Dengan nanar, Sivia
menatap kedua ujung sepatunya. Kegiatannya hari ini terasa melelahkan. Sejak
pagi ia berada di kamar Alvin, mengajaknya bicara meski memang hanya dia
seoranglah yang terus bicara. Lalu menjelang siang, dia menemani Tasya untuk
menebus obat-obatan milik Tania dan juga Alvin. Dan ketika sore tiba, dengan
setia dia berada di sisi kakaknya yang sudah satu hari penuh menghabiskan
waktunya bersama gadis pujaannya.
Kini, Sivia duduk di
ruang tunggu. Dia menanti kedatangan kakaknya yang malam ini sudah boleh
kembali ke rumah. Rasa lelah dan sedih karena kondisi kakaknya yang terlihat
payah bercampur aduk bersama dengan pikirannya yang tersita pada Alvin yang
entah sampai kapan terlelap dalam tidurnya.
“Vi”, sapa seseorang
dengan suara yang dari tadi di harapkan oleh Sivia.
Meski senang dengan
kedatangan sang kakak, Sivia justru bangkit berdiri dan memukul-mukul dada
bidang itu dengan tangisan yang pecah. “Kak, Via capek. Via takut kak!”,
ucapnya yang kini sudah bersandar pada lahan pukulnya tadi.
Baju Iyel yang hari ini
sudah di penuhi oleh air mata Tania, sekarang harus bertambah dengan air mata
milik adiknya sendiri. Dia tahu betul bagaimana rasanya jadi Sivia saat ini.
Dia memang kakak yang payah! Seharusnya dia yang sekarang berdiri dan menenangkan
Sivia, terus berada di sisinya. Bukan malah Sivia yang datang dan terus
mendampinginya.
“Via gak mau kakak kayak
gini! Sivia mau cerita sama kakak”, ucap gadis itu semakin lirih.
Dia tahu ini egois. Dia
tahu tidak seharusnya, dia melarang kakaknya untuk terus larut dalam
kesedihannya bersama dengan Tania. Dia tahu kakaknya butuh waktu yang banyak
untuk menemani kekasihnya. Tapi dia juga mau, dia juga butuh kehadiran
kakaknya. Dia butuh kak Iyel untuk hadir dan mendengarkan semua keluhnya.
“Kau sudah bangun?”,
tanya Iyel sambil mengusap lembut rambut gadis kecilnya itu
“Ya”, sahut Sivia yang
tertidur sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumahnya
“Kita belum sampai,
masih kejebak macet. Jakarta Jakarta”, gerutu Iyel yang malah membuat Sivia
tersenyum senang. Kakaknya sudah kembali.
*****
“Ni”, ucap Duto ketika
Agni yang malam ini menumpang motornya baru saja akan beranjak memasuki gerbang
rumahnya.
“Ya?”
“Makasih yah. Gue tau,
elo buat ini semua bukan buat gue. Tapi makasih ya Ni”, lanjut Duto dengan
senyumannya.
Melihat senyuman Duto
membuat Agni terdiam seketika. Untuk pertama kalinya sepanjang tiga tahun
sekolah dan berorganisasi bersama, baru kali ini dia melihat cowok misterius
itu menyunggingkan senyumannya. Dan yang lebih membuatnya terkejut, senyuman
itu adalah untuk dirinya.
“Gue senang bisa kerja
sama bareng lo, gue balik yah”, ucapnya yang lagi-lagi tersenyum.
Tak sadar, Agni balas
tersenyum. Dia bahkan melambaikan tangannya dan mengucapkan sampai jumpa di
lubuk hatinya. Menghabiskan waktu bersama Duto membuatnya hampir lupa dengan
Cakka.
Agni tidak tahu apa yang
sedang dirasakannya, tapi yang jelas dia merasa nyaman. Nyaman ketika dia dan
Duto bersama.
*****
Ketika sampai di rumah,
Iyel dan Sivia disambut hangat oleh kedua orang tua mereka. Iyel yang sudah
lelah, memilih untuk beristirahat di kamarnya. Membiarkan Sivia yang bercerita
untuk menjelaskan apa saja yang telah terjadi dalam kehidupan mereka berdua.
“Jadi bagaimana keadaan
anak itu?”, tanya mama yang terlihat sangat empati dengan kondisi anak
pertamanya.
“Kak Tania, dia
mengalami pendarahan di otaknya ma”
“Gimana dengan
keluarganya? Apa mereka menuntut Iyel, Vi?”, tanya papa yang terlihat sama
dengan mama.
Sivia menarik nafasnya
dalam, sulit baginya untuk kembali mengingat apa saja yang telah di laluinya
belakangan ini. Sungguh melelahkan.
“Awalnya, mereka marah
sama kak Iyel. Tapi ada alasan lain yang membuat mereka berhenti buat
menyalahkan kak Iyel”
“Kita harus kesana, pa.
Kita harus minta maaf ke keluarganya Tania”
Papa mengangguk mantap.
Mereka berencana untuk berkunjung ke rumah sakit. Besok pagi-pagi, mereka dan
Iyel akan kesana. Mereka harus meminta maaf, dan bertanggung jawab atas
ketidaksengajaan yang telah terjadi.
*****
Malam ini papa dan ibu
pulang, giliran Tasya yang menjaga Tania di rumah sakit. Dia duduk di sisi
ranjang adiknya itu. Sepulang Iyel dari kamar ini, Tania segera terlelap dalam
tidurnya. Dia terlihat tenang dalam tutup matanya.
Tasya sudah mendengar
tentang semuanya dari cerita ibu dan papa. Dia tahu kalau keberadaan Tania
disini bukanlah salah siapapun. Bukan Alvin atau Iyel. Ya, adiknya memang sudah
memohon jalan yang sedang dilaluinya saat ini.
“Ni, kamu kenapa
langsung tidur gini sih? Kakak tuh mau cerita sama kamu. Ini”, ucap Tasya
sambil menunjukkan cincin yang sudah meresmikan lamaran Steve tadi.
“Dia ngelamar kakak, Ni.
Selama ini kakak kira kita hanya main-main. Tapi ternyata dia serius dan ya ini
... dia mengikat perjanjian sama kakak”, lanjut Tasya yang masih sulit untuk
mempercayai hal-hal yang baru saja dilaluinya dengan Steve.
Puas bercerita, Tasya
menyilangkan kedua tangannya lalu tertidur di tepi ranjang Tania. Berharap akan
mimpi indah tentang khayalan pernikahannya kelaklah yang menemani malamnya.
“Kak ...”, panggil Tania
“Kak Tasya ...”,
panggilnya lagi pada Tasya sudah terlelap dalam mimpinya
Jam baru menunjukkan
pukul satu pagi, namun Tania malah terbangun dalam tidurnya. Dia tidak bisa
tidur lagi, ada satu hal yang harus dilakukannya saat ini.
Setelah memastikan kalau
kakaknya sudah tertidur pulas, dia beranjak pergi. Masih dengan infus dan
beberapa selang cairan yang bersarang di punggung tangan kirinya, dia
meninggalkan kamarnya.
*****
“Vin”, ucap Tania lembut
sambil mendudukan dirinya di sisi Alvin.
“Kakak kangen Vin, sama
kamu”, lanjutnya dengan tangan yang mengusap rambut Alvin penuh sayang. Dia
sangat merindukan adiknya.
Sambil menyandarkan
kepalanya di tepi ranjang Alvin, dia kembali bernostalgia dengan saat-saat
pertama mereka berdua bertemu. Dua belas tahun yang lalu.
Flashback On
Saat itu Alvin masih
berusia lima tahun, dan Tania sudah delapan tahun. Perbedaan usia yang cukup
jauh membuat Tania merasa kalau dirinya adalah kakak yang harus selalu ada
untuk mendampingi adiknya. Tapi pada kenyataannya, malah Alvin yang selalu ada
disisinya.
Hari itu hari perginya
oma ke kehidupan yang lebih baik. Oma pergi dan membuat seisi rumah
menangisinya. Baik papa, Tasya, bahkan ibu yang baru satu tahun tinggal di
rumah mereka turut dalam kesedihan yang mendalam itu.
Tak hanya mereka, Tania
pun tak bisa menerima kepergian oma. Baru saja beberapa tahun ditinggalkan oleh
mama, kini dia harus kembali terpuruk. Dia bahkan mengurung dirinya di kamar
selama beberapa hari. Dia tidak ingin keluar kamar. Dia ingin sendirian.
Papa, Tasya, dan ibu
paham dengan maksud gadis kecilnya itu. Mereka menjalani hidup seolah tidak ada
yang berbeda. Papa tetap bekerja di rumah sakit, Tasya tetap melanjutkan
sekolahnya di tingkat menengah, dan ibu juga tetap menjalankan bisnis
pakaiannya.
Tapi berbeda dengan
Alvin. Meski tahu kalau Tania tidak pernah mau menerima kedatangannya, dia
tidak pernah menyerah. Setiap kali tiba waktu makan siang, dia selalu mengetuk
pintu kamar kakak tirinya untuk mengajaknya. Bahkan dia juga sering membantu
bibi dalam menyiapkan makan siang ke kamar Tania.
“Kak! Kakak!”, seru
Alvin sambil mengetuk pintu kamar Tania.
Gadis kecil itu tak
menyahut, dia asik dengan tidur siangnya. Tapi semakin lama ketukan itu semakin
cepat, dan seruan Alvin pun semakin keras terdengar. Merasa terusik dengan itu,
Tania bangkit lalu membuka pintunya cepat.
“Ada apa?”, tanyanya
kasar sambil menatap Alvin tajam
Alvin kecil pun takut
dan menundukkan kepalanya dalam. “Hi ... hidung aku ... berdarah”, ucapnya
takut.
Tania yang tidak
mengerti betul maksud adiknya, segera mengangkat wajah itu. Dilihatnya jelas
wajah Alvin yang pucat dan aliran darah segar yang tak mau berhenti dari
hidungnya. “Bi! Bibi!”, teriak Tania histeris.
“Bibi lagi ke pasar,
bibi mau beli makanan buat nanti malam”, sahut Alvin dengan kepolosannya. Dia
bahkan tidak merintih sedikit pun.
Ketika darah itu mulai
berhenti mengalir, Tania membersihkan wajah Alvin di dalam kamarnya. Dia
menyuruh Alvin duduk di tempat tidurnya, lalu membasuhnya dengan handuk kecil
yang sudah dibasahinya.
“Kakak cantik”, ucap
Alvin sambil tidak berhenti menatap wajah Tania kagum.
“Kakak cantik, jadi
jangan nangis lagi. Jangan di kamar mulu ya kak”, lanjutnya yang membuat Tania
menghentikan kegiatannya lalu menatap Alvin lekat.
“Nanti kalo kakak mau
main, Alvin temenin yah. Nanti kita main di taman, sama teman-teman Alvin”,
ucapnya yang berhasil membuat Tania tersenyum kecil
Sejak saat itu, Tania
sadar kalau dia tidak sendirian. Masih ada Alvin yang selalu setia untuk
menemaninya bermain.
Flashback Off
“Makasih ya Vin, udah
mau jadi teman kakak”, ucap Tania sambil memeluk dan mengecup kening adiknya.
Usai itu, Tania kembali
ke kamarnya. Rasa sakit itu kembali datang menyerang kepalanya.
*****
Satu hari menjelang
pentas seni, sekolah mempercepat kepulangannya hari ini. Memberikan waktu untuk
mereka semua yang akan ambil bagian dalam acara tahunan sekolah itu untuk
latihan demi menampilkan hasil yang terbaik.
“Sebelumnya, gue mau
minta maaf karena dua hari ini gue enggak latihan bareng sama kalian”, sesal
Sivia
“Gapapa kok Vi, kemarin
juga kita gak latihan sama sekali”, sahut Shilla sambil merangkul sahabat
karibnya. Dia paham betul bagaimana kondisi Sivia saat ini.
“Emangnya ada masalah
apa Vi?”, tanya Ify, satu-satunya dari mereka yang sama sekali tidak tahu
tentang apa yang telah terjadi pada kehidupan Sivia. Berbeda dengan Shilla dan
Agni, Ify bukanlah teman yang dekat dengan Sivia.
“Kakak gue sakit Fy”,
ucap Sivia setengah berbohong.
“Oh gitu. Ternyata elo
juga punya kakak? Berarti kita sa ...”, Ify menghentikan laju bicaranya.
Membuat ketiga temannya memandangnya bingung.
“Sa apa, Fy?”, tanya
Agni penasaran.
“Elo juga punya kakak,
Fy?
Ify tidak menjawab, dia hanya
menggelengkan kepalanya cepat lalu beranjak ke pianonya. “Kita mulai latihannya
sekarang aja yuk”, ajaknya kikuk
Meski masih bingung dan penasaran
dengan sikap dan ucapan Ify, tapi mereka menuruti perintah Ify. Shilla beranjak
ke bassnya, Agni ke gitarnya, dan Sivia ke standing
micnya.
Dulu dia selalu berada
disini
Dulu dia tak pernah
absen menemani
Dulu dia pemilik hati
ini
Dan dulu dialah sang
kekasih
Namun, kini semua
berbeda
Kita tak lagi bersama
Cinta hanyalah sebuah
kata
Hilang tanpa ada yang
bermakna ...
Sambil memetik senar bassnya, Agni memejamkan matanya. Cinta hanyalah sebuah kata, satu kalimat
yang ia tambahkan dalam lagu mereka itu adalah gambaran dalam dirinya. Dirinya
yang dipermainkan oleh sebuah kata.
*****
“Ni! Tania!”, Tasya yang baru saja bangun dari tidurnya
bangkit berdiri sambil berteriak histeris menatap tubuh Tania yang terbujur
kaku di hadapannya. Tanpa nafas, tanpa denyut nadi yang membuat Tasya terus
menjerit ketakutan.
Mendengar histeria yang ada di dalam kamar kelas satu di
dekat ruang dokter, membuat para suster dan beberapa dokter yang menangani
bergegas masuk untuk memeriksa kondisi pasien. Tasya yang masih tak percaya
dengan apa yang dilihatnya terlihat pucat pasi. Dengan bantuan salah satu
suster, dia dibawa ke ruang tunggu di depan kamar.
Tadi pagi, Tasya sempat melihat Tania kembali masuk ke
kamarnya. Dia tidak tahu darimana adiknya itu pergi. Tapi kondisi gadis itu
terlihat baik-baik saja. Namun saat ini, ketika matahari baru saja mau beranjak
ke takhtanya yang tertinggi, ketika Tasya terbangun dari tidurnya. Hal ini
terjadi.
“Tania, Nia”, gumam Tasya ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan
hebat, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Dia takut, dia belum siap
melepas kepergian adik kandungnya itu. Jangan sekarang, dia memohon jangan
sekarang!
TO BE CONTINUED
Maaf yah baru post hari Senin~~
Alvin pingsannya lama yah? Gak bangun-bangun hehehe xD
Jangan pernah bosan buat baca cerita aku yah!
Jangan lupa komen juga yah!
I hope you like it, guys!
Thank you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar