Minggu, 25 Oktober 2015

Lentera Hati *Part 28*

Malam ini, Cakka merasa jauh lebih baik. Pertemuannya dengan Ozy tadi sore telah mengubah semuanya. Dia sudah mengerti sekarang. Dia sudah yakin kalau Agnilah yang dimaksud Ozy kemarin sore.

Untuk: Bro Alvin
Hai bro! Sorry baru bales

Usai mengirim pesan singkatnya, dia bergegas ganti baju dan mempersiapkan buku untuk jadwal pelajaran besok. Tak lama kemudian,

Dari: Bro Alvin
Ya? Haha :D Besok di sekolah, gue tunggu lo!

Besok? Ya! Alvin memang selalu ada di saat yang tepat. Usai membaca balasan pesannya, Cakka kembali melanjutkan persiapannya. Tidak hanya buku, dia juga mempersiapkan hal-hal lain yang rencananya akan ia lakukan di esok hari.


*****

Suasana pagi ini benar-benar sunyi. Apalagi di dalam mobil sedan berwarna silver yang tengah melaju menyusuri jalanan ibu kota. Berdua, papa dan anak tirinya itu masih setia dalam diam.

Ini adalah kali pertama papa mengantar Alvin ke sekolah. Rencana ibu untuk mendekatkan dirinya dengan Alvin terasa sangat sulit. Apalagi sejauh ini, anak itu sama sekali tidak pernah mengobrol dengannya. Kalaupun bicara, pastilah hanya berkisar tentang pengobatan dan kondisinya. Itupun hanya beberapa kali dalam sebulan.

Berbeda dengan papa yang terlihat tegang dan bingung untuk mengatasi keheningan di antara mereka, Alvin justru asik dengan dirinya sendiri. Dengan lincah, jemari tangannya mengetik pesan untuk Shilla. Dia memerintahkan Shilla untuk menyiapkan rapat sepulang sekolah nanti. Setidaknya dia harus meminta maaf pada rekan-rekan OSISnya. Dan mau tak mau, dia juga harus berterimakasih banyak pada Duto yang telah menggantikannya sejauh ini.

“Ehm ... papa rasa kita harus mendengarkan sedikit musik”, Alvin menoleh sejenak lalu kembali bermain dengan ponselnya.

“Nah, ini sedikit lebih baik”, gumam papa sambil kembali memusatkan diri pada jalanan yang ia tempuh.

Usai mengirim pesannya, Alvin menoleh ke sebelahnya. Walau semua orang menyebutnya sebagai anak dokter, dan memanggil orang yang bayangannya kini memenuhi bola matanya itu sebagai papanya. Tapi Alvin sama sekali tidak merasakan hal itu. Sekeras apapun ia mencoba untuk menerima pria itu, semuanya tetap sama. Dia selalu gagal.

Sadar akan tatapan Alvin yang terpusat pada dirinya, papa menarik dan membuang nafasnya dengan cepat. Entah kenapa tatapan anak itu membuatnya menjadi sangat gugup. Mata sipit itu terlihat begitu bersinar, sama seperti milik ayahnya dulu. Ya, ayah Alvin dan papa memang sudah bersahabat sejak lama. Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa papa menikah dengan ibunya Alvin. Dia merasa kalau dirinyalah yang bertanggung jawab atas kedua orang tersebut.

“Aku suka lagu ini”, seru Alvin sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. “Dulu, ibu selalu menyanyikannya untukku”.

Pelan, Alvin bergumam mengikuti nada yang mengalun lembut di telinganya. Lagu kasih ibu khas anak-anak itu membuatnya kembali bernostalgia dengan berbagai hal yang telah dilaluinya bersama ibu. Mulai dari ibu yang selalu hadir untuk menemaninya, ibu yang berjuang untuk mengobatinya, dan ibu yang akhirnya memutuskan untuk membuat keluarga baru bersama dengan pria yang kini ada di sebelahnya.

“Apa dokter masih mencintai ibuku?”, tanya Alvin yang membuat papa menghentikan mobilnya seketika.

“Ah, maaf ...”, sesal papa yang kembali melajukan mobilnya.

“Lupakan saja, aku rasa pertanyaan itu terlalu menyebalkan”, sahut Alvin yang malah memperkeruh hubungan mereka berdua.

*****

“Kamu kenapa bisa terlambat kayak gini sih, Vi?”, omel mama pada anak perempuannya yang terlihat berantakan. Sangat berantakan untuk seorang pelajar yang akan berangkat ke sekolahnya.

“Emangnya kamu tidur jam berapa sampai telat kayak gini?”, timpal papa.

Sivia yang masih sibuk menata dasi dan rambutnya dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng tak bisa menjawab satu pun dari pertanyaan kedua orang tuanya.

“Jangan bilang kamu abis nonton drama-drama korea? Atau jangan-jangan kamu abis nonton video konser dari boyband-boyband itu?”, tanya Iyel yang malah terdengar sebagai tuduhan yang menyudutkan.

Dengan segelas air putih, gadis itu berhasil menelan nasi gorengnya. Dia meraih tasnya, lalu memukul Iyel dan berlari meninggalkan ruang makan. Ya, tanpa menjawab ketiga pertanyaan tadi.

Papa dan mama hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak perempuan mereka. Setidaknya gadis itu berhasil membuat kakaknya mengucapkan kalimat pertamanya setelah dua hari diam tak mau bicara.

*****

Seperti biasa, Agni diantar oleh Ozy. Semenjak liburan ke Indonesia, adik laki-lakinya itu memang telah menjelma menjadi supir pribadi yang selalu setia menemani perjalanannya. Tapi hari ini sedikit berbeda.

“Nanti jangan sampai telat yah”, ucap Ozy mengingatkan.

Hari ini akan menjadi hari terakhirnya di Indonesia, karena nanti sore dia akan kembali pergi untuk melanjutkan sekolahnya di luar negeri.

Mendengar hal itu, membuat Agni terdiam dalam waktu yang cukup lama. Waktu satu bulan yang mereka habiskan bersama terasa begitu cepat. Dia bahkan belum sempat mengajak Ozy untuk berjalan keliling Jakarta. Dia memang kakak yang payah.

“Yakin, gak perlu gue jemput? ... Loh, elo nangis kak?”, tanya Ozy sambil mengangkat poni kakaknya.

“Ih apaan sih lo”, kesal Agni yang segera mengambil tissue dan mengelap air matanya.

“Tuh, di hidung lo juga ada air mata”

Dengan mulut yang cemberut, Agni mengelap hidungnya. “Ini bukan air mata tau!”, omelnya sambil menarik sisa ‘air mata’ itu kembali ke tempatnya.

“Ih jorok lo!”, teriak Ozy jijik.

Masih dengan mata yang menangis, gadis itu tertawa. Dia pasti akan sangat merindukan adik satu-satunya ini.

*****

Masih tentang adik. Kini giliran Duto yang mengkhawatirkan adiknya. Ya, adik yang lahir lima menit setelahnya.

“Hari ini aku ada rapat OSIS, kamu gapapa kan kalo pulang sendirian?”

“Iya, kamu tenang aja”

“Yakin, gak mau tungguin aku?”

“Enggak usahlah. Lagian kalo kamu anter aku dulu, kamu pulang jadi tambah malam kan?”

“Hehe, terimakasih yah! Kamu pengertian banget!”, dan belaian itu kembali dipertontonkannya.

Semenjak kejadian kecupan tidak sengaja usai pensi sekolah itu, perhatian Duto kini hanya tertuju pada mereka berdua. Dan bila di hitung, hari ini Rio sudah tiga kali memegang tangan Ify, sepuluh kali membelai rambutnya, dan dua puluh lima kali tersenyum padanya. Entah itu di pintu gerbang komplek rumah mereka, di parkiran sekolah tadi pagi, dan di kantin saat istirahat ini. Benar-benar menggelikan!

“Dor ...!”, teriak seorang perempuan dari belakang dan malah mendudukan dirinya di sebelah Duto yang masih tetap fokus untuk menatap pemandangan di samping kirinya.

“Elo liatin siapa sih?”, tanya gadis itu penasaran sambil mengikuti arah pandangan sahabat barunya itu.

“Astaga!”, teriakan cewek itu kembali terdengar dan kali ini membuat beberapa dari sebagian pengunjung kantin memandang mereka berdua.

Duto yang lelah dengan tingkah Agni itu akhirnya bangkit berdiri dan meninggalkannya. Tapi Agni malah ikut bangkit berdiri dan mengikuti langkahnya.

“Tunggu sebentar”, usai beberapa langkah gadis itu menahan tangannya. Membuatnya berbalik dan menatapnya.

“Apa?”

“Jangan bilang kalau elo suka sama Ify! Astaga, jadi selama ini elo itu jealous sama mereka berdua?”

Duto membulatkan matanya. Agni memang gadis yang gila.

“Gue rasa, elo kurang minum”, Duto kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Agni yang diam dan berusaha mencerna kata-katanya. Kurang minum?

Sementara itu, ada Cakka yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik gadis itu dan tertawa geli di dalam hatinya. Agni memang cewek paling konyol yang pernah ia temui. Dan sikap Duto tadi benar-benar membuatnya merasa lebih baik. Mereka memang tidak lebih dari sahabat. Jadi setidaknya, dia masih memiliki kesempatan.

“Ikut gue!”, seru orang lain yang tiba-tiba menarik tangannya

“Ta tapi kan Vin, kita belom makan sama sekali”, bela Cakka yang malah diabaikan olehnya.

“Nih, gue udah minta dibungkus”, Cakka pun melirik ke dua kantong plastik yang ada di tangan kurus itu.

*****

Sambil mengunyah makanan, dua cowok berwajah tampan itu duduk dan mendengarkan setiap penjelasan dari gadis bermata indah itu. Walau sebenarnya, mereka sama sekali tidak paham dengan maksud darinya.

“Jadi, intinya gue udah bikin tentang asal dan pengertian orang yang terkena penyakit kanker”, ujar Sivia usai menjelaskan semua hasil kerja kerasnya semalaman pada Cakka dan juga Alvin.

“Terus, tugas gue apa Vi?”, tanya Cakka yang merasa kalau dialah yang paling tidak kerja di kelompok ini sejak awal.

“Nah, elo harus cari tentang gejala-gejala dari penderita kanker”

“Tapi Vi ...”

Sivia yang tahu dengan maksud Alvin, segera menatapnya dan mencoba meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Toh ini memang tujuannya. Dia mau kalau Cakka dan semua orang terdekat kekasihnya itu tahu tentang penyakit yang dideritanya sejak lama.

“Oke, gue suka tugas gue”, seru Cakka yang membuat Alvin tak bisa berbuat apa-apa.

“Oke, nah kalo Alvin ... gue rasa elo harus cari tentang artikel salah satu penderita kanker”

“Vi ...”, kini nada Alvin meninggi.

“Gapapalah Vin, elo tinggal cari di internet aja kok”, Cakka membela Sivia yang membuat Alvin tak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Yaudah, nih kalian bisa cari di laptop gue. Gue ke kantin dulu yah!”

Belum sampai berlalu dari pintu kelas, gadis itu membalikan badannya lalu menatap Alvin dengan lekat. “Aku makan dulu ya sayang!”, ucapnya lalu benar-benar berjalan ke kantin.

*****

Alvin meninggalkan makanannya lalu memfokuskan dirinya ke layar laptop berwarna merah muda milik kekasihnya. Keputusan gadis itu sudah keterlaluan. Dia tahu kalau Sivia memiliki tujuan yang baik untuknya. Tapi membahas tentang kanker ... dia tidak mau kalau yang lainnya menjauh dan meninggalkannya. Dia tidak mau kalau entah Cakka atau Rio atau teman-temannya yang lain menjadi kecewa dengannya.

“Vin, gue mau ngomong”, ucap Cakka sambil melanjutkan makanannya dengan sisa makanan Alvin. Menjalankan tugasnya sebagai sahabat yang membantu sahabatnya. Termasuk menghabiskan makan siangnya.

“Ngomong apaan?”, Alvin meninggalkan laptop lalu mendekat dan duduk di sebelah Cakka.

“Gu ... gue ... em gue mau putus Vin”, ucap Cakka pelan berharap tidak ada siswa selain Alvin yang mendengarkannya.

“Sama Shilla?”, sahut Alvin tak kalah pelan.

Cakka mengangguk.

“Kenapa?”

Cakka menundukkan wajahnya, menatap nasi beserta ayam goreng dengan sayuran yang ada di hadapannya saat ini. Perasaan bersalah itu terasa begitu menyesakkan. Bagaimana dia menyatakan perasaannya pada Shilla dulu, bagaimana dia yang terobsesi pada Shilla, dan bagaimana pikirannya dulu hanya untuk Shilla. Tapi kini, semua hilang tanpa bekas.

“Yaudah, putus aja”, jawab Alvin usai mendengar penjelasan dari Cakka.

“Tinggalin Shilla?”

“Ya, iya. Kalau emang gak cinta, buat apa dipertahanin? Lagian tadi elo bilang, elo liat dia jalan sama cowok lain kan?”

Cakka kembali menundukkan, pula kembali menatap hidangan yang ada di hadapannya. Putus?

“Jadi cowok tuh harus bisa ambil keputusan, Cak”, ucap Alvin yang kembali menuju laptop merah muda tadi.

“Udah jangan diliatin aja, nanti suka sama nasi tau rasa lo!”, seru Alvin yang malah membuahi lemparan kertas dari Cakka.

Cakka menghabiskan makanannya dengan cepat, lalu bergabung dengan Alvin. Dia duduk di sebelah sahabatnya itu.

“Gue masih gak ngerti kenapa si Sivia nafsu banget sama tema kita”

Alvin menatap Cakka lekat. “Apa elo gak suka sama tema kita?”, dengan penuh keberanian dia bertanya.

“Gue takut sama orang sakit”

“Ta ... takut?”

Cakka balik menatap Alvin. “Emang lo gak takut sama orang sakit? Gak takut kalo tiba-tiba orang itu pergi dan tinggalin kita?”, tanya Cakka yang berhasil membuat Alvin mematung seketika.

Takut? Jadi selama ini, dia adalah orang yang menakutkan? Alvin menarik nafasnya dalam lalu mengalihkan pandangannya ke layar laptop.

Tak lama kemudian, bel masuk tanda istirahat pun berakhir.

*****

Bel sekolah berbunyi, beberapa siswa bergegas berlari kembali ke rumah mereka. Apalagi langit terlihat lebih gelap dari biasanya. Angin yang biasa lenyap karena sinar mentari terasa begitu dingin, membuat keyakinan mereka akan hujan yang akan datang semakin besar.

Tapi tidak semua dari siswa memilih untuk pulang. Ada juga yang memilih untuk bermain sebentar, ada yang berlatih untuk lomba seperti anak-anak basket atau mungkin ada yang menunggu hingga rapat OSIS selesai seperti yang dilakukan Cakka yang kini duduk asik di perpustakaan atau juga ada yang berkumpul untuk rapat OSIS.

“Sore semuanya”, Alvin yang kali ini mengenakan jaket tebal itu memulai rapat OSIS.

Perlahan, dia menatap semua anggotanya satu per satu. Mulai dari ketua-ketua ekskul, lalu ketua-ketua seksi bidang, hingga para pengurus utama dan yang terakhir ialah wakilnya disini.

"Sebelumnya gue mau minta maaf karena udah pergi selama satu minggu lebih. Gue udah jadi ketua yang gak bertanggung jawab. Bahkan gue gak ada disaat sekolah kita ulang tahun. Maafin gue”, ucap Alvin sambil membungkukkan tubuhnya.

Semua siswa disana menatap haru tindakan Alvin. Walau mereka juga tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada cowok yang semakin hari terlihat semakin pucat itu. Tapi tatapan dan perkataannya telah membuktikan kalau dia benar-benar merasa bersalah atas sikapnya selama ini.

Usai meminta maaf, Alvin kembali melanjutkan rapat mereka yang akan mengulas tentang kegiatan pensi beberapa hari yang lalu. Dia juga membahas tentang kegiatan LDK yang akan diadakan beberapa minggu lagi.

From: Cakka :*
Kamu dimana? Aku tunggu kamu di taman belakang ya! Ada yang mau aku omongin

Di sela-sela rapat, Shilla melihat ponselnya dan sedikit terkejut dengan pesan dari Cakka. Dengan cepat, dia membalas pesan tersebut.

To: Cakka :*
Aku lagi rapat. Iya, tunggu aku disana yah!

*****

Setelah menyelesaikan rapat, Alvin masih duduk disana bersama dengan Duto. Sebagai wakil yang telah menjalankan tugas ketuanya, Duto melaporkan setiap hal yang telah terjadi selama kepergian Alvin.

“Gue tau ini aneh, tapi ... thanks ya bro!”, ujar Alvin sambil menyikut tangan Duto yang duduk di sebelahnya.

Duto menatap Alvin datar. Lalu kembali melanjutkan pembicaraannya yang terpotong dengan ucapan aneh dari cowok aneh.

“Gue rasa LDK harus diikuti sama semua anak baru. Gak cuma mereka yang bakal jadi OSIS. Ya, walaupun jumlahnya jadi banyak banget. Tapi ... gue rasa ini perlu dan penting buat mereka nantinya”, ujar Duto sambil terus memperhatikan lembaran-lembaran kertas yang baru tadi siang diberikan kepala sekolah.

“Em ... gimana menurut lo?”, tanyanya pada Alvin yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.

“Elo sakit, Vin?”, tanyanya lagi saat tubuh Alvin bergetar kedinginan.


TO BE CONTINUED

Yap~ ini dia part 28nya ...
Gak tahu kenapa sebenernya gue maunya kalo Agni itu jadian sama Duto hehehehe :D Tapi lagi-lagi gue kasian sama Cakka yang kayak diphpin sama si Shilla. Jadi yaa tunggu di part selanjutnya yaaa!!! Hehehehhe

Oh iya! Buat kalian yang punya akun gmail dan mau jadi orang pertama yang tau kalo gue posting di blog ini, jangan lupa klik tombol join us yang ada di kolom followers yaaaa~~~ Eitss .. jangan lupa komennya juga yaaa!

Sekian...
I hope you like it, guys!
See you on next part!!

Tidak ada komentar: