Minggu, 13 September 2015

Lentera Hati *Part 25*

Dua puluh menit kemudian, Cakka duduk sendiri di kafe dekat sekolah. Tadi, Shilla bertemu dengan Sivia di halte depan sekolah. Mereka bicara sebentar, lalu kekasihnya pamit untuk mengantar Sivia pulang.

Sambil menyeruput es coklatnya, Cakka menatap keluar jendela kafe. Persahabatan Shilla dan Sivia membuatnya teringat akan persahabatannya dengan Rio, Agni, dan Alvin yang sudah terjalin sejak lama. Walau terkadang mereka suka bertengkar –apalagi Rio dengan Alvin–, tapi cowok genius itu tetap merasa kalau persahabatan mereka lah yang terbaik di seluruh dunia. Alvin ... ah dimana dia sekarang?

“Permisi, apa kita bisa bicara di luar, sebentar?”, sapa seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba datang dan mendudukan dirinya di hadapan Cakka.


“Ada yang harus gue omongin sama lo”, lanjutnya yang membuat Cakka semakin bingung. Dia benar-benar sedang tidak mengenal remaja laki-laki itu.

Terpaksa, akhirnya Cakka menuruti kemauan orang asing itu. Mereka berjalan keluar bersama. Dan ketika sampai di depan, cowok asing itu menarik tangan Cakka lalu membawanya ke gang sempit yang sepi di sekitar kafe tadi.

“Elo siapa?”, akhirnya dia angkat bicara.

“Elo gak perlu tahu, gue siapa. Yang perlu elo lakuin sekarang adalah dengerin apa yang akan gue katakan”

“Kalo gue gak tau elo siapa, gimana gue bisa dengerin apa yang elo katakan”

“Gue bilang gak perlu, ya gak perlu”, dengan satu gerakan cowok yang memiliki tinggi sedikit lebih pendek dari Cakka ini berhasil mendorong dan membuat posisi lawan bicaranya menjadi sangat terpojok.

Cakka tersenyum tipis, lalu menatap cowok itu dengan tatapan mengejek, “Apa mau lo?”.

“Buat dia bahagia”

“Dia? Siapa?”

Mendengar jawaban itu, membuat cowok itu semakin merasa kesal. Bhuk! Dia memukul perut Cakka dengan keras. Tidak hanya itu, selang beberapa detik kemudian dia berhasil membuat ujung bibir lawan bicaranya itu mengeluarkan tetesan darah.

“Gue gak mau liat dia nangis lagi. Udah cukup banyak air mata yang dia keluarin demi cowok gak guna kayak lo. Gue gak mau hatinya hancur cuma buat mempertahankan elo”

Kali ini Cakka tidak langsung menjawab, dia berpikir keras. Mungkinkah yang dimaksudkannya adalah Shilla? Apa mungkin dia adalah mantan kekasih Shilla atau mungkin saudara laki-lakinya? Tapi, selama mereka berdua bersama, Cakka belum pernah sekalipun melukai hatinya. Atau mungkinkah ...

“Gue gak tau apa yang elo maksud. Jangan berbelit kayak gini”, Cakka mengangkat kedua tangannya lalu mendorong cowok itu dengan keras

Tapi bukannya terjatuh, cowok itu malah membalas Cakka. Dia mendorongnya dengan keras hingga tubuh tinggi itu membentur dinding. Tidak hanya tubuhnya, melainkan punggung tangannya cowok itu ikut lebam karena dorongannya sendiri.

“Buat dia bahagia atau tinggalin dia dan jangan pernah kembali lagi ke kehidupannya”, ucap cowok itu penuh penekanan lalu beranjak pergi. Meninggalkan Cakka yang mengalami beberapa luka bekas pukulannya seorang diri.

*****

“Hai, apa kabar?”, ucap Tania sambil memandang Alvin yang baru saja membuka matanya

Dengan senyumnya yang biasa, Tania menyiapkan roti dengan selai coklat bersama dengan susu vanila untuk Alvin. “Ayo, bangunlah”, lanjutnya sambil menarik kursi yang terletak di sebelahnya.

Alvin yang masih merasakan sakit di kepalanya terdiam sejenak. Entahlah, tapi semua terasa begitu asing untuknya. Warna putih ruang rawatnya terlihat jauh lebih terang, begitu juga dengan pakaian yang dikenakan Tania saat ini. Apa ini artinya ...

“Apa aku sudah mati?”

Mendengar hal itu, membuat senyum yang sedari tadi terpasang menjadi pudar seketika. Tania yang tadi sibuk menata meja sarapannya bersama Alvin, menjadi diam tanpa suara.

“Kalau aku sudah mati, kenapa kakak disini? Apa ...”

“Diam dan makanlah, waktu kita tidak banyak”, Tania menyadarkan dirinya lalu mulai melahap roti yang ada di hadapannya.

Meski ragu, Alvin mencoba untuk menuruti perkataan kakaknya. Dia duduk di sebelah Tania sambil memakan roti dan menatap wajah kakaknya dengan lekat. Ini bukan kamar rawatnya, ini juga bukan rumah ataupun kamarnya. Alvin yakin, kalau ini bukanlah tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya.

Berbeda dengan Alvin yang masih berusaha untuk menebak-nebak tentang apa yang terjadi sebenarnya, Tania justru sibuk menahan emosi yang tengah memenuhi jiwanya. “Maafkan kakak”, ucapnya dengan tangis yang akhirnya keluar dari matanya.

*****

Cakka menutup matanya dan menangis sekeras yang ia bisa. Dia takut sekarang. Bukan, bukan karena kedatangan cowok itu. Bukan juga karena pukulan-pukulan yang ia terima tadi. Tapi ... ada satu hal yang baru ia sadari saat ini.

“Maafin gue, maafin gue”, lirihnya di sela-sela tangisnya.

Wajah cowok itu masih terngiang jelas dalam bayangannya. Dia merasa kalau sebenarnya cowok itu bukanlah orang asing di hidupnya. Cakka yakin kalau mereka pernah kenal sebelumnya. Tapi lagi-lagi, dia tidak bisa mengingat siapa cowok itu sepenuhnya.

“Hallo Shill?”, ucap Cakka ketika sambungan teleponnya diangkat oleh Shilla.

“Ya Cak? Kenapa? Aku masih di rumah Sivia”

“Aku mau ngomong sama kamu”

“Ngomong? Ngomong apa Cak?”

“Shill, aku rasa ...”

“Hallo Cakka, sorry banget. Sekarang Sivia lagi butuhin aku dan maaf kita teleponannya nanti aja yah? Nanti aku telepon kamu ya. Bye”, ucap Shilla yang langsung mengakhiri sambungan teleponnya.

Sambil mengacak rambutnya kasar, remaja laki-laki yang terlihat sangat berantakan kali ini menarik nafasnya dalam. Rumit. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini.

*****

Mata yang sudah beberapa minggu terakhir selalu dibiarkan tenang dalam lekukannya, kini mulai bergerak seiring dengan desahan nafas yang berat dari balik masker oksigennya. Perlahan, dia kembali ke dunianya. Meski rasa sakit yang sempat ia tinggalkan itu kembali menyerangnya, tapi remaja laki-laki itu tidak ingin menyerah. Ia sudah terlalu lama pergi, dan inilah saatnya untuk kembali.

Dengan rinci, Alvin menatap kondisi sekelilingnya. Mulai selang-selang yang menempel di sekujur tubuhnya, hingga beberapa bunga yang menghiasi meja. ‘Cepet sembuh ya sayang!’, begitulah bunyi surat dari salah satu bunga yang ada disana.

Di balik maskernya, Alvin tersenyum kecil. Walau tubuhnya masih terasa sangat lemah, walau sakit itu kembali menyerang tubuhnya, tapi dia merasa bahagia. Karena setidaknya, dia masih mampu mengingat semuanya. Dia ingat tentang Sivia yang telah menjadi kekasihnya. Dia yakin kalau si pengirim bunga-bunga itu adalah Sivia. Dia juga yakin kalau gadis itu pasti tidak pernah absen untuk datang kesini dan menemaninya.

Namun, dia masih tidak yakin tentang apa yang baru saja ia alami bersama Tania. Dimana dia? Apa yang tadi itu hanya mimpi belaka? Tapi, kenapa hanya Tania?

“Hei jagoan”, sapa seseorang bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka

“Hei juga Ni”, sahut Alvin lemah

Agni tersenyum kecil lalu mendudukan dirinya di tepi ranjang Alvin sambil menggenggam tangan sahabatnya itu erat. “Kenapa, Ni?”, mendapat perlakuan seperti ini membuat Alvin merasa kalau ada sesuatu yang telah terjadi.

Bukannya menjawab, Agni malah menangis dalam pelukannya bersama dengan lengan kiri Alvin. Dia bahkan mencium lengan itu dengan lembut. “Gue cuma sedih aja, karena selama elo sakit, baru kali ini gue dateng buat jenguk elo. Gue emang sahabat yang jahat, Vin”, sahutnya masih dengan tangis yang memecah.

“Elo ngomong apa sih, Ni? Gapapa kok, gue seneng karena orang yang pertama kali gue liat hari ini adalah elo. Makasih ya Ni”, sahut Alvin sambil melepaskan lengannya dari dekapan Agni dan beralih untuk mengusap lembut rambut pendek itu. “Makasih udah jadi sahabat gue”.

“Hhehe, eum gue panggil papa gue dulu yah. Tadi katanya, kalo elo udah bangun, gue harus kasih tau dia”, masih dengan air mata yang mengalir, Agni mencoba untuk tertawa kecil

“Ni, boleh gue minta tolong?”

“Tolong telepon keluarga gue yah, gue mau ketemu sama mereka Ni”, lanjut Alvin yang membuat Agni kembali tidak mampu berkata-kata.

Dengan anggukannya, Agni pergi meninggalkan Alvin dalam ruangannya. Dia sudah tidak mampu lagi berada di dalam sana. Gadis itu tahu kalau cepat atau lambat, Alvin pasti akan mengetahui tentang hal ini. Tapi dia sama sekali tidak mampu untuk mengatakan tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Tadi malam, papanya bilang kalau kondisi Alvin sudah membaik dan sahabatnya itu akan segera sadar dari tidur panjangnya. Tapi kemudian di pagi hari, kabar buruk itu terdengar. Tania pergi dan membuat semuanya kembali terasa sulit.

*****

Sejak sepulang sekolah, Shilla tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Sivia. Kemana gadis itu pergi, pasti dia selalu ada disana. Walau memang, bukan hanya di sisi Sivia sepenuhnya.

“Elo gak pulang, Shill? Udah malam lho. Lagian tadi Cakka telepon lo kan? Udahlah pulang aja, gue gak papa kok”, ucap Sivia sambil mencuci piring-piring bersama Shilla

Sementara mamanya merapihkan meja makan,  Sivia dan Shilla bertugas untuk mencuci piring. Dan papa, dia terus menemani Iyel yang terlihat sangat payah hari ini.

“Gue juga gak papa kok Vi. Soal Cakka mah, bisa gue telepon nanti malam”

“Vi ...”, lanjut Shilla menggantung kalimatnya. Membuat Sivia diam sejenak dan menatap sahabatnya.

“Gue khawatir sama kak Iyel”

Shilla mendudukan kepalanya penuh sesal. Alasan dia berada di rumah Sivia sampai malam seperti ini bukanlah hanya sekedar menemani sahabatnya itu, melainkan juga untuk memastikan kalau kondisi Iyel baik-baik saja. Tapi setelah tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya, dia menyesal.

“Kak Iyel gapapa kok, gue yakin dia cowok yang kuat”, sahut Sivia yang justru memikirkan hal lain dalam benaknya –apa gue juga akan kuat kalau Alvin yang pergi? –

“Gue rasa, gue masih suka sama kak Iyel”, gumam Shilla yang tidak sedikit pun digubris oleh Sivia yang larut dalam pikirannya.

“Sayang, bisa kamu bantu mama sebentar?”, panggil mama dari meja makan membuat mereka menghentikan percakapan satu arah tadi.

*****

“Makanya  Zy, jadi orang tuh jangan gampang emosi. Kan elonya juga yang jadi luka-luka kayak gini”, oceh Agni sambil membalut punggung tangan Ozy yang luka lebam

Tadi sore, usai bertemu dengan papanya, Agni pulang ke rumah karena telepon dari Ozy. Adiknya itu berteriak tak karuan sambil terus meringis. Benar-benar kekakanakan.

“Kalo gak nyusahin gue sih gapapa. Lah, ini pake segala hubungin gue. Elo pikir, urusan gue cuma sama elo doang apa”, Agni masih mengoceh tanpa berniat untuk tahu alasan apa yang menyebabkan adiknya bisa terluka seperti ini

Ozy yang diobati dan dimarahi Agni secara bersamaan, hanya dapat diam sambil menatap lekat wajah kakaknya. “Gue harap, elo gak akan pernah nangis lagi kak. Gue yakin, kalau si Cakka sayang sama lo”, desahnya di dalam hati. Setidaknya, luka di tangannya tidak akan menjadi sia-sia.

“Gimana keadaan kak Alvin?”, tanya Ozy berusaha menghindar dari ocehan selanjutnya

“Tadi, sebelum balik ke rumah. Papa periksa dia, papa bilang Alvin harus banyak istirahat. Dan pas gue pamit mau pulang, dia udah tidur. Gue jadi khawatir sama kondisinya”

“Elo mah gampang simpati sama orang, makanya jadi sering disakiti”

“Apa lo bilang?”, Agni membulatkan matanya menatap Ozy

Sadar kalau omongannya salah, Ozy malah tertawa kecil. “Sorry”, ucapnya yang malah membuat kedua tangan Agni menghambur ke tubuhnya. “Aduh kak, jangan kak! Geli kak! Ah hahahaha”, teriaknya keras.

Tak menyerah, Agni terus menggelitik tubuh adiknya. Namun Ozy, dia menikmati saat-saat ini. Dia suka melihat kakaknya seperti ini. Semoga, Cakka cepat sadar dan rencananya bisa berjalan dengan lancar.

*****

Perlahan, Alvin membuka mulutnya demi memakan makanan pertamanya sejak beberapa hari terakhir. Ibu yang baru saja datang, menyuapinya dengan lembut. “Apa kau merasa baik-baik saja?”, tanya ibu sambil menyodorkan segelas air putih pada putra kesayangannya.

Alvin mengangguk mantap. “Apa ibu juga merasa baik-baik saja?”, tanya balik Alvin. Dia merasa kalau saat ini, ibunyalah yang paling terlihat tidak baik-baik saja. Wajah wanita muda itu terlihat jauh lebih lelah dari biasanya, matanya juga terlihat bengkak.

“Apa ibu sedang sakit?”

Ibu menggeleng pelan. “Kau mau makan buah?”, tanyanya sambil menjauhkan piring makan malam yang telah dihabiskan oleh Alvin.

“Apa ada yang sedang ibu sembunyikan?”, tanya Alvin yang malah membuat ibunya diam seketika

“Katakan, apa yang ibu sembunyikan?”


TO BE CONTINUED

Hai hai hai ... gue kembali dengan cerbung panjang ini hahaha :D Yap! Bener banget! Karena masih ada yang nunggu cerbung gak danta ini, mulai dari sekarang gue bakalan posting cerbung ini satu bulan dua kali, yaitu minggu kedua dan minggu keempat!

Gimana? Alvin udah bangun tuh hehehe :D Entah kenapa gue jadi gak tega sendiri sama Cakka yang galau kayak gitu. Terus maaf yah, di part ini gak ada Rio-Ify sama sekali hihi :p Duto juga ilang gak tau kemana wkwkwk ...

Jangan lupa komen yah! Biar gue tambah semangat! Hihiw ^.^

I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thank you :)

Tidak ada komentar: