"Vin! Alvin! Aduh Vin, kamu kenapa enggak ke kamar mandi yang di kamar kamu aja sih? Vin, cepetan! Kamar kakak kan gak ada kamar mandinya", teriak Tania panjang lebar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang letaknya di ruang tamu
"ada apa sih, Ni? Pagi-pagi udah ribut?", ibu keluar kamar sambil merapihkan tatanan rambutnya
"nih bu, Alvin gak keluar-keluar dari tadi", Tania mengadu dengan manja
"ih kamu berisik banget sih, Ni!", rutuk Tasya yang juga baru keluar dari kamarnya
Sela beberapa detik, pintu pun terbuka. Tania yang berdiri di depan pintu tak berpaling, dia malah segera memegang tubuh Alvin yang sempoyongan.
"lho Vin, kamu kenapa?", tanya ibu yang langsung memegang kedua pipi putranya
"gapapa bu, tadi Alvin .. Alvin, argh!", Alvin tersungkur sambil terus memegang kepalanya dan darah segar terus mengalir di hidungnya
"pa! Papa!", teriak Tania dan Tasya bersamaan
Papa yang baru saja bangun, bergegas mengangkat Alvin dan membawanya ke kamarnya. Tubuhnya yang lemas, harus menahan sakit kala jarum infus bersarang di punggung tangannya. Hidungnya sudah kembali bersih, karena Tasya telah membasuhnya -untuk yang pertama kalinya-.
"apa yang kamu rasakan, Vin?", papa tampak khawatir dan terus memegang lengan kanan Alvin
"bu, dingin", bukannya menjawab Alvin malah memanggil ibunya
Tanpa disuruh, Tania segera beranjak dan mengambil setumpuk selimut di lemari Alvin juga mengecilkan suhu kamar itu
"apa masih dingin?", tanya ibu yabg disahuti gelengan Alvin
Kemudian Alvin meminum obat yang diberikan ibu. Tak lama kemudian, dia terlelap dan tidak merintih lagi.
*****
Motor gede berwarna merah sudah terparkir bersama dengan pemiliknya di sebelahnya. Tak lama kemudian, keluarlah gadis berambut panjang dari dalam rumah yang ada di hadapannya. Baik Cakka maupun Shilla. Mereka telah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Mereka telah siap untuk sama-sama membuka lembar baru dalam kisah asmara mereka.
"kamu cantik, selalu cantik", puji Cakka pada Shilla yang tengah ada di hadapannya
"kamu juga tampan, selalu tampan", sahut Shilla dengan senyumnya yang paling manis
"hari ini, kamu mau ajak aku kemana?", tanya Shilla yang masih memakai helm di kepalanya
"udah kamu tenang aja. Aku akan jaga kamu baik-baik kok", Cakka mencubit pipi Shilla gemas
"ayo naik!"
*****
Di dapur, ada Tania, Tasya, dan ibu yang sibuk meracik bumbu-bumbu untuk bubur yang dijadikan menu utama hari ini. Sementara papa, dia harus ke rumah sakit untuk menjalankan operasi salah satu pasiennya.
"jadi buat bubur yang sehat itu harus kayak gini ya bu?", tanya Tasya yang baru pertama kali membuat bubur untuk Alvin dan semuanya
"iya, kak. Jadi setiap sakit Alvin kambuh, ibu pasti buat bubur ini buat dia. Kakak harus belajar, biar nanti kakak sendiri bisa buatnya", sahut Tania
"emang aku nanya sama kamu? Wong aku nanya sama ibu", Tasya menjulurkan lidahnya yang membuat Tania cemberut
"hush! Jangan berantem. Mending kalian bawa bubur ini ke kamarnya Alvin, bangunin dia dan tolong disuapin ya. Tangannya pasti masih lemes"
"oke ibu", sahut dua bersaudara itu kompak
Ibu hanya dapat menarik napas panjang dan tersenyum senang. Akhirnya saat-saat seperti ini bisa benar-benar terjadi di keluarga mereka.
*****
Si lelaki masih terus mendrible bola basketnya lalu men-shoot ke ring, sementara itu datanglah seorang gadis yang sebaya dengannya. Dia datang sambil membawa beberapa makanan dan minuman di dalam keranjangnya.
"akhirnya kamu sampai juga", ujar Rio yang menghentikan permainan basketnya lalu menghampiri Ify yang dari tadi ditunggunya
"iya nih, tadi susah banget cari taksinya", Ify mulai menata isi keranjang di atas tikar yang baru saja digelarnya di rerumputan yang letaknya di samping lapangan basket
"lagian, kenapa sih kamu gak mau aku jemput?", Rio mendudukan dirinya lalu menatap lekat setiap gerak-gerik kekasihnya
"aku tuh mau mandiri. Gak kayak temen-temen aku yang manja, maunya dianter jemput sama pacar"
"maksud kamu?"
"ya, tujuan aku kesini kan buat liat kamu main basket. Lagian, kemarin aku gak nonton kamu sampai selesai kan?"
Rio menurutinya. Bermain-main dengan bola oranye sendirian. Sampai akhirnya, Ify bangkit berdiri dan berusaha one by one dengan Rio. Mereka tertawa dan berusaha untuk saling mengalahkan.
*****
Si lelaki masih terus mendrible bola basketnya lalu men-shoot ke ring, sementara itu datanglah seorang gadis yang sebaya dengannya. Dia datang sambil membawa beberapa makanan dan minuman di dalam keranjangnya.
"akhirnya kamu sampai juga", ujar Rio yang menghentikan permainan basketnya lalu menghampiri Ify yang dari tadi ditunggunya
"iya nih, tadi susah banget cari taksinya", Ify mulai menata isi keranjang di atas tikar yang baru saja digelarnya di rerumputan yang letaknya di samping lapangan basket
"lagian, kenapa sih kamu gak mau aku jemput?", Rio mendudukan dirinya lalu menatap lekat setiap gerak-gerik kekasihnya
"aku tuh mau mandiri. Gak kayak temen-temen aku yang manja, maunya dianter jemput sama pacar"
"maksud kamu?"
"ya, tujuan aku kesini kan buat liatvkamu main basket. Lagian, kemarin aku gak nonton kamu sampai selesai kan?"
Rio menurutinya. Bermain-main dengan bola oranye sendirian. Sampai akhirnya, Ify bangkit berdiri dan berusaha one by one dengan Rio. Mereka tertawa dan berusaha untuk saling mengalahkan.
*****
Motor gede itu akhirnya berhenti di sebuah parkiran besar dekat halte transjakarta. Shilla yang tak mengerti maksud Cakka, hanya dapat menuruti apa yang diperintahkan lelaki itu. Entahlah, tapi Shilla merasakan ketenangan setiap berada di sisi Cakka.
Suasana bus yang penuh sesak, membuat Shilla mau tak mau harus merapatkan diri dengan penumpang yang lain, termasuk juga Cakka yang ada di hadapannya. Disaat inilah mereka saling tatap, menatap satu sama lain dalam jarak yang begitu dekat.
"kamu mau ajak aku kemana?", bisik Shilla
"keliling Jakarta. Kamu mau kan?", Shilla mengangguk pasrah
Di setiap halte, penumpang terus bertambah. Memperkecil jarak antara dua manusia yang tengah berhadapan ini.
"permisi!", seorang ibu yang akan turun menerobos mereka yang tengah berusaha untuk menjaga keseimbangan dengan berpegangan
"argh", Shilla nyaris terjatuh
Namun hal itu tak terjadi, saat tangan mungilnya berhasil merangkul leher Cakka. Juga tangan Cakka yang sigap untuk menahan tubuh Shilla. Membuat tatapan para penumpang tertuju pada mereka.
"Shill", Cakka berusaha memperbaiki posisinya
"ada yang mau aku sampein", lanjutnya
"apa?", Shilla juga sibuk mempertahankan diri ke posisi semula
Cakka menarik Shilla ke dalam dekapannya, lalu membisikkan tiga patah kata yang tak pernah diduganya. "Aku mencintaimu, Shilla".
"apa?", Shilla memperpanjang jarak di antara mereka
"aku sayang sama kamu, kamu mau jadi pacar aku?", ucap Cakka penuh kepercayaan
"pa ... pacar?", Shilla memastikan
"ya, karena aku suka sama kamu"
Shilla terdiam sesaat. Ingin rasanya dia menjawab 'ya', tapi wajah Iyel masih terlihat begitu manis di
bayangannya. Menjawab 'tidak' pun, dia ... Ah! Mungkin ini yang terbaik untuknya. Melupakan Iyel yang telah bersama Tania dan berpaling ke Cakka yang jelas-jelas ada di depannya. Meski ragu, akhirnya Shilla menganggukkan kepalanya.
*****
"Alvin emang sering kayak gini ya, Ni?", tanya Tania saat mereka mulai memasuki kamar Alvin
"ya begitulah, kak. Makanya kakak perhatian dikit dong sama Alvin. Masa satu rumah, tapi gak tau kondisi Alvin?"
"iya iya", sahut Tasya
"Alvin, Vin ... bangun dek! Saatnya makan siang", ujar Tasya sambil menepuk pundak lelaki itu
"hoam. Aku udah tidur lama banget ya kak?", sahutnya yang masih mengucek mata sipitnya
"enggak juga kok, wajar aja kan kamu lagi sakit. Gimana? Kepalanya masih sakit?", tanya Tania
"sedikit sih kak, tapi sini biar Alvin makan sendiri", Alvin berusaha bangun namun dibatalkan oleh tangan yang menjulur dihadapannya
"biar kak Tasya yang suapin", ucap si empunya tangan
Alvin yang membenci bubur harus terpaksa memakannya. Rasa yang tawar memaksanya untuk kenyang sebelum menghabiskannya. Usai makan, Tania kembali meminumkan obat yang harus diminum double saat sakitnya kambuh. Dan tak lama kemudian, Alvin kembali terlelap, efek dari obat yang mengandung dosis obat tidur itu.
"pantes aja si Alvin gak mau abisin bubur ini, orang rasanya aneh gini", ujar Tasya
"ya, emang bubur kayak gitu gak enak kak", sahut Tania yabg terkekeh melihat ekspresi kakaknya
"em kak, ... ", Tania beranjak ke lemari kecil di meja belajar Alvin
Diambilnya beberapa lembar kertas disana, lalu diserahkannya ke Tasya
"itu hasil pemeriksaan sebulan yang lalu, waktu aku masih di Spore. Dan minggu depan, Alvin akan menjalani kemo yang kedua. Lalu setelah itu, aku akan balik kuliah", jelas Tania
"apa sakitnya akan tambah parah? Separah apa?"
"lebih parah dari apa yang kakak liat tadi. Aku tau, Alvin bukan adik kandung kita. Aku juga tau, kalo Alvin cuma orang asing buat kita. Tapi, aku takut kak. Aku takut dia pergi ninggalin kita", Tania menundukkan kepalanya dalam
Kini tawa itu pun berganti menjadi tangis yang tak tertahankan. Tasya yang juga ikut larut dalam tangis itu, segera menghamburkan pelukannya pada Tania.
"aku gak mau liat Alvin alami semua hal itu kak, aku takut, aku gak mau", Tania mengeratkan pelukannya
"ya, kakak yang akan jaga dia. Kakak yang akan bantu dia untuk bertahan. Kakak janji, kakak akan lakuin semua yang biasa kamu lakuin buat Alvin. Kakak akan sayang sama dia seperti kakak sayang sama kamu. Dan, kakak akan jadi kakak yang baik buat kamu dan buat Avin. Kakak janji!"
TO BE CONTINUED
GoGoFollow
@brendafiona_
just mention for follback ^^
See You On Next Part
Thanks For Read
2 komentar:
Kurang panjang nih hahaha... Di tunggu ya ppart selanjutnya :D
sipp.. emang sengaja gak panjang :D wkwk iya udah dipost kok.. selamat membaca yaa makasih udah mau komen :)
Posting Komentar