum siap. Alvin belum siap untuk menerima semuanya, dia belum siap menerima segala
dampak dari kemoterapi itu. Sungguh, dia belum siap!
***
Dentingan piano mengalun dengan merdunya, menemani sang hujan dalam lantunanannya. Rambut yang
biasa diikat, berubah menjadi uraian yang menawan. Papa sedang tak ada di rumah, ia sedang sibuk dengan
semua
urusannya sendiri. Saudara kembarnya pun belum juga kembali, padahal
waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 malam. Tau akan seperti ini, Ify
pasti menunggu dan pulang bersamanya. Bukan malah terdiam sambil
menghafal pola lagu yang akan dibawakannya bersama band dalam acara
ulang tahun sekolah.
"Fy! Buka jendelanya, Fy"
Tekanan
tuts hitam itu mulai melemah, dibarengi dengan tubuh Ify yang bangkit
berdiri untuk menghampiri Duto yang basah kuyup sedang mengetik jendela
kamarnya. Wajah lebam, tubuh gemetar, juga keterlambatannya. Membuat Ify
semakin khawatir.
"gue gak papa", ujar Duto dengan bibir yang menggigil kedinginan
Hidup bersama dalam tujuh belas tahun lebih, membuat si kembar ini saling paham tentang kehidupan
mereka yang jauh berbeda.
Duto,
ketertekanan yang dialaminya di rumah telah membuatnya menjadi anak
yang -mungkin- liar di luar. Apalagi semenjak dia duduk di bangku SMP,
saat persahabatannya dengan Sion dan Dayat dimulai. Mereka bertiga
sering keluar sampai tengah malam, kadang untuk balapan liar, nonton
bola bersama, menongkrong di basecamp mereka, atau yang paling parah ...
mereka tawuran dengan geng jalanan lain. Sementara Ify, dia benci semua
hal tadi! Berulang kali ia menasihati Duto, berulang kali pula Duto
membantahnya. Sampai akhirnya Ify sadar, kalau semua itu hanyalah
pelampiasan rasa kesal dalam diri saudaranya itu.
"gue udah siapin air hangat buat elo mandi, disana juga udah ada baju lo. Abis mandi, elo makan bubur dulu.
Tadi
gue udah beli dan panasin bubur ayam yang di depan itu. Kalo udah, elo
istirahat. Biar gue gampang obati luka lo itu, mending lo istirahatnya
di kamar gue aja. Oke?", ujar Ify panjang nan lebar
Duto
tersenyum kecil, lalu menganggukkan kepalanya dan melangkah untuk
melaksanakan tugas yang diserahkan Ify padanya. Dan Ify pun tersipu akan
sikapnya yang seperti komando pasukan. Tapi mau bagaimana pun, Ify
adalah saudara yang baik. Meski tak selalu ada untuknya, tapi dirinyalah
yang menjadi dokter pribadi Duto jika hal-hal seperti ini terjadi.
Beberapa
menit kemudian, Duto sudah membaringkan tubuhnya di ranjang berbalut
seprei berwarna merah muda itu. Dengan Ify yang terlihat sudah selesai
dengan tugas-tugasnya. Inilah kebiasaan Duto yang selalu dihapal Ify, ia
sering tidur di kamar Ify. Mereka berdua sering bersama di dalam kamar
yang sungguh nyaman ini, Duto di sofa dan Ify di ranjangnya. Tapi tak
jarang, mereka juga saling tukar posisi. Karena Duto tak suka kamarnya,
ia tak suka kamar yang penuh kenangan pahitnya bersama papa. Wajar saja,
karena dulu semenjak sang mama wafat. Duto kecil selalu diperlakukan
kasar oleh papa, caci maki pun menjadi pengisinya. Dan papa melakukan
hal yang dianggapnya sebagai suatu didikan di kamarnya Duto.
"jadi, apa penyebab semua ini?", tanya Ify
"tawuran?", Ify mencoba untuk menebak
"bukan! Ini cuma kecelakaan kecil"
"bohong! Udahlah Duto, jujur sama gue. Jangan buat gue jadi kembaran yang paling bodoh, karena gue gak
tau apa yang saudara gue rasain"
"Fy, gue udah bilang kan. Ini cuma kecelakaan kecil, tadi di jalanan gue ketemu sama orang yang diganggu
dan gue tolongi dia", Duto mendudukan tubuhnya tegak
"orang? Siapa? Jangan bilang, cewek yang waktu itu nampar lo!"
"namanya Sivia, Fy"
"jadi? Astaga Duto! Ngapain elo tolongi cewek gak tau diri kayak dia?", kesal Ify
"itulah yang namanya cinta, Fy. Hah! Seandainya bisa, gue juga bakal lupain dia dari dulu", sahut Duto santai
"oh iya! Ngomongin cinta, tadi gue liat kalian bertiga di kantin. Ada apaan? Kok Agni bilang cie cie gitu?",
lanjut Duto
"hah? Eum eng gue"
Entah kenapa, pertanyaan Duto tiba-tiba saja membuat dirinya membeku. Bagaimana ini? Apa dia harus
menceritakan semuanya? Saat ini?
"Fy, elo kenapa?", Duto mengayunkan tangannya di depan wajah Ify yang terperangah
"eum sebenernya gue itu, gue mereka. Aduh, gue gak tau mau mulai darimana"
"Rio nembak lo?"
"i iya, eh maksud gue enggak. Tapi bakalan iya, tapi gak tau juga. Ah, gue bingung!", teriak Ify gagap
Hahahahahaha! Tawa Duto menggelegar. Gadis kecil yang menyerupainya telah menjadi remaja yang mulai
mengenal cinta. Mau tak mau, Ify menceritakan semuanya. Semua yang ia tau dan ia rasakan, semua
tentangnya dan tentang Rio. Demikianlah Duto menjadi pendengar yang baik bagi sosok yang begitu berarti
dalam hidupnya. Tak ada penolakan, hanya ada anggukan penuh rasa setuju yang ia lontarkan atas setiap
perkataan Ify.
***
Keesokan harinya, saat mentari telah siap melaksanakan tugasnya. Tasya, si sulung dari dua bersaudara ini
terbangun. Entah apa yang merasukinya, ia segera menuju dapur. Menyiapkan pelbagai sajian sarapan untuk
seluruh penghuni rumah. Bahkan ibu, yang kalah cepat bangun dibuat terperangah memandangi tingkahnya.
Tanpa
mempedulikan kehadiran ibu, ia masih terus fokus memasak. Hingga semua
menu tersaji, juga ibu dan papa telah duduk manis di kursi makan. Ia
tersenyum bangga, lalu melangkah maju dan turut menikmati sajian
tersebut.
"gimana pa? Enak gak?", tanya Tasya
"enak dong"
"enakkan mana sama masakan ibu?", tanyanya lagi
"ya kamu lah", timpal ibu
"hehe, ibu bisa aja. Eum nanti, ibu sama papa ke rumah sakit?"
Entah kenapa, pertanyaan ini terkesan aneh.
Tasya yang dulu sempat menutup diri rapat-rapat dari Alvin, sedang bertanya hal yang berbau Alvin.
Sepertinya, gadis itu mulai berubah. Membuka hatinya perlahan, lalu menerima pribadi Alvin dalam hidupnya.
Papa dan ibu berpandangan, tak mengerti tentang apa yang terjadi pada anak pertamanya. Sampai akhirnya,
anggukan kepala lah yang menyahutinya.
"apa Alvin akan pulang?"
Ya Tuhan, dia berubah. Dia mulai dan sepertinya akan benar-benar menerima Alvin sebagai adiknya.
Senyuman bahagia penuh keberhasilan mewarnai keduanya, yakni papa dan ibu.
"tergantung kondisinya, memang kenapa?", jawab ayah
"oke"
Sarapan pun berlanjut, tak ada lagi pertanyaan atau ujaran yang terlontarkan. Mereka makan dalam diam,
terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Waktu telah menunjukan pukul sembilan pagi, mentari pun mulai meninggikan tahtanya. Ayah dan ibu sudah
melambaikan tangan untuk menyusuri perjalanan menuju rumah sakit. Jadual hari ini, ibu yang menemani
Alvin. Bergantian dengan Tania dalam jangka waktu tertentu.
"baiklah Tasya, kita mulai dari hari ini. Alvin adalah adik lo. Dia adik yang baik, yang harus lo sayangi. Ya,
Tasya sayang Alvin"
Ucap Tasya di hadapan cermin yang ada di dalam kamar Alvin. Niat baik yang akan ia lakukan adalah
merapikan kamar Alvin. Setidaknya kamar ini harus jauh lebih bersih dan lebih baik dibanding dulu. Sebelum
sang pemilik berpindah sementara ke rumah sakit.
***
"kemarin itu, gimana Yo? Berhasil gak?", tanya Agni usai menyeruput air jeruknya
"enggak tau, Ni", sahut Rio yang membersihkan mulutnya dari sisa makanan
"lho, emangnya kenapa Yo? Elo sama Agni? Aduh! Gue gak ngerti", timpal Cakka yang sedari tadi sibuk
mencari tambahan minum untuk rasa pedas di mulutnya
"panjang, Cak. Tapi yaudahlah, gue ceritain ke elo"
Rio nampak menarik napas dalam, dan mulai berbicara pelan. Takut kalau nanti akan ada orang lain yang
mendengarnya. Perlahan ia mulai mengisahkan adegan itu, dimana Ify memintanya untuk menjadi sang
pangeran negeri dongeng. Cakka yang menjadi pendengar, hanya dapat membelalakan matanya seraya
berpikir: "bagaimana kalau Shilla meminta hal yang sama?". Sementara Agni, dia terus mengepal kedua
telapak tangannya tanda geregetan pada Rio.
"parah!", komentar Cakka
"makanya gue bingung banget"
"ah lebay lo berdua!", kedua pasang mata pun kompak untuk terarahkan pada Agni
"maksud lo?", tanya dua orang itu bersamaan
"ya, itu mah gampang kali. Sini gue kasih tau ... ", Agni memajukan tubuhnya untuk berbisik
Kisah yang biasa ditontonnya dalam drama korea atau tulisan novel pun mulai Agni lontarkan di hadapan
mereka. Kisah tentang proses bagaimana seorang pria menyatakan perasaannya pada wanita pilihannya. Meski
terdengar
agak aneh dan dramatis, tapi hal itu termasuk dalam kategori romantis.
Kategori yang menjadi tugas Rio untuk menjadikan Ify kekasihnya.
"bagus sih, tapi ... "
"ini tuh keren, ah bener deh. Udah Yo, ikuti Agni aja", dukung Cakka
"tapi kalo ditolak, gimana?"
"hal kayak gitu mah, gak usah elo takutin. Kan elo sendiri tau, kalo Ify itu suka sama lo. Jadi, dia pasti bakal
terima lo", jelas Agni
"gimana Cak?"
"gue setuju sama Agni!"
Sesaat kemudian, bel masuk berbunyi. Menandakan sudah berakhirnya waktu untuk istirahat. Dan akhirnya,
ide Agni pun diterima. Rio telah siap untuk melakukan hal tadi di hadapan Ify. Mereka segera beranjak, hanya
mereka bertiga.
"apa kalian yakin kalo si sipit itu baik-baik aja? Eum, maksud gue ... ya dia kan udah gak masuk dua hari",
tanya Cakka saat mereka menyusuri koridor sekolah
"ya, elo kayak gak tau gimana Alvin aja. Dia kan kalo sakit, emang kaya gitu. Lebaylah pokoknya, dia gak
cukup satu hari gak masuk", bela Agni
"tapi, gue rasa dia itu aneh. Coba deh kalian pikir! Dulu, pas kita masih awal SMP. Dia sering banget yang
namanya pingsan, mimisan, sama oh iya! Dia sering banget gak ikut pelajaran olahraga kan?", Rio ikut
bertanya
"eum, itu ... "
"apa mungkin dia kecapekan?", potong Cakka
"bisa juga sih, tapi apa selebay itu? Terus, kenapa dia gak pernah kasih tau rumah sakit tempat dia dirawat?",
tanya Rio lagi
"eh tapi! Kenapa kita harus peduli sama dia, toh dia gak peduli sama kita kan? Udahlah terserah mau dia aja",
lanjut Rio
Dulu, tepatnya sebelum ia mengikuti pengobatan kemoterapi dan meminum obat-obatan secara teratur. Alvin
sering mendapat penderitaan dengan rupa yang disebutkan oleh Rio, apalagi ditambah dengan aktivitas
beratnya sebagai kapten basket. Tapi sekarang, anak itu sudah mulai membaik. Absensinya pun lebih terisi
dibanding masa-masa SMP dulu. Tapi Alvin, tetaplah Alvin. Ia tak pernah mau, kalau teman-temannya tau
soal ini, kecuali Agni. Karena jika mereka tau, Alvin takut kalau mereka akan kasihan karena penyakit yang ada
dalam tubuhnya.
***
Kegiatannya masih sama, yakni merapihkan kamar yang didominasi ornamen basket itu. Tapi kini
perhatiannya beralih, menuju buku agenda kecil yang lengkap dengan pensil dan penghapus diatas meja
belajar. Dan akhirnya, Tasya mulai membuka lembaran-lembaran yang ada disana. Ia kira, agenda tadi
menyimpan tulisan layaknya sebuah buku harian. Namun hal itu berbeda pada Alvin, karena ia malah
menggambar dengan goresan hitam pensil yang luar biasa. Senyuman kagum pun mulai terukir, dibarengi
dengan rasa bangga akan diri Alvin yang dulu tak berarti baginya.
"kak Tasya?", tanya seseorang hingga agenda tersebut jatuh ke lantai
"Tania? Kamu?", entah kenapa Tasya malah tak berkutik
"duh! Maaf, kakak kaget yah?", Tania mendekat lalu kembali menaruh agenda tadi di tempat asalnya
"kamu? Kok kakak enggak denger suara kamu yang masuk ke rumah ini sih?"
"mungkin kakak terlalu serius, hehe"
Tania tertawa pelan sambil mendudukan dirinya di kursi belajar Alvin, dan Tasya turut duduk di seberangnya,
yakni
di atas tempat tidur Alvin. Sela beberapa detik mereka terdiam,
menikmati udara dan suasana yang begitu mengharukan yang pernah terjadi
di dalam kamar ini. Akan satu sosok yang sama, yaitu Alvin si adik tiri
mereka.
"kakak tau gimana kondisi Alvin?", tanya Tania
"memangnya ada apa?"
"enggak. Tapi apa kakak tau hal yang paling menakuti dari penyakit yang dideritanya?"
"apa maksud kamu, Ni?"
"dulu, waktu aku masih kelas tiga SMA. Papa dan ibu membicarakan hal ini ke Alvin, tapi aku ada di balik
pintu untuk mendengar semuanya. Waktu itu, ibu ada di sebelah Alvin sambil merangkulnya. Dan ada papa
yang duduk di meja kerjanya di rumah ini. Sementara kak Tasya, kakak lagi sibuk buat kuliah. Papa mulai
kasih penjelasan tentang apa itu kanker otak, sampai akhirnya papa bilang kalo penderita kanker otak yang
memasuki stadium lanjut akan kehilangan semua memori ingatannya. Dan itu ... ", air mata Tania mulai
menderas
"iya,
kakak tau itu. Sebelum memberitahu Alvin, papa dan ibu udah kasih tau
kakak. Tenanglah, dia pasti akan baik-baik aja", ujar Tasya sambil
mengusap punggung tangan adiknya
"agenda itu dari aku,
supaya dia bisa menceritakan semua kehidupannya di sana. Aku takut, ka.
Aku takut kalo semua hal yang diprediksi itu bener-bener terjadi. Aku
gak mau liat semua itu, kak. Aku gak mau liat Alvin merasakan sakit
itu", tangis Tania pun memecah kala Tasya memeluknya erat
Cepat atau lambat, Alvin pasti akan merasakannya. Kanker itu pasti akan menggerogoti tubuhnya, membuat
sakitnya
mengembang secara luar biasa. Namun Tania, ia selalu berharap supaya
hal itu tak terjadi di hadapannya. Ia terlalu takut untuk melihat semua
itu. Tania tak mau melihat adik kesayangannya menderita.
Sementara
Tasya yang juga mengetahuinya, tak dapat berkutik sedikit pun. Ia
terhanyut dalam pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin ia tega
memperlakukan adik seperti Alvin dengan cara yang kasar? Tapi ini belum
terlambat, masih ada waktu bagi Tasya untuk berubah. Dan mungkin, inilah
saat yang tepat.
"gak boleh nangis lagi, oke?", ujar Tasya yang menghapus sisa aliran air mata di pipi adiknya
Tania tersenyum manis
"eum kak. Sebenernya ada hal yang mau aku kasih tau ke kakak", ujar Tania sambil beranjak
Lemari
sedang yang berada disana terbuka, lalu diambil Tania lah sebuah kotak
kado yang berwarna merah muda dengan pita di atas penutupnya. Kemudian
diberikannyalah benda itu pada Tasya. Apa maksud Tania dengan semua ini?
Alis Tasya beradu, ia sungguh tak mengerti dengan tingkah Tania saat
ini.
"apa kakak inget, ulang tahun kakak yang setahun
lalu? Waktu itu meriah banget kan, kak? Disana, papa tebus kesalahannya.
Karena papa enggak bisa rayain ultah kakak yang ke tujuh belas"
"iya, kakak inget. Itu emang perayaan ulang tahun kakak yang paling meriah. Tapi, apa hubungannya sama kado ini?"
Ketika
usia Tasya memasuki angka tujuh belas, kondisi Alvin menurun drastis.
Hingga ia harus dirawat intensif di rumah sakit. Papa yang tau pasti
bagaimana perasaan kesal anak gadisnya itu, segera berinisiatif untuk
menyiapkan pesta perayaan yang luar biasa pada suatu saat nanti. Rencana
itu pun baru terkabul pada tahun lalu, saat Tasya genap berumur dua
puluh dua tahun. Hal tersebutlah yang menyebabkan Alvin sela menguras
pikirannya demi menyiapkan kado terindah untuk Tasya, sekaligus untuk
menebus kesalahannya pada ultah tujuh belas itu.
"tapi
Alvin takut, ka. Dia terlalu takut buat kasih kado itu ke kakak. Karena
dia enggak mau buat kakak tambah marah, gara-gara kadonya yang
-menurutnya- jelek. Itu yang dia ceritain ke aku"
"dan, aku rasa sekarang adalah waktunya. Buat kasih kado ini ke kakak"
Tasya
masih diam, sulit baginya untuk mempercayai semua ini. Dibukanya
secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang cukup rapih. Yakni
"happy birthday kak Tasya .. wish you all the best .. God bless you".
Deretan kata yang biasa, namun begitu berarti bagi pribadi seorang
Tasya. Kini, buliran air mata itu mulai mengalir membasahi pitpi mulus
itu. Tidak hanya itu, masih ada kertas lain yang memiliki ukuran lebih
besar. Dan itulah kadonya, suatu sketsa diri Tasya yang lengkap dengan
senyumannya. Cukup dengan goresan hitam dan putihnya kertas. Kado itu
terlihat begitu sempurna. Tasya meletakkan benda itu sejenak, kemudian
bangkit berdiri dan memeluk Tania yang juga penuh dengan uraian air
mata. Dua kakak beradik itu pun menangis dengan sangat, akan suatu sosok
yang luar biasa. Alvin, dialah sosok itu.
"kakak sayang dia, kakak sayang Alvin", ujar Tasya dalam isakannya
"dia adalah ciptaan Tuhan yang istimewa, kak", tambah Tania
Suasana
kali ini memang mengharukan, tapi hidup akan terus berjalan. Tania
melepas dekapannya, lalu membantu sang kakak untuk menghapus air
matanya. Ia beranjak untuk mengambil sesuatu hal yang setidaknya dapat
membuat mereka bangkit dari kesedihan ini. Dia mengambil album foto dari
dalam laci meja belajar adiknya, dan memberikannya pada Tasya. Tania
tau semua tentang Alvin selain karena Alvin sendiri yang memceritakan
tentang kehidupannya, juga karena Tania yang sering membersihkan kamar
Alvin. Karena ibu yang tak memperbolehkan orang lain untuk
membersihkannya dengan alasan supaya semua anggota keluarga paham
tentang semua keperluan anak muda itu. Jadi hanya Vano (papa), Sandra
(ibu), Tasya, dan Tania lah yang boleh membersihkan kamar yang paling
bersih di rumah itu.
Album itu mengisi semuanya, semua
kenangan yang sudah terjadi di keluarga itu. Dan benar saja, tetesan air
mata tadi pun tergantikan oleh tawa canda di antara mereka berdua.
Beberapa
saat kemudian, bel rumah berbunyi. Tania yang mendengar, segera berdiri
tegak. Membuat Tasya langsung menatap bingung pada adiknya itu.
"itu siapa ya, Ni?"
"Eum itu kak, temen aku"
"temen apa temen, hayo?"
"ih kakak nih, ya temenlah. Eum udah ya kak, aku pamit dulu"
"lho, mau kemana?"
"ya pergi sama temen aku lah, hehe. Nanti kapan-kapan, aku kenalin ke kakak deh. Bye kak"
"huh, dasar!", desah Tasya
Pintu telah dibukakan, lalu muncullah Iyel yang sebelumnya telah janjian untuk datang kesini. Iyel
mengadukan alisnya, bingung dengan ucapan Tania tadi malam dan kenyataan pagi ini yang jauh berbeda.
Kalau tadi malam, dia bilang mereka akan bersama-sama membersihkan kamar Alvin. Tapi pagi ini, Tania
malah tampil dengan tas kecil layaknya orang yang akan pergi.
"kenapa? Kamu bingung ya, Yel?"
Iyel mengangguk perlahan.
"hehe, sorry Yel. Tadinya, aku mau ajak kamu beresin kamar Alvin. Tapi, kak Tasya udah terlanjur bersihin. Jadi, ... "
"kamu mau jalan sama aku?"potong Iyel
Kini, giliran Tania yang mengangguk. Iyel menggandeng tangan Tania, membawanya masuk ke dalam mobil.
Mereka akan pergi ke suatu tempat, entah kemana. Tapi bagaimana pun, Tania percaya kalau Iyel akan menjaganya.
***
Latihan
basket berlangsung cukup lama, dan pastinya sungguh melelahkan. Apalagi
bagi Duto yang kondisinya belum sembuh sepenuhnya. Itulah yang
menyebabkan Ify rela duduk diam di pinggir lapangan, dengan ditemani
Agni yang selalu ada dalam latihan di sebelahnya.
"elo suka beneran sama Rio yah?", tanya Agni pada Ify yang sedari tadi fokus memandang ke lapangan
pertandingan
"maksue lo, Ni?"
"ya, kenapa? Elo tinggal jawab, kan?"
"toh, hampir tiap latihan elo ada", tambah Agni
Suka? Tapi ada alasan lain bagi Ify untuk ada disini, yakni untuk Duto. Namun, Ify tak akan mungkin
mengatakan hal itu.
"Fy? Kenapa? Gue lancang yah?", tegur Agni
"ah, enggak Ni. Gak tau, gue bingung. Tapi ya ... suka itu wajar?"
"jadi, elo suka beneran sama Rio?"
Dengan malu-malu, Ify menganggukan kepalanya. Ini bukan karena Duto, atau untuk menutupi
kerahasiannya. Tapi diam-diam, Ify memang menyukai Rio. Dari balik pohon, semak, atau di mana pun itu.
Ify selalu memandangi Rio, dengan ada atau tidaknya Agni yang menemaninya. Hal itulah yang menyebabkan
Rio sulit untuk menemukannya.
"Eum Fy, ikut gue yuk"
"mau kemana, Ni?"
"ke ruang musik, Fy. Ada beberapa lirik yang mau gue cocokin sama nada di lagu kita"
Mereka berdua berlalu menuju ruang musik. Ify naik ke atas panggung dan memainkan piano putih,
sementara Agni memainkan gitar hitam dari bawah panggung. Alunan beat-pop itu pun terdengar merdu,
apalagi dengan tambahan lirik yang begitu padat. Agni dan Ify sungguh sangatlah hebat dalam menciptakan
lagu bersama.
Saat lirik sudah memasuki beberapa bar terakhir, lampu yang semula menerangi ruangan pentas itu padam
seketika. Entah karena apa!
"Agni! Ni! Elo dimana?"
Teriak Ify berulang kali, namun tak ada satu pun suara yang menyahutinya. Ia takut, apa yang akan terjadi
padanya? Begitulah yang ia pikirkan.
TO BE CONTINUED
GoGoFollow
@brendafiona_
See You On Next Part
Thanks For Read
Tidak ada komentar:
Posting Komentar