Seminggu kemudian, pertandingan liga basket kembali
berlanjut. Dan SMA Jakarta yang telah melanjutkan langkahnya, akhirnya tiba di
laga final. Masih dengan Rio yang mengisi posisi kapten, mereka siap menjalani
pertandingan hari ini.
“Semangat ya Cak!”, pesan Alvin yang kini duduk di kursi
cadangan
Walaupun dia sudah berkali-kali memohon, baik pada Rio
maupun kak Steve. Tetap saja, dia tidak diperbolehkan. Apalagi sekarang kak
Steve tahu betul bagaimana kondisi anak didiknya itu. Jadi mau bagaimanapun, dia
tidak bisa membela Alvin seperti yang sudah-sudah.
Berbeda dengan Cakka yang mendapat dukungan dari sahabatnya,
Rio yang memang selalu punya hubungan buruk dengan Alvin hanya tersenyum kecut
sambil memasuki arena pertandingan. Hingga akhirnya, ada suara nyaring yang
terdengar.
“Rio, semangat yah!”, seru Ify yang sudah duduk manis di
kursi penonton paling depan. Rio pun membalas dengan senyuman sekaligus
lambaian tangannya.
Tak mau kalah dengan Ify, Agni ikut teriak dan melambaikan
tangannya jauh lebih semangat pada Cakka. Membuat Sivia yang duduk di antara
mereka berdua terkekeh geli.
Duto yang menjadi satu-satunya orang paling diam di stadium
hanya memusatkan perhatiannya pada Sivia yang malah tak memalingkan sedikit pun
dari pandangannya terhadap Alvin.
*****
Shilla menikmati liburannya hari ini. Pertandingan final
yang diadakan di sekolah, membuat para siswa dibebaskan dari jadwal pelajaran.
Dan tanpa ragu-ragu, dia menghabiskan hari ini bersama dengan Iyel yang kini
tengah memakan es krim vanila di sebelahnya.
Setelah pertemuan di cafe ketika hari hujan itu, hubungan
mereka menjadi lebih dekat. Iyel yang dulunya selalu setia untuk menjaga Shilla
sebagai adiknya, kini berubah menjadi Iyel dewasa yang mencintai dan tidak
pernah ingin meninggalkan Shilla. Dia ingin memiliki gadis itu sebagai
kekasihnya.
“Apa kamu suka sama aku, Shill?”, tanya Iyel pada Shilla
yang malah tertawa sendiri mendengarnya.
“Lho kenapa?”
“Ya, kalau aku gak suka sama kakak. Kenapa aku ada disini
buat temanin kakak, coba?”, sahut Shilla masih dengan tawanya yang ceria.
“Kalau gitu, apa kamu cinta sama aku?”, kali ini suara tawa
itu tidak terdengar lagi.
Tak mendengar jawaban dari orang yang berada di sebelahnya,
membuat Iyel juga ikut diam. Bayang-bayang kebersamaannya dengan Tania kembali
mewarnai pikirannya. Apa dia sudah berbuat dusta karena telah mengkhianati
cintanya pada Tania dengan memilih Shilla sebagai penggantinya?
*****
“Selamat yah!”, seru Alvin sambil memberikan botol air minum
pada Duto yang baru saja memasuki ruang ganti.
Duto memandang Alvin tajam, lalu kemudian merampas botol air
minum itu dan duduk di sebelah cowok bermata sipit itu sambil membuka
sepatunya.
“Shooting lo tadi keren banget”, komennya pada Duto yang
berhasil membawa kemenangan pada pertandingan ini.
Untuk kedua kalinya, Duto memandang Alvin dengan tajam.
“Thanks”, ucapnya sambil mengembalikan botol minumnya dan berlalu pergi menuju
loker pakaiannya.
Alvin tersenyum kecil melihat tingkah dingin sahabat barunya yang
entah sampai kapan bisa bertahan. Dia tahu persis, kalau sifat Duto yang
sebenarnya adalah jauh berbeda dari apa yang selama ini nampak dari dirinya.
Kejadian yang membuat semuanya telah terbuka itu membuat
Alvin sadar kalau alasan Duto yang selama ini selalu berusaha untuk menjadi
rivalnya bukanlah untuk menjatuhkannya, melainkan untuk membuat dirinya tidak
pantang menyerah dan berusaha untuk menjadi yang terbaik di dalam hidupnya.
“Jangan pernah buat orang-orang yang udah berkorban buat lo
merasa kalo pengorbanannya itu percuma”, begitulah kata-kata Duto beberapa hari
yang lalu ketika ia dan dia bersama-sama membahas rencana untuk LDKS yang akan
diadakan tiga hari lagi. Dan Alvin tidak akan pernah melupakannya.
*****
Shilla menundukkan wajahnya dan menatap es krim yang kini
meleleh di tangannya. Cinta? Apa Iyel benar-benar akan menjadi kekasihnya?
“Maafin aku, Shill. Aku udah buat kamu kaget kayak gini”,
ucap Iyel sambil tersenyum tipis.
Dia yakin kalau saat ini bukanlah saat yang tepat untuk
mereka berdua. Lagipula, bayang-bayang Tania itu masih belum mau pergi dari
kehidupannya. Dia takut kalau nantinya, dia malah menganggap Shilla sebagai Tania,
kekasihnya yang telah pergi mendahuluinya itu.
“Anggap ini gak pernah terjadi ya Shill”, lanjut Iyel yang
kembali menikmati es krimnya.
Gadis bermata bulat itu memandang laki-laki yang berada di
sebelahnya dengan hampa. Lagi-lagi, Iyel menundanya. Ingin rasanya ia berteriak
di depan wajah itu kalau dia juga mencintainya, kalau dia juga ingin menjadi
kekasihnya, ingin berada terus di sisinya.
“Oke”, jawab Shilla singkat walau sebenarnya ada serentetan
jawaban yang ingin dilontarkannya namun tak mampu diucapkannya.
*****
Cakka, Agni, Rio, Ify, Sivia, Alvin, serta Duto karena
permintaan dari Alvin, sudah berkumpul di salah satu meja panjang di kantin.
Hari ini pasangan baru –Cakka & Agni– akan mentraktir mereka makan siang.
Awalnya Duto yang bukan bagian dari persahabatan mereka tidaklah ikut serta,
namun karena Alvin dan Agni sudah dekat dengannya, mereka juga yang memaksanya
untuk bergabung.
“Eh jadinya gimana? Ceritain dong awalnya”, seru Ify
walaupun sudah berkali-kali mendengar cerita di bandara itu berulang-ulang kali.
“Iya, iya bener Ni. Ceritain dong. Apalagi yang bagian
orang-orang pada ngeliat ke arah lo”, tambah Sivia sambil terkekeh berdua
dengan Ify.
Alvin dan Rio yang tidak tahu apa maksud dari kekasihnya itu
hanya tertawa kecil, apalagi ditambah dengan wajah Agni dan Cakka yang langsung
berubah merah seketika. Sungguh menggelikan!
“Bawel lo ah! Udah sana makan! Gak gue bayar, tau rasa lo!”,
bentak Agni yang tidak sanggup mengurangi intensitas tawa mereka.
Duto yang sama sekali tidak merasa nyaman dengan kondisi
saat ini, menggeser kursinya dan berniat untuk pergi. “Gue duluan yah”.
“Lho, kenapa?”, tanya Ify spontan. Membuat Rio menatapnya
sekilas. Tidak biasanya, kekasihnya itu bicara dengan Duto.
“Gue gak enak ada disini. Makanan gue buat lo aja, Vin”,
serunya yang langsung beranjak menjauh.
“Gue gak suka bakso”, sahut Alvin lemah.
“Yaudah buat gue”, Cakka langsung mengambil makanan Duto dan
melahapnya cepat. Alvin dan yang lainnya pun dibuat tertawa kembali dengan
tingkahnya. Termasuk Agni yang sejak awal terus dilanda bad mood.
Namun, Ify masih memandang bahu saudaranya yang menjauh.
Kadang dia merasa kalau Duto sangat berubah, dia bahkan merasa kalau
hubungannya dengan Duto hanya sebatas saudara jauh yang bukan kembar. Karena
selama ini, dia tidak pernah merasakan ikatan dengan laki-laki yang lahir
bersama-sama dengannya itu.
“Ssst, liatin siapa?”, Rio menggeser tangan Ify.
“Hehe, bukan siapa-siapa”, sahutnya yang membuat Rio yakin
kalau ada suatu hubungan antara kekasihnya dengan Duto.
*****
Sejak awal pertandingan tadi pagi dimulai, hingga saat ini.
Ketika mereka berdua tengah di taksi untuk pulang kembali ke rumah, pandangan
Sivia tidak pernah mau lepas dari Alvin yang hari ini terlihat jauh lebih pucat
dari biasanya.
“Aku tambah ganteng yah?”, ucap Alvin yang mulai risih
dengan tatapan Sivia.
“Kamu yakin mau ikut LDKS?”, Sivia balik bertanya.
Alvin menarik nafasnya berat. Jujur, dia juga tidak tahu.
Akhir-akhir ini, Alvin selalu merasa kalau tubuhnya semakin payah. Sakit di
kepalanya semakin menjadi, badannya juga terasa semakin melemas, begitu juga
dengan ingatannya.
Perlahan, dia mulai melupakan hal-hal yang ada di
sekitarnya. Seperti saat ini, dia meminta Sivia untuk pulang bersamanya.
Padahal biasanya, papalah yang datang untuk menjemputnya. Syukurlah ada Sivia
yang mengabari papa kalau hari ini Alvin pulang bersamanya.
“Kan ada Cakka, Vi. Bukannya waktu itu kamu sendiri yang
pilih tema kelompok kita, supaya Cakka bisa lebih memahami kondisi aku?”
Kini giliran Sivia yang menarik nafasnya dengan berat. “Aku
khawatir sama kamu, Vin”, ucapnya lemah.
“Aku tahu itu, sayang”, balas Alvin sambil mengusap lembut
rambut Sivia lalu membiarkan kepala itu bersandar sejenak di bahunya.
“Tetaplah kayak gini, Vin. Jangan berubah, jangan pergi,
jangan lupakan aku”, ucap Sivia dalam hatinya.
*****
Dengan malas, Rio menghentikan motornya di depan gerbang perumahan
Ify. Seperti biasa, gadis itu meminta untuk menurunkannya di tempat ini.
“Kamu malu ya Fy, kalo aku anter sampai depan rumah kamu?”
Ify diam sesaat lalu kemudian menggeleng dengan cepat, “kamu
ngomong apaan sih Yo, mana mungkin aku malu punya pacar kayak kamu”, sahutnya.
“Kalau gitu, kenapa aku gak pernah boleh melewati gerbang
ini?”
“Aku ... aku dilarang Yo. Papa aku melarang aku
pacaran”, Ify berbohong.
“Tapi kan Fy ...”
“Maafin aku Yo, aku gak mau papa aku malah buat hubungan
kita berantakan”, sahut Ify yang kini beralih untuk memeluk Rio erat.
Rio menyerah. Setiap kali ia menanyakan tentang hal ini,
pastilah Ify akan memeluknya dan mengatakan kalau semua ini karena papanya.
Tapi, entah kenapa dia selalu yakin kalau ada hal lain yang menyebabkan hal ini
terjadi.
*****
Usai dari mentraktir para sahabat mereka, Cakka berniat
untuk mengajak kekasihnya itu pergi ke rumah sakit. Tadi, Sivia terus
mengingatkannya untuk tidak melupakan tentang tugas-tugas yang menjadi
bagiannya.
“Ni, papa kamu udah balik kan?”, tanya Cakka yang masih
fokus pada laju mobilnya.
Agni yang sejak tadi asik dengan ponselnya, hanya bisa
berdehem mengiyakan.
“Kalo gitu, kita kesana yah?”
“Ngapain?”
“Aku mau tanya tentang gejala-gejala penyakit kanker. Kan papa
kamu itu spesialis kanker, jadi ...”, Cakka menghentikan omongannya ketika
menyadari kalau tiba-tiba saja Agni menghentikan aktifitasnya dan menatapnya dekat dengan tatapan tak percaya.
“Ka ... kamu kenapa sih Ni?”, tanyanya ngeri sendiri.
Apalagi tatapan Agni terlihat tajam, seolah Cakka telah berbuat sesuatu yang
salah.
“Enggak papa, gue cuma bingung aja. Kok tumben?”, Agni mulai
menjauh dan bersikap senormal mungkin.
“Ya, ini kan tugas kelompok gue. Tentang kanker”
“Apa? Kalian jadi pilih tema itu?”, namun kenormalan tadi
pun gagal dengan satu teriakan ini.
Dengan pasti, Cakka mengangguk. Membuat Agni menarik nafas
panjang. Sivia benar-benar ...
*****
“Gue gak suka elo sama Rio”, ucap Duto sambil menuruni anak
tangga.
Ify menoleh dan menatap saudaranya itu bingung. “Maksudnya?”
“Gue gak mau liat elo sedeket itu sama Rio”
“Maksud lo apaan sih? Elo gak suka sama Rio?”, tanya balik
Ify yang mulai kesal dengan perkataan Duto yang menentangnya.
Duto berjalan mendekati Ify, “elo tuh gak tau Rio siapa dan
bagaimana. Dia tuh anaknya kasar, Fy. Elo liat sendiri kan gimana hubungan dia
sama Alvin? Elo tahu kan gimana persahabatan mereka yang malah sering kita
lihat kayak permusuhan?”.
“Gue gak mau liat lo disakiti sama cowok macam dia”, simpul
Duto yang berlalu menuju ruang tengah.
Mendengar perkataan tadi, membuat gadis berdagu tirus itu
diam-diam tersenyum kecil. Walau terkesan menentang dan bertindak seenaknya,
tapi Ify selalu merasa kalau dibalik itu, Duto berusaha untuk menjaga dan
melindunginya.
“Gue janji, kalau gue gak akan disakiti sama Rio. Jadi, lo
tenang aja”, sahutnya pada Duto yang malah mengabaikannya dengan tontonan tv di hadapannya.
“Tapi, thanks ya”, lanjut Ify lalu beranjak pergi.
Sedangkan Duto tersenyum mendengarnya. Meski hubungan mereka
tidak terjalin dengan lekat. Tapi sebagai saudara kembar, mereka berdua terus
berusaha untuk saling peduli dengan cara tersendiri.
*****
Hari ini, papa menghabiskan waktu sepenuhnya di rumah sakit.
Kegiatan rutinnya untuk menjemput Alvin kembali ditingalkannya. Padahal sudah
berulang kali ia memberitahu anak tirinya itu, kalau setiap hari dialah yang
akan mengantar dan menjemputnya. Namun sudah tiga kali selama seminggu ini, dia
melupakannya.
“Bukan hanya tentang jemputan, dia juga sering lupa dimana
letak barang-barangnya. Dia lupa dimana ponselnya, dia lupa dimana sepatunya,
dia bahkan lupa dimana letak kamarnya”, ucap papa pada Surya –papanya Agni– di
ruang kerjanya.
“Apa sudah separah itu?”
Papa mengangguk lemah. “Aku belum siap kembali ditinggal
pergi”, ucap papa lebih lemah. Walau peluang hidup anak tirinya itu semakin
menipis, tapi dia selalu yakin kalau putranya itu masih memiliki peluang, meski
sedikit.
“Aku yakin, dia anak yang kuat. Lagipula, Alvin juga sudah
bertahan sejauh ini kan?”, hibur Surya yang kemudian disahuti oleh ketukan
pintu ruangannya.
Agni dan Cakka yang sudah tiba pun masuk ke dalam ruangan.
Sementara itu, papa beranjak untuk pergi meninggalkan mereka bertiga.
*****
“Jadi hari ini kamu naik taksi lagi?”, tanya ibu pada Alvin
yang baru saja tiba di rumah bersama dengan Sivia.
“Maaf bu, tapi tadi Alvin beneran lupa”, sahutnya penuh
sesal.
“Sorry tante, tapi Sivia harus pulang sekarang”, pamit Sivia
yang disahuti anggukan ramah dan ucapan terimakasih dari ibu.
Ibu yang mulai memahami tentang kondisi Alvin saat ini,
berusaha untuk menahan air matanya yang sejak awal sudah berusaha untuk
mengalir di wajahnya. “Ayo, masuklah”, ucapnya sambil memijat punggung putranya
lembut.
“Hai Vin!”, sapa Tasya yang sejak tadi menyiapkan makan
malam untuk mereka.
“Eh, kak Tania udah pulang kuliah?”, tanya Alvin yang malah
membuat ibu dan Tasya diam sesaat.
TO BE CONTINUED
Sesuai janji, gue kembali di minggu kedua hihihi :D
Iyel masih ragu nih tentang perasaannya ke Shilla yang cuma pelampiasan atau cinta beneran.
Rio juga udah mulai curiga tentang kebiasaan Ify yang gak pernah ijinin Rio buat mampir ke rumahnya, padahal kan mereka udah pacaran beberapa bulan.
Terus hubungan Cakka-Agni adalah couple yang paling gue suka disini hihihi :D padahal awalnya gue lebih prefer ke Alvia wkwkwk :D
Dan kasian Alvin ... kankernya udah mulai menyebar. Sebenarnya, gue gak tau gimana perkembangan orang yang sakit penyakit itu, tapi disini Alvin gue buat jadi lupa-lupaan gitu. Huhuhuhu gue juga bingung kenapa hihihi :D
Yaap .. ini komen gue ttg part ini .. Jadi, gue tunggu komen dari kalian yaaah!
I hope you like it, guys!
See you on next part!
6 komentar:
Next partnya jangan lama2 y kak ;)
Tetap keren!
Next kak! Makin keren:)
Ayo,, next partnya kak. Dua minggu niihh...
Cerbungnya udah jadi favorit aku. Makin bagus kaak
next part nya dong, jangan lama lama ya, semangat !!!
wow cerita yang keren ooo iya kak kalau ingin tahu tentang cara membuat toko online yukk disini saja. terimakasih
Yah kakak mah lanjt dong kak jangan biarin aku mati penasaran
Posting Komentar