Dua puluh menit kemudian, Cakka duduk sendiri di kafe dekat
sekolah. Tadi, Shilla bertemu dengan Sivia di halte depan sekolah. Mereka
bicara sebentar, lalu kekasihnya pamit untuk mengantar Sivia pulang.
Sambil menyeruput es coklatnya, Cakka menatap keluar jendela
kafe. Persahabatan Shilla dan Sivia membuatnya teringat akan persahabatannya dengan Rio, Agni, dan
Alvin yang sudah terjalin sejak lama. Walau terkadang mereka suka bertengkar
–apalagi Rio dengan Alvin–, tapi cowok genius itu tetap merasa kalau
persahabatan mereka lah yang terbaik di seluruh dunia. Alvin ... ah dimana dia
sekarang?
“Permisi, apa kita bisa bicara di luar, sebentar?”, sapa
seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba datang dan mendudukan dirinya di
hadapan Cakka.
“Ada yang harus gue omongin sama lo”, lanjutnya yang membuat
Cakka semakin bingung. Dia benar-benar sedang tidak
mengenal remaja laki-laki itu.
Terpaksa, akhirnya Cakka menuruti kemauan orang asing itu.
Mereka berjalan keluar bersama. Dan ketika sampai di depan, cowok asing itu
menarik tangan Cakka lalu membawanya ke gang sempit yang sepi di sekitar kafe
tadi.
“Elo siapa?”, akhirnya dia angkat bicara.
“Elo gak perlu tahu, gue siapa. Yang perlu elo lakuin
sekarang adalah dengerin apa yang akan gue katakan”
“Kalo gue gak tau elo siapa, gimana gue bisa dengerin apa
yang elo katakan”
“Gue bilang gak perlu, ya gak perlu”, dengan satu gerakan
cowok yang memiliki tinggi sedikit lebih pendek dari Cakka ini berhasil
mendorong dan membuat posisi lawan bicaranya menjadi sangat terpojok.
Cakka tersenyum tipis, lalu menatap cowok itu dengan tatapan
mengejek, “Apa mau lo?”.
“Buat dia bahagia”
“Dia? Siapa?”
Mendengar jawaban itu, membuat cowok itu semakin merasa
kesal. Bhuk! Dia memukul perut Cakka dengan keras. Tidak hanya itu, selang
beberapa detik kemudian dia berhasil membuat ujung bibir lawan bicaranya itu
mengeluarkan tetesan darah.
“Gue gak mau liat dia nangis lagi. Udah cukup banyak air
mata yang dia keluarin demi cowok gak guna kayak lo. Gue gak mau hatinya hancur
cuma buat mempertahankan elo”
Kali ini Cakka tidak langsung menjawab, dia berpikir keras.
Mungkinkah yang dimaksudkannya adalah Shilla? Apa mungkin dia adalah mantan kekasih Shilla atau mungkin saudara
laki-lakinya? Tapi, selama mereka berdua bersama, Cakka belum pernah
sekalipun melukai hatinya. Atau mungkinkah ...
“Gue gak tau apa yang elo maksud. Jangan berbelit kayak
gini”, Cakka mengangkat kedua tangannya lalu mendorong cowok itu dengan keras
Tapi bukannya terjatuh, cowok itu malah membalas Cakka. Dia
mendorongnya dengan keras hingga tubuh tinggi itu membentur dinding. Tidak
hanya tubuhnya, melainkan punggung tangannya cowok itu ikut lebam karena
dorongannya sendiri.
“Buat dia bahagia atau tinggalin dia dan jangan pernah
kembali lagi ke kehidupannya”, ucap cowok itu penuh penekanan lalu beranjak
pergi. Meninggalkan Cakka yang mengalami beberapa luka bekas pukulannya seorang
diri.
*****
“Hai, apa kabar?”, ucap Tania sambil memandang Alvin yang
baru saja membuka matanya
Dengan senyumnya yang biasa, Tania menyiapkan roti dengan
selai coklat bersama dengan susu vanila untuk Alvin. “Ayo, bangunlah”,
lanjutnya sambil menarik kursi yang terletak di sebelahnya.
Alvin yang masih merasakan sakit di kepalanya terdiam
sejenak. Entahlah, tapi semua terasa begitu asing untuknya. Warna putih ruang
rawatnya terlihat jauh lebih terang, begitu juga dengan pakaian yang dikenakan
Tania saat ini. Apa ini artinya ...
“Apa aku sudah mati?”
Mendengar hal itu, membuat senyum yang sedari tadi terpasang
menjadi pudar seketika. Tania yang tadi sibuk menata meja sarapannya bersama
Alvin, menjadi diam tanpa suara.
“Kalau aku sudah mati, kenapa kakak disini? Apa ...”
“Diam dan makanlah, waktu kita tidak banyak”, Tania
menyadarkan dirinya lalu mulai melahap roti yang ada di hadapannya.
Meski ragu, Alvin mencoba untuk menuruti perkataan kakaknya.
Dia duduk di sebelah Tania sambil memakan roti dan menatap wajah kakaknya
dengan lekat. Ini bukan kamar rawatnya, ini juga bukan rumah ataupun kamarnya.
Alvin yakin, kalau ini bukanlah tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Berbeda dengan Alvin yang masih berusaha untuk menebak-nebak
tentang apa yang terjadi sebenarnya, Tania justru sibuk menahan emosi yang
tengah memenuhi jiwanya. “Maafkan kakak”, ucapnya dengan tangis yang akhirnya
keluar dari matanya.
*****
Cakka menutup matanya dan menangis sekeras yang ia bisa. Dia
takut sekarang. Bukan, bukan karena kedatangan cowok itu. Bukan juga karena
pukulan-pukulan yang ia terima tadi. Tapi ... ada satu hal yang baru ia sadari
saat ini.
“Maafin gue, maafin gue”, lirihnya di sela-sela tangisnya.
Wajah cowok itu masih terngiang jelas dalam bayangannya. Dia merasa kalau sebenarnya cowok itu bukanlah orang asing di hidupnya. Cakka yakin kalau mereka pernah kenal sebelumnya. Tapi lagi-lagi, dia tidak bisa mengingat siapa cowok itu sepenuhnya.
“Hallo Shill?”, ucap Cakka ketika sambungan teleponnya
diangkat oleh Shilla.
“Ya Cak? Kenapa? Aku masih di rumah Sivia”
“Aku mau ngomong sama kamu”
“Ngomong? Ngomong apa Cak?”
“Shill, aku rasa ...”
“Hallo Cakka, sorry banget. Sekarang Sivia lagi butuhin aku
dan maaf kita teleponannya nanti aja yah? Nanti aku telepon kamu ya. Bye”, ucap
Shilla yang langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
Sambil mengacak rambutnya kasar, remaja laki-laki yang
terlihat sangat berantakan kali ini menarik nafasnya dalam. Rumit. Entah apa
yang harus ia lakukan saat ini.
*****
Mata yang sudah beberapa minggu terakhir selalu dibiarkan
tenang dalam lekukannya, kini mulai bergerak seiring dengan desahan nafas yang
berat dari balik masker oksigennya. Perlahan, dia kembali ke dunianya. Meski
rasa sakit yang sempat ia tinggalkan itu kembali menyerangnya, tapi remaja
laki-laki itu tidak ingin menyerah. Ia sudah terlalu lama pergi, dan inilah
saatnya untuk kembali.
Dengan rinci, Alvin menatap kondisi sekelilingnya. Mulai
selang-selang yang menempel di sekujur tubuhnya, hingga beberapa bunga yang
menghiasi meja. ‘Cepet sembuh ya sayang!’, begitulah bunyi surat dari salah
satu bunga yang ada disana.
Di balik maskernya, Alvin tersenyum kecil. Walau tubuhnya
masih terasa sangat lemah, walau sakit itu kembali menyerang tubuhnya, tapi dia
merasa bahagia. Karena setidaknya, dia masih mampu mengingat semuanya. Dia
ingat tentang Sivia yang telah menjadi kekasihnya. Dia yakin kalau si pengirim
bunga-bunga itu adalah Sivia. Dia juga yakin kalau gadis itu pasti tidak pernah
absen untuk datang kesini dan menemaninya.
Namun, dia masih tidak yakin tentang apa yang baru saja ia
alami bersama Tania. Dimana dia? Apa yang tadi itu hanya mimpi belaka? Tapi,
kenapa hanya Tania?
“Hei jagoan”, sapa seseorang bersamaan dengan bunyi pintu
yang terbuka
“Hei juga Ni”, sahut Alvin lemah
Agni tersenyum kecil lalu mendudukan dirinya di tepi ranjang
Alvin sambil menggenggam tangan sahabatnya itu erat. “Kenapa, Ni?”, mendapat
perlakuan seperti ini membuat Alvin merasa kalau ada sesuatu yang telah
terjadi.
Bukannya menjawab, Agni malah menangis dalam pelukannya
bersama dengan lengan kiri Alvin. Dia bahkan mencium lengan itu dengan lembut.
“Gue cuma sedih aja, karena selama elo sakit, baru kali ini gue dateng buat
jenguk elo. Gue emang sahabat yang jahat, Vin”, sahutnya masih dengan tangis
yang memecah.
“Elo ngomong apa sih, Ni? Gapapa kok, gue seneng karena
orang yang pertama kali gue liat hari ini adalah elo. Makasih ya Ni”, sahut
Alvin sambil melepaskan lengannya dari dekapan Agni dan beralih untuk mengusap
lembut rambut pendek itu. “Makasih udah jadi sahabat gue”.
“Hhehe, eum gue panggil papa gue dulu yah. Tadi katanya,
kalo elo udah bangun, gue harus kasih tau dia”, masih dengan air mata yang
mengalir, Agni mencoba untuk tertawa kecil
“Ni, boleh gue minta tolong?”
“Tolong telepon keluarga gue yah, gue mau ketemu sama mereka
Ni”, lanjut Alvin yang membuat Agni kembali tidak mampu berkata-kata.
Dengan anggukannya, Agni pergi meninggalkan Alvin dalam
ruangannya. Dia sudah tidak mampu lagi berada di dalam sana. Gadis itu tahu
kalau cepat atau lambat, Alvin pasti akan mengetahui tentang hal ini. Tapi dia
sama sekali tidak mampu untuk mengatakan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Tadi malam, papanya bilang kalau kondisi Alvin sudah membaik
dan sahabatnya itu akan segera sadar dari tidur panjangnya. Tapi kemudian di
pagi hari, kabar buruk itu terdengar. Tania pergi dan membuat semuanya kembali
terasa sulit.
*****
Sejak sepulang sekolah, Shilla tidak pernah beranjak sedikit
pun dari sisi Sivia. Kemana gadis itu pergi, pasti dia selalu ada disana. Walau
memang, bukan hanya di sisi Sivia sepenuhnya.
“Elo gak pulang, Shill? Udah malam lho. Lagian tadi Cakka
telepon lo kan? Udahlah pulang aja, gue gak papa kok”, ucap Sivia sambil
mencuci piring-piring bersama Shilla
Sementara mamanya merapihkan meja makan, Sivia dan Shilla bertugas untuk
mencuci piring. Dan papa, dia terus menemani Iyel yang terlihat sangat payah
hari ini.
“Gue juga gak papa kok Vi. Soal Cakka mah, bisa gue telepon
nanti malam”
“Vi ...”, lanjut Shilla menggantung kalimatnya. Membuat Sivia
diam sejenak dan menatap sahabatnya.
“Gue khawatir sama kak Iyel”
Shilla mendudukan kepalanya penuh sesal. Alasan dia berada
di rumah Sivia sampai malam seperti ini bukanlah hanya sekedar menemani
sahabatnya itu, melainkan juga untuk memastikan kalau kondisi Iyel baik-baik
saja. Tapi setelah tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya, dia menyesal.
“Kak Iyel gapapa kok, gue yakin dia cowok yang kuat”, sahut
Sivia yang justru memikirkan hal lain dalam benaknya –apa gue juga akan kuat
kalau Alvin yang pergi? –
“Gue rasa, gue masih suka sama kak Iyel”, gumam Shilla yang
tidak sedikit pun digubris oleh Sivia yang larut dalam pikirannya.
“Sayang, bisa kamu bantu mama sebentar?”, panggil mama dari
meja makan membuat mereka menghentikan percakapan satu arah tadi.
*****
“Makanya Zy, jadi
orang tuh jangan gampang emosi. Kan elonya juga yang jadi luka-luka kayak
gini”, oceh Agni sambil membalut punggung tangan Ozy yang luka lebam
Tadi sore, usai bertemu dengan papanya, Agni pulang ke rumah
karena telepon dari Ozy. Adiknya itu berteriak tak karuan sambil terus
meringis. Benar-benar kekakanakan.
“Kalo gak nyusahin gue sih gapapa. Lah, ini pake segala
hubungin gue. Elo pikir, urusan gue cuma sama elo doang apa”, Agni masih
mengoceh tanpa berniat untuk tahu alasan apa yang menyebabkan adiknya bisa
terluka seperti ini
Ozy yang diobati dan dimarahi Agni secara bersamaan, hanya
dapat diam sambil menatap lekat wajah kakaknya. “Gue harap, elo gak akan pernah
nangis lagi kak. Gue yakin, kalau si Cakka sayang sama lo”, desahnya di dalam
hati. Setidaknya, luka di tangannya tidak akan menjadi sia-sia.
“Gimana keadaan kak Alvin?”, tanya Ozy berusaha menghindar
dari ocehan selanjutnya
“Tadi, sebelum balik ke rumah. Papa periksa dia, papa bilang
Alvin harus banyak istirahat. Dan pas gue pamit mau pulang, dia udah tidur. Gue
jadi khawatir sama kondisinya”
“Elo mah gampang simpati sama orang, makanya jadi sering
disakiti”
“Apa lo bilang?”, Agni membulatkan matanya menatap Ozy
Sadar kalau omongannya salah, Ozy malah tertawa kecil.
“Sorry”, ucapnya yang malah membuat kedua tangan Agni menghambur ke tubuhnya.
“Aduh kak, jangan kak! Geli kak! Ah hahahaha”, teriaknya keras.
Tak menyerah, Agni terus menggelitik tubuh adiknya. Namun
Ozy, dia menikmati saat-saat ini. Dia suka melihat kakaknya seperti ini.
Semoga, Cakka cepat sadar dan rencananya bisa berjalan dengan lancar.
*****
Perlahan, Alvin membuka mulutnya demi memakan makanan
pertamanya sejak beberapa hari terakhir. Ibu yang baru saja datang, menyuapinya
dengan lembut. “Apa kau merasa baik-baik saja?”, tanya ibu sambil menyodorkan
segelas air putih pada putra kesayangannya.
Alvin mengangguk mantap. “Apa ibu juga merasa baik-baik
saja?”, tanya balik Alvin. Dia merasa kalau saat ini, ibunyalah yang paling
terlihat tidak baik-baik saja. Wajah wanita muda itu terlihat jauh lebih lelah
dari biasanya, matanya juga terlihat bengkak.
“Apa ibu sedang sakit?”
Ibu menggeleng pelan. “Kau mau makan buah?”, tanyanya sambil
menjauhkan piring makan malam yang telah dihabiskan oleh Alvin.
“Apa ada yang sedang ibu sembunyikan?”, tanya Alvin yang malah
membuat ibunya diam seketika
“Katakan, apa yang ibu sembunyikan?”
TO BE CONTINUED
Hai hai hai ... gue kembali dengan cerbung panjang ini hahaha :D Yap! Bener banget! Karena masih ada yang nunggu cerbung gak danta ini, mulai dari sekarang gue bakalan posting cerbung ini satu bulan dua kali, yaitu minggu kedua dan minggu keempat!
Gimana? Alvin udah bangun tuh hehehe :D Entah kenapa gue jadi gak tega sendiri sama Cakka yang galau kayak gitu. Terus maaf yah, di part ini gak ada Rio-Ify sama sekali hihi :p Duto juga ilang gak tau kemana wkwkwk ...
Jangan lupa komen yah! Biar gue tambah semangat! Hihiw ^.^
I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thank you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar