Mereka berdua berlalu menuju ruang musik. Ify naik ke atas panggung dan memainkan piano putih,
sementara Agni memainkan gitar hitam dari bawah panggung. Alunan beat-pop itu pun terdengar merdu,
apalagi dengan tambahan lirik yang begitu padat. Agni dan Ify sungguh sangatlah hebat dalam menciptakan
lagu bersama.
Saat lirik sudah memasuki beberapa bar terakhir, lampu yang semula menerangi ruangan pentas itu padam
seketika. Entah karena apa!
"Agni! Ni! Elo dimana?"
Teriak Ify berulang kali, namun tak ada satu pun suara yang menyahutinya. Ia takut, apa yang akan terjadi
padanya? Begitulah yang ia pikirkan.
***
Duto nampak begitu lelah, bahkan ia tak main penuh pada latihan kali ini. Sesaat kemudian, ia memalingkan wajahnya. Demi memastikan kehadiran saudaranya di seberang sana. Namun, hal itu tak ada. Ify yang semula berada disana sudah tak terlihat batang hidungnya, begitu pula dengan Agni yang tadi menemaninya.
"oke cukup! Ayo semuanya kumpul", seru Steve selalu wasit juga pelatih kedua tim
Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan dengan membentuk formasi setengah lingkaran yang mengelilingi Steve.
"hari ini cukup bagus. Hanya saja, Duto! Kau harus lebih fit lagi di latihan selanjutnya, makanya kamu harus jaga kesehatanmu"
"siap kak!"
"soal Alvin, kita bahas nanti. Bagaimana? Ada yang mau bertanya?"
"enggaaakkk"
"baiklah! Kalo gitu siapkan diri kalian, karena besok lusa adalah latihan yang terakhir. Apapun hasil pertandingan nanti, kita tetap juaranya. Semangat!", seru Steve penuh semangat
Tanpa komando, rombongan itu pun memasuki ruang ganti. Masing-masing dari mereka berdiri di depan lokernya, namun hal itu berbanding terbalik pada Duto. Ia terduduk lesu di kursi, membuka tali sepatunya satu per satu. Setelah selesai, ia beranjak untuk mengganti bajunya.
"gimana Yo? Elo udah siap?"
"enggak tau, Cak"
"ah payah lo, Yo. Ify itu kan cewek yang lo suka, masa elo jadi lemes gini sih?"
"tapi gue deg-degan, Cak. Nembak cewek kan gak gampang"
"gue yakin elo bisa kok, boy. Elo kan hebat"
Dengan samar, suara-suara itu terdengar. Suara yang berasal dari balik pintu ruang ganti. Ify? Apa yang mereka lakukan pada Ify? Apa ini ada hubungannya sama menghilangnya Ify tadi? Tanpa berpikir panjang, Duto segera merapihkan dirinya dan mengambil tasnya, lalu berjalan perlahan demi mengikuti jejak Cakka dan Rio.
***
Lampu ini padam cukup lama, Ify yang lelah berteriak pun duduk sambil memeluk kakinya erat. Aliran air mata yang tak terbendung itu juga telah mengalir di pipinya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.
"gue ta ... "
Belum sempat kata itu terucap, suatu lampu sorot yang biasa digunakan untuk pentas menyala dengan benderang. Mengarahkan sinarnya menuju pintu ruang musik yang tiba-tiba terbuka, atau lebih tepatnya pada seorang muda yang tampil menawan dengan gitar dalam pegangannya. Ify yang merasa silau akan situasi ini segera berdiri, membulatkan matanya untuk menatap siapa sebenarnya orang muda itu.
You know your everything to me
And i could never see
The two of us apart
And you know i give my self to you
And no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you
And i want you to know
I need you like i've needed anyone before
I live my life for you
I want to be your side
In everything you do
And if there is only one thing
You can believe is true
I live my life for you
Dedicated my life to you
You know that
I would did for you
I live my life for you ...
Perlahan tapi pasti, lelaki yang ternyata Rio itu mulai mendekati Ify. Suaranya yang merdu seakan menjadi penawar gundah di hatinya, ia berdiri tegap dengan tak berkutik sedikit pun. Rio mulai menaiki tangga panggung, demi mensejajarkan posisinya di hadapan Ify. Lagu masih mengalun dengan merdunya, sampai akhirnya terhenti bersama dengan Rio yang menaruh gitarnya lalu meraih kedua tangan Ify. Saat ini ruangan hanya diterangi oleh suatu lampu sorot yang hanya mengarah pada Ify dan Rio.
Hup! Pelukan hangat pun terukir dengan sempurna. Tangisan yang semula adalah ketakutan, telah berganti menjadi tangis yang penuh keharuan. Tak peduli dengan apa yang dirasakan Ify, Rio tetap akan melanjutkan niatnya. Dalam dekapan itu, Rio mendekatkan mulutnya tepat di telinga gadis itu.
"aku mencintai kamu, Allysa", bisik Rio
Spontan, Ify melepaskan pelukan tadi. Ia menatap Rio dalam, menangkap suatu ketulusan di dalamnya. Ya, Rio memang menyukai Ify, begitu pula sebaliknya. Ify juga menyukai Rio, dan dia pun menganggukan kepalanya.
Lampu pun menyala, menampilkan beberapa orang yang terlibat dalam proses penuh keromantisan ini. Yaitu mereka yang berhubungan dengan Rio dan Ify, seperti Agni dan Cakka. Kini Rio dan Ify resmi menjadi sepasang kekasih.
Duto yang mengintip hal tersebut dari balik jendela hanya dapat menarik ujung bibirnya, tersenyum manis dengan kebersamaan dua insan itu. Ia bahagia karena Ify telah bahagia bersama lelaki yang mencintainya, namun juga miris karena Ify yang merupakan satu-satunya orang yang selalu ada untuk menemaninya telah berpaling ke orang lain. Sedih, tapi ia tak boleh seperti ini! Duto mengepal tangannya erat, menahan kekhawatiran akan jarangnya keberadaan Ify disisinya kelak.
Dengan langkah yang berat, dia mulai berjalan. Menuju puncak gedung sekolah, tempat kesukaannya. Di tepi lantai paling atas gedung berlantai empat itu, Duto mendudukan dirinya. Menikmati kehangatan senja bersama dengan semilir angin disisinya.
