Jam sudah menunjukkan
pukul tiga siang, semua kelas sudah kosong. Bahkan di sekolah, hanya ada
beberapa siswa atau siswi yang tengah latihan untuk mengisi acara pensi.
Berbeda dengan mereka yang berkelompok, Duto malah duduk sendiri di ruang musik
yang selalu dipakai sebagai tempat pertunjukan. Dia sedang menunggu kehadiran
para rekannya.
Sampai tiga puluh menit
kemudian, hanya Duto sajalah yang berada di ruangan luas itu. Bahkan mereka
yang tadinya latihan sudah bergegas meninggalkan sekolah. “Mereka gak akan
datang”, ucap hati kecilnya.
Wakil ketua OSIS itu
hanya bisa menarik nafas dalam, dan berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya
sendirian. Dengan menjadi musuh besar Alvin, dia pun jadi tidak bisa memiliki
satu teman pun di sekolah. Musuh dari orang yang memiliki jumlah teman hampir
satu sekolah memang telah membuatnya selalu sendirian. Termasuk dalam menyiapkan
pensi ini. Sendirian.
“Sorry gue telat”, ucap
seorang gadis dari balik pintu yang dibiarkan terbuka sedikit sejak tadi.
Duto yang masih setia
menunggu, menoleh sejenak. Ditatapnya cewek tomboy berambut sebahu itu dengan
rinci. “Gue gak enak sama lo, makanya gue kesini”, jelas Agni sambil menaruh
tas ranselnya di atas kursi penonton dan kemudian beranjak menuju pinggir
panggung menghampiri Duto yang masih terus menatapnya.
“Ada yang bisa gue
bantu?”, tawar Agni sambil mengambil alih tongkat pel yang digenggam Duto.
“Udah santai aja, mereka
cuma butuh sedikit waktu aja kok. Mereka pasti dateng”, ucap Agni sambil
mengepel area pinggir panggung. Meninggalkan Duto yang masih diam mematung
dibelakangnya.
Mendengar ucapan Agni
tadi, membuatnya untuk berpikir sejenak. Entahlah. Tapi kehadiran Agni di sore
ini telah membuat hatinya sangat bahagia. Setidaknya dia masih memiliki satu
rekan yang peduli padanya.
“Thanks Ni”, ucapnya
pelan namun masih dapat didengar jelas oleh Agni yang kini asik dengan
aktivitas mengepelnya.
Usai latihan tim basket
putra untuk persiapan lanjutan pertandingan liga basket, Agni teringat akan
ucapan Duto yang sempat berlalu di telinganya saat rapat OSIS tadi siang.
Karena tidak ingin
berlama-lama dengan urusan basket, yang malah akan membuatnya kembali bertemu
dengan Cakka dan mengacaukan suasana hatinya. Agni lebih memilih untuk membantu
Duto disini. Dia bahkan menghubungi anggota OSIS yang lain untuk turut
bergabung. Mau bagaimana pun, Duto seperti ini juga karena sahabatnya yang
pergi meninggalkan tugasnya. Karena Alvin.
*****
Dengan berbagai akal
yang tengah ia tata dalam pikirannya, Ify duduk di kursi panjang taman sekolah.
Seusai latihan basket tadi, seperti biasa ia harus duduk menantikan Rio yang
akan mengantarkannya pulang ke rumah. Atau lebih tepatnya sampai di depan gerbang
komplek rumahnya. Ya, mau bagaimana pun juga ia tidak boleh mengingkar janjinya
pada Duto.
“Parah tuh si Alvin. Dia
emang sama sekali gak bisa diandalkan. Udah tau kita mau ada pertandingan
lanjutan liga basket, ngapain coba dia pake acara ke Malang segala”, gerutu Rio
sepulang dari mengembalikan bola basket ke ruang olahraga.
Ify yang menyadari
kedatangan pacarnya itu segera bangkit berdiri menyambutnya. Apa mungkin ini
waktu yang baik untuk mengajak Rio ke ruang musik? Apa Rio tidak akan curiga?
“Ayo pulang”, ajak Rio
sambil mengambil alih tas nya yang sedari tadi berada dalam pelukan Ify lalu
meraih tangan gadis itu.
“Em Yo”, Ify menahan
langkah kakinya.
Rio membalikkan tubuhnya
dan menatap Ify dengan penuh tanya. “Kamu yakin mau langsung pulang?”, tanya
Ify memulai niat awalnya.
“Kenapa emang nya?”
Ify menarik nafas nya
dalam, dia tidak yakin kalau ini akan berjalan dengan baik. “Kamu gak ke ruang
musik?”, Ify balik bertanya.
Tatapan penuh tanya Rio
pun semakin menjadi. “Ruang musik? Ngapain aku kesana?”, tanyanya yang berhasil
membuat Ify keringat dingin. Tangannya secara otomatis terkulai lemas.
“Rio pura-pura lupa apa
emang gak ingat sama sekali sih? Apa emang gue harus kasih tau ke dia? Tapi
gimana kalo Rio curiga? Gak mungkin juga kan gue bilang ke dia sekarang tentang
gimana hubungan gue sama Duto?”, debat Ify dengan dirinya sendiri.
“Yo! Rio!”, seru suara
khas perempuan dari lantai dua gedung sekolah.
Baik Rio –si empunya
nama–, maupun Ify menoleh ke asal suara. Shilla yang berdiri menjinjit disana
terlihat melambai-lambai kan tangannya. “Ayo cepat naik kesini! Gue sama
anak-anak yang lain udah pada disini. Cepat Yo!”, lanjut Shilla dengan volume
tingginya.
“Oh maksud kamu itu ke
ruang musik buat bantu anak OSIS yang lain?”, Rio menyimpulkan.
Dengan penuh rasa lega,
Ify tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya. Padahal sebenarnya sih bukan
untuk bantu anak OSIS yang lain, melainkan untuk bantu Duto saudara kembarnya.
“Kamu gapapa kalo pulang
malam?”, tanya Rio yang hanya ditanggapi gandengan tangan Ify.
Rio yang paham betul
maksud Ify, membalas gandengan itu dengan genggaman yang lebih erat. “Makasih
ya Fy, kamu emang yang paling ngertiin aku”, ucapnya bangga.
“Kamu salah Yo, aku yang
seharusnya bilang kayak gitu. Makasih banyak ya Yo. Maafin aku”, lagi-lagi Ify
bicara pada dirinya sendiri.
*****
Petang menjelang, tapi
Iyel sama sekali belum mau beranjak dari sisi Tania. Sejak pagi hingga saat
ini, dia masih setia mendampingi gadis itu.
“Kamu mau makan yang
mana dulu nih?”, tanya Iyel sambil menghidangkan makanan empat sehat lima
sempurna khas rumah sakit di hadapan Tania.
Tania menggeleng lemah,
dia sama sekali tidak nafsu untuk makan.
“Yah, masa gitu sih. Em
gimana kalo makan nasinya dulu? Aku suapi ya”, ujar Iyel yang segera
menyodorkan sesendok nasi bersama dengan daging ayam yang menyelip di dalamnya.
Mau tak mau, akhirnya
mulut kecil itu terbuka. Sesendok tadi pun masuk dengan mulus. Tidak hanya
sesendok, melainkan setengah porsi berhasil Iyel daratkan di mulut di kerongkongan
gadis itu.
“Thanks ya Yel”, ucap
Tania sambil menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir di
pipinya.
Iyel yang lagi-lagi
tidak mengerti maksud Tania hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap lembut
rambut Tania.
Berbeda dengan Iyel yang
masih bersikap santai, Tania dan air matanya malah berhambur untuk memeluk
tubuh Iyel. Dengan tenaga yang masih dimilikinya, dia mendekap sosok yang
selalu berusaha gagah dalam menghadapinya.
“Makasih buat waktu
singkat yang udah kita lalui bersama ya Yel. Aku bangga bisa kenal sama kamu,
aku seneng bisa temenan sama kamu. Aku juga bahagia banget bisa pacaran sama
kamu. Makasih Yel, terimakasih”, ucap Tania dengan tangis yang memecah.
*****
“Minumlah”, ucap Steve
sambil menyodorkan coklat panas pada kekasihnya.
Kini giliran Tasya dan
Steve yang duduk di taman rumah sakit. Dengan ditemani oleh gemerlap bintang
malam, mereka menikmati perayaan sederhana hari jadi mereka yang ke tiga tahun.
“Maafin aku, gak
seharusnya kan kita ada disini sekarang”, sesal Tasya yang menghirup coklat
panasnya
“Kenapa harus minta
maaf? Ini bukan salah kamu. Lagi pula aku suka kok sama suasana saat ini. Ada
bintang yang terang, ada rumput yang sejuk, dan ada kamu”, rayu Steve. Dia
menatap lekat gadisnya.
Tersipu dengan rayuan
Steve, Tasya menoleh kan kepalanya ke sisi yang berbeda. “Dasar gombal!”, ucap
Tasya sambil meringis malu.
Tak setuju dengan Tasya,
Steve menggelengkan kepalanya. Lalu dia meraih tangan Tasya sambil memasangkan
benda bulat mungil ke dalam jari manisnya. “Aku serius, Sya”, ucapnya yang
berhasil membuat Tasya terkejut bersamaan dengan coklat panas yang digenggamnya
di tangan yang berbeda terjatuh ke rerumputan.
“Ka ... ka ... kamu?”
“Iya aku”, sahut Steve
yang semakin membuat Tasya kaget tak berdaya. “Maukah kamu menikah denganku?”,
ucap Steve penuh keyakinan.
Berbeda dengan Steve,
Tasya justru ragu pada dirinya. Bukan, lebih tepatnya pada hal yang saat ini
terjadi pada dirinya. Cincin itu. Cincin yang kini tersemat rapi di jari manisnya.
Apa ini sungguhan?
“Sya?”, lanjutnya yang
masih menunggu jawaban
Perlahan, air mata mulai
mengalir di pipinya. Dia bahagia. Kebahagiaan sejati seorang gadis benar-benar
dirasakannya malam ini. “Aku ... aku ...”, Tasya tak mampu menyelesaikan jawabannya.
Entahlah, tapi air mata itu telah mengalahkan semua gerakannya. Yang bisa
dilakukannya saat ini hanyalah menangis sambil menatap cincin bermata berlian
putih itu.
“Apa aku salah? Atau apa
kamu belum siap?”, lagi-lagi Steve bertanya.
Tasya menggeleng pelan.
Masih dengan air mata yang mengalir, gadis itu mengangkat wajahnya.
Ditatapnyalah kekasihnya itu dengan seksama. Dibalik air yang membasahi
wajahnya, dia tersenyum. Manis sekali. Senyuman paling indah yang pernah ada
dalam wajahnya. “Kamu benar, aku siap. Aku mau, Steve”, sahutnya yang berhasil
menepis semua keraguan yang ada.
*****
Karena Shilla, Cakka
jadi harus ikut membantu anak OSIS dalam menyiapkan pensi sekolah. Dia yang
seharusnya saat ini sudah menonton tv di rumah, malah masih berada di sekolah
dan bekerja keras mengangkat barang-barang.
“Maafin aku yah.
Gara-gara aku, kamu jadi ikutan kayak gini”, ucap Shilla yang datang dengan
membawakan satu botol air mineral dingin untuk Cakka.
Tak mau membuat Shilla
semakin merasa bersalah, Cakka yang dalam hatinya terus menggerutu, berusaha
untuk melekukkan kedua ujung bibirnya. Meski tak tulus, tapi dia berusaha untuk
tersenyum kecil.
Shilla yang tahu
bagaimana perasaan pacarnya saat ini hanya tertawa kecil sambil turut
membantunya dalam merapikan tatanan properti di panggung.
Melihat sepasang kekasih
yang baru beberapa hari menjalin cinta itu, membuat bagian dari hati Agni
berpencaran satu sama lain. Dia bahkan sama sekali tidak memperhatikan Duto
yang sedang mengajarkannya cara menyusun kursi yang benar.
“Elo mau gabung sama
mereka?”, tanya Duto yang berhasil membuat Agni tersadar dari lamunannya.
“Hah? Apaan To?”, jawab
Agni dengan cepat
“Elo suka ya sama
Cakka?”, tanya Duto yang berhasil memojokkan Agni seketika. Membuat cewek
berambut pendek itu terdiam tanpa kata.
Sadar akan ekspresi
teman barunya itu, Duto semakin yakin dengan pertanyaannya. “Kalo suka, kenapa
gak ngomong?” tanya Duto santai namun lagi-lagi memojokkan.
Agni yang tak tahu harus
menjawab apa masih terdiam mematung.
“Udahlah, cowok bukan
dia doang kan?”, lanjut Duto sambil menepuk pundak Agni dan melaju pergi untuk
menata kursi di barisan lain.
“Cowok lain?”, pikir
Agni sambil menatap punggung Duto. Namun belum sempat punggung itu menjauh, dia
segera berbalik.
“Elo mau tetep disana
atau masih mau bantu gue tata kursi yang lain?”, ucap Duto yang kembali
menyadarkan Agni. Membuatnya berlari kecil untuk melanjutkan tugasnya.
“Kamu beneran gapapa,
Fy?”, ujar Rio yang dari tadi sama sekali gak fokus dengan kegiatannya karena terus
menerus menatap Ify. Dia merasa tidak enak karena harus melibatkan Ify sehingga
gadis itu harus pulang malam.
“Harus berapa kali sih
aku bilang. Aku gapapa. Asalkan dianterin kamu, aku gapapa”, sahut Ify tak
berpaling dari piano yang sedang di test sound
olehnya.
“Tapi ini kan, gara-gara
aku Fy”, kini Rio yang berselempangkan gitar mendekat
“Gara-gara gimana sih
Yo? Aku juga kan disini buat test sound. Nantinya kan band aku juga yang bakal
mainin alat-alat musik ini”, Ify bangkit berdiri dan berniat untuk beralih ke
alat musik yang lain.
Rio pun menarik Ify
untuk berdiri di hadapannya. “Tapi Fy, ...”, ya dia memang terlalu
mengkhawatirkan gadis itu. Dia takut kalau karena dirinya Ify akan kelelahan,
dia takut kalau karena dirinya gadis itu akan dimarahi bahkan mungkin akan
dihukum oleh kedua orang tuanya. Ya, Rio memang tidak tahu sama sekali tentang
kehidupan keluarga pacarnya itu.
“Yo”, bukannya menuruti
gerakan Rio, Ify justru mengambil tangan Rio dan menggenggamnya sambil menatap
mata Rio.
“Aku gapapa, oke? Jadi
sekarang mendingan kita lanjut test sound supaya pulangnya gak semakin malem.
Oke?”, jawab Ify yang membuat Rio terpaksa mengangguk menurutinya
*****
Dengan nanar, Sivia
menatap kedua ujung sepatunya. Kegiatannya hari ini terasa melelahkan. Sejak
pagi ia berada di kamar Alvin, mengajaknya bicara meski memang hanya dia
seorang lah yang terus bicara. Lalu menjelang siang, dia menemani Tasya untuk
menebus obat-obatan milik Tania dan juga Alvin. Dan ketika sore tiba, dengan
setia dia berada di sisi kakaknya yang sudah satu hari penuh menghabiskan
waktunya bersama gadis pujaannya.
Kini, Sivia duduk di
ruang tunggu. Dia menanti kedatangan kakaknya yang malam ini sudah boleh
kembali ke rumah. Rasa lelah dan sedih karena kondisi kakaknya yang terlihat
payah bercampur aduk bersama dengan pikirannya yang tersita pada Alvin yang
entah sampai kapan terlelap dalam tidurnya.
“Vi”, sapa seseorang
dengan suara yang dari tadi di harapkan oleh Sivia.
TO BE CONTINUED
Yap! Kembali dilanjut *yipyiphore* #SuaraPetasanDimanamana
Aku post ini setiap minggu keempat yah! Aku janji kok, bakal tamatin cerbung ini hehehe
Yang mau komen ayoo ditunggu!
I hope you like it, guys!
See you on next part xD
1 komentar:
Akhirnya dilanjut juga :D tapi part Alvianya pendek banget. Oke, ditunggu bulan depan *plak*
Posting Komentar