Sabtu, 29 Juni 2013

Lentera Hati *Part 13*

Papa tersenyum, begitu juga dengan ibu dan Alvin yang dirangkul ibu. Usai itu, papa segera merapihkan barang bawaan tadi. Lalu kembali bergabung di ruang makan. Malam ini, keluarga itu berkumpul lagi. Tak ada satu pun yang absen, semua telah lengkap lima orang. Disela-sela makan, mereka paling bersenda gurau. Termasuk Tasya, yang biasanya diam tanpa kata.

"gimana Vin? Udah enakan badannya?", tanya Tania

"iya kak, besok aku juga mau sekolah"

Dan otomatis saja, mereka yang mendengarkan ujaran Alvin tadi langsung tersedak. Ah, dasar anak keras kepala! Bagaimana mungkin, dirinya yang baru saja keluar dari rumah sakit bersekolah pada keesokan harinya?

Tanpa menyanggah sedikit pun, karena sudah paham betul kalau Alvin akan tetap menuruti kemauannya sendiri. Mereka malah melanjutkan kembali kegiatan makan malam itu.



Usai makan malam, semuanya kembali menuju kamar masing-masing. Berbeda dengan yang lain, Alvin malah terdiam di ruang tamu. Matanya terus memandangi sebuah sketsa yang berada di dalam bingkai yang terpajang di ruang tamu.

"makasih ya buat kadonya, kakak suka", ujar seseorang dari balik tubuhnya

Tubuh itu berbalik, lalu menatap sosok yang dulu selalu menjauhi dirinya. Bibirnya gemetar, ia tak bisa mengatakan apapun. Kenyataan ini terlalu indah baginya, hingga Alvin tak mampu memahami cara bersikap dengan baik.

"makasih ya"

Perlahan, Tasya melangkahkan kakinya. Mendekati posisi Alvin, kemudia merengkuhnya erat. Untuk pertama kalinya hal ini terjadi, dimana seorang Tasya memeluk seorang Alvin.

"maafin kakak", lirih Tasya

Alvin diam, tak berkutik sedikit pun. Sungguh, ini merupakan kenyataan yang sangat indah! Usai mengetahui hal tersebut, Tasya segera meraih tangan Alvin. Lalu mengarahkannya untuk memeluk balik tubuh Tasya.

"kak", ujarnya

"ya?", pelukan itu pun berakhir

Dua bola mata itu saling tatap, hingga tersiratkan rasa yang sudah lama mereka terdiam dalam diri mereka. Tak kuat menahan, air mata itu mulai mengalir di pipi Tasya. Ia sedih, kenapa baru sekarang dia bersikap seperti ini? Juga bahagia, karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melakukan kebaikan ini. Sementara Alvin, ia menghapus tetesan itu dengan lembut. Membuat sang kakak mulai melebarkan senyumannya, dan mengecup keningnya hangat.

"kakak sayang Alvin"

"Alvin sayang kakak"

Memang hanya ada tiga kata disana, namun begitu banyak perjuangan juga kenangan yang membentuknya. Tasya sudah berubah, sama dengan Alvin yang menyambut baik semua itu.

***

Kecerahan pagi ini seakan menjadi penyemangat bagi Alvin, hari ini adalah hari kembalinya dia ke sekolah. Nuansa sekolah dan permainan basket, itulah dua hal yang sedang dirindukannya. Dan kini, semuanya akan dimulai kembali.

"Alvin berangkat, bu"

Seperti biasa, ibu langsung memasukan bekal sarapan ke dalam tas sekolah Alvin. Lalu mengenakannya pada Alvin, dengan ditambah oleh kecupan manis di pipinya. Tapi kali ini berbeda, masih ada Tasya yang turut menambah keharmonisan keluarga ini. Senyum bahagia pun terukir penuh damai disana, tepatnya pada wajah yang makin hari memucat itu.

"hari baru, semangat baru!"

Begitulah ujaran Tania, kala mobil sudah sampai di depan pintu gerbang SMA Jakarta. Alvin tersenyum -lagi- mendengarnya, Tania memang bisa sekali membangkitkan semangat bocah itu.

Tak lama kemudian, Tania berlalu. Sekarang tinggalah Alvin yang akan menghadapi harinya ini di sekolah. Dengan penuh semangat, ia mulai melajukan langkahnya. Menyapa semua orang yang dilewatinya dengan senyuman yang sedari tadi bertengger di wajahnya.

"hai bro! Kemana aja lo?", sapa Cakka ketika dirinya memasuki ruang kelas

"biasalah Cak, gue sakit"

"sakit lo lebay", komen Rio

"hehe, ya emang dari dulu udah lebay. Mau diapain lagi"

"sorry ya Vin, gue enggak sempet jenguk lo. Gue sibuk ngurusin basket sama band", timpal Agni

"oh iya! Gue juga, Vin. Sebenernya kemaren malem gue mau jenguk lo, tapi gak jadi bro. Soalnya ada something gitu", tambah Cakka

"gara-gara lo, gue harus revisi susunan pemain inti buat tanding nanti", oceh Rio

"oh iya boy, gimana jadinya? Gue gak dimainin ya?"

"tenang Vin, elo jadi cadangan dulu. Lagipula, elo kan juga baru sembuh", hibur Agni

"yoi bro"

Rio terdiam, sebenarnya masih banyak yang ingin ia katakan pada Alvin. Tapi sepertinya, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Apalagi ditambah dengan kehadiran Sivia di tengah mereka.

"nah, ini dia juga baru masuk", celoteh Cakka kala Sivia berjalan menuju kursinya yang berderetan dengan mereka

"sorry Cak, kemaren gue ada urusan. Oh iya, gimana tugas kita?", sahut Sivia

"astaga, Ni! Tugas? Duh, gue lupa", ujar Rio histeris

"sama Yo, gue juga", Agni tak kalah histeris

"yaudahlah ya, santai aja", ucap Alvin

Otomatis saja, pandangan tajam dengan sorotan mata nan runcing terarahkan padanya. Juga ditambah dengan pukulan yang kompak mereka bertiga -kecuali Sivia- daratkan pada kening Alvin.

"dikumpulnya sih emang masih lama, sebulan sebelum UN malahan. Tapi tetep aja, ini tuh susah Alvin!", jelas Agni

"udah-udah! Ni, mending kita omongin ini sama temen sekelompok kita deh. Buat konsep makalah kita nanti", ajak Rio yang langsung dituruti Agni

Waktu masih ada lima belas menit, sebelum jam masuk berbunyi. Dan mereka, satu isi kelas nampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang bercerita tentang kehidupannya, ada yang menyalakan musik dari ponselnya dengan suara maksimal, ada pula yang sibuk salin catatan sana sini. Namun Alvin dkk lebih memilih tenang untuk membahas makalah yang dituntut harus setebal buku-buku sejarah.

"tadi itu sakit gak, sob?", tanya Cakka sambil menatap kening Alvin yang memerah

"menurut lo?"

"hehe, gue gak ikut pukul lho Vin", ujar Sivia

"ya iyalah elo gak pukul, Vi. Kan si Alvin itu pacar lo"

"hah?", wajah penuh tanda tanya juga kaget segera meliputi Alvin dan Sivia

"semuanya udah tau kali, kalian berdua juga sering bareng kok"

"ta ... ta ... tapi ...", sergah Alvin dan Sivia bersamaan

"tuh iya kan, kalian bareng ngomongnya", potong Cakka

"pokoknya kalo kalian jadian, jangan lupain gue yah. Em, jajanan kantin boleh banget tuh", lanjutnya

"udah udah, ayo kita bahas tugas kita"

Alvin menampilkan senyumnya, sesekali ia memalingkan wajahnya. Melihat Sivia yang masih menggantungkan jawabannya, entah sampai kapan. Selaku yang paling pintar, Cakka membagi pembahasan kanker otak ke beberapa bagian. Yang nantinya akan dikerjakan oleh mereka bertiga, masing-masing menurut bagiannya. Itulah Cakka, dia selalu mahir dalam mengerjakan tugas. Kecuali ... tugas dalam memilih hati.

"jadi, gue tentang proses kanker? Tentang perkembangan dan dampaknya gitu?", protes Alvin

"iya, kalo Sivia tentang akhir dari kanker. Ya, elo taulah gimana orang yang sakit kanker. Nah, tugas Sivia itu buat tentang akhir dari kanker di tubuh manusia. Kalo gue, ya tentang definisi kanker. Kenapa Vin, ada masalah?"

"udahlah Al, daripada punya gue", sahut Sivia

Ia benci ini! Semua yang telah di duganya akan terjadi, dan dirinya harus siap menerima hidup itu. Cakka, Rio ... maafkanlah Alvin. Mungkin, sebentar lagi kalian akan tau tentang itu. Dan Sivia, ia terus membantu Alvin untuk menjawab kecurigaan Cakka.

"kalo gitu, udah fix ya?", tanya Cakka

"iya Cakka"

"terakhir kumpul, dua bulan sebelum UN ya. Biar nanti kita edit dulu"

"SIAP!"
***

Semilir angin juga hamparan rumput hijau telah menjadi tempat kesukaannya, yaitu taman luas yang berada di sekitar kampus. Tasya dan Steve, mereka berdua adalah pengunjung yang paling rajin. Selain tempat dan suasananya yang nyaman, tempat ini juga menyimpan kenangan nan berharga dalam hubungan mereka.

Tiga tahun yang lalu, mereka bertemu disini. Tasya yang hobi membaca, menghabiskan masa rehatnya untuk membaca berbagai macam buku disini. Juga Steve yang tergabung dalam band kampus, sering menghabiskan waktunya. Untuk berlatih gitar disini. Dan taman ini pun telah menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.

Awal mulanya, Steve sering memperhatikan Tasya. Hingga akhirnya rasa suka serta kagum mulai menyergapnya, dan terus mengembangkan sayapnya. Begitu pula Tasya. Meski terganggu dengan perhatian Steve secara diam-diam, tapi Tasya juga menyimpan rasa yang sama. Ia juga menyukai Steve.

Diam-diam suka itu pun berakhir, ketika Steve memantapkan langkahnya. Hingga pada dua tahun yang lalu, mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Dan semenjak itulah, taman ini menjadi tempat kesukaan mereka berdua.

"hari ini kamu melatih mereka?", tanya Tasya yang menyandarkan kepalanya tepat di dada Steve

"mereka? Maksudmu, tim basket Alvin?", tanya balik Steve yang mengusap lembut rambut hitam Tasya

"iya, mulai hari ini Alvin akan kembali mengikuti latihan"

"dia udah sembuh?"

"sembuh adalah kata yang tabuh buat penyakitnya, tapi kondisinya jauh lebih baik"

Lelaki itu terdiam sejenak, pikirannya sedang sibuk mencerna kata-kata Tasya dalam percakapan tadi. Semua itu terdengar begitu aneh, jika Tasya yang mengatakannya. Alvin dan Tasya, bukankah mereka tak pernah akur?

"aku rasa kata-kata kamu waktu itu ada benernya, Alvin adalah adik yang hebat. Iya kan?"

Bagai kilat, Steve membalikan tubuh Tasya. Membuat tubuh itu menghadapnya. Sungguh! Steve butuh satu kali lagi Tasya mengatakan hal tadi, ia tidak percaya hal yang diharapkannya itu terjadi.

"kamu, a ... apa kata kamu?"

"makasih Steve, aku percaya kok kalo Alvin adalah adik aku yang hebat. Sama kayak Tania", Tasya merengkuh tangan Steve erat

"kamu juga hebat Sya, kalian bertiga adalah saudara yang hebat. Aku sayang kamu, Sya", dekapan hangat pun terjalin disana

"aku juga sayang sama kamu"

Sahutan itu terucap, dibarengi oleh pelukan yang semakin erat. Akhirnya, harapan ini benar-benar terjadi. Membuahkan hasil yang manis dan dapat dinikmati oleh mereka semua.

***

Alunan merdu tuts hitam putih itu seakan menjadi pengiring laju para siswa menuju kantin, untuk menunaikan masa istirahat. Lelaki itu duduk di balik alat musik berwarna hitam mengkilat, dengan jemarinya yang mengikuti not demi not dalam pikirannya. Tak ada siapapun di ruang musik ini, hanya ada dirinya yang tampil di atas panggung yang cukup megah. Nada demi nada itu masih terdengar, malah memanggil Sivia yang sepertinya kenal betul dengan permainan piano ini. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menuju asal suara. Hingga pada akhirnya, Sivia membuka pintu itu. Lalu memasukinya dan menatap lelaki yang tampil di atas panggung. Duto, dialah orang itu.

Cukup lama gadis itu duduk di kursi paling belakang. Ia terbawa arus permainan piano ini, sampai semua ingatan tentang mereka berputar dalam memorinya. Lagu ini adalah nada kesukaan Duto, nada yang pernah ditampilkannya di hadapan Sivia saat itu. Saat dirinya dinyatakan lulus dari pendidikan putih-biru, di taman komplek rumah Sivia. Kejadian manis itu, tak akan mungkin dapat dilupakannya. Duto yang dulu selalu mencari cela untuk mendekatinya, telah dengan gagah menyatakan cinta di hadapannya yang duduk di kursi roda. Duto, dialah cinta pertama Sivia.

Prok Prok Prok! Suasana hening telah membuat tepuk tangan Sivia terdengar lebih keras, juga menarik perhatian Duto untuk mendekatinya. Duto mendekat, begitu pula dengan Sivia. Tanpa para takut akan cinta mereka yang memudar, mereka tatap menatap dengan posisi yang cukup dekat.

"maaf, kemarin gue belum bilang makasih", ujar Sivia memulai pembicaraan

"kalo gitu, katakanlah sekarang"

"em .. muka lo? Apa masih sakit?", tangan Sivia mengusap pipi Duto halus

Duto menggapai tangan itu, membuat Sivia kembali menatapnya dengan lebih dekat. Wajah itu masih lebam, terlihat jauh lebih jelas dalam kedekatan ini.

"aku sayang sama kamu, Vi. Gak peduli apa yang kamu rasa sekarang, tapi aku tetep sayang sama kamu"

Sivia terdiam, jantungnya berdetak kencang. Duto, tolong jangan ganggu gadis ini. Dia adalah Sivia, perempuan yang dicintai Alvin. Duto berhentilah, lepaskan Sivia!

"Duto", Sivia yang berhasil melepas genggaman Duto

"gue .. gue gak bisa! Elo emang cinta pertama gue, dan gue pun ngerasain hal yang sama kayak lo. Tapi ada cowok lain yang lebih berarti di hidup gue. Duto, gue gak bisa", lanjut Sivia sambil membalikkan tubuhnya

Tak disangka, ternyata Alvin telah berdiri di hadapan mereka. Dia berdiri tepat di depan pintu, dengan mata yang sudah menangkap adegan mereka tadi. Adegan yang terlihat begitu manis, layaknya sepasang kekasih.

"Alvin, aku ..."

Belum sempat ucapan itu selesai, Alvin melangkahkan kakinya. Mendekati mereka yang tak dapat berkutik sedikit pun. Ia terus bergerak, sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan Duto.

"dia gak akan pernah pantas sama cowok kayak lo", ujar Alvin sambil menarik kerah seragam Duto

"mau bagaimana pun elo berusaha, gue tetep jadi yang pertama di hatinya", bisik Duto

"tapi gue, gue lah yang akan jadi terbaik di hatinya", Alvin melepas kasar tarikannya

Alvin meraih tangan Sivia, melirik sinis ke arah Duto. Lalu berjalan meninggalkan sang rivalnya tersebut.

"sekarang dia emang sama lo, tapi nanti gue lah yang akan memeluk dia", teriak Duto

"maaf", lirih Sivia dalam batinnya, entah untuk Duto atau Alvin

Sepasang manusia itu terus berjalan, menutup rapat telinga akan ucapan bahkan teriakan yang terlontar dari mulut Duto. Tak peduli seberapa sakit cambukan yang meradang disana, mereka terus berjalan. Ini memang egois, tapi setidaknya inilah yang terbaik bagi mereka bertiga.

***

Alvin dan Sivia berjalan bersama menyusuri koridor sekolah. Tak ada sepatah kata pun yang terucap diantara mereka. Kejadian tadi masih terus terngiang dalam pikirannya, terutama pada diri Sivia. Lewat kejadian tadi, ia semakin dilema. Sivia sayang Alvin, tapi Duto selalu membayangi hatinya. Memilih satu dari mereka berdua sangat sulit, lebih sulit dibanding soal aljabar matematika.

"cowok lain .. cowok lain yang lebih berarti di hidup lo itu siapa?"

Tenggorokan Sivia tercekat, apa ia harus menjawab pertanyaan itu? Suatu pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui Alvin sendiri.

"apa dia aku?", lanjutnya

Mereka berdua masih berjalan, dengan Sivia yang berjalan lebih dulu di depan. Tak ada jawaban atau sahutan sedikit pun, mereka masih terus berjalan dalam langkah masing-masing. Sampai akhirnya dengan satu gerakan, Alvin berhasil menggapai tangan gadis itu sekaligus menghentikan lajunya.

"apa dia, aku? Jawab Vi", tanya Alvin untuk yang ketiga kalinya

Sivia mengangguk perlahan, "kamu sendiri tau jawabannya"

Kini malah Alvin yang terdiam. Ia tak mengerti dengan maksud Sivia. Dengan tubuh yang mematung, ia menatap punggung Sivia yang menjauh. Apa ini berarti mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih atau hanya suatu ungkapan saja?

"aku anggap itu adalah jawabanmu, Via", ujar Alvin

***

Mentari sudah hampir selesai menunaikan tugasnya, semilir angin yang merdu turut menemani sang surya menuju tahtanya. Tapi mereka, tim basket yang lusa akan bertanding nampak begitu sibuk mengatur pola pertandingan nanti. Sama seperti yang lainnya, Alvin pun mengikutsertakan diri dalam latihan kali ini. Walau tak jarang, begitu banyak omongan yang memojokan dirinya. Alvin memang salah, ia tidak mengikuti latihan dengan teratur. Namun ini, hal ini bukanlah keinginannya.

"tadi gue udah sms kak Steve, dia bilang lagi OTW", ujar Agni

"sorry nih, tapi gue ada latihan band. Jadi, gue pamit yah", lanjutnya yang disahuti persetujuan dari yang lainnya

Agni berlalu, meninggalkan mereka untuk berlatih sendiri sambil menunggu kehadiran Steve. Ada yang mendrible, menshoot, dan aneka gerakan lain untuk sekedar pemanasan. Rio, sedari tadi lelaki ini hanya diam dengan pandangan yang tertuju pada Alvin. Ada apa dengan anggotannya yang satu ini? Permainannya bertambah kacau. Berulang kali ia menshoot, berulang kali juga bola itu melayang entah kemana. Bahkan caranya mendrible pun lemas sekali, tak ada sedikit gairah yang tercipta disana. Dan inilah yang menarik Rio untuk menghampiri Alvin. Ia melangkah lalu merebut bola yang tengah dipantulkan Alvin dengan mudah.

"apa lo nyesel gue masukin ke tim cadangan?", tanya Rio pada Alvin

"maksud lo?", Alvin yang juga kesal dengan kondisi tubuhnya yang lemah malah menatap Rio segan

"elo mau masuk tim inti, dan elo gak mau main dengan posisi cadangan. Iya kan?"

"Yo, elo apa-apaan sih! Malu kali, anak-anak pada ngeliatin kita", Cakka segera melerai

"malu? Seharusnya gue yang malu karna punya temen yang gak tau malu kayak dia. Elo tau kan, Cak? Bahkan kalian semua tau! Kalo Alvin gak pernah tanggung jawab sama basket, dia terlalu sibuk sama hidupnya!"

Suasananya menjadi semakin memanas, hingga semua mata yang ada disana menatap mereka bertiga. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Padahal mereka dikenal dengan kesetiakawanan yang tinggi, mereka adalah sahabat yang begitu dekat.

"gue emang payah, Yo. Gue ketua OSIS yang paling sering absen, gue anak basket yang paling lemah, gue murid yang paling sering gak ngerjain tugas, dan gue temen yang paling egois. Tapi gue, ini bukan kemauan gue. Gue begini karena ..."

Mata itu memerah, apa ini saatnya? Apa mereka akan mengetahui semua hal itu saat ini? Ah tidak! Hal itu thek boleh terjadi. Alvin belum siap, dan entah sampai kapan.

"karena gue ... gue bukan yang terbaik. Yo, Cak, dan semuanya. Sorry, gue udah buat kalian marah. Tapi gue janji, kalo ini adalah kali yang terakhir gue berlaku kayak gini di hidup kalian. Sorry"

“terserah lo, Vin. Kita cuma butuh bukti dari lo”, Rio melempar bola yang tadi ke arah Alvin yang langsung menangkapnya

Meski tidak tau apa yang terjadi, Cakka tetap memberi semangat berupa tonjokan kecil pada sahabatnya yang satu itu.

“jadi, elo masih belom mau ngaku? Alvin … Alvin. Cepet atau lambat, mereka pasti bakal tau. Kanker otak yang ada di tubuh lo itu pasti akan tambah parah, dan plis jangan buat gue nyesel atas keputusan gue sebelas tahun yang lalu”, batin seseorang entah siapa

Beberapa saat kemudian, Steve datang. Ia memulai dengan pembacaan strategi dan tim inti untuk pertandingan nanti. Lalu berlanjut ke latihan seperti yang biasanya. Dan Alvin, dialah yang mamu membangkitkan semangat Steve untuk melatih tim ini. Latar belakang Alvin yang diketahuinya persis, semakin menambah gairanhnya.

***

Saat ini, Sivia juga Nampak duduk di bangku taman sekolah unutk menunggu Alvin. Karena seperti biasanya, mereka akan pulang bersama. Bosan hanya duduk diam dengan layar ponsel yang selalu ditatapnya, ia bangkit berdiri. Menyapa dedaunan juga bunga-bunga taman nan indah yang ada di sekitarnya, dan semerbak harum khas tumbuhan pun tercium dengan jelas. Aroma yang mampu membuat gadis ini memejamkan matanya sejenak, demi melepaskan energy negative akan permasalahan yang dialaminya.

“Shilla”, ujar Sivia ketika membuka matanya

Wujud Shilla berlalu di seberang sana, dan dapat dipastikan betapa cepatnya Sivia berlari untuk mengejarnya. Hari ini atau mungkin saat ini juga, Sivia harus menyelesaikannya. Menuntaskan masalah yang tumbuh sejak semalam.

“Shill”, Sivia berhasil menggapai tangan itu

Gadis berambut panjang itu pun menoleh, menatap wajah Sivia yang tengah menunduk dengan sinis. Dia kesal melihat sahabatnya, karena kejadian semalam masih begitu terasa nyata dalam bayangannya.  Ia tidak bias, ini terlalu berat baginya.

“sorry, Vi …”, Shilla melepas genggaman itu perlahan

Belum sampai gadis ini melangkah, tangannya kembali diraih. Orangnya masih sama, yakni Sivia. Tapi kali ini berbeda. Sivia tidak lagi menunduk, melainkan berlutut dengan aliran air mata di pipinya. Melihat sahabatnya seperti itu, Shilla segera membalikan tubuhnya. Turut menyamakan posisinya dengan Sivia.

“maafin gue, Shill”, isakan itu terdengar sangat lirih

Perlahan, Shilla mengangkat wajah itu. Hingga mata mereka saling tatap. Ia juga menghapus aliran air mata yang mengalir dengan derasnya, membelai rambur panjang itu lembut.

“gue sedih karena semalem kak Iyel dateng bareng kak Tania, gue sedih karena cowok yang gue suka duduk bareng sama cewek lain. Gue sedih, Vi”

“tapi gue marah, gue kesel. Karena sahabat gue yang udah tau semuanya, enggak pernah cerita tentang hal itu sedikit pun”, lanjut Shilla

Kini mereka berdua menangis, merasakan perih yang menggeliat dalam sanubari. Sivia menyesal, kesalahannya memang besar. Shilla pun sudah terlalu kecewa dengan sikap Sivia.

“gue marah, Vi. Gue kesel, gue marah sama lo”, lirih Shilla


TO BE CONTINUED


GoGoFollow
@brendafiona_

just mention for follback ^^

See You On Next Part
Thanks For Read

Tidak ada komentar: