Suasana sepi dan tenang
seketika sirnah, ketika suara lonceng berbunyi. Derapan langkah
terdengar memburu, seakan mengejar waktu yang berharga.
"Elo udah pesen pizzanya?", tanya Cakka pada Rio yang ikut berlari di sebelahnya
"Ini abangnya udah otw
ke rumah Alvin kok, nanti kita tinggal makan doang", sahut Rio sambil
memperlihatkan ponselnya pada Cakka.
Sore ini mereka akan ke
rumah Alvin. Setelah LDKS sebulan yang lalu, Alvin dilarikan ke rumah
sakit. Kondisinya semakin memburuk, dan harus mendapat perawatan yang
insentif. Dia bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sepuluh hari.
Tapi hari ini, Alvin akan kembali. Rio dan Cakka bahkan sudah membelikan makanan kesukaannya.
"Yo! Gue ikut ya?", seru Ify seraya berlari menuju parkiran.
Rio menggeleng cepat, Ify tidak boleh tau kalau Alvin sakit.
"Jangan Fy! Em gue sama Cakka itu ada urusan yang penting banget"
"Iya gapapa, gue ikut ya? Gue gabut banget kalo langsung balik ke rumah"
"Tapi fy ..."
Rio menyerah, jawaban
seperti apa lagi yang dapat dilontarkannya. Cakka yang pernah menghadapi
masa sulit yang sama seperti itu, hanya bisa diam dibalik helm full
facenya.
"Bareng gue aja, gimana Fy?"
"Gue juga lagi gabut nih. Shilla batalin janji nontonnya sama gue. Gimana kalo gue nonton sama lo aja?"
Sivia muncul laksana pahlawan. Syukurlah.
"Nah iya tuh bener. Vi, titip Ify yaa. Ayo Yo", ucap Cakka yang segera melesat dengan sepeda motornya.
"Gue titip Ify ya, Vi", tambah Rio yang juga ikut melesat.
*****
"Cakka sama Rio mau ke rumah lo. Mereka udah otw nih, Vin", ucap Agni setelah membaca pesan singkat di ponselnya.
"Kita udah pesenin pizza pake topping keju yang banyak, nanti elo boleh deh makan sepuasnya. Dua loyang buat lo juga gapapa"
Alvin melirik singkat,
lalu tersenyum kecil. Dia kembali menghadap jendela mobil dan melihat
lalu lalang kendaraan lainnya. Seharusnya hari ini adalah hari yang
membahagiakan untuknya, dia akan terbebas dari bau obat-obatan dan juga
dinding polos rumah sakit. Tapi hatinya berbeda.
"Mereka ... mereka gak akan takut sama gue kan Ni?", tanyanya lemah.
*****
Selepas kepergian Rio
dan Cakka, Ify mengikuti langkah Sivia dengan setia. Sebenarnya hari ini
dia tidak mau langsung pulang, karena papanya baru saja kembali dari
luar kota. Dia hanya ingin berada di luar rumah seharian untuk
menghindari papanya, ah tidak, menghindari pertengkaran papa dengan Duto
maksudnya.
"Lah? Shilla?", Sivia membuka pintu mobilnya, dan ada Shilla disana.
Ify sama sekali tidak
mengerti. Bukankah alasan Sivia mengajaknya karena Shilla membatalkan
janji nonton mereka? Lalu kenapa gadis itu malah berada di mobil ini?
"Lah Vi? Kok ada Ify juga?", tanya Shilla gak kalah bingung.
"Kita
anterin Ify dulu kak", ucap Sivia pada Iyel yang berada di kursi
pengemudi. Entah apa yang harus dijelaskannya pada Ify, dia tidak tahu.
*****
Kamar
yang sebelumnya didominasi oleh poster pemain NBA, kini bertambah ramai
dengan hiasan beberapa balon dan pita. Tidak hanya itu, setumpuk kardus
pizza juga sudah disiapkan lengkap dengan minuman bersoda.
"Ada lagi yang kurang?", tanya Steve sambil mengeluarkan cake dari kardus dan memasang beberapa lilin di atasnya.
"Kayaknya udah lengkap semua deh kak", balas Cakka usai menempel balon-balon di dinding kamar.
"Steve! Ayo pada turun, mereka udah mau sampai", seru Tasya dari lantai bawah.
Semua
ini rencananya Tasya. Dia meminta bantuan sahabat-sahabat Alvin untuk
membuat pesta kecil atas kembalinya Alvin ke rumah. Dia bahkan memasak
berbagai jenis menu makanan kesukaan adiknya itu.
*****
Ify
benar-benar bingung saat ini. Di sekolah tadi, Sivia membatalkan
rencananya untuk tidak pulang ke rumah dan membohonginya mengenai
Shilla. Lalu sekarang, temannya itu malah memaksa untuk berkunjung ke
rumahnya.
Padahal
belum pernah ada satu pun teman SMA Ify yang datang ke rumahnya. Bahkan
Rio pun pernah bertengkar dengannya hanya karena masalah ini. Tapi saat
ini, dalam beberapa langkah lagi, Sivia akan sampai ke rumahnya.
"Mereka berdua mau makan bareng, dan gak mungkin kita ikut mereka", ucap Sivia.
"Kali ini gue serius, gue gak bohong"
Sebenarnya,
bisa saja Ify berteriak dan membentaknya. Memarahinya karena telah
berbohong, dan mengusirnya. Tapi, wajah itu terlihat begitu memilukan.
Cewek itu terlihat begitu menyedihkan saat ini.
"Maaf udah buat lo bingung", Sivia menghentikan langkahnya. Ify yang berjalan satu langkah di depannya pun ikut berhenti.
"Maaf gue udah bohong sama lo, maaf gue udah buat lo terganggu, maaf gue udah buat lo tersakiti, maaf ..."
Sivia
menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata, dia bahkan sudah tidak
sanggup berdiri dan terjatuh di aspal jalan. Gadis itu meminta maaf
karena kebingungan yang dia timbulkan, tapi dia malah menimbulkan
kebingungan yang lain.
"Ini
semua salah gue, ini semua salah gue ... seharusnya gue gak ketemu sama
dia, seharusnya gue gak pernah kenal sama dia, seharusnya saat itu gue
naik taksi yang beda sama dia, seharusnya sekolah kita juga beda.
Seharusnya ...", tangisan itu semakin keras.
"Seharusnya gue tetep sama Duto dan gak pernah jatuh cinta sama dia"
"Vi ... Sivia?", desah suara kecil dari kejauhan.
*****
Alvin
menatap wajah mereka satu per satu. Mulai dari papa, ibu, Tasya, Steve,
Agni, Cakka, hingga Rio. Setidaknya, sampai saat ini, otaknya masih
mampu untuk mengingat nama-nama mereka.
"Kok diem aja sih? Ayo dong dimakan. Sini kakak suapin"
Tasya menyuapi Alvin, namun Alvin menahan tangan itu. "Aku mau ke kamar", ucapnya lemah.
"Oke, kita makan pizza yuk"
"Gue mau sendiri, Cak"
"Alvin, kamu ..."
"Alvin mohon bu, Alvin capek. Alvin mau istirahat. Alvin mau sendirian", sahutnya dengan nada yang meninggi.
"Biar gue anter, Vin"
"Gue bisa sendiri Yo!", kali ini suara itu mulai berteriak.
"Gue
gak butuh kalian! Gue gak butuh bantuan kalian! Tinggalin gue
sendirian!", teriak Alvin histeris. Dia bahkan melempar gelas yang ada
di hadapannya ke dinding.
"Alvin, cukup!", kini papa yang turun tangan. Dia mendekap tubuh Alvin, dan menggendong anak itu ke kamarnya.
Ibu
dan Tasya yang sempat melarang tindakan papa, terpaksa membiarkannya.
Membiarkan papa mengambil alih untuk menenangkan anak itu.Ini
bukan kali pertama Alvin seperti ini. Semenjak pulang dari LDKS, sikap
anak itu mulai berubah. Tubuhnya yang semakin lemah, rambutnya yang
sudah tak terlihat, membuat anak itu semakin terpuruk dalam kanker yang
menggerogotinya.
Alvin
terus memberontak, tapi papa tetap membawanya. Diikuti oleh Agni, Rio,
dan Cakka dari belakang. Sampai di tempat tidurnya pun, cowok itu tetap
menangis sambil terus berteriak. Dia juga terus mengusir semua orang
yang ada disana.
"Om mohon, tetaplah disini", ucap papa usai menyuntikan obat penenang pada tubuh putra tirinya itu.
*****
Matahari
mulai terbenam, bersiap untuk istirahat. Langit pun telah berganti
warna, menyambut kedatangan bulan. Semilir angin masih tetap sama.
Berhembus dan menyejukan. Layaknya teman dikala sepi menerpa.
"Vi ... Sivia?", desah Duto dari balkon kamarnya.
Cowok
itu segera meninggalkan acara minum teh sorenya, dan bergegas menolong
mantan kekasihnya itu. Tapi tak lama, matanya menangkap sosok yang sudah
tak asing lagi baginya. Ify?
Duto
tak berkutik. Tubuhnya sudah bangkit berdiri, tapi kakinya enggan untuk
melangkah. Hatinya ingin sekali membantu Sivia, tapi pikirannya terpaku
pada saudara kembarnya.
Drrt drrt drrt
"To, cepet turun! Gue butuh bantuan lo nih. Via pingsan"
*****
Sudah satu jam papa meninggalkan mereka berempat, tapi belum ada satu gerak pun yang tercipta.
Cakka
dan Rio masih diam berdiri menatap Alvin iba. Begitu juga dengan Agni.
Sudah satu hari memandangi Alvin, namun gadis itu masih tidak bisa
berpaling.
Sementara
Alvin. Tubuhnya terbaring lemas tak berdaya. Efek suntikan tadi sangat
terasa, tubuhnya yang sudah lemas menjadi semakin lemas.
Dengan
bergantian, Alvin menatap ketiga sahabatnya. Rio yang terlihat penuh
penyesalan. Cakka yang menahan air matanya. Dan Agni yang terus
menghapus air matanya.
Tak
hanya itu, Alvin juga mengalihkan arah pandangnya ke sisi yang lain.
Ya, ada balon warna-warni di kamarnya. Pita-pita panjang juga terpajang
rapi di segala sudut. Serta setumpuk kardus pizza yang lengkap dengan
minuman bersoda. Di tambah dengan cake coklat di sebelahnya. Benar-benar menakjubkan.
"Gue putus sama Sivia", ucapnya pelan namun berhasil membuat ketiga orang yang ada di hadapannya membelalakan mata.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar