Minggu, 11 Oktober 2015

Lentera Hati *Part 27*

“Eum ...”, Shilla masih tak bisa mengucapkan satu kata pun

Sudah satu jam berlalu, dan mereka masih diam tak bersuara. Shilla sudah berkali-berkali berdehem, namun semuanya gagal. Dia selalu gagal untuk berkata-kata ketika matanya menatap sosok laki-laki yang ada di sebelahnya. Laki-laki yang sekeras apapun ia coba jauhi, namun masih memiliki tempat tersendiri di hatinya.

“Kak ... Eum, kak Iyel”, ucap Shilla akhirnya yang berhasil membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya.

Menatap wajah sendu Iyel, membuat Shilla kembali diam. Dan melihat Shilla diam, membuat Iyel juga kembali diam. Sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti alasan gadis itu mengajaknya kesini. Bahkan gadis itu rela untuk tidak sekolah dan menunggunya bangun hingga bisa mengajaknya ke taman bersama.

“Apa kakak lapar?”, ucap Shilla yang berhasil untuk kedua kalinya


Iyel menoleh, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama sekali dinantikan oleh Shilla. “Maafkan kakak. Dan terimakasih sudah berjuang sejauh ini”, sahut Iyel sambil menggenggam tangan gadis yang sudah lama ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Jadi, kau mau makan apa?”, tanya Iyel sambil mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Berusaha untuk mengembalikan jiwanya ke Iyel yang selalu tampil ceria dan suka merayu kedua adiknya –Sivia dan Shilla–.

Drrt ... drrt ... drrrt

“Eh, sebentar kak”, ucap Shilla yang membuat Iyel kembali ke posisinya semula

“Hallo?”

“Dia siapa?”


“Cakka? Kamu ...?”, dengan cepat Shilla memandang sekitarnya demi memastikan apa yang Cakka maksud saat ini.

“Cowok yang di sebelah kamu, dia siapa?”, lanjut Cakka memperjelas pertanyaannya.

“Siapa Shill?”, tanya kak Iyel yang bingung dengan tingkah Shilla yang ketakutan.

*****

Dari balik jendela mobilnya, dia menikmati panoramanya. Gadis yang kini tengah menjadi kekasihnya sedang bersama laki-laki lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka bahkan duduk berdekatan dan saling pandang dalam jarak yang sangat dekat. Lima belas menit berlalu hingga akhirnya keduanya bangkit berdiri dan berniat pergi.

“Dia siapa?”

“Cakka? Kamu ...?”, suara gadis itu terdengar bergetar. Ya, dia ketakutan.

“Cowok yang di sebelah kamu, dia siapa?”, masih dengan nada datar seperti pertanyaan yang pertama, Cakka mencoba untuk memberikan kesempatan pada gadisnya untuk menjelaskan.

“Siapa Shill?”, samar suara cowok lain itu terdengar.

“Aku ... Cakka, kamu dimana?”

“Apa kamu mau hubungan kita berakhir?”, dan kesempatan pun berakhir.

Cakka menutup sambungan teleponnya dan melempar ponselnya asal ke kursi di sebelahnya. Dipukulnya kemudi mobil dengan keras. Sebenarnya alasan Cakka pergi adalah untuk ke rumah Alvin. Dia ingin menghabiskan hari ini bersama dengan sahabatnya itu. Tapi ketika melewati taman, dia melihat pemandangan yang menarik.

Gadis yang merupakan kekasihnya sedang menghabiskan waktu berdua bersama dengan laki-laki lain. Ya, sudah terlihat jelas kalau Shilla telah bermain curang dengan dirinya. Bahkan ketika kesempatan diberikan, dia sama sekali tidak mampu untuk berkata-kata tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Tapi walaupun hal itu terjadi, Cakka tidak berhasil menemukan titik sakit yang ada di hatinya. Dia hanya merasa marah karena sikap Shilla yang mempermainkannya. Tapi tentang sakit hati, dia sama sekali tidak merasakannya. Mungkinkah selama ini, dia juga telah mempermainkan Shilla?

*****

“Tugas yah? Em ... oh iya, aku inget Vi”, seru Alvin dengan mantap.

Sivia menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya, salah satu dari rekan sekelompoknya ada yang ingat tentang tugas biologi itu.

“Jadi, apa kamu udah siapin bahannya?”

Alvin diam dan kembali berpikir, mencoba mengingat-ingat. Alvin sangat suka dengan hal ini. Dia suka mengingat. Selama dia masih mengingat atau lebih tepatnya selama dia tidak lupa tentang kehidupannya, itu berarti dia masih bisa bertahan. Ya, itu berarti waktunya masih sedikit lebih banyak.

“Tunggu dulu”, Alvin yang semula dalam posisi tidur kini menegakkan tubuhnya. Dia ingat suatu hal.

“Tugas dari bu Angel itu kan tugas tentang kehidupan manusia. Dan nah iya, aku ingat sekarang!”

“Ingat apaan sih Vin?”, Sivia mengomel penasaran.

Perlahan, Alvin mendekatkan wajahnya dengan Sivia. “Kamu!”, teriak Alvin sambil menunjukkan jarinya di depan hidung kekasihnya.

“Aku?”

“Iya, kamu”

“Kamulah yang harus cari bahan-bahan tugasnya. Karena kamu yang pilih tema itu”, lanjut Alvin menjelaskan.

Sivia diam, dia lupa tentang hal itu. “Tapi kan Vin ...”

“Sst!”, untuk kedua kalinya jari Alvin kembali menyentuh hidung Sivia. “Apa gak ada hal lain yang ingin kamu omongin selain tugas?”

Baik Sivia maupun Alvin, mereka tertawa berdua. Sejak ditinggalkan oleh Tasya, ibu, Agni, dan Ozy, mereka berdua masih terlihat kaku sama lain. Trik Alvin untuk menggoda Sivia malah berujung gagal karena Sivia yang tiba-tiba membahas tentang tugas yang baru kembali didengarnya hari ini. Hingga akhirnya, mereka malah harus membahas tugas yang lagi-lagi berujung gagal. Kalau saja Alvin tidak mengalihkan pembicaraan tadi, mungkin mereka sudah berdebat satu sama lain.

“Maafin aku, Vi”, masih dengan bibir yang melebar Alvin menggenggam tangan sosok yang sungguh sangat ia rindukan selama ini.

“Aku tahu, ini berat buat kamu”, lanjutnya sambil menatap lekat dua bola mata indah yang tak pernah lepas untuk terus memperhatikannya selama ia pergi.

Sivia menarik nafasnya berat, berusaha untuk menahan air mata yang dengan cepat berusaha untuk keluar. “Aku ... aku kangen tatapan itu, Vin”, ucapnya yang malah diikuti dengan aliran air mata yang menderas.

Selama Alvin pergi, Sivia selalu berada disana. Mungkin tidak setiap hari, tapi gadis itu selalu berusaha untuk melakukan hal yang terbaik untuk kekasihnya. Dia selalu menunggu saat dimana cowok itu mau untuk membuka matanya. Dan sekarang kedua mata sipit itu terbuka jelas di hadapannya, menatapnya dengan lekat.

Dengan lembut, Alvin mengusap rambut Sivia. Lalu perlahan, ia menarik kepala Sivia untuk bersandar ke bahunya. “Jangan nangis, kamu kayak anak kecil kalo lagi nangis”, ucapnya dengan tangan yang masih mengusap rambut gadis yang sangat dicintainya.

*****

Drrt ... drrt ... drrrt ...

“Ya, hallo?”, Agni mengangkat ponselnya

Tidak ada suara di seberang sana. Agni pun mencoba untuk melihat nama kontak yang menelponnya, namun belum sampai ia melihat ...

“Ini gue”, sahut suara yang sudah sangat tak asing baginya

Untuk beberapa menit, Agni terdiam. Walau ia sudah lama memiliki nomor handphone orang itu, namun baru kali ini orang itu menghubunginya.

“Gue lagi di jalan. Gue mau ke rumah lo. Elo ada di rumah?”

“Em ... Gu, gue ... gue lagi di luar”

“Dimana?”

Agni diam lagi. Dia tidak mungkin memberitahu Cakka, kalau saat ini dia sedang di rumah sakit untuk menjenguk Alvin yang baru sadar dari komanya.

“Gua pulang sebentar lagi, elo tunggu di depan rumah gue aja”

“Oke, gue tunggu”, sambungan telepon pun berakhir.

Cakka terdengar berbeda. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Cara bicaranya pun sangat datar. Walau ini adalah pertama kalinya mereka bicara lewat telepon, tapi Agni yakin kalau ada sesuatu yang telah terjadi pada cowok itu.

“Siapa kak?”, tanya Ozy yang dari tadi duduk di hadapan Agni.

“Kita pulang sekarang yuk”, sahut Agni sambil menarik tangan adiknya.

“Tapi kak Sivia?”

“Nanti gue yang bilang ke dia, kalo gue lagi ada urusan lain”, Agni bangkit berdiri lalu menaruh uang sesuai dengan bill makanannya di atas meja.

Meski ragu, tapi sepertinya Ozy tau siapa yang menghubungi kakaknya tadi. Mau tak mau, dia pun menuruti laju kakaknya. Mulai dari berpamitan dengan kak Tasya dan ibu, lalu ke kamar Alvin dan pamit dengan Sivia, hingga ke parkiran mobil dan melaju ke rumah mereka. Semacam supir pribadi yang menuruti kemauan nyonyanya.

*****

Iyel sudah menghabiskan makanannya, namun Shilla malah masih diam sambil memandangi layar ponselnya. Semenjak telepon dari seseorang bernama Cakka tadi, adiknya yang kedua itu terlihat sangat murung. Senyum yang sejak tadi pagi selalu menghiasi wajahnya sirnah seketika.

“Kamu gak mau makan?”, tanya Iyel.

Shilla mengangkat wajahnya lalu tersenyum tipis dan mulai menggerakkan tangannya untuk melahap menu makanannya. “Apa kamu mau hubungan kita berakhir?”, entah kenapa kalimat itu masih terus terngiang jelas di telinganya. Walau sebenarnya dari awal, Shilla tidak mencintai Cakka. Tapi perkataan cowok tadi begitu menusuk dirinya. Apa memang hubungan mereka harus berakhir?

“Apa makanannya enak?”, tanya Iyel lagi

“Apa menjalin hubungan tanpa mencintai itu salah, kak?”, tanya Shilla balik

“Apa ini ada hubungannya dengan telepon tadi?”, tanya Iyel kembali

Shilla yang menyadari kebodohannya, tertawa kecil sambil menaruh sendok dan garpu yang tadi ia pakai lalu membersihkan mulutnya. “Maaf kak. Kenapa jadi aku yang galau? Kan seharusnya aku disini buat menghibur kak Iyel. Hehehe, maaf ya kak”, ucapnya malu.

Berbeda dengan Shilla yang kembali ceria, Iyel justru masih memasang wajah seriusnya. “Salah”, ucapnya seketika.

“Salah?”

“Iya. Kalau tidak mencintai, kenapa harus menjalin hubungan. Jadi jawabannya adalah salah”, jelas Iyel

Iyel benar, dan Shilla memang salah. Tidak seharusnya ia menjalin hubungan dengan Cakka bila sejak awal dia sama sekali tidak memiliki perasaan itu. Dia telah mempermainkan Cakka.

*****

Dengan tenang, Cakka berdiri di samping mobilnya. Sudah tiga puluh menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan si empunya rumah yang berada di belakangnya. Hingga akhirnya mobil sport merah terlihat melaju ke arahnya.

“Tunggu bentar yah”, seru si penumpang mobil padanya.

Tak lama kemudian pintu gerbang rumah pun terbuka. “Ayo masuk”, ajak Agni yang kemudian berjalan mendahuluinya.

“Apa elo sudah makan?”, tanya Agni sambil menyajikan air jeruk di meja ruang tamu.

Cakka menggeleng. “Gue gak lapar”, sahutnya.

Namun, Agni malah bergegas ke dapur dan mengambil makan siang untuk Cakka. Untung saja, menu sarapannya tadi masih ada. “Ini makanlah”, ucap Agni yang kemudian duduk di depan Cakka.

Cewek itu mengangkat kedua kakinya lalu menyalakan televisi sambil mengunyah apel. Tanpa disadari, Cakka tersenyum kecil menatapnya. Walau sudah berteman sejak lama, baru kali ini dia memandang Agni dengan rinci.

“Enak gak? Nasi goreng itu, gue yang masak sendiri lho”, promo Agni yang malah di abaikan begitu saja.

“Orang tua lo dimana?”

“Mereka masih di rumah sakit, nanti malam baru balik”

“Elo tinggal sendiri?”

“Gue tinggal bareng adik gue. Eh itu dia! Zy, sini! Gue kenalin sama Cakka”, teriak Agni memanggil Ozy yang baru memasuki rumah.

Dengan malas, Ozy melangkah mendekat. “Nah, ini Ozy adik gue”, ucap Agni sambil memukul bahu tegap itu pelan.

Cakka diam sejenak, wajah Ozy ... tidak salah lagi, dialah yang telah membuat pikiran Cakka kacau sejak kemarin. Dia adalah orang asing itu! Ozy adalah orang yang telah memukul Cakka kemarin sore di samping kafe.

“Apaan sih kak! Gue sama Cakka tuh udah kenal dari kita kecil. Dulu kan, gue sama Cakka, Rio, sama Alvin suka main bareng”, jelas Ozy

“Seneng bisa ketemu lo lagi, Cak”, lanjutnya sambil tersenyum kecil lalu beranjak naik ke kamarnya.

Agni menatap kepergian Ozy dengan sedih. Tadinya dia pikir kehadiran adiknya disini bisa membuat suasana dingin menjadi lebih hangat. Apalagi Agni tahu kalau sejak mereka kecil, Ozy sudah biasa bermain dengan ketiga sahabatnya. Tapi ternyata, Ozy selalu membuat ulah. Agni pun terpaksa harus menghadapi Cakka sendirian.

“Dia udah gede yah”, komen Cakka yang membuat Agni kembali memfokuskan diri padanya.

“Em Cak, sebenarnya apa yang mau elo omongin sama gue?”, tanya Agni yang memang sejak di rumah sakit sudah penasaran akan maksud Cakka mengunjunginya.

Cakka menelan suapan terakhir nasi gorengnya dengan kasar. Tadi, dia kesini untuk mengatakan semua hal yang sudah terjadi padanya. Tapi ketika ia melihat Ozy dan menyadari semuanya, niatnya berubah. Dia tidak mungkin memberitahu Agni kalau adiknya telah memukulinya kemarin sore.

“Gue mau nanya PR”, jawabnya asal.

“PR?”

“Iya, PR”

*****

Beberapa dokter dan suster yang sudah menghabiskan waktu kerjanya bersama dengan Alvin dalam beberapa hari terakhir ini, tengah memasang wajah yang sama. Mereka tersenyum ketika mengetahui kalau kondisi pasien mereka sudah menunjukkan perubahan yang sangat baik.

“Jadi, apa saya boleh pulang?”, tanya Alvin formal pada papa tirinya. Walau sudah lama bersama, anak itu masih merasa canggung dengan pria yang juga merupakan sahabat ayahnya.

“Kamu ngomong apa sih, Vin? Kamu baru sadar kemarin, gimana bisa kamu pulang?”, omel ibu

Papa melihat kertas pemeriksaan anaknya itu dengan teliti. Walau kesehatan Alvin sudah mengalami kemajuan, tapi kondisi anak itu masih jauh lebih buruk dari hasil pemeriksaan sebulan yang lalu. Perlahan, kanker itu mulai menyebar.

“Ya, kita turuti kemauanmu”, sahut papa yang berhasil membuat wajah Alvin yang pucat tersenyum puas.

“Terimakasih dok”, sahut Alvin. Berbeda dengan yang lainnya, Sivia malah menatap Alvin dengan kesal. Saya? Dok? Kenapa Alvin bicara seperti itu pada papanya sendiri?

Sivia memang sudah tahu tentang keluarga Alvin. Kekasihnya itu sudah lama menjelaskan bagaimana ibu dan papa bisa bertemu dan bagaimana hubungannya dengan papanya. Tapi Sivia tidak pernah membayangkan kalau mereka berdua secanggung ini. Walau tak terlihat jelas, tapi cara bicara papa pun sama kakunya dengan Alvin. Mereka memang sangat jauh.

“Yaudah, kita pulang bareng yuk, Vi?”, ajak Alvin yang mau tak mau membuat gadis itu kembali ke kesadarannya.

*****

Malam ini, Cakka merasa jauh lebih baik. Pertemuannya dengan Ozy tadi sore telah mengubah semuanya. Dia sudah mengerti sekarang. Dia sudah yakin kalau Agnilah yang dimaksud Ozy kemarin sore.

Untuk: Bro Alvin
Hai bro! Sorry baru bales

Usai mengirim pesan singkatnya, dia bergegas ganti baju dan mempersiapkan buku untuk jadwal pelajaran besok. Tak lama kemudian,

Dari: Bro Alvin
Ya? Haha :D Besok di sekolah, gue tunggu lo!

Besok? Ya! Alvin memang selalu ada di saat yang tepat. Usai membaca balasan pesannya, Cakka kembali melanjutkan persiapannya. Tidak hanya buku, dia juga mempersiapkan hal-hal lain yang rencananya akan ia lakukan di esok hari.


TO BE CONTINUED

Yap yap yap gue kembali!
Seneng deh Alvin udah bisa sekolah lagi hihihihi :D
Entah kenapa gue jadi suka banget sama karakternya Agni, yaa semacam cewek easygoing yang setia gitu. Gue juga jadi suka sama Cakka yang mulai sadar sama perasaannya Agni. Yaa~~ tunggu aja yaa kisah cinta mereka disini hihihihi :D
Jangan lupa komennya yaa :p

I hope you like it, guys!
See you on next part!!!

Tidak ada komentar: