Minggu, 28 Juni 2015

Lentera Hati *Part 22*

Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang, semua kelas sudah kosong. Bahkan di sekolah, hanya ada beberapa siswa atau siswi yang tengah latihan untuk mengisi acara pensi. Berbeda dengan mereka yang berkelompok, Duto malah duduk sendiri di ruang musik yang selalu dipakai sebagai tempat pertunjukan. Dia sedang menunggu kehadiran para rekannya.

Sampai tiga puluh menit kemudian, hanya Duto sajalah yang berada di ruangan luas itu. Bahkan mereka yang tadinya latihan sudah bergegas meninggalkan sekolah. “Mereka gak akan datang”, ucap hati kecilnya.

Wakil ketua OSIS itu hanya bisa menarik nafas dalam, dan berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya sendirian. Dengan menjadi musuh besar Alvin, dia pun jadi tidak bisa memiliki satu teman pun di sekolah. Musuh dari orang yang memiliki jumlah teman hampir satu sekolah memang telah membuatnya selalu sendirian. Termasuk dalam menyiapkan pensi ini. Sendirian.

“Sorry gue telat”, ucap seorang gadis dari balik pintu yang dibiarkan terbuka sedikit sejak tadi.


Duto yang masih setia menunggu, menoleh sejenak. Ditatapnya cewek tomboy berambut sebahu itu dengan rinci. “Gue gak enak sama lo, makanya gue kesini”, jelas Agni sambil menaruh tas ranselnya di atas kursi penonton dan kemudian beranjak menuju pinggir panggung menghampiri Duto yang masih terus menatapnya.

“Ada yang bisa gue bantu?”, tawar Agni sambil mengambil alih tongkat pel yang digenggam Duto.

“Udah santai aja, mereka cuma butuh sedikit waktu aja kok. Mereka pasti dateng”, ucap Agni sambil mengepel area pinggir panggung. Meninggalkan Duto yang masih diam mematung dibelakangnya.

Mendengar ucapan Agni tadi, membuatnya untuk berpikir sejenak. Entahlah. Tapi kehadiran Agni di sore ini telah membuat hatinya sangat bahagia. Setidaknya dia masih memiliki satu rekan yang peduli padanya.

“Thanks Ni”, ucapnya pelan namun masih dapat didengar jelas oleh Agni yang kini asik dengan aktivitas mengepelnya.

Usai latihan tim basket putra untuk persiapan lanjutan pertandingan liga basket, Agni teringat akan ucapan Duto yang sempat berlalu di telinganya saat rapat OSIS tadi siang.

Karena tidak ingin berlama-lama dengan urusan basket, yang malah akan membuatnya kembali bertemu dengan Cakka dan mengacaukan suasana hatinya. Agni lebih memilih untuk membantu Duto disini. Dia bahkan menghubungi anggota OSIS yang lain untuk turut bergabung. Mau bagaimana pun, Duto seperti ini juga karena sahabatnya yang pergi meninggalkan tugasnya. Karena Alvin.

*****

Dengan berbagai akal yang tengah ia tata dalam pikirannya, Ify duduk di kursi panjang taman sekolah. Seusai latihan basket tadi, seperti biasa ia harus duduk menantikan Rio yang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Atau lebih tepatnya sampai di depan gerbang komplek rumahnya. Ya, mau bagaimana pun juga ia tidak boleh mengingkar janjinya pada Duto.

“Parah tuh si Alvin. Dia emang sama sekali gak bisa diandalkan. Udah tau kita mau ada pertandingan lanjutan liga basket, ngapain coba dia pake acara ke Malang segala”, gerutu Rio sepulang dari mengembalikan bola basket ke ruang olahraga.

Ify yang menyadari kedatangan pacarnya itu segera bangkit berdiri menyambutnya. Apa mungkin ini waktu yang baik untuk mengajak Rio ke ruang musik? Apa Rio tidak akan curiga?

“Ayo pulang”, ajak Rio sambil mengambil alih tas nya yang sedari tadi berada dalam pelukan Ify lalu meraih tangan gadis itu.

“Em Yo”, Ify menahan langkah kakinya.

Rio membalikkan tubuhnya dan menatap Ify dengan penuh tanya. “Kamu yakin mau langsung pulang?”, tanya Ify memulai niat awalnya.

“Kenapa emang nya?”

Ify menarik nafas nya dalam, dia tidak yakin kalau ini akan berjalan dengan baik. “Kamu gak ke ruang musik?”, Ify balik bertanya.

Tatapan penuh tanya Rio pun semakin menjadi. “Ruang musik? Ngapain aku kesana?”, tanyanya yang berhasil membuat Ify keringat dingin. Tangannya secara otomatis terkulai lemas.

“Rio pura-pura lupa apa emang gak ingat sama sekali sih? Apa emang gue harus kasih tau ke dia? Tapi gimana kalo Rio curiga? Gak mungkin juga kan gue bilang ke dia sekarang tentang gimana hubungan gue sama Duto?”, debat Ify dengan dirinya sendiri.

“Yo! Rio!”, seru suara khas perempuan dari lantai dua gedung sekolah.

Baik Rio –si empunya nama–, maupun Ify menoleh ke asal suara. Shilla yang berdiri menjinjit disana terlihat melambai-lambai kan tangannya. “Ayo cepat naik kesini! Gue sama anak-anak yang lain udah pada disini. Cepat Yo!”, lanjut Shilla dengan volume tingginya.

“Oh maksud kamu itu ke ruang musik buat bantu anak OSIS yang lain?”, Rio menyimpulkan.

Dengan penuh rasa lega, Ify tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya. Padahal sebenarnya sih bukan untuk bantu anak OSIS yang lain, melainkan untuk bantu Duto saudara kembarnya.

“Kamu gapapa kalo pulang malam?”, tanya Rio yang hanya ditanggapi gandengan tangan Ify.

Rio yang paham betul maksud Ify, membalas gandengan itu dengan genggaman yang lebih erat. “Makasih ya Fy, kamu emang yang paling ngertiin aku”, ucapnya bangga.

“Kamu salah Yo, aku yang seharusnya bilang kayak gitu. Makasih banyak ya Yo. Maafin aku”, lagi-lagi Ify bicara pada dirinya sendiri.

*****

Petang menjelang, tapi Iyel sama sekali belum mau beranjak dari sisi Tania. Sejak pagi hingga saat ini, dia masih setia mendampingi gadis itu.

“Kamu mau makan yang mana dulu nih?”, tanya Iyel sambil menghidangkan makanan empat sehat lima sempurna khas rumah sakit di hadapan Tania.

Tania menggeleng lemah, dia sama sekali tidak nafsu untuk makan.

“Yah, masa gitu sih. Em gimana kalo makan nasinya dulu? Aku suapi ya”, ujar Iyel yang segera menyodorkan sesendok nasi bersama dengan daging ayam yang menyelip di dalamnya.

Mau tak mau, akhirnya mulut kecil itu terbuka. Sesendok tadi pun masuk dengan mulus. Tidak hanya sesendok, melainkan setengah porsi berhasil Iyel daratkan di mulut di kerongkongan gadis itu.

“Thanks ya Yel”, ucap Tania sambil menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir di pipinya.

Iyel yang lagi-lagi tidak mengerti maksud Tania hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap lembut rambut Tania.

Berbeda dengan Iyel yang masih bersikap santai, Tania dan air matanya malah berhambur untuk memeluk tubuh Iyel. Dengan tenaga yang masih dimilikinya, dia mendekap sosok yang selalu berusaha gagah dalam menghadapinya.

“Makasih buat waktu singkat yang udah kita lalui bersama ya Yel. Aku bangga bisa kenal sama kamu, aku seneng bisa temenan sama kamu. Aku juga bahagia banget bisa pacaran sama kamu. Makasih Yel, terimakasih”, ucap Tania dengan tangis yang memecah.

*****

“Minumlah”, ucap Steve sambil menyodorkan coklat panas pada kekasihnya.

Kini giliran Tasya dan Steve yang duduk di taman rumah sakit. Dengan ditemani oleh gemerlap bintang malam, mereka menikmati perayaan sederhana hari jadi mereka yang ke tiga tahun.

“Maafin aku, gak seharusnya kan kita ada disini sekarang”, sesal Tasya yang menghirup coklat panasnya

“Kenapa harus minta maaf? Ini bukan salah kamu. Lagi pula aku suka kok sama suasana saat ini. Ada bintang yang terang, ada rumput yang sejuk, dan ada kamu”, rayu Steve. Dia menatap lekat gadisnya.

Tersipu dengan rayuan Steve, Tasya menoleh kan kepalanya ke sisi yang berbeda. “Dasar gombal!”, ucap Tasya sambil meringis malu.

Tak setuju dengan Tasya, Steve menggelengkan kepalanya. Lalu dia meraih tangan Tasya sambil memasangkan benda bulat mungil ke dalam jari manisnya. “Aku serius, Sya”, ucapnya yang berhasil membuat Tasya terkejut bersamaan dengan coklat panas yang digenggamnya di tangan yang berbeda terjatuh ke rerumputan.

“Ka ... ka ... kamu?”

“Iya aku”, sahut Steve yang semakin membuat Tasya kaget tak berdaya. “Maukah kamu menikah denganku?”, ucap Steve penuh keyakinan.

Berbeda dengan Steve, Tasya justru ragu pada dirinya. Bukan, lebih tepatnya pada hal yang saat ini terjadi pada dirinya. Cincin itu. Cincin yang kini tersemat rapi di jari manisnya. Apa ini sungguhan?

“Sya?”, lanjutnya yang masih menunggu jawaban

Perlahan, air mata mulai mengalir di pipinya. Dia bahagia. Kebahagiaan sejati seorang gadis benar-benar dirasakannya malam ini. “Aku ... aku ...”, Tasya tak mampu menyelesaikan jawabannya. Entahlah, tapi air mata itu telah mengalahkan semua gerakannya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menangis sambil menatap cincin bermata berlian putih itu.

“Apa aku salah? Atau apa kamu belum siap?”, lagi-lagi Steve bertanya.

Tasya menggeleng pelan. Masih dengan air mata yang mengalir, gadis itu mengangkat wajahnya. Ditatapnyalah kekasihnya itu dengan seksama. Dibalik air yang membasahi wajahnya, dia tersenyum. Manis sekali. Senyuman paling indah yang pernah ada dalam wajahnya. “Kamu benar, aku siap. Aku mau, Steve”, sahutnya yang berhasil menepis semua keraguan yang ada.

*****

Karena Shilla, Cakka jadi harus ikut membantu anak OSIS dalam menyiapkan pensi sekolah. Dia yang seharusnya saat ini sudah menonton tv di rumah, malah masih berada di sekolah dan bekerja keras mengangkat barang-barang.

“Maafin aku yah. Gara-gara aku, kamu jadi ikutan kayak gini”, ucap Shilla yang datang dengan membawakan satu botol air mineral dingin untuk Cakka.

Tak mau membuat Shilla semakin merasa bersalah, Cakka yang dalam hatinya terus menggerutu, berusaha untuk melekukkan kedua ujung bibirnya. Meski tak tulus, tapi dia berusaha untuk tersenyum kecil.

Shilla yang tahu bagaimana perasaan pacarnya saat ini hanya tertawa kecil sambil turut membantunya dalam merapikan tatanan properti di panggung.

Melihat sepasang kekasih yang baru beberapa hari menjalin cinta itu, membuat bagian dari hati Agni berpencaran satu sama lain. Dia bahkan sama sekali tidak memperhatikan Duto yang sedang mengajarkannya cara menyusun kursi yang benar.

“Elo mau gabung sama mereka?”, tanya Duto yang berhasil membuat Agni tersadar dari lamunannya.

“Hah? Apaan To?”, jawab Agni dengan cepat

“Elo suka ya sama Cakka?”, tanya Duto yang berhasil memojokkan Agni seketika. Membuat cewek berambut pendek itu terdiam tanpa kata.

Sadar akan ekspresi teman barunya itu, Duto semakin yakin dengan pertanyaannya. “Kalo suka, kenapa gak ngomong?” tanya Duto santai namun lagi-lagi memojokkan.

Agni yang tak tahu harus menjawab apa masih terdiam mematung.

“Udahlah, cowok bukan dia doang kan?”, lanjut Duto sambil menepuk pundak Agni dan melaju pergi untuk menata kursi di barisan lain.

“Cowok lain?”, pikir Agni sambil menatap punggung Duto. Namun belum sempat punggung itu menjauh, dia segera berbalik.

“Elo mau tetep disana atau masih mau bantu gue tata kursi yang lain?”, ucap Duto yang kembali menyadarkan Agni. Membuatnya berlari kecil untuk melanjutkan tugasnya.

“Kamu beneran gapapa, Fy?”, ujar Rio yang dari tadi sama sekali gak fokus dengan kegiatannya karena terus menerus menatap Ify. Dia merasa tidak enak karena harus melibatkan Ify sehingga gadis itu harus pulang malam.

“Harus berapa kali sih aku bilang. Aku gapapa. Asalkan dianterin kamu, aku gapapa”, sahut Ify tak berpaling dari piano yang sedang di test sound olehnya.

“Tapi ini kan, gara-gara aku Fy”, kini Rio yang berselempangkan gitar mendekat

“Gara-gara gimana sih Yo? Aku juga kan disini buat test sound. Nantinya kan band aku juga yang bakal mainin alat-alat musik ini”, Ify bangkit berdiri dan berniat untuk beralih ke alat musik yang lain.

Rio pun menarik Ify untuk berdiri di hadapannya. “Tapi Fy, ...”, ya dia memang terlalu mengkhawatirkan gadis itu. Dia takut kalau karena dirinya Ify akan kelelahan, dia takut kalau karena dirinya gadis itu akan dimarahi bahkan mungkin akan dihukum oleh kedua orang tuanya. Ya, Rio memang tidak tahu sama sekali tentang kehidupan keluarga pacarnya itu.

“Yo”, bukannya menuruti gerakan Rio, Ify justru mengambil tangan Rio dan menggenggamnya sambil menatap mata Rio.

“Aku gapapa, oke? Jadi sekarang mendingan kita lanjut test sound supaya pulangnya gak semakin malem. Oke?”, jawab Ify yang membuat Rio terpaksa mengangguk menurutinya

*****

Dengan nanar, Sivia menatap kedua ujung sepatunya. Kegiatannya hari ini terasa melelahkan. Sejak pagi ia berada di kamar Alvin, mengajaknya bicara meski memang hanya dia seorang lah yang terus bicara. Lalu menjelang siang, dia menemani Tasya untuk menebus obat-obatan milik Tania dan juga Alvin. Dan ketika sore tiba, dengan setia dia berada di sisi kakaknya yang sudah satu hari penuh menghabiskan waktunya bersama gadis pujaannya.

Kini, Sivia duduk di ruang tunggu. Dia menanti kedatangan kakaknya yang malam ini sudah boleh kembali ke rumah. Rasa lelah dan sedih karena kondisi kakaknya yang terlihat payah bercampur aduk bersama dengan pikirannya yang tersita pada Alvin yang entah sampai kapan terlelap dalam tidurnya.

“Vi”, sapa seseorang dengan suara yang dari tadi di harapkan oleh Sivia.


TO BE CONTINUED

Yap! Kembali dilanjut *yipyiphore* #SuaraPetasanDimanamana

Aku post ini setiap minggu keempat yah! Aku janji kok, bakal tamatin cerbung ini hehehe
Yang mau komen ayoo ditunggu!

I hope you like it, guys!
See you on next part xD

1 komentar:

Elna Nurmala mengatakan...

Akhirnya dilanjut juga :D tapi part Alvianya pendek banget. Oke, ditunggu bulan depan *plak*