Sementara itu, ada Cakka dan Agni yang tersenyum bangga melihat Rio bersama Ify. Akhirnya sahabat mereka yang satu itu berhasil menaklukan si pencuri hatinya. Jarak yang hanya bersebelahan membuat Agni melirik sejenak pada diri Cakka. "ah Cakka! Kapan elo bisa melakukan hal itu sama gue? Gue capek nunggu lo", batin Agni. Puas memandangnya, Agni kembali menatap nuansa kebersamaan Ify dan Rio. Dan tak lama kemudian, "Rio udah temui Ify jadi lentera hatinya, tapi gue? Buat pilih Shilla atau Agni aja sampe butuh waktu bertahun-tahun gini", gerutu Cakka dengan lirikan matanya pada Agni
***
Pergi bersama sejak siang hingga malam terasa begitu singkat, jika dilalui dengan rasa bahagia. Seperti dua sejoli ini. Waktu yang lebih dari enam jam telah mereka habiskan bersama untuk jalan-jalan menyusuri pesisir ibukota. Entah itu mall, taman, atau tempat lainnya.
Kini, mereka berdua sudah berada dalam mobil dengan nyaman. Bersamaan dengan sang mentari yang memasuki tempat peristirahatannya. Wajah lesu memang wajar, mengingat begitu banyak hal yang mereka lakukan hari ini. Tapi lesu di wajah Tania jauh berbeda. Nampak suatu hal tersembunyi yang menambah kelesuan itu, bahkan sebelum dimulainya perjalanan hari ini.
"Tania", panggil Iyel sambil memegang lembut tangan Tania
Mobil itu terhenti di pinggir jalan. Iyel mengubah posisinya untuk menghadap Tania yang berada di sebelahnya, ia akan menjadi pendengar yang baik. Dan Tania, ia masih bungkam sambil memandang lurus ke depan. Tak menyerah, Iyel menggapai tangan itu untuk kedua kalinya. Lalu meletakan keduanya tepat di dada bidangnya.
"kenapa? Alvin?", tebak Iyel
Tania menangguk dengan buliran air mata yang menghiasi wajahnya
"aku takut, Yel", desah Tania lirih
Iyel mendekap tubuh yang gemetar itu. Ia tau persis bagaimana rasanya, rasa yang meluap ketika seorang adik kesayangan jatuh sakit. Karena memang, dulu Sivia sempat mengalami hal keterpurukan yang mungkin sejajar dengan apa yang dialami Alvin.
"tenang, Ni. Aku disini, buat dengerin cerita kamu", bisik Iyel
"aku takut, Yel. Aku gak mau liat Alvin alami semua itu"
Tangisan tadi terdengar semakin lirih. Sama seperti saat ia di hadapan Tasya, pagi tadi. Tania menangis karena semua prediksi papa tentang Alvin. Dan, rasa takut itu masih ada dalam dirinya, menggerogoti setiap titik pikirannya.
Cukup lama pelukan itu berlangsung, dimana Iyel berusaha untuk berbagi energi positifnya pada Tania. Selepas itu, Tania mulai menceritakan tentang semua penyebab rasa takut tadi.
Semua yang ditakutinya terhadap kondisi Alvin. Dan lagi-lagi Tania berucap kalau ia tak mau melihat semua proses menyebalkan itu. Sementara itu, Iyel masih ada disini. Di hadapan Tania dengan tangan yang selalu menggenggam erat tangan gadis itu, sambil sesekali memberi kata-kata penyemangat. Setidaknya, hal itulah yang bisa membantu Tania. Wanita spesial dihidupnya.
***
Kondisinya sudah membaik, ia pun sudah dapat berjalan merapihkan beberapa perlengkapan di dalam kamar tersebut. Infus dan beberapa selang cairan sudah terlepas dari tubuhnya semenjak siang tadi, dan baju yang semula berlogo rumah sakit turut berganti dengan baju lengan panjang yang berwarna merah dengan dilapisi oleh jaket tebal yang juga berwarna merah. Meski sudah terlihat segar, tapi sebenarnya tubuh itu belumlah sembuh secara total. Wajah pucatnya masih terpampang jelas, begitu pula dengan desahan napas lelah yang entah sudah berapa kali ia hembuskan.
"tak usah dipaksakan. Sini, biar papa yang merapihkannya", ujar papa yang baru saja memasuki kamar Alvin
"terimakasih", sahut Alvin sambil mendudukan dirinya di sofa
"malam ini kamu bisa pulang, tapi harus tunggu ibu selesai urus administrasinya. Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan, nak?"
"jauh lebih baik, kepala ku udah enggak pusing lagi"
Walau terkesan canggung, tapi Alvin dan papa benar-benar menikmati nuansa kali ini. Harapan papa pada si anak tirinya itu masih sama, yakni berharap supaya dia memanggilnya dengan sebutan papa. Sesederhana itu. Namun Alvin, ia sulit untuk mengungkapkannya. Kata 'papa' merupakan suatu hal yang makin membuatnya merasa kalau dirinya hanyalah seorang anak tiri yang ditinggal pergi oleh sang ayah kandungnya.
Tak lama kemudian, ibu memasuki kamar rawat tersebut.
Menatap dua manusia dihadapannya itu dengan ulasan senyum, Alvin yang duduk dan papa yang sudah selesai menata barang-barang tadi.
"hai sayang", ujar ibu pada anak kesayangannya itu
"hai bu", sahut Alvin dibarengi dengan pelukan hangatnya
Dibalik itu, papa hanya bisa terdiam seraya berpikir. Kapan Vano bisa berada disana? Tergabung dalam dekapan erat itu?
"kamu yakin, mau pulang sekarang?", tanya ibu
Masih dalam posisi yang sama, Alvin menganggukan kepalanya.
"aku mau pulang", ujarnya
Dengan lembut, ibu mengusap punggung itu. Melepas dekapannya perlahan, lalu mencium kening itu penuh kasih. Ibu menyayangi Alvin, begitu pula Alvin pada ibu. Sementara papa, dia masih menunggu waktu yang tepat. Sampai akhirnya ia bisa tergabung dalam kehangatan itu.
***
Entah karena bentuk kesetiakawanannya pada Alvin, atau karena alasan lain. Sivia belum bersekolah pada hari ini, dia lebih memilih untuk istirahat di rumah. Karena memang, kemarin merupakan hari yang melelahkan baginya. Cewek berpipi chubby ini malah cerdik diri di kamar, dengan ditemani oleh sahabatnya. Malam ini, Shilla datang ke rumah Sivia untuk memberi penjelasan tentang pelajaran, supaya Sivia tidak ketinggalan.
"kenapa sih Vi, kok bengong gitu?", tanya Shilla pada Sivia yang menatap kosong lembaran-lembaran kertas di hadapannya
"eng enggak kok Shill, gue enggak kenapa-napa", sahutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"ayolah, Vi! Gue ini sahabat lo dari kecil, gue tau betul gimana tali penyambung antara wajah sama hati lo. Vi,
elo kenapa sih? Dulu waktu kita belum sekolah bareng, gue selalu ada di sisi lo dan kita saling cerita tentang hidup kita. Tapi sekarang, waktu berdua kayak gini aja udah jarang banget, kenapa Vi? Kenapa elo jadi menghindar gini?"
"Sivia! Gue ini Shilla, sahabat lo. Dan elo tau kan apa gunanya sahabat. Kalo ada masalah, cerita Vi", lanjut Shilla
Shilla benar-benar tak memahami maksud Sivia, karena ia tak tau sedikit titik pun dari masalah yang dialami Sivia. Yaitu Alvin, sahabat yang telah menyatakan cintanya. Jujur, Sivia sangat ingin membagi semua kisah ini. Tapi apa daya, ia tak bisa. Mengingat larangan keras dari berbagai pihak untuk menceritakan tentang kondisi Alvin. Jadi perempuan itu tidak dapat berkata apa-apa. Apalagi pada Shilla. Entah sampai kapan ia pun juga harus merahasiakan hubungan Iyel dengan Tania pada Shilla, karena cepat atau lambat Shilla pasti akan mengetahuinya.
"gue baik-baik aja, Shill", Sivia memajukan tubuhnya demi memeluk sahabatnya
"elo gak bisa kasih tau gue, ya? Oke, gapapa kok Vi. Gue paham, gue tau, dan gue gak akan kepo tentang hal
ini lagi sama lo. Gue sahabat lo, Vi", ucap Shilla
Bodoh! Shilla maafkanlah Sivia, dia tau dia salah. Oleh sebab itu, maafkanlah dia. Tangis itu memang tidak timbul, namun jeritan telah menguasai hatinya. Ingin sekali ia lari dari kondisi ini, pergi menjauh dari goresan tinta ini. Tapi ia adalah pemain disini, tokoh suatu kisah dalam takdir hidupnya.
TING NONG! Bel rumah berbunyi, membuat pelukan itu pudar seketika. Sivia yang tau persis siapa yang berada di balik pintu rumah itu segera menyiapkan dirinya demi kenyataan pahit yang harus ia telan malam ini.
"itu siapa, Vi? Elo gak buka pintunya?"
"ah, enggak usah. Kan ada mama"
"oh. Eh Vi, gue pamit pulang ya. Udah malem"
"jangan!", bagai kilat Sivia menahan lengan Shilla yang beranjak pergi
"kenapa?", bingungnya
"gu gue ... Nah ini Shill, catetannya kan belum selesai gue salin"
"udah, elo pegang aja. Besok, gue gak ada pelajaran itu kok"
"tapi Shill, elo kan baru dari jam lima sore disini. Masa dua kan doang kita ngobrolnya?"
"aduh Vi, sorry! Gue masih harus ngerjain PR Geografi, sorry ya Vi"
Tak dapat berlaku apa-apa lagi, Sivia hanya bisa menundukan kepalanya lalu berjalan mengikuti jejak
sahabatnya itu. Dan benar saja! Belum juga keluar sepenuhnya, Iyel memanggil Shilla dan menyuruh gadis itu mendekat.
"duduk Shill", suruh Iyel yang dituruti Shilla juga Sivia
"ada apa, kak?", tanya Shilla dengan suara miris karena kehadiran Tania disisi lelaki yang dicintainya
"kamu kan udah kakak anggap adik kak Iyel sendiri. Ini, kenalin namanya Tania. Dia temen kakak"
"hai! Tania", ujarnya dengan tangan yang terulur
Mata kosong mewarnai tatapan Shilla. Sungguh tak percaya, kalau Iyel telah memilih gadis lain dan hanya menganggapnya sebagai seorang adil. Dia ingat siapa wanita ini, wanita yang waktu itu menjemput Alvin. Dia kakaknya Alvin, itulah yang ia ketahui dari Sivia. Itu berarti ... Ya Tuhan! Sivia telah merahasiakan semua ini, Sivia telah membohonginya selama ini.
"Shill", tegur Iyel
"oh iya, aku Shilla kak", balas Shilla
"em sorry, tapi aku harus pulang. See you kak"
Dia pergi begitu saja, tanpa sanit pada Sivia. Tau bagaimana perasaan sahabatnya, Sivia segera berdiri dan berniat untuk mengejar dan menjelaskannya pada Shilla. Namun Iyel menahannya, lelaki itu malah menyuruh Sivia duduk kembali. Kini tinggalah mama, Iyel, Tania, dan Sivia. Sebenarnya, Iyel tau tentang apa yang Shilla rasakan padanya. Dan hal tadi pun adalah rencananya, makanya ia segera menahan Sivia untuk duduk kembali dan menikmati kebersamaan bersama Tania. Ini semua, karena Iyel yang tidak ingin Shilla -yang sudah dianggapnya sebagai adik- mengharapkan hal yang mungkin tak akan bisa diwujudkannya. Sementara itu, Sivia hanya dapat menarik napasnya lalu menuruti kemauan si kakak. Mungkin, Shilla lebih baik sendiri.
***
Gadis muda ini masih berlari, berlari kencang tanpa arah yang ia ketahui. Ia kacau! Ia kecewa! Ia marah! Tak peduli berapa banyak orang sekitar yang menertawainya, tapi kali ini emosinya benar-benar melambung tinggi. Merasa cukup lelah dengan semua tenaga yang sudah terkuras, dia mendudukan dirinya di tepi jalan. Memeluk lututnya erat dengan uraian air mata yang menemaninya.
"jangan nangis"
Suara halus penuh damai itu terdengar jelas dari keheningan malam ini. Shilla mengangkat kepalanya, lalu nampaklah sosok lelaki yang sudah tidak asing lagi baginya. Lelaki itu berdiri tepat di hadapannya, sambil menggenggam selembar sapu tangan.
"ini, hapus air mata itu"
Cakka, dialah orang itu. Sebelumnya, Cakka telah berniat pergi ke rumah Alvin untuk menanyakan kondisinya. Tapi niatan itu pun batal, kala motor yang ia kendarai melintasi posisi Shilla saat ini. Dan Shilla, ia segera memeluk Cakka, tak peduli akan ada desiran rasa lain nantinya. Yang jelas, tubuh tegas itu mampu membuatnya bertahan sementara.
"tenanglah, Shill", ucap Cakka seraya mengusap punggung itu lembut
Aneh! Cakka tak merasakan rasa itu, detak jantungnya tak kunjung berlomba. Padahal yang Cakka tau, dia sangat menyukai Shilla.
Tapi, kenapa ia tak merasa hal-hal pertanda orang jatuh cinta?
"pulang bareng gue, oke?", tawar Cakka yang memegang kedua pipi itu
Dia mengangguk perlahan, lalu mengikuti Cakka yang menuju motornya. Kondisinya jauh lebih baik dibanding tadi, syukurlah ada Cakka dengan dekapannya. Hingga Shilla bisa mengukir senyum kecilnya kembali. Terimakasih Tuhan, Engkau memang sangat baik! Mengirim Cakka untuk menghibur Shilla.
Keanehan itu makin terasa, bahkan jauh lebih menyeruak. Dalam posisi ini, yakni Shilla yang memeluk pinggangnya dari belakang. Bukankah ini merupakan hal paling romantis yang pernah terjadi dalam sejarah hubungan mereka? Tapi, lelaki tampan ini sama sekali tak merasakannya. Ia senang pula bahagia, karena dapat membantu Shilla yang sedang terpuruk. Hanya itu! Tak ada hal lain yang dirasakannya, entah itu balapan jantung, cucuran keringat dingin, atau rasa ingin selalu dekat dengan Shilla. Kenapa? Kenapa begini?
Pukul delapan malam, mereka tiba di depan gerbang rumah Shilla. Gadis itu turun lalu berterimakasih pada Cakka, tak lupa ia menampilkan senyum manisnya. Cakka masih terdiam, ia hanya dapat menatap kepergian Shilla dengan sejuta tanda tanya dalam pikirannya. Hingga pada akhirnya, ketika Shilla sudah memasuki rumah itu. Cakka kembali menyalakan motornya, lalu menjalankan lajunya menuju rumahnya. Karena kejadian tadi, ia membatalkan niatnya untuk ke rumah Alvin. Dan kini, dia pun terjebak dalam pelbagai keanehan tersebut.
***
Nuansa malam Jakarta terlihat begitu gemerlap, begitu banyak lampu berkelap-kelip disini. Alunan kendaraan yang lalu lalang terasa lebih lenggang, mengingat waktu yang sudah melewati jam pulang kerja. Alvin, ibu, dan papa. Hanya ada mereka bertiga di dalam mobil ini. Ayah dan ibu, mereka duduk di bangku depan dengan posisi ayah sebagai pengemudi. Dan Alvin, dia duduk di bangku belakang.
Alvin suka ini, dia sangat menyukai pemandangan yang menurutnya luar biasa saat ini. Dunia luar, apalagi jalan raya dan tempat umum terbuka lainnya merupakan suatu hal yang tabuh bagi Alvin. Karena semenjak divonis menderita kanker, ia tak boleh keluar rumah secara leluasa. Bahkan, ia tidak pernah menaiki angkutan umum. Oleh sebab itu, Alvin sangat menggemari nuansa kali ini. Bagi Alvin, cukup dengan memandang hal tersebut, dirinya dapat memahami tentang rasa keluar rumah dengan bebas itu.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di jalanan, tibalah mereka di rumah. Disambut oleh sajian makan malam spesial ala Tasya dan Tania. Syukurlah, Tania sudah pulang sejak beberapa saat yang lalu. Sehingga dapat membantu Tasya untuk menyiapkan semua ini.
"wah, hebat kalian", ujar papa yang mencium kening kedua putrinya
Papa tersenyum, begitu juga dengan ibu dan Alvin yang dirangkul ibu. Usai itu, papa segera merapihkan barang bawaan tadi. Lalu kembali bergabung di ruang makan. Malam ini, keluarga itu berkumpul lagi. Tak ada satu pun yang absen, semua telah lengkap lima orang. Disela-sela makan, mereka paling bersenda gurau. Termasuk Tasya, yang biasanya diam tanpa kata.
"gimana Vin? Udah enakan badannya?", tanya Tania
"iya kak, besok aku juga mau sekolah"
Dan otomatis saja, mereka yang mendengarkan ujaran Alvin tadi langsung tersedak. Ah, dasar anak keras kepala! Bagaimana mungkin, dirinya yang baru saja keluar dari rumah sakit bersekolah pada keesokan harinya?
Tanpa menyanggah sedikit pun, karena sudah paham betul kalau Alvin akan tetap menuruti kemauannya sendiri. Mereka malah melanjutkan kembali kegiatan makan malam itu.
Usai makan malam, semuanya kembali menuju kamar masing-masing. Berbeda dengan yang lain, Alvin malah terdiam di ruang tamu. Matanya terus memandangi sebuah sketsa yang berada di dalam bingkai yang terpajang di ruang tamu.
"makasih ya buat kadonya, kakak suka", ujar seseorang dari balik tubuhnya
TO BE CONTINUED
holaaaa..!! itu tadi, lagu yang dinyanyiin Rio judulnya "I Live My Life For You" dari FireHouse .. ada yang tau?? eum pasti enggak deh .. kalo enggak tau, tanya bonyok kalian aja .. itu lagu jadul soalnya ._. hehe :D bagi yang mau download,, check this out yaah :)
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
See You On Next Part
Thanks For Read
apalagi dengan tambahan lirik yang begitu padat. Agni dan Ify sungguh sangatlah hebat dalam menciptakan
lagu bersama.
Saat lirik sudah memasuki beberapa bar terakhir, lampu yang semula menerangi ruangan pentas itu padam
seketika. Entah karena apa!
"Agni! Ni! Elo dimana?"
Teriak Ify berulang kali, namun tak ada satu pun suara yang menyahutinya. Ia takut, apa yang akan terjadi
padanya? Begitulah yang ia pikirkan.
***
Duto nampak begitu lelah, bahkan ia tak main penuh pada latihan kali ini. Sesaat kemudian, ia memalingkan wajahnya. Demi memastikan kehadiran saudaranya di seberang sana. Namun, hal itu tak ada. Ify yang semula berada disana sudah tak terlihat batang hidungnya, begitu pula dengan Agni yang tadi menemaninya.
"oke cukup! Ayo semuanya kumpul", seru Steve selalu wasit juga pelatih kedua tim
Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan dengan membentuk formasi setengah lingkaran yang mengelilingi Steve.
"hari ini cukup bagus. Hanya saja, Duto! Kau harus lebih fit lagi di latihan selanjutnya, makanya kamu harus jaga kesehatanmu"
"siap kak!"
"soal Alvin, kita bahas nanti. Bagaimana? Ada yang mau bertanya?"
"enggaaakkk"
"baiklah! Kalo gitu siapkan diri kalian, karena besok lusa adalah latihan yang terakhir. Apapun hasil pertandingan nanti, kita tetap juaranya. Semangat!", seru Steve penuh semangat
Tanpa komando, rombongan itu pun memasuki ruang ganti. Masing-masing dari mereka berdiri di depan lokernya, namun hal itu berbanding terbalik pada Duto. Ia terduduk lesu di kursi, membuka tali sepatunya satu per satu. Setelah selesai, ia beranjak untuk mengganti bajunya.
"gimana Yo? Elo udah siap?"
"enggak tau, Cak"
"ah payah lo, Yo. Ify itu kan cewek yang lo suka, masa elo jadi lemes gini sih?"
"tapi gue deg-degan, Cak. Nembak cewek kan gak gampang"
"gue yakin elo bisa kok, boy. Elo kan hebat"
Dengan samar, suara-suara itu terdengar. Suara yang berasal dari balik pintu ruang ganti. Ify? Apa yang mereka lakukan pada Ify? Apa ini ada hubungannya sama menghilangnya Ify tadi? Tanpa berpikir panjang, Duto segera merapihkan dirinya dan mengambil tasnya, lalu berjalan perlahan demi mengikuti jejak Cakka dan Rio.
***
Lampu ini padam cukup lama, Ify yang lelah berteriak pun duduk sambil memeluk kakinya erat. Aliran air mata yang tak terbendung itu juga telah mengalir di pipinya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.
"gue ta ... "
Belum sempat kata itu terucap, suatu lampu sorot yang biasa digunakan untuk pentas menyala dengan benderang. Mengarahkan sinarnya menuju pintu ruang musik yang tiba-tiba terbuka, atau lebih tepatnya pada seorang muda yang tampil menawan dengan gitar dalam pegangannya. Ify yang merasa silau akan situasi ini segera berdiri, membulatkan matanya untuk menatap siapa sebenarnya orang muda itu.
You know your everything to me
And i could never see
The two of us apart
And you know i give my self to you
And no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you
And i want you to know
I need you like i've needed anyone before
I live my life for you
I want to be your side
In everything you do
And if there is only one thing
You can believe is true
I live my life for you
Dedicated my life to you
You know that
I would did for you
I live my life for you ...
Perlahan tapi pasti, lelaki yang ternyata Rio itu mulai mendekati Ify. Suaranya yang merdu seakan menjadi penawar gundah di hatinya, ia berdiri tegap dengan tak berkutik sedikit pun. Rio mulai menaiki tangga panggung, demi mensejajarkan posisinya di hadapan Ify. Lagu masih mengalun dengan merdunya, sampai akhirnya terhenti bersama dengan Rio yang menaruh gitarnya lalu meraih kedua tangan Ify. Saat ini ruangan hanya diterangi oleh suatu lampu sorot yang hanya mengarah pada Ify dan Rio.
Hup! Pelukan hangat pun terukir dengan sempurna. Tangisan yang semula adalah ketakutan, telah berganti menjadi tangis yang penuh keharuan. Tak peduli dengan apa yang dirasakan Ify, Rio tetap akan melanjutkan niatnya. Dalam dekapan itu, Rio mendekatkan mulutnya tepat di telinga gadis itu.
"aku mencintai kamu, Allysa", bisik Rio
Spontan, Ify melepaskan pelukan tadi. Ia menatap Rio dalam, menangkap suatu ketulusan di dalamnya. Ya, Rio memang menyukai Ify, begitu pula sebaliknya. Ify juga menyukai Rio, dan dia pun menganggukan kepalanya.
Lampu pun menyala, menampilkan beberapa orang yang terlibat dalam proses penuh keromantisan ini. Yaitu mereka yang berhubungan dengan Rio dan Ify, seperti Agni dan Cakka. Kini Rio dan Ify resmi menjadi sepasang kekasih.
Duto yang mengintip hal tersebut dari balik jendela hanya dapat menarik ujung bibirnya, tersenyum manis dengan kebersamaan dua insan itu. Ia bahagia karena Ify telah bahagia bersama lelaki yang mencintainya, namun juga miris karena Ify yang merupakan satu-satunya orang yang selalu ada untuk menemaninya telah berpaling ke orang lain. Sedih, tapi ia tak boleh seperti ini! Duto mengepal tangannya erat, menahan kekhawatiran akan jarangnya keberadaan Ify disisinya kelak.
Dengan langkah yang berat, dia mulai berjalan. Menuju puncak gedung sekolah, tempat kesukaannya. Di tepi lantai paling atas gedung berlantai empat itu, Duto mendudukan dirinya. Menikmati kehangatan senja bersama dengan semilir angin disisinya.
Sementara itu, ada Cakka dan Agni yang tersenyum bangga melihat Rio bersama Ify. Akhirnya sahabat mereka yang satu itu berhasil menaklukan si pencuri hatinya. Jarak yang hanya bersebelahan membuat Agni melirik sejenak pada diri Cakka. "ah Cakka! Kapan elo bisa melakukan hal itu sama gue? Gue capek nunggu lo", batin Agni. Puas memandangnya, Agni kembali menatap nuansa kebersamaan Ify dan Rio. Dan tak lama kemudian, "Rio udah temui Ify jadi lentera hatinya, tapi gue? Buat pilih Shilla atau Agni aja sampe butuh waktu bertahun-tahun gini", gerutu Cakka dengan lirikan matanya pada Agni
***
Pergi bersama sejak siang hingga malam terasa begitu singkat, jika dilalui dengan rasa bahagia. Seperti dua sejoli ini. Waktu yang lebih dari enam jam telah mereka habiskan bersama untuk jalan-jalan menyusuri pesisir ibukota. Entah itu mall, taman, atau tempat lainnya.
Kini, mereka berdua sudah berada dalam mobil dengan nyaman. Bersamaan dengan sang mentari yang memasuki tempat peristirahatannya. Wajah lesu memang wajar, mengingat begitu banyak hal yang mereka lakukan hari ini. Tapi lesu di wajah Tania jauh berbeda. Nampak suatu hal tersembunyi yang menambah kelesuan itu, bahkan sebelum dimulainya perjalanan hari ini.
"Tania", panggil Iyel sambil memegang lembut tangan Tania
Mobil itu terhenti di pinggir jalan. Iyel mengubah posisinya untuk menghadap Tania yang berada di sebelahnya, ia akan menjadi pendengar yang baik. Dan Tania, ia masih bungkam sambil memandang lurus ke depan. Tak menyerah, Iyel menggapai tangan itu untuk kedua kalinya. Lalu meletakan keduanya tepat di dada bidangnya.
"kenapa? Alvin?", tebak Iyel
Tania menangguk dengan buliran air mata yang menghiasi wajahnya
"aku takut, Yel", desah Tania lirih
Iyel mendekap tubuh yang gemetar itu. Ia tau persis bagaimana rasanya, rasa yang meluap ketika seorang adik kesayangan jatuh sakit. Karena memang, dulu Sivia sempat mengalami hal keterpurukan yang mungkin sejajar dengan apa yang dialami Alvin.
"tenang, Ni. Aku disini, buat dengerin cerita kamu", bisik Iyel
"aku takut, Yel. Aku gak mau liat Alvin alami semua itu"
Tangisan tadi terdengar semakin lirih. Sama seperti saat ia di hadapan Tasya, pagi tadi. Tania menangis karena semua prediksi papa tentang Alvin. Dan, rasa takut itu masih ada dalam dirinya, menggerogoti setiap titik pikirannya.
Cukup lama pelukan itu berlangsung, dimana Iyel berusaha untuk berbagi energi positifnya pada Tania. Selepas itu, Tania mulai menceritakan tentang semua penyebab rasa takut tadi.
Semua yang ditakutinya terhadap kondisi Alvin. Dan lagi-lagi Tania berucap kalau ia tak mau melihat semua proses menyebalkan itu. Sementara itu, Iyel masih ada disini. Di hadapan Tania dengan tangan yang selalu menggenggam erat tangan gadis itu, sambil sesekali memberi kata-kata penyemangat. Setidaknya, hal itulah yang bisa membantu Tania. Wanita spesial dihidupnya.
***
Kondisinya sudah membaik, ia pun sudah dapat berjalan merapihkan beberapa perlengkapan di dalam kamar tersebut. Infus dan beberapa selang cairan sudah terlepas dari tubuhnya semenjak siang tadi, dan baju yang semula berlogo rumah sakit turut berganti dengan baju lengan panjang yang berwarna merah dengan dilapisi oleh jaket tebal yang juga berwarna merah. Meski sudah terlihat segar, tapi sebenarnya tubuh itu belumlah sembuh secara total. Wajah pucatnya masih terpampang jelas, begitu pula dengan desahan napas lelah yang entah sudah berapa kali ia hembuskan.
"tak usah dipaksakan. Sini, biar papa yang merapihkannya", ujar papa yang baru saja memasuki kamar Alvin
"terimakasih", sahut Alvin sambil mendudukan dirinya di sofa
"malam ini kamu bisa pulang, tapi harus tunggu ibu selesai urus administrasinya. Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan, nak?"
"jauh lebih baik, kepala ku udah enggak pusing lagi"
Walau terkesan canggung, tapi Alvin dan papa benar-benar menikmati nuansa kali ini. Harapan papa pada si anak tirinya itu masih sama, yakni berharap supaya dia memanggilnya dengan sebutan papa. Sesederhana itu. Namun Alvin, ia sulit untuk mengungkapkannya. Kata 'papa' merupakan suatu hal yang makin membuatnya merasa kalau dirinya hanyalah seorang anak tiri yang ditinggal pergi oleh sang ayah kandungnya.
Tak lama kemudian, ibu memasuki kamar rawat tersebut.
Menatap dua manusia dihadapannya itu dengan ulasan senyum, Alvin yang duduk dan papa yang sudah selesai menata barang-barang tadi.
"hai sayang", ujar ibu pada anak kesayangannya itu
"hai bu", sahut Alvin dibarengi dengan pelukan hangatnya
Dibalik itu, papa hanya bisa terdiam seraya berpikir. Kapan Vano bisa berada disana? Tergabung dalam dekapan erat itu?
"kamu yakin, mau pulang sekarang?", tanya ibu
Masih dalam posisi yang sama, Alvin menganggukan kepalanya.
"aku mau pulang", ujarnya
Dengan lembut, ibu mengusap punggung itu. Melepas dekapannya perlahan, lalu mencium kening itu penuh kasih. Ibu menyayangi Alvin, begitu pula Alvin pada ibu. Sementara papa, dia masih menunggu waktu yang tepat. Sampai akhirnya ia bisa tergabung dalam kehangatan itu.
***
Entah karena bentuk kesetiakawanannya pada Alvin, atau karena alasan lain. Sivia belum bersekolah pada hari ini, dia lebih memilih untuk istirahat di rumah. Karena memang, kemarin merupakan hari yang melelahkan baginya. Cewek berpipi chubby ini malah cerdik diri di kamar, dengan ditemani oleh sahabatnya. Malam ini, Shilla datang ke rumah Sivia untuk memberi penjelasan tentang pelajaran, supaya Sivia tidak ketinggalan.
"kenapa sih Vi, kok bengong gitu?", tanya Shilla pada Sivia yang menatap kosong lembaran-lembaran kertas di hadapannya
"eng enggak kok Shill, gue enggak kenapa-napa", sahutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"ayolah, Vi! Gue ini sahabat lo dari kecil, gue tau betul gimana tali penyambung antara wajah sama hati lo. Vi,
elo kenapa sih? Dulu waktu kita belum sekolah bareng, gue selalu ada di sisi lo dan kita saling cerita tentang hidup kita. Tapi sekarang, waktu berdua kayak gini aja udah jarang banget, kenapa Vi? Kenapa elo jadi menghindar gini?"
"Sivia! Gue ini Shilla, sahabat lo. Dan elo tau kan apa gunanya sahabat. Kalo ada masalah, cerita Vi", lanjut Shilla
Shilla benar-benar tak memahami maksud Sivia, karena ia tak tau sedikit titik pun dari masalah yang dialami Sivia. Yaitu Alvin, sahabat yang telah menyatakan cintanya. Jujur, Sivia sangat ingin membagi semua kisah ini. Tapi apa daya, ia tak bisa. Mengingat larangan keras dari berbagai pihak untuk menceritakan tentang kondisi Alvin. Jadi perempuan itu tidak dapat berkata apa-apa. Apalagi pada Shilla. Entah sampai kapan ia pun juga harus merahasiakan hubungan Iyel dengan Tania pada Shilla, karena cepat atau lambat Shilla pasti akan mengetahuinya.
"gue baik-baik aja, Shill", Sivia memajukan tubuhnya demi memeluk sahabatnya
"elo gak bisa kasih tau gue, ya? Oke, gapapa kok Vi. Gue paham, gue tau, dan gue gak akan kepo tentang hal
ini lagi sama lo. Gue sahabat lo, Vi", ucap Shilla
Bodoh! Shilla maafkanlah Sivia, dia tau dia salah. Oleh sebab itu, maafkanlah dia. Tangis itu memang tidak timbul, namun jeritan telah menguasai hatinya. Ingin sekali ia lari dari kondisi ini, pergi menjauh dari goresan tinta ini. Tapi ia adalah pemain disini, tokoh suatu kisah dalam takdir hidupnya.
TING NONG! Bel rumah berbunyi, membuat pelukan itu pudar seketika. Sivia yang tau persis siapa yang berada di balik pintu rumah itu segera menyiapkan dirinya demi kenyataan pahit yang harus ia telan malam ini.
"itu siapa, Vi? Elo gak buka pintunya?"
"ah, enggak usah. Kan ada mama"
"oh. Eh Vi, gue pamit pulang ya. Udah malem"
"jangan!", bagai kilat Sivia menahan lengan Shilla yang beranjak pergi
"kenapa?", bingungnya
"gu gue ... Nah ini Shill, catetannya kan belum selesai gue salin"
"udah, elo pegang aja. Besok, gue gak ada pelajaran itu kok"
"tapi Shill, elo kan baru dari jam lima sore disini. Masa dua kan doang kita ngobrolnya?"
"aduh Vi, sorry! Gue masih harus ngerjain PR Geografi, sorry ya Vi"
Tak dapat berlaku apa-apa lagi, Sivia hanya bisa menundukan kepalanya lalu berjalan mengikuti jejak
sahabatnya itu. Dan benar saja! Belum juga keluar sepenuhnya, Iyel memanggil Shilla dan menyuruh gadis itu mendekat.
"duduk Shill", suruh Iyel yang dituruti Shilla juga Sivia
"ada apa, kak?", tanya Shilla dengan suara miris karena kehadiran Tania disisi lelaki yang dicintainya
"kamu kan udah kakak anggap adik kak Iyel sendiri. Ini, kenalin namanya Tania. Dia temen kakak"
"hai! Tania", ujarnya dengan tangan yang terulur
Mata kosong mewarnai tatapan Shilla. Sungguh tak percaya, kalau Iyel telah memilih gadis lain dan hanya menganggapnya sebagai seorang adil. Dia ingat siapa wanita ini, wanita yang waktu itu menjemput Alvin. Dia kakaknya Alvin, itulah yang ia ketahui dari Sivia. Itu berarti ... Ya Tuhan! Sivia telah merahasiakan semua ini, Sivia telah membohonginya selama ini.
"Shill", tegur Iyel
"oh iya, aku Shilla kak", balas Shilla
"em sorry, tapi aku harus pulang. See you kak"
Dia pergi begitu saja, tanpa sanit pada Sivia. Tau bagaimana perasaan sahabatnya, Sivia segera berdiri dan berniat untuk mengejar dan menjelaskannya pada Shilla. Namun Iyel menahannya, lelaki itu malah menyuruh Sivia duduk kembali. Kini tinggalah mama, Iyel, Tania, dan Sivia. Sebenarnya, Iyel tau tentang apa yang Shilla rasakan padanya. Dan hal tadi pun adalah rencananya, makanya ia segera menahan Sivia untuk duduk kembali dan menikmati kebersamaan bersama Tania. Ini semua, karena Iyel yang tidak ingin Shilla -yang sudah dianggapnya sebagai adik- mengharapkan hal yang mungkin tak akan bisa diwujudkannya. Sementara itu, Sivia hanya dapat menarik napasnya lalu menuruti kemauan si kakak. Mungkin, Shilla lebih baik sendiri.
***
Gadis muda ini masih berlari, berlari kencang tanpa arah yang ia ketahui. Ia kacau! Ia kecewa! Ia marah! Tak peduli berapa banyak orang sekitar yang menertawainya, tapi kali ini emosinya benar-benar melambung tinggi. Merasa cukup lelah dengan semua tenaga yang sudah terkuras, dia mendudukan dirinya di tepi jalan. Memeluk lututnya erat dengan uraian air mata yang menemaninya.
"jangan nangis"
Suara halus penuh damai itu terdengar jelas dari keheningan malam ini. Shilla mengangkat kepalanya, lalu nampaklah sosok lelaki yang sudah tidak asing lagi baginya. Lelaki itu berdiri tepat di hadapannya, sambil menggenggam selembar sapu tangan.
"ini, hapus air mata itu"
Cakka, dialah orang itu. Sebelumnya, Cakka telah berniat pergi ke rumah Alvin untuk menanyakan kondisinya. Tapi niatan itu pun batal, kala motor yang ia kendarai melintasi posisi Shilla saat ini. Dan Shilla, ia segera memeluk Cakka, tak peduli akan ada desiran rasa lain nantinya. Yang jelas, tubuh tegas itu mampu membuatnya bertahan sementara.
"tenanglah, Shill", ucap Cakka seraya mengusap punggung itu lembut
Aneh! Cakka tak merasakan rasa itu, detak jantungnya tak kunjung berlomba. Padahal yang Cakka tau, dia sangat menyukai Shilla.
Tapi, kenapa ia tak merasa hal-hal pertanda orang jatuh cinta?
"pulang bareng gue, oke?", tawar Cakka yang memegang kedua pipi itu
Dia mengangguk perlahan, lalu mengikuti Cakka yang menuju motornya. Kondisinya jauh lebih baik dibanding tadi, syukurlah ada Cakka dengan dekapannya. Hingga Shilla bisa mengukir senyum kecilnya kembali. Terimakasih Tuhan, Engkau memang sangat baik! Mengirim Cakka untuk menghibur Shilla.
Keanehan itu makin terasa, bahkan jauh lebih menyeruak. Dalam posisi ini, yakni Shilla yang memeluk pinggangnya dari belakang. Bukankah ini merupakan hal paling romantis yang pernah terjadi dalam sejarah hubungan mereka? Tapi, lelaki tampan ini sama sekali tak merasakannya. Ia senang pula bahagia, karena dapat membantu Shilla yang sedang terpuruk. Hanya itu! Tak ada hal lain yang dirasakannya, entah itu balapan jantung, cucuran keringat dingin, atau rasa ingin selalu dekat dengan Shilla. Kenapa? Kenapa begini?
Pukul delapan malam, mereka tiba di depan gerbang rumah Shilla. Gadis itu turun lalu berterimakasih pada Cakka, tak lupa ia menampilkan senyum manisnya. Cakka masih terdiam, ia hanya dapat menatap kepergian Shilla dengan sejuta tanda tanya dalam pikirannya. Hingga pada akhirnya, ketika Shilla sudah memasuki rumah itu. Cakka kembali menyalakan motornya, lalu menjalankan lajunya menuju rumahnya. Karena kejadian tadi, ia membatalkan niatnya untuk ke rumah Alvin. Dan kini, dia pun terjebak dalam pelbagai keanehan tersebut.
***
Nuansa malam Jakarta terlihat begitu gemerlap, begitu banyak lampu berkelap-kelip disini. Alunan kendaraan yang lalu lalang terasa lebih lenggang, mengingat waktu yang sudah melewati jam pulang kerja. Alvin, ibu, dan papa. Hanya ada mereka bertiga di dalam mobil ini. Ayah dan ibu, mereka duduk di bangku depan dengan posisi ayah sebagai pengemudi. Dan Alvin, dia duduk di bangku belakang.
Alvin suka ini, dia sangat menyukai pemandangan yang menurutnya luar biasa saat ini. Dunia luar, apalagi jalan raya dan tempat umum terbuka lainnya merupakan suatu hal yang tabuh bagi Alvin. Karena semenjak divonis menderita kanker, ia tak boleh keluar rumah secara leluasa. Bahkan, ia tidak pernah menaiki angkutan umum. Oleh sebab itu, Alvin sangat menggemari nuansa kali ini. Bagi Alvin, cukup dengan memandang hal tersebut, dirinya dapat memahami tentang rasa keluar rumah dengan bebas itu.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di jalanan, tibalah mereka di rumah. Disambut oleh sajian makan malam spesial ala Tasya dan Tania. Syukurlah, Tania sudah pulang sejak beberapa saat yang lalu. Sehingga dapat membantu Tasya untuk menyiapkan semua ini.
"wah, hebat kalian", ujar papa yang mencium kening kedua putrinya
Papa tersenyum, begitu juga dengan ibu dan Alvin yang dirangkul ibu. Usai itu, papa segera merapihkan barang bawaan tadi. Lalu kembali bergabung di ruang makan. Malam ini, keluarga itu berkumpul lagi. Tak ada satu pun yang absen, semua telah lengkap lima orang. Disela-sela makan, mereka paling bersenda gurau. Termasuk Tasya, yang biasanya diam tanpa kata.
"gimana Vin? Udah enakan badannya?", tanya Tania
"iya kak, besok aku juga mau sekolah"
Dan otomatis saja, mereka yang mendengarkan ujaran Alvin tadi langsung tersedak. Ah, dasar anak keras kepala! Bagaimana mungkin, dirinya yang baru saja keluar dari rumah sakit bersekolah pada keesokan harinya?
Tanpa menyanggah sedikit pun, karena sudah paham betul kalau Alvin akan tetap menuruti kemauannya sendiri. Mereka malah melanjutkan kembali kegiatan makan malam itu.
Usai makan malam, semuanya kembali menuju kamar masing-masing. Berbeda dengan yang lain, Alvin malah terdiam di ruang tamu. Matanya terus memandangi sebuah sketsa yang berada di dalam bingkai yang terpajang di ruang tamu.
"makasih ya buat kadonya, kakak suka", ujar seseorang dari balik tubuhnya
TO BE CONTINUED
holaaaa..!! itu tadi, lagu yang dinyanyiin Rio judulnya "I Live My Life For You" dari FireHouse .. ada yang tau?? eum pasti enggak deh .. kalo enggak tau, tanya bonyok kalian aja .. itu lagu jadul soalnya ._. hehe :D bagi yang mau download,, check this out yaah :)
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
See You On Next Part
Thanks For Read
Tidak ada komentar:
Posting Komentar