"Gue putus sama Sivia", ucapnya pelan namun berhasil membuat ketiga orang yang ada di hadapannya membelalakan mata.
"Pu ... putus?", timpal
Agni tak percaya. Air mata yang sedari tadi terus mengalir kini berhenti
sesaat.
"Vin, lo yakin?", Cakka
ikut tak percaya. Begitu juga Rio yang langsung mendekatinya.
Cowok itu mengangguk singkat,
lalu membuang pandangannya. Jangankan mereka, dirinya sendiri pun sulit untuk
mempercayai kenyataan bodoh yang tercipta.
******
Flashback On
"Kenapa Vin? Kok tumben
telepon malem-malem gini?", ucap Sivia lengkap dengan suara paraunya.
Di ujung telepon, Alvin tak
menjawab. Ini merupakan perbuatan terjahat yang pernah dilakukannya. Dia
membangunkan Sivia tengah malam dan berniat untuk menghancurkan hatinya.
"Vin? Kenapa?", suara
parau itu berubah menjadi nada khawatir.
Alvin ingat betul, kalau dulu dia
pernah meminta Sivia untuk selalu di sisinya. Dia masih ingat betul, kalau
waktu itu Sivia juga berjanji untuk tidak meninggalkannya. Tapi seiring waktu
yang berlalu, semua terasa menyulitkannya.
"Vin, gue telepon pa
..."
"Kita putus ya, Vi",
sela Alvin
Sunyi. Alvin diam, begitu pula
Sivia. Alvin merasa bersalah, begitu pula Sivia. Alvin takut kehilangan, begitu
pula Sivia.
"Ke ... kenapa? Apa salah aku
Vin? Kenapa kita ..."
Alvin menatap bayangannya di
cermin kamar mandi. Perlahan dia membuka topi rajut yang ada di kepalanya, lalu
menatap sosok laki-laki lemah yang ada disana. Lengkap dengan kursi roda dan
wajah pucatnya. Tanpa rambut, tanpa semangat.
"Kamu gak salah, Vi. Aku
yang salah"
"Maafin aku, Vi"
"Kamu pantas dapat yang
lebih baik"
Sambungan telepon kembali sunyi.
Alvin masih diam menatap cermin, dan Sivia ... dia tak bisa berkata apa-apa.
Rasa takut kehilangan Alvin sudah
menghantuinya selama ini, dan sekarang Alvin akan meninggalkannya? Bukankah itu
sangat menyakitkan? Mereka telah berjanji, tapi kenapa Alvin melanggarnya? Dia
telah berusaha keras untuk berada disisi Alvin, tapi Alvin malah mengusirnya?
"Aku gak mau, Vin",
ucap Sivia penuh kepercayaan. Dia menarik nafasnya dalam, mencoba untuk menarik
kembali air mata yang siap sedia meluncur di pipinya.
"Vi, kita ..."
"Aku gak mau kita putus,
Vin. Kita gak boleh putus. Kita udah janji akan selalu bersama, Vin. Aku akan
temenin kamu, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisi kamu. Kamu inget
janji kita kan Vin?"
"Tapi aku sekarat Vi! Mau
atau enggak, kamu pasti akan kehilangan aku, Vi! Aku akan pergi tinggalin kamu
sendiri!"
"Enggak. Aku udah janji akan
selalu ada di sisi kamu. Dan, aku gak akan pernah melanggar janji aku, Vin. Aku
akan menghabiskan waktu kita bersama-sama"
"Aku mohon, Vi ..."
Sambungan telepon terputus. Sivia
yang mengakhirinya sepihak. Dia sudah tidak mampu lagi berargumen dengan Alvin.
Apalagi ketika kekasihnya itu mulai membahas penyakitnya yang bertambah parah.
Jujur, Sivia juga sempat
berpikiran yang sama dengan Alvin. Dia juga pernah berpikir kalau Alvin akan
segera meninggalkannya. Dia juga sempat berpikir kalau meninggalkan Alvin
sekarang jauh lebih baik daripada Alvin yang akan pergi meninggalkannya kelak.
Tapi, hati Sivia masih melekat
padanya. Dia masih ingin terus bersamanya. Menyandarkan kepala dalam
dekapannya, mencium aroma tubuhnya. Melihat senyumannya. Sivia masih ingin
mencintainya.
Flashback Off
*****
Shilla menarik nafasnya dalam,
jemari kecilnya sudah dia tahan untuk tidak gemetar. Otaknya pun sudah terlatih
untuk menghafal kalimat yang semalam disusunnya. Tidak hanya itu, dia juga
sudah mempersiapkan beberapa kalimat dalam suatu kertas kecil, untuk berjaga-jaga
kalau nanti pernyataannya akan ditolak mentah-mentah.
"Jadi, ada apa?", tanya
Iyel yang baru saja kembali dengan sepaket fried chicken yang lengkap
dengan kentang goreng dan minuman bersoda.
"Ada yang mau aku omongin
kak", jawab Shilla penuh ragu
"Oke, apa?", Iyel
meletakkan minumannya lalu menatap sosok yang ada dihadapannya dengan penuh
perhatian.
Untuk kesekian kalinya, Shilla
menarik nafasnya dalam. Dia balik menatap Iyel, seakan meminta maaf pada cowok
yang selalu menjadi ideal typenya tersebut. Entah apa yang akan terjadi
setelah ini, Shilla tetap meyakinkan diri bahwa keputusannya adalah yang
terbaik bagi mereka berdua. Bagi Iyel dan bagi dirinya sendiri.
"Ini soal pertanyaan kakak
waktu itu"
Iyel mengangguk pelan. Ya, dia
ingat dan mengerti maksud dari gadis itu. "Kamu udah tau jawabannya?"
Lagi, gadis itu menarik nafasnya.
Kali ini adalah tarikan yang paling dalam.
"Aku gak ..."
Drrt ... Drrt ... Ah sial!
Ponselnya bergetar.
"Shill, kok gak
diangkat?", timpal Iyel di sela dering ponsel.
Untuk terakhir kalinya, Shilla
menarik nafasnya dalam. Kali ini adalah tarikan yang paling penuh amarah.
Bagaimana tidak? Dia sudah begadang semalaman demi menyusun kata per kata untuk
diucapkannya pada Iyel, tapi ponselnya malah bordering dan mengacaukan semuanya.
Ify? Untuk apa dia menelponnya?
Sivia?
"Hallo?", jawab Shilla
"Sivia baik-baik aja kan,
Fy?", amarahnya berubah menjadi kekhawatiran
Ingatan mengenai kejadian semalam
terngiang jelas dalam otaknya. Ketika suara serak dan parau Sivia terdengar di
sambungan teleponnya. Ketika gadis itu menangis sesegukan karena Alvin yang
meminta putus tanpa alasan yang jelas. Ketika gadis itu terus menerus
menyalahkan dirinya karena tidak bisa membuat Alvin bahagia.
"Hah? Pingsan? Kok
bisa?", Shilla bangkit berdiri diikuti oleh Iyel yang juga menyimak
ekspresi Shilla.
Shilla sudah duga kalau hal ini
pasti terjadi. Tadi pagi, ketika Iyel menjemputnya, wajah Sivia terlihat jauh
lebih pucat dari biasanya. Iyel juga sempat memaksa adiknya untuk paling tidak
meneguk susu yang sudah dibawanya. Tapi Sivia tetap menolak dan diam sepanjang
perjalanan. Tidak hanya itu, dia juga terlihat murung sepanjang hari.
Tapi tadi sore, Sivia malah
datang bersama Ify dan meminta Iyel untuk mengantarnya ke rumah Ify. Padahal
setau Shilla, mereka berdua tidak terlalu dekat sebelumnya. Kenapa pula Sivia
melakukan hal itu?
Meski merupakan sahabat yang
paling dekat dengannya, Shilla merasa kalau ada sisi lain di hidup Sivia yang
tidak di ketahuinya. Shilla merasa kalau ada sesuatu hal besar yang
disembunyikannya. Entah apa, Shilla juga tidak mengetahuinya.
"Oh oke oke Fy, thank you
yaa", Shilla menutup sambungan telepon tadi dan bergegas mengambil tas
jinjingnya
"Kenapa Shill? Via
kenapa?", tanyanya khawatir
Shilla manarik tangan Iyel,
"kita harus ke tempat temen aku, kak. Via pingsan disana"
Iyel ikut bergegas. Dia bahkan
balik menarik Shilla. Membuat gadis itu terlonjak kaget dalam detak jantungnya.
Tidak, ini bukan saatnya untuk merasakan hal seperti itu.
*****
"Kalo kalian berantem, itu
wajar kok Vin. Gue sama Ify juga sering berantem. Iya kan, Cak?", sahut
Rio hati-hati. Takut kalau Alvin akan meledak lagi seperti tadi.
"I ... iya Vin. Gue juga
sering kok berantem sama Agni. Iya kan, Ni?"
Tidak seperti Cakka dan Rio, Agni
memilih untuk diam. Dia bahkan tak tau harus menggerakan bagian tubuhnya yang
mana untuk dapat memeluk Alvin dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik
saja. Kalau semuanya akan berakhir dengan indah. Kalau Alvin tak perlu menyiksa
dirinya dengan putus dari Sivia.
Alvin memutar matanya, dan
kembali menatap ketiga sahabatnya. Dia memang bodoh. Mengusir Sivia memanglah
hal yang bodoh, Alvin tau itu.
"Gue udah minta Sivia buat
pergi dari hidup gue. Dan sekarang giliran kalian buat pergi", dia memang
sangat bodoh. Dan mengusir ketiga sahabatnya adalah hal yang paling bodoh,
Alvin sadar akan hal itu.
TO BE CONTINUED
10 komentar:
KAK WATTPAD IN AJA SII BIAR RESPON NYA LEBIH BANYAK YANG BACA LEBIH KELIATAN
ABIS ITU LANJUTIN TERUS PART NYA hehehe😆
Ayo dong kak dilanjut ceritanya..?
Dibuat wattpad aja kakkk pleaseee
Lanjut kak bagus banget ceritanya
Kak lanjut dong. Gua pembaca setia kaka
Ini kapan di lanjutin
Lanjut donk
Gak usah pakai watpat aja donk banyak pengemar nich
Lanjut ini kapan
Kak plis lanjut dongggggg
Posting Komentar