Selasa, 05 November 2013

Lentera Hati *Part 16*

Dua pasang yang bukan kekasih ini telah bersiap di depan pintu suatu rumah yang cukup megah, demi menunggu sang empunya rumah membukakan pintu. Dan benar saja, sela beberapa menit kemudian, pintu itu pun terbuka.

"Duto?", tanya si pembuka pintu

"Iya Al, gapapa kan kalo gue ajak Duto?"

Alvin yang sudah tampil dengan kemeja berbalut switer itu mengernyitkan alisnya, bagaimana mungkin Sivia mengajak Duto? Apa maksud dari gadis itu?

"I iya gapapa, yaudah kalo gitu silahkan masuk", ucap Alvin dengan senyum tipisnya

"Gue harap makanannya enak ya, bro", bisik Duto yang membuat senyum tipis itu sirnah seketika



Mereka bertiga berjalan beriringan menuju taman yang berada di belakang lebih tepatnya di samping kolam renang yang tampak manis dengan jejeran lilin di permukaannya.

"wow, gak gue sangka rumah lo sebagus ini", puji Duto yang terdengar layaknya sindiran

"tapi rumah yang bagus ini bakal ancur, karena kehadiran lo", balas Alvin

"ehem!", Sivia berhasil menghentikan perdebatan kecil yang akan panjang nantinya

"gue rasa bangkunya kurang deh, Al. Piring sama perlengkapan makannya juga", lanjutnya

"bentar Vi, biar gue ambil di dalem", Alvin melangkah pergi

"Duto! Sana, bantuin Alvin lah"

"tapi Vi ... "

"udah sana"

Mau tak mau, Duto menuruti perintah menyebalkan itu. Ia berlari mengejar langkah Alvin yang berada di depannya.

"sini, biar gue yang bawa", ujarnya sambil menarik kursi yang akan diangkat Alvin

"gue kesini karena Sivia, dia yang minta gue buat nganterin dia ke rumah lo. Jadi elo gak bisa kesel ataupun marah sama gue", lanjutnya

"lo tuh ya!", Alvin meremas kerah kemeja Duto

"apa? Alvin .. Alvin, lo pikir alesan Via ajak gue kesini buat apa? Via mau, elo tau kalo dia lebih milih gue dibanding lo"

Alvin melepaskan tangannya dari kerah itu, lalu mengepalnya erat. Perkataan Duto tadi seakan telah menjadi nyanyian kemarahan yang mengalun keras dalam pikirannya. Sivia akan memilih dia? Ah yang benar saja!

Bug! Tanpa menunggu basa basi, kepalan tangan itu mendarat di pipi kanan Duto. Membuat warna memar kebiruan segera terpancar dari sana.

"Via akan jadi milik gue, dia akan jadi pacar gue!", dengan teriakan Alvin bicara di hadapan Duto

"lo pikir lo siapa?", kini giliran Duto yang menarik kerah kemeja Alvin

"lo cuma orang baru yang kebetulan bisa kenalan sama Via, elo cuma cowok sok tau yang berani bilang kalo lo bisa menangin pertarungan ini. Tapi gue, gue adalah cinta pertamanya dia. Dan gue yakin, gue juga yang akan jadi cinta terakhirnya dia"

"pertarungan kita kali ini, pastilah gue yang akan jadi pemenangnya. Paham lo?", lanjutnya sambil membisikan dialog terakhir tadi lalu menghempaskan Alvin begitu saja

"misi den, ini garpu sama sendoknya", ujar bibi yang membuat perkelahian kecil tadi berakhir

Kini mereka bertiga duduk di atas hamparan rumput bersama. Alvin di sebelah kanan, Sivia di tengah, dan Duto di sebelah kiri. Menatap bintang, itulah kegiatan yang mereka lalui setelah makan malam. Sivia mengedarkan pandangannya, menatap Alvin juga Duto secara bergantian.

"lho Al, itu kerah baju lo kok lecek gitu?", tanya Sivia

"ini, tadi bibi lupa setrika Vi"

"terus Duto, itu muka lo kenapa? Kok memar gitu", tanya Sivia

"ini .. Ah biasa lah Vi, cowok"

"ah boong, pasti tadi kalian berantem kan?"

"hah, kalian itu kapan berhenti sih berantemnya? Emang kalian gak capek apa, terus-terusan jadi rival kayak gini?"

Hening. Baik Alvin, maupun Duto. Mereka membungkam mulutnya rapat. Lagipula percuma saja mereka menjawab, toh Sivia pasti akan terus berkicau menasihati mereka.

"sebenernya gue punya alesan buat ajak Duto kesini, Al. Beberapa hari yang lalu, Alvin nyatain perasaannya ke gue. Dan gak lama setelah itu, Duto minta balikan sama aku. Terus aku, aku minta waktu buat menjawab semuanya. Tapi sekarang, aku akan menjawabnya", Sivia bangkit berdiri yang diikuti oleh kedua lelaki yang ada disisinya

"aku akan pilih satu diantara kalian", lanjutnya

Sivia menghentikan ucapannya, ia menggapai tangan dua lelaki tampan itu. Kemudia membuat mereka saling menggenggam, dengan tangannya yang ada diatasnya.

"apapun yang terjadi setelah ini, aku akan berusaha untuk selalu ada di sisi kalian yang membutuhkan aku", janji Sivia

"Duto, aku rasa hubungan kita gak bisa berlanjut. Persahabatan adalah hal yang paling baik buat kita. Dan Alvin, seperti kamu mencintai aku, begitulah aku mencintai kamu", Sivia melirik ke arah Duto dan Alvin secara bergantian

Tanpa komando, Alvin segera melepas genggamannya, lalu menarik Sivia untuk tenggelam dalam dekapannya. Sementara Duto, ia hanya bisa tersenyum. Senyum ketulusan yang selalu ia lontarkan saat Alvin berhasil meraih kemenangannya, bukan senyum sinis seperti biasanya. Walau selalu bersaing, Duto selalu senang saat Alvin menang. Ia punya alasan tersendiri untuk melakukan hal yang luar biasa itu, bersaing dengan Alvin adalah sesuatu yang diimpikannya sejak dulu.

"gue sayang elo, Duto. Dan aku cinta kamu, Al", Sivia memeluk mereka berdua erat

"kalian harus janji, kalo kalian gak akan berantem lagi. Kalian akan saling melindungi, dan gak boleh berdebat lagi. Janji?"

"iya putri cantik", untuk pertama kalinya Duto dan Alvin kompak bicara juga mencubit pipi chubby Sivia

"ah kalian!", gerutu Sivia menggemaskan

Malam ini begitu indah, baik Sivia, Duto, maupun Alvin selalu memancarkan rona bahagia yang sama. Sampai tak terasa, waktu telah berlalu dengan cepat.

"aku pamit pulang ya, Al. Makasih buat malam ini", ucap Sivia pada kekasih barunya

"hati-hati, jaga diri kamu", sahut Alvin sambil mengusap lembut rambut Sivia

"dan buat lo, jagain cewek gue", lanjutnya pada Duto yang turut pamit

"gue pasti jaga dia. Tapi buat diri gue sendiri, bukan buat lo", sahut Duto yang meremas tangan Alvin

"sekeras apapun elo berusaha, dia tetep jadi milik gue", Alvin meremas tangan Duto balik

***

Pertandingan pertama dari rangkaian pertama dalam Liga Basket Antar SMA akan segera dimulai, dengan tim SMA Pelita Harapan melawan tim SMA Jakarta. Para pemain dari kedua tim masih bersiap di ruang ganti masing-masing, menyiapkan diri untuk pertandingan yang akan dimulai beberapa menit lagi.

"ini pertandingan yang mudah. SMA Pelita Harapan pasti kita kalahkan!", Rio memotivasi teman-temannya

"semua akan berjalan lancar. Kalian pasti bisa", tambah Steve

Mereka menyatukan tangan, lalu melepaskannya dengan dibarengi yel-yel yang begitu sederhana. Kemudian mereka keluar ruangan dan memasuki lapangan indoor itu secara beriringan.

Berbeda dengan yang lain, Alvin masih duduk di kursi dalam ruang ganti. Rasa pusing menggelutinya saat ini. Tangannya yang menggenggam botol air mineral pun gemetar, bahkan botol tersebut terjatuh begitu saja. Tak ada satu orang pun disana, selain Steve yang mengambil perlengkapan tim di lokernya.

"lho Vin, kamu gak ikut yang lain?", tanya Steve sambil melirik ke arah Alvin

"e .. entar nyu .. nyusul, kak"

"muka kamu pucat, kamu sakit?"

"ah enggak kak, a .. aku gak papa. Kakak duluan aja"

"oh yaudah, kakak duluan ya"

Steve melangkah keluar, padahal di dalam pikirannya ia masih tak tega meninggalkan Alvin yang pucat sendirian.

"argh! Sh*t! Kenapa harus sekarang", dengan napas tersenggal ia memeras kepalanya

Tak ada darah, tapi sakit ini benar-benar luar biasa. Tangan yang awalnya hanya memeras, kini beralih menjadi tarikan yang kuat pada rambutnya.

"argh! Sakit!"lirih Alvin dengan nyaring

Obat! Benda kecil itu pasti dapat membuat sakit ini mereda. Dengan pandangan yang melayang, dia mulai berjalan menghampiri lokernya. Tak peduli sejelek apa cara berjalannya. Kali ini, yang terpenting ialah obat yang terdapat di loker itu.

"God, please!", mohonnya sambil mencoba mendapatkan kapsul obatnya

Namun naas saja, semuanya jatuh berhamburan di lantai.

***

Keriuhan terasa begitu jelas di lapangan basket indoor SMA Jakarta. Teriakan juga sorak sorai penonton dari kedua kubu pun menjadi kekhasan dari pertandingan ini. Penampilan pemandu sorak atau yang biasa disebut dengan cheerleaders begitu luar biasa. Tidak hanya pemain, penonton yang jumlahnya lebih dari seratus orang malah ikut terbawa arus semangat dari masing-masing tim.

"hai kak!", ujar Sivia yang baru saja sampai di lokasi pertandingan

Ia menghampiri Tania yang tengah bersama dengan Tasya dan orang tuanya

"eh, Sivia? Hai Vi! Kenalin, ini kak Tasya. Ini, ibu sama papa kami", sahut Tania yang diiringi dengan salaman tangan Sivia

"selamat pagi! Em maaf, Sivia gak bisa lama. Sivia mau ke pinggir lapangan, mau gabung bareng temen-temen. Permisi", ujarnya sopan

"dia itu temennya Alvin, ehem temen deket maksud Tania", jelas Tania usai Sivia meninggalkan mereka

Baik ibu, papa, maupun Tasya menampilkan senyum dengan jenis yang sama. Alvin yang dulu mereka anggap sebagai si bungsu yang kecil telah beranjak menjadi remaja.

Setelah menemui sekaligus berkenalan pada keluarga Alvin, Sivia melangkahkan kakinya menuju bangku pemain di pinggir lapangan. Tempat teman-temannya , termasuk Alvin duduk menonton. Ia ingin melihat permainan basket sang kekasih untuk pertama kalinya dari jarak yang dekat, hingga tak ada satu pun gerakan yang dilewatinya.

"hai Ni! Lho, Alvin kok gak ada?"

"hai Vi! Hah? Masa sih? Padahal, tadi kita abis bareng sama dia di ruang ganti"

"Alvin masih didalam. Kalian susuk dia aja, takut ada hal lain yang terjadi", ucap Steve yang baru tiba dengan perlengkapan dalam pelukan tangannya

"oke kak. Ayo Vi, kita kesana!", sahut Agni yang paham akan hal lain yang dimaksud Steve

Di pertengahan jalan, langkah Sivia terhenti. Entah kenapa dia sangat takut kali ini. Tak hanya itu! Kata-kata Steve tadi terus mengintimidasinya, ia bahkan sangat khawatir tentang apa yang akan dilihatnya nanti.

"Agni", panggilnya dengan wajah takut juga khawatir

"kenapa Vi?"

"gue takut. Kalo nanti Alvin kenapa-napa, gimana?"

"ya kita tolonglah, Vi"

"tapi Ni, dia bakal baik-baik aja kan? Dia .. Ah gue takut. Gue takut kehilangan dia"

"Vi! Kita belum tau apa yang terjadi sama Alvin. Lagipula hal kayak gini bukan hal yang baru buat dia. Dan gue yakin, dia bakal baik-baik aja. Apa lo setuju sama gue?", tanya Agni sambil memegang erat bahu sahabat barunya itu

Sivia menghapus air mata yang membanjiri pipinya, lalu menganggukkan kepalanya dengan keyakinan yang penuh

"kalo gitu, ayo!", Agni mengulurkan tangan yang langsung disahuti Sivia

***

Obat itu berhamburan di lantai. Alvin tak mampu menggapainya, ia terjatuh sebelum berhasil meraih kapsul itu. Hingga semua obat yang berada di dalam kapsul jatuh berceceran di lantai, bersamaan dengan tubuhnya yang melemas.

"argh!", entah sudah keberapa kalinya erangan itu terdengar

Kepalanya sangat pusing, kakinya lemas, tangannya bergetar, obat-obat pun telah bercampur dengan kotornya lantai. Apa yang harus dilakukannya. Berdoa? Bahkan sejak awal lantunan doa telah ia persembahkan dalam hatinya.

Perlahan namun pasti, ia mulai mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari obat yang masih tersisa dalam kapsul, itulah yang dilakukannya. Satu saja, ia sangat membutuhkannya! Dan ya ... Alvin menemukannya. Walau terpental cukup jauh dari posisinya sekarang, tapi kapsul itu masih memiliki satu obat di dalamnya.

Alvin mengerjapkan matanya. Ya Tuhan, jangan sekarang!

Pandangan lelaki ini mulai membayang, dibarengi dengan rasa lemas yang menguasai tubuhnya. Tangan itu masih terus berusaha untuk menggapai obat tersebut. Namun lagi-lagi usahanya gagal, tangan melemas dan tubuhnya terjatuh di lantai untuk kali yang kedua.

"Alvin!", seru Sivia dan Agni tepat saat tubuh itu tergeletak di lantai

"Vin, Alvin!", Agni menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang mulai menutup mata

"Al bangun Al", bantu Sivia yang berdiri di belakang Agni

"Vin, liat gue! Ayo Vin, buka mata lo", teriak Agni

Mata sipit itu terasa sangat berat, ia sudah tak sanggup. Ia sangat tak mampu!

"obat gue", sahutnya -pelan sekali-

Baik Sivia maupun Agni, mereka berdua segera mencari obat yang dimaksud Alvin. Bukannya menemukan, mereka malah terkejut dengan kondisi yang ada di sekeliling. Dimana pintu loker Alvin terbuka, juga obatnya yang berserakan. Apa yang terjadi? Kenapa terlihat begitu parah?

"Ni, itu di belakang lo", ucap Sivia yang pertama melihat

Perempuan berambut sebahu itu menoleh. Diambilnya obat itu dan minuman dari tasnya. Sementara Sivia, dia membantu Alvin untuk duduk bersandar di dinding.

"ayo diminum, Vin", Agni menyodorkan obat yang lengkap dengan minumnya

"dingin, Ni", sahut Alvin dengan tubuhnya yang semakin gemetar

Berbeda dengan Sivia yang terlihat kaget karena baru beberapa kali melihat situasi ini, Agni begitu fasih karena memang inilah hal yang sering dilakukannya pada Alvin. Agni sudah paham betul cara menangani sakit yang kambuh pada sahabatnya yang satu ini.

Usai menyodorkan obat, Agni melepas jaket yang sedari tadi ia kenakan. Lalu menutupi tubuh Alvin dengan benda tersebut. Kemudian ia mengusap tangan Alvin yang terasa seperti es beku dengan tangannya. Setidaknya Alvin bisa merasa sedikit hangat dengan cara sederhana ini.

"apa lo bawa minyak hangat?", tanya Agni pada Sivia yang mematung di sebelahnya

"ah iya Ni, gue bawa"

"oh, yaudah kalo gitu. Gue mau balik ke lapangan, takut anak-anak yang lain curiga. Elo disini aja sama Alvin, sekalian olesin dia pake minyak itu. Dia lagi meriang, proses obatnya agak lama. Elo gapapa kan? Maksud gue, elo bisa temenin Alvin kan?", jelas Agni

"i iya, gue bisa. Elo tenang aja, gue bakal temenin sahabat lo ini"

"oke kalo gitu, gue duluan yah. Bye Vi! Bye Vin!", ucap Agni sambil mengacak rambut Alvin yang masih menutup matanya

Sivia segera bergegas, ia mengambil minyak hangat dari tasnya lalu mengolesi tangan, telapak kaki, bahkan wajah dan leher Alvin. Kekasihnya ini benar-benar terlihat pucat, bibirnya pun tak henti-hentinya gemetar. Sivia yang menatap semua ini dari dekat tak dapat membendung air matanya. Rasa takut tadi telah berubah, ada sesuatu dari diri Alvin yang membuat Sivia lebih semangat dari biasanya.

"aku sayang kamu, Al", Sivia merengkuh tubuh yang masih gemetar itu erat

"aku sayang banget sama kamu", ulang Sivia dengan bisikan di telinga Alvin

Beberapa menit kemudian, ketika lantai sudah bersih dari serakan obat karena disapu oleh Sivia.

Membuat Sivia yang duduk di kursi panjang kamar ganti itu tersenyum tenang, menatap goresan karya Tuhan yang tengah terlelap di sebelahnya. Lelaki ini sungguh tampan! Wajah pucat yang semula tergambar disana beralih menjadi putih langsat yang menawan, bibirnya yang gemetar telah terdiam dalam warna merahnya. Tidak hanya itu! Alvin adalah sosok yang sangat sempurna bila dilihat dari sudut pandang saat ini, namun terlihat begitu menyedihkan pada beberapa menit yang lalu. Mau bagaimana pun seorang Alvin, bagi Sivia dia adalah sosok yang membuatnya merasa beruntung dapat mengenalnya.

"Vi", panggil Alvin lemah

"hai Al, kamu udah bangun?", sapa Sivia

"tadi, em makasih ya Vi"

"makasih? Hehe, sebenernya bukan aku doang. Tapi Agni, dia udah ahli banget nanganin kamu. Itu aja, jaket yang kamu pake itu jaketnya Agni"

"iya, aku emang selalu nyusahin dia. Dan sekarang, aku malah nyusahin kamu"

"kamu ngomong apa sih, Al?"

"aku payah, Vi. Kamu liat sendiri kan? Aku lemah, Vi. Aku laki-laki yang gak pantes buat kamu, aku ma ... ", ucapan itu terpotong oleh jari telunjuk Sivia yang menyentuh ujung bibir Alvin

"kamu tau, apa alasan aku buat pilih kamu? Bukan Duto?"

Alvin diam, cara Sivia kali ini telah berhasil memecahkan sifat kerasnya untuk terus menyalahkan diri sendiri. Setidaknya dengan begini, Alvin akan lebih sadar kalau dia begitu berharga, tak peduli ada penyakit mematikan di dalam tubuhnya.

"awalnya, pas tau kamu sakit kanker. Aku kasian sama kamu, aku terus deketin kamu. Karena bagi aku, kamu adalah orang yang harus ditolong"

"tapi setelah waktu berlalu, ada kak Tania, Agni, dan begitu banyak hal yang membuat aku sadar kalo kamulah yang tolong aku, jauh sebelum aku berniat buat tolong kamu"

"lepas dari sana, aku sadar kalo aku ... aku cinta sama kamu, Al. Rasa aku ke kamu jauh berbeda sama rasa aku ke Duto", jelas Sivia

Berbeda dengan Sivia yang telah melontarkan beragam kata, Alvin justru terdiam dengan wajah yang menatap jendela.

"Setelah itu, aku takut. Aku takut kehilangan orang yang begitu berarti buat aku. Tapi tadi, lagi-lagi Agni yang menyadarkan aku"

"Al, berapa pun waktu yang kamu punya. Aku akan terus di sebelah kamu. Kita hadapi ini sama-sama, bahkan sampai akhir itu datang", Sivia meremas ujung bajunya sambil berusaha keras menahan tangis yang meluap

TO BE CONTINUED

aah udah lama banget gak ngepost cerita ini :D hehe :D gimana gimana? wah aku butuh banget komen kalian lhoo .. maaf yaa aku ngaret banget .. i hope you like it :)

GoGoFollow
@brendafiona_

just mention for follback ^^

See You On Next Part
Thanks For Read

1 komentar:

Luna widya mengatakan...

Lanjut donk kak seru nih