Perlahan, Alvin membuka mulutnya demi memakan makanan
pertamanya sejak beberapa hari terakhir. Ibu yang baru saja datang, menyuapinya
dengan lembut. “Apa kau merasa baik-baik saja?”, tanya ibu sambil menyodorkan
segelas air putih pada putra kesayangannya.
Alvin mengangguk mantap. “Apa ibu juga merasa baik-baik
saja?”, tanya balik Alvin. Dia merasa kalau saat ini, ibunya lah yang paling
terlihat tidak baik-baik saja. Wajah wanita muda itu terlihat jauh lebih lelah
dari biasanya, matanya juga terlihat bengkak.
“Apa ibu sedang sakit?”
Ibu menggeleng pelan. “Kau mau makan buah?”, tanyanya sambil
menjauhkan piring makan malam yang telah dihabiskan oleh Alvin.
“Apa ada yang sedang ibu sembunyikan?”, tanya Alvin yang malah
membuat ibu melukai jarinya dengan pisau buah
“Katakan, apa yang ibu sembunyikan?”
Sambil membalut luka ibu, Alvin menatap wajah wanita itu
dengan tajam. Dan ibu, dia hanya terdiam dengan membalas tatapan putranya
lembut. Wajah pucat itu terlihat begitu rapuh. Ibu tidak mau melukainya lebih dalam
lagi.
“Maafkan ibu”, lagi-lagi tangisan
Alvin semakin tidak mengerti tentang hidupnya. Baru beberapa
hari dia pergi, dan semua sudah terasa begitu asing untuknya. Bukan hanya Agni,
tapi juga ibu yang menangis di hadapannya hari ini. Apa yang sebenarnya
terjadi?
“Apa penyakitku sudah sangat parah? Apa aku akan segera ...”
Tidak menunggu Alvin menyelesaikan perkataannya, ibu sudah
mendekapnya dengan erat. “Tania, kakakmu ... maafkan kami, nak”, ucap ibu
dengan tangis yang semakin sesak.
“Diam dan makanlah,
waktu kita tidak banyak”
“Maafkan kakak”
Alvin diam, kepalanya terasa sakit. Tidak, bukan hanya
kepala melainkan juga hatinya. Jadi, semua yang dialaminya tadi bukanlah mimpi?
Jadi, Tania ... apa dia sudah ... apa itu caranya untuk mengucapkan selamat
tinggal?
*****
Usai membersihkan tubuhnya, Shilla menidurkan tubuhnya di
ranjang berwarna merah muda dengan aksen bunga di selimutnya. Hari ini terasa
sangat melelahkan. Mulai dari pensi sekolah, hingga kepergian kekasih kak Iyel
yang malah membuatnya ragu tentang apa yang ia lakukan di hidupnya.
Melihat kak Iyel seperti tadi. Saat dimana cowok itu
menangis, berteriak, dan diam membuat Shilla tak bisa mengelak dari kata
hatinya. Ya, dia masih menyukai cowok itu. Tapi kalau memang hal itu yang
terjadi, apa arti dari hubungannya dengan Cakka selama ini? Ah Cakka!
Dengan cepat, Shilla bangkit dari ranjangnya dan mencari
ponselnya. Dia mencari nomor Cakka, lalu bergegas menelpon kekasihnya itu.
Di sisi lain, Cakka dengan beberapa luka yang sama sekali
belum diobatinya duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menatap langit dari
jendela kamarnya yang terbuka lebar. Kejadian tadi siang membuatnya berpikir
keras. Apa yang telah ia lakukan selama ini? Kenapa juara olimpiade sepertinya
bisa menjadi bodoh seperti ini?
Drrt .. drrt ... drrrt. Cakka tak menghiraukan sedikitpun
hal-hal yang ada di sekitarnya. Ponsel yang sudah sejak beberapa menit yang
lalu terus bergetar di sebelahnya, sama sekali tidak mengalihkan pikirannya.
“Apa dia marah padaku?”, Shilla menyerah. Dia melempar
ponselnya ke ranjangnya lalu kembali tidur disana. Mungkin, Cakka sudah tidur.
*****
Di ruang tunggu, ibu terus menangis. Dia bodoh! Bisa-bisanya
dia membuat kondisi putranya kembali memburuk. “Maafkan ibu, nak. Ibu mohon, bertahanlah!
Jangan tinggalkan ibu”, ucapnya entah pada siapa.
“Dimana dia sekarang?”, suara papa terdengar bersamaan
dengan beberapa langkah suster yang mendampinginya.
Papa yang melihat istrinya tengah duduk sendiri di ruang
tunggu ICU, menghampirinya sebentar lalu mengusap punggungnya lembut dan
kembali bergegas ke tempat Alvin berada. Dia tidak mau kehilangan lagi.
*****
Matahari sudah terbit dan burung-burung pun turut bangun
demi menyanyikan kicauan terbaik untuk menyambut kedatangannya hari ini. “Selamat
pagi, kau sudah bangun?”, sapa Steve menyambut kedatangan kekasihnya dari
lantai atas.
Sejak kemarin, Steve memutuskan untuk menginap di rumah
Tasya. Dia tidak ingin meninggalkan gadis itu sendirian saat ini. Apalagi sejak
kemarin, kekasihnya itu terlihat jauh berbeda dari biasanya.
“Ayo, duduklah. Kita sarapan bersama”
“Dimana ibu dan papa?”
“Rumah sakit. Tadi malam, kondisi Alvin kembali memburuk”
“Eum, aku rasa kita harus kesana”
“Ya, tapi aku rasa kita harus kesana setelah sarapan.
Setuju?”
Tasya tersenyum tipis, dan hal itu malah membuat Steve
tertawa lepas. Setidaknya rencananya untuk membuat Tasya merasa lebih baik
sudah berhasil. Senyum tipis itulah yang menjawabnya.
Tasya beruntung. Walaupun Tania telah pergi meninggalkannya,
tapi dia masih memiliki banyak orang yang setia untuk selalu menemaninya. Dan
satu diantaranya adalah pria yang kini tengah berusaha untuk membuatnya merasa
nyaman. Steve, dia memang kekasih yang baik.
*****
“Jadi, bagaimana dengan tugas kelompok kalian?”, tanya bu
Angel yang berhasil membuat Agni membulatkan matanya
“Tugas? Tugas yang mana?”, tanya Agni yang membuat seisi
kelas menatapnya. Termasuk ibu Angel yang tak percaya kalau anak murid macam
Agni bisa melupakan tugas darinya.
“Kau benar-benar melupakannya, Agni?”
Rio yang duduk di seberangnya mendekat. “Tugas kelompok yang
elo sama gue”, bisik Rio yang membuat Agni meringis malu. Membuat seisi kelas
tertawa geli dengan tingkah teman mereka.
Tapi ternyata tidak semua larut dalam tawanya. Sivia yang
juga berada disana, hanya menatap teman-temannya dengan tatapan kosong. Dia
juga sama dengan Agni. Dia juga sama sekali tidak ingat dengan tugas yang
pernah diberikan di awal semester itu. Lagipula saat ini, Cakka dan Alvin yang
merupakan teman satu kelompoknya tidak masuk. Alvin, bagaimana keadaannya saat
ini?
“Jadi kalian semua ingat, kan? Ibu tidak memintanya hari
ini. Hanya saja, ibu harap kalian tidak lupa untuk mengerjakannya”, ucap ibu
Angel sekaligus mengakhiri pelajarannya.
Bel istirahat berbunyi, Rio dan murid-murid yang lain
beranjak keluar kelas. Tapi Agni justru menghampiri Sivia yang duduk beberapa
kursi darinya.
Dari: _Ashilla_
Gue hari ini gak
masuk, Vi. Gue izin ajak kak Iyel ke taman yah! Elo tenang aja, kakak lo aman
kok sama gue. Hehehe see youuu
“Apa elo sudah menjenguk Alvin?”, tanya Agni sambil
mendudukan dirinya di kursi di depan Sivia.
Sivia meletakan ponselnya, lalu mengangguk pelan. “Tapi dia
masih koma”
“Dia udah sadar, kemarin sore”
“Beneran? Hah, syukurlah. Gimana keadaannya sekarang?”
“Tadi malem sih papa gue kesana, tapi gue rasa cuma buat
kontrol aja”
“Sudah, elo tenang aja. Gue yakin kalau Alvin itu cowok yang
kuat. Hehehe”, lanjut Agni yang membuat Sivia ikut tertawa kecil. Tawa
pertamanya di tiga akhir belakangan ini.
“Mau jenguk? Gimana kalo nanti pulang sekolah? Kita bisa
naik mobil adik gue, gimana?”, tawar Agni yang segera disetujui oleh Sivia.
Lagipula tugasnya untuk menjaga Iyel hari ini sudah di ambil alih oleh Shilla.
*****
“Tadi malam, dia pingsan. Tapi semua sudah baik-baik saja.
Dia sudah bangun dan sekarang dia harus banyak istirahat”, jelas papa sambil
mengusap rambut Alvin yang sedang tertidur lelap.
Tasya dan Steve mengangguk mengerti. Sementara ibu, sejak
Alvin sudah kembali dari ruang ICU tidak pernah beranjak sedikit pun. Dia terus
menggenggam tangan putranya. Mau bagaimana pun, dia tidak siap untuk kehilangan
lagi.
“Argh ...”, desah Alvin yang sudah terbangun dari tidurnya.
Sadar kalau kehadirannya akan membuat Alvin merasa canggung,
papa keluar ruangan. Melihat hal itu, Steve turut keluar. Meninggalkan Tasya
dan ibu bersama dengan Alvin disana.
“Apa kau lapar?”, tanya ibu mengingat tadi malam, Alvin
sudah memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya. Dan anak itu juga belum
makan sejak tadi pagi.
Alvin mengangguk pelan. Walaupun dia tidak lapar, tapi
melihat wajah ibu yang semakin lelah membuatnya harus makan. Dia tidak mau
kalau ibunya kecewa dan menangis seperti tadi malam. Dia tidak mau melukai dan
membuat ibunya menjadi jauh lebih payah dari sekarang.
“Ibu istirahat aja, biar Tasya yang suapin Alvin”, ibu
mengangguk lalu duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.
“Apa kabar?”, tanya Tasya memulai percakapan.
“Aku sangat baik-baik saja”
“Benarkah?”
Alvin tersenyum sambil mengangguk kecil. Melihat ibu, papa,
Tasya, dan kak Steve ketika ia bangun membuatnya merasa jauh lebih baik. “Apa
kak Tania sudah baik-baik disana?”, tanya Alvin yang membuat Tasya tertawa.
“Kau bercanda? Kakakmu yang satu itu adalah orang yang baik.
Jadi kak Tasya rasa, dia bahkan jauh lebih baik disana daripada kita yang masih
ada disini?”
“Lalu, apa aku juga akan jauh lebih baik disana?”, kali ini
Tasya diam. Dia bahkan menghentikan laju suapannya untuk Alvin.
“Ah, maafkan aku”, lanjut Alvin yang merasa kalau
pembicaraannya sudah terlalu jauh. Dia dan beberapa orang yang berada di
hidupnya sudah tahu kalau waktu yang Alvin miliki bukanlah waktu yang sama
dengan mereka. Tapi membicarakan tentang hal ini, mereka tidak pernah berniat
untuk melakukannya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, tapi Cakka baru saja
membuka matanya. Seperti dugaannya, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Walau
tadi malam, dia sudah membalut luka-lukanya, tapi bekas pukulan-pukulan itu
terasa begitu menyiksa. Membuat tubuhnya sulit untuk digerakan.
Perlahan, dia mengambil ponselnya. Sembilan panggilan tak terjawab. Tiga pesan. Dengan malas, dia membuka setiap pemberitahuan itu. Dua
panggilan dari ayahnya yang tengah menjalani perjalanan dinasnya di luar kota
bersama ibu, dan tujuh panggilan dari Shilla. Lalu ada dua pesan dari Shilla
dengan bunyi yang berbeda.
Dari: Shilla <3 o:p="">3>
Aku telpon kamu, kok
gak diangkat? Kamu baik-baik aja kan?
Dari: Shilla <3 o:p="">3>
Sayang, aku khawatir.
Kamu baik-baik aja kan? Kamu marah yah sama aku?
Cakka menarik nafasnya yang berat. Ternyata kehidupan remaja
bisa menjadi sesulit ini. Sambil menertawai kehidupannya yang entah kenapa
terasa berantakan, Cakka membuka pesan yang terakhir. Alvin?
Dari: Bro Alvin
Hai bro! Apa kabar?
Long time no see hahaha :D
Melihat pesan dari Alvin, membuat tubuh Cakka bangkit
berdiri. Tawa yang tadinya mengejek berubah menjadi tawa bahagia. Hahaha,
akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan sahabatnya itu. Mereka harus bertemu,
Cakka harus menceritakan semua yang dialaminya pada cowok itu.
*****
Dengan didampingi oleh kopi buatan cafe rumah sakit, mereka
berdua duduk berhadapan. Papa yang memang pecinta kopi sejak muda, memilih americano sebagai menunya di siang ini.
Sementara Steve, dia lebih memilih vanila
latte kesukaannya.
“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Tasya?”, papa memulai
pembicaraan antara calon mertua dengan calon menantu itu.
“Kami baik-baik saja. Eum, beberapa hari yang lalu ... saya
melamarnya”, aku Steve
“Langkah yang bagus”
“Saya rasa, eum maksudnya ... apa om menyetujuinya?”
Meski ini bukan pertama kalinya, mereka bicara dan minum
kopi bersama. Tapi Steve merasa suasana di sekitarnya dingin seketika. Apalagi
dengan pengakuannya yang telah melamar Tasya. Ah ...
“Kalau om gak setuju, mana mungkin om mau mengajakmu kesini
dan membayar kopi dan kue-kue ini?”, sahut papa sambil terkekeh pelan.
*****
“Hah, ternyata kau benar-benar sangat lapar yah”, ucap Tasya
sambil meletakkan piring kosong yang tadinya penuh dengan menu makan siang
milik adiknya. Membuat Alvin tertawa, yang juga malah memudarkan warna pucat
wajahnya.
Tok ... tok ...“hai Vin”, sapa Agni bersama dengan seorang
lain yang wajahnya terhalangi oleh satu paket bunga mawar dengan aneka warna.
“Hai Kak! Aduh kak Via, sini biar gue yang pegang bunganya”,
sapa Ozy sekaligus mengambil bunga yang menghalangi wajah Sivia.
Sivia tersenyum kecil. “Hai, Vin”, sapanya malu.
“Ibu rasa, kita harus keluar sebentar Sya”, ajak ibu yang
diikuti Tasya dari belakang.
“Gue rasa, kita juga deh Zy”, Agni ikut keluar
“Sorry yah, kak”, ucap Ozy yang malah mengembalikan bunga
tadi ke tangan Sivia.
Alvin yang melihat Sivia, tertawa kecil. Sementara Sivia,
dia berusaha keras untuk meletakkan bunga itu di meja tempat bunga-bunga yang
sebelumnya berada.
“Apa kamu merindukanku?”, tanya Alvin yang berhasil menghentikan
gerak Sivia
Gadis itu menoleh lalu berjalan menghampiri Alvin. Tanpa
ragu, dia segera mengeluarkan toyorannya untuk kepala Alvin.
“Ah, apa yang kamu lakukan? Aku tuh baru aja pingsan tadi
malam, kamu mau aku sakit lagi?”
“Aku mau ... kamu memelukku lagi, bersamaku lagi, dan tidak
pergi lagi”, sahut Sivia yang berhasil mendapatkan pelukan dari kekasihnya.
Sivia menunduk malu. Sementara itu, Alvin tersenyum
memandang kekasihnya. Menikmati setiap rindu yang perlahan mulai memudar dalam
hatinya.
*****
Tiga puluh menit berlalu. Kini Cakka sudah rapi dengan kaos
serta jaket dan celana jeansnya. Dia berkaca sebentar, lalu mengambil tas
jinjingnya dan beranjak pergi.
“Halo, pa?”, Cakka yang sudah kembali ke kondisinya yang
semula mencoba untuk kembali menghubungi mereka yang sudah terlebih dahulu
menghubunginya tadi malam. Dan yang pertama, adalah papanya.
“Ini mama, nak. Papamu lagi siap-siap untuk pertemuan dengan
kliennya”, ucap mama di seberang sana.
“Oh iya, ma. Kenapa ma? Maaf, tadi malam Cakka udah tidur”,
bohongnya
“Enggak, ini mama cuma kasih tau kamu. Jadi, masa papa kamu
disini itu diperpanjang. Mungkin minggu depan, kami baru bisa kembali ke
Jakarta. Kamu gapapa, kan?”
“Iya gapapa. Nanti kalo udah kesini, mama kabarin Cakka aja
yah”
“Bener gapapa?”
“Iya, beneran Cakka gapapa. Lagipula, disini kan ada bibi
sama paman Jo yang bisa bantu-bantu kebutuhan Cakka. Udah dulu ya, ma. Dah!”,
Cakka menutup ponselnya dan menyalakan mobilnya
*****
“Eum ...”, Shilla masih tak bisa mengucapkan satu kata pun
Sudah satu jam berlalu, dan mereka masih diam tak bersuara.
Shilla sudah berkali-berkali berdehem, namun semuanya gagal. Dia selalu gagal
untuk berkata-kata ketika matanya menatap sosok laki-laki yang ada di
sebelahnya. Laki-laki yang sekeras apapun ia coba jauhi, tapi tetap memiliki
tempat tersendiri di hatinya.
“Kak ... Eum, kak Iyel”, ucap Shilla akhirnya yang berhasil
membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya.
Menatap wajah sendu Iyel, membuat Shilla kembali diam. Dan
melihat Shilla diam, membuat Iyel juga kembali diam. Sejujurnya, dia sama
sekali tidak mengerti alasan gadis itu mengajaknya kesini. Bahkan gadis itu
rela untuk tidak sekolah dan menunggunya bangun hingga bisa mengajaknya ke taman
bersama.
“Apa kakak lapar?”, ucap Shilla yang berhasil untuk kedua
kalinya
Iyel menoleh, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama
sekali dinantikan oleh Shilla. “Maafkan aku yah. Dan terimakasih sudah berjuang
sejauh ini”, sahut Iyel sambil menggenggam tangan gadis yang sudah lama ia
anggap sebagai adiknya sendiri.
“Jadi, kau mau makan apa?”, tanya Iyel sambil mendekatkan
wajahnya pada gadis itu. Berusaha untuk mengembalikan jiwanya ke Iyel yang
selalu tampil ceria dan suka merayu kedua adiknya –Sivia dan Shilla–.
Drrt ... drrt ... drrrt
“Eh, sebentar kak”, ucap Shilla yang membuat Iyel kembali ke
posisinya semula
“Hallo?”
“Dia siapa?”
TO BE CONTINUED
Entah kenapa gue tuh merasa kalau part ini bener-bener ngebosenin banget wkwkwk :D
Yaa ... tapi tetep makasih yah buat kalian yang udah setia baca ..
Jangan lupa buat komen yaah, aku tunggu banget lho :P
I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thankyou :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar