Senin, 27 Juli 2015

Lentera Hati *Part 23*

Dengan nanar, Sivia menatap kedua ujung sepatunya. Kegiatannya hari ini terasa melelahkan. Sejak pagi ia berada di kamar Alvin, mengajaknya bicara meski memang hanya dia seoranglah yang terus bicara. Lalu menjelang siang, dia menemani Tasya untuk menebus obat-obatan milik Tania dan juga Alvin. Dan ketika sore tiba, dengan setia dia berada di sisi kakaknya yang sudah satu hari penuh menghabiskan waktunya bersama gadis pujaannya.

Kini, Sivia duduk di ruang tunggu. Dia menanti kedatangan kakaknya yang malam ini sudah boleh kembali ke rumah. Rasa lelah dan sedih karena kondisi kakaknya yang terlihat payah bercampur aduk bersama dengan pikirannya yang tersita pada Alvin yang entah sampai kapan terlelap dalam tidurnya.

“Vi”, sapa seseorang dengan suara yang dari tadi di harapkan oleh Sivia.


Meski senang dengan kedatangan sang kakak, Sivia justru bangkit berdiri dan memukul-mukul dada bidang itu dengan tangisan yang pecah. “Kak, Via capek. Via takut kak!”, ucapnya yang kini sudah bersandar pada lahan pukulnya tadi.

Baju Iyel yang hari ini sudah di penuhi oleh air mata Tania, sekarang harus bertambah dengan air mata milik adiknya sendiri. Dia tahu betul bagaimana rasanya jadi Sivia saat ini. Dia memang kakak yang payah! Seharusnya dia yang sekarang berdiri dan menenangkan Sivia, terus berada di sisinya. Bukan malah Sivia yang datang dan terus mendampinginya.

“Via gak mau kakak kayak gini! Sivia mau cerita sama kakak”, ucap gadis itu semakin lirih.

Dia tahu ini egois. Dia tahu tidak seharusnya, dia melarang kakaknya untuk terus larut dalam kesedihannya bersama dengan Tania. Dia tahu kakaknya butuh waktu yang banyak untuk menemani kekasihnya. Tapi dia juga mau, dia juga butuh kehadiran kakaknya. Dia butuh kak Iyel untuk hadir dan mendengarkan semua keluhnya.

“Kau sudah bangun?”, tanya Iyel sambil mengusap lembut rambut gadis kecilnya itu

“Ya”, sahut Sivia yang tertidur sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumahnya

“Kita belum sampai, masih kejebak macet. Jakarta Jakarta”, gerutu Iyel yang malah membuat Sivia tersenyum senang. Kakaknya sudah kembali.

*****

“Ni”, ucap Duto ketika Agni yang malam ini menumpang motornya baru saja akan beranjak memasuki gerbang rumahnya.

“Ya?”

“Makasih yah. Gue tau, elo buat ini semua bukan buat gue. Tapi makasih ya Ni”, lanjut Duto dengan senyumannya.

Melihat senyuman Duto membuat Agni terdiam seketika. Untuk pertama kalinya sepanjang tiga tahun sekolah dan berorganisasi bersama, baru kali ini dia melihat cowok misterius itu menyunggingkan senyumannya. Dan yang lebih membuatnya terkejut, senyuman itu adalah untuk dirinya.

“Gue senang bisa kerja sama bareng lo, gue balik yah”, ucapnya yang lagi-lagi tersenyum.

Tak sadar, Agni balas tersenyum. Dia bahkan melambaikan tangannya dan mengucapkan sampai jumpa di lubuk hatinya. Menghabiskan waktu bersama Duto membuatnya hampir lupa dengan Cakka.

Agni tidak tahu apa yang sedang dirasakannya, tapi yang jelas dia merasa nyaman. Nyaman ketika dia dan Duto bersama.

*****

Ketika sampai di rumah, Iyel dan Sivia disambut hangat oleh kedua orang tua mereka. Iyel yang sudah lelah, memilih untuk beristirahat di kamarnya. Membiarkan Sivia yang bercerita untuk menjelaskan apa saja yang telah terjadi dalam kehidupan mereka berdua.

“Jadi bagaimana keadaan anak itu?”, tanya mama yang terlihat sangat empati dengan kondisi anak pertamanya.

“Kak Tania, dia mengalami pendarahan di otaknya ma”

“Gimana dengan keluarganya? Apa mereka menuntut Iyel, Vi?”, tanya papa yang terlihat sama dengan mama.

Sivia menarik nafasnya dalam, sulit baginya untuk kembali mengingat apa saja yang telah di laluinya belakangan ini. Sungguh melelahkan.

“Awalnya, mereka marah sama kak Iyel. Tapi ada alasan lain yang membuat mereka berhenti buat menyalahkan kak Iyel”

“Kita harus kesana, pa. Kita harus minta maaf ke keluarganya Tania”

Papa mengangguk mantap. Mereka berencana untuk berkunjung ke rumah sakit. Besok pagi-pagi, mereka dan Iyel akan kesana. Mereka harus meminta maaf, dan bertanggung jawab atas ketidaksengajaan yang telah terjadi.

*****

Malam ini papa dan ibu pulang, giliran Tasya yang menjaga Tania di rumah sakit. Dia duduk di sisi ranjang adiknya itu. Sepulang Iyel dari kamar ini, Tania segera terlelap dalam tidurnya. Dia terlihat tenang dalam tutup matanya.

Tasya sudah mendengar tentang semuanya dari cerita ibu dan papa. Dia tahu kalau keberadaan Tania disini bukanlah salah siapapun. Bukan Alvin atau Iyel. Ya, adiknya memang sudah memohon jalan yang sedang dilaluinya saat ini.

“Ni, kamu kenapa langsung tidur gini sih? Kakak tuh mau cerita sama kamu. Ini”, ucap Tasya sambil menunjukkan cincin yang sudah meresmikan lamaran Steve tadi.

“Dia ngelamar kakak, Ni. Selama ini kakak kira kita hanya main-main. Tapi ternyata dia serius dan ya ini ... dia mengikat perjanjian sama kakak”, lanjut Tasya yang masih sulit untuk mempercayai hal-hal yang baru saja dilaluinya dengan Steve.

Puas bercerita, Tasya menyilangkan kedua tangannya lalu tertidur di tepi ranjang Tania. Berharap akan mimpi indah tentang khayalan pernikahannya kelaklah yang menemani malamnya.

“Kak ...”, panggil Tania

“Kak Tasya ...”, panggilnya lagi pada Tasya sudah terlelap dalam mimpinya

Jam baru menunjukkan pukul satu pagi, namun Tania malah terbangun dalam tidurnya. Dia tidak bisa tidur lagi, ada satu hal yang harus dilakukannya saat ini.

Setelah memastikan kalau kakaknya sudah tertidur pulas, dia beranjak pergi. Masih dengan infus dan beberapa selang cairan yang bersarang di punggung tangan kirinya, dia meninggalkan kamarnya.

*****

“Vin”, ucap Tania lembut sambil mendudukan dirinya di sisi Alvin.

“Kakak kangen Vin, sama kamu”, lanjutnya dengan tangan yang mengusap rambut Alvin penuh sayang. Dia sangat merindukan adiknya.

Sambil menyandarkan kepalanya di tepi ranjang Alvin, dia kembali bernostalgia dengan saat-saat pertama mereka berdua bertemu. Dua belas tahun yang lalu.

Flashback On

Saat itu Alvin masih berusia lima tahun, dan Tania sudah delapan tahun. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat Tania merasa kalau dirinya adalah kakak yang harus selalu ada untuk mendampingi adiknya. Tapi pada kenyataannya, malah Alvin yang selalu ada disisinya.

Hari itu hari perginya oma ke kehidupan yang lebih baik. Oma pergi dan membuat seisi rumah menangisinya. Baik papa, Tasya, bahkan ibu yang baru satu tahun tinggal di rumah mereka turut dalam kesedihan yang mendalam itu.

Tak hanya mereka, Tania pun tak bisa menerima kepergian oma. Baru saja beberapa tahun ditinggalkan oleh mama, kini dia harus kembali terpuruk. Dia bahkan mengurung dirinya di kamar selama beberapa hari. Dia tidak ingin keluar kamar. Dia ingin sendirian.

Papa, Tasya, dan ibu paham dengan maksud gadis kecilnya itu. Mereka menjalani hidup seolah tidak ada yang berbeda. Papa tetap bekerja di rumah sakit, Tasya tetap melanjutkan sekolahnya di tingkat menengah, dan ibu juga tetap menjalankan bisnis pakaiannya.

Tapi berbeda dengan Alvin. Meski tahu kalau Tania tidak pernah mau menerima kedatangannya, dia tidak pernah menyerah. Setiap kali tiba waktu makan siang, dia selalu mengetuk pintu kamar kakak tirinya untuk mengajaknya. Bahkan dia juga sering membantu bibi dalam menyiapkan makan siang ke kamar Tania.

“Kak! Kakak!”, seru Alvin sambil mengetuk pintu kamar Tania.

Gadis kecil itu tak menyahut, dia asik dengan tidur siangnya. Tapi semakin lama ketukan itu semakin cepat, dan seruan Alvin pun semakin keras terdengar. Merasa terusik dengan itu, Tania bangkit lalu membuka pintunya cepat.

“Ada apa?”, tanyanya kasar sambil menatap Alvin tajam

Alvin kecil pun takut dan menundukkan kepalanya dalam. “Hi ... hidung aku ... berdarah”, ucapnya takut.

Tania yang tidak mengerti betul maksud adiknya, segera mengangkat wajah itu. Dilihatnya jelas wajah Alvin yang pucat dan aliran darah segar yang tak mau berhenti dari hidungnya. “Bi! Bibi!”, teriak Tania histeris.

“Bibi lagi ke pasar, bibi mau beli makanan buat nanti malam”, sahut Alvin dengan kepolosannya. Dia bahkan tidak merintih sedikit pun.

Ketika darah itu mulai berhenti mengalir, Tania membersihkan wajah Alvin di dalam kamarnya. Dia menyuruh Alvin duduk di tempat tidurnya, lalu membasuhnya dengan handuk kecil yang sudah dibasahinya.

“Kakak cantik”, ucap Alvin sambil tidak berhenti menatap wajah Tania kagum.

“Kakak cantik, jadi jangan nangis lagi. Jangan di kamar mulu ya kak”, lanjutnya yang membuat Tania menghentikan kegiatannya lalu menatap Alvin lekat.

“Nanti kalo kakak mau main, Alvin temenin yah. Nanti kita main di taman, sama teman-teman Alvin”, ucapnya yang berhasil membuat Tania tersenyum kecil

Sejak saat itu, Tania sadar kalau dia tidak sendirian. Masih ada Alvin yang selalu setia untuk menemaninya bermain.

Flashback Off

“Makasih ya Vin, udah mau jadi teman kakak”, ucap Tania sambil memeluk dan mengecup kening adiknya.

Usai itu, Tania kembali ke kamarnya. Rasa sakit itu kembali datang menyerang kepalanya.

*****

Satu hari menjelang pentas seni, sekolah mempercepat kepulangannya hari ini. Memberikan waktu untuk mereka semua yang akan ambil bagian dalam acara tahunan sekolah itu untuk latihan demi menampilkan hasil yang terbaik.

“Sebelumnya, gue mau minta maaf karena dua hari ini gue enggak latihan bareng sama kalian”, sesal Sivia

“Gapapa kok Vi, kemarin juga kita gak latihan sama sekali”, sahut Shilla sambil merangkul sahabat karibnya. Dia paham betul bagaimana kondisi Sivia saat ini.

“Emangnya ada masalah apa Vi?”, tanya Ify, satu-satunya dari mereka yang sama sekali tidak tahu tentang apa yang telah terjadi pada kehidupan Sivia. Berbeda dengan Shilla dan Agni, Ify bukanlah teman yang dekat dengan Sivia.

“Kakak gue sakit Fy”, ucap Sivia setengah berbohong.

“Oh gitu. Ternyata elo juga punya kakak? Berarti kita sa ...”, Ify menghentikan laju bicaranya. Membuat ketiga temannya memandangnya bingung.

“Sa apa, Fy?”, tanya Agni penasaran.

“Elo juga punya kakak, Fy?

Ify tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya cepat lalu beranjak ke pianonya. “Kita mulai latihannya sekarang aja yuk”, ajaknya kikuk

Meski masih bingung dan penasaran dengan sikap dan ucapan Ify, tapi mereka menuruti perintah Ify. Shilla beranjak ke bassnya, Agni ke gitarnya, dan Sivia ke standing micnya.

Dulu dia selalu berada disini
Dulu dia tak pernah absen menemani
Dulu dia pemilik hati ini
Dan dulu dialah sang kekasih

Namun, kini semua berbeda
Kita tak lagi bersama
Cinta hanyalah sebuah kata
Hilang tanpa ada yang bermakna ...

Sambil memetik senar bassnya, Agni memejamkan matanya. Cinta hanyalah sebuah kata, satu kalimat yang ia tambahkan dalam lagu mereka itu adalah gambaran dalam dirinya. Dirinya yang dipermainkan oleh sebuah kata.

*****

“Ni! Tania!”, Tasya yang baru saja bangun dari tidurnya bangkit berdiri sambil berteriak histeris menatap tubuh Tania yang terbujur kaku di hadapannya. Tanpa nafas, tanpa denyut nadi yang membuat Tasya terus menjerit ketakutan.

Mendengar histeria yang ada di dalam kamar kelas satu di dekat ruang dokter, membuat para suster dan beberapa dokter yang menangani bergegas masuk untuk memeriksa kondisi pasien. Tasya yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya terlihat pucat pasi. Dengan bantuan salah satu suster, dia dibawa ke ruang tunggu di depan kamar.

Tadi pagi, Tasya sempat melihat Tania kembali masuk ke kamarnya. Dia tidak tahu darimana adiknya itu pergi. Tapi kondisi gadis itu terlihat baik-baik saja. Namun saat ini, ketika matahari baru saja mau beranjak ke takhtanya yang tertinggi, ketika Tasya terbangun dari tidurnya. Hal ini terjadi.

“Tania, Nia”, gumam Tasya ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan hebat, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Dia takut, dia belum siap melepas kepergian adik kandungnya itu. Jangan sekarang, dia memohon jangan sekarang!


TO BE CONTINUED

Maaf yah baru post hari Senin~~
Alvin pingsannya lama yah? Gak bangun-bangun hehehe xD
Jangan pernah bosan buat baca cerita aku yah!
Jangan lupa komen juga yah!

I hope you like it, guys!
Thank you :)

Tidak ada komentar: