“Ni! Tania!”, Tasya yang baru saja bangun dari tidurnya
bangkit berdiri sambil berteriak histeris menatap tubuh Tania yang terbujur
kaku di hadapannya. Tanpa nafas, tanpa denyut nadi yang membuat Tasya terus
menjerit ketakutan.
Mendengar histeria yang ada di dalam kamar kelas satu di
dekat ruang dokter, membuat para suster dan beberapa dokter yang menangani
bergegas masuk untuk memeriksa kondisi pasien. Tasya yang masih tak percaya
dengan apa yang dilihatnya terlihat pucat pasi. Dengan bantuan salah satu
suster, dia dibawa ke ruang tunggu di depan kamar.
Tadi pagi, Tasya sempat melihat Tania kembali masuk ke
kamarnya. Dia tidak tahu darimana adiknya itu pergi. Tapi kondisi gadis itu
terlihat baik-baik saja. Namun saat ini, ketika matahari baru saja mau beranjak
ke takhtanya yang tertinggi, ketika Tasya terbangun dari tidurnya. Hal ini
terjadi.
“Tania, Nia”, gumam Tasya ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan
hebat, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Dia takut, dia belum siap
melepas kepergian adik kandungnya itu. Jangan sekarang, dia memohon jangan
sekarang!
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari kamar
Tania. “Sya”, ucap dokter yang juga sudah kenal baik dengan keluarga temannya
itu. Pria berseragam serba putih itu terlihat sangat kecewa, matanya pun mulai
meneteskan air yang perlahan membasahi pipinya. “Maafin om, Sya”, lanjutnya
dengan tangis yang tak sanggup untuk ditahannya lebih lama.
Tasya yang tidak mampu menerima kenyataan yang ada terjatuh
ke lantai. Matanya yang sayu harus menjadi tempat air mata untuk berhamburan
keluar. Dia menangis, menjerit, dan bahkan memukul dadanya lemas.
“Sya”, dokter mendekatinya dan mengusap punggung Tasya
lembut. Dia juga merasa kehilangan, mengingat sudah lama dirinya bekerja sama
dengan papanya Tasya dan Tania.
Tak lama kemudian, papa dan ibu yang sudah dihubungi oleh
pihak rumah sakit tiba. Mereka berdua bergegas masuk ke kamar.
Ibu berhenti tepat di ambang pintu, dia menutup mulutnya
tanda tak percaya. Dia menangis dengan penuh kepedihan. Tania, anak perempuan
yang menerima kehadirannya dengan penuh kehangatan kini telah pergi
meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Beda dengan ibu, papa langsung menghampiri putrinya.
Memeluknya erat, menciumnya dengan penuh cinta. Ini adalah ketiga kalinya dia
kehilangan sosok wanita yang berharga dalam hidupnya. Pertama istri sekaligus
ibu dari kedua anaknya, lalu ibu yang melahirkannya, dan kini putri sekaligus
darah dagingnya sendiri. “Maafkan papa, papa gak bisa bantu kamu”, ucap papa
penuh sesal. Dia terus mendekap putrinya.
*****
Iyel menatap lirih sosok manis nan cantik yang ada di
hadapannya. Sosok gadis yang dicintainya kini tengah tersenyum manis. Dengan
make-up yang membuatnya terlihat tambah cantik, juga pakaian gaun putih yang
terlihat serasi dengan tubuhnya, Tania terlelap.
“Jadi, dia yang berhasil membuat kamu tergila-gila”, ucap
papa sambil memukul pelan punggung anaknya. Mencoba berbagi kekuatan.
Iyel diam tak menjawab. Dia terlalu sibuk untuk menerima
kenyataan yang ada. Baru saja hari ini dia akan mengenalkan kedua orang tuanya
pada Tania. Tapi nyatanya dialah yang harus mengenalkan dirinya pada kondisi
yang ada. Kondisi dimana Tania sudah pergi meninggalkannya. Meninggalkannya
bersama dengan segala kenangan yang telah tercipta.
Dengan air mata tak percaya, Iyel berdiri di sisi peti
berwarna putih dengan beberapa mawar dengan warna sama yang mengelilingi
tepinya. “Ini terlalu cepat”, gumamnya. Dia bahkan belum mengajak Tania untuk
melihat beberapa lukisannya di galerinya di Singapura. Mereka bahkan belum
sempat saling mengunjungi di negeri patung Singa itu.
Melihat kondisi anaknya yang payah, mama mendekati Iyel.
Wanita paruh baya itu merangkulnya, lalu menggoyangkan kedua bahu putranya
pelan. Berusaha untuk menyadarkannya. “Semua ini sudah terjadi. Mama tahu ini
sulit, tapi inilah kenyatannya Yel. Kita coba terima ini semua yah”, ucap mama
yang sama sekali tak digubris olehnya.
“Mama kamu benar. Kita akan selalu dukung kamu! Tania sudah
pergi, jadi biarkanlah dia pergi dengan tenang”, timpal papa yang ikut
mendekat. Laki-laki yang jarang menghabiskan waktunya bersama keluarga itu
mengangkat tangannya lalu mengusap pelan rambut putra kebanggaannya. Dia yakin
kalau putranya itu jauh lebih kuat dari kelihatannya.
Tak hanya Iyel dan kedua orang tuanya. Tasya yang sedari
malam mendampingi Tania masih belum bosan dengan posisinya. Dia masih berada di
tepi peti sambil terus menatap iba adiknya. Dia belum siap.
“Ini yang terbaik, Sya”, ucap Steve yang baru saja tiba di
rumah duka. Ya, Tasya baru sempat menghubunginya beberapa menit yang lalu.
Sadar kalau ucapannya tidak cukup menenangkan, laki-laki
bertubuh jangkung itu menundukkan kepalanya lalu berbisik pada kekasihnya.
“Masih ada aku dan yang lain, kamu gak sendirian Sya”, ucapnya sambil memegang
kedua bahu yang belum mau berhenti bersama dengan air yang mengalir dari
matanya.
“Tapi Yel, dia ... dia bahkan lebih muda dari aku. Dia masih
harus kuliah Yel, dia masih harus jalanin masa depannya”, sahut Tasya yang
masih dengan tatapan kosongnya ke arah Tania.
Genggaman Steve tadi berubah menjadi pelukan yang begitu
erat. Dia membalikkan tubuh Tasya, lalu menenggelamkan tubuh itu jauh kedalam
dada bidangnya. Membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang seolah
berkata -jangan menangis! Ada aku disini-
*****
“Selamat pagi! Pertama-tama saya ucapkan terimakasih pada
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah bersedia menyatukan kita untuk berkumpul demi
merayakan hari ulang tahun sekolah ini”, ucap Duto gugup pada pidato pembukaan
acara pensi ulang tahun sekolah tahun ini.
Sebagai pengganti Alvin, ini adalah kali kedua Duto
berbicara di depan umum. Kali yang pertama terjadi beberapa bulan yang lalu.
Saat itu Alvin menghilang seperti biasanya, tanpa kabar. Dan memaksa Duto yang
pada dasarnya tidak pandai berbicara, harus berpidato di depan umum.
“Saya juga ingin mengucapkan terimakasih pada seluruh
anggota OSIS dan beberapa siswa yang mau membantu dalam menyiapkan acara ini”,
Duto menundukkan kepalanya. Bukan karena malu akan tatapan dari teman-temannya,
melainkan karena rasa haru yang saat ini menghiasi pikirannya. Sebelumnya, dia
tidak pernah merasa ada orang lain di sekolah ini yang bersimpati padanya.
“Tanpa kalian, saya gak mungkin bisa berdiri disini dan
menyampaikan pidato ini. Terimakasih, sekali lagi terimakasih”
Mendengar pidato Duto, membuat Cakka kembali mengingat
kejadian dimana Duto pertama kali bicara di depan umum, beberapa bulan yang
lalu. “Dia jauh lebih bagus dibanding waktu penutupan MOS”, komen Cakka sambil
tertawa kecil pada Rio yang duduk di sebelahnya.
“Ify cantik ya Cak”, sahut Rio yang sama sekali tidak ada
sangkut pautnya dengan perkataan Cakka.
“Apaan sih Yo, gak nyambung lo!”
“Itu Cak, elo liat aja sendiri!”, tangan kiri Rio menarik
leher Cakka untuk mendekat sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah keempat
gadis cantik yang tengah bersiap di sisi panggung.
Cakka yang pada awalnya acuh tak acuh, malah melebarkan
matanya. Dengan rinci dia menatap keempat gadis itu. Bukan keempat, melainkan
hanya satu yang mampu menarik penuh perhatiannya. Bukan Shilla yang kini
menjadi kekasihnya, melainkan Agni yang untuk pertama kalinya mengenakan make-up pada wajah manisnya.
“Iya, dia cantik ya”, gumamnya pelan
“Maksud lo apaan Cak? Elo naksir juga sama Ify?”
“Bu ... bukan Yo! Bukan Ify, maksud gue”
“Oh, Shilla”
Lidah Cakka tercekat. Bukan
Yo! Bukan Shilla, tapi Agni. Ingin rasanya dia menyahuti Rio, ingin sekali
dia bilang kalau dia masih menyukai Agni. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa.
Lidahnya terasa begitu kaku, mulutnya pun tak bisa bergerak sedikit pun. Dia
pengecut yang entah sampai kapan mampu bicara tentang apa yang sebenarnya
dirasakannya.
“Mari kita sambut, keempat gadis cantik ini! Inilah dia,
SISA’s band!”, ucap sang MC yang disambut oleh teriakan dari penonton yang memenuhi
ruangan musik di pagi hari ini.
Dulu dia selalu berada
disini
Dulu dia tak pernah
absen menemani
Dulu dia pemilik hati
ini
Dan dulu dialah sang
kekasih
Namun, kini semua
berbeda
Kita tak lagi bersama
Cinta hanyalah sebuah
kata
Hilang tanpa ada yang
bermakna
Aku dan kamu kini
tinggal kenangan
Berlalu dalam air yang
menggenang
Tak tahu mau mengalir
kemana
Lelah telah sampai
pada batasnya
Melambung tinggi
melampaui lapisan bumi
Tak tahu pula tak
memahami
Hanya dapat terdiam
dan menanti
Tak mengerti, aku tak
mengerti
Hanya diam untuk
menanti
Dengan suara lembut yang khas, Sivia mulai menyanyikan lagu
yang dengan susah payah ia hapalkan lirik demi liriknya ditemani oleh Ify di
piano, Shilla di bazz, dan Agni di gitar. Mereka melantunkan lagu ballad ini dengan sangat baik. Membawa
penonton untuk turut merasakan apa yang terkandung dalam setiap lirik yang ada.
Bukan hanya penonton yang mampu merasakannya. Keempat gadis
yang sudah mempersiapkan dan melantunkan lagu ciptaan mereka ini berkali-kali
pun masih bisa memaknainya. Apalagi Agni yang entah kenapa selalu merasa kalau
dirinyalah yang sedang diceritakan dalam setiap kata yang ada. Ya, tentang dia
dan Cakka.
*****
Mata yang selalu berusaha untuk tetap tegar, kini sudah tak
mampu lagi untuk berpura-pura. Kehilangan tiga sosok perempuan yang berarti
sudah membuat dirinya rapuh hingga ke kepingan-kepingan kecil.
“Ada aku, mas”, bisik seorang wanita muda yang sejak tadi
pagi atau malah sejak beberapa tahun belakangan ini selalu berada disisinya.
Meskipun prosesi pemakaman sudah selesai pada satu jam yang
lalu, tapi papa masih enggan untuk melangkah menjauhi makam putri bungsunya.
“Hartaku berkurang satu”, sahut papa dengan lemah.
Ibu merangkul pinggang papa, lalu memeluknya hangat. “Kita
hadapi ini sama-sama ya, mas. Aku butuh mas, Tasya dan Alvin juga. Kita
berjuang sama-sama. Tania pasti juga akan sedih kalau kita terus sedih seperti
ini”, ucapnya dengan nada yang lembut seperti biasa.
Papa tersenyum tipis. Walau perkataan ibu terkesan naif,
tapi laki-laki parubaya itu merasa sedikit terhibur. Mau bagaimana pun, dia
adalah kepala rumah tangga. Masih ada tiga anggota keluarga yang masih
membutuhkannya.
“Terimakasih”, sahut papa sambil mengusap lembut rambut
istrinya.
*****
Akhirnya, pensi ulang tahun sekolah ini telah berlangsung
dengan lancar. Duto yang menjabat sebagai ketuanya pun sudah mampu untuk
melebarkan senyumnya.
Kini, dia bukan lagi wakil ketua OSIS yang hanya menumpang
nama. Kini, dia bukan lagi wakil ketua OSIS gagal yang tidak memiliki satu pun
teman di sekolah. Ya, walaupun sebenarnya sampai saat ini teman bukanlah kata
yang tepat untuk anggota-anggota OSIS yang menolongnya.
“Selamat yah!”, ucap Agni sambil mengulurkan tangannya
disertai dengan senyuman tulus dari kedua ujung bibirnya.
“Thanks”, Duto balas tersenyum.
Agni mendudukan dirinya di sebelah Duto. Membuat dua orang
yang dekat namun tak saling mengenal ini duduk bersama di bawah pohon besar di
taman sekolah.
“Penampilan elo keren, lagu buatan kalian juga keren”, ucap
Duto memulai pembicaraan yang sempat terhenti
“Thanks”, pembicaraan pun kembali terhenti.
Sambil menatap beberapa petugas kebersihan yang tengah sibuk
membersihkan beberapa sampah dari pensi hari ini, mereka berdua menikmati
ketenangan sore ini. Tidak hanya itu, lalu lalang siswa dan guru serta angin
yang berhembus juga menjadi pengisi yang tepat.
Setelah menyelesaikan penampilannya tadi, Ify tidak
henti-hentinya menerima pujian dari Rio. Dan dengan tidak bosan-bosan,
kekasihnya itu terus melontarkan kata-kata pujian yang sama.
“Kamu keren banget!”, ini adalah ucapan Rio yang kelima
untuk Ify.
Seperti biasa, hari ini Rio kembali mengantar Ify pulang.
Tidak ke rumahnya, melainkan ke gerbang perumahan gadis itu.
“Kamu juga gak kalah keren”, sahut Ify yang kali ini
merespon kata-kata pujian Rio.
Rio tersenyum kecil, lalu mengenakan helm dengan ukuran yang
lebih kecil dari miliknya ke kepala Ify. “Keren? Emangnya aku ngapain?”
“Ya keren aja. Kan kamu pacar aku”, sahut Ify sambil
berjalan pelan mendahului Rio yang sedang melajukan motornya meninggalkan
lapangan parkir sekolah.
Rio menghentikan motornya lalu menatap Ify yang berada tepat
di sebelahnya dengan lekat. “Kenapa? Kamu kan emang pacar ... ”, Ify
menghentikan ucapannya ketika kecupan kekasihnya itu mendarat dengan sempurna
di pipinya.
Rio yang sadar dengan perbuatannya itu segera menutup wajah
dengan tangannya. Sementara Ify, dia terus memandang Rio dengan
lekat. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Agni yang memang sejak tadi memperhatikan kedua sahabatnya
segera berteriak histeris saat kecupan Rio mendarat di wajah Ify. Dia bahkan
berdiri sambil meneriaki nama kedua sahabatnya dengan penuh semangat.
“Ify, Rio!!! Astaga!”, serunya sambil tertawa keras
Duto yang juga ada di sebelah Agni dan ikut melihat kejadian
itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya tersenyum sambil tertawa kecil melihat
betapa malunya Ify dan Rio di mata semua siswa yang juga melihat kejadian tadi. Apalagi
dengan ditambah tawa Agni yang merajalela.
“Ada apa sih Cak?”, tanya Shilla yang kini tengah berjalan
mencari Sivia bersama dengan Cakka.
Usai acara pensi selesai, mereka berdua kehilangan jejak
Sivia. Tadi setelah mereka tampil, Sivia mendapat kabar kalau kekasihnya kak
Iyel telah meninggal. Dan hal itulah yang membuat Shilla khawatir akan kondisi
sahabatnya.
“Kayaknya si Agni udah buat keramaian deh. Liat aja tuh, dia
pake segala teriak-teriak. Aneh hahaha”, sahut Cakka sambil menatap wajah Agni
yang entah kenapa selalu terlihat jauh lebih bercahaya dibanding gadis lainnya
–termasuk Shilla–
“Agni lucu ya Cak, ketawanya itu lho hahaha”
“Iya, dia emang ...”, Cakka menghentikan perkataannya lalu
menatap Shilla yang juga tertawa di sebelahnya. Shilla terlihat sama, tidak ada
sedikit pun perubahan disana. Tapi setelah mereka bersama, Cakka merasa kalau
perasaannya pada Shilla mulai pudar.
“Ke kenapa, Cak?”, Cakka menggeleng cepat, lalu menarik
tangan Shilla untuk kembali mencari keberadaan Sivia. Mungkin itu hanya
perasaannya saja.
*****
Dua puluh menit kemudian, Cakka duduk sendiri di kafe dekat
sekolah. Tadi, Shilla bertemu dengan Sivia di halte depan sekolah. Mereka
bicara sebentar, lalu kekasihnya pamit untuk mengantar Sivia pulang.
Sambil menyeruput es coklatnya, Cakka menatap keluar jendela
kafe. Persahabatan Shilla dan Sivia membuatnya teringat dengan persahabatannya
dengan Rio, Agni, dan Alvin yang sudah terjalin sejak lama. Walau terkadang
mereka suka bertengkar –apalagi Rio dengan Alvin–, tapi cowok genius itu tetap
merasa kalau persahabatan mereka lah yang terbaik di seluruh dunia. Alvin ...
ah dimana dia sekarang?
“Hai, apa kabar? Bisa bicara di luar, sebentar?”, sapa
seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba datang dan mendudukan dirinya di
hadapan Cakka.
TO BE CONTINUED
Yaa ... Alvin disini kayak pangeran tidur yaah wkwkwk :D
Makasih yah buat readers yang masih setia buat nungguin cerbung ini dilanjut hihihi :p
I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thank you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar