Kamis, 07 Desember 2017

Lentera Hati *Part 38*

Suasana sepi dan tenang seketika sirnah, ketika suara lonceng berbunyi. Derapan langkah terdengar memburu, seakan mengejar waktu yang berharga.

"Elo udah pesen pizzanya?", tanya Cakka pada Rio yang ikut berlari di sebelahnya

"Ini abangnya udah otw ke rumah Alvin kok, nanti kita tinggal makan doang", sahut Rio sambil memperlihatkan ponselnya pada Cakka.

Sore ini mereka akan ke rumah Alvin. Setelah LDKS sebulan yang lalu, Alvin dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya semakin memburuk, dan harus mendapat perawatan yang insentif. Dia bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sepuluh hari.

Tapi hari ini, Alvin akan kembali. Rio dan Cakka bahkan sudah membelikan makanan kesukaannya.


"Yo! Gue ikut ya?", seru Ify seraya berlari menuju parkiran.

Rio menggeleng cepat, Ify tidak boleh tau kalau Alvin sakit.

"Jangan Fy! Em gue sama Cakka itu ada urusan yang penting banget"

"Iya gapapa, gue ikut ya? Gue gabut banget kalo langsung balik ke rumah"

"Tapi fy ..."

Rio menyerah, jawaban seperti apa lagi yang dapat dilontarkannya. Cakka yang pernah menghadapi masa sulit yang sama seperti itu, hanya bisa diam dibalik helm full facenya.

"Bareng gue aja, gimana Fy?"

"Gue juga lagi gabut nih. Shilla batalin janji nontonnya sama gue. Gimana kalo gue nonton sama lo aja?"

Sivia muncul laksana pahlawan. Syukurlah.

"Nah iya tuh bener. Vi, titip Ify yaa. Ayo Yo", ucap Cakka yang segera melesat dengan sepeda motornya.

"Gue titip Ify ya, Vi", tambah Rio yang juga ikut melesat.

*****

"Cakka sama Rio mau ke rumah lo. Mereka udah otw nih, Vin", ucap Agni setelah membaca pesan singkat di ponselnya.

"Kita udah pesenin pizza pake topping keju yang banyak, nanti elo boleh deh makan sepuasnya. Dua loyang buat lo juga gapapa"

Alvin melirik singkat, lalu tersenyum kecil. Dia kembali menghadap jendela mobil dan melihat lalu lalang kendaraan lainnya. Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya, dia akan terbebas dari bau obat-obatan dan juga dinding polos rumah sakit. Tapi hatinya berbeda.

"Mereka ... mereka gak akan takut sama gue kan Ni?", tanyanya lemah.

*****

Selepas kepergian Rio dan Cakka, Ify mengikuti langkah Sivia dengan setia. Sebenarnya hari ini dia tidak mau langsung pulang, karena papanya baru saja kembali dari luar kota. Dia hanya ingin berada di luar rumah seharian untuk menghindari papanya, ah tidak, menghindari pertengkaran papa dengan Duto maksudnya.

"Lah? Shilla?", Sivia membuka pintu mobilnya, dan ada Shilla disana.

Ify sama sekali tidak mengerti. Bukankah alasan Sivia mengajaknya karena Shilla membatalkan janji nonton mereka? Lalu kenapa gadis itu malah berada di mobil ini?

"Lah Vi? Kok ada Ify juga?", tanya Shilla gak kalah bingung.

"Kita anterin Ify dulu kak", ucap Sivia pada Iyel yang berada di kursi pengemudi. Entah apa yang harus dijelaskannya pada Ify, dia tidak tahu.

*****

Kamar yang sebelumnya didominasi oleh poster pemain NBA, kini bertambah ramai dengan hiasan beberapa balon dan pita. Tidak hanya itu, setumpuk kardus pizza juga sudah disiapkan lengkap dengan minuman bersoda.

"Ada lagi yang kurang?", tanya Steve sambil mengeluarkan cake dari kardus dan memasang beberapa lilin di atasnya.

"Kayaknya udah lengkap semua deh kak", balas Cakka usai menempel balon-balon di dinding kamar.

"Steve! Ayo pada turun, mereka udah mau sampai", seru Tasya dari lantai bawah.

Semua ini rencananya Tasya. Dia meminta bantuan sahabat-sahabat Alvin untuk membuat pesta kecil atas kembalinya Alvin ke rumah. Dia bahkan memasak berbagai jenis menu makanan kesukaan adiknya itu.

*****

Ify benar-benar bingung saat ini. Di sekolah tadi, Sivia membatalkan rencananya untuk tidak pulang ke rumah dan membohonginya mengenai Shilla. Lalu sekarang, temannya itu malah memaksa untuk berkunjung ke rumahnya.

Padahal belum pernah ada satu pun teman SMA Ify yang datang ke rumahnya. Bahkan Rio pun pernah bertengkar dengannya hanya karena masalah ini. Tapi saat ini, dalam beberapa langkah lagi, Sivia akan sampai ke rumahnya.

"Mereka berdua mau makan bareng, dan gak mungkin kita ikut mereka", ucap Sivia.

"Kali ini gue serius, gue gak bohong"

Sebenarnya, bisa saja Ify berteriak dan membentaknya. Memarahinya karena telah berbohong, dan mengusirnya. Tapi, wajah itu terlihat begitu memilukan. Cewek itu terlihat begitu menyedihkan saat ini.

"Maaf udah buat lo bingung", Sivia menghentikan langkahnya. Ify yang berjalan satu langkah di depannya pun ikut berhenti.

"Maaf gue udah bohong sama lo, maaf gue udah buat lo terganggu, maaf gue udah buat lo tersakiti, maaf ..."

Sivia menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata, dia bahkan sudah tidak sanggup berdiri dan terjatuh di aspal jalan. Gadis itu meminta maaf karena kebingungan yang dia timbulkan, tapi dia malah menimbulkan kebingungan yang lain.

"Ini semua salah gue, ini semua salah gue ... seharusnya gue gak ketemu sama dia, seharusnya gue gak pernah kenal sama dia, seharusnya saat itu gue naik taksi yang beda sama dia, seharusnya sekolah kita juga beda. Seharusnya ...", tangisan itu semakin keras.

"Seharusnya gue tetep sama Duto dan gak pernah jatuh cinta sama dia"

"Vi ... Sivia?", desah suara kecil dari kejauhan.

*****

Alvin menatap wajah mereka satu per satu. Mulai dari papa, ibu, Tasya, Steve, Agni, Cakka, hingga Rio. Setidaknya, sampai saat ini, otaknya masih mampu untuk mengingat nama-nama mereka.

"Kok diem aja sih? Ayo dong dimakan. Sini kakak suapin"

Tasya menyuapi Alvin, namun Alvin menahan tangan itu. "Aku mau ke kamar", ucapnya lemah.

"Oke, kita makan pizza yuk"

"Gue mau sendiri, Cak"

"Alvin, kamu ..."

"Alvin mohon bu, Alvin capek. Alvin mau istirahat. Alvin mau sendirian", sahutnya dengan nada yang meninggi.

"Biar gue anter, Vin"

"Gue bisa sendiri Yo!", kali ini suara itu mulai berteriak.

"Gue gak butuh kalian! Gue gak butuh bantuan kalian! Tinggalin gue sendirian!", teriak Alvin histeris. Dia bahkan melempar gelas yang ada di hadapannya ke dinding.

"Alvin, cukup!", kini papa yang turun tangan. Dia mendekap tubuh Alvin, dan menggendong anak itu ke kamarnya.

Ibu dan Tasya yang sempat melarang tindakan papa, terpaksa membiarkannya. Membiarkan papa mengambil alih untuk menenangkan anak itu.Ini bukan kali pertama Alvin seperti ini. Semenjak pulang dari LDKS, sikap anak itu mulai berubah. Tubuhnya yang semakin lemah, rambutnya yang sudah tak terlihat, membuat anak itu semakin terpuruk dalam kanker yang menggerogotinya. 

Alvin terus memberontak, tapi papa tetap membawanya. Diikuti oleh Agni, Rio, dan Cakka dari belakang. Sampai di tempat tidurnya pun, cowok itu tetap menangis sambil terus berteriak. Dia juga terus mengusir semua orang yang ada disana.

"Om mohon, tetaplah disini", ucap papa usai menyuntikan obat penenang pada tubuh putra tirinya itu.

*****

Matahari mulai terbenam, bersiap untuk istirahat. Langit pun telah berganti warna, menyambut kedatangan bulan. Semilir angin masih tetap sama. Berhembus dan menyejukan. Layaknya teman dikala sepi menerpa.

"Vi ... Sivia?", desah Duto dari balkon kamarnya.

Cowok itu segera meninggalkan acara minum teh sorenya, dan bergegas menolong mantan kekasihnya itu. Tapi tak lama, matanya menangkap sosok yang sudah tak asing lagi baginya. Ify?

Duto tak berkutik. Tubuhnya sudah bangkit berdiri, tapi kakinya enggan untuk melangkah. Hatinya ingin sekali membantu Sivia, tapi pikirannya terpaku pada saudara kembarnya.

Drrt drrt drrt

"To, cepet turun! Gue butuh bantuan lo nih. Via pingsan"

*****

Sudah satu jam papa meninggalkan mereka berempat, tapi belum ada satu gerak pun yang tercipta.
Cakka dan Rio masih diam berdiri menatap Alvin iba. Begitu juga dengan Agni. Sudah satu hari memandangi Alvin, namun gadis itu masih tidak bisa berpaling.

Sementara Alvin. Tubuhnya terbaring lemas tak berdaya. Efek suntikan tadi sangat terasa, tubuhnya yang sudah lemas menjadi semakin lemas.

Dengan bergantian, Alvin menatap ketiga sahabatnya. Rio yang terlihat penuh penyesalan. Cakka yang menahan air matanya. Dan Agni yang terus menghapus air matanya.

Tak hanya itu, Alvin juga mengalihkan arah pandangnya ke sisi yang lain. Ya, ada balon warna-warni di kamarnya. Pita-pita panjang juga terpajang rapi di segala sudut. Serta setumpuk kardus pizza yang lengkap dengan minuman bersoda. Di tambah dengan cake coklat di sebelahnya. Benar-benar menakjubkan.

"Gue putus sama Sivia", ucapnya pelan namun berhasil membuat ketiga orang yang ada di hadapannya membelalakan mata.

TO BE CONTINUED


Tidak ada komentar: