Minggu, 23 Agustus 2015

Lentera Hati *Part 24*

“Ni! Tania!”, Tasya yang baru saja bangun dari tidurnya bangkit berdiri sambil berteriak histeris menatap tubuh Tania yang terbujur kaku di hadapannya. Tanpa nafas, tanpa denyut nadi yang membuat Tasya terus menjerit ketakutan.

Mendengar histeria yang ada di dalam kamar kelas satu di dekat ruang dokter, membuat para suster dan beberapa dokter yang menangani bergegas masuk untuk memeriksa kondisi pasien. Tasya yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya terlihat pucat pasi. Dengan bantuan salah satu suster, dia dibawa ke ruang tunggu di depan kamar.

Tadi pagi, Tasya sempat melihat Tania kembali masuk ke kamarnya. Dia tidak tahu darimana adiknya itu pergi. Tapi kondisi gadis itu terlihat baik-baik saja. Namun saat ini, ketika matahari baru saja mau beranjak ke takhtanya yang tertinggi, ketika Tasya terbangun dari tidurnya. Hal ini terjadi.

“Tania, Nia”, gumam Tasya ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan hebat, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Dia takut, dia belum siap melepas kepergian adik kandungnya itu. Jangan sekarang, dia memohon jangan sekarang!

Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari kamar Tania. “Sya”, ucap dokter yang juga sudah kenal baik dengan keluarga temannya itu. Pria berseragam serba putih itu terlihat sangat kecewa, matanya pun mulai meneteskan air yang perlahan membasahi pipinya. “Maafin om, Sya”, lanjutnya dengan tangis yang tak sanggup untuk ditahannya lebih lama.

Tasya yang tidak mampu menerima kenyataan yang ada terjatuh ke lantai. Matanya yang sayu harus menjadi tempat air mata untuk berhamburan keluar. Dia menangis, menjerit, dan bahkan memukul dadanya lemas.

“Sya”, dokter mendekatinya dan mengusap punggung Tasya lembut. Dia juga merasa kehilangan, mengingat sudah lama dirinya bekerja sama dengan papanya Tasya dan Tania.

Tak lama kemudian, papa dan ibu yang sudah dihubungi oleh pihak rumah sakit tiba. Mereka berdua bergegas masuk ke kamar.

Ibu berhenti tepat di ambang pintu, dia menutup mulutnya tanda tak percaya. Dia menangis dengan penuh kepedihan. Tania, anak perempuan yang menerima kehadirannya dengan penuh kehangatan kini telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Beda dengan ibu, papa langsung menghampiri putrinya. Memeluknya erat, menciumnya dengan penuh cinta. Ini adalah ketiga kalinya dia kehilangan sosok wanita yang berharga dalam hidupnya. Pertama istri sekaligus ibu dari kedua anaknya, lalu ibu yang melahirkannya, dan kini putri sekaligus darah dagingnya sendiri. “Maafkan papa, papa gak bisa bantu kamu”, ucap papa penuh sesal. Dia terus mendekap putrinya.

*****

Iyel menatap lirih sosok manis nan cantik yang ada di hadapannya. Sosok gadis yang dicintainya kini tengah tersenyum manis. Dengan make-up yang membuatnya terlihat tambah cantik, juga pakaian gaun putih yang terlihat serasi dengan tubuhnya, Tania terlelap.

“Jadi, dia yang berhasil membuat kamu tergila-gila”, ucap papa sambil memukul pelan punggung anaknya. Mencoba berbagi kekuatan.

Iyel diam tak menjawab. Dia terlalu sibuk untuk menerima kenyataan yang ada. Baru saja hari ini dia akan mengenalkan kedua orang tuanya pada Tania. Tapi nyatanya dialah yang harus mengenalkan dirinya pada kondisi yang ada. Kondisi dimana Tania sudah pergi meninggalkannya. Meninggalkannya bersama dengan segala kenangan yang telah tercipta.

Dengan air mata tak percaya, Iyel berdiri di sisi peti berwarna putih dengan beberapa mawar dengan warna sama yang mengelilingi tepinya. “Ini terlalu cepat”, gumamnya. Dia bahkan belum mengajak Tania untuk melihat beberapa lukisannya di galerinya di Singapura. Mereka bahkan belum sempat saling mengunjungi di negeri patung Singa itu.

Melihat kondisi anaknya yang payah, mama mendekati Iyel. Wanita paruh baya itu merangkulnya, lalu menggoyangkan kedua bahu putranya pelan. Berusaha untuk menyadarkannya. “Semua ini sudah terjadi. Mama tahu ini sulit, tapi inilah kenyatannya Yel. Kita coba terima ini semua yah”, ucap mama yang sama sekali tak digubris olehnya.

“Mama kamu benar. Kita akan selalu dukung kamu! Tania sudah pergi, jadi biarkanlah dia pergi dengan tenang”, timpal papa yang ikut mendekat. Laki-laki yang jarang menghabiskan waktunya bersama keluarga itu mengangkat tangannya lalu mengusap pelan rambut putra kebanggaannya. Dia yakin kalau putranya itu jauh lebih kuat dari kelihatannya.

Tak hanya Iyel dan kedua orang tuanya. Tasya yang sedari malam mendampingi Tania masih belum bosan dengan posisinya. Dia masih berada di tepi peti sambil terus menatap iba adiknya. Dia belum siap.

“Ini yang terbaik, Sya”, ucap Steve yang baru saja tiba di rumah duka. Ya, Tasya baru sempat menghubunginya beberapa menit yang lalu.

Sadar kalau ucapannya tidak cukup menenangkan, laki-laki bertubuh jangkung itu menundukkan kepalanya lalu berbisik pada kekasihnya. “Masih ada aku dan yang lain, kamu gak sendirian Sya”, ucapnya sambil memegang kedua bahu yang belum mau berhenti bersama dengan air yang mengalir dari matanya.

“Tapi Yel, dia ... dia bahkan lebih muda dari aku. Dia masih harus kuliah Yel, dia masih harus jalanin masa depannya”, sahut Tasya yang masih dengan tatapan kosongnya ke arah Tania.

Genggaman Steve tadi berubah menjadi pelukan yang begitu erat. Dia membalikkan tubuh Tasya, lalu menenggelamkan tubuh itu jauh kedalam dada bidangnya. Membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang seolah berkata -jangan menangis! Ada aku disini-

*****

“Selamat pagi! Pertama-tama saya ucapkan terimakasih pada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah bersedia menyatukan kita untuk berkumpul demi merayakan hari ulang tahun sekolah ini”, ucap Duto gugup pada pidato pembukaan acara pensi ulang tahun sekolah tahun ini.

Sebagai pengganti Alvin, ini adalah kali kedua Duto berbicara di depan umum. Kali yang pertama terjadi beberapa bulan yang lalu. Saat itu Alvin menghilang seperti biasanya, tanpa kabar. Dan memaksa Duto yang pada dasarnya tidak pandai berbicara, harus berpidato di depan umum.

“Saya juga ingin mengucapkan terimakasih pada seluruh anggota OSIS dan beberapa siswa yang mau membantu dalam menyiapkan acara ini”, Duto menundukkan kepalanya. Bukan karena malu akan tatapan dari teman-temannya, melainkan karena rasa haru yang saat ini menghiasi pikirannya. Sebelumnya, dia tidak pernah merasa ada orang lain di sekolah ini yang bersimpati padanya.

“Tanpa kalian, saya gak mungkin bisa berdiri disini dan menyampaikan pidato ini. Terimakasih, sekali lagi terimakasih”

Mendengar pidato Duto, membuat Cakka kembali mengingat kejadian dimana Duto pertama kali bicara di depan umum, beberapa bulan yang lalu. “Dia jauh lebih bagus dibanding waktu penutupan MOS”, komen Cakka sambil tertawa kecil pada Rio yang duduk di sebelahnya.

“Ify cantik ya Cak”, sahut Rio yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perkataan Cakka.

“Apaan sih Yo, gak nyambung lo!”

“Itu Cak, elo liat aja sendiri!”, tangan kiri Rio menarik leher Cakka untuk mendekat sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah keempat gadis cantik yang tengah bersiap di sisi panggung.

Cakka yang pada awalnya acuh tak acuh, malah melebarkan matanya. Dengan rinci dia menatap keempat gadis itu. Bukan keempat, melainkan hanya satu yang mampu menarik penuh perhatiannya. Bukan Shilla yang kini menjadi kekasihnya, melainkan Agni yang untuk pertama kalinya mengenakan make-up pada wajah manisnya.

“Iya, dia cantik ya”, gumamnya pelan

“Maksud lo apaan Cak? Elo naksir juga sama Ify?”

“Bu ... bukan Yo! Bukan Ify, maksud gue”

“Oh, Shilla”

Lidah Cakka tercekat. Bukan Yo! Bukan Shilla, tapi Agni. Ingin rasanya dia menyahuti Rio, ingin sekali dia bilang kalau dia masih menyukai Agni. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa. Lidahnya terasa begitu kaku, mulutnya pun tak bisa bergerak sedikit pun. Dia pengecut yang entah sampai kapan mampu bicara tentang apa yang sebenarnya dirasakannya.

“Mari kita sambut, keempat gadis cantik ini! Inilah dia, SISA’s band!”, ucap sang MC yang disambut oleh teriakan dari penonton yang memenuhi ruangan musik di pagi hari ini.

Dulu dia selalu berada disini
Dulu dia tak pernah absen menemani
Dulu dia pemilik hati ini
Dan dulu dialah sang kekasih

Namun, kini semua berbeda
Kita tak lagi bersama
Cinta hanyalah sebuah kata
Hilang tanpa ada yang bermakna

Aku dan kamu kini tinggal kenangan
Berlalu dalam air yang menggenang
Tak tahu mau mengalir kemana

Lelah telah sampai pada batasnya
Melambung tinggi melampaui lapisan bumi
Tak tahu pula tak memahami
Hanya dapat terdiam dan menanti

Tak mengerti, aku tak mengerti
Hanya diam untuk menanti

Dengan suara lembut yang khas, Sivia mulai menyanyikan lagu yang dengan susah payah ia hapalkan lirik demi liriknya ditemani oleh Ify di piano, Shilla di bazz, dan Agni di gitar. Mereka melantunkan lagu ballad ini dengan sangat baik. Membawa penonton untuk turut merasakan apa yang terkandung dalam setiap lirik yang ada.

Bukan hanya penonton yang mampu merasakannya. Keempat gadis yang sudah mempersiapkan dan melantunkan lagu ciptaan mereka ini berkali-kali pun masih bisa memaknainya. Apalagi Agni yang entah kenapa selalu merasa kalau dirinyalah yang sedang diceritakan dalam setiap kata yang ada. Ya, tentang dia dan Cakka.

*****

Mata yang selalu berusaha untuk tetap tegar, kini sudah tak mampu lagi untuk berpura-pura. Kehilangan tiga sosok perempuan yang berarti sudah membuat dirinya rapuh hingga ke kepingan-kepingan kecil.

“Ada aku, mas”, bisik seorang wanita muda yang sejak tadi pagi atau malah sejak beberapa tahun belakangan ini selalu berada disisinya.

Meskipun prosesi pemakaman sudah selesai pada satu jam yang lalu, tapi papa masih enggan untuk melangkah menjauhi makam putri bungsunya. “Hartaku berkurang satu”, sahut papa dengan lemah.

Ibu merangkul pinggang papa, lalu memeluknya hangat. “Kita hadapi ini sama-sama ya, mas. Aku butuh mas, Tasya dan Alvin juga. Kita berjuang sama-sama. Tania pasti juga akan sedih kalau kita terus sedih seperti ini”, ucapnya dengan nada yang lembut seperti biasa.

Papa tersenyum tipis. Walau perkataan ibu terkesan naif, tapi laki-laki parubaya itu merasa sedikit terhibur. Mau bagaimana pun, dia adalah kepala rumah tangga. Masih ada tiga anggota keluarga yang masih membutuhkannya.

“Terimakasih”, sahut papa sambil mengusap lembut rambut istrinya.

*****

Akhirnya, pensi ulang tahun sekolah ini telah berlangsung dengan lancar. Duto yang menjabat sebagai ketuanya pun sudah mampu untuk melebarkan senyumnya.

Kini, dia bukan lagi wakil ketua OSIS yang hanya menumpang nama. Kini, dia bukan lagi wakil ketua OSIS gagal yang tidak memiliki satu pun teman di sekolah. Ya, walaupun sebenarnya sampai saat ini teman bukanlah kata yang tepat untuk anggota-anggota OSIS yang menolongnya.

“Selamat yah!”, ucap Agni sambil mengulurkan tangannya disertai dengan senyuman tulus dari kedua ujung bibirnya.

“Thanks”, Duto balas tersenyum.

Agni mendudukan dirinya di sebelah Duto. Membuat dua orang yang dekat namun tak saling mengenal ini duduk bersama di bawah pohon besar di taman sekolah.

“Penampilan elo keren, lagu buatan kalian juga keren”, ucap Duto memulai pembicaraan yang sempat terhenti

“Thanks”, pembicaraan pun kembali terhenti.

Sambil menatap beberapa petugas kebersihan yang tengah sibuk membersihkan beberapa sampah dari pensi hari ini, mereka berdua menikmati ketenangan sore ini. Tidak hanya itu, lalu lalang siswa dan guru serta angin yang berhembus juga menjadi pengisi yang tepat.

Setelah menyelesaikan penampilannya tadi, Ify tidak henti-hentinya menerima pujian dari Rio. Dan dengan tidak bosan-bosan, kekasihnya itu terus melontarkan kata-kata pujian yang sama.

“Kamu keren banget!”, ini adalah ucapan Rio yang kelima untuk Ify.

Seperti biasa, hari ini Rio kembali mengantar Ify pulang. Tidak ke rumahnya, melainkan ke gerbang perumahan gadis itu.

“Kamu juga gak kalah keren”, sahut Ify yang kali ini merespon kata-kata pujian Rio.

Rio tersenyum kecil, lalu mengenakan helm dengan ukuran yang lebih kecil dari miliknya ke kepala Ify. “Keren? Emangnya aku ngapain?”

“Ya keren aja. Kan kamu pacar aku”, sahut Ify sambil berjalan pelan mendahului Rio yang sedang melajukan motornya meninggalkan lapangan parkir sekolah.

Rio menghentikan motornya lalu menatap Ify yang berada tepat di sebelahnya dengan lekat. “Kenapa? Kamu kan emang pacar ... ”, Ify menghentikan ucapannya ketika kecupan kekasihnya itu mendarat dengan sempurna di pipinya.

Rio yang sadar dengan perbuatannya itu segera menutup wajah dengan tangannya. Sementara Ify, dia terus memandang Rio dengan lekat. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.

Agni yang memang sejak tadi memperhatikan kedua sahabatnya segera berteriak histeris saat kecupan Rio mendarat di wajah Ify. Dia bahkan berdiri sambil meneriaki nama kedua sahabatnya dengan penuh semangat.

“Ify, Rio!!! Astaga!”, serunya sambil tertawa keras

Duto yang juga ada di sebelah Agni dan ikut melihat kejadian itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya tersenyum sambil tertawa kecil melihat betapa malunya Ify dan Rio di mata semua siswa yang juga melihat kejadian tadi. Apalagi dengan ditambah tawa Agni yang merajalela.

“Ada apa sih Cak?”, tanya Shilla yang kini tengah berjalan mencari Sivia bersama dengan Cakka.

Usai acara pensi selesai, mereka berdua kehilangan jejak Sivia. Tadi setelah mereka tampil, Sivia mendapat kabar kalau kekasihnya kak Iyel telah meninggal. Dan hal itulah yang membuat Shilla khawatir akan kondisi sahabatnya.

“Kayaknya si Agni udah buat keramaian deh. Liat aja tuh, dia pake segala teriak-teriak. Aneh hahaha”, sahut Cakka sambil menatap wajah Agni yang entah kenapa selalu terlihat jauh lebih bercahaya dibanding gadis lainnya –termasuk Shilla–

“Agni lucu ya Cak, ketawanya itu lho hahaha”

“Iya, dia emang ...”, Cakka menghentikan perkataannya lalu menatap Shilla yang juga tertawa di sebelahnya. Shilla terlihat sama, tidak ada sedikit pun perubahan disana. Tapi setelah mereka bersama, Cakka merasa kalau perasaannya pada Shilla mulai pudar.

“Ke kenapa, Cak?”, Cakka menggeleng cepat, lalu menarik tangan Shilla untuk kembali mencari keberadaan Sivia. Mungkin itu hanya perasaannya saja.

*****

Dua puluh menit kemudian, Cakka duduk sendiri di kafe dekat sekolah. Tadi, Shilla bertemu dengan Sivia di halte depan sekolah. Mereka bicara sebentar, lalu kekasihnya pamit untuk mengantar Sivia pulang.

Sambil menyeruput es coklatnya, Cakka menatap keluar jendela kafe. Persahabatan Shilla dan Sivia membuatnya teringat dengan persahabatannya dengan Rio, Agni, dan Alvin yang sudah terjalin sejak lama. Walau terkadang mereka suka bertengkar –apalagi Rio dengan Alvin–, tapi cowok genius itu tetap merasa kalau persahabatan mereka lah yang terbaik di seluruh dunia. Alvin ... ah dimana dia sekarang?


“Hai, apa kabar? Bisa bicara di luar, sebentar?”, sapa seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba datang dan mendudukan dirinya di hadapan Cakka.

TO BE CONTINUED

Yaa ... Alvin disini kayak pangeran tidur yaah wkwkwk :D
Makasih yah buat readers yang masih setia buat nungguin cerbung ini dilanjut hihihi :p

I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thank you :)

Tidak ada komentar: