Minggu, 27 September 2015

Lentera Hati *Part 26*

Perlahan, Alvin membuka mulutnya demi memakan makanan pertamanya sejak beberapa hari terakhir. Ibu yang baru saja datang, menyuapinya dengan lembut. “Apa kau merasa baik-baik saja?”, tanya ibu sambil menyodorkan segelas air putih pada putra kesayangannya.

Alvin mengangguk mantap. “Apa ibu juga merasa baik-baik saja?”, tanya balik Alvin. Dia merasa kalau saat ini, ibunya lah yang paling terlihat tidak baik-baik saja. Wajah wanita muda itu terlihat jauh lebih lelah dari biasanya, matanya juga terlihat bengkak.

“Apa ibu sedang sakit?”

Ibu menggeleng pelan. “Kau mau makan buah?”, tanyanya sambil menjauhkan piring makan malam yang telah dihabiskan oleh Alvin.

“Apa ada yang sedang ibu sembunyikan?”, tanya Alvin yang malah membuat ibu melukai jarinya dengan pisau buah

“Katakan, apa yang ibu sembunyikan?”


Sambil membalut luka ibu, Alvin menatap wajah wanita itu dengan tajam. Dan ibu, dia hanya terdiam dengan membalas tatapan putranya lembut. Wajah pucat itu terlihat begitu rapuh. Ibu tidak mau melukainya lebih dalam lagi.

“Maafkan ibu”, lagi-lagi tangisan

Alvin semakin tidak mengerti tentang hidupnya. Baru beberapa hari dia pergi, dan semua sudah terasa begitu asing untuknya. Bukan hanya Agni, tapi juga ibu yang menangis di hadapannya hari ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Apa penyakitku sudah sangat parah? Apa aku akan segera ...”

Tidak menunggu Alvin menyelesaikan perkataannya, ibu sudah mendekapnya dengan erat. “Tania, kakakmu ... maafkan kami, nak”, ucap ibu dengan tangis yang semakin sesak.

“Diam dan makanlah, waktu kita tidak banyak”

“Maafkan kakak”

Alvin diam, kepalanya terasa sakit. Tidak, bukan hanya kepala melainkan juga hatinya. Jadi, semua yang dialaminya tadi bukanlah mimpi? Jadi, Tania ... apa dia sudah ... apa itu caranya untuk mengucapkan selamat tinggal?

*****

Usai membersihkan tubuhnya, Shilla menidurkan tubuhnya di ranjang berwarna merah muda dengan aksen bunga di selimutnya. Hari ini terasa sangat melelahkan. Mulai dari pensi sekolah, hingga kepergian kekasih kak Iyel yang malah membuatnya ragu tentang apa yang ia lakukan di hidupnya.

Melihat kak Iyel seperti tadi. Saat dimana cowok itu menangis, berteriak, dan diam membuat Shilla tak bisa mengelak dari kata hatinya. Ya, dia masih menyukai cowok itu. Tapi kalau memang hal itu yang terjadi, apa arti dari hubungannya dengan Cakka selama ini? Ah Cakka!

Dengan cepat, Shilla bangkit dari ranjangnya dan mencari ponselnya. Dia mencari nomor Cakka, lalu bergegas menelpon kekasihnya itu.

Di sisi lain, Cakka dengan beberapa luka yang sama sekali belum diobatinya duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menatap langit dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Kejadian tadi siang membuatnya berpikir keras. Apa yang telah ia lakukan selama ini? Kenapa juara olimpiade sepertinya bisa menjadi bodoh seperti ini?

Drrt .. drrt ... drrrt. Cakka tak menghiraukan sedikitpun hal-hal yang ada di sekitarnya. Ponsel yang sudah sejak beberapa menit yang lalu terus bergetar di sebelahnya, sama sekali tidak mengalihkan pikirannya.

“Apa dia marah padaku?”, Shilla menyerah. Dia melempar ponselnya ke ranjangnya lalu kembali tidur disana. Mungkin, Cakka sudah tidur.

*****

Di ruang tunggu, ibu terus menangis. Dia bodoh! Bisa-bisanya dia membuat kondisi putranya kembali memburuk. “Maafkan ibu, nak. Ibu mohon, bertahanlah! Jangan tinggalkan ibu”, ucapnya entah pada siapa.

“Dimana dia sekarang?”, suara papa terdengar bersamaan dengan beberapa langkah suster yang mendampinginya.

Papa yang melihat istrinya tengah duduk sendiri di ruang tunggu ICU, menghampirinya sebentar lalu mengusap punggungnya lembut dan kembali bergegas ke tempat Alvin berada. Dia tidak mau kehilangan lagi.

*****

Matahari sudah terbit dan burung-burung pun turut bangun demi menyanyikan kicauan terbaik untuk menyambut kedatangannya hari ini. “Selamat pagi, kau sudah bangun?”, sapa Steve menyambut kedatangan kekasihnya dari lantai atas.

Sejak kemarin, Steve memutuskan untuk menginap di rumah Tasya. Dia tidak ingin meninggalkan gadis itu sendirian saat ini. Apalagi sejak kemarin, kekasihnya itu terlihat jauh berbeda dari biasanya.

“Ayo, duduklah. Kita sarapan bersama”

“Dimana ibu dan papa?”

“Rumah sakit. Tadi malam, kondisi Alvin kembali memburuk”

“Eum, aku rasa kita harus kesana”

“Ya, tapi aku rasa kita harus kesana setelah sarapan. Setuju?”

Tasya tersenyum tipis, dan hal itu malah membuat Steve tertawa lepas. Setidaknya rencananya untuk membuat Tasya merasa lebih baik sudah berhasil. Senyum tipis itulah yang menjawabnya.

Tasya beruntung. Walaupun Tania telah pergi meninggalkannya, tapi dia masih memiliki banyak orang yang setia untuk selalu menemaninya. Dan satu diantaranya adalah pria yang kini tengah berusaha untuk membuatnya merasa nyaman. Steve, dia memang kekasih yang baik.

*****

“Jadi, bagaimana dengan tugas kelompok kalian?”, tanya bu Angel yang berhasil membuat Agni membulatkan matanya

“Tugas? Tugas yang mana?”, tanya Agni yang membuat seisi kelas menatapnya. Termasuk ibu Angel yang tak percaya kalau anak murid macam Agni bisa melupakan tugas darinya.

“Kau benar-benar melupakannya, Agni?”

Rio yang duduk di seberangnya mendekat. “Tugas kelompok yang elo sama gue”, bisik Rio yang membuat Agni meringis malu. Membuat seisi kelas tertawa geli dengan tingkah teman mereka.

Tapi ternyata tidak semua larut dalam tawanya. Sivia yang juga berada disana, hanya menatap teman-temannya dengan tatapan kosong. Dia juga sama dengan Agni. Dia juga sama sekali tidak ingat dengan tugas yang pernah diberikan di awal semester itu. Lagipula saat ini, Cakka dan Alvin yang merupakan teman satu kelompoknya tidak masuk. Alvin, bagaimana keadaannya saat ini?

“Jadi kalian semua ingat, kan? Ibu tidak memintanya hari ini. Hanya saja, ibu harap kalian tidak lupa untuk mengerjakannya”, ucap ibu Angel sekaligus mengakhiri pelajarannya.

Bel istirahat berbunyi, Rio dan murid-murid yang lain beranjak keluar kelas. Tapi Agni justru menghampiri Sivia yang duduk beberapa kursi darinya.

Dari: _Ashilla_
Gue hari ini gak masuk, Vi. Gue izin ajak kak Iyel ke taman yah! Elo tenang aja, kakak lo aman kok sama gue. Hehehe see youuu

“Apa elo sudah menjenguk Alvin?”, tanya Agni sambil mendudukan dirinya di kursi di depan Sivia.

Sivia meletakan ponselnya, lalu mengangguk pelan. “Tapi dia masih koma”

“Dia udah sadar, kemarin sore”

“Beneran? Hah, syukurlah. Gimana keadaannya sekarang?”

“Tadi malem sih papa gue kesana, tapi gue rasa cuma buat kontrol aja”

“Sudah, elo tenang aja. Gue yakin kalau Alvin itu cowok yang kuat. Hehehe”, lanjut Agni yang membuat Sivia ikut tertawa kecil. Tawa pertamanya di tiga akhir belakangan ini.

“Mau jenguk? Gimana kalo nanti pulang sekolah? Kita bisa naik mobil adik gue, gimana?”, tawar Agni yang segera disetujui oleh Sivia. Lagipula tugasnya untuk menjaga Iyel hari ini sudah di ambil alih oleh Shilla.

*****

“Tadi malam, dia pingsan. Tapi semua sudah baik-baik saja. Dia sudah bangun dan sekarang dia harus banyak istirahat”, jelas papa sambil mengusap rambut Alvin yang sedang tertidur lelap.

Tasya dan Steve mengangguk mengerti. Sementara ibu, sejak Alvin sudah kembali dari ruang ICU tidak pernah beranjak sedikit pun. Dia terus menggenggam tangan putranya. Mau bagaimana pun, dia tidak siap untuk kehilangan lagi.

“Argh ...”, desah Alvin yang sudah terbangun dari tidurnya.

Sadar kalau kehadirannya akan membuat Alvin merasa canggung, papa keluar ruangan. Melihat hal itu, Steve turut keluar. Meninggalkan Tasya dan ibu bersama dengan Alvin disana.

“Apa kau lapar?”, tanya ibu mengingat tadi malam, Alvin sudah memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya. Dan anak itu juga belum makan sejak tadi pagi.

Alvin mengangguk pelan. Walaupun dia tidak lapar, tapi melihat wajah ibu yang semakin lelah membuatnya harus makan. Dia tidak mau kalau ibunya kecewa dan menangis seperti tadi malam. Dia tidak mau melukai dan membuat ibunya menjadi jauh lebih payah dari sekarang.

“Ibu istirahat aja, biar Tasya yang suapin Alvin”, ibu mengangguk lalu duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.

“Apa kabar?”, tanya Tasya memulai percakapan.

“Aku sangat baik-baik saja”

“Benarkah?”

Alvin tersenyum sambil mengangguk kecil. Melihat ibu, papa, Tasya, dan kak Steve ketika ia bangun membuatnya merasa jauh lebih baik. “Apa kak Tania sudah baik-baik disana?”, tanya Alvin yang membuat Tasya tertawa.

“Kau bercanda? Kakakmu yang satu itu adalah orang yang baik. Jadi kak Tasya rasa, dia bahkan jauh lebih baik disana daripada kita yang masih ada disini?”

“Lalu, apa aku juga akan jauh lebih baik disana?”, kali ini Tasya diam. Dia bahkan menghentikan laju suapannya untuk Alvin.

“Ah, maafkan aku”, lanjut Alvin yang merasa kalau pembicaraannya sudah terlalu jauh. Dia dan beberapa orang yang berada di hidupnya sudah tahu kalau waktu yang Alvin miliki bukanlah waktu yang sama dengan mereka. Tapi membicarakan tentang hal ini, mereka tidak pernah berniat untuk melakukannya.

*****

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, tapi Cakka baru saja membuka matanya. Seperti dugaannya, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Walau tadi malam, dia sudah membalut luka-lukanya, tapi bekas pukulan-pukulan itu terasa begitu menyiksa. Membuat tubuhnya sulit untuk digerakan.

Perlahan, dia mengambil ponselnya. Sembilan panggilan tak terjawab. Tiga pesan. Dengan malas, dia membuka setiap pemberitahuan itu. Dua panggilan dari ayahnya yang tengah menjalani perjalanan dinasnya di luar kota bersama ibu, dan tujuh panggilan dari Shilla. Lalu ada dua pesan dari Shilla dengan bunyi yang berbeda.

Dari: Shilla <3 o:p="">
Aku telpon kamu, kok gak diangkat? Kamu baik-baik aja kan?

Dari: Shilla <3 o:p="">
Sayang, aku khawatir. Kamu baik-baik aja kan? Kamu marah yah sama aku?

Cakka menarik nafasnya yang berat. Ternyata kehidupan remaja bisa menjadi sesulit ini. Sambil menertawai kehidupannya yang entah kenapa terasa berantakan, Cakka membuka pesan yang terakhir. Alvin?

Dari: Bro Alvin
Hai bro! Apa kabar? Long time no see hahaha :D

Melihat pesan dari Alvin, membuat tubuh Cakka bangkit berdiri. Tawa yang tadinya mengejek berubah menjadi tawa bahagia. Hahaha, akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan sahabatnya itu. Mereka harus bertemu, Cakka harus menceritakan semua yang dialaminya pada cowok itu.

*****

Dengan didampingi oleh kopi buatan cafe rumah sakit, mereka berdua duduk berhadapan. Papa yang memang pecinta kopi sejak muda, memilih americano sebagai menunya di siang ini. Sementara Steve, dia lebih memilih vanila latte kesukaannya.

“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Tasya?”, papa memulai pembicaraan antara calon mertua dengan calon menantu itu.

“Kami baik-baik saja. Eum, beberapa hari yang lalu ... saya melamarnya”, aku Steve

“Langkah yang bagus”

“Saya rasa, eum maksudnya ... apa om menyetujuinya?”

Meski ini bukan pertama kalinya, mereka bicara dan minum kopi bersama. Tapi Steve merasa suasana di sekitarnya dingin seketika. Apalagi dengan pengakuannya yang telah melamar Tasya. Ah ...

“Kalau om gak setuju, mana mungkin om mau mengajakmu kesini dan membayar kopi dan kue-kue ini?”, sahut papa sambil terkekeh pelan.

*****

“Hah, ternyata kau benar-benar sangat lapar yah”, ucap Tasya sambil meletakkan piring kosong yang tadinya penuh dengan menu makan siang milik adiknya. Membuat Alvin tertawa, yang juga malah memudarkan warna pucat wajahnya.

Tok ... tok ...“hai Vin”, sapa Agni bersama dengan seorang lain yang wajahnya terhalangi oleh satu paket bunga mawar dengan aneka warna.

“Hai Kak! Aduh kak Via, sini biar gue yang pegang bunganya”, sapa Ozy sekaligus mengambil bunga yang menghalangi wajah Sivia.

Sivia tersenyum kecil. “Hai, Vin”, sapanya malu.

“Ibu rasa, kita harus keluar sebentar Sya”, ajak ibu yang diikuti Tasya dari belakang.

“Gue rasa, kita juga deh Zy”, Agni ikut keluar

“Sorry yah, kak”, ucap Ozy yang malah mengembalikan bunga tadi ke tangan Sivia.

Alvin yang melihat Sivia, tertawa kecil. Sementara Sivia, dia berusaha keras untuk meletakkan bunga itu di meja tempat bunga-bunga yang sebelumnya berada.

“Apa kamu merindukanku?”, tanya Alvin yang berhasil menghentikan gerak Sivia

Gadis itu menoleh lalu berjalan menghampiri Alvin. Tanpa ragu, dia segera mengeluarkan toyorannya untuk kepala Alvin.

“Ah, apa yang kamu lakukan? Aku tuh baru aja pingsan tadi malam, kamu mau aku sakit lagi?”

“Aku mau ... kamu memelukku lagi, bersamaku lagi, dan tidak pergi lagi”, sahut Sivia yang berhasil mendapatkan pelukan dari kekasihnya.

Sivia menunduk malu. Sementara itu, Alvin tersenyum memandang kekasihnya. Menikmati setiap rindu yang perlahan mulai memudar dalam hatinya.

*****

Tiga puluh menit berlalu. Kini Cakka sudah rapi dengan kaos serta jaket dan celana jeansnya. Dia berkaca sebentar, lalu mengambil tas jinjingnya dan beranjak pergi.

“Halo, pa?”, Cakka yang sudah kembali ke kondisinya yang semula mencoba untuk kembali menghubungi mereka yang sudah terlebih dahulu menghubunginya tadi malam. Dan yang pertama, adalah papanya.

“Ini mama, nak. Papamu lagi siap-siap untuk pertemuan dengan kliennya”, ucap mama di seberang sana.

“Oh iya, ma. Kenapa ma? Maaf, tadi malam Cakka udah tidur”, bohongnya

“Enggak, ini mama cuma kasih tau kamu. Jadi, masa papa kamu disini itu diperpanjang. Mungkin minggu depan, kami baru bisa kembali ke Jakarta. Kamu gapapa, kan?”

“Iya gapapa. Nanti kalo udah kesini, mama kabarin Cakka aja yah”

“Bener gapapa?”

“Iya, beneran Cakka gapapa. Lagipula, disini kan ada bibi sama paman Jo yang bisa bantu-bantu kebutuhan Cakka. Udah dulu ya, ma. Dah!”, Cakka menutup ponselnya dan menyalakan mobilnya

*****

“Eum ...”, Shilla masih tak bisa mengucapkan satu kata pun

Sudah satu jam berlalu, dan mereka masih diam tak bersuara. Shilla sudah berkali-berkali berdehem, namun semuanya gagal. Dia selalu gagal untuk berkata-kata ketika matanya menatap sosok laki-laki yang ada di sebelahnya. Laki-laki yang sekeras apapun ia coba jauhi, tapi tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya.

“Kak ... Eum, kak Iyel”, ucap Shilla akhirnya yang berhasil membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya.

Menatap wajah sendu Iyel, membuat Shilla kembali diam. Dan melihat Shilla diam, membuat Iyel juga kembali diam. Sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti alasan gadis itu mengajaknya kesini. Bahkan gadis itu rela untuk tidak sekolah dan menunggunya bangun hingga bisa mengajaknya ke taman bersama.

“Apa kakak lapar?”, ucap Shilla yang berhasil untuk kedua kalinya

Iyel menoleh, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama sekali dinantikan oleh Shilla. “Maafkan aku yah. Dan terimakasih sudah berjuang sejauh ini”, sahut Iyel sambil menggenggam tangan gadis yang sudah lama ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Jadi, kau mau makan apa?”, tanya Iyel sambil mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Berusaha untuk mengembalikan jiwanya ke Iyel yang selalu tampil ceria dan suka merayu kedua adiknya –Sivia dan Shilla–.

Drrt ... drrt ... drrrt

“Eh, sebentar kak”, ucap Shilla yang membuat Iyel kembali ke posisinya semula

“Hallo?”

“Dia siapa?”


TO BE CONTINUED

Entah kenapa gue tuh merasa kalau part ini bener-bener ngebosenin banget wkwkwk :D
Yaa ... tapi tetep makasih yah buat kalian yang udah setia baca ..
Jangan lupa buat komen yaah, aku tunggu banget lho :P

I hope you like it, guys!
See you on next part!
Thankyou :)

Tidak ada komentar: