Rabu, 27 Desember 2017

Lentera Hati *Part 39*



"Gue putus sama Sivia", ucapnya pelan namun berhasil membuat ketiga orang yang ada di hadapannya membelalakan mata.

"Pu ... putus?", timpal Agni tak percaya. Air mata yang sedari tadi terus mengalir kini berhenti sesaat.

"Vin, lo yakin?", Cakka ikut tak percaya. Begitu juga Rio yang langsung mendekatinya.

Cowok itu mengangguk singkat, lalu membuang pandangannya. Jangankan mereka, dirinya sendiri pun sulit untuk mempercayai kenyataan bodoh yang tercipta.


******

Flashback On

"Kenapa Vin? Kok tumben telepon malem-malem gini?", ucap Sivia lengkap dengan suara paraunya.

Di ujung telepon, Alvin tak menjawab. Ini merupakan perbuatan terjahat yang pernah dilakukannya. Dia membangunkan Sivia tengah malam dan berniat untuk menghancurkan hatinya.

"Vin? Kenapa?", suara parau itu berubah menjadi nada khawatir.

Alvin ingat betul, kalau dulu dia pernah meminta Sivia untuk selalu di sisinya. Dia masih ingat betul, kalau waktu itu Sivia juga berjanji untuk tidak meninggalkannya. Tapi seiring waktu yang berlalu, semua terasa menyulitkannya.

"Vin, gue telepon pa ..."

"Kita putus ya, Vi", sela Alvin

Sunyi. Alvin diam, begitu pula Sivia. Alvin merasa bersalah, begitu pula Sivia. Alvin takut kehilangan, begitu pula Sivia.

"Ke ... kenapa? Apa salah aku Vin? Kenapa kita ..."

Alvin menatap bayangannya di cermin kamar mandi. Perlahan dia membuka topi rajut yang ada di kepalanya, lalu menatap sosok laki-laki lemah yang ada disana. Lengkap dengan kursi roda dan wajah pucatnya. Tanpa rambut, tanpa semangat.

"Kamu gak salah, Vi. Aku yang salah"

"Maafin aku, Vi"

"Kamu pantas dapat yang lebih baik"

Sambungan telepon kembali sunyi. Alvin masih diam menatap cermin, dan Sivia ... dia tak bisa berkata apa-apa.

Rasa takut kehilangan Alvin sudah menghantuinya selama ini, dan sekarang Alvin akan meninggalkannya? Bukankah itu sangat menyakitkan? Mereka telah berjanji, tapi kenapa Alvin melanggarnya? Dia telah berusaha keras untuk berada disisi Alvin, tapi Alvin malah mengusirnya?

"Aku gak mau, Vin", ucap Sivia penuh kepercayaan. Dia menarik nafasnya dalam, mencoba untuk menarik kembali air mata yang siap sedia meluncur di pipinya.

"Vi, kita ..."

"Aku gak mau kita putus, Vin. Kita gak boleh putus. Kita udah janji akan selalu bersama, Vin. Aku akan temenin kamu, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisi kamu. Kamu inget janji kita kan Vin?"

"Tapi aku sekarat Vi! Mau atau enggak, kamu pasti akan kehilangan aku, Vi! Aku akan pergi tinggalin kamu sendiri!"

"Enggak. Aku udah janji akan selalu ada di sisi kamu. Dan, aku gak akan pernah melanggar janji aku, Vin. Aku akan menghabiskan waktu kita bersama-sama"

"Aku mohon, Vi ..."

Sambungan telepon terputus. Sivia yang mengakhirinya sepihak. Dia sudah tidak mampu lagi berargumen dengan Alvin. Apalagi ketika kekasihnya itu mulai membahas penyakitnya yang bertambah parah.

Jujur, Sivia juga sempat berpikiran yang sama dengan Alvin. Dia juga pernah berpikir kalau Alvin akan segera meninggalkannya. Dia juga sempat berpikir kalau meninggalkan Alvin sekarang jauh lebih baik daripada Alvin yang akan pergi meninggalkannya kelak.

Tapi, hati Sivia masih melekat padanya. Dia masih ingin terus bersamanya. Menyandarkan kepala dalam dekapannya, mencium aroma tubuhnya. Melihat senyumannya. Sivia masih ingin mencintainya.

Flashback Off

*****

Shilla menarik nafasnya dalam, jemari kecilnya sudah dia tahan untuk tidak gemetar. Otaknya pun sudah terlatih untuk menghafal kalimat yang semalam disusunnya. Tidak hanya itu, dia juga sudah mempersiapkan beberapa kalimat dalam suatu kertas kecil, untuk berjaga-jaga kalau nanti pernyataannya akan ditolak mentah-mentah.

"Jadi, ada apa?", tanya Iyel yang baru saja kembali dengan sepaket fried chicken yang lengkap dengan kentang goreng dan minuman bersoda.

"Ada yang mau aku omongin kak", jawab Shilla penuh ragu

"Oke, apa?", Iyel meletakkan minumannya lalu menatap sosok yang ada dihadapannya dengan penuh perhatian.

Untuk kesekian kalinya, Shilla menarik nafasnya dalam. Dia balik menatap Iyel, seakan meminta maaf pada cowok yang selalu menjadi ideal typenya tersebut. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Shilla tetap meyakinkan diri bahwa keputusannya adalah yang terbaik bagi mereka berdua. Bagi Iyel dan bagi dirinya sendiri.

"Ini soal pertanyaan kakak waktu itu"

Iyel mengangguk pelan. Ya, dia ingat dan mengerti maksud dari gadis itu. "Kamu udah tau jawabannya?"

Lagi, gadis itu menarik nafasnya. Kali ini adalah tarikan yang paling dalam.

"Aku gak ..."

Drrt ... Drrt ... Ah sial! Ponselnya bergetar.

"Shill, kok gak diangkat?", timpal Iyel di sela dering ponsel.

Untuk terakhir kalinya, Shilla menarik nafasnya dalam. Kali ini adalah tarikan yang paling penuh amarah. Bagaimana tidak? Dia sudah begadang semalaman demi menyusun kata per kata untuk diucapkannya pada Iyel, tapi ponselnya malah bordering dan mengacaukan semuanya.
Ify? Untuk apa dia menelponnya? Sivia?

"Hallo?", jawab Shilla

"Sivia baik-baik aja kan, Fy?", amarahnya berubah menjadi kekhawatiran

Ingatan mengenai kejadian semalam terngiang jelas dalam otaknya. Ketika suara serak dan parau Sivia terdengar di sambungan teleponnya. Ketika gadis itu menangis sesegukan karena Alvin yang meminta putus tanpa alasan yang jelas. Ketika gadis itu terus menerus menyalahkan dirinya karena tidak bisa membuat Alvin bahagia.

"Hah? Pingsan? Kok bisa?", Shilla bangkit berdiri diikuti oleh Iyel yang juga menyimak ekspresi Shilla.
Shilla sudah duga kalau hal ini pasti terjadi. Tadi pagi, ketika Iyel menjemputnya, wajah Sivia terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Iyel juga sempat memaksa adiknya untuk paling tidak meneguk susu yang sudah dibawanya. Tapi Sivia tetap menolak dan diam sepanjang perjalanan. Tidak hanya itu, dia juga terlihat murung sepanjang hari.

Tapi tadi sore, Sivia malah datang bersama Ify dan meminta Iyel untuk mengantarnya ke rumah Ify. Padahal setau Shilla, mereka berdua tidak terlalu dekat sebelumnya. Kenapa pula Sivia melakukan hal itu?

Meski merupakan sahabat yang paling dekat dengannya, Shilla merasa kalau ada sisi lain di hidup Sivia yang tidak di ketahuinya. Shilla merasa kalau ada sesuatu hal besar yang disembunyikannya. Entah apa, Shilla juga tidak mengetahuinya.

"Oh oke oke Fy, thank you yaa", Shilla menutup sambungan telepon tadi dan bergegas mengambil tas jinjingnya

"Kenapa Shill? Via kenapa?", tanyanya khawatir

Shilla manarik tangan Iyel, "kita harus ke tempat temen aku, kak. Via pingsan disana"

Iyel ikut bergegas. Dia bahkan balik menarik Shilla. Membuat gadis itu terlonjak kaget dalam detak jantungnya. Tidak, ini bukan saatnya untuk merasakan hal seperti itu.

*****

"Kalo kalian berantem, itu wajar kok Vin. Gue sama Ify juga sering berantem. Iya kan, Cak?", sahut Rio hati-hati. Takut kalau Alvin akan meledak lagi seperti tadi.

"I ... iya Vin. Gue juga sering kok berantem sama Agni. Iya kan, Ni?"

Tidak seperti Cakka dan Rio, Agni memilih untuk diam. Dia bahkan tak tau harus menggerakan bagian tubuhnya yang mana untuk dapat memeluk Alvin dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Kalau semuanya akan berakhir dengan indah. Kalau Alvin tak perlu menyiksa dirinya dengan putus dari Sivia.

Alvin memutar matanya, dan kembali menatap ketiga sahabatnya. Dia memang bodoh. Mengusir Sivia memanglah hal yang bodoh, Alvin tau itu.

"Gue udah minta Sivia buat pergi dari hidup gue. Dan sekarang giliran kalian buat pergi", dia memang sangat bodoh. Dan mengusir ketiga sahabatnya adalah hal yang paling bodoh, Alvin sadar akan hal itu.

TO BE CONTINUED

10 komentar:

Unknown mengatakan...

KAK WATTPAD IN AJA SII BIAR RESPON NYA LEBIH BANYAK YANG BACA LEBIH KELIATAN
ABIS ITU LANJUTIN TERUS PART NYA hehehe😆

Unknown mengatakan...

Ayo dong kak dilanjut ceritanya..?

Unknown mengatakan...

Dibuat wattpad aja kakkk pleaseee

Luna widya mengatakan...

Lanjut kak bagus banget ceritanya

Nur mengatakan...

Kak lanjut dong. Gua pembaca setia kaka

Unknown mengatakan...

Ini kapan di lanjutin

Unknown mengatakan...

Lanjut donk

Unknown mengatakan...

Gak usah pakai watpat aja donk banyak pengemar nich

Unknown mengatakan...

Lanjut ini kapan

Kich mengatakan...

Kak plis lanjut dongggggg