“Yo, cepet ambil tisu Yo!”, seru Cakka pada Rio yang baru
saja membawa semangkuk air beserta dengan handuk kecil untuk kening Alvin.
“Badannya panas banget itu, Cak”, sahut Rio sambil
menyerahkan sejumlah tisu pada Cakka yang belum juga berhasil menghentikan
mimisan dari hidung Alvin.
“Vin, bangun Vin ...”, seru Cakka sambil sesekali menepuk
pipi pucat yang di pangkuannya.
“Vin, please
bangun Vin”, Cakka masih terus mengatakan hal yang sama. Sementara Rio terus
membolak-balik handuk kompres di kepala Alvin.
“Agni ...”, masih dengan mata yang terpejam Alvin membuka
mulutnya
“Kenapa, Vin?”
“Agni ... Cak ...”
Rio yang seolah paham maksudnya, langsung mengambil ponsel Cakka
yang ada di meja dekatnya. Dia mengutak-atik ponsel itu, hingga akhirnya
terdengar suara dari ujung sana.
*****
“Lho? Rio? Kenapa Yo?”, tanya Agni bertubi-tubi. Bagaimana
tidak? Ini nomor Cakka, dan yang menelpon adalah Rio. Apalagi jam sekarang
sudah menunjukkan waktu tengah malam. Bukannya
istirahat, malah ganggu gue aja nih, pikirnya.
“Alvin Ni”, sahut Rio disertai dengan suara samar Cakka yang
terus menerus memanggil nama Alvin
“Alvin ... gue gak tau dia kenapa. Gue tadi ... dia
tiba-tiba mimisan. Cakka bangunin gue ... Alvin, dia ...”
“Oke, gue kesana yah Yo”, Agni langsung memutuskan sambungan
telepon. Dia menyambar jaketnya lalu mengambil senter yang ada di atas meja.
Namun baru saja melangkah,
“Elo mau kemana, Ni? Rio kenapa?”, ucap suara parau yang
terbangun dari lelapnya
*****
“Alvin ... gue gak tau dia kenapa. Gue tadi ... dia
tiba-tiba mimisan. Cakka bangunin gue ... Alvin, dia ...”, Rio tau kalau sulit
bagi Agni untuk memahami maksud ucapannya. Tapi, dia pun tidak bisa berkata-kata
dengan baik di situasi yang sulit dijelaskan ini. Bahkan dia juga tidak mengerti
kenapa Alvin yang selama ini terlihat baik-baik bisa menjadi sekarat pada satu
malam.
Cakka masih terus mengelap darah di wajah Alvin. Usai
mengatakan dua kata tadi, cowok itu kembali diam. Tak ada suara yang terdengar,
selain dari erangan kecilnya. Cakka semakin khawatir, apalagi ditambah dengan
rangakaian cerita papanya Agni mengenai semua hal tentang penderita kanker yang
ia dengar waktu itu. Kenapa bisa semua hal tersebut sama dengan apa yang
dialami Alvin saat ini?
“Katanya dia mau kesini”, lapor Rio yang kembali meletakkan
ponsel Cakka di meja
Cakka menatap Rio dengan lekat. Dia hentikan kegiatan
mengelapnya, lalu menatap sahabatnya yang kini balik menatapnya bingung. “Gue
takut, Yo”, ucapnya yang langsung diikuti oleh aliran air bening yang turun ke
pipi tirusnya.
Rio diam. Posisi ini terlalu sulit untuknya. Alvin terlihat
begitu kesakitan dengan bercak-bercak darah yang memenuhi hampir separuh
wajahnya. Dan, Cakka pun terlihat begitu menyedihkan dengan air mata yang
dengan cepat membasahi pipinya.
“Lo kenapa sih, Cak? Udah deh, jangan bikin gue ngeri
sendiri. Mending sekarang elo bersihin tangan lo itu, dan lanjut bersihin muka
Alvin. Kayaknya darahnya juga udah berhenti keluar tuh”, ucapnya Rio yang juga
berusaha untuk menahan air matanya. Sebenarnya, dia juga merasakan takut
seperti Cakka. Meski tidak memiliki pikiran yang sama dengan Cakka, dia tetap
merasa kalau ada sesuatu yang salah dengan Alvin saat ini.
“Dia sakit Yo, Alvin sakit kanker!”, seru Cakka yang
berhasil membuat Rio kembali diam. Bukan hanya Rio, tapi juga Shilla yang baru
saja membuka pintu kamar mereka.
*****
Agni menatap wajah itu dengan penuh kekhawatiran. Beberapa
menit yang lalu, wajah itu terlihat begitu menyeramkan dengan bercak darah dan
warna pucatnya. Tapi kini, wajah itu terlihat begitu damai tanpa sedikit pun
suara erangan yang terdengar. Syukurlah papanya Alvin sudah menitipkan obat
tambahan untuk berjaga-jaga kalau kondisi putranya menurun, seperti saat ini.
Jam sudah menujukkan pukul tiga pagi, sudah satu jam
sejak mereka masuk ke kamar ini. Tapi baik Rio Cakka, maupun Shilla Agni, tidak
satu pun dari mereka yang bicara. Sampai akhirnya,
“Jadi, Alvin sakit? Dia sakit, Ni?”, tanya Shilla memecahkan
keheningan yang meliputi mereka
Rio yang dari tadi fokus pada Alvin, mengalihkan
pandangannya pada Agni. Begitu juga Cakka. Sibuk menangani Alvin, mereka sampai
lupa kalau Agni berhutang penjelasan pada mereka.
“Maafin gue”, sahutnya sambil mengangkat kedua telapak
tangan demi menutup wajahnya. Dia sudah tak mampu lagi menahan semua ini. Di
hadapan Cakka dan Rio, terutama. Mereka sudah lama bersahabat, tapi tak ada
satu pun dari dua cowok itu yang mengetahui hal ini.
Shilla yang tak ingin melihat temannya menangis, ikut duduk
di sebelah Agni. Dipeluknya gadis berambut sebahu itu dengan erat. Dia memang
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Alvin dan Agni. Dia juga tidak
tahu kenapa bisa Cakka berspekulasi kalau Alvin sakit kanker. Dia juga tidak
tahu kenapa wajah Rio terlihat begitu kaget ketika mendengar ucapan Cakka. Tapi
satu hal yang dia tahu, Agni sudah terlalu lelah untuk menjawab
pertanyaan bodohnya.
Berbeda dengan Shilla yang memeluk dan menenangkan gadis
itu, Rio dan Cakka hanya bisa mematung dan bersandar pada dinding kamar mereka.
Tubuh Alvin yang tengah terbaring itu terlihat sangat menyedihkan saat ini,
apalagi ditambah dengan permintaan maaf Agni tadi yang terdengar penuh
penyesalan. Semua ini terlalu sulit untuk dapat mereka pahami.
*****
Kring ... kring ... kringgg !!!
Suara sirine berbunyi, membangunkan seluruh peserta LDKS
untuk kembali melanjutkan kegiatan mereka di hari yang baru. Mentari kini sudah
berada pada posisinya, siap untuk menemani mereka dalam menjalani hari ini.
“Shill, bisa bantu gue bawa bola-bola ini?”, ucap Agni
selaku pemimpin games di pagi hari
ini
“Elo lucu pake kacamata, Ni”, hibur Shilla seraya membantu
gadis itu memindahkan bola warna-warni ke keranjang
Tadi malam terasa begitu melelahkan. Agni sudah mengeluarkan
air mata yang sangat banyak, dia bahkan tidak bisa tidur meski sudah kembali ke
kamarnya. Itulah sebabnya kenapa dia memakai kacamata hitam yang membuat semua
orang memandangnya. Termasuk Shilla yang seolah mengejeknya, padahal ia tahu
kalau gadis itu berusaha menceriakan suasana hatinya yang gelap.
*****
Wajah Agni yang selalu terlihat bersinar, kini terasa redup
meski terkena teriknya matahari pagi. Sejak tadi malam, Cakka menahan dirinya.
Jujur, dia sangat ingin memeluk kekasihnya itu sejak kejadian semalam. Dia ingin
membelai rambut pendek itu dan mendekapnya erat. Dia ingin memberitahu cinta
pertamanya itu kalau dia ada disisinya, kalau dia siap sedia membantunya dalam menghadapi semua ini. Tapi semua itu terasa begitu sulit. Dia bahkan tak bisa
maju beberapa langkah untuk membantunya yang terlihat kesusahan dengan
bola-bola yang dibawanya.
“Lagi marahan?”, tanya Duto yang tengah mendata beberapa
kelompok untuk games selanjutnya.
Menggantikan Alvin yang ijin sakit –kata Cakka dan Rio–.
“Bukan urusan lo”, cowok itu bangkit berdiri lalu kembali
melanjutkan kegiatan memungut sampahnya.
“Alvin sakit, Cak?”
Pertanyaan itu lagi,
gumam Cakka. Sejak semalam kalimat itu terus menghantuinya.
“Hem, dia lagi istirahat
di kamar. Kalo lo butuh bantuan, sama gue aja”, sahutnya ketus. Dia tidak mau
kalau kabar Alvin sakit menyebar kemana-mana. Cukup mereka berempat saja yang
mengetahuinya. Toh, masalah ini belum juga selesai kan.
“Dia kambuh?”
Cakka mematung. Sampah yang sudah dikumpulkan ditangannya,
kini jatuh berserakan.
“Bawa ke rumah sakit aja, mendingan”, lanjut Duto yang
lagi-lagi berhasil membuat hati Cakka mencelos. Duto tahu?
*****
“Maafin gue, Vin”
Flashback On
“Yo, oper Yo!”, seru Alvin seraya melambai-lambaikan
tangannya
“Yo, ayo!”, masih seruan Alvin yang terdengar
Rio memalingkan wajahnya lalu berusaha untuk melakukan three point dengan shooting jarak jauhnya. Dan bagaimana hasilnya? Tentu saja gagal.
Bagaimana mungkin, Rio yang saat ini masih memiliki tinggi 145 cm bisa
melakukan tembakan dari jarak yang begitu jauh?
“Payah lo Yo”, komen Alvin ketika mereka beristirahat di
kursi pinggir lapangan
“Tau lo Yo! Kan tadi Alvin udah teriak-teriak, segala
lambai tangan lagi. Elu kira Alvin teriak sambil lambai tangan ke siapa Yo? Ke
kamera?”, Cakka ikut menambahkan
“Kalo tadi elo lempar tuh bola ke gue, kita pasti gak
ketinggalan jauh kayak gini Yo”, cowok bermata sipit itu masih terus
mengeluarkan isi hatinya. Sementara cowok yang disebelahnya juga ikut pula
menambahkan setiap perkataannya.
Bruk! Rio melempar botol air mineralnya kasar. “Bawel lo
berdua! Lagian ini kan cuma pertandingan biasa doang, antar kelas buat seleksi tim. Kenapa ribet
banget sih?”, seru Rio yang berhasil membuat seluruh anggota tim kelas terdiam.
Tidak hanya kelas mereka, anggota tim kelas lain juga ikut terdiam.
“Elo jangan sok jagoan deh Vin! Elo pikir dengan gue oper
bola itu ke elo, elo bisa gampang nyetak gol buat kita? Elo pikir shooting-an elo itu akan selalu
berhasil, hah?”
“Tapi seenggaknya elo jangan main sendirian Yo! Oke, kalo lo
gak mau bagi bola itu ke gue karena elo gak suka sama gue. Tapi elo bisa kan
gak main sendirian kayak tadi? Ini tuh permainan tim, bukan tunggal!”, balas
Alvin tak kalah kencang
Jarak antara mereka hanya beberapa langkah, tapi teriakan
yang terdengar dari pertengkaran itu bahkan bisa sampai ke keluar arena
pertandingan. Bahkan mampu untuk memanggil seorang guru dari ruangannya.
“Udah Vin, udah Yo”, bisik Cakka sambil menarik tangan
mereka berdua. Dia tidak mau kalau kedua sahabatnya itu akan dihukum hanya
karena masalah sepele seperti ini.
Flashback Off
“Gue emang bukan sahabat yang baik buat elo, gue bahkan
enggak pernah menghargai elo. Yang gue lakuin cuma iri dan berusaha buat
ngalahin elo. Maafin gue, Vin”, lanjut Rio sambil mengganti kompresan di kepala
Alvin.
Sejah semalam, Rio tidak bisa tidur. Meski Agni dan Shilla
sudah kembali ke kamarnya, dan Cakka keluar kamar untuk mencari angin yang
dapat menyejukan isi hati dan kepalanya, Rio tetap berada disini bersama dengan
Alvin yang terlihat tenang dalam tidurnya. Dengan setia, dia terus mengganti
kompresan air es itu, demi menghilangkan demam yang belum kunjung menurunkan
derajatnya.
Tadi malam, Agni berjanji untuk menjelaskan semuanya besok.
Dia bilang kalau dia akan memaksa Alvin untuk menjelaskan semuanya bersama. Dia
juga bilang kalau mereka berdua sama sekali tidak memiliki maksud untuk
melukainya dan Cakka.
“Semalem Agni jelek banget, Vin. Rambutnya berantakan,
wajahnya juga ikut berantakan. Elo tau sendiri kan, gimana jeleknya tuh cewek
kalo lagi nangis. Badut aja kalah jeleknya”, Rio menyunggingkan senyumnya.
Berharap Alvin ikut terkekeh mendengar ucapannya.
Rio benar, gadis itu terlihat begitu lemah semalam.
Untunglah ada Shilla yang menemaninya. Kalau tidak, Agni pasti akan merasa
semakin hancur saat melihat sikap Cakka yang tak acuh padanya. Ditambah lagi
dengan wajah Rio yang terlihat begitu kecewa pada sahabat perempuannya itu.
“Gue juga nyalahin Agni karena udah ngerahasiain ini, gue
juga gak mau nyalahin elo Vin. Tapi ...”
Tangan Alvin bergerak. “Cak, gue haus”, ucapnya sambil
menyentuh pergelangan tangan Rio.
“Sekarang jam berapa? Elo gak balik ke rumah, Cak?”
TO BE CONTINUED
5 komentar:
Ayo lanjut lagi kak..Aku tetep tungguin kok
NEXT DONK loe tau gc siech udh dri taun kpan gw nunggu ni cb bsa di lnjutin lgiee next ya ya ya pliease ok semangat ngtikx
Lanjut kk
LANJUTINN DONG MASA SETAUN BARU LANJUT-_-
Lanjut dong. Penasaran nihh
Posting Komentar