Malam ini, Cakka merasa jauh lebih baik. Pertemuannya dengan
Ozy tadi sore telah mengubah semuanya. Dia sudah mengerti sekarang. Dia sudah
yakin kalau Agnilah yang dimaksud Ozy kemarin sore.
Untuk: Bro Alvin
Hai bro! Sorry baru
bales
Usai mengirim pesan singkatnya, dia bergegas ganti baju dan
mempersiapkan buku untuk jadwal pelajaran besok. Tak lama kemudian,
Dari: Bro Alvin
Ya? Haha :D Besok di
sekolah, gue tunggu lo!
Besok? Ya! Alvin memang selalu ada di saat yang tepat. Usai
membaca balasan pesannya, Cakka kembali melanjutkan persiapannya. Tidak hanya
buku, dia juga mempersiapkan hal-hal lain yang rencananya akan ia lakukan di
esok hari.
*****
Suasana pagi ini benar-benar sunyi. Apalagi di dalam mobil
sedan berwarna silver yang tengah melaju menyusuri jalanan ibu kota. Berdua,
papa dan anak tirinya itu masih setia dalam diam.
Ini adalah kali pertama papa mengantar Alvin ke sekolah.
Rencana ibu untuk mendekatkan dirinya dengan Alvin terasa sangat sulit. Apalagi
sejauh ini, anak itu sama sekali tidak pernah mengobrol dengannya. Kalaupun
bicara, pastilah hanya berkisar tentang pengobatan dan kondisinya. Itupun hanya
beberapa kali dalam sebulan.
Berbeda dengan papa yang terlihat tegang dan bingung untuk
mengatasi keheningan di antara mereka, Alvin justru asik dengan dirinya
sendiri. Dengan lincah, jemari tangannya mengetik pesan untuk Shilla. Dia
memerintahkan Shilla untuk menyiapkan rapat sepulang sekolah nanti. Setidaknya
dia harus meminta maaf pada rekan-rekan OSISnya. Dan mau tak mau, dia juga harus
berterimakasih banyak pada Duto yang telah menggantikannya sejauh ini.
“Ehm ... papa rasa kita harus mendengarkan sedikit musik”,
Alvin menoleh sejenak lalu kembali bermain dengan ponselnya.
“Nah, ini sedikit lebih baik”, gumam papa sambil kembali
memusatkan diri pada jalanan yang ia tempuh.
Usai mengirim pesannya, Alvin menoleh ke sebelahnya. Walau
semua orang menyebutnya sebagai anak dokter, dan memanggil orang yang
bayangannya kini memenuhi bola matanya itu sebagai papanya. Tapi Alvin sama sekali
tidak merasakan hal itu. Sekeras apapun ia mencoba untuk menerima pria itu,
semuanya tetap sama. Dia selalu gagal.
Sadar akan tatapan Alvin yang terpusat pada dirinya, papa
menarik dan membuang nafasnya dengan cepat. Entah kenapa tatapan anak itu
membuatnya menjadi sangat gugup. Mata sipit itu terlihat begitu bersinar, sama
seperti milik ayahnya dulu. Ya, ayah Alvin dan papa memang sudah bersahabat
sejak lama. Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa papa menikah dengan
ibunya Alvin. Dia merasa kalau dirinyalah yang bertanggung jawab atas kedua
orang tersebut.
“Aku suka lagu ini”, seru Alvin sambil mengalihkan
pandangannya keluar jendela mobil. “Dulu, ibu selalu menyanyikannya untukku”.
Pelan, Alvin bergumam mengikuti nada yang mengalun lembut di
telinganya. Lagu kasih ibu khas anak-anak itu membuatnya kembali bernostalgia
dengan berbagai hal yang telah dilaluinya bersama ibu. Mulai dari ibu yang
selalu hadir untuk menemaninya, ibu yang berjuang untuk mengobatinya, dan ibu
yang akhirnya memutuskan untuk membuat keluarga baru bersama dengan pria yang
kini ada di sebelahnya.
“Apa dokter masih mencintai ibuku?”, tanya Alvin yang membuat
papa menghentikan mobilnya seketika.
“Ah, maaf ...”, sesal papa yang kembali melajukan mobilnya.
“Lupakan saja, aku rasa pertanyaan itu terlalu menyebalkan”,
sahut Alvin yang malah memperkeruh hubungan mereka berdua.
*****
“Kamu kenapa bisa terlambat kayak gini sih, Vi?”, omel mama
pada anak perempuannya yang terlihat berantakan. Sangat berantakan untuk
seorang pelajar yang akan berangkat ke sekolahnya.
“Emangnya kamu tidur jam berapa sampai telat kayak gini?”,
timpal papa.
Sivia yang masih sibuk menata dasi dan rambutnya dengan
mulut yang penuh dengan nasi goreng tak bisa menjawab satu pun dari pertanyaan
kedua orang tuanya.
“Jangan bilang kamu abis nonton drama-drama korea? Atau
jangan-jangan kamu abis nonton video konser dari boyband-boyband itu?”, tanya
Iyel yang malah terdengar sebagai tuduhan yang menyudutkan.
Dengan segelas air putih, gadis itu berhasil menelan nasi gorengnya.
Dia meraih tasnya, lalu memukul Iyel dan berlari meninggalkan ruang makan. Ya,
tanpa menjawab ketiga pertanyaan tadi.
Papa dan mama hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak
perempuan mereka. Setidaknya gadis itu berhasil membuat kakaknya mengucapkan kalimat pertamanya setelah dua hari diam tak mau bicara.
*****
Seperti biasa, Agni diantar oleh Ozy. Semenjak liburan ke
Indonesia, adik laki-lakinya itu memang telah menjelma menjadi supir pribadi
yang selalu setia menemani perjalanannya. Tapi hari ini sedikit berbeda.
“Nanti jangan sampai telat yah”, ucap Ozy mengingatkan.
Hari ini akan menjadi hari terakhirnya di Indonesia, karena
nanti sore dia akan kembali pergi untuk melanjutkan sekolahnya di luar negeri.
Mendengar hal itu, membuat Agni terdiam dalam waktu yang
cukup lama. Waktu satu bulan yang mereka habiskan bersama terasa begitu cepat.
Dia bahkan belum sempat mengajak Ozy untuk berjalan keliling Jakarta. Dia
memang kakak yang payah.
“Yakin, gak perlu gue jemput? ... Loh, elo nangis kak?”,
tanya Ozy sambil mengangkat poni kakaknya.
“Ih apaan sih lo”, kesal Agni yang segera mengambil tissue
dan mengelap air matanya.
“Tuh, di hidung lo juga ada air mata”
Dengan mulut yang cemberut, Agni mengelap hidungnya. “Ini
bukan air mata tau!”, omelnya sambil menarik sisa ‘air mata’ itu kembali ke
tempatnya.
“Ih jorok lo!”, teriak Ozy jijik.
Masih dengan mata yang menangis, gadis itu tertawa. Dia
pasti akan sangat merindukan adik satu-satunya ini.
*****
Masih tentang adik. Kini giliran Duto yang mengkhawatirkan
adiknya. Ya, adik yang lahir lima menit setelahnya.
“Hari ini aku ada rapat OSIS, kamu gapapa kan kalo pulang
sendirian?”
“Iya, kamu tenang aja”
“Yakin, gak mau tungguin aku?”
“Enggak usahlah. Lagian kalo kamu anter aku dulu, kamu
pulang jadi tambah malam kan?”
“Hehe, terimakasih yah! Kamu pengertian banget!”, dan
belaian itu kembali dipertontonkannya.
Semenjak kejadian kecupan tidak sengaja usai pensi sekolah
itu, perhatian Duto kini hanya tertuju pada mereka berdua. Dan bila di hitung,
hari ini Rio sudah tiga kali memegang tangan Ify, sepuluh kali membelai
rambutnya, dan dua puluh lima kali tersenyum padanya. Entah itu di pintu
gerbang komplek rumah mereka, di parkiran sekolah tadi pagi, dan di kantin saat
istirahat ini. Benar-benar menggelikan!
“Dor ...!”, teriak seorang perempuan dari belakang dan malah
mendudukan dirinya di sebelah Duto yang masih tetap fokus untuk menatap
pemandangan di samping kirinya.
“Elo liatin siapa sih?”, tanya gadis itu penasaran sambil
mengikuti arah pandangan sahabat barunya itu.
“Astaga!”, teriakan cewek itu kembali terdengar dan kali ini
membuat beberapa dari sebagian pengunjung kantin memandang mereka berdua.
Duto yang lelah dengan tingkah Agni itu akhirnya bangkit
berdiri dan meninggalkannya. Tapi Agni malah ikut bangkit berdiri dan mengikuti
langkahnya.
“Tunggu sebentar”, usai beberapa langkah gadis itu menahan
tangannya. Membuatnya berbalik dan menatapnya.
“Apa?”
“Jangan bilang kalau elo suka sama Ify! Astaga, jadi selama
ini elo itu jealous sama mereka
berdua?”
Duto membulatkan matanya. Agni memang gadis yang gila.
“Gue rasa, elo kurang minum”, Duto kembali melanjutkan
langkahnya dan meninggalkan Agni yang diam dan berusaha mencerna kata-katanya. Kurang minum?
Sementara itu, ada Cakka yang sejak tadi memperhatikan
gerak-gerik gadis itu dan tertawa geli di dalam hatinya. Agni memang cewek
paling konyol yang pernah ia temui. Dan sikap Duto tadi benar-benar membuatnya
merasa lebih baik. Mereka memang tidak lebih dari sahabat. Jadi setidaknya, dia
masih memiliki kesempatan.
“Ikut gue!”, seru orang lain yang tiba-tiba menarik
tangannya
“Ta tapi kan Vin, kita belom makan sama sekali”, bela Cakka
yang malah diabaikan olehnya.
“Nih, gue udah minta dibungkus”, Cakka pun melirik ke dua
kantong plastik yang ada di tangan kurus itu.
*****
Sambil mengunyah makanan, dua cowok berwajah tampan itu
duduk dan mendengarkan setiap penjelasan dari gadis bermata indah itu. Walau
sebenarnya, mereka sama sekali tidak paham dengan maksud darinya.
“Jadi, intinya gue udah bikin tentang asal dan pengertian
orang yang terkena penyakit kanker”, ujar Sivia usai menjelaskan semua hasil
kerja kerasnya semalaman pada Cakka dan juga Alvin.
“Terus, tugas gue apa Vi?”, tanya Cakka yang merasa kalau
dialah yang paling tidak kerja di kelompok ini sejak awal.
“Nah, elo harus cari tentang gejala-gejala dari penderita
kanker”
“Tapi Vi ...”
Sivia yang tahu dengan maksud Alvin, segera menatapnya dan
mencoba meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Toh ini memang tujuannya.
Dia mau kalau Cakka dan semua orang terdekat kekasihnya itu tahu tentang
penyakit yang dideritanya sejak lama.
“Oke, gue suka tugas gue”, seru Cakka yang membuat Alvin tak
bisa berbuat apa-apa.
“Oke, nah kalo Alvin ... gue rasa elo harus cari tentang artikel
salah satu penderita kanker”
“Vi ...”, kini nada Alvin meninggi.
“Gapapalah Vin, elo tinggal cari di internet aja kok”, Cakka
membela Sivia yang membuat Alvin tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Yaudah, nih kalian bisa cari di laptop gue. Gue ke kantin
dulu yah!”
Belum sampai berlalu dari pintu kelas, gadis itu membalikan
badannya lalu menatap Alvin dengan lekat. “Aku makan dulu ya sayang!”, ucapnya
lalu benar-benar berjalan ke kantin.
*****
Alvin meninggalkan makanannya lalu memfokuskan dirinya ke
layar laptop berwarna merah muda milik kekasihnya. Keputusan gadis itu sudah
keterlaluan. Dia tahu kalau Sivia memiliki tujuan yang baik untuknya. Tapi
membahas tentang kanker ... dia tidak mau kalau yang lainnya menjauh dan
meninggalkannya. Dia tidak mau kalau entah Cakka atau Rio atau teman-temannya
yang lain menjadi kecewa dengannya.
“Vin, gue mau ngomong”, ucap Cakka sambil melanjutkan
makanannya dengan sisa makanan Alvin. Menjalankan tugasnya sebagai sahabat yang
membantu sahabatnya. Termasuk menghabiskan makan siangnya.
“Ngomong apaan?”, Alvin meninggalkan laptop lalu mendekat
dan duduk di sebelah Cakka.
“Gu ... gue ... em gue mau putus Vin”, ucap Cakka pelan
berharap tidak ada siswa selain Alvin yang mendengarkannya.
“Sama Shilla?”, sahut Alvin tak kalah pelan.
Cakka mengangguk.
“Kenapa?”
Cakka menundukkan wajahnya, menatap nasi beserta ayam goreng
dengan sayuran yang ada di hadapannya saat ini. Perasaan bersalah itu terasa
begitu menyesakkan. Bagaimana dia menyatakan perasaannya pada Shilla dulu,
bagaimana dia yang terobsesi pada Shilla, dan bagaimana pikirannya dulu hanya
untuk Shilla. Tapi kini, semua hilang tanpa bekas.
“Yaudah, putus aja”, jawab Alvin usai mendengar penjelasan
dari Cakka.
“Tinggalin Shilla?”
“Ya, iya. Kalau emang gak cinta, buat apa dipertahanin?
Lagian tadi elo bilang, elo liat dia jalan sama cowok lain kan?”
Cakka kembali menundukkan, pula kembali menatap hidangan
yang ada di hadapannya. Putus?
“Jadi cowok tuh harus bisa ambil keputusan, Cak”, ucap Alvin
yang kembali menuju laptop merah muda tadi.
“Udah jangan diliatin aja, nanti suka sama nasi tau rasa
lo!”, seru Alvin yang malah membuahi lemparan kertas dari Cakka.
Cakka menghabiskan makanannya dengan cepat, lalu bergabung
dengan Alvin. Dia duduk di sebelah sahabatnya itu.
“Gue masih gak ngerti kenapa si Sivia nafsu banget sama tema
kita”
Alvin menatap Cakka lekat. “Apa elo gak suka sama tema
kita?”, dengan penuh keberanian dia bertanya.
“Gue takut sama orang sakit”
“Ta ... takut?”
Cakka balik menatap Alvin. “Emang lo gak takut sama orang
sakit? Gak takut kalo tiba-tiba orang itu pergi dan tinggalin kita?”, tanya Cakka yang
berhasil membuat Alvin mematung seketika.
Takut? Jadi selama ini, dia adalah orang yang menakutkan?
Alvin menarik nafasnya dalam lalu mengalihkan pandangannya ke layar laptop.
Tak lama kemudian, bel masuk tanda istirahat pun berakhir.
*****
Bel sekolah berbunyi, beberapa siswa bergegas berlari
kembali ke rumah mereka. Apalagi langit terlihat lebih gelap dari biasanya.
Angin yang biasa lenyap karena sinar mentari terasa begitu dingin, membuat
keyakinan mereka akan hujan yang akan datang semakin besar.
Tapi tidak semua dari siswa memilih untuk pulang. Ada juga
yang memilih untuk bermain sebentar, ada yang berlatih untuk lomba seperti
anak-anak basket atau mungkin ada yang menunggu hingga rapat OSIS selesai
seperti yang dilakukan Cakka yang kini duduk asik di perpustakaan atau juga ada
yang berkumpul untuk rapat OSIS.
“Sore semuanya”, Alvin yang kali ini mengenakan jaket tebal
itu memulai rapat OSIS.
Perlahan, dia menatap semua anggotanya satu per satu. Mulai
dari ketua-ketua ekskul, lalu ketua-ketua seksi bidang, hingga para pengurus
utama dan yang terakhir ialah wakilnya disini.
"Sebelumnya gue mau minta maaf karena udah pergi selama satu minggu lebih. Gue udah jadi ketua yang gak bertanggung jawab. Bahkan gue gak ada disaat sekolah kita ulang tahun. Maafin gue”, ucap Alvin
sambil membungkukkan tubuhnya.
Semua siswa disana menatap haru tindakan Alvin. Walau mereka
juga tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada cowok yang semakin
hari terlihat semakin pucat itu. Tapi tatapan dan perkataannya telah
membuktikan kalau dia benar-benar merasa bersalah atas sikapnya selama ini.
Usai meminta maaf, Alvin kembali melanjutkan rapat mereka
yang akan mengulas tentang kegiatan pensi beberapa hari yang lalu. Dia juga
membahas tentang kegiatan LDK yang akan diadakan beberapa minggu lagi.
From: Cakka :*
Kamu dimana? Aku
tunggu kamu di taman belakang ya! Ada yang mau aku omongin
Di sela-sela rapat, Shilla melihat ponselnya dan sedikit
terkejut dengan pesan dari Cakka. Dengan cepat, dia membalas pesan tersebut.
To: Cakka :*
Aku lagi rapat. Iya,
tunggu aku disana yah!
*****
Setelah menyelesaikan rapat, Alvin masih duduk disana
bersama dengan Duto. Sebagai wakil yang telah menjalankan tugas ketuanya, Duto
melaporkan setiap hal yang telah terjadi selama kepergian Alvin.
“Gue tau ini aneh, tapi ... thanks ya bro!”, ujar Alvin
sambil menyikut tangan Duto yang duduk di sebelahnya.
Duto menatap Alvin datar. Lalu kembali melanjutkan
pembicaraannya yang terpotong dengan ucapan aneh dari cowok aneh.
“Gue rasa LDK harus diikuti sama semua anak baru. Gak cuma
mereka yang bakal jadi OSIS. Ya, walaupun jumlahnya jadi banyak banget. Tapi
... gue rasa ini perlu dan penting buat mereka nantinya”, ujar Duto sambil
terus memperhatikan lembaran-lembaran kertas yang baru tadi siang diberikan kepala
sekolah.
“Em ... gimana menurut lo?”, tanyanya pada Alvin yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.
“Elo sakit, Vin?”, tanyanya lagi saat tubuh Alvin bergetar
kedinginan.
TO BE CONTINUED
Yap~ ini dia part 28nya ...
Gak tahu kenapa sebenernya gue maunya kalo Agni itu jadian sama Duto hehehehe :D Tapi lagi-lagi gue kasian sama Cakka yang kayak diphpin sama si Shilla. Jadi yaa tunggu di part selanjutnya yaaa!!! Hehehehhe
Oh iya! Buat kalian yang punya akun gmail dan mau jadi orang pertama yang tau kalo gue posting di blog ini, jangan lupa klik tombol join us yang ada di kolom followers yaaaa~~~ Eitss .. jangan lupa komennya juga yaaa!
Sekian...
I hope you like it, guys!
See you on next part!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